Part Three: Memories
Pagi yang cerah, datang tanpa kabut dan mendung.
Sepasang bola mata hitam kelam itu terbuka, menandakan pemiliknya tengah bangkit dari tidurnya semalam, meski pikirannya masih tersangkut pada kejadian kemarin.
Sebuah acara makan malam yang ia lakukan bersama gadis pirang yang ternyata mengakui dirinya sebagai seorang anggota kuruta, ya, klan kuruta yang sudah ia bantai habis bersama segenap Ryodan-nya.
Sampai habis, ia sangat yakin saat itu ia telah menyuruh para anggotanya untuk memeriksa keadaan sekitar, dan mereka telah meyakinkannya bahwa tak seorangpun selamat, terlebih untuk pindah ke kota yang jaraknya cukup jauh dari sana, seperti tempatnya sekarang, hanya dalam waktu tiga hari, ya, tiga hari.
Seusai sarapan pagi itu, Kuroro memutuskan untuk sedikit bersantai di kursi taman, di dekat taman kecil dibagian belakang mansionnya.
Iapun menghirup udara pagi yang dingin namun menenangkan sambil menikmati cahaya matahari yang lembut menyapa pagi itu, pikirannya tanpa sadar tertuju pada gadis yang sudah mengusik pikirannya sejak ia bangun, Kurapika.
Kuroro agak mempertanyakan kewarasan dirinya sendiri sejak ia mulai mengingat gadis itu secara tiba-tiba, dengan rambut pirangnya yang hanya menyentuh bahu ringkihnya ketika terurai, kulit putihnya yang menyerupai boneka porselen Prancis, mata birunya yang bulat dan selalu bersinar jernih setiap mereka bertemu, postur mungilnya yang terlihat rapuh, serta senyum hangatnya yang mengembalikan pikirannya ke realitas,
apa aku...menyukai anak itu dalam waktu satu hari?, ia bertanya-tanya pada kepalanya sendiri.
Beberapa detik kemudian ia dapat merasakan ponselnya bergetar, mengganggu renungan paginya,
"Ya Shalnark, ada apa?", tanya pria itu (dengan usaha yang sangat keras untuk tetap terlihat) tenang meski ia agak merasa terganggu karena telepon itu,
"Umm..Danchou, Nobunaga dan yang lainnya terus menanyakan soal kunjungan kita ke markas pusat, bagaimana menurutmu?", tanya Shalnark dengan nada suara yang terdengar terancam,
"Baiklah, aku juga sedikit merasa bosan dengan tidak adanya kegiatan disini", jawab Kuroro dingin, meski sebenarnya tidak sebosan itu juga, tapi tentu jawaban itu telah membuat anak laki-laki yang berada diseberang telepon sana terdengar lega, sungguh memprihatinkan.
Kuroro memutuskan untuk mengendarai mobilnya sampai stasiun terdekat, kemudian melanjutkan perjalanannya dengan kereta, karena menurutnya hal itu cukup tenang namun tidak terlalu cepat sampai seperti pesawat.
Dalam perjalannya menuju stasiun, ia melewati sebuah pemakaman tua yang nyaris tidak terawat dan terlihat cukup mengerikan, dan ekor matanya mendapatkan sesuatu yang menarik disana, sesosok gadis muda berambut pirang yang masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan tadi malam, sedang terlelap dengan kepalanya disandarkan pada salah satu batu nisan yang cukup tinggi, rasa penasaran membuat Kuroro kemudian memarkir mobilnya dan berjalan kearah gadis muda itu,
"Kenapa kau berada disini?", ia bertanya pelan sambil mengarahkan tangannya mengelus rambut pirang gadis itu perlahan.
Kemudian ia sadar bahwa gadis itu menagis sampai tertidur, sedikit berandai apakah airmata itu masih berasal dari peristiwa semalam.
Gadis itu ternyata cukup peka dengan sentuhan halus di rambutnya, dengan pandangan berkabut ia cukup kesulitan untuk mengetahui siapa yang berada didekatnya saat ini, namun ia tetap memberikan sapaan pagi dalam diam, sembari menajamkan pandangannya yang masih buram.
Ketika pandangannya telah terasa jelas, ia menyapa pria itu dengan sorot mata yang hangat dan ramah,
"S..selamat pagi..umm..Kuroro?", matanya membulat kaget dan ia nyaris terloncat beberapa langkah dari tempatnya, sementara Kuroro tetap berada ditempatnya, tersenyum lembut pada gadis itu sambil menggerakkan tangannya untuk menghapus airmata diwajah gadis muda itu,
"Kenapa kau berada disini?", ia bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih gentle dibanding sebelumnya, Kurapika hanya menatapnya dengan polos selama beberapa saat, sebelum ia kemudian menjawab pertanyaan pria itu,
"Hmm..begini..semalam aku tidak tahu harus kemana lagi, sepertinya aku tersasar..dan kupikir aku akan tidur disini saja", jawab gadis itu polos, sama sekali tak nampak tanda-tanda kebohongan diwajah manisnya,
"Kenapa? Dari semua tempat, kenapa harus pemakaman?", tanya Kuroro bingung, sebenarnya ia agak heran kenapa dirinya sendiri bersikap seperti seorang ayah yang menemukan anak gadisnya tertidur diluar,
"Karena...aku kemudian menyadari kalau ini adalah makam ayahku", gadis itu menjawab dengan sorot mata yang tidak sedikitpun menampakkan kedustaan disana, jadi ketika gadis itu berdiri dan merapikan pakaiannya, Kuroro memutuskan untuk melihat nama yang tertulis di batu nisan tersebut, sayangnya, ia tidak menemukan tulisan apapun disana, hanya sebuah nisan kosong, yang terlihat seperti monumen tanpa nama.
Pria berambut hitam itu kemudian memutuskan untuk menanyai gadis itu, tapi ketika ia berbalik, ia tidak melihat Kurapika disana, tidak juga dimanapun sejauh matanya berpendar kesekeliling pemakaman tua itu.
Iapun lalu berdiri dan memutuskan untuk mencari gadis itu ketika ia menemukan sebuah potongan kertas berwarna putih bersih, berada tepat ditempat seharusnya Kurapika berada tadi, iapun memungut kertas itu dan memutuskan untuk menyelidikinya sekembalinya ia dari markas pusat nanti.
Sepanjang perjalanan di kereta api yang akan membawanya ke daerah terdekat dari Ryuuseigai, ingatannya memainkan sebuah rekaman yang mungkin memilliki keterkaitan dengan segala peristiwa aneh yang menimpa dirinya akhir-akhir ini, tepatnya kedatangan Kurapika yang menggusiknya dari kehidupannya yang biasa saja, pembantaian suku kuruta.
Hari masih pagi ketika itu, pagi yang terlihat seperti senja.
Langitnya tampak merah, sama seperti mata yang akan mereka ambil.
Ia ada disana, berdiri dengan segenap ketinggian hatinya dengan para anggotanya berada tepat dibelakangnya,
"Apa misi kali ini Danchou?", tanya Uvogin, suara terdengar seperti binatang buas yang datang ke sarang mangsanya, dengan seringai kecil diwajahnya, pria itu berujar dingin,
"Ambil semua bola mata api itu, bunuh mereka yang matanya tidak menjadi merah, pastikan tidak ada satu saksi mata pun yang masih hidup-", Kuroro menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya,
"Lakukan", ujarnya sebelum para anggotanya menghilang entah kemana. Ia berjalan perlahan menuju desa kecil itu, berpikir kalau ini akan berlangsung menarik.
Dugaannya benar, ini menarik, bahkan luar biasa setidaknya.
Mereka begitu kuat, mata-mata itu bersinar kuat, begitu penuh amarah, seperti terbakar api.
Pria itu merasa puas.
Itulah saat ketika, ia melihat seorang laki-laki, matanya menyala begitu hebat, seperti yang ia inginkan, gestur anak itu seolah ia sedang melindungi sesuatu dibelakangnya, yang kemudian terbukti dari kata-katanya,
"Jangan pergi kesana! Langkahi dulu mayatku!", seru pemuda itu dengan kuda-kuda yang nampaknya terlatih, tentu sangat menyenangkan bertarung dengan seorang anak yang bersemangat semacam ini, ia mungkin bukan seperti Uvogin yang sedikit barbar, tapi tetap saja, pertarungan semacam ini mengundang baginya,
"Memangnya ada apa disana?", tanya pria itu dengan nada mengejek, ia membiarkan dirinya tertawa kecil, yang semakin membuat pemuda itu naik pitam, lalu keduanya bertarung, ia cukup puas dengan skill bertarung pemuda itu, walau masih dibawahnya, yang tentu saja ia masih memenangkannya.
Ketika ia akan menyerang pemuda itu, ia (dan tentu juga pemuda itu) mendengar suara dari balik hutan,
"Kakak!", suara seorang gadis, yang membuat pemuda ini mengerutkan keningnya,
"Jangan kesini!", serunya pada gadis itu, tapi terlambat, serangan terakhir itu nampaknya telah melemparkan gadis itu, dan membunuh pemuda itu.
Saat itu Kuroro merasa hal itu bukan apa-apa, gadis itu mungkin mati karena hempasan serangan yang ditujukan pada kakaknya.
Ia lalu mengambil mata pemuda itu, tapi tidak tertarik untuk mencari keberadaan tubuh gadis itu.
Sekarang dengan adanya seorang survivor, mungkin itu adalah anak gadis itu yang telah membaik. Terpikir juga bahwa ia mungkin telah meremehkan gadis kuruta waktu itu.
Kembali ke waktu saat ini, Kuroro dan anggotanya telah berkumpul dan semua berjalan biasa saja.
Author's Note: Hehe, how's about it minna-san? are you all satisfied? no? just let me know through those reviews, I'll be waiting!
Happy Reading *\(^-^)/*
Kaoru
