Hinata melangkahkan kakinya ke dalam air. Kolam itu terasa sejuk di kakinya yang kecil. Perlahan, permukaan air terus mengelus betis dan paha putih Hinata ke atas seiring gadis itu melangkah lebih jauh lagi ke dalam kolam tersebut. Gaun berbahan chiffon putih Hinata yang tipis melayang di atas permukaan air yang jernih. Jika seseorang melihat dari dalam air, ia mungkin bisa menikmati pemandangan indah berupa sepasang kaki Hinata yang mulus dan ramping.
Hinata memejamkan mata dan menikmati gerakan air di kulitnya. Benar-benar menyenangkan berendam seperti ini. Hinata berencana berada di dalam sini lebih lama lagi.
Beberapa saat kemudian, gadis berwajah lembut itu membuka matanya kembali saat merasakan ada gelombang yang berbeda di dalam air. Hinata menoleh dan mendapati seseorang juga tengah melangkah masuk ke dalam kolam itu. Hinata tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena minimnya cahaya yang menyelubungi mereka. Namun dari tubuh bagian atasnya yang tidak tertutupi pakaian, Hinata tahu bahwa orang itu adalah laki-laki.
Masih dalam keremangan yang menyelimuti mereka berdua, Hinata menatap dengan detak jantung tak karuan saat orang itu terus menembus air, menuju tempat dimana Hinata berdiri. Segera setelah ia sampai di hadapan Hinata, tanpa peringatan, pria itu langsung menyusupkan kedua tangannya ke pinggang Hinata yang mungil dan menarik gadis itu mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. Hinata berusaha keras bernafas dengan normal saat ia merasakan tubuh mereka—yang hanya terbalut pakaian tipis—saling bersentuhan. Hinata merasa pikirannya melayang ketika pria itu menempelkan bibirnya yang lembut di telinga Hinata. Hinata bisa merasakan nafas hangat pria itu membelai cuping telinga dan lehernya, membuatnya semakin gemetaran.
"Disini kau rupanya."
Pria itu bersuara. Suaranya begitu merdu dan dalam. Hinata menyukai suara itu, namun juga—untuk alasan tertentu—merasa takut.
Tanpa disadari, Hinata mengangguk kecil sebagai respon dari perkataan pria itu.
"Sayang sekali," kata pria misterius itu lagi. "Aku sedang tidak ingin melakukannya disini."
Pria itu merengkuh Hinata lebih erat, lalu melanjutkan,
"Ikutlah denganku ke kamar."
.
.
.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei. Kalo Naruto punyaku, mungkin Sasuke udah tobat dari jaman kemerdekaan *lebay ah* :p
Pairing: Sasuke – Hinata
Rate: M *batuk-batuk*
Genre: Romance/Supernatural
Warning: OOC (mungkin), miss typo di suatu tempat, AU, dan walaupun fic ini kupajang di M, tapi mungkin "bagian kau-tahu-apa" belum akan muncul di chapter ini. Mungkin lusaaa, atau di lain hariii. ^o^ *digampar buntut kyuubi*
Fallen : Mine
by. Kazahana Miyuki
"P-pada zaman dahulu, h-hiduplah seorang pa-pangeran tampan yang memerintah sebuah negeri. Wa-walaupun sangat t-tampan dan kuat serta penuh kekuasaan, pa-pangeran itu sangat suka mempermainkan w-wanita. Dengan ketampanannya, b-banyak wanita yang terpikat padanya, te-terutama para wanita yang masih.. um.. ma-masih p-perawan. Namun, s-setelah pangeran itu menghabiskan wak-waktu bersama seorang w-wanita, ia a-akan langsung..."
"Ya, cukup sampai disitu saja, Hyuuga." kata Kurenai-sensei.
Hinata Hyuuga mengangkat wajahnya dari buku yang ia pegang. Wajahnya memerah saat ia melihat beberapa murid di sekitarnya menatapnya dengan tatapan ngeri. Ada yang terlihat tidak percaya. Ada juga yang menatapnya dengan tatapan apa-kau-sudah-gila-membawa-buku-seperti-itu. Dalam hati, ia sudah tahu seharusnya ia tidak mengikuti saran Neji untuk membawa buku ini ke sekolah.
"Hyuuga," Kurenai-sensei memanggilnya. Saat Hinata menoleh, dilihatnya guru itu sedang memijat-mijat pangkal hidungnya.
"Y-ya, Sensei?" sahut Hinata dengan gugup.
"Kenapa kau membaca buku itu?" tanya guru berambut hitam itu.
"A-ano.. H-hanya buku ini y-yang kubawa." jawab Hinata.
"Bukan itu. Maksudku, apa kau tidak punya buku lain di rumah? Aku meminta kalian untuk membawa buku tentang legenda, bukan? Kenapa kau malah membawa buku dongeng?" tanya Kurenai-sensei lagi.
"Eh? Um, a-ano.. ini bukan bu-buku dongeng. Ka-kata kakak saya, cerita yang baru saja saya bacakan itu a-adalah legenda." Hinata menjelaskan.
Kurenai-sensei seperti hendak mengatakan sesuatu, namun suara bel membuat Kurenai-sensei mau tak mau hanya menghela nafas.
"Baiklah, Hyuuga. Besok, bawalah buku yang lain. Jangan yang menyerupai dongeng seperti itu. Tentunya kau tahu pengertian legenda itu seperti apa, bukan?" Kurenai-sensei memberi toleransi.
"Ba-baik, Sensei. T-terima kasih." jawab Hinata.
Wajah Hinata semakin memerah mendengar toleransi gurunya. Selama dua tahun ia menimba ilmu di sekolah itu, ia sama sekali belum pernah mendapatkan toleransi semacam ini dari gurunya. Itu dikarenakan nilai-nilainya selalu di atas rata-rata, tugas selalu selesai tepat waktu, tidak pernah terlambat, absensi sempurna, dan pelanggaran yang tidak pernah Hinata lakukan. Walaupun bukan murid teladan, namun keseriusan belajar Hinata selalu berusaha ia pertahankan. Ia selalu mempertahankan apa yang sudah ia capai dan lakukan. Seolah itu sudah menjadi sesuatu yang rutin baginya. Jadi, Hinata merasa malu sekali saat ia salah membawa tugas yang diminta oleh Kurenai-sensei, dan kemudian guru muda itu memperbolehkannya mengulang tugasnya. Bukannya apa-apa, Hinata takut tidak disukai teman-temannya. Ia takut teman-temannya akan menganggap Kurenai-sensei bersikap tidak adil dan akhirnya malah menyalahkan Hinata.
Gadis berkulit pucat itu menggeleng pelan. Itu hanya perasaanku saja, katanya dalam hati. Tidak akan menjadi seperti itu, kan?
"Hinata," sebuah suara bernada riang memanggil namanya. "sampai kapan kau mau duduk disitu terus?"
Hinata menoleh dan mendapati kelas sudah kosong. Ya, yang tadi berbunyi itu memang bel terakhir, yang menandakan bahwa semua murid sudah boleh pulang. Saat itu pun hanya ada Hinata dan tiga orang gadis lain di kelas.
"Ayo kita pulang!" suara itu terdengar lagi.
Hinata sangat mengenali suara itu. Suara yang keluar dari mulut seorang gadis berambut merah muda itu mampu menenangkan hati Hinata sedikit. Yah, teman-temannya masih ada bersamanya. Mungkin memang itu tadi cuma perasaan yang berlebihan.
"O-oh? I-ya, Sakura-chan." sahut Hinata.
"Eh, aku tidak ikut dengan kalian, ya!" kata salah seorang dari dua gadis lain yang berjalan di belakang Sakura—nama gadis berambut merah muda itu.
Sakura menoleh ke arah mereka berdua. Ia menatap mereka dengan bingung.
"Loh? Memangnya kenapa, Ino?" tanya Sakura.
"Aku dan Tenten akan pergi ke toko sepatu hari ini. Aku sempat melihat toko itu sedang diskon, jadi aku tidak mau menyia-nyiakannya." jawab gadis berambut pirang bernama Ino itu.
"Lalu kau, Tenten? Tidak biasanya kau berbelanja?" tanya Sakura lagi kepada gadis di sebelah Ino.
Gadis berambut cokelat itu mengangkat sebuah tas tenteng berisi sepatu di tangannya.
"Sepatuku sudah usang." jawabnya. "Aku harus membeli yang baru kalau ingin ikut turnamen minggu depan."
"Kau terlalu sering berlatih sih!" cibir Ino.
"Habis bagaimana lagi? Guy-sensei menyuruhku untuk serius kalau ingin menang." Tenten membela diri.
"Ya, tapi kau kan tidak harus berlatih dengan Lee. Kau tahu sendiri betapa keras tendangannya itu." sahut Sakura.
"Aku tidak tahu kalau kau tahu kalau tendangan Lee itu keras, Sakura." ledek Ino.
"Aku kan sering menemani Tenten ke tempat latihan." jawab Sakura jengkel. "Sudahlah, sebaiknya kita pergi sekarang. Kasihan tuh Hinata, malah menunggui kita bergosip."
Yang namanya disebutkan malah hanya tersenyum malu-malu.
"Kau kan bisa ikut bergosip bersama kita, Hinata-chan." kata Ino saat mereka berempat berjalan keluar kelas.
"Yang benar saja, Ino. Hinata bisa bergosip itu sudah pasti akan menjadi keajaiban dunia kedelapan." ledek Sakura.
oOo
"Neji!" suara lembut Hinata belum pernah dipaksakan sampai melengking seperti itu. Namun kali ini, gadis itu benar-benar kesal.
Yang dipanggil malah dengan cuek menoleh dari balik sandaran sofa di ruang TV sambil melambaikan tangannya.
"Oh? Hai, Hinata! Kau sudah pulang rupanya."
Lalu, pemuda tampan itu kembali memfokuskan matanya pada layar TV, membuat Hinata geregetan. Dengan langkah lebar-lebar, Hinata menghampiri kakak sepupunya itu lalu dengan gemas menjambak rambut cokelatnya yang selembut sutera. Neji memekik keras sekaligus kaget.
"Aduh! Apa-apaan sih kau ini, Hinata!" omelnya. Ia memegangi kepalanya yang sakit karena ditarik secara mendadak.
"Kau yang apa-apaan, Neji! Kenapa kau memberikan buku ini padaku?" sembur Hinata sambil meletakkan sebuah buku bersampul ungu gelap di pangkuan kakaknya. Buku yang membuat Hinata malu setengah mati di sekolah.
Neji tersenyum geli saat melihat buku itu, lupa akan rasa sakitnya.
"Kau bilang ingin dicarikan buku tentang legenda, bukan? Ini dia kuberikan padamu, kenapa kau malah jadi marah-marah begitu?" kata Neji santai.
"Jangan bercanda! Legenda apanya? Buku itu isinya dongeng, bukan legenda!" kata Hinata.
Karena sudah benar-benar panas, tanpa menunggu jawaban dari Neji lagi, Hinata langsung berbalik dan berjalan cepat-cepat menuju kamar tidurnya. Meninggalkan Neji yang tengah menatap gadis itu dengan tatapan yang mendadak berubah menjadi serius.
Sesampainya di kamar, tanpa repot-repot berganti baju, Hinata langsung membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Hari ini ia merasa benar-benar penat.
Biasanya, setiap ia pulang sekolah, ibunya akan menyambut mereka bersama dengan Hanabi, adiknya. Biasanya, Hanabi sudah membuat kejutan kecil untuk Hinata. Entah itu model rambut baru pada boneka-bonekanya, kue-kue kering yang manis walaupun bentuknya sedikit berantakan, atau minuman dingin dan segar yang dibuat berdua bersama ibunya. Namun, ibu Hinata sudah tidak ada. Beliau sudah meninggal beberapa tahun lalu karena suatu penyakit yang menyerang paru-parunya. Dan sekarang Hanabi dan ayahnya sedang pergi ke Ame untuk menjenguk salah satu kerabat yang sakit. Sebenarnya, Hinata dan Neji juga diajak. Tapi, mereka berdua menolak karena satu alasan yang sama: banyak tugas. Hinata merasa, seharusnya ia abaikan saja tugas-tugas itu. Seharusnya ia ikut pergi saja dengan adik dan ayahnya. Jadi Hinata tidak perlu merasa penat seperti sekarang.
Apalagi tadi Naruto tidak masuk sekolah. Biasanya, Hinata akan bersemangat sekali kalau ada cowok pirang itu di sekitarnya. Rasanya, hanya dengan melihat senyumannya, Hinata sanggup berjalan menembus neraka. Atau setidaknya, agar tidak terdengar terlalu berlebihan, Hinata rela bersekolah di sekolah yang bukan merupakan keinginannya sejak awal.
Sejak SD, Hinata selalu ingin melanjutkan sekolah di luar negeri. Di tempat yang sejuk seperti di Kiri atau daerah dataran tinggi seperti Kumo. Tapi sejak satu kelas dengan Naruto Uzumaki di SMP, Hinata mengurungkan niat itu sepenuhnya. Ia akhirnya malah mendaftarkan diri di SMA Konoha, karena Naruto juga mendaftar disana. Alasannya cuma satu, sudah pasti agar ia bisa selalu bertemu dengan cowok periang itu. Tabungan yang sudah Hinata kumpulkan untuk persiapan kalau-kalau ia harus mencari tempat tinggal di luar negeri, akhirnya malah ia berikan pada Neji yang sekarang berkuliah di Universitas Konoha.
Hinata tersenyum mengingat penyebab ia membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya itu. Hinata membayangkan rambut pirang jabriknya yang tampak bersinar cerah di bawah sinar matahari saat ia tengah bermain bola basket di lapangan, atau senyuman hangatnya saat ia tengah menghibur atau memberi semangat pada teman-temannya, atau malah semangatnya yang seolah tidak pernah mati, atau cara berbicaranya yang lucu, atau mata birunya yang selalu memancarkan kesejukan. Hinata menghela nafas lega. Hanya dengan mengingat cowok itu, segala kepenatan yang tadi melekat pada Hinata seakan rontok dalam sekejap.
Namun, tanpa disadari olehnya, ada satu sosok yang tengah memasang ekspresi merengut melihat senyum kekaguman gadis berkulit seputih susu itu.
Ia tidak suka.
Ia benar-benar tidak suka melihat senyuman itu.
Bukannya karena ia tidak suka melihat Hinata tersenyum. Namun ia tidak menyukainya, karena senyuman itu tidak disebabkan olehnya. Karena ia tahu yang sedang ada di pikiran gadis itu saat ini bukan dia.
Masalahnya, gadis itu adalah miliknya. Sejak pertama kali gadis itu hadir di dunia sampai detik ini, ia sudah mengklaim semua yang ada pada gadis itu sebagai miliknya seorang. Tak ada yang boleh mengambil gadis itu darinya.
Dan ia sudah muak. Amat sangat muak.
Ia sudah terlalu lama menunggu. Sudah cukup berusaha untuk bersabar dan menyingkirkan keegoisannya yang posesif demi gadis itu. Padahal ia bisa saja membawanya pergi dari keluarganya dan menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya. Ia selalu melakukan itu pada semua gadis yang sudah ia habisi.
Namun tidak dengannya.
Tidak, gadis ini berbeda.
Gadis ini berhasil membuat dirinya tergila-gila, membuat dirinya tertarik lagi dan lagi. Biasanya, para gadislah yang akan terpikat dan tergoda oleh pesonanya. Namun dengan gadis yang tengah tersenyum di atas tempat tidurnya itu, keadaan terbalik seratus delapan puluh derajat. Entah untuk alasan apa.
Sosok itu menatap Hinata kembali. Wajah gadis itu masih sama polosnya dengan yang ia lihat pertama kali beberapa tahun yang lalu. Begitu manis. Begitu mempesona. Melihat kedamaian yang terpancar kuat pada wajah gadis itu, ia pun luluh. Rasa kesal dan muaknya perlahan memudar. Ia mencoba menumbuhkan kesabarannya kembali.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyakitimu." bisiknya. "Makhluk macam apa aku jika melanggarnya?"
Senyuman tipisnya muncul melihat gadis itu yang ternyata sudah terlelap. Ia ketiduran. Mungkin karena terlalu lelah.
Ah, betapa ia sangat ingin mengulurkan tangannya untuk membelai rambut indigo Hinata yang lembut, lalu mengecup keningnya. Betapa ia sangat ingin menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untuknya, sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada gadis-gadis lain. Dalam hati, ia menertawakan dirinya sendiri. Hanya gara-gara gadis itu, ia merasa telah berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Bahkan kedua saudaranya pun sependapat.
"Tidurlah, ratuku. Bermimpilah, karena aku akan ada disana."
Hinata mengigau pelan. Melihat itu, tatapan mata sosok tersebut pun melembut. Ia tidak bisa menahan senyumannya untuk tidak lebih lebar lagi.
"Karena, segera, aku akan datang untukmu."
oOo
Hinata sangat yakin kalau ia tengah bermimpi.
Karena bukan hanya sekali atau dua kali mimpi ini datang padanya. Malah sering, sampai-sampai Hinata mungkin bisa tahu setiap adegan yang akan terjadi selanjutnya.
Pohon ini lagi.
Hinata menengadah. Pohon yang tengah menaunginya ini begitu rendah, hingga terasa sejuk. Warna hijaunya yang berbeda gradasi tampak sangat cantik. Garis-garis cahaya matahari saling menerobos dari sela-sela dedaunannya yang rimbun dan rapat, muncul dan menghilang setiap dedaunan itu bergoyang tertiup angin. Beberapa bunga berguguran di dekat kaki Hinata. Hinata mengambil satu dari tanah, mengamati kelopak bunganya yang sewarna seperti langit senja; merah dengan sedikit campuran jingga dan merah muda, namun agak menghitam di ujungnya karena layu. Ia sama sekali belum pernah melihat bunga semacam itu di dunia nyata. Bunga itu sepertinya hanya ada di mimpi ini.
"Duskblossom." Sebuah suara yang begitu merdu terdengar di telinga Hinata.
Gadis itu menoleh dan mendapati seseorang berdiri tak jauh di belakangnya. Hinata merasa familiar sekaligus asing dengan orang itu. Familiar, karena orang itu selalu muncul di mimpi ini. Asing, karena Hinata sama sekali tidak pernah mengetahui siapa orang itu. Bayangan gelap yang aneh seakan selalu menutupinya dari bagian dada ke atas, sehingga Hinata tidak bisa mengira-ngira seperti apa wajahnya.
"Bunga itu hanya mekar saat malam hari."
Suaranya yang mengalun terdengar lagi. Ia berjalan beberapa langkah mendekati Hinata, lalu membungkuk untuk mengambil sekuntum bunga lain yang tergeletak di tanah. Hinata belum berani untuk membuka mulut, malah sebenarnya ia bingung apa yang harus dikatakan.
"Saat cahaya matahari mengenainya, ia akan langsung layu dan gugur. Bunga ini lambang kecantikan yang langka, keindahan di tengah kegelapan. Bunga ini hanya tumbuh disini." Ia menengadahkan kepalanya untuk menatap pohon di atasnya. "Kau satu-satunya."
Hinata terkesiap kecil. Entah kenapa, yang tadi itu... Hinata merasa kalimat terakhir orang itu ditujukan untuknya, bukan pada pohon bunga ini.
Biasanya, di mimpi-mimpi sebelumnya, Hinata akan terbangun dan berbaring di atas tempat tidur dengan penasaran. Bertanya-tanya, apa maksud dari mimpi ini. Namun kali ini, mimpinya berlanjut. Hinata jadi ikut menengadah ke arah pohon itu dan terkejut setengah mati.
Se.. sejak kapan hari berubah menjadi malam?
Hinata melihat sekeliling. Langit yang terang benderang telah berubah menjadi gelap dan berawan. Cahaya bulan hanya mengintip sedikit di ujung sana, kurang bisa menerangi tempat di bawahnya.
"Hinata, lihatlah."
Hinata menoleh. Dan di depannya saat ini, adalah pemandangan terindah yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Bunga duskblossom di pohon itu mekar. Begitu banyak dan rimbun. Seolah dedaunannya berubah warna menjadi merah. Yang menakjubkan, bunga-bunga itu bercahaya. Putik, benang sari, kelopaknya—semuanya mengeluarkan cahaya yang lembut dan indah, semacam lentera alam. Dan yang lebih menakjubkan lagi, cahaya dari bunga-bunga itu cukup terang untuk memperlihatkan kepada Hinata wajah dari orang yang ada di hadapannya itu. Walaupun tidak terlalu jelas, Hinata yakin seratus persen, ia adalah orang tertampan di dunia ini. Atau paling tidak, orang tertampan yang pernah ia lihat.
Yang paling memikat adalah matanya yang hitam dan terkesan dingin. Sepasang mata itu tengah menatap jauh ke dalam mata ungu pucat Hinata, seperti mencari-cari di dalam sana, memastikan sesuatu yang Hinata sendiri tidak yakin apa. Rambutnya yang sewarna dengan latar langit malam di belakangnya bergoyang pelan saat angin dingin menghembus ke setiap helainya. Menambah pesona tersendiri bagi wajahnya yang sudah seperti malaikat. Hinata bisa merasakan sesuatu yang sangat gelap dan mengerikan dari pria ini. Semacam aura aneh yang berbahaya yang terpancar kuat darinya, yang seharusnya membuat Hinata ketakutan dan menjauh. Tapi di satu sisi, ada kekuatan lain yang bisa Hinata rasakan darinya. Semacam... sikap posesif?
"Kau milikku."
Hinata tersentak mendengar pernyataan pria itu yang seolah mendukung pemikirannya barusan. Belum sempat ia melayangkan protes atau pertanyaan, tiba-tiba cahaya putih menutupi pandangannya dan seketika Hinata sudah ada di dalam kamarnya lagi. Ia terbangun. Dalam sekejap, ia baru teringat kembali kalau itu hanya mimpi. Tapi kenapa rasanya ia seperti benar-benar mengalaminya?
Hinata melihat ke arah jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Ia baru sadar kalau ia masih mengenakan seragam dan belum mandi sejak pulang sekolah. Aku pasti ketiduran, pikirnya. Gadis itu mengangkat tangannya untuk mengusap dahinya yang terasa lengket karena keringat. Tapi kemudian, ia merasa kalau tangannya tidak kosong.
Mulut Hinata ternganga beberapa sentimeter saat melihat benda apa yang sedang ia genggam.
Bunga duskblossom.
oOo
Klik.
"..berubah menjadi merah seperti darah. Menurut penuturan warga sekitar, sungai-sungai dan sumber air lainnya juga berbau seperti campuran amis dan karat. Selain itu.."
Klik.
"..mati secara misterius. Tidak ada tanda-tanda penyakit atau mati secara paksa atau dibunuh. Kebanyakan ternak yang mati adalah sapi, kambing, unggas, serta.."
Klik.
"..baru pertama kali terjadi. Hujan es disertai zat kimia menyebabkan suhu udara di Suna menjadi kacau dan cukup berbahaya. Pemerintah sedang menyiapkan perintah untuk warga agar mengungsi sementara waktu agar tidak.."
Klik.
"..juga mengalami hal yang sama. Warga kesulitan mencari air bersih untuk dikonsumsi, bahkan setelah menggali beberapa meter ke dalam tanah. Tidak ada yang tahu penyebab utama peristiwa yang terjadi di beberapa negara ini. Namun salah satu dugaan menyatakan.."
Klik.
"..rusak parah dan tidak dapat dipanen. Warga bahu membahu bersama pemerintah setempat untuk membasmi hama belalang yang jumlahnya tidak terkira ini. Entah.."
Klik.
Hinata menggerutu pelan. Kenapa semua stasiun TV tiba-tiba menayangkan berita-berita aneh seperti itu, rutuknya dalam hati. Ia sedang ingin menonton drama romantis favoritnya, tapi setelah menunggu sampai hampir sejam, acara itu tidak juga ditayangkan.
Gemas menunggu, Hinata memutuskan untuk mematikan TV dan pergi ke dapur. Ia jadi ingin secangkir cokelat panas, kebetulan hujan deras di luar juga membuat udara sangat dingin.
Seraya menunggu airnya panas, Hinata duduk di atas meja dapur sambil menatap tirai hujan di luar. Beruntung baginya, ini hari Sabtu dan sekolah libur. Jadi ia tidak harus berurusan dengan baju basah dan dingin gara-gara cuaca di luar sana. Hinata tersenyum geli membayangkan Neji pasti sekarang sedang mencak-mencak karena tugasnya yang ia kerjakan selama dua minggu penuh jadi basah terkena air. Lagipula, salah dia sendiri kenapa malas membeli map.
Hinata merogoh ke dalam saku celana pendeknya dan mengeluarkan sekuntum bunga duskblossom layu yang secara ajaib terbawa dari dalam mimpinya. Ia menatap bunga itu dengan bingung. Ia masih bisa mengingat dengan jelas dan detail setiap adegan di dalam mimpi itu. Dan di antara setiap hal yang ada di mimpi tersebut, ada satu hal yang terpancang kuat di dalam memori Hinata.
Sepasang mata berwarna hitam seperti batu onyx itu.
Hinata tidak terlalu menyukai warna hitam. Ia lebih suka warna biru—sesuai dengan warna mata Naruto. Tapi Hinata harus mengakui, kalau ia merasa tertarik dengan sepasang mata gelap itu. Juga caranya memandang Hinata. Saat itu ia merasa seperti seorang putri, atau mungkin seorang ratu. Entahlah, tatapan itu membuat Hinata merasa istimewa dan.. diinginkan.
Lamunan Hinata terbuyarkan saat ia menyadari kalau air yang ia tunggu sudah panas. Hinata mencampurkan air tersebut dengan bubuk cokelat instan ke dalam cangkir dan mengaduknya. Lalu ia duduk kembali di atas meja dapur sambil membawa cangkir tersebut. Dengan bunga duskblossom di samping pahanya, Hinata meniup minumannya perlahan, berhati-hati saat menyeruput agar tidak terlalu menyakiti lidahnya.
Tiba-tiba saja, setelah ia menyeruput untuk yang keempat kalinya, sesuatu di luar jendela membuat Hinata secara refleks melepaskan cangkir dari pegangan tangannya. Terkejut. Cangkir itu bertemu dengan lantai dan langsung pecah berkeping-keping, berantakan di atas cairan panas berwarna cokelat. Dengan cepat, Hinata melompat turun dari meja, berusaha berpijak sejauh mungkin dari pecahan cangkir, lalu mengambil lap dari samping wastafel.
Setelah selesai membuang kepingan cangkir dan membersihkan lantai dapur dari sisa cokelat, Hinata berdiri di depan jendela. Mencari-cari ke luar.
Gadis itu bersumpah tadi ia melihat seseorang di luar sana. Berdiri di bawah guyuran hujan, menatap ke dalam rumah. Tidak tahu apa yang dilakukannya, tapi Hinata merasa ada sesuatu yang mengerikan mengelilingi orang itu. Seperti semacam aura yang gelap. Sangat gelap. Hal yang sama yang Hinata rasakan pada pria misterius di dalam mimpinya semalam.
Tapi saat ini, yang Hinata lihat, tidak ada siapapun disana. Hanya ada hujan yang terus sibuk menghantam halaman belakangnya bertubi-tubi. Kosong.
Hinata mengerutkan dahinya. Apa yang tadi itu hanya fantasiku saja karena terlalu penasaran dengan mimpi semalam, gadis itu bertanya pada dirinya sendiri. Ia menghela nafasnya yang terasa berat.
Ia berbalik untuk mengambil bunga itu kembali, lalu menatapnya lekat-lekat.
"Sebenarnya darimana asalmu?" Hinata bertanya kepada bunga itu. "Siapa orang yang kutemui itu?"
Hinata menggelengkan kepala dan meletakkan bunga itu kembali ke dalam saku celananya. Aku tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh, pikirnya. Nanti aku bisa gila.
oOo
"Hinata-chan!"
Sebuah suara yang melengking terdengar dari belakang Hinata. Hinata memutar badannya dan menemukan bahwa temannya yang berambut panjang, Ino, tengah berlari kecil menghampirinya.
"Oh? Se-selamat pagi, Ino-chan." sahut Hinata.
"Hei, bersemangatlah sedikit. Ini kan awal minggu, kau harus memulainya dengan antusias!" cerocos Ino begitu ia sampai di samping Hinata.
"A-aku bersemangat kok," kata Hinata sambil tersenyum.
Ino mengangkat sebelah alisnya, lalu tertawa. "Ah, kau ini."
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, sudah pasti Ino-lah yang paling banyak bicara. Ia lebih sering mengangkat topik tentang acara berbelanjanya dengan Tenten kemarin. Hinata hanya tertawa kecil dan terkadang menyahut dengan komentar-komentar pendek. Walaupun tidak terlalu suka bergosip, tapi Hinata termasuk seorang pendengar yang baik, karena itulah temannya sangat suka mengobrol dengannya.
Tak berapa lama, mereka berdua sampai di sekolah. Diam-diam, mata Hinata langsung mencari-cari, berharap ia bisa bertemu Naruto hari ini. Namun yang dilihatnya ternyata malah Sakura yang tengah berlari ke arahnya. Kenapa ada banyak orang berlari hari ini sih, pikir Hinata.
Gadis berambut merah muda itu secara spontan langsung menyambar tangan Hinata dan menariknya cepat-cepat ke dalam kelas. Ino dan Hinata pun bingung dibuatnya.
"Eh? Sa.. Sakura-chan? A-ada apa?" tanya Hinata.
"Ada sesuatu yang menunggumu di kelas. Ayo cepat, kau harus segera melihatnya!" seru Sakura, sekarang setengah berlari sambil menyeret Hinata. Ino pun mau tak mau ikut berlari bersama mereka.
Sesampainya di kelas, mata ungu pucat Hinata tidak bisa berhenti terbelalak.
Bagaimana tidak? Tergeletak di atas mejanya sekarang adalah sebuah kotak hadiah berwarna merah darah beserta pita ungu muda yang mengikatnya. Ukurannya memang tidak terlalu besar, tapi cukup mencolok jika diletakkan di dalam kelas itu, terutama di atas meja seorang Hinata Hyuuga yang pemalu.
Hinata menghampiri kotak tersebut. Di sampingnya, Tenten sudah berdiri sambil tersenyum penuh arti. Hinata menatap temannya tersebut dengan tatapan kenapa-benda-ini-bisa-ada-disini. Awalnya, gadis itu sempat tidak percaya dan merasa mungkin seseorang salah meletakkannya. Namun saat melihat secarik kertas bertuliskan 'Untuk Hinata' terikat di atas kotak tersebut, Hinata akhirnya hanya bisa pasrah. Sepengetahuannya, tidak ada murid lain bernama Hinata di sekolah ini. Kotak hadiah itu memang untuknya.
"Wah, ternyata Hinata juga punya penggemar." goda Sakura, menghasilkan semburat merah yang langsung muncul di pipi Hinata.
"Apa ada nama pengirimnya?" tanya Ino.
"Aku sempat mencarinya tadi dan sepertinya tidak ada." sahut Tenten.
"Waw! Penggemar rahasia loh!" Ino ikut menggoda.
Wajah Hinata merah padam.
"Ayo dibuka, Hinata!" Sakura menyemangati.
Tapi, mendadak Anko-sensei masuk ke dalam kelas. Membuat kegiatan para murid terhenti dan langsung berlomba-lomba untuk menempati kursi masing-masing. Begitupun dengan Hinata dan teman-temannya. Hinata langsung menyembunyikan kotak hadiah itu di dalam laci mejanya. Dalam hati, ia berterima kasih kepada Anko-sensei yang telah menyelamatkannya. Kalau guru itu tidak datang, teman-temannya pasti bisa melihat isi hadiah tersebut dan Hinata bisa malu sampai mati.
Bagaimana pun, Hinata berencana untuk membuka sendiri hadiah tanpa nama itu di rumah nanti.
Kemudian hari berlalu dengan lambat. Setidaknya itulah yang Hinata rasakan. Ia tidak bisa berhenti melirik ke arah kotak hadiah itu di bawah mejanya. Jujur saja, ia juga sama penasarannya dengan Sakura yang terus menerus melempari Hinata dengan gumpalan kertas, berharap Hinata akan membuka kotak itu saat itu juga, tidak peduli dengan adanya Anko-sensei yang galak sedang menatap tajam ke arah mereka.
"Haruno! Berhenti melempari Hyuuga dengan kertas!" seru guru tersebut.
Bahu Hinata menegang saat mendengar teguran itu. Hinata tidak sempat menoleh ke belakang untuk melihat ekspresi Sakura. Tapi mendengar sahutannya yang terdengar santai, sepertinya ia baik-baik saja.
Hinata tahu teman-temannya tidak akan menyerah sampai ia benar-benar membuka hadiahnya. Tapi ia juga tidak akan menyerah.
Kesabaran Hinata membuahkan hasil. Setelah mati-matian menghindari bujukan teman-temannya—terutama saat jam istirahat—akhirnya bel pulang yang sudah ditunggu Hinata sedari tadi pun terdengar juga. Cepat-cepat, Hinata membereskan barang-barangnya dan tak lupa ia menyambar serta kotak itu. Kemungkinan teman-temannya akan membuka sendiri kotak itu selalu ada, kan?
Namun ternyata ketiga temannya tidak kalah cepat. Tahu-tahu mereka sudah mengimbangi langkah Hinata dengan tatapan predator kepada kotak hadiah misterius tersebut.
"Ayolah, Hinata. Apa susahnya sih menarik pita ungu itu?" goda Ino, persis seperti setan yang sedang menggoda manusia untuk mencuri.
"Kami kan hanya ingin mengintip. Sedikiiit saja. Setelah itu kau bebas deh." Sakura membantu sahabat pirangnya itu.
"Atau jangan-jangan kau sebenarnya tahu siapa pengirimnya, ya? Jadinya kau malu memberitahu kepada kita?" celetuk Ino.
"Mungkin selama ini ternyata kau sudah punya pacar, ya?" Sakura menambahkan.
Di belakang mereka, Tenten hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Tenten sebenarnya sama seperti keduanya, ia juga penasaran. Siapa yang mengirim hadiah kepada Hinata? Tapi melihat warna wajah Hinata yang hampir menyamai udang rebus itu, rasanya ia tidak suka kalau harus memaksa.
Pemandangan di depan Tenten tiba-tiba berubah menjadi bujukan secara fisik. Tangan Ino dan Sakura berulang kali berusaha menyambar kotak hadiah itu. Hinata terlihat kesusahan berkelit dari mereka. Melihat itu, Tenten memutuskan ia harus menengahi.
"Hei, Ino, Sakura, sudahlah. Hinata kan sudah tidak mau. Jangan dipaks.."
Belum sempat Tenten menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tangan Ino berhasil merebut kotak itu. Namun sebelum ia menariknya, tangan Sakura tanpa sengaja menepis kotaknya hingga terlempar ke jalan. Mereka menatap dengan ngeri saat kotak itu berguling-guling sebentar di atas aspal sebelum kemudian berhenti dengan keadaan penyok di beberapa tempat.
Setelah itu, keheningan menyapa di antara mereka selama beberapa detik, sebelum kemudian Sakura yang pertama kali angkat suara, "H.. Hinata-chan, maafkan aku."
Tanpa menjawab, Hinata berjalan pelan ke arah kotak yang tergeletak itu. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal dan takut yang perlahan mulai menyeruak di dadanya. Sempat terbesit di benaknya, bagaimana jika ternyata itu hadiah dari ayah dan adiknya? Bagaimana jika itu adalah pajangan kelinci dari kaca yang pernah ia pesan pada mereka sebelum mereka pergi ke Ame?
Jika memang benar, Hinata bersyukur ia tidak mendengar suara sesuatu yang pecah tadi.
Tiba-tiba, sesuatu terjadi. Saat tangan Hinata hampir menyentuh kotak itu, tiba-tiba kotak itu bergerak. Kotak itu bergetar. Lalu guncangannya semakin hebat. Bahkan kotak itu sampai terangkat dari tanah.
Hinata yang terkejut, secara refleks langsung mundur ke belakang, kembali ke arah teman-temannya. Mereka juga melihat apa yang terjadi dengan kotak itu.
Kotak itu terus berguncang. Sisi-sisinya berulang kali menonjol keluar, seperti ada sesuatu yang mendorong dan menonjok dari dalamnya. Seperti ada yang akan keluar.
Mata Hinata terbelalak lebih lebar lagi saat kotak itu robek dan pecah. Serpihan kertas berhamburan keluar.
Tidak.
Tidak hanya serpihan kertas.
Sebuah benda yang terlihat seperti bola tenis berwarna putih menggelinding dari dalam kotak ke atas aspal. Ada titik hitam di salah satu sisi bola itu, membuatnya terlihat seperti bola mata. Dalam sekejap, Hinata merasa bulu kuduknya meremang saat melihat benda itu.
Tapi, yang membuatnya lebih merinding adalah bola itu yang kini tengah melayang di udara. Kemudian mendadak, sebuah suara—entah darimana asalnya—terdengar. Suara yang anehnya terasa familiar bagi Hinata.
"Kau milikku. Kau milikku. Kau milikku..."
Kalimat-kalimat itu terus terdengar berulang-ulang. Semakin lama, Hinata merasa suara itu begitu mengganggu di telinganya. Dengan wajah seperti melihat hantu, Hinata menutupi kedua telinganya. Namun suara itu seolah terus bergaung di dalam kepalanya.
Dan setelah itu, kejadiannya berlangsung begitu cepat.
Bola itu mengeluarkan semacam cahaya aneh. Begitu terang sampai Hinata dan ketiga temannya merasa silau. Lalu, lagi-lagi tidak tahu darimana datangnya, sebuah tangan menarik bagian bahu seragam Hinata. Tangan itu menarik Hinata ke suatu tempat, menjauh dari teman-temannya. Sepersekian detik kemudian, bola dan cahaya itu menghilang dengan cepat..
..beserta dengan menghilangnya ketiga teman Hinata.
Jantung gadis itu terasa berhenti.
Apa tadi?
K.. ketiga temannya menghilang?
Ya. Sakura, Ino, dan Tenten sudah raib tanpa jejak. Menghilang di balik cahaya aneh yang dipancarkan dari bola misterius tadi. Hanya tertinggal sebelah sepatu cokelat Tenten dan kotak pembungkus hadiah pembawa bencana itu.
Kemana mereka pergi? Cahaya apa itu? Bola apa itu? Kenapa dihadiahkan padaku? Kenapa mereka yang menjadi korban? Siapa tadi yang menarikku?
"Kau tak apa-apa, Hinata?"
Suara bernada khawatir itu seolah menjawab kalimat tanya Hinata yang terakhir. Tentu saja, ia sangat mengenali suara itu.
"Neji?"
Hinata menoleh ke arah orang yang baru saja menariknya tadi.
Dugaannya benar. Kakak sepupunya setengah berjongkok di belakangnya. Mata ungu cowok itu yang sama persis dengan milik Hinata menatap gadis itu dengan tatapan serius dan penuh kecemasan.
Kenapa ia bisa ada disini, pikir Hinata.
"Hinata, jawab aku! Apa kau baik-baik saja?" tanya cowok berambut panjang itu.
Hinata sangat ingin menjawab. Beribu pertanyaan berkecamuk di dalam kepalanya. Tapi kemudian, pertanyaan-pertanyaan itu tertutupi sebuah kabut tebal. Sesuatu berwarna putih menghalangi penglihatan Hinata. Setelah itu, semuanya mendadak berubah menjadi gelap.
To Be Continued..
A/N:
Hauauauauhh, aku tahu, sangat tahu kelemahan terbesarku di fic ini. Alur yang kecepetan. Huaaaa! Cepet banget ya? Iya nggak sih? *garuk-garuk tanah*
Terus juga, bagian yang bola-bola itu aneh banget kan? Aku sendiri aja nulis sambil komat-kamit "what the hell.. what the hell.. what the hell..". Soalnya, yang bagian bola itu aku ambil dari mimpiku sih. Beneran loh, di mimpi itu aku dapet hadiah yang isinya bola mata. Ada dua malah. Trus aku dikejar2 bola mata itu, trus bola matanya itu kayak ngomong, "you're mine, you're mine..". Abis itu aku ngumpet di minimarket. Serem tapi apa banget deh.. (-_-")
Oh ya, bunga duskblossom itu bukan karanganku. Itu aku ambil dari salah satu bunga di game "The Fifth Gate". Jadi, aku juga nggak yakin bunga itu beneran ada apa nggak. :p
Eh eh, aku nulis fic ini sambil dengerin lagunya Evanescence yang "My Heart Is Broken" loh. Entah kenapa mood-nya dapet banget sambil dengerin itu. *nggak ada yang nanya juga, thor*
Oke deh, aku jadi pengen bales review readers yang cantik2 dan ganteng2 itu.
Fujiwara Ami: Arigatou, Ami-saaaan! Uwaaa, Ami-san ngomongin keranda mayat. Ngeri ah! Tapi iya sih, aku setuju kalo mimpi itu nggak boleh disepelein. Hmm, vampir ya? Nggak tau juga sih. *ditoyor* Sepertinya bukan vampir, walaupun mungkin nanti akan ada beberapa sifatnya "mysterious man" kita yg menyerupai vampir. :p Yah, nggak jauh2 deh, masih dark entity juga. Ditunggu ya, jangan disembelih akunya.. *beneran disembelih* Makasih juga udah di-fav. Mbeeekk.. ^o^
J0e: Makasih, ini udah lanjut kok.
Sasuhina ysg: Makasih. Sepertinya bukan vampir, walaupun nanti bakal agak2 menyerupai. Hehehe. Sabar ya, bagian 'itu'-nya masih otw. :p
hyuuchika prinka: Nah, sekarang setelah baca, kira2 Sasu bukan? Hehehe. Makasih udah di-fav. :D
lavender hime chan: I like you too *eh salah* Ini sudah di-update yaaa..
Hyou Hyouichiffer: Nirvana itu apa ya? Aku taunya Narnia. Hehehe. *dijitak* Tebakannya hampir mendekati kok. Ikutin aja ya, biar tau jawabannya. *dikemplang* Iya, bakal ada lemon, tapi nggak sekarang. Tenang aja, aku juga kurang suka yg pulgar2. :p Makasih udah di-fav!
U-know Maxiah: Ahaha, iya, aku usahain bakal update secepat Namikaze Minato. :p
Ran Uchiha: Iya, pas nonton sih nggak serem. Tapi pas diomongin lagi jadi bikin merinding. *hei, ini bukan forum film* Mimpi bersambungku ini juga bikin blushing kok. Hehehe. Ayo, ayo, bikin aja. Nanti bilang2 ya.. ^o^
Gudeg jogja: Uwaaa, namanya bikin laper deh. Hahaha *maklum, anak kosan* Terima kasih sudah menungguku. *eh?* Ini sudah update kok. Apa kurang kilat? Nanti kesamber loh. *apa sih?*
n: Apa sekarang masih penasaran? Huhuhu. :p
RajaKelelawar: Masa sih? Kok aku nggak berasa keren ya? Hahaha. Sudah update ya..
Helvetica Crisis: Uwaaa? Kok malah bikin merinding? Padahal aku nggak bermaksud loh. Hehehe. Sudah di-update! ^o^
Yeahaha, alhamdulillah yah, sejauh ini responnya positif semua. Semoga bakal begitu terus sampai di masa depan. *plakkk* Tapi entah kenapa, aku dapet feeling kayaknya aku bakal dapet kritik buat chapter ini. Nggak tau juga deh.
Nah, biar aku tau bakal dapet kritik atau nggak, readers semua nggak keberatan kan, setelah baca itu balon review-nya dicolek dikit? Okeh? Okeh? *disabet rambutnya orochimaru*
Akhir kata, arigatou gozaimaaaaaaaaaasu! ^o^
