Terima kasih saya ucapkan pada para reviewer yang telah mereview di chapter pertama.^^

Ardymmmm: Makasih reviewnya, sudah di update kilat loh^^
Natsu D. Luffy: a? Gag ngerti, tapi makasih udah baca^^
Katrok: Siap mr. John^^
Tantand: yupz, ni udah apdet geledek.. :P
OraRi HinaRa: Emang rada humor dikit, tapi gag dominan, makasih udah review^^
BellNicXie: yupz, impas kan, thx reviewnya^^
Ryu no Shonen: Ah, enggak kok, biasa aja, sip, udah di update^^

Berkat kalian, stamina dan semangat saya untuk menulis jadi bertambah 1000%, terima kasih^^
selamat membaca chapter kedua ini.

_-0-_

"N-namaku Hyuuga Hinata!" ujar sang gadis, "beberapa saat yang lalu, aku bisa kembali mengingatnya walaupun yang bisa kuingat hanya nama saja," sambungnya.

"Apa maksudnya ini Naruto, kau dan dia berada dalam satu kamar? Apa yang sudah kau lakukan? siapa gadis ini sebenarnya Naruto? oi Naruto, jelaskan padaku maksud semua ini!" teriak Kiba sambil mengguncang-guncangkan tubuhku. Tapi hal itu seolah tak berarti, karena da hal lain yang sedang kupikirkan saat ini.

"Dia.. kalau begitu masuk akal, pantas saja dia tidak tahu nama, asal dan bagaimana dia bisa berada dikamarku, selama ini kupikir karena dia bodoh, ternyata dugaanku salah, akulah yang bodoh, gadis ini sama sekali tidak bodoh, tapi, dia.. dia..

..hilang ingatan!"

_-0-_

All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Supernatural, Fantasy.
Warning: AU, a little bit OOC.

The Lost Memory

_-0-_

-0-

0

o

.

Chapter 2

"J-jadi.. kau..!" ujarku kaget, kuhentikan ucapanku disana tepat pada waktunya, sebelum Kiba mendengar dan mengetahui lebih jauh dan membuat semuanya jadi bertambah parah. Ketika aku dipusingkan dengan tindakanku yang selanjutnya, seorang pengunjung berdehem dengan sedikit keras, sepertinya aku membuat antrian pembayaran menjadi sangat panjang. Kiba yang juga menyadari akan hal itu langsung kembali ke posnya dan siap melayani pembayaran lainnya, kesempatan itu tidak kusia-siakan untuk sesegera mungkin pergi meninggalkan toko.

Nafasku sedikit tersenggal ketika tiba di apartemenku. Satu lagi keanehan yang kutemukan, gadis ini, irama nafasnya tetap normal seperti biasanya. Memang, setelah mendapatkan pekerjaan beberpa bulan lalu, waktu luang yang kumiliki semakin terbatas, tidak ada lagi waktu yang tersisa yang bisa kugunakan untuk berolahraga. Pun begitu, jarak dari toko milik Kiba sampai ke apartemenku memang cukup jauh, jadi kupikir wajar jika nafasku sedikit tersenggal karena lelah, tapi, gadis ini sama sekali tidak, dugaanku dia adalah seorang pelari profesional sebelum ingatannya hilang, yah, tapi itu hanya sebatas prasangkaku yang sama sekali tidak berdasar.

"Jadi, namamu Hyuuga Hinata," tanyaku, kuambil air putih dingin dari dalam kulkas, lalu kutuangkan kedalam dua gelas dan kemudian menyerahkan salah satunya kepada sang gadis, "dan menurut apa yang kau katakan di toko barusan, kau.."

. . . . . . .

"Hilang ingatan!" ujarnya melanjutkan.

"Ya, semacam itulah," aku menengguk air dingin yang berada ditanganku, kemudian mengangguk beberapa kali seperti seorang detektif yang baru saja mendapatkan info yang sangat bagus dalam penyelidikannya. "Selain nama, apa ada hal lainnya yang kau ingat?" tanyaku lagi yang kali ini sepertinya aku benar-benar terlihat seperti seorang detektif.

Dia menggeleng, seperti yang kuduga. Apakah aku harus membawanya ke dokter? Pikirku berkali-kali. Selagi aku menimbang-nimbang ide itu, dia berujar dengan sedikit ragu, "s-sepertinya ada hal penting yang harus kulakukan."

"Hal penting? Apa itu?" tanyaku.

"Entahlah," dia menjawab singkat. Kemudian dia nampak berpikir keras, aku pun terdiam agar tidak mengganggu konsentrasinya, hal itu membuat suasana ruangan menjadi hening. Cukup lama suasana hening ini menyelimuti ruangan tempat kami berada, sampai akhirnya keheningan itu terpecahkan oleh suatu hal yang benar-benar berada diluar akal sehat.

Tiba-tiba saja, gelas yang berada di hadapan sang gadis retak, mulai dari bibir gelas sampai ke pangkalnya, dan retakan itu semakin lama semakin melebar, sampai akhirnya gelas itu tiba-tiba saja meledak.

PRAAANKK!

"Kyaaaaahh...!" si gadis menjerit, mungkin sedikit terkejut, tapi mungkin aku lebih terkejut dengan apa yang kulihat barusan. Sepintas tadi, pecahan gelas yang terpental keseluruh ruangan itu sama sekali tidak mengenainya, bahkan terkesan seolah menghindarinya, seperti ada barrier pelindung yang membuat serpihan kaca itu terpental sesaat sebelum menyentuh kulitnya. Aku hanya bisa melongo terpana melihat kejadian itu, sampai akhirnya aku sadar bahwa aku harus melakukan sesuatu terhadap gadis didepanku yang sepertinya kini sedang ketakutan, aku pun segera menghampirinya untuk memastikan keadaannya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyaku, gadis ini sudah mundur beberapa langkah dari posisinya sebelum ledakan aneh tadi, dia meringkuk dengan lutut dan siku yang saling bersentuhan, melindungi bagian depan tubuh dan wajahnya. Benar saja, begitu aku mendekat dan memastikan, tidak ada luka sekecil pun pada tubuh si gadis, terlebih lagi, jarak beberapa diameter dari tubuhnya itu tidak ada sepihan kaca yang berserakan, padahal di tempat lainnya serpihan kaca itu menyebar dengan rata.

Beberapa saat kemudian si gadis mulai membuka pertahanannya dan membuat pandanganku teralihkan padanya, "kau tidak apa-apa?" tanyaku lagi. Dia mengangguk dengan perlahan sebelum akhirnya kembali dalam posisi duduknya. "Tunggu disini, jangan bergerak dulu, ada serpihan kaca dimana-mana, bisa berbahaya kalau melangkah sembarangan," ujarku. Lantas aku pun segera melangkah dengan hati-hati, mengambil sapu dan alat kebersihan lainnya guna membereskan kekacauan ini.

Sambil membereskan serpihan-serpihan, pikiranku terus terpaku pada keanehan yang terus muncul silih berganti ini, dimulai dari pecahnya gelas itu secara tiba-tiba dan entah bagaimana tubuh gadis itu tidak terluka sama sekali walaupun serpihan kaca tersebut berterbangan ke segala penjuru ruangan, tapi tak ada satupun kesimpulan yang dapat kuambil, namun ada satu hal yang hampir pasti bisa kuyakini, yakni bahwa gadis ini bukanlah gadis biasa.

Dalam hitungan menit aku berhasil menyelesaikan tugasku, aku kembali duduk dan berusaha bersikap senormal mungkin, walaupun tentu saja kedua mataku terus siaga menantikan bukti-bukti otentik lainnya yang bisa memperkuat dugaanku terhadapnya. Oh Tuhan, bukan hanya tingkah laku-ku, gaya berpikirku sekarang bahkan sudah benar-benar seperti detektif. Selagi sibuk memperhatikan, si gadis menengadahkan wajahnya hingga membuat kedua mata kami saling bertautan, hal itu terjadi selama beberapa detik, sampai kulihat tiba-tiba saja wajahnya memerah dan kemudian ia memalingkan wajahnya dengan malu-malu.

Tanpa sadar aku pun juga melakukan hal yang sama, aku memalingkan wajahku ke arah dapur seolah-olah dapur itu adalah tontonan yang menarik. Ya ampun, gadis ini... cantik! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang, apa hal-hal aneh yang sedang terjadi ini begitu menyita perhatianku, sampai-sampai aku melewatkan hal bagus seperti ini. Mata laki-laki-ku pun mulai melakukan tugasnya, aku melirik padanya dan memerhatikannya dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan kesimpulan yang dapat kuambil darinya adalah.. Sexy Dynamite!

Seorang gadis cantik dan seksi dalam keadaan hilang ingatan berada dalam satu kamar denganku, oh Tuhan.. terima kasih atas anugerah yang indah ini.

PLAK! PLAK! PLAK!

Kutepuk kedua pipiku dengan sedikit keras, berusaha menyadarkanku dari imajinasi gila yang hampir saja membuatku lepas kendali, si gadis nampak memerhatikan dengan wajah heran, aku pun mencoba untuk menghiraukan hal itu dan berharap dia tidak menyadari apa yang baru saja kupikirkan barusan. "Jadi, namamu Hyuuga Hinata kan?" tanyaku mencoba merubah suasana, dia mengangguk, "namaku Naruto, Uzumaki Naruto, kau boleh memanggilku Naruto!" ujarku.

"B-baiklah Naruto, k-kalau begitu, kau juga boleh memanggilku dengan nama Hinata.." ujarnya sedikit malu, semburat merah masih terbias dipipinya saat mengatakan hal itu.

"O-oke!" kataku perlahan.

Hening...

"Sial~! Berada bersama seorang gadis dalam satu ruangan benar-benar membuatku gugup, aku sampai tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, pokoknya, ketika masalah ini selesai, aku akan berguru pada Sasuke yang sepertinya sangat ahli dalam hal-hal seperti ini," ujarku membatin.

"Err.. nona, eh, maksudku Hinata, apa kau punya saudara ataupun kerabat yang tinggal didekat sini?"

Dia menggeleng, "a-aku tidak tahu!"

"Tentu saja! Dasar bodoh! Dia kan sedang hilang ingatan, kenapa aku malah menanyakan hal seperti itu!" batinku sambil mengutuk kebodohanku sendiri.

"Jadi, setelah ini kau akan kemana? Kalau boleh menyarankan, didekat sini ada sebuah penginapan yang harganya cukup murah, kau bisa tinggal disana, selain itu, onsen di penginapan itu juga cukup bagus, aku pernah mengunjunginya beberapa kali, terutama ketika aku sedang membutuhkan sedikit refleksi, dijamin segala kepenatanmu akan hilang begitu kau merendamkan tubuhmu disana, rasanya benar-benar nyama~n sekali," ujarku sambil mengingat kembali kenangan ketika aku berendam disana. "Aku akan mengantarmu kesana kalau kau ingin," kataku menawarkan.

"A-aku, aku akan tinggal disini!"

"Oh, begitu, kau lebih memilih untuk tinggal disini? Tidak apa-apa, itu bukan masa-... HUAAPPPHAA! Kau ingin tinggal disini?"

Dia mengangguk, "hm."

"Kenapa? Ah! M-maksudku tidak boleh! Bagaimana nanti kalau para tetangga tahu kalau aku tinggal bersama dengan seorang gadis! Apa yang akan mereka katakan!"

Wajah Hinata terlihat memelas.

Ah! Dia berusaha melemahkanku dengan tatapannya itu. "Emmm...! tidak boleh! Pokoknya tidak boleh!" ujarku lagi. "Aku akan mengantarmu ke penginapan itu dan kau bisa tinggal disana sepuasmu," sambungku sambil berdiri dan bersiap. Tapi, kemudian aku kembali berbalik padanya, "tunggu dulu! Apa kau punya uang?"

"Uang?" wajahnya mengisyaratkan keheranan.

"Iya! uang! Sesuatu yang berbentuk seperti ini!" ujarku sambil menunjukkan padanya beberapa lembar uang hasil kembalian belanja di toko Kiba tadi. Aku berharap bahwa dia memilikinya, atau setidaknya tahu seperti apa uang itu, tapi seketika itu juga raut di wajahnya yang mengisyaratkan akan kebingungan langsung meruntuhkan segala harapanku itu.

"Jadi kau sama sekali tidak tahu apa itu uang?" tanyaku sedikit shok.

"E-eh.. a-aku.." ia terlihat panik, sekaligus bingung. Tatapannya menjalar kesegala arah dengan tidak jelas, seperti mencari-cari sesuatu.

"Ah!" teriaknya.

"Apa?" tanyaku.

"Uang!" ujarnya senang dengan mata berkilauan sambil mengangkat tinggi-tinggi secarik kertas berwarna putih dengan kedua tangannya.

DREEESSSSSS!

Air mata mengalir deras dari kedua mataku, "i-itu bukan uang! Itu struk belanja!" batinku berucap. "Baiklah, jadi kuanggap kau tidak tahu dan tidak memiliki uang sepeser pun!"

"E-eh!" katanya dengan wajah terkejut.

"Seharusnya aku yang terkejut! Bukan kau!" teriakku.

"Dia tidak tahu apa itu uang, sapu tangan yang kuberikan padanya beberapa waktu lalu juga malah dimakannya, sepertinya dia memang menderita hilang ingatan yang cukup hebat, apakah mungkin kepalanya terbentur sesuatu dengan keras? Atau mungkin trauma karena suatu hal, sebab aku tidak melihat adanya tanda-tanda luka di bagian kepalanya," batinku menduga-duga. "Kalau benar karena trauma, mungkin dengan membawanya berkeliling akan membantunya mengingat kembali ingatan masa lalunya, kalau begitu.."

"Baiklah, kau boleh tinggal disini!"

"Heee...!" raut wajahnya berubah ceria.

"Dengan satu syarat, kau harus menuruti semua yang kukatakan."

Dia nampak bingung, kemudian berpikir, lalu tiba-tiba saja wajahnya berubah merah sambil tersipu malu.

"JANGAN BERPIKIR YANG MACAM-MACAM!" teriakku, aku pasti akan menjadi benar-benar gila kalau terus-terusan bersamanya, "ayo, ikut aku.."

"Eh, k-kemana?"

"Sudahlah, ikut saja, aku akan membantumu mengembalikan ingatanmu yang hilang."

Dia tertegun, kemudian berdiri dan berjalan mengikutiku seperti yang kukatakan.

_-0-_

Saat ini sudah memasuki akhir bulan Oktober, dan angin dingin pun mulai bertiup dari arah selatan. Sedikit berada diluar perkiraan memang, tapi ramalan cuaca telah memberitahukan bahwa musim dingin tahun ini akan datang lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya. Karena kupikir akan berada diluar dengan cuaca yang dingin ini untuk waktu yang lama, maka aku mengenakan jaket hangat dibalik kaos hitamku, celana jins panjang dan sepasang sepatu bot. Aku juga memberikan Hinata sweater hangat yang lebih mampu menahan hawa dingin daripada jaket yang sedang kukenakan sekarang ini, juga sebuah topi hangat yang kudapat saat natal tahun lalu, dan karena aku hanya memiliki satu, jadi kupersilahkan Hinata untuk mengenakannya.

Aku membiarkan Hinata berjalan didepanku, karena aku sendiri bingung kemana aku harus membawanya, aku hanya bisa berharap sesuatu dari sisa-sisa ingatannya akan membimbing dan menuntunnya untuk mendapatkan kembali ingatannya yang hilang.

"N-Naruto.. kita mau kemana?" tanya Hinata bingung.

"Terserah kau, ikuti saja intuisi-mu.."

"I-i-intuisi?"

"Yah, pokoknya jalan saja, aku sendiri sama sekali tidak punya petunjuk kemana kita harus pergi, jadi jangan tanya aku.."

"B-baiklah.." ucapnya dengan setengah hati.

Hinata mulai berjalan, dan walaupun langkah-langkah pertamanya terkesan begitu berat, tapi, lambat laun ia mulai melangkah seperti biasa, bahkan kini langkah-langkahnya dipenuhi dengan ketertarikan dan antusiasme yang tinggi. Kadang ia tersenyum, dan kadang ia memasang wajah penuh tanya serta ekspresi-ekspresi lain diwajahnya.

"Oi Naruto!" sapa seseorang dari belakang. Aku dan Hinata pun berhenti sejenak dan menoleh.

"Sejak kapan kau menjadi seorang penguntit seperti itu?" tanya seseorang yang tak lain adalah Lee, kakak kelasku sewaktu disekolah dulu.

"Apa! penguntit?" ujarku terkejut.

"Penguntit?" ulang Hinata.

"Aku bukan penguntit!" tegasku.

"Lalu, kenapa kau sejak tadi terus membututi gadis ini sambil mengeluarkan senyum-senyum menjijikan seperti itu!" tanya Lee.

"Me-menjijikan? Enak saja!" bantahku, "aku memang tersenyum, tapi itu senyum biasa kok, lagipula aku kenal dengan gadis ini, dan aku tidak sedang membuntutinya!"

Lee mengalihkan pandangannya pada Hinata, dengan alis dan bulu matanya yang cukup nyentrik untuk ukuran seorang laki-laki normal, "hey Nona, benarkah kau mengenal laki-laki ini?" tanya Lee sambil menjentikkan ibu jarinya kearahku.

Hinata mengangguk beberapa kali, "ya, aku mengenalnya, namanya adalah Uzumaki Naruto, dia suka sekali makan ramen, dan dia lebih suka menunggu ramennya masak dua menit lebih lama dari waktu normal, hal yang tidak disukainya adalah menunggu ramennya matang, dan lebih dari itu, dia sangat su-"

"Ya ya ya, cukup penjelasannya sampai disitu," ujarku membungkam mulut Hinata, "nah, bagaimana? Apa kau sudah puas?" tanyaku pada Lee.

"Hehehe, sudah kuduga kalau kau bukan orang yang akan melakukan hal seperti itu Naruto!"

"Memangnya sipa yang tadi menuduhku sebagai penguntit, huh," pikirku. "Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu.." ujarku sambil berlalu, Lee terus meminta kami untuk menunggu, tapi aku sama sekali tidak menghiraukannya.

Aku dan Hinata kembali berjalan, masih seperti yang kulakukan saat pertama tadi, Hinata berjarak sekitar satu meter didepanku. Tapi, menilik pada kasus yang baru saja terjadi dengan Lee barusan, sepertinya aku harus mengubah metode yang kupakai ini, alih-alih membiarkan dirinya menemukan 'jalan'nya, bisa-bisa malah aku yang kena imbasnya, dituduh sebagai seorang stalker dan berakhir dikantor polisi. Lalu aku pun sedikit mempercepat langkahku hingga tubuhku dan Hinata melangkah sejajar, aku melirik padanya dan menunggu reaksinya, dia menoleh dengan wajah heran, kedua mata kami pun kembali saling bertautan, dengan cepat aku berpaling untuk menghindari perasaan aneh seperti sewaktu di apartemen tadi, sekarang pun sepertinya wajahku sudah mulai memerah karena mengingat hal itu, kulihat dari sudut mataku, sebuah senyum tersimpul di wajah Hinata.

Kami tiba di daerah pertokoan, tempat ini biasanya selalu ramai ketika hari libur tiba, dan sekarang tempat ini terlihat begitu ramai, hal itu mengingatkanku bahwa sekarang adalah hari Minggu, hari yang kuanggap sakral karena merupakan satu-satunya hari dimana aku dapat bersantai dan berleha-leha setelah lelah bekerja selama enam hari penuh. Tapi disinilah aku sekarang, bersama seorang gadis yang sedang hilang ingatan, berharap akan menemukan sesuatu yang akan membawa ingatannya kembali.

Tiba-tiba saja Hinata mendekatkan tubuhnya padaku, tangan kanannya meremas lengan jaket kiriku dengan kuat, "hng, ada apa?" tanyaku dengan heran melihat perubahan sikapnya itu. Dia diam tak menjawab, namun ekspresi wajahnya mulai berubah, dia terlihat tersipu malu dengan semburat merah yang mulai nampak disekitar pipinya, aku terus menatapnya menuggu jawaban atas pertanyaanku tadi, tapi dia malah menatap sekeliling seolah memberi isyarat dengan kedua matanya itu.

Aku lantas ikut menatapkan pandangaku pada sekeliling, lalu aku pun sedikit mengerti, mulai dari ruas jalan, halte-halte bis, maupun bangku tempat beristirahat, semuanya dipenuhi oleh sepasang muda-mudi yang saling bergandengan erat, entah itu karena cuacanya yang sedang dingin atau memang karena mereka ingin terlihat mesra dihadapan yang lain, yang pasti hal itu telah memicu Hinata untuk melakukan hal yang sama dengan yang mereka lakukan tanpa dia sendiri mengerti arti dari apa yang dilakukannya itu.

Sementara bagiku, bergandengan erat dengan seorang gadis seperti ini adalah sebuah pengalaman baru, tentu saja saat ini jantungku berdebar-debar begitu kencang sampai-sampai aku berpikir kalau jantungku ini akan meloncat keluar dan melarikan diri dari tubuhku. Walaupun aku tahu mungkin Hinata melakukan ini dengan alasan yang berbeda dari para pasangan disekitar sini, tetap saja hal itu membuatku senang, sebuah kemajuan dalam hidupku yang sangat biasa ini.

"Oi, Hinata! A–apa yang kau lakukan?" tanyaku, sekaligus mencoba melepaskan dekapannya, aku tidak ingin di cap sebagai laki-laki yang senang mengambil kesempatan dalam kesempitan, walaupun dalam hati kecilku aku berharap hal ini akan berlangsung lebih lama.

Lagi-lagi dia mengacuhkan pertanyaanku, tapi dekapan tangannya semakin erat kurasakan, bahkan kali ini dia melingkarkan tangannya dilenganku, hal itu tentu saja mebuat jantungku semakin berdebar. Secara kasat mata, mungkin orang-orang akan melihat kami sebagai sepasang kekasih, dan jika bicara masalah kekasih, sejak aku lahir belum pernah sekalipun aku memiliki hubungan yang serius dengan seorang wanita, hal itu membuatku menjadi bahan olok-olok yang sangat potensial diantara teman-temanku yang lain. Kalau mengingat hal itu, ingin rasanya menunjukan hal ini pada mereka, agar mereka semua tahu, kalau aku pun bisa mendapatkan seorang kekasih, tidak seperti yang selama ini mereka katakan.

Kami pun terus berjalan dalam posisi seperti itu, aku membiarkan Hinata terus melingkarkan tangannya dilenganku, toh, dia sendiri yang ingin melakukannya, aku kan tidak memaksanya sama sekali, jadi ya, kunikmati saja, jarang-jarang ada kesempatan seperti ini, begitu pikirku, tanpa sadar sepertinya aku sudah menjadi laki-laki yang senang mencuri dalam kesempitan.

Aku melihat ada sebuah toko yang menjual permen kapas, aneh rasanya melihat toko seperti itu buka disaat-saat seperti ini, kuputuskan untuk mebelikan satu untuk Hinata, yah, anggap saja sebagai hadiah karena telah membuatku merasakan rasanya punya seorang kekasih, walaupun hanya sebatas bergandengan saja, tapi itu cukup membuatku senang, dan dia pun nampak senang dengan permen kapas yang kuberikan itu. Kami pun melanjutkan perjalanan kami yang sepertinya sekarang lebih terlihat sebagai liburan ketimbang sebuah misi.

"Meow! Meow!"

Sebuah suara kecil ditengah cuaca yang dingin ini mengalihkan perhatian kami, suara itu terdengar dari sebuah kotak kecil yang terdapat tepat diantara dua bangunan yang berdiri bersebelahan, aku pun segera menghampiri kotak kecil yang tertutup rapat itu dan membukanya.

"Oh! Mahluk kecil yang malang!" ujarku ketika kulihat ada dua ekor kucing kecil yang tengah bergelut riang dengan candanya, kehadiranku kemudian mengalihkan perhatian mahluk-mahluk kecil itu yang langsung berusaha memanjat kotak karton yang selama ini menjadi rumah bagi mereka sambil terus mengeong berulang-ulang.

"Coba lihat Hinata, bukankah mereka lucu?" tanyaku sambil mengambil salah satu diantaranya, kucing itu hanya diam meringkuk ketika aku mengangkatnya diudara dan meyerahkannya pada Hinata, "jangan dimakan ya!" ujarku pada Hinata yang sudah siap dengan dua tangan terbuka untuk menerima kucing kecil ini.

"Hyaaaa!" seru Hinata dengan mata berbinar-binar, sejurus kemudian ia mengeluskan pipinya naik turun pada tubuh si kucing, "halusnya!" ujarnya mengomentari tubuh si kucing.

Diluar dugaan, tiba-tiba saja kucing itu melompat dari tangan Hinata dan berlari ke arah jalan, dan berhenti ditengah jalan sambil menjilati kuku kecilnya itu, sementara sebuah sepeda motor melaju dengan cukup kencang ke arah kucing kecil tersebut. Tanpa sempat berpikir, tiba-tiba tubuhku sudah melompat berusaha untuk menyelamatkan si kucing.

"Awaaass!" teriakku sambil berguling di aspal yang keras dan merangkul si kucing.

WUSSHHH!

Sepeda motor itu terus melaju tanpa melukai si kucing, dengan nafas terengah-engah, aku menatap si kucing yang sedang kupegang erat itu. "Kau tidak apa-apa tuan kucing?"

"Meow! Meow! Meow!"

"Hehehe, sepertinya kau berusaha membuatku terlibat masalah ya," ujarku, seolah dia akan mengerti dengan apa yang kukatakan barusan.

Kemudian, dari arah berlawanan terdengar suara klakson yang cukup besar dan begitu memekakkan telinga, aku terkejut begitu yang kulihat ternyata adalah sebuah truk yang sedang melaju cukup kencang ke arahku.

"TIIIN TIIIIIIIIIIIIN...!"

Klaskon itu berbunyi untuk yang kedua kalinya, aku dapat melihat gerakan supir truk tersebut yang sepertinya mengisyaratkan padaku untuk segera menyingkir dari jalan, aku tahu, tanpa harus diperingatkan pun aku akan segera menyingkir dari tempat ini. Tapi, tiba-tiba saja kedua kakiku bergetar hebat dan tak bisa kugerakkan, ada apa ini? pikirku, aku dapat melihat kalau truk itu semakin mendekat, aku harus bergerak, aku harus menyingkir dari tempat ini, tapi tubuhku sama sekali tidak merespon, sementara truk itu bergerak semakin mendekat.

"MINGGIR!"

Kali ini aku dapat mendengar apa yang supir truk itu katakan, aku menoleh keruas jalan, aku dapat melihat Hinata jatuh berlutut sambil meneriakkan namaku dengan cukup keras. Lalu dapat kurasakan sepertinya waktu bergerak dengan lambat, lalu-lalang disekitarku, gerakan-gerakan benda disekelilingku pun semuanya sepertinya berada dalam slow motion, begitu pula Hinata yang sepertinya berusaha mengangkat tangannya seolah dia dapat meraihku dalam jarak itu.

"Naaaruuutooo...!"

Naluri manusia itu kadang sulit dimengerti, walaupun aku tahu kalau saat ini aku berada dalam bahaya, naluriku seolah mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja, jadi aku hanya tersenyum saat Hinata menjerit meneriakkan namaku ketika jarak truk itu hanya tinggal beberapa meter saja dari jarakku berada. Banyak hal yang melintas dikepalaku saat itu, tapi entah mengapa hanya kenanganku bersama Hinata yang terlihat dengan jelas, padahal kami baru menghabiskan waktu bersama selama beberapa jam saja. Saat aku pertama kali melihatnya di tempat tidur, saat dia menghabiskan ramennya dengan sekali teguk, saat wajahnya memerah ketika kami beradu pandang, sampai saat dia mengatakan kalau permen kapas ini rasanya enak.

Aku memejamkan mata agar dapat melihatnya dengan lebih jelas, dan aku dapat merasakan ketenangan disana. Ketik itu aku berpikir bahwa sepertinya tidak buruk juga mati dengan cara seperti ini, setidaknya berkat Hinata aku bisa sedikit mengerti tentang seperti apa rasanya memiliki kekasih itu, jadi kalau suatu saat nanti aku bertemu lagi dengan teman-temanku, aku bisa menjelaskannya pada mereka saat mereka menanyakannya. Terima kasih Hinata, semua ini adalah berkat kau, terima kasih, dan.. selamat tinggal.

Aku dapat merasakan hembusan angin yang menerpaku dengan kuat, kupikir itu adalah hembusan angin efek dari semakin mendekatnya truk itu, akhirnya tiba waktuku.. sampai akhirnya sebuah ledakan menyadarkanku dari ambang kematian, aku membuka kedua mataku dan dapat kulihat truk itu telah terguling ke ruas jalan dengan muatan yang sudah terbakar, api segera menjalar menuju kepala truk saat si supir sudah meloloskan diri dengan selamat.

Aku masih bertanya-tanya dengan gerangan yang terjadi, sampai ketika kulihat Hinata dengan telapak tangan kirinya yang terbuka lebar menjurus ke arah truk, dan tangan lainnya menopang tubuhnya yang tengah berlutut dengan irama nafas terengah-engah, sebuah kilatan cahaya hitam sesekali terlihat disekitar telapak tangan kirinya itu selama beberapa saat sampai akhirnya menghilang seutuhnya. Sepintas dia tersenyum kepadaku sebelum akhirnya tubuhnya roboh jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.

_-0-_

T.B.C

_-0-_

A.N
Yupz, akhirnya chapter dua ini selesai tepat pada waktunya.^^
kejar deadline mesti tamat sampe tanggal 31 nanti.
okeh, saya masih harus mengerjakan kelanjutan fict ini jadi tidak ada banyak waktu untuk berbasa-basi, tapi saya tidak akan bosan-bosannya untuk sekedar mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para readers yang telah membaca fict ini, kalau berkenan, silahkan tinggalkan review untuk segala macam keluhan atau masukan-masukan atau sekedar sepatah dua patah kata agar kedepannya saya bisa lebih baik lagi.
chapter kedua ini saya cukupkan sampai disini, terima kasih.
Long Live NaruHina.
ciao^^