Aku masih bertanya-tanya dengan gerangan apa yang terjadi dengan truk yang tadi hendak menabrakku itu, apa yang membuat truk itu kini berada dalam posisi terjungkal dengan muatan yang dilalap api, sampai ketika kulihat Hinata dengan telapak tangan kirinya yang terbuka lebar menjurus ke arah truk, dan tangan lainnya menopang tubuhnya yang tengah berlutut dengan irama nafas terengah-engah, sebuah kilatan cahaya hitam sesekali terlihat disekitar telapak tangan kirinya itu selama beberapa saat sampai akhirnya menghilang sepenuhnya.
"Hi-Hinata..?"
Sepintas dia tersenyum kepadaku, masih dengan irama nafasnya yang tak beraturan sebelum akhirnya tubuhnya roboh jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.
_-0-_
All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.
Storyline by Aojiru.
Genre's: Supernatural, Fantasy.
Warning: AU, a little bit OOC.
The Lost Memory
_-0-_
-0-
0
o
.
Chapter 3
Kucing kecil yang masih kupegang erat mengeong beberapa kali, kemudian menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri. Sementara aku masih terpaku dengan apa yang baru saja kusaksikan, sebuah truk yang terguling dan terbakar secara tiba-tiba, lalu Hinata yang terkapar dalam jarak beberapa meter didepanku setelah sebelumnya staminanya terkuras bagaikan orang yang baru saja menyelesaikan lari marathon, juga kilatan-kilatan cahaya hitam yang sekejap muncul dari tangan kirinya yang membentang ke arah truk.
Beberapa orang mulai bergerak dengan tergesa-gesa, berusaha memadamkan api yang melalap muatan truk tersebut dengan berbagai cara sambil menunggu mobil pemadam kebakaran tiba. Seseorang ditengah larinya yang kikuk tanpa sengaja menabrakku, "ah! Maaf.." ujarnya sambil kemudian melanjutkan langkahnya, tapi hal itu justru menolongku untuk terlepas dari belenggu keterkejutan yang sejak tadi melandaku. Kupaksakan kedua kaki ini untuk bergerak, dan untungnya kali ini mereka mau mendengar dan bergerak sesuai dengan perintah dari otakku.
Aku segera menghampiri Hinata yang masih terbaring tak bergerak, "Hinata! Hinata! Bangunlah!" ujarku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya, rupanya masih ada sedikit dari kesadarannya yang tersisa, ia membuka kelopak matanya perlahan, menatapku, kemudian tersenyum, N-Naruto, kau tidak apa-apa kan?" tanyanya dengan suara kecil, sepertinya mengucapkan hal itu saja membutuhkan banyak tenaga baginya.
"Bodoh! Kau tak perlu mengkhawatirkan aku, khawatirlah dengan keadaanmu sendiri!" ujarku.
Dia tertawa kecil, "hehe, kalau bisa berteriak-teriak seperti itu, sepertinya kau baik-baik saja, syukurlah Naruto, tidak terjadi apa-apa denganmu,"
"Sudah kubilang kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, kau harus-.."
Belum sempat aku menyelesaikan apa yang ingin kukatakan, Hinata sudah lebih dulu terjatuh ke alam bawah sadarnya, kuharap tidak terjadi apa-apa dengannya. Hal berikutnya yang kupikirkan adalah membawa Hinata pergi dari tempat ini, bisa gawat nantinya kalau sampai terlibat dengan pihak kepolisian. Jadi pertama-tama, aku harus memastikan bahwa tidak ada satu saksi mata pun yang melihat kejadian aneh tadi, aku menatap ke sekeliling untuk memastikan, aku beruntung, semua orang terlihat sedang sibuk dengan truk yang terbakar itu, tidak ada seorangpun yang memperhatikan kami, sepertinya mereka memang tidak menyadari keanehan yang terjadi barusan.
Aku pun langsung menggemblok Hinata, mengaitkan kedua lengannya di leherku kemudian bergegas pergi meninggalkan lokasi. Sempat terpikir olehku untuk membawa Hinata kerumah sakit, tapi kemudian aku mengurungkan niatku itu karena kupikir disana juga sepertinya tidak aman, aku tahu kalau Hinata bukanlah gadi biasa, dan kalau dokter rumah sakit menemukan keanehan pada tubuh Hinata, apa yang harus kukatakan nantinya, jadi kuputuskan untuk membawa Hinata kembali ke apartemenku.
_-0-_
Kubaringkan tubuh Hinata dengan perlahan pada tempat tidurku, menyelimutinya dan berharap kalau semuanya akan baik-baik saja. Aku duduk disebelahnya, sambil memandangi wajah ovalnya yang begitu putih dan bersih, seandainya saja aku tidak melihat kejadian tadi, aku pasti berfikir kalau dia ini adalah gadis yang biasa-biasa saja. Kuangkat selimutnya lebih tinggi, lalu aku pun pergi meninggalkan kamar.
Aku sedang menuju ruang tengah ketika kudengar sebuah kilat bergemuruh diatas sana.
CTAAAAR!
"Ng? Kilat? Sepertinya tadi cuaca masih cerah!" gumamku sambil berjalan ke arah jendela, dan kulihat awan hitam tengah bergulung kencang, menghalau sinar matahari dan membuat suasana kota menjadi gelap. Aku segera beralih ke teras belakang untuk mengamankan pakaian-pakaianku yang sedang kujemur, dan ternyata memang seperti yag kulihat, sama sekali tak ada celah bagi sinar matahari untuk merangsek masuk, membuat lampu-lampu penerangan dijalan maupun dirumah-rumah menyala lebih awal. "Sepertinya akan ada badai."
Benar saja, beberapa saat kemudian hujan mulai turun membasahi kota, begitu deras dan lebat, bagai menumpahkan air langsung dari samudra, ditambah dengan gemuruh kilat yang saling bersahut-sahutan, menambah suasana kelam. Aku segera masuk dan menutup berandaku rapat-rapat, saat itu aku mendengar sebuah erangan yang cukup kencang dari arah kamar tidurku. "Hinata!"
Dengan tergesa-gesa aku berlari menuju kamar untuk melihat keadan Hinata. Aku membuka pintu dan segera menghampirinya, aku memposisikan diriku disebelahnya sambil berlutut. "Hinata! ada apa?" tanyaku khawatir, dan rupanya ia masih tak sadarkan diri, kedua matanya masih terpejam, namun dari mulutnya terus terdengar suara rintihan, keringat juga mengucur deras disekitar dahinya dan lagi tubuhnya terus saja bergerak dengan gelisah.
"Astaga! Panas sekali!" ujarku ketika kuletakan tanganku di keningnya. "Hinata, kau tidak apa-apa kan?" tanyaku yang hanya dibalas dengan diam oleh Hinata. aku pun berinisiatif untuk meredakan demam Hinata dengan mengompres keningnya, jadi aku meninggalkan kamar dan pergi kedapur untuk mengambil sebaskom air dingin dan sehelai handuk. Saat itulah sebuah petir menyambar sebuah pohon yang tumbuh dihalaman belakang apartemen ini, cahayanya yang begitu terang sekejap membutakan pandangan, dan gemuruhnya yang luar biasa besar sangat memekakkan telinga.
JLDEEERR!
"Wow! Baru pertama kalinya aku melihat petir sedekat ini, pohon itu sampai hangus, kuharap apartemen ini memiliki penangkal petir yang bagus," gumamku sambil melihat pohon yang hangus terbakar itu melalui jendela, untunglah hujannya cukup besar, jadi api yang dihasilkan sambaran petir itu dapat langsung padam dengan seketika. "Ah, aku harus bergegas!"
Buru-buru aku melangkah menuju kamar, kuraih knop pintu dan memutarnya, pintu pun terbuka, "fiuh, kilat tadi itu be-.."
TRUKK!
Baskom itu terlepas dari genggamanku, airnya pun tumpah membasahi lantai, sehingga kedua telapak kakiku dapat merasakan sensasi dinginnya yang basah. Tapi aku tak terlalu memikirkan hal itu, karena kedua mataku telah menangkap sesuatu yang lebih penting daripada sekedar memikirkan kaki yang basah, dan sesuatu itu kini telah menyadari dan mengalihkan pandangannya, tepat padaku.
_-0-_
Aku begitu terkejut ketika membuka pintu kamarku, sampai-sampai tangan kananku tak mampu untuk menahan berat baskom berisi air yang tak seberapa itu hingga membuatnya terjatuh ke lantai, ada sesuatu, atau seseorang disana sedang berdiri menghadap Hinata. Kedua mataku dengan kikuknya berusaha menelaah siluet tubuh yang terlihat sangat asing itu, menerjemahkan setiap lekuk tubuhnya yang sangat tidak biasa, sampai akhirnya sebuah kilatan petir membantu penglihatanku dengan cahayanya yang terang dan juga membuat seisi kamarku terang benderang untuk sekejap, begitu melihat sosok itu dengan jelas, aku malah menyesali kilatan cahaya petir tadi.
Sebuah tubuh yang menyerupai manusia, dan kalau boleh kukatakan, mungkin dia seperti terbuat dari bahan yang berbeda, karena tubuhnya berwarna hitam pekat dengan pola aneh berwarna merah darah yang menyala yang terukir disekujur tubuhnya, dan yang membuatnya begitu berbeda adalah sebuah sayap hitam bagai kelelawar, juga sebuah buntut panjang berwarna senada yang selalu bergerak meliuk-liuk dengan ujung seperti mata anak panah.
Dia menyadari kedatanganku, menatapku dengan kedua matanya yang dingin dan tajam, sekujur tubuhku seolah membeku karenanya, saat aku mencoba untuk bergerak, ia membentangkan tangan kanannya padaku dengan telapak yang terbuka, kemudian telapak itu mengepal dengan kuat, dan bersamaan dengan itu seperti ada sesuatu yang mencekik leherku dengan kuat, membuatku begitu kesulitan untuk bernafas, aku berontak berusaha untuk melepaskannya tapi tak ada sesuatupun yang bisa kuraih kecuali angin. Sejurus kemudian ia menghempaskan tangannya kekanan, dan hal yang sama juga terjadi pada tubuhku yang tiba-tiba terlempar mengikuti alur gerakan tangannya.
GUBRAK!
Tak ayal tubuhku membentur lemari dan beberapa hiasan lainnya yang berada disana dengan sangat keras, aku tak kuasa untuk bangkit, nafasku begitu memburu, dipenuhi rasa takut dan keterkejutan juga efek dari serangannya barusan, namun begitu aku ingat Hinata yang berada dalam bahaya, aku memaksakan sekujur tubuhku ini untuk bergerak. Namun sayang, belum sempat aku bangkit berdiri, mahluk itu kembali menggunakan kekuatan anehnya yang kali ini membuatku tak bisa bergerak, kedua tanganku membentang dan menempel dengan kuat pada tembok kamar, seolah ada sebuah benda yang menahan dan memastikannya agar tak dapat bergerak, begitu pula hal yang sama juga terjadi pada tubuhku.
Mahluk itu berjalan mendekat, tatapannya masih terlihat begitu dingin dan tajam, "siapa namamu bocah?" tanyanya.
"A-apa urusannya denganmu?"
GRRAGG!
"Aghh..!"
Hanya dengan tatapannya saja, dia berhasil membuat bobot yang menekan tubuhku semakin besar, "jawab saja!" ujarnya yang kali ini suaranya terdengar lebih berat.
"U-uzumaki Naruto.." ujarku sedikit terbata-bata akibat rasa sakit dan ketakutan yang kualami.
"Hm, jadi kau belum mati ya, pantas saja.." gumamnya sambil berbalik memunggungiku dan berjalan ke arah Hinata.
"M-mati? Apa maksudnya? Siapa kau? Mahluk apa kau sebenarnya?" tanyaku dengan segala keberanian yang kumiliki.
Dia menghentikan langkahnya begitu mendengar apa yang kutanyakan barusan, kemudian ia kembali berbalik menghadapku, pupil matanya yang berbentuk runcing seperti kucing menyala terang, sebuah seringai yang terlihat begitu kelam tersungging dibibirnya.
"Aku... Shinigami!"
_-0-_
Seluruh tubuhku bergetar, dan keringat dingin tak henti-hentinya mengalir dari keningku juga disekujur tubuhku, "shi-shi-shinigami..?" ulangku.
"HAHAHAHAHAHA...!"
Shinigami itu tertawa dengan begitu kerasnya, sampai-sampai gendang telingaku seperti mau pecah.
"Aku suka sekali melihat ekspresi diwajahmu itu," ujarnya dengan lantang, "ekspresi yang menunjukan rasa takut dan keputus asaan yang begitu besar, hahahaha!"
Memang benar aku ketakutan, tapi aku tetap berusaha menyembunyikan semua itu walaupun aku tidak yakin aku bisa menyembunyikan hal itu sepenuhnya.
"Tak perlu terkejut seperti itu, memangnya kau belum pernah mendengar nama kami disebut, hah?" tanyanya, "ck, kau pasti bukan orang yang gemar beribadah, ya kan?"
"T-tentu saja aku tahu!" bantahku, mencoba menyangkal apa yang shingami itu katakan.
"Fufufu, kalau begitu, kau pasti tahu kan ada keperluan apa jika seorang shinigami turun ke dunia?" ujarnya dengan senyum jahat yang begitu lebar. Kemudian ia kembali tertawa dengan suaranya yang dahsyat, tentu saja menertawakan ekspresi wajahku yang saat itu pasti langsung pucat pasi karena memikirkan tugas seorang shinigami yang tentunya adalah mencabut nyawa.
"Hehehe, tapi tenang saja, kali ini aku datang kemari bukan untuk urusan itu," ujarnya santai yang tentu saja membuatku bisa sedikit bernapas lega. "Dua hari yang lalu, ada seorang shinigami yang ditugaskan untuk turun ke dunia untuk melakukan tugasnya, kau tahu, mencabut!" ujarnya sambil memposekan tanda kutip dengan jari-jarinya saat dia mengucapkan kata 'mencabut'. "Tapi sampai hari ini, shinigami itu tak kunjung kembali, padahal biasanya tugas seperti itu takkan memakan waktu lama, jadi aku ditugaskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada shinigam itu."
Dia kembali berbalik memunggungiku, saat itu aku mencoba untuk berontak, namun kekuatan anehnya yang membelengguku masih tatap kuat seperti sebelumnya, tak pernah mengendor sedikitpun. Tapi ia kembali berbalik ke arahku sehingga membuatku berhenti dari usahaku untuk mencoba lepas dari kekuatan anehnya itu.
"Hm, mungkin kau sedikit bertanya-tanya, mengapa aku menjelaskan hal ini padamu, jadi sekalian saja kuberitahu semuanya, tugas seorang shinigami yang pergi dua hari yang lalu itu adalah mencabut nyawa seseorang, dan orang itu bernama.. um, coba kuingat-ingat," ujarnya sambil mengetuk-ngetukkan dagu dengan jari telunjuknya, aku menunggunya dengan rasa penasaran, "sepertinya sebuah nama yang berawalan dengan huruf 'U' atau semacamnya.." sambungnya lagi terlihat berpikir.
"Ah! Aku ingat, namanya adalah Uzumaki Naruto! Dan kalau tidak salah, tadi itu namamu kan, eh?"
DESHH!
Seketika itu, aku seperti merasakan seluruh darah dalam tubuhku terkuras habis, jantungku bagai berhenti berpacu, nafasku seperti tertahan, serta tubuhku bergetar kuat dan basah oleh peluh keringat yang keluar dari setiap lubang pori-pori kulitku. "A-aku.. mati.."
"Hahahaha, tak perlu sampai seperti itu, karena aku punya dua kabar untukmu, yang satu kabar baik, dan satunya lagi adalah kabar buruk, mana yang ingin kau dengar lebih dulu?" tanyanya.
"Persetan! Shinigami ini pasti sedang mempermainkanku, kabar apapun yang kupilih, tetap saja, aku pasti mati.. aku pasti mati.. aku pasti mati," pikirku.
"Hng? Kenapa diam, kalau begitu aku yang memutuskan, pertama aku akan memberitahukanmu kabar baiknya, dan kabar baiknya adalah, kami sebagai shinigami punya peraturan tersendiri yang melarang untuk membunuh manusia yang bukan menjadi bagian dalam tugas kami, jadi, walaupun ingin, aku sama sekali tidak bisa membunuhmu, hanya shinigami yang ditugaskan untuk membunuhmu-lah yang boleh melakukannya, jadi sampai shinigami itu ditemukan, dapat dipastikan kalau kau tidak akan mati."
Begitu mendengar kalimatnya itu, entah mengapa sebuah kelegaan langsung menyelimuti tubuhku.
"Eits! Jangan senang dulu, masih ada satu kabar lagi, yaitu kabar buruk," ujarnya yang seketika membuatku menahan rasa senangku. Dia berjalan ke arah tempat tidur dimana Hinata masih berbaring disana dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia duduk disebelah Hinata, kemudian tangannya yang hitam legam menyibak poni yang menutupi kening Hinata, ia menatapnya dalam. "Dan kabar buruknya adalah, shinigami itu.. telah kutemukan!"
Dari caranya menatap, dari caranya mengatakan kalau shinigami itu telah ditemukan, sepertinya dia mengisyaratkan kalau shinigami yang dimaksudnya adalah..
"Tidak mungkin! Kau pasti salah, tidak mungkin Hinata adalah.. adalah.." aku menghentikan kalimatku disana. Aku teringat dengan hal-hal aneh yang memang terjadi setelah Hinata muncul, dan semua hal-hal aneh itu membuatku ragu akan hal yang kupercayai.
"Apa?" ujarnya, "Apanya yang tidak mungkin, hah?" sambungnya menggelegar. "Memangnya kau tahu apa dasar manusia bodoh! Akan kubuktikan, akan kubuktikan kalau apa yang kau percayai itu hanyalah kebohongan belaka, dan kau akan menyesalinya begitu kau sudah berada di neraka nanti, hahaha!"
Kemudian sebuah kilatan cahaya muncul di telapak tangan kanannya, ia mengangkat tangan itu sampai sejajar dengan bahunya, sambil memfokuskan pandangannya pada cahaya itu yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah gumpalan berwarna hitam yang dikelilingi kilatan-kilatan cahaya berwarna merah, dan akhirnya ia melontrkan gumpalan cahaya itu pada tubuh Hinata yang masih terbaring. Lalu tiba-tiba saja tubuh Hinata melayang, sebuah barrier pelindung yang berwarna hitam transparan mengelilinginya membentuk sebuah lingkaran dan kilat-kilat kecil kembali muncul baik didalam maupun diluar lingkaran pelindung hitam yang membungkus tubuh Hinata itu.
Semakin lama, warna lingkaran pelindung yang membungkus tubuh Hinata itu semakin gelap dan pekat, beberapa saat kemudian, tubuh Hinata sudah tak terlihat lagi dalam gumpalan bola Hitam yang melayang. Aku menunggu dengan rasa takut yang begitu mencekam atas apa yang akan terjadi berikutnya, tapi sepertinya aku tak perlu menunggu lama, sebab sebuah retakan kecil mulai muncul di permukaan gumplan tersebut, semakin lama semakin melebar, satu persatu gumpalan cahaya hitam itu mulai rontok dan jatuh, sedikit demi sedikit.
Sebuah hempasan angin yang terpusat pada gumpalan itu tertiup kesegala penjuru ruangan bersamaan dengan hawa dingin yang merasuk sampai ke tulang. Aku memejamkan mata karenanya, sampai angin dingin itu berhenti berhembus, aku membuka kelopak mataku dengan perlahan. Dan saat itulah, aku dapat melihat sosok tubuh Hinata yang sama sekali berbeda dari Hinata yang kukenal sebelumnya, sepertinya aku mulai mempercayai apa yang dikatakan oleh shinigami itu sebelumnya, dan mempercayai hal itu, berarti sama saja dengan mengiyakan bahwa sebentar lagi, aku akan mati.
Sebuah tubuh yang hitam legam, dengan garis berpola unik berwarna merah yang menyelimuti tubuhnya, Hinata kini benar-benar mirip seperti shinigami yang datang sebelumnya, hanya saja yang terbentang di punggungnya bukanlah sayap kelelawar, melainkan sayap kupu-kupu yang berwarna ungu gelap dan seperti ada pola berbentuk tengkorak di masing-masing sayapnya, juga sebuah tanduk kecil di sisi kanan dan kiri dahinya.
Ia mengepakkan sayap itu dan mulai turun dengan perlahan, begitu ujung kakinya menyentuh lantai, ia membuka kedua matanya yang sejak tadi tertutup. Mata dengan pupil yang sama, bahkan terkesan lebih memancarkan aura kegelapan dari pada shinigami sebelumnya. Itulah sosok Hinata yang kini berada dihadapanku.
Shinigami yang datang terlebih dahulu tiba-tiba saja berlutut dihadapan Hinata, seperti menandakan rasa hormatnya yang begitu besar pada sosok yang berada dihadapannya itu. "Maaf atas kelancanganku barusan, tuan putri."
"Neji Hyuuga!" ujar Hinata yang kini suaranya pun sama sekali berbeda dengan Hinata yang sebelumnya. "Kau boleh berdiri."
"Terima kasih, tuan putri!" shinigami yang disebut sebagai Neji Hyuuga itu pun berdiri dan mundur beberapa langkah, kemudian, Hinata –yang kini sudah berubah menjadi shinigami lainnya- mengalihkan pandangannya padaku, hawa dingin yang jauh lebih menekan daripada sebelumnya berhembus ke arahku, tidak salah kalau dia dipanggil 'tuan putri' oleh shinigami bernama Neji itu, kekuatannya jauh sekali berbeda.
"Apa Ayah yang mengutusmu kemari?" tanya Hinata.
"Benar tuan putri, sang Raja-lah yang menyuruh hamba untuk mencari tuan putri, sepertinya beliau khawatir."
"Kalau begitu, aku harus segera menyelesaikan tugasku disini."
Kemudian Hinata kembali menyebutkan nama 'Neji', dan seolah mengerti Neji pun mengangguk, sesaat kemudian tekanan yang sejak tadi menekan tubuhku hilang begitu saja, aku langsung jatuh lunglai ke lantai dalam keadaan lemah. Dan saat aku berusaha untuk bangkit, Hinata sudah berada tepat dihadapanku.
"Uzumaki Naruto, kau akan mati hari ini!"
Belum sempat aku menyelesaikan rasa terkejutku, tangan kirinya sudah mencengkram leherku dengan kuat, mengangkatku sampai kedua kakiku melayang di udara. Rasa sesak langsung menerpa dadaku, aliran udara yang kuhirup sama sekali tidak sampai ke paru-paru berkat cekikan kerasnya itu.
Hinata kini telah benar-benar berubah, dia sama sekali bukan Hinata yang kukenal dulu, kini dia adalah Hinata yang merupakan bagian dari shinigami, atau memang itulah wujudnya yang sebenarnya.
"Akhirnya, aku akan segera mati, walaupun aku tidak menyangka aku akan mati di umur yang semuda ini, dan aku tidak pernah menyangka aku akan mati dengan cara seperti ini, dibunuh oleh seorang gadis bernama Hinata yang tiba-tiba saja wujudnya berubah menjadi seorang putri shinigami, hehe, benar-benar aneh. Tapi.. walau seperti apapun wujudnya, dia tetap adalah Hinata yang telah menyelinap seenaknya kerumahku, mengganggu tidurku, membuatku memasakkan ramen untuknya, membuatku berkeliling sambil mencari ingatannya yang hilang, menggandeng erat tanganku, dan menyelamatkanku dengan kekuatan anehnya saat sebuah truk hendak menabrakku, dia tetaplah Hinata, sampai kapanpun juga, dia tetaplah Hinata yang telah memberikanku sedikit kesenangan walau sekejap. Dan kalau memang aku harus mati dengan cara ini, sepertinya tidak apa-apa, toh, suatu saat aku tetap akan mati, bagaimanapun caranya, yah, walaupun hanya sebentar, tapi aku senang bisa mengenalmu, Hinata!"
"Kau tidak mencoba melawan, Uzumaki Naruto?"
"T-tidak! A-aku sama sekali tidak takut kalau harus mati disini, dan lagi, k-kalau aku melawan, aku mungkin akan sedikit melukai Hinata, aku tidak ingin hal itu terjadi, k-karena Hinata, adalah orang yang sangat penting bagiku.."
Begitu mendengar apa yang kukatakan barusan, aku dapat merasakan cengkramannya melemah, melemah dan terus melemah sampai akhirnya terlepas dari leherku, tubuhku kembali membentur lantai untuk yang kesekian kalinya. Aku tak begitu mengerti dengan apa yang terjadi, tapi dapat kulihat, Hinata terus memegangi kepalanya dan berteriak seperti orang kesakitan. Neji langsung menghampirinya dan berniat untuk menolongnya, tapi sebuah hempasan kuat dari tangan Hinata memukulnya mundur beberapa meter.
Aku masih tak begitu mengerti, tapi dapat kulihat kalau sepertinya Hinata mengerang kesakitan. "Hinata! kau tidak apa-apa?" ujarku sambil bergerk mendekat, tapi kemduian tangan kirinya menghantam tubuhku dengan keras, aku terpental kebelakang dan membentur tembok, dapat kurasakan darah segar mengalir keluar dari tubuhku. Pandanganku mulai buram, tapi dapat kulihat kalau Hinata masih berjibaku dengan pikirannya sendiri, sepertinya sekarang aku tahu alasanya, mungkin ingatannya saat menjadi manusia kembali bangkit, dan dia kembali mengenang waktu singkat yang kami lalui bersama, dan hal itu membuatnya ragu akan pilihannya, antara membunuhku, atau tidak.
"Hinata!" ujarku, "lebih baik kau segera mengakhiri penderitaanmu itu, cukup dengan membunuhku, maka kau akan terbebas darinya. Kau adalah shinigami, dan aku adalah buruanmu, jadi sudah sepantasnya kau melakukan hal itu, aku tak akan dendam padamu, karena mungkin memang inilah takdir hidupku."
Dia kemudian menatapku, matanya terfokus walaupun sepertinya dia masih merasakan rasa sakit itu. Dan secara perlahan, dia bergerak mendekatiku..
Hinata POV On
Aku berjalan perlahan, rasa sakit masih menyelimuti kepalaku, dapat kulihat Naruto didepan sana, sambil bersandar dengan darah yang mengalir keluar dari mulutnya, sepertinya seranganku sebelumnya telah melukainya cukup parah, tapi itu bukan masalah, karena aku adalah shinigami sekaligus putri dari raja neraka, jadi hal seperti ini memang tugasku.
Sepintas, memang aku mengalami waktu-waktu bersamanya, tapi saat itu aku kehilangan ingatanku, aku tak tahu mengapa aku bisa senang berada bersamanya, aku tidak tahu kenapa saat-saat yang singkat itu bisa membuatku bingung akan pilihanku, sayangnya aku adalah shinigami, dan bukan sifat kami para shinigami untuk bersikap lemah lembut kepda manusia. Kalau begitu, perasaan ini, perasaan ini akan kutuntaskan disini, sebagai putri shinigami, aku akan menentukan pilihanku..
Hinata POV End
Seacara perlahan, namun pasti Hinata semakin mendekat padaku, aku dapat melihat kalau sebentar lagi akhir hidupku akan tiba, aku tahu dari kedua mata Hinata yang sudah lebih fokus dari sebelumnya, dia telah menentukan pilihannya, shinigami bernama Neji itu sepertinya juga tahu akan hal ini, seringai diwajahnya mengisyaratkan akan hal itu dengan jelas, aku akan mati.
Sayap milik Hinata mulai memancarkan aura gelapnya, tangan kanannya mulai mengeluarkan sinar, sepertinya inilah jurus terakhirnya, atau lebih tepatnya jurus yang akan mengakhiri hidupku, cahaya itu semakin lama semakin membesar, sama seperti kejadian sebelumnya, dan sesaat lagi, mungkin tubuhku akan lenyap tertelan oleh cahaya itu.
Pasrah, hanya itulah yang bisa kulakukan sekarang, kedua mataku pun sepertinya sudah lelah untuk terus melihat, pandanganku mulai kabur, dan Hinata sudah sangat dekat denganku. Namun, begitu aku sangat yakin dengan ajalku, Neji si shinigami tiba-tiba bangkit dengan wajah terkejut, berteriak, berusaha mendekat ke arah sang putri, seperti berusaha mencegahnya, apakah mungkin sekarang dia berubah pikiran dan tak ingin kalau tuan putrinya itu membunuhku, tapi sepertinya percuma, gerakannya tak cukup cepat untuk mencegah Hinata yang telah mengambil ancang-ancang untuk menyerangku. Tapi tunggu dulu, ada yang aneh dengan cahaya yang berada ditangannya kali ini, tidak seperti sebelumnya, kali ini cahaya itu berwarna.. putih.
CLEB!
Tangan Hinata dengan cahayanya yang putih menembus dada, tapi, aku sama sekali tidak meraskan sakit, tentu saja, karena tangan Hinata itu kini telah menembus dadanya sendiri. Dengan tangannya sendiri, dengan kekuatannya sendiri, ia telah memilih untuk mengakhiri hidupnya sebagai seorang putri shinigami.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH!"
Teriakan Neji menggelegr diantara derasnya hujan, sepertinya ia sudah tahu atas apa yang akan dilakukan putrinya itu, makanya tadi ia sempat meloncat dengan kaget dan berusaha mencegah apa yang akan dilakukan oleh Hinata, dia sama sekali tidak berniat untuk menyelamatkanku.
Hinata mulai jatuh berlutut, aku menatapnya iba, tangannya sudah terlepas dari dadanya yang kini telah berlubang, sebuah cairan hitam kental keluar dari lubang itu, sepertinya itu adalah darah shinigami. Mungkin saat ini dia sedang merasakan sakit yang amat sangat, nafasnya mulai tersenggal, ia mulai tak kuasa menopang berat tubuhnya. Tapi kemudian, aku sedikit sangsi dengan apa yang kulihat, ada sebuah senyuman yang tersimpul dibibirnya, senyum hangat yang kukenal dulu, senyum seorang Hinata Hyuuga. Sesaat setelah itu, tubuhnya pun terjatuh tepat dipelukanku. Dan aku pun memejamkan mata.
_-0-_
Aku sedikit kaget ketika aku terbangun dalam tempat tidurku, sempat terpikir kalau hal yang baru saja kualami tadi hanyalah sebuah mimpi, tapi, kemudian aku kembali mendengar sebuh suara yang sepertinya aku sangat ingin utnuk tidak mendengarnya lagi.
"Kau sudah bangun!"
Aku menoleh ke asal suara tersebut. Neji si shinigami tengah menatapku, tajam seperti biasanya. Saat itu aku sadar kalau yang terjadi tadi bukanlah sebuah mimpi, aku masih dapat merasakan sakit disekitar dadaku, sepertinya ada beberapa tulang rusukku yang patah akibat hantaman Hinata tadi. Bicara soal Hinata..
"Mana Hinata? apa yang terjadi dengannya?"
Neji memalingkan wajahnya dari pandanganku, aku beranjak dari tempat tidur, "jangan bilang kalau Hinata telah.."
Belum selesai aku melanjutkan pertanyaanku, aku merasakan ada sosok lain yang berbaring tepat disebelahku, aku menyibak selimut yang menutupinya, saat itu, dapat kulihat Hinata tengah tertidur dengan lelap dan tenang, Hinata yang kukenal, Hinata seperti yang pertama kali kujumpai.
"Sepertinya dia telah memutuskan pilihannya, dan pilihannya itu adalah kau Uzumaki Naruto!"
"A-aku..?"
"Ya, dia telah membuang semua kekuatan shinigaminya, itu adalah cara shinigami mengakhiri hidupnya, biasanya para shinigami akan lenyap jika melakukan hal itu, tapi, mungkin putri Hinata memiliki suatu kekuatan lain, kekuatan yang tidak kami miliki, dan mungkin saja kekuatan itu berkat kau.."
"J-jadi.."
"Ya, sekarang putri Hinata adalah seorang manusia biasa, sama seperti kalian.."
"Lalu.. apa yang akan kau lakukan? bagaiamana dengan.."
"Aku sama sekali tak da urusan denganmu, lagipula seperti yang kukatakan sebelumnya, shinigami hanya bisa membunuh manusia yang merupakan targetnya, jadi sampai shinigami yang akan menghabisimu ditentukan, sepertinya kau masih akan aman.."
Ugh, cara bicaranya masih tetap dingin seperti itu, apa dia masih mempermainkanku, tapi, infonya kali ini cukup membuatku senang.
"Satu lagi.. Hinata, apa kau akan membawanya kembali ke tempat asal kalian?"
"Apa kau bodoh? Tentu saja tidak, Hinata sudah jadi manusia biasa seperti kalian, dia tidak akan bisa memasuki dunia kami para shinigami."
"Lalu, apa yang harus kulakukan..?"
"Pikirkan saja sendiri, aku sudah pusing memikirkan alasan apa yang akan kukatakan pada raja saat aku kembali nanti.."
Tiba-tiba sebuah lubang hitam muncul di permukaan dinding, "ah! Aku harus segera kembali, waktuku sudah hampir habis, dan soal putri Hinata, kuharap kau tersu menjaga dan merawatnya, karena bagaimanapun juga, dia pernah menjadi bagian dari kami, sampai jumpa!"
Neji pun meloncat ke arah lubang hitam itu.
"Cih, siapa yang sudi bertemu lagi denganmu!"
"Apa kau bilang?" ujar Neji sambil kembali muncul dari lubang hitam itu.
"Ah, t-tidak! Aku tidak bilang apa-apa kok!"
"Hm.. aku hanya ingin bilang, mungkin kau sedikit bertanya-tanya siapa yang merusak tembok depan apartemen ini,"
"Ah! Jadi kau tahu siapa pelakunya.."
"Yup, putri Hinata yang melakukannya, kepalanya terbentur ketika ia membuka lorong dimensi ini, walaupun menyandang gelar sebagai seorang putri, ia masih canggung dan belum bisa mengendalikan kekuatannya sepenuhnya, dan sepertinya hal tu jugalah yang membuatnya hilang ingatan!"
"Hee! Yang benar saja?"
"Itulah kenyataannya! Kalau begitu, aku pergi dulu."
Setelah itu lubang dimensi pun tertutup, Neji sang shinigami kembali kedunianya sendiri, meninggalkan aku dan Hinata disini.
"Nghh..."
"Ah! Kau sudah bangun Hinata!"
"Selamat pagi! Kau siapa?"
"Heee... masa' seperti ini lagi?"
"..? kau siapa?"
"Hm.. mungkin bisa dibilang, aku ini kekasihmu, hehehe"
"Kekasih? Jadi kau kekasihku?"
"Yup, semacam itulah.."
"um... Kekasih itu apa?"
"Hehehe, sudah kuduga kau akan mengatakan itu, kujelaskan sambil makan, ayo, ramen instan sudah menunggu kita!"
"Ramen..?"
"Yup!"
_-0-_
OWARI
_-0-_
A.N
Yupz, akhirnya fiction ini selesai sepenuhnya, sudah pukul 23.06 WIB, tanggal 31 Okt. 11^^.
terima kasih banyak buat semuanya^^
Happy NHDD #1
Long Live NaruHina
Ciao^^
"Ramen itu apa..?"
