Matahari semakin terik, burung berkicau semakin keras. Ia yang tengah sendiri telah berpikir matang-matang mengenai segala yang terjadi. Ia tidak percaya. Sungguh, ia tidak mau percaya. Tapi jika ia mau mendengarkan kata nuraninya, serta analisis otaknya, semuanya menunjukkan satu kebenaran yang tidak bisa disangkal.
Helaan napas berat meluncur begitu saja. Ia pun bangkit dari posisi duduknya. Ia sudah cukup merenung dan kini ia harus mengambil sebuah keputusan.
Tidak, ia tidak ingin menyerahkan persoalan ini pada polisi. Bagaimanapun, ia ingin tahu alasannya melakukan pembunuhan berantai tersebut. Bukan ia tidak bisa menebak, tapi ia ingin mendengar langsung.
Diambilnya secarik kertas dan ia pun menorehkan huruf demi huruf di atas benda putih tersebut.
Ini adalah pertaruhan.
o-o-o-o-o
Sekolah semakin dipenuhi oleh kehadiran siswa-siswi. Beberapa di antaranya yang masih penasaran dengan kasus pembunuhan Shion, dengan bergerombol, kembali mendatangi lokasi kejadian. Sementara yang lain, tetap dengan aktivitas mereka yang biasa, seolah tidak terpengaruh oleh kejadian-kejadian mengerikan yang sering terjadi akhir-akhir ini.
Seorang anak manusia yang baru saja memasuki kelasnya, langsung terbelalak saat ia menemukan secarik kertas di dalam laci mejanya. Tangannya sedikit bergetar saat ia membaca tulisan yang tertera di sana.
Aku ingin bicara denganmu. Begitu kau menemukan surat ini, datanglah ke atap sekolah.
Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan siapa pun yang ada di kelas, ia meremas kertas tersebut. Dan demi memenuhi undangan sebagaimana yang diharapkan oleh si pengirim surat kaleng, ia langsung melangkah ke atap sekolah.
Ia sudah bisa menduga siapa yang mengirim undangan tersebut.
Baginya, ini juga adalah pertaruhan.
KISS OR KILL
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
Special for NaruHina Dark Day#1
"I-iya. Aku sudah di sekolah. Maaf." Seorang gadis berambut indigo melayangkan pandangannya ke arah langit yang biru sementara sebelah tangannya memegang sebuah handphone yang ditempelkan ke telinganya. Angin semilir menyibakkan rambut panjangnya. Ia pun merapikan rambutnya sejenak sebelum tangannya kemudian berangsur memasuki saku roknya. "Te-tenang saja. Neji-nii tidak perlu khawatir. Iya."
Ditariknya keluar sebuah benda dengan ujung yang berkilat. Ia menelan ludah saat melihat pantulan wajahnya di benda tersebut—pisau. Mata pearl-nya terpantul samar di bagian tajam dari benda mematikan tersebut. Entah apa yang ia rasakan sekarang, ia sendiri tidak bisa memahaminya.
Ia hanya berharap bahwa semua ini adalah mimpi. Mimpi buruk yang akan segera menghilang begitu ia terbangun.
Tapi ia tahu.
Semua adalah nyata.
Krek.
Pintu berderit, menandakan ada seseorang yang datang.
Gadis itu tampak terkejut dan segera memasukkan pisau yang tidak terlalu besar itu kembali ke dalam saku rok rimpelnya yang berwarna biru. Saat merasakan tatapan orang lain di balik punggungnya, ia pun akhirnya memutuskan menengok sejenak.
Kedua pearl-nya kini bersitegang dengan dua buah sapphire yang terlihat begitu polos.
"Sudah dulu, ya, Neji-nii." Dan ia pun mematikan sambungan teleponnya. Disimpannya handphone tersebut di saku lainnya, yang berbeda dari tempatnya meletakkan pisau.
"Ng… kau sudah lama menungguku, Hinata-chan?" ujar seorang pemuda berambut kuning sambil tersenyum. Dengan gerakan yang tampak kikuk, pemuda itu menggaruk-garuk pipinya. "Ada apa sampai memanggilku ke sini?"
Gadis yang dipanggil Hinata itu tidak bisa memaksakan diri untuk membalas senyuman sang pemuda—Uzumaki Naruto. Sebagai gantinya, raut sedih langsung mencuat di wajahnya tanpa bisa ia kendalikan.
"A-aku rasa… kau tidak perlu berpura-pura lagi, Naruto-kun." Hinata memasukkan sebelah tangannya, ke dalam saku dimana pisaunya berada. Ini adalah pertahanan terakhirnya. Ia harus memastikan bahwa benda itu tetap ada di tempatnya untuk dapat melindunginya.
Terutama setelah senyum di wajah pemuda itu menghilang.
"Wah? Apa maksudmu?" tanya pemuda itu sambil menyipitkan matanya. "Kau aneh, Hinata-chan. Kau tidak sakit, 'kan?" Perlahan, Naruto bergerak mendekat ke arah Hinata yang masih terdiam di tempatnya.
"Ja-jangan mendekat!" ujar Hinata yang justru berjalan semakin mundur. Gadis itu pun menengok sekilas ke belakang untuk memastikan bahwa jarak tubuhnya dengan pagar pembatas masih jauh.
"Apa, sih? Kau kenapa, Hinata-chan?" Tanpa bermaksud menghentikan langkahnya barang sekejap pun, Naruto terus mendekat.
Merasa terdesak, Hinata pun langsung menarik keluar pertahanan terakhirnya. Dan… berhasil. Naruto terdiam dengan mata yang terbelalak.
"Oi, oi? Apa-apaan pisau itu?"
Hinata menggenggam pisau itu dengan kedua tangannya. Mati-matian gadis itu berusaha menghilangkan gemetar di kedua tangannya. Ia harus terlihat tegar. Ia tidak boleh gentar.
"Hina—"
"Ku-kubilang jangan mendekat!" seru Hinata dengan suara yang lebih tegas kali ini. Naruto yang sudah hendak kembali melangkah pun akhirnya benar-benar terdiam di tempatnya. Mata sapphire pemuda yang memiliki tanda lahir berupa bekas guratan semacam kumis kucing berjumlah tiga di masing-masing pipinya itu langsung menyorot penuh selidik pada gadis di hadapannya—menilai apakah gadis tersebut sudah kehilangan akal sehatnya.
Tapi tidak, gadis itu masih benar-benar waras. Otaknya dapat berfungsi dengan baik. Dan itulah yang menyebabkannya menjaga jarak dengan pemuda yang kini tengah terdiam di hadapannya. Pemuda yang terlihat begitu innocent tetapi… berbahaya.
"Kenapa kau membunuh Ino-chan dan Shion-chan?"
Pemuda itu masih terdiam.
"Ka-kau bahkan… kau bahkan menjadikanku… ka-kambing hitam." Hinata memandang ke arah lantai. Sesaat, ia menggigit bibir bawahnya.
Ia tidak boleh menangis. Ia tidak boleh menangis. Tidak. Itu akan membuatnya goyah dan membuat Naruto memiliki kesempatan.
Terus dan terus, Hinata mengatakan hal tersebut pada dirinya. Sampai akhirnya ia dapat mengangkat kepalanya kembali, menatap langsung ke dalam mata Naruto yang masih saja bergeming.
"Aku membunuh Ino-chan? Kau bercanda, 'kan?"
Hinata menggeleng. "Tidak." Tangan kiri Hinata langsung merogoh sakunya lagi, mengambil benda lain selain handphone-nya. Mata Hinata masih tetap menatap tajam pada Naruto, mengawasi setiap pergerakan pemuda tersebut. "Jika ada benda ini."
Naruto mengamati benda yang ada di dalam plastik bening yang ditunjukkan Hinata. "Hm? Senar gitar?"
"Y-Ya. Senar gitar yang ada di ruang musik… jika digabungkan dan ditambahkan dengan senar gitar baru… panjangnya bisa mencapai sepuluh meter."
"Lalu?" tanya Naruto sambil memamerkan sebuah senyuman mengejek. Alis matanya terangkat sebelah kala itu.
"Saat Ino memanggilku, a-aku tidak bisa langsung datang karena ada tugas piket. Kau… memanfaatkan kesempatan itu untuk… menyekapnya dengan kloroform… membuatnya pingsan." Hinata melemparkan plastik berisi senar gitar yang tergulung rapi tersebut. "Kau lalu memasang tali senar itu… mungkin pada kakinya… dan kemudian… mendudukkannya di luar pagar."
Naruto memejamkan matanya sembari tersenyum. Ia mengangguk pelan seolah Hinata tengah menceritakan sebuah dongeng.
Hinata menelan ludahnya dan kembali melanjutkan, "Lalu… kau menunggu di belakang pintu… sampai aku datang…"
"Lalu? Apa yang terjadi?" cibir Naruto.
"Kau segera keluar saat tatapanku tengah teralih sepenuhnya pada Ino." Hinata terus menatap Naruto, sementara pemuda itu tampak mendengarkan dengan tenang. "Ku-kuakui, dengan mendudukkan Ino di luar pagar dan membuatnya seolah masih sadar, kau berhasil membuatku membuang waktu cukup lama sebelum aku menghampirinya. Aku harus memanggil Ino berulang kali untuk memastikan apa dia mendengarku atau tidak. Sementara itu, kau langsung berlari, menuruni tiga lantai—ah! Ka-kau anggota klub sepak bola, pasti jarak segitu tidak masalah bagimu."
Naruto masih tersenyum. Senyuman mengejek sekaligus mengasihani. Pemuda itu sama sekali tidak berniat menyela penjelasan Hinata seakan ia tengah mendengarkan presentasi yang menyedihkan dari seorang siswa yang sudah dapat dipastikan tidak dapat naik kelas.
"Lalu dari bawah, kau tinggal menarik talinya… dan…." Hinata terdiam, tidak sanggup menggambarkan hal yang selanjutnya terjadi pada sang gadis Yamanaka. "Itu trik yang kaugunakan, 'kan?"
Naruto akhirnya menepuk-nepukkan tangannya dengan riang. "Analisis yang bagus, lho, Hinata-chan! Kau cocok jadi detektif."
Hinata makin menguatkan pegangannya pada gagang pisau.
"Lalu? Bagaimana dengan Shion? Apa kau bisa menjelaskannya?" tantang Naruto sambil mengangkat bahunya sedikit.
Hinata menggerakkan kepalanya sedikit ke arah lengan Naruto sebelum ia kembali melihat langsung ke mata Naruto. "Mu-mungkin… Shion melihatmu saat kau tengah berlari ke bawah… saat kasus Ino. Dan dia… me-mengancammu?"
Naruto mengangguk-angguk penuh pengertian.
"Lalu kau menghabisinya… dengan kejam." Hinata berusaha demikian kerasnya agar suaranya tidak terdengar bergetar. Sungguh, jauh di dasar nuraninya, ia masih tidak percaya dengan semua yang telah ia katakan—semua yang ia tuduhkan. "Kau memotong kedua tangannya… karena di kedua tangannya pasti terdapat… bekas kulitmu—kulit lenganmu."
Naruto menghilangkan senyumannya.
"Shion… sempat mencakarmu, 'kan?"
Naruto menyentuh lengan kanannya dengan tangan kiri. Tidak secara spontan, tapi cukup untuk memberi tanda pada Hinata bahwa tebakan gadis itu benar adanya. Yah, mungkin juga itu adalah tanda bahwa Naruto sudah memutuskan untuk menyerah dan mengakui kejahatannya. Hinata tidak tahu apa maksud Naruto dengan melakukan gerakan yang begitu terang-terangan, yang jelas, setelah itu sang pemuda berambut kuning langsung menghela napas panjang.
"Hinata-chan… kalau aku boleh memberi nilai," ujar Naruto sambil melipat kedua tangannya di depan dada, "aku akan memberimu nilai 70 dari 100." Sebuah seringai kemudian ditunjukkan oleh pemuda itu. Seringai yang sanggup membuat bulu kuduk Hinata berdiri seketika. Dan bagaikan telah terbebas dari kekakuannya, Naruto kembali berjalan mendekati Hinata.
"Kesalahan pertama," ujar Naruto sambil mengangkat jari telunjuknya, "dugaanmu soal Ino yang memanggilmu itu salah total. Ia memanggilku. Surat yang kaudapat waktu itu sebetulnya adalah surat yang ditujukan Ino untukku. Dan aku memanfaatkan surat itu untuk kemudian memancingmu ke atap. Siapa pun tidak masalah sebenarnya, tapi kebetulan, kaulah yang bertugas piket hari itu. Jadi, yah…."
Hinata menajamkan tatapannya. Informasi dari Naruto hanya sebagian yang berhasil dicernanya. Sisanya masih terlalu samar untuk bisa diduga secara tepat.
"Ke-kenapa Ino-chan memanggilmu? Apa urusannya sebenarnya?"
Naruto tersenyum sinis. "Ia ingin memastikan bahwa akulah… yang membunuh Sakura-chan."
Mata Hinata terbelalak—lebar. Ia sungguh tidak pernah menduga bahwa kematian Sakura ada kaitannya. Tidak, walaupun ia sempat curiga, tapi mengingat bahwa kesedihan Naruto saat di acara pemakaman Sakura itu adalah nyata, ia langsung menepis jauh-jauh kecurigaan tersebut. Siapa yang sangka? Naruto ternyata aktor kelas atas!
"Kau terkejut, eh? Tidak menyangka? Itu kesalahanmu yang kedua." Naruto tersenyum dengan alis yang terangkat sebelah. Sebuah jari lagi terangkat, menunjukkan pengertian 'dua' yang tadi diucapkannya. Tapi hanya beberapa detik kedua jari itu menantang langit, Naruto dengan cepat menurunkannya. Bersamaan dengan tatapannya yang juga turun ke lantai berwarna kelabu tempat kedua kakinya berpijak. "Aku lelah… ditolak terus-menerus olehnya. Di matanya hanya ada Teme dan Teme. Ia sama sekali tidak mau mempertimbangkan perasaanku. Dan puncaknya… saat ia malah menanyakan pendapatku soal keinginannya untuk pergi ke luar negeri, ke tempat yang sama dengan Teme!"
"Tapi… tapi… apa perlu… sampai membunuhnya?"
Naruto mengangkat bahu. Senyum masih terpampang di wajahnya. "Begitu tersadar, cutter sudah mengoyak isi perutnya."
"Na-Naruto-kun…."
Naruto terdiam kembali. Matanya memandang ke arah langit. Mendung.
"Lalu kubuat seolah itu adalah kasus pencurian. Semua barangnya kubawa… termasuk jepitan rambut berbentuk ceri itu," lanjut Naruto dengan tatapan mengawang dan senyuman yang seolah tidak bertujuan.
"Jepitan yang waktu itu…," lirih Hinata. Lagi, ia terus dibuat terkejut oleh penuturan Naruto yang benar-benar jauh dari nalarnya.
"Ya, ya. Jepitan yang kuberikan padamu. Dan itulah yang membuat Ino curiga. Haah! Salahku memang," jelas Naruto sambil tertawa kecil. Sebelah tangannya berkacak pinggang dan tangan lainnya berada di belakang kepalanya. "Tapi aku tidak bisa membiarkan kesalahan sepele itu menghancurkan hidupku. Karena itulah, aku memutuskan untuk menutup mulut gadis cerewet itu."
"Ti-tidak…."
"Sialnya, seperti katamu, Shion memergokiku. Sepertinya Tuhan benar-benar membenciku." Naruto mengucapkannya sambil tertawa. Hinata bergeming. Pegangannya di gagang pisau semakin dan semakin erat—membuat kedua tangannya terasa bergetar nyeri.
Begitu Naruto puas tertawa, ia pun kembali memandang Hinata. "Bisa kautebak kesalahanmu yang ketiga, Hinata-chan?"
Bersamaan dengan itu, suara bel tanpa pelajaran akan segera dimulai pun berbunyi. Hinata sedikit tersentak.
Naruto pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melesat sekuat tenaga ke arah Hinata. Di tengah jalan, pemuda itu mengambil kantung plastik berisi tali senar yang semula Hinata buang sembarangan ke lantai. Naruto melempar itu ke arah tangan Hinata hingga salah satu genggaman gadis itu terlepas karena kaget. Memanfaatkan keterkejutan Hinata yang belum juga hilang, Naruto yang sudah lebih handal akan situasi ini langsung menepak tangan Hinata, membuat pisaunya terjatuh. Lalu dengan sebelah kakinya, Naruto menendang pisau tersebut menjauh.
Hinata berusaha mengambil kembali pisau yang sudah terpisah darinya itu tapi tentu saja Naruto tidak akan mempermudah aksinya. Pemuda itu menerjang kakinya, membuatnya jatuh dengan bagian dada menghadap lantai.
"Kesalahanmu yang ketiga, Hinata-chan," ujar Naruto sambil merangkak naik ke atas tubuh Hinata yang sudah berputar arah hingga kini keduanya kembali berhadapan, "langsung memancingku ke sini tanpa melaporkannya pada polisi terlebih dahulu." Bersamaan dengan itu, Naruto langsung mengulurkan tangannya ke arah leher Hinata—merangkum leher jenjang itu dengan jari-jarinya yang besar.
"Kh~!""
Tangan Hinata terus berusaha menggapai-gapai pisau yang masih sangat jauh dari posisinya berada sekarang. Begitu tersadar bahwa pisau itu tidak mungkin diraihnya, Hinata mulai merasa putus asa. Ia tidak bisa menang. Mungkin memang sebaiknya ia melaporkan hal ini pada polisi tadi. Tapi….
"A-akhu…." Susah payah Hinata berusaha mengeluarkan suaranya. Naruto yang menyadari hal tersebut, langsung melonggarkan sedikit cekikannya. Hinata terbatuk sesaat namun Naruto sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kepedulian. Pemuda itu malah berwajah datar—dingin.
Bagi Hinata, ia sama sekali tidak mengenal sosok di hadapannya saat itu.
"Kata terakhirmu?"
Tes.
Air mata perlahan mengalir dari kedua bola mata Hinata. Sebuah senyum kemudian terkembang di wajah gadis itu. "Aku… tidak bisa melaporkanmu pada polisi begitu saja tanpa tahu alasanmu yang sebenarnya…."
"Oh? Dan boleh aku tahu alasannya?"
"Itu… karena aku…." Hinata menelan ludah. "Aku… selalu menyukaimu, Naruto-kun!"
Sebuah pengakuan pun terlontar di tengah-tengah situasi yang sama sekali tidak tepat. Namun pengakuan itu cukup membuat Naruto terkejut hingga ia hanya bisa menganga kecil dengan mata yang menatap penuh ketidakpercayaan.
"Aku selalu… menyukaimu!" Bersamaan dengan itu, Hinata langsung mendorong Naruto yang seakan kehilangan niat membunuhnya. Naruto pun limbung ke belakang—memberikan kesempatan bagi Hinata untuk kemudian mengambil pisaunya. Begitu pisau itu kembali tergenggam, Hinata langsung menghadap ke arah Naruto seperti semula. "Dan aku… masih tidak percaya bahwa kau… bahwa kau yang…."
Tangisan Hinata semakin deras. Kedua matanya kini tertutup. Tangannya yang memegang pisau terangkat sampai ke depan mulutnya. Seluruh tubuhnya bergetar dan isakan tangisnya semakin kencang merasuk gendang telinga Naruto. Walaupun Hinata sudah mendapatkan kembali pelindungnya, nyatanya benda itu sama sekali tidak bisa menjadi pertahanannya saat ini. Segala kekuatan yang ditunjukkannya di awal telah hancur. Ia yang telah berjuang keras untuk menekan segala gundahnya, kini tidak bisa lagi berpura-pura.
Sementara itu, Naruto hanya memasang wajah datarnya. Mata sapphire-nya terus menatap sosok ringkih Hinata. Kedua tangannya mengepal erat, menunjukkan berbagai macam perasaan yang ia sendiri tidak bisa melukiskannya. Gadis di hadapannya tentu terlalu berharga untuk terus berharap pada seorang pembunuh, bukan?
Bersamaan dengan itu, rintik hujan mulai berjatuhan. Seolah menjadi aba-aba, Naruto akhirnya menghilangkan ekspresi datar itu dengan seringai sinisnya.
"Heh! Menggelikan!" Langkah demi langkah mulai ditapaki Naruto untuk membawanya semakin dekat dengan Hinata. Hinata yang akhirnya menyadari bahwa Naruto kembali berjalan mendekat ke arahnya, langsung membuka kedua matanya.
"Ja-jangan mendekat!"
"Seandainya saja…."
"Kumohon, Naruto-kun… me-menyerah… lah baik-baik!" seru Hinata di sela isak tangis yang berusaha dikendalikannya.
Naruto tidak mengacuhkan Hinata. Ia terus berjalan.
"Be-berhenti, Naruto-kun!" ancam Hinata sambil menodongkan pisaunya ke arah depan.
Mendadak, Naruto menyeringai. Hinata kembali tersentak. Apalagi saat pemuda itu berlari ke arahnya dalam kecepatan tinggi. Refleks, Hinata pun mengayunkan pisaunya ke depan dan—
Jleb!
—pisau itu tepat menghujam perut Naruto.
Tanpa ada perlawanan sedikit pun dari yang bersangkutan.
"NARUTO-KUUNN!" pekik Hinata saat ia melihat aliran warna merah merembes keluar dari kemeja putih Naruto. Pemuda itu meringis sembari berusaha memegangi perutnya yang sudah berlubang. Segera saja Hinata menarik kembali pisau tersebut dan membuangnya. Naruto pun limbung sehingga Hinata dengan spontan langsung bergerak ke arah Naruto untuk menopang tubuh pemuda itu.
"NARUTO-KUUNN! Ma-maafkan aku! Naruto-kuuun!"
Posisi tubuh Hinata semakin melorot ke bawah bersamaan dengan tubuh Naruto yang seolah sudah kehilangan penyangganya hingga tidak bisa lagi berdiri tegak. Kini, posisi tubuh Naruto yang sudah setengah berbaring berada di dalam dekapan Hinata. Gadis itu terus menyerukan permintaan maaf tatkala dilihatnya darah semakin menyembur keluar dari perut Naruto. Tak hanya itu, dari mulut sang pemuda, cairan kental berwarna kemerahan itu juga mulai meluncur keluar tanpa bisa dicegah.
"Na-Naruto-kun! Ma-maafkan aku!" Hinata kembali terisak. Bersamaan dengan tangisnya yang semakin keras, hujan pun semakin membasahi permukaan bumi tanpa ampun. Air mata pun kini bersatu dengan terpaan hujan, membasahi wajah Hinata sedemikian rupa—semakin mengaburkan pandangannya. "Ma-maaf…."
"Ka… u…." Suara Naruto terdengar bagaikan rintihan di tengah suara hujan yang begitu mendominasi. Meskipun demikian, ucapan yang sepotong itu berhasil merenggut perhatian Hinata sepenuhnya. "Bu… kankah… yang harusnya… min… ta ma… af… ada… lah… orang… yang benar-be…nar… bersalah?"
"A-ah…."
"Ino… sudah… memberi…tahu… uhuk!"
"Na-naruto-kun! Sudahlah! Tidak usah bicara! Tunggu, aku…."
Di saat Hinata hendak bangun untuk mencari pertolongan, dengan sisa tenaganya, Naruto langsung menahan gadis itu dengan cara menggenggam tangannya. Hinata pun urung beranjak. Ditatapnya wajah Naruto dengan pandangan yang semakin mengabur karena air mata.
Akhirnya, Naruto menghela napas panjang, berusaha mengatur kembali sirkulasi udara dalam paru-parunya yang mulai terganggu. "De-dengarkan aku… Hinata-chan…."
"Naruto…."
"Go… men… ne?"
Hinata tercekat. Matanya pun tidak bisa berhenti menatap wajah Naruto yang kini sudah kembali menyunggingkan sebuah senyum. Senyum yang sangat dikenali Hinata—sangat dirindukannya.
"Naruto-kun… kumohon… jangan bica—"
"Seandainya…," potong Naruto yang seketika itu juga membuat Hinata terdiam. Lagi, sebuah helaan napas terdengar jelas. Setelah itu, Naruto mati-matian menggerakkan bibirnya, tanpa mengeluarkan suaranya sepatah kata pun. Tapi, baru separuh jalan, kedua mata itu semakin menutup.
"Naruto-kun?"
Bibir itu tidak lagi bergerak.
"NARUTO-KUN?"
Hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.
"NARUTO-KUUUNNNN!"
Tetesan kesedihan terus bercampur dengan air mata langit. Teriakan memilukan itu pun menjadi pertanda bagi sang Dewa Kematian untuk mengakhiri permainannya.
Dan dia yang seolah tertidur namun tanpa ada aliran udara yang bergerak keluar masuk sistem pernapasannya kini hanya bisa bergeming tanpa kesadaran.
"Hiks! Ke-kenapa… jadi begini…." Hinata terus berusaha mengguncang tubuh Naruto yang sudah tidak bernyawa. Namun sia-sia. Guncangan apa pun tidak mampu lagi membangkitkan pemuda itu dari tidur panjang selamanya
"Naruto-kun… kumohon… bangunlah…."
Tidak ada sahutan. Semua sudah berakhir.
Hinata pun menyerah. Ditengadahkannya kepalanya, menantang hujan yang juga belum akan berhenti. Sedetik, dua detik, Hinata kembali menundukkan kepalanya. Dengan lembut, gadis itu kemudian menyibakkan poni kuning yang menutupi dahi pemuda itu. Perlahan, disentuhkannya bibir ranum itu ke dahi sang pemuda. Diabaikannya rasa dingin yang terus menusuk sampai ke tulang dan bibir itu pun meraih pipi yang memiliki tiga garis tanda lahir tersebut.
Dan akhirnya, bibir bertemu bibir.
Tidak ada respons. Dingin. Basah. Bau darah.
Ciuman pertama dengan orang yang disukai—begitu berbeda dari harapannya.
"Seandainya…," lirih sang gadis sambil tersenyum kecut. Dihentikannya kalimat itu sampai di situ. Ia pun memejamkan matanya sejenak sembari membelai rambut kuning di pangkuannya.
Begitu kedua matanya kembali terbuka, sinar kehidupan sudah hilang. Tatapan itu kembali menerawang meskipun air mata itu perlahan mulai surut.
Hingga mereka pun datang. Mereka… mereka yang cemas karena absennya dua orang di kelas, mereka yang berseragam sebagai petugas yang berwenang, ataupun mereka yang tidak sengaja mendengar suara keputusasaan Hinata menggema mengalahkan derasnya hujan. Semua berkumpul—bergerombol tak beranjak jauh dari pintu yang sudah menganga lebar. Di antara mereka, terlihat pula kepala polisi yang sebelum ini begitu rajin menginterogasi Hinata. Arah pandangnya tidak jauh berbeda dengan tatapan penonton lain yang ada di situ.
Di bawah guyuran hujan yang seolah belum hendak menarik rinainya, sejumlah pasang mata itu terus terpaku pada lautan kecil berwarna merah mulai tergenang. Bagaikan sihir, semua yang melihatnya pun langsung diam tegang. Tidak ada wajah senang—semua tercengang.
Terkecuali sosok pemuda berambut cokelat panjang yang akhirnya mampu menguasai keterkejutannya. Ia pun langsung menerjang ke arah sang gadis dan merengkuh gadis yang seolah sudah tidak bernyawa itu ke dalam pelukannya. Terus diteriakkannya nama sang gadis, berusaha menarik kesadaran gadis itu kembali. Sementara para polisi berseragam itu juga mulai mendekat, hendak mengevakuasi mayat yang masih berbaring di tengah-tengah perhatian banyak orang.
Dan saat tindakan para petugas itu tertangkap oleh pearl sang gadis—tubuh tak bernyawa dari orang yang dikasihinya diangkat tanpa perlawanan—segalanya pun berubah kelam. Energinya seakan melayang entah ke mana, tertelan kegelapan yang dibawakan oleh hujan, mengikis kesadarannya hingga hati yang terdalam.
Hari-hari penuh darah pun ditutup dengan mimpi buruk tiada akhir bagi sang gadis.
***FIN***
HAPPY HALLOWEEN, ALL!
Yap, last minutes before the 31st ended dan saya berhasil menyelesaikan fic ini sampai di sini. Yatta! Btw, ngegantung, ya? Tapi saya emang sengaja, lho? Dari awal, emang direncanakan supaya endingnya ngegantung. Maaf kalau jadi kurang memuaskan ^^a
Terus saya juga mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buar reader-tachi yang udah membaca, mereview, meng-alert, bahkan menge-fave fic saya yang satu ini. Maaf belum bisa dibalas satu-satu karena satu dan lain hal. Tapi sebelum saya menutup cuap-cuap ini, saya ingin mengucapkan selamat buat yang berhasil menebak bahwa Naruto adalah pelakunya. Juga yang berhasil menebak trik kacangan yang saya ciptakan dengan susah payah bersama imouto saya di RW. Juga buat yang berhasil menebak plot-nya, omedetou! Wkwk. Tapi lain kali akan saya usahakan biar plot-nya nggak terlalu kebaca.
Karena itulah, saya harapkan kesan, pesan, saran, masukan, ataupun kritikan dari reader-tachi yang dapat membantu saya untuk menghasilkan fic yang lebih bagus. :D
So then, please leave your review, kay?
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
