Part Four: The Letter
Ia duduk disofanya untuk kesekian kalinya, mengistirahatkan diri.
Benaknya kemudian teringat pada sebuah kertas kecil yang ia temukan beberapa waktu sebelumnya, ketika ia melihat gadis pirang itu tertidur dengan bersandar pada sebuah makam tanpa nama di sebuah makam tak terurus yang sedikit mengerikan.
Dirogohnya sakunya untuk menemukan kertas putih itu, yang sudah sedikit terlihat kusut karena telah berada di saku mantelnya selama beberapa waktu, mata onyx-nya tertuju pada beberapa goresan tinta yang membentuk sebuah tulisan pada kertas itu.
FIND ME
"Find me?", gumamnya pada dirinya sendiri, yang tak lama membuatnya tersenyum tipis, merasa sedikit terhibur setelah hari yang panjang itu.
Kuroro kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar tidurnya, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya setelah hari itu.
Pria bermata onyx itu kembali membuka matanya ketika senja mengalir menuju malam, matanya langsung saja difokuskan pada sebuah bayangan seorang gadis yang tengah duduk diatas pagar balkonnya, Kurapika.
Gadis itu seakan punya semacam kemampuan cenayang untuk tahu kalau pria itu sudah bangun, ia memutar kepalanya kearah Kuroro dan melemparkan senyum manisnya pada pria itu, membuatnya berpikir kenapa gadis itu tersenyum padanya.
Rasa penasaran kemudian membuat Kuroro bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju balkon, lalu ia berdiri disamping tempat gadis itu duduk dengan tangannya disandarkan pada pagar balkon yang berdekatan dengan yang diduduki gadis pirang itu,
"Hei, mau bermain petak umpet denganku?", tanya Kurapika tiba-tiba tanpa menoleh pada Kuroro, angin senja membelai wajah pucatnya lembut, namun gadis itu tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya,
"Jadi itu maksudmu dengan 'find me'?", sahut pria itu datar, dengan nada dingin yang mencegah emosi apapun terpancar dari kalimatnya, meski sebenarnya ia sangat penasaran dengan kelakuan gadis disampingnya ini,
"Oh..itu..sudahlah, lagipula, hal semacam itu bukan masalah bagi orang sepertimu kan?", balas gadis itu, dengan nada yang terdengar sedih,
"Kau benar, dan kuharap menemukanmu bisa menghabiskan waktu", ujarnya dingin, tapi cukup untuk membuat mata gadis itu berbinar-binar,
"Ya, hitung saja sampai seratus", balasnya sambil tersenyum, kemudian gadis itu melompat dari balkonnya dan berlari menyusuri pepohonan didekatnya, sampai pria itu tidak melihat lagi bayangannya,
"Seratus ya? Akan memakan waktu, tapi tidak masalah, sesuatu yang lebih sulit akan semakin menarik bukan?", ujarnya pada dirinya sendiri sambil memulai hitungannya.
"90..89..88..", ia memulai hitungannya sambil mengganti pakaian dan melakukan beberapa kegiatan yang merupakan rutinitasnya, dan seiring berjalannya waktu, rasa penasaran mulai mendekatinya.
Meski gadis itu tidak pernah membuatnya bosan sejak mereka bertemu pertama kalinya diperpustakaan itu, Kuroro tahu kalau gadis itu akan sangat mudah ditemukan dalam terang matahari, mengingat rambut pirangnya yang selalu bersinar dan menjadi sinar yang berlebih setiap ia berada dibawah matahari.
"..4..3..2..1.., baiklah, saatnya mencari", gumamnya saat ia keluar dari pintu rumahnya dan memulai pencariannya.
Kuroro memulai pencariannya disekitar hutan dibawah balkonnya, dengan perkiraan awal bahwa gadis itu akan berpikir sederhana dan bersembunyi diantara pohon-pohon yang ada disana tapi...gadis itu tidak berada dihutan sekalipun pria berambut hitam itu telah menyusuri sekitar hutan tersebut.
Kemudian ia memutuskan untuk mencari gadis itu di sekitar perpustakaan yang ia tahu telah tutup sejak jam lima tadi, bahkan sebelum permainan dimulai, tapi lagi-lagi hasilnya nihil tak peduli berapa kalipun ia menyusuri tiap inci tempat itu. Lalu ia terpikir pada pemakaman tua itu, dan..nisan tak bernamanya, meski itu adalah pilihan terakhir untuk menemukannya, gadis itu, Kurapika.
Ia tiba ditempat itu dengan pikiran yang nyaris putus asa, dilihatnya pemakaman itu dengan seksama, hanya untuk menyaksikan betapa dingin dan kosongnya tempat itu, persis seperti hatinya sebelum kedatangan gadis pirang itu secara tiba-tiba yang amat sangat mengejutkan dirinya, mengalirkan sebuah emosi yang susah payah ditepisnya, tapi kini si pemberi menghilang begitu saja, tanpa sedikitpun meninggalkan jejak untuk dicari.
Kemudian matanya tertuju pada suatu objek, ya, nisan tak bernama itu, dan kali ini, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa sesak dan bingung, karena gadis itu tidak disana, dan tempat itu adalah tempat terakhir yang ia tahu akan dikunjungi Kurapika.
Dan, itu adalah kali pertama ia merasa demikian, karena sebelumnya ia tidak pernah merasakan kehadiran siapapun dengan emosinya, hanya akal dan pikirannya saja, karena ia telah memutuskan sejak lama untuk tidak membiarkan dirinya merasakan emosi apapun pada siapapun, membangun dinding pemisah yang begitu tinggi antara dirinya dan orang lain, memisahkan ia dari perasaan apapun kecuali untuk rekannya, Laba-laba, sebelum gadis itu mengisi hari-harinya dengan senyum dan kehangatan dan membuat ia bisa merasakan sesuatu dengan cara yang berbeda, memandang dunia dengan cara yang sangat berbeda dari sebelumnya, cara yang membuatnya bisa menganggap indah sesuatu yang ada didunia, dan dengan hilangnya gadis itu dari pandangannya, ia merasa...hampa.
Sebuah ingatan tiba-tiba merasuki benaknya, mungkinkah gadis yang selama ini ditemuinya adalah adik dari pemuda kuruta yang telah dibunuhnya, yang menghampirinya untuk membalaskan dendam atas kematian kakaknya, tidak, jika ia memang datang untuk balas dendam, ia tak akan pernah menunjukkan senyum ramahnya yang sangat manis itu.
Ditepisnya pikiran itu dengan sebuah anggapan bahwa ia hanya harus menemukan gadis itu, HARUS, apapun caranya, karena ia tidak berniat sama sekali untuk kembali ketempat yang dingin itu, ketempat dimana ia tidak merasa hidup, hanya hidup dalam kematian.
Sungguh diluar pedomannya sebagai seorang kriminal s-rank untuk mengunjungi daerah yang pernah dibantainya seakan ia sedang berziarah, tapi baginya sekarang tak ada yang lebih penting daripada menemukan Kurapika dalam kondisi hidup, ya, meski ia juga sempat terpikirkan risiko bahwa Kurapika membencinya, tapi ia tidak peduli, lebih baik dibenci daripada kehilangan.
Ketika ia mengemudikan mobilnya menuju kediaman suku Kuruta, ia sedikit merasa khawatir kalau-kalau ia tidak bisa menemukan gadis itu, tapi setidaknya ia sudah mencoba kan?
Lebih baik daripada hanya duduk dan menunggu tanpa melakukan apapun.
Diparkirnya mobil itu didekat gerbang masuk daerah Rukusu itu, dan ia mulai berjalan.
Benar kalau seorang sebagai Danchou Laba-laba, ia tidak pernah mencari sesuatu apapun seorang diri, tapi meminta bantuan para anggotanya untuk mencari gadis itu benar-benar tidak terlintas sebagai bantuan dibenaknya, justru ia akan direpotkan dengan berbagai pertanyaan yang akan diajukan mereka mengenai 'gadis' ini.
Ia berjalan perlahan menyusuri daerah itu, Rukusu memang hanya sebuah desa kecil, dengan langit merah yang sama, dengan keadaan yang sangat berbeda.
Ingatannya mulai bernostalgia dengan tempat itu, setiap sudutnya yang mengingatkannya akan pembantaian berdarah yang dilakukan olehnya dan para anggotanya itu, seakan-akan hal itu baru saja terjadi kemarin harinya, saat ia merengut bola mata merah itu dari para pemiliknya, dan mereka yang merenggang nyawa disetiap sudut desa, tapi begitu teringat bahwa lima hari sudah berlalu sejak saat itu, ia segera berlari menuju hutan, hutan tempat ia bertemu dengan pemuda yang (mungkin saja) merupakan kakak dari gadis itu.
Lalu ia menyusuri hutan itu dengan seksama sampai ia sadar bahwa ia bisa saja menggunakan en nya untuk pencarian semacam ini,
sungguh buang-buang waktu, pikirnya ketika ia mulai menggunakan en nya untuk menelusuri setiap inci dari hutan ini, sekadar beberapa menit tak akan membunuhnya bukan?
Setelah beberapa menit akhirnya ia bisa merasakan sebuah gerakan yang sangat lemah dalam jangkauan en nya, tanpa pikir panjang pria itu bergegas menuju arah tempat gerakan itu dan menemukan seorang gadis muda berambut pirang, terbaring tak berdaya diatas tanah.
Ia terluka cukup parah dan kulit tubuhnya terlihat sangat pucat seakan-akan darahnya telah dikuras habis, gaun pendek birunya menempel pada tubuhnya dan bagian bawah cardigan rajut putihnya sudah berwarna merah, tapi, Kuroro masih bisa mengenali gadis itu, meski ia tidak tersenyum(siapa yang bisa tersenyum saat sekarat) seperti yang biasanya ia lakukan.
Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, diangkatnya tubuh gadis itu dan ia menggendongnya dengan bridal style, sebelum bergegas menuju mobilnya.
Keduanya kemudian mencapai mobil itu dan ia segera menaruh gadis muda itu di jok belakang, sebelum kemudian ia menyalakan mobilnya, dan segera memacunya, membuat ia tidak mendengar bisikan yang sangat pelan dari gadis itu,
"Kamu..datang..", sebelum kesadarannya hilang lagi.
Ia merasa kepalanya berputar-putar, tapi ia tahu dirinya sudah sadar sekarang.
Ia bisa mencium aroma obat didalam ruangan itu, tapi dia tahu ia akan baik-baik saja.
Ia berusaha keras untuk membuka matanya, tapi tetap saja masih sulit.
Ia berusaha menggerakkan jemarinya, meski lemah tapi ia tahu rasanya hidup sekali lagi.
Kuroro merasa sangat lelah usai perjalanan panjang itu, jadi ia memutuskan untuk beristirahat di sofa dekat tempat tidur gadis itu.
Tidur sebentar tidak akan membuatnya melewatkan satu tahun kan?
Kurapika akhirnya bisa membuka kedua matanya, ruangan itu terlihat bersih dan sangat putih, ia memutar bola matanya, menelusuri setiap sudut ruangan itu sampai pandangannya tertuju pada apa yang ia cari, dia.
Gadis itu mencoba mengukir senyum diwajahnya, meski masih sangat lemah, tapi tahu kalau ia berada didekatnya membuat ia merasa aman.
Kemudian ia tahu kalau ia terluka cukup parah disekitar kepala dan pinggangnya, yang tentu saja menyakitkan dan makin terasa sakit seiring meluruhnya pengaruh anestesi didalam tubuhnya.
Ia merasakan sakit luar biasa di bagian kepalanya, tapi ia berusaha keras untuk memanggil pria itu, untuk menanyainya tentang sesuatu yang begitu ingin diketahuinya, sesuatu yang harus ia tanyakan.
Seorang pria muda tiba di rumah sakit dengan seorang gadis tergolek lemah ditangannya,
"Apa yang terjadi padanya?", tanya seorang dokter di unit trauma ketika melihat gadis didekapan pria itu,
"Kami sedang mendaki gunung dan ia mengalami kecelakaan", ujarnya mantap tanpa sedikitpun keraguan dalam nada bicaranya, ia hanya ingin gadis itu segera mendapat perawatan medis sebelum terlambat, jadi ia berpikir untuk mengarang cerita yang lebih masuk akal ketimbang mengatakan yang sejujurnya.
"Ia mengalami beberapa cedera dikepala yang memungkinkan terjadinya amnesia, disertai luka-luka dibagian perut, masa kritisnya belum lewat, jadi kita hanya bisa berdoa untuknya", kata dokter itu seusai operasi, yang membuat Kuroro sedikit merasa lega.
"...Kuroro..?", sebuah suara samar-samar terdengar ditelinga pria itu, membuat ia terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang lebih lega dari sebelumnya.
Dilihatnya gadis itu telah duduk diatas tempat tidurnya, Kuroro agak sedikit merasa bingung mendengar namanya yang dipanggil oleh gadis itu, iapun beranjak dari sofa itu dan berjalan mendekati gadis itu perlahan, hingga akhirnya duduk ditepi pembaringan rumah sakit itu,
"Selamat pagi, bagaimana keadaanmu?", ujarnya lembut, berusaha menyembunyikan kelegaan yang begitu meluap dalam batinnya ketika menatap mata biru milik Kurapika sekali lagi setelah senja itu,
"Mmm...tidak begitu baik, tapi...bolehkah aku mengajukan sebuah pertanyaan?", Kurapika berujar dengan suara yang seakan akan menunjukkan ia merasa takut,
"Tentu, kau bisa menanyakan apapun, meski aku tidak yakin bisa menjawab semuanya", jawab Kuroro pelan, sedikit kekhawatiran terbersit dibenaknya, bagaimana jika ia menanyakan tentang kakaknya, tapi ia berhasil menepis kekhawatiran itu dan menatap Kurapika sendu,
"...Siapa aku? Maksudku, siapa namaku?", tanya gadis itu diikuti dengan helaan nafas, seolah ia sangat lega bisa menanyakannya,
"Hn, kau tahu namaku tapi kau tidak tahu siapa namamu? Bagaimana bisa?", tanya Kuroro dengan nada bingung, alisnya terangkat sebelah, sementara gadis itu hanya memandangnya lurus, dengan matanya membulat penasaran, kemudian ia mengangguk dan menggeleng lemah beberapa detik selanjutnya,
"Kurapika, itu namamu", ujar Kuroro mantap saat ia mengingat jelas ketika gadis itu mengatakan namanya, lalu gadis itu terdiam, tersenyum sambil menunduk lebih tepatnya, tapi Kuroro segera terpikirkan sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Kurapika saat ini,
"Kurapika, bisa kau memberitahuku apa saja yang kau ingat?", Kurapika mengangkat kepalanya dan menatap Kuroro dengan tatapan bingung, tapi ia kemudian tersenyum sebelum menjawab,
"Kau, aku..kita..aku memimpikanmu, tapi...mimpi itu terlalu nyata untuk menjadi mimpi, aku bisa merasakan semua yang kusentuh, tapi...entahlah..aku tidak tahu..", ia memegangi kepalanya sendiri, sebuah senyum tipis terukir diwajah Kuroro yang kemudian mendekat kearah Kurapika,
"Itu bukan mimpi, Kurapika", katanya sebelum ia menaruh tangan kanannya dibelakang leher gadis itu dan menariknya mendekat sampai mata mereka bisa memantulkan bayangan masing-masing, sebelum kedua pasang mata itu tertutup.
Author's Note: Hahaha this is the last of the series, I hope you all like it ^o^ don't forget to leave your review since I wanted so badly to know about what do think of this chapter, or maybe the story overall.
I'm terribly sorry I can't answers each of the review regarding this story, I absolutely felt honored to know that you all like it so far.
and, about the last scene, you can imagine yourself what is happening right? or still needed my help to explain, well, just let me know.
but anyways I really hope you all can enjoy this story as much as I did during the writing process.
Cheers,
Kaoru
ps: we still meet in Lovely Nightmares series, Bright Star (in english, on coming soon list), also for my Indonesian readers, you could vote for Bintang Kecil continuation, if you like it, I'll continue it soon with alongside with Lovely Nightmares, and if you want it, I will also make the translated version of Everything I Own, of course after I revised the whole story.
See You! :*
