Part Two: More Than Meets The Eye
Ia hanya seorang pemuda yang terlihat berusia sekitar 16, meski sebenarnya ia telah berusia 18 tahun.
Penampilannya yang terlihat lebih muda bukan disebabkan oleh tinggi badannya, malah ia termasuk tinggi untuk ukuran orang-orang seumurnya.
Tetapi, orang-orang mengatakan ia berumur 16 karena perawakan wajahnya.
Dia adalah Kuroro Lucilfer, seorang pria muda yang merupakan pimpinan kelompok pencuri terkenal yang bernama Genei Ryodan.
Genei Ryodan atau lebih populer disebut laba-laba merupakan organisasi yang terdiri atas para perampok kelas atas atau disebut kriminal kelas S, sebuah sebutan yang mengerikan karena mereka memang berada satu level diatas kelompok kriminal lainnya yang telah beredar, konon, bahkan Blacklist Hunter pangkat tinggi pun belum bisa menangkap gerombolan yang satu ini.
Sebenarnya pria berambut hitam yang sering terlihat mengenakan mantel biru tua yang bergambar salib terbalik ini memiliki paras yang cukup rupawan, hanya saja, ia juga memiliki sepasang bola mata berwarna onyx yang selalu dihiasi dengan hawa pembunuh yang tajam, yang mampu mengusir setiap individu yang berani mendekati pemiliknya, begitu pula dengan pribadinya yang dingin dan terkesan mengerikan, seolah ia merupakan sebuah tebing es curam yang mampu membunuh siapapun yang cukup bodoh untuk mendekatinya.
Tapi tidak demikian jika ia tidak sedang berada bersama kelompoknya, siapapun yang melihatnya dalam keadaan seperti itu bisa saja salah mengira pria gunung es ini dengan seorang idola atau model terkenal dalam satu pandangan.
Ini adalah pagi yang indah, menurutnya.
Ketika para Laba-labanya sedang berpencar kesekeliling dunia, melakukan kejahatan masing-masing di tempat mereka masing-masing.
Meninggalkan ia sendiri dalam kedamaian tempat tinggalnya, sebuah mansion di kota kecil yang tenang dan damai, sungguh merupakan tempat yang cocok untuk beristirahat seusai melakukan misi besar.
Setelah menghabiskan sarapan paginya di mansionnya sendiri, ia memulai harinya dengan berjalan-jalan di sekitar kota kecil tersebut, selagi ia tidak memiliki jadwal akhir-akhir ini.
Puas mengelilingi kota kecil itu, iapun berhenti pada suatu tempat, perpustakaan.
Ketika ia tengah melihat-lihat buku-buku yang ada disana, matanya menangkap sinar berlebih dari seorang gadis pirang yang berdiri didekatnya, dan sebuah jendela.
Seakan sadar bahwa ia diperhatikan, gadis itu berpaling padanya dan menatapnya dengan matanya yang bulat dan sebuah senyuman yang hangat.
Sebelum ia sempat berkata apapun, gadis itu sudah berada didekatnya,
"Selamat pagi, sepertinya anda membaca buku yang sulit ya?", tanya gadis itu, dengan nada ceria dan senyuman yang masih setia melekat diwajahnya,
"Oh, ini buku mengenai world treasure, ngomong-ngomong, boleh aku mengajukan sebuah pertanyaan?", sahut pria itu sembari menyembunyikan rasa penasarannya dengan nada dingin yang sering ia gunakan,
"Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan?", tanya gadis itu sambil terus memusatkan perhatiannya pada buku ditangan Kuroro dan dirak buku di sampingnya,
"Hn.. bagaimana dengan namamu?", ujarnya tenang pada gadis disampingnya, namun gadis itu tidak menjawabnya, ia bahkan hanya terdiam untuk beberapa saat.
Mengingat ia tidak begitu mempedulikan tingkah aneh dari gadis di depannya ini, Kuroro pun memutuskan untuk meninggalkan rak itu dan berjalan menuju tempat duduk di perpustakaan tersebut dan mulai membaca buku yang tadi diambilnya.
Tidak berapa lama, sekitar sepuluh menitan setelah ia mulai membaca bukunya, Kuroro sempat kaget melihat gadis pirang tadi tiba-tiba sudah duduk manis dihadapannya dengan sebuah buku ringan ditangannya.
"Eh, yang tadi maaf ya, tiba-tiba saja pikiranku berkabut-", gadis itu tersenyum dengan alis yang sedikit turun menandakan ia merasa bersalah,
"Oh ya, soal pertanyaanmu, namaku Kurapika, senang berkenalan dengan anda", lanjutnya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman, yang tentu saja membuat Kuroro terheran-heran mengingat orang-orang lain disekitarnya menatapnya dengan pandangan dia-orang-berbahaya-lebih-baik-jangan-didekati sementara gadis ini dengan anehnya, malah mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan senyum malaikatnya yang khas,
"Kau tidak terbiasa bersalaman ya?", tanya gadis muda itu bingung, yang cukup untuk mengembalikan pikirannya ke alam nyata,
"Begitulah", balasnya dingin, maka gadis itupun menarik tangannya kembali, kemudian ia mengangkat pandangannya dan menatap langsung pria dihadapannya,
"Hm, aku kan sudah memberitahu namaku padamu, sekarang, maukah kau memberitahu namamu?", tanya gadis itu dengan tatapan polos yang tertuju langsung pada mata onyx pria berambut hitam itu, tentu saja hal ini membuat Kuroro sedikit mempertanyakan kewarasan gadis itu, namun ia memutuskan untuk bangkit dari kursinya dan berlalu meninggalkan gadis muda berambut pirang itu.
"Sepertinya dia mengingatkanku pada sesuatu", gumam pria berambut gelap itu, sambil duduk dan menikmati kesendiriannya di mansion pribadinya tersebut.
Kemudian ia berusaha mengumpulkan memorinya,
siapa dia?, pikirnya sembari mengistirahatkan kepalanya di sofa miliknya, melakukan apapun untuk bisa merelaksasikan dirinya sementara pikirannya masih sibuk menelusuri memorinya, mencari detil-detil yang mungkin memiliki kemiripan dengan gadis pirang tadi,
suku Kuruta, simpulnya dalam pikirannya sendiri, sebuah kesimpulan yang sangat gamang, mengingat hari dimana ia membantai seluruh desa itu, ia sangat yakin tak seorang pun selamat, disamping itu, dan tiga hari baru berlalu sejak hari itu, sungguh sangat tidak mungkin bila seorang survivor bisa keluar dari sana dalam waktu sesingkat ini, ditambah bahwa kota tempat ia bermukim ini terletak cukup jauh dari sana, namun bola-bola mata api itu sangat membosankan menurutnya, sehingga sampai kemarin, benda itu tidak lagi berada disana, ia sudah memerintahkan para anggotanya untuk membawa bola-bola mata itu untuk dijual kembali, akan kutanyakan hal itu padanya jika bertemu lagi nanti, ia memutuskan sambil bangkit dari sofa dan menaruh buku yang baru saja dibacanya tanpa konsentrasi itu diatas meja didekatnya.
Ketika ia memutuskan untuk berjalan-jalan sore, ia melihatnya, gadis pirang itu, tengah berjalan di kota dengan mengenakan cardigan putih berbahan rajut yang tidak dipasang kancingnya, dengan gaun pendek selutut berwarna biru muda sebagai dalamannya, rambutnya digelung menutupi tengkuknya sementara poninya dibiarkan jatuh di wajahnya, ia juga mengenakan sepasang sepatu boot pendek berwarna putih sebagai alas kakinya, gadis itu berjalan seorang diri namun cukup mengherankan dimatanya mengingat tidak ada satu orangpun yang menggodanya meski ia terlihat sangat manis dalam busana semacam itu, benak Kuroro tiba-tiba terpikirkan sesuatu, mungkin aku bisa menanyainya mengenai suku itu sambil makan malam, ia pun mempercepat langkahnya agar bisa menjajari gadis muda itu,
"Kau, Kurapika kan?", ujarnya tiba-tiba yang tentu saja sukses mengagetkan gadis pirang itu,
"Eh? Bagaimana kau bisa mengenaliku?", sahut Kurapika sambil berusaha keras menutupi pipinya yang sedikit merona karena malu,
"Hn, hanya menebak-nebak, ternyata tepat-", ia nyaris tertawa melihat tingkah gadis itu yang terlihat sangat malu,
"Apa kau mau menemaniku makan malam?", sambungnya sambil berjalan disisi gadis itu, yang semakin merasa panas di wajahnya,
"Te..tentu saja, tapi..ini bukan kencan kan?", ia bertanya dengan wajah yang sangat merah, yang sedikitnya nyaris mengundang tawa Kuroro yang sejak tadi melihatnya,
"Hm, mungkin bukan, memangnya berapa usiamu, kalau aku boleh tahu?", tanya Kuroro dengan nada (sok) serius pada Kurapika,
"A..aku akan berusia 16 tahun april ini, ada masalah?", jawab Kurapika malu-malu sambil menundukkan wajahnya,
"Hn, bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin orang-orang mengira aku lolita complex karena kau terlihat sangat kecil", ujarnya sambil memasukkan tangannya kedalam sakunya, malam ini agak dingin, tapi ia juga sangat sadar bagaimana kening gadis itu menjadi sedikit berkerut pada kata 'sangat kecil' yang ia ucapkan sebelumnya,
"Memangnya berapa usiamu tuan-yang-tidak-mau-memberitahu..",
"Kuroro, kau boleh memanggilku itu", potongnya tiba-tiba seakan ia tahu kalau gadis itu akan menambahkan nama pada akhir kalimatnya,
"Oke, berapa usiamu Kuroro?", lanjut gadis itu kesal, ia membiarkan wajahnya terlihat cemberut,
"18 tahun", jawabnya singkat, lalu ia tersenyum boyish pada gadis itu, Kurapika tentu merasa terhina dengan pernyataan Kuroro barusan, keningnya mengernyit dan ia berseru dengan suara yang cukup keras,
"Jangan coba-coba mengejekku!", pekiknya pada pria yang mungkin lebih senang ia sebut bocah, sementara pria berambut hitam itu membiarkan saja dan tetap stay cool, membuat gadis itu semakin naik pitam,
"Aku tidak mencoba, aku sudah melakukannya dan kau tidak bisa mengubah apapun tentang itu", ujarnya dengan nada penuh kepastian seakan-akan ia benar-benar telah mengejek gadis itu,
"AKU MEMBENCIMU!", teriak Kurapika dengan nada tinggi dan mungkin seluruh nafas di paru-parunya, yang sayangnya tidak sedikitpun membuat pria itu bergeming, Kurapika yang sangat marah kemudian mempercepat langkahnya menjauhi Kuroro, tapi yang dijauhi langsung menangkap pergelangan tangannya saat ia mencoba,
"Hn..aku minta maaf, tapi, kumohon", katanya saat ia menggenggam pergelangan gadis itu, Kuroro sendiri agak merasa sedikit heran mengapa ia mau memohon begitu pada gadis yang baru saja dikenalnya, sempat terpikir kalau ini untuk informasi mengenai apakah gadis ini kuruta atau bukan, tapi, ia tidak yakin alasannya semudah itu, mendengar kalimat permohonan yang diucapkan pria itu, Kurapika pun luluh dan memutuskan untuk membiarkan dirinya ikut saja.
Seiring dengan waktu yang berjalan, Kurapika mulai khawatir karena sepertinya mereka tidak sampai-sampai, ia pun memberanikan diri untuk bertanya dan menghilangkan rasa penasarannya tersebut,
"Memangnya kita akan makan dimana?", tanya Kurapika, masih menyembunyikan wajahnya yang merona karena kekagumannya pada paras pria didepannya, yang menurutnya, cukup tampan, namun tak mungkin diakuinya,
"Rumahku, jangan khawatir", ujarnya dengan nada suara ala gentleman, Kurapika yang semakin merasa kagum pun memutuskan untuk diam dan terus mengikuti arah pria itu.
Ketika mereka mulai makan malam, Kuroro merasa inilah saatnya untuk mengungkapkan maksud sebenarnya ia mengajak gadis itu makan malam,
"Apa kau salah satu suku Kuruta?", Kuroro memulai percakapan setelah pekan sunyi diantara keduanya,
"Darimana kau tahu itu?", balas gadis itu setelah agak lama ia terlihat diam dan tidak bereaksi,
"Hanya sebuah informasi dari seorang teman, dan menurutku kau agak mendekati deskripsinya, jadi kutanyakan padamu", jawab Kuroro dengan terus mempertahankan nada dingin di tiap kata-katanya, tapi gadis itu jelas mengundang rasa penasarannya, ia hanya terdiam, dan hal ini mengusik pikirannya.
"Kalau..aku tersesat, apa kau mau mencariku?", ujar Kurapika tiba-tiba setelah diam yang sangat lama, dan Kuroro tentu saja tidak terpikirkan bagaimana ia harus menjawab pertanyaan semacam itu, namun ketika ia melihat sebutir kristal bening jatuh dipipi gadis dihadapannya ini, ia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi,
" Kenapa kau menanyakannya?", tiba-tiba saja kalimat itu terlontar dari mulutnya,
"Aku tidak tahu, hanya saja...tiba-tiba hal itu terbersit dipikiranku, jadi aku bertanya", ujarnya sambil terisak, Kuroro menjadi semakin tidak mengerti, namun setidaknya ia tidak bisa membiarkan gadis ini menangis begitu saja,
"Aku akan mencarimu, oke, jadi, berhentilah menangis...", katanya spontan, sedikitpun ia sendiri tidak merencanakan kata-kata itu, ia lalu mengingatkan kepada dirinya sendiri kalau dia adalah laba-laba, dan bagi seorang laba-laba, hal lain diluar laba-laba merupakan sesuatu yang tidak boleh dipikirkan terlalu dalam, apalagi dengan membiarkan emosinya turut serta, hal ini sangat tidak boleh.
Tapi sepertinya jika itu mengenai gadis ini, semuanya jadi lain, ia terus mengandai, apakah yang membuat gadis itu mampu membuatnya merasakan hal seperti ini, pastinya bukan hanya sekadar keberaniannya menyapa ketika semua orang memandanginya sebagai ancaman, dan sepertinya ia tahu apa yang ditawarkan gadis muda dihadapannya ini, sesuatu yang tidak ingin dirangkulnya, sesuatu yang tidak segan-segan membiarkan darah mengalir dalam pertahanannya, sesuatu yang sangat mengancam kedinginnan batinnya, seperti cahaya matahari menyinari gunung es di ujung kutub, seperti cinta yang mampu menghangatkan jiwa yang terkubur dalam kedinginan.
Seusai makan malam, Kuroro menawarkan untuk mengantar gadis itu pulang, mengingat malam telah cukup larut kala itu, tapi gadis itu menolak dengan halus dan berlalu begitu saja, menuju tempat yang ia tidak tahu ada dimananya.
A/N : sorry if Kuroro-kun seemed to had being OOC for you, but I guess it's not.
review needed! tell me what you think about this chapter, and what you think I supposed to add to the next chapter, since this story already had an ending actually, in the english version. hehe ^-^;
Happy Reading!
Kaoru
