Hinata menarik tangan pria itu, mencegahnya pergi.
Pria itu berbalik dan menatap cengkeraman tangan mungil gadis itu pada lengannya. Kemudian, pandangannya beralih pada ekspresi khawatir yang terpampang di wajah gadis itu. Tanpa sadar, pria itu tersenyum melihatnya.
"Kau masih takut pada Itachi?" tanya pria itu.
Gadis itu terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan.
Senyuman pria berwajah rupawan itu pun melebar, kini benar-benar membalikkan badannya untuk kembali berdiri di depan Hinata. Ia menyentuh dagu Hinata, lalu mengangkat wajah gadis itu, membuat sepasang mata berwarna ungu pucat itu bertemu dengan matanya yang kelam.
"Dia memang menyebalkan. Tapi aku janji, lain kali aku akan ingat untuk mengunci pintunya dulu." kata pria itu sambil tersenyum.
Mata Hinata menatap sepasang mata sewarna batu onyx itu dalam-dalam, belum sepenuhnya yakin dengan perkataan yang dilontarkannya.
Tidak mendengar respon dari Hinata, pria itu lantas menambahkan, "Kau ingin tetap disini?"
Hinata tetap tidak menjawab. Sebenarnya, ia ingin mengiyakan pertanyaan itu. Namun, ia takut pria di hadapannya ini akan merasa tersinggung. Maka, Hinata hanya bisa mengangkat sedikit bahunya, berharap pria itu yang akan memberi keputusan.
"Baiklah." Pria itu menyahut.
Kemudian, tanpa perlu menunggu lagi, ia menarik tubuh Hinata mendekat, bersiap mereguk kenikmatan adiktif yang akan segera ia dapatkan lagi dari tubuh istrinya itu.
.
.
.
Summary:
Hinata bisa merasakan seseorang mengawasinya, menunggunya dari suatu tempat di balik dunia ini. Di sebuah dunia dimana eksistensi kehidupan tidak diizinkan untuk berada.
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei. Kalo Naruto punyaku, mungkin aku bakal bikin Sasuke beneran naksir Hinata :p
Pairing: Sasuke – Hinata
Rate: M *keselek*
Genre: Romance/Supernatural
Warning: OOC (mungkin), miss typo di suatu tempat, AU, belum ada lemon, masih dengan alur yang terlalu cepet yang mungkin bakal bikin readers semua serasa numpang ke punggungnya Namikaze Minato *ditendang*, trus juga aku minta maaf kalo ada beberapa adegan yang terasa familiar dengan yang di film-film, nggak bermaksud 'copas', hanya mengambil secuil elemen dari sana. *readers: bicara apa kau, hah?* Happy reading aja deh, minna~ *nyengir*
Fallen : Coming
by. Kazahana Miyuki
Hinata bisa mendengar jeritan mereka di suatu tempat.
Entah dimana.
Di suatu tempat, di balik koridor-koridor itu. Koridor-koridor yang terasa tak berujung dan berkelok-kelok serta gelap dan kosong. Sepanjang ia berlari disana, tidak ada seorang pun yang bisa Hinata temui untuk dimintai pertolongan. Yang ia lihat hanyalah kegelapan. Ia bahkan tidak yakin harus berlari kemana.
Sementara suara jeritan itu terus bergema di sepanjang koridor itu, Hinata berusaha sebisa mungkin mencapai suara itu secepat yang ia bisa. Setiap kali ia menuju sebuah koridor yang membuat suara itu terdengar sayup-sayup, ia akan berbalik arah dan terus mengikuti suara itu. Hanya jeritan memilukan itu yang menjadi petunjuk jalannya. Bagaimanapun juga, Hinata harus segera menemukan asal suara tersebut.
Karena, suara itu memanggil Hinata, dan suara itu meminta tolong.
Karena, Hinata kenal suara itu.
Itu suara jeritan Sakura.
oOo
Mimpi buruk terakhir Hinata masih bisa terlihat jelas di dalam mata ungu pucatnya sepersekian detik setelah ia terlonjak bangun dari tidur dan terduduk tiba-tiba, membuat Neji terkejut. Sepupunya itu dengan sigap langsung menghampiri Hinata dan memegang bahunya, memastikan gadis itu tidak limbung.
"Hi.. Hinata?" tanyanya panik.
Hinata merasa sekujur tubuhnya lemas. Untuk alasan tertentu, mimpinya tadi itu benar-benar menguras tenaganya. Padahal ia hanya tidur. Tapi ia merasa seolah mimpi itu sungguhan. Nyata.
Hinata bergidik. Suara jeritan itu sangat menyayat. Seakan-akan, siapapun pemiliknya, ia sedang sangat kesakitan saat ini. Tapi, kenapa suara itu meminta tolong padanya? Dan kenapa suara itu sangat mirip dengan suara Sakura?
Sekonyong-konyong, sebuah memori masuk kembali ke dalam otak Hinata.
Kejadian saat pulang sekolah. Kejadian aneh di luar akal sehat yang menyebabkan ketiga temannya menghilang.
"Sakura!" jerit Hinata.
Gadis itu hampir melompat turun dari tempat tidur kalau saja Neji tidak menahannya.
"Hinata! Hinata!"
Tanpa sadar, Hinata berusaha menolak pegangan Neji. Di pikirannya saat ini adalah ia harus segera memastikan bahwa teman-temannya baik-baik saja. Ia harus ke rumah mereka sekarang juga. Dan ia berharap semoga mereka ada disana saat ini.
Tapi Neji tidak berhenti mencegahnya. Dan seolah sepupunya itu bisa membaca pikirannya, kalimat berikutnya membuat Hinata mematung.
"Mereka tidak ada di rumah saat ini!"
Cukup lama Hinata tidak bergerak. Ia kebingungan, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya terasa begitu tiba-tiba baginya. Ia bahkan belum bisa membedakan apakah ini realita atau tidak.
"Ne.. Neji.." Hanya bisikan pelan itu yang meluncur keluar dari suaranya yang lembut.
Tatapan kedua sepupu itu bertemu. Yang satu kebingungan dan takut, yang satunya kasihan dan seperti mengetahui sesuatu.
"Hinata," Neji memulai. "kumohon padamu. Tenangkan dirimu. Karena ada hal.. ada hal yang perlu kau ketahui."
Hinata mengalihkan pandangannya dan melihat sekitar. Ia masih di kamarnya. Ruangan yang sangat familiar dan nyaman. Namun gadis itu juga bisa merasakan kepanikannya sendiri menguar kuat di sekelilingnya saat itu. Ia membenarkan kata-kata Neji. Apapun itu yang sedang terjadi, sepertinya ia harus menenangkan dirinya dulu sejenak.
Menit-menit berlalu dalam kesunyian. Hinata sudah lebih tenang sekarang dan Neji sudah tahu harus memulai ceritanya darimana. Melihat keadaan Hinata, ia memutuskan untuk mulai bicara sekarang.
"Sebelumnya," Neji berkata. "aku sungguh-sungguh minta maaf karena tidak sempat menyelamatkan Sakura, Tenten, dan Ino."
Hinata mengepalkan tangannya yang berkeringat.
"A.. apa maksudmu.. mereka.." Hinata tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Neji menggeleng cepat. "Tidak. Aku yakin mereka masih hidup, kalau itu maksud pertanyaanmu. Tapi aku tidak yakin bagaimana keadaan mereka."
Hinata terdiam. Melihat kebisuan adik sepupunya itu, Neji melanjutkan, "Aku sudah menelepon orangtua mereka. Aku mengatakan kalau mereka sedang menginap disini dan.."
"M.. mereka tidak akan percaya." potong Hinata cepat. "Ini bukan akhir minggu d-dan besok akan ada ulangan Matematika. Mereka tidak akan mungkin menginap."
"Aku tahu." sahut Neji. "Aku tahu kebohonganku tidak akan bertahan lama. Karena itu, kita harus menyelesaikan semua ini secepatnya."
Hinata mengernyitkan dahi. "Me.. menyelesaikan apa?" tanyanya.
"Itulah yang akan kuceritakan padamu." jawab Neji.
Hinata tidak menyahut, namun ia menegakkan tubuhnya. Seperti seorang anak kecil yang bersiap mendengarkan dongeng dari sang kakak, namun dengan perasaan yang lebih takut dibanding penasaran.
Alis Neji merengut. Wajahnya serius. Sejenak, ia sempat ingin mengurungkan niatnya untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya pada Hinata. Tapi ia tahu, bagaimanapun, cepat atau lambat, suatu hari nanti Hinata akan mengetahuinya.
"Dengarkan aku, Hinata." Neji memulai. "Ada i.."
Mendadak, lampu mati. Atmosfer berubah gelap seketika. Kata-kata Neji pun terputus begitu saja dan rahangnya menegang, kecemasan menghinggapi wajahnya. Hinata kini melihat sepupunya itu sedang menoleh kesana kemari. Ke arah pintu, ke arah jendela. Kadang terdiam dan memasang ekspresi seperti memasang telinga untuk memastikan sesuatu.
"Neji.." panggil Hinata.
"Ssst!" Neji mendesis cepat, meminta Hinata agar jangan bersuara dulu.
Kemudian, cowok itu bangkit dari duduknya, membuat Hinata semakin bingung. Wajah Neji masih tampak was-was. Ia berjalan ke arah jendela kamar Hinata dan mengintip keluar. Sinar bulan yang berwarna keperakan sedikit menerpa wajahnya yang tampan saat ia mencari-cari sesuatu di luar sana.
"Neji!" Hinata memanggil sepupunya lagi, kali ini lebih keras.
Neji tidak menghiraukan panggilan itu. Ia malah berjalan cepat menyeberangi kamar, menuju pintu.
"Hinata, kau tunggu disini. Jangan keluar kamar! Apapun yang terjadi, kau jangan pernah meninggalkan kamar ini. Mengerti?" perintah Neji.
Hinata, dalam kebingungannya, hanya bisa mengangguk.
"Aku akan segera kembali." Neji menambahkan.
Hinata tetap terdiam saat menatap Neji keluar dari kamarnya dan menutup pintu.
Maka, tinggallah Hinata sendirian di dalam kamarnya. Ia menarik selimut sampai sebatas dada. Bayangan tentang mimpi yang baru saja ia dapatkan tadi muncul kembali di dalam benaknya.
Sekali lagi, Hinata bergidik. Itu bukan mimpi, batinnya. Itu nyata. Aku tahu mereka benar-benar ada disana, menjerit dan meminta tolong padaku. Tapi kenapa? Dan 'disana' itu dimana?
Hinata rasanya ingin menangis. Pasti rasanya akan lebih baik jika ia menumpahkan semuanya dalam bentuk airmata. Namun ia tidak bisa. Airmatanya sama sekali tidak mau keluar. Dan itu membuat dadanya terasa sangat sesak.
Hinata masih memikirkan tentang mimpi itu saat ia menyadari kalau lima belas menit telah berlalu, dan Neji tidak kunjung kembali. Hinata mulai gelisah. Bukankah tadi ia mengatakan akan segera kembali? Tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Hinata memutuskan untuk mengabaikan kata-kata Neji dan melangkah keluar kamar.
"Neji?" Hinata memanggil.
Kesunyian menjawabnya. Lampu ruangan di depan kamarnya juga tidak menyala. Hinata berjalan ke arah saklar lampu dan menekannya. Namun tidak ada efek. Lampu itu tetap mati. Dengan hati-hati, Hinata berjalan menuju ruang tengah. Ia berharap Neji ada disana.
Namun, lagi-lagi ia tidak menemukan siapapun. Ruangan itu pun gelap. Berulang kali Hinata menekan saklar lampu, namun tak ada satu pun yang menyala. Perlahan-lahan, Hinata berjalan dalam gelap menuju pintu depan, berharap lampu dari jalanan di luar masih menyala dan akan cukup terang untuk menerangi ke dalam rumah.
Hinata membuka pintu, lalu berdiri di depan teras. Ternyata, di luar pun tidak ada bedanya. Gelap. Lampu pekarangan depannya mati. Begitu pun dengan lampu jalan di depan rumahnya. Semuanya mati. Apa sedang ada pemadaman listrik, pikir Hinata.
Dengan pemikiran tersebut, Hinata berjalan menuju pagar rumahnya untuk memastikan apakah rumah tetangganya juga mengalami hal yang sama atau tidak. Hinata menarik pintu pagar yang berderit tersebut, lalu melangkah ke tengah jalan.
Tepat saat itu, Neji berlari keluar dari pekarangan samping rumah.
"Jangan! Hinata!" serunya.
Dan bersamaan dengan saat itu juga, Hinata melihat sosok itu lagi.
Sosok familiar itu berdiri di tengah jalan, beberapa meter dari tempat Hinata berada. Hinata ingat betul dengan aura gelap itu—aura gelap aneh yang seribu kali lebih kelam daripada kegelapan yang seharusnya.
"Hinata.." Sosok itu memanggil namanya.
Dan tentu saja Hinata mengenali suara itu. Suara bernada mengalun yang begitu merdu di telinga. Suara yang begitu memikat.
"Aku sudah datang untukmu." Ia melanjutkan. "Sekarang, datanglah padaku."
Sosok gelap itu mengangkat tangan kanannya, mengulurkannya kepada Hinata, menanti gadis itu untuk menghampiri dan menyambutnya.
Namun, ekspresinya berubah marah saat seorang pria lain berambut cokelat panjang dengan cepat menarik tangan Hinata. Membawa Hinata pergi menjauh darinya. Mengalihkan Hinata dari pesona yang tengah ia alirkan pada gadis itu. Dan ia sangat tidak suka diinterupsi.
Sosok itu bergerak, berjalan dengan langkah mengancam sambil menatap tajam pada dua orang yang tengah berlari di hadapannya itu. Jalan itu sepi, hanya ada mereka bertiga. Dua lawan satu. Namun, melihat ketakutan yang tampak jelas di wajah dua orang itu, sudah jelas siapa predatornya.
"Berikan dia padaku, Neji!"
Suaranya yang tadi merdu berubah menjadi nada marah, bergema di sepanjang bangunan di kedua sisi jalan itu. Mendengar itu, Neji mempercepat laju larinya dan mempererat pegangan tangannya pada tangan Hinata.
"Kau tahu kalau dia milikku!" Suara itu terdengar lagi. "Berikan dia padaku. Kau tidak ingin berakhir seperti ayahmu, bukan?"
Hinata mendengar kalimat itu dengan jelas. Apa maksudnya? Kenapa orang itu seperti mengenal Paman Hizashi? Hinata bertanya-tanya.
Namun Neji tampak tidak menghiraukan kata-kata itu. Ia terus memfokuskan diri, berusaha membawa Hinata kabur dari sana secepatnya.
Tiba-tiba, dari arah kanan sebuah pertigaan, muncul sebuah mobil sedan berwarna perak. Mobil itu meluncur dengan kecepatan luar biasa, lalu secara ajaib berhenti mendadak di hadapan kedua saudara sepupu tersebut.
Kaca mobil itu turun dan seorang wanita muda berambut pirang terlihat dari dalamnya.
"Ayo, cepat masuklah!" serunya.
Wajah Neji tampak berubah lega saat melihat siapa yang datang. Ia dan Hinata langsung menjejalkan diri ke dalam bagian penumpang belakang mobil tersebut. Kemudian, tanpa menunggu lebih lama lagi, mobil itu menancap gas, kembali meluncur pergi dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya. Meninggalkan satu sosok berwajah marah sendirian di tengah kegelapan.
Detik berikutnya, sebuah senyuman miring yang mengejek tersungging di bibirnya.
"Larilah." Ia berkata. "Bagaimana pun, kau tidak akan bisa bersembunyi dariku."
oOo
Sepanjang perjalanan, benak Hinata dipenuhi dengan pertanyaan. Namun tak satupun dari pertanyaan-pertanyaan itu yang berani dilontarkan olehnya. Sepupunya, Neji, tampak sedang tidak bisa diajak bicara saat ini. Ia terus menoleh ke belakang mobil, seolah memastikan tidak ada seorang pun yang membuntuti mereka.
Sedangkan dua orang di bangku depan itu, Hinata sama sekali tidak mengenal siapa mereka. Hinata tidak berani berbicara pada mereka—ia selalu punya masalah berinteraksi dengan orang baru.
Diam-diam, Hinata melirik orang yang duduk di depan setir—yang baru Hinata lihat setelah masuk ke dalam mobil. Seorang pria berambut cokelat jabrik berusia sekitar dua puluh pertengahan, atau akhir, entahlah. Yang pasti pria itu tampak sedikit lebih tua dari Neji. Sedangkan yang satunya, yang menyuruh mereka untuk masuk, adalah seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluhan awal, dengan rambut pirang pendek yang ditata unik—dikuncir empat di belakang kepala.
Hinata menghela nafas perlahan, berusaha agar tidak terdengar. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada jok dan memutuskan untuk melihat pemandangan di luar jendela.
Sekitar satu jam kemudian, mobil berwarna perak itu berhenti di depan sebuah penginapan sederhana di pinggir jalan. Begitu mobil itu selesai terparkir, Neji segera menarik lengan Hinata kembali, mengikuti dua orang di depan mereka. Dengan langkah lebar-lebar, dua orang yang belum Hinata ketahui identitasnya itu memimpin Hinata dan Neji melewati lobi yang mereka temui setelah pintu masuk, menuju sebuah koridor penuh dengan pintu. Mereka kemudian memasuki salah satu pintu, yang ternyata merupakan sebuah kamar.
Kamar itu tidak terlalu luas dan berbau debu. Hanya terdapat dua buah tempat tidur—masing-masing untuk satu orang—dan sebuah meja beserta kursi di salah satu sudut ruangan. Ada pintu lain di dalam ruangan itu yang Hinata tebak sebagai kamar mandi.
Pengamatan Hinata terhenti saat ia melihat seorang pria berambut merah sudah ada di dalam sana, duduk di kursi. Ia tampak sedang mempelajari beberapa lembar kertas yang tersebar di meja di depannya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada empat orang yang baru datang itu.
"Tepat waktu." gumam pria berambut merah itu.
"Hampir." sahut pria yang berambut cokelat—yang tadi menyetir.
Wanita berambut pirang tadi memberikan isyarat pada Neji. Neji pun menuntun Hinata untuk duduk di atas salah satu tempat tidur, disusul dengan wanita itu yang duduk di seberang mereka. Sementara, dua pria yang lainnya menarik meja yang penuh kertas tadi sampai di dekat kaki Hinata, lalu berdiri tak jauh dari sana.
"Hinata." Wanita berambut pirang itu memulai. "Namaku Temari, dan aku adalah seorang pemburu supranatural."
Hinata tercengang. Pe.. pemburu supr.. Apa?
Hinata yakin ia salah dengar.
"Ma.. maaf?" tanya Hinata, berusaha memastikan telinganya tidak salah.
"Pada dasarnya, aku hanyalah seorang pemburu, hanya saja makhluk yang kuburu bukan berasal dari dunia ini." lanjut Temari. "Begitu juga dengan semua orang yang ada disini. Kedua adikku—Kankurou dan Gaara—serta sepupumu."
Hinata menoleh cepat kepada Neji dan menatap sepupunya itu dengan tatapan tidak percaya dan bingung. Neji mengerutkan dahinya, seolah meminta maaf karena telah menyembunyikan hal ini dari Hinata.
"Sekitar seratus tahun yang lalu," Suara Temari membuat Hinata menoleh kembali pada wanita itu. "banyak bertebaran ajaran dan kepercayaan-kepercayaan tentang iblis dan sebangsanya. Banyak orang yang datang kepada makhluk kegelapan itu untuk dimintai pertolongan. Tak sedikit juga yang datang atas nama kekuasaan. Ada juga yang menggunakan balas dendam sebagai alasan. Salah satu dari mereka adalah leluhur dari keluarga kalian. Hyuuga."
"Le.. leluhur kami?" tanya Hinata.
Temari mengangguk. Tangannya kemudian terulur untuk mengambil selembar kertas dari tumpukan di atas meja. Temari menyerahkan kertas itu kepada Hinata. Di dalam kertas tersebut, tampak sebuah sketsa wajah seorang pria tampan berkulit pucat dengan mata berwarna hitam yang sudah sangat Hinata kenali.
"Dia.." bisik Hinata.
"Dialah yang dimintai bantuan oleh leluhurmu." sahut Temari. "Pangeran bungsu dari tiga bersaudara iblis terkuat di masa itu, Sasuke."
Jadi itu namanya, batin Hinata. Sasuke?
"Saat istri dari leluhurmu itu terbunuh, ia datang menemui iblis ini. Ia meminta agar iblis ini mau menghabisi seluruh anggota keluarga dari pembunuh tersebut."
Temari menatap perubahan ekspresi di wajah Hinata sejenak, lalu melanjutkan,
"Bagi Sasuke, itu pekerjaan mudah. Namun, ia tidak mau bekerja tanpa bayaran.
"Sebagai ganti dari apa yang diminta oleh leluhurmu, ia menginginkan agar leluhurmu mau memberikan putri pertamanya. Leluhur Hyuuga menyetujui, maka Sasuke pun menghabisi seluruh keluarga dari orang yang dijadikan target tersebut.
"Namun, ternyata leluhurmu berbohong. Segera setelah mereka membuat perjanjian tadi, ia menikahkan putrinya dengan seorang pemuda. Ia tahu, Sasuke sangat suka meminum darah dari wanita yang masih perawan. Karena itulah, dengan siasatnya ini, ia berharap Sasuke tidak akan tertarik dengan putrinya lagi dan pergi menjauh."
Temari berhenti sejenak. Atmosfer di sekelilingnya begitu serius. Semua orang yang ada disitu mendengarkan dengan seksama, walaupun Hinata yakin mereka sudah berulang kali mendengar ini.
"Namun ternyata," lanjut Temari. "keadaannya tidak segampang itu. Sasuke murka. Ia marah besar karena merasa telah dibohongi. Sebagai hukumannya, ia mengutuk seluruh keluarga Hyuuga beserta keturunannya.
"Ia mengutuk.. setiap anak perempuan yang lahir di keluarga Hyuuga, akan meninggal sebelum ia bisa mencapai usia tujuh belas."
Jari Hinata mengepal sangat erat. Ia bisa merasakan kuku-kukunya terbenam di dalam kulit telapak tangannya. Airmatanya mulai terbit karena berbagai emosi yang bergolak dalam dadanya. Melihat reaksi Hinata, Neji memandang ke arah Temari, memohon agar ia mau menyudahi cerita itu. Temari mengerti, namun ia menggeleng.
"Ia harus mengetahuinya, Neji." kata Temari.
Cepat-cepat, Hinata menghapus airmatanya yang masih menggenang lalu mengangguk cepat.
"Temari-san benar, Neji. A.. aku harus mengetahuinya." kata Hinata dengan suara yang gemetar.
Temari menghela nafas. Ia pun melanjutkan penjelasannya,
"Kau dan adikmu, Hanabi, adalah perempuan terakhir dari semua generasi Hyuuga."
"Bag.. bagaimana dengan ibuku?" potong Hinata. "Ia sempat melahirkanku. Ia meninggal beberapa tahun yang lalu, saat berusia 39 tahun."
"Dia tidak terlahir dari keluarga Hyuuga, bukan?" tanya Temari.
Hinata menggeleng pelan.
"Wanita dari luar tidak akan terpengaruh dengan kutukan tersebut." tambah Temari.
"Apa.." Hinata kembali bersuara. "A-apa itu artinya.. aku akan mati setahun lagi?"
Bahu Neji menegang saat mendengar pertanyaan tersebut. Temari menghela nafas.
"Disinilah masalahnya dimulai." jawab wanita itu.
Alis Hinata mengkerut. "M-masalah?" tanyanya.
"Kankurou," panggil Temari pelan.
Pria yang berambut cokelat bergerak. Ia mengambil sesuatu dari bawah tumpukan kertas tadi, lalu menebarkannya satu persatu di atas meja.
"Lihatlah." katanya.
Hinata beringsut mendekat ke arah meja untuk melihat kertas-kertas itu. Ternyata, kertas-kertas itu adalah foto.
Dan foto-foto itu membuat alis Hinata semakin mengkerut.
Semua foto itu menampilkan gambar Hinata sewaktu masih kecil—dari ia masih bayi sampai berumur sekitar dua tahun. Hinata ingat, saat itu ia dan kedua orangtuanya masih tinggal di rumah Paman Hizashi sebelum akhirnya pindah ke Konoha. Di setiap foto itu, semuanya selalu menampilkan satu benda yang sama.
Bola mata.
Dimana pun Hinata berada—di kamarnya, di taman, di ruang TV—selalu ada satu bentuk bulat dengan titik hitam di tengahnya, persis seperti bola mata yang ada dalam kotak hadiah itu. Bola mata itu terlihat selalu muncul di dekat Hinata, menatap ke arahnya, seolah sedang mengawasinya.
"Itu Sasuke." ujar Kankurou.
Bulu kuduk Hinata meremang saat melihat foto itu. Bagaimana mungkin, ternyata selama ini, sejak kecil ia sudah diawasi oleh sesosok iblis?
"Kenapa?" tanya Hinata.
Temari dan dua saudaranya menoleh ke arah Hinata.
"Ken.. kenapa ia ada disana?" Hinata memperjelas pertanyaannya sambil menatap Temari. "Kenapa.. i-iblis bernama Sasuke ini.. Kenapa ia mengawasiku?"
"Dugaan kami, ia menginginkan darahmu. Kau ingat kata-kataku tadi tentang apa yang Sasuke minum, bukan?" ujar Temari.
Hinata mengangguk pelan. Darahku, pikir Hinata.
Temari melanjutkan. "Suatu malam, saat kau masih tinggal di rumah Neji, dia mendatangi keluargamu. Ia ingin membawamu pergi bersamanya. Pamanmu, Hizashi, sampai memohon pada Sasuke agar ia mau membatalkan niat tersebut. Tapi Sasuke malah membuat perjanjian lain. Ia tidak akan membawamu yang saat itu masih berumur dua tahun. Namun, ia akan datang lagi setahun sebelum usia tujuh belasmu, yang artinya itu adalah sekarang.
"Hizashi memberitahukan hal itu kepada orangtuamu, yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk menjauhkanmu dari Sasuke, yaitu dengan berpindah ke Konoha. Mereka memang tidak berani macam-macam dengan Sasuke, namun mereka juga tidak akan tinggal diam jika iblis itu berani menyentuhmu.
"Karena itulah, ayah dan pamanmu menemui ayahku dan aku yang saat itu sudah 'berprofesi' sebagai pemburu. Selama beberapa tahun, secara diam-diam, kami berusaha melindungimu dari Sasuke. Menyembunyikanmu sedemikian rupa agar iblis itu tidak bisa menjangkaumu. Hizashi bahkan meminta pada kami untuk melatih Neji, agar nanti ia juga bisa ikut membantu. Walaupun kami tahu, hal itu tidak akan mudah mengingat Sasuke akan selalu mencari keberadaanmu menggunakan kekuatannya."
"Jadi.. se-selama ini, bukan singa atau beruang yang kau b-buru, Neji?" tanya Hinata.
"Maaf." Hanya itu yang terlontar dari mulut Neji.
"Kemudian, saat kedua adikku sudah cukup kuat untuk bergabung, kami memutuskan untuk mencoba menggempur Sasuke. Namun kami gagal. Kami tidak pernah menyangka kalau kekuatan Sasuke akan sebesar itu. Belum lagi, kedua saudaranya ikut melawan kami. Percobaan itu malah membuat Gaara terluka parah.. dan bahkan sempat dinyatakan meninggal selama beberapa jam. Entah bagaimana caranya, secara ajaib ia bisa bernafas kembali."
Hinata melirik ke arah Gaara. Pria berambut merah itu ternyata juga sedang menatap tajam ke arahnya. Garis hitam di sekeliling mata hijau pria itu tampak sangat mengerikan bagi Hinata, jadi ia pun mengalihkan pandangannya kembali ke arah Temari.
Dan kalimat selanjutnya yang diucapkan wanita itu membuat Hinata tercekat.
"Ayah kami tewas, dan Hizashi tidak dapat kami temukan. Jasadnya menghilang, dan kami berasumsi bahwa Sasuke telah menghabisinya."
Mendengar itu, Hinata sama sekali tidak berani menoleh untuk melihat reaksi Neji. Ia yakin ia tidak akan suka melihatnya. Jadi ini yang tadi dibicarakan oleh Sasuke? Jadi Paman Hizashi meninggal karena dihabisi oleh Sasuke, bukan karena kecelakaan kendaraan seperti yang Neji pernah ceritakan?
Temari kembali meneruskan ceritanya. "Sejak itu, Neji tinggal bersama kami selama hampir empat tahun. Nomaden. Itulah kenapa orangtuamu tidak pernah mengajakmu mengunjungi Neji lagi sejak ayahnya meninggal. Karena ia sedang bersama kami yang masih sibuk berusaha menjauhkan Sasuke darimu. Diam-diam, tentunya.
"Atas usulan dari Neji sendiri, ia pun lalu berpura-pura berkuliah di Universitas Konoha dan tinggal menumpang di rumahmu. Alasan sebenarnya, tentu saja agar ia bisa lebih mudah memantau keadaanmu. Terutama karena kami tahu, waktu yang dijanjikan oleh Sasuke sudah semakin dekat."
"Hinata." panggil Kankurou. "Apa kau pernah mendengar berita tentang air yang berubah merah dan berbau amis, juga tentang ternak-ternak yang mati serta hama yang tiba-tiba muncul dengan jumlah tak terkira itu?"
Hinata mengangguk. Kalau tidak salah ia menontonnya beberapa hari yang lalu.
"Itu adalah ulah Sasuke." lanjut Kankurou. "Itu bentuk ancamannya kepada kami agar tidak ikut campur. Ia bahkan membuat kampung halaman kami di Suna diguyur oleh hujan asam."
Hinata menggigit bibir bawahnya. Perasaan bersalah muncul dalam dadanya.
"Temari-san," bisiknya.
"Ada apa?" sahut Temari.
"K.. kenapa kau mau melakukan semua ini? Kau.. kau tidak benar-benar mengenalku. Ke.. kenapa kau mau mati-matian melakukan semuanya?" tanya Hinata.
Temari tersenyum miring. "Kau tahu, awalnya semua ini hanyalah tugas bagiku. Karena yang ada di pikiranku, sesuatu seperti ini adalah pekerjaan. Seseorang menyewaku, lalu aku akan dibayar. Lambat laun, aku mulai menikmatinya, dan hal-hal tentang berburu ini akhirnya menjadi hobi.
"Namun, ketika Sasuke membunuh ayahku, misi ini berubah menjadi pembalasan dendam. Aku harus menghabisinya. Sasuke harus membayar sangat mahal untuk nyawa ayahku. Dan aku.."
BRAKKKKK!
Tiba-tiba, suara dentuman keras di luar membuat kata-kata Temari terputus dan perhatian semua orang teralihkan. Gaara yang pertama kali bergerak. Ia berjalan cepat ke arah jendela dan mengintip ke luar. Matanya terbelalak sekilas saat melihat sesuatu di luar sana. Dengan cepat, ia langsung berbalik dan menyambar sebuah senapan dari bawah tempat tidur, kemudian berlari ke luar. Kankurou yang mengerti maksud dari reaksi Gaara itu langsung cepat-cepat menyusul adiknya.
"A.. apa yang terjadi?" tanya Hinata.
"Sasuke ada di luar." jawab Neji.
Seketika, darah berdesir cepat di sekujur tubuh Hinata. Suara-suara lain hanya terdengar sayup-sayup, tersamarkan oleh suara degup jantung Hinata yang amat kencang.
Temari tampak hendak berlari ke luar. Namun saat sampai di ambang pintu, ia berbalik dan menoleh ke arah Neji.
"Kalian tetap disini. Neji, jaga Hinata!" seru Temari.
Neji mengangguk cepat. "Baik!"
Segera setelah Temari pergi, Neji langsung menutup pintu kamar dan menarik Hinata agar merapat dengannya. Hinata berlindung di balik punggung Neji, mencengkeram bagian belakang kaus sepupunya itu. Kedua tangan Neji bersiap dengan sebuah pistol.
Di luar sana, suara-suara tembakan terdengar. Bersahut-sahutan dengan suara geraman yang sepertinya bukan berasal dari manusia. Suara-suara geraman itu terdengar lebih seperti binatang.
Mendadak, salah satu dinding kamar yang menghadap langsung keluar pun roboh, seperti ditarik. Seseorang tampak sudah berdiri di balik kepulan debu batu bata. Dan Hinata dengan mudah mengenali siapa orang itu.
"Sa.. Sasuke.." bisiknya perlahan.
Mata sehitam batu onyx milik Sasuke menatap tajam ke arah Neji dan Hinata. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.
"Kau sudah mengetahui namaku?" tanya Sasuke.
Hinata semakin menyembunyikan diri di belakang Neji. Sekilas, ia mencoba melirik suasana di belakang Sasuke. Temari dan adik-adiknya tampak sudah terikat jauh di atas, di puncak sebuah tiang kayu setinggi sekitar sepuluh meter dari permukaan tanah.
Hinata merasa ngeri. Bagaimana mungkin mereka bisa dikalahkan semudah itu?
Sasuke mengulurkan tangannya ke depan, kembali menunggu Hinata. "Ikutlah denganku, Hinata."
Hinata tidak bergerak. Neji mengacungkan senjatanya pada Sasuke.
"Jangan macam-macam kau, Sasuke!" ancam Neji.
DORR! DORR!
Dua tembakan dilepaskan oleh Neji dan keduanya mengenai dada Sasuke. Namun, Hinata melihat dengan jelas bahwa iblis itu sama sekali tidak terpengaruh. Ia malah menyunggingkan seringai dingin, membuat wajahnya yang rupawan menjadi terlihat seperti psikopat.
"Aku sudah muak denganmu." geramnya.
Mendadak, mata Sasuke yang kelam berubah warna menjadi semerah darah. Dan seketika itu juga, bahu Neji terlepas dari cengkeraman Hinata. Cowok itu terlempar jauh dari Hinata, terpelanting beberapa meter sebelum kemudian punggungnya menabrak tembok. Hinata menyaksikannya dengan jeritan tertahan.
"Neji!" serunya.
Hinata hendak melangkah ke arah sepupunya itu untuk memastikan keadaannya, namun tiba-tiba sesuatu yang lain terjadi. Tanah di bawah kaki Hinata mendadak retak. Garis berwarna merah menyala seperti api memisahkan Hinata dengan Neji. Retakan itu melebar, membuat Hinata mau tak mau mundur agar tidak terjatuh ke suatu tempat di bawah retakan itu. Kemudian, retakan itu menjalar dan mengelilingi Hinata. Hingga akhirnya, Hinata kini berdiri di atas tanah berbentuk lingkaran dengan diameter hanya sekitar dua meter saja. Di sekelilingnya, lidah api panas yang muncul dari dalam tanah berkobar-kobar sangat tinggi, seakan menciptakan dinding pemisah antara Hinata dengan lingkungan sekitarnya, termasuk dengan Neji.
Sosok Sasuke muncul dari balik kobaran api itu, tepat di depan Hinata. Iblis itu melayang beberapa sentimeter di udara. Matanya masih berwarna merah.
"Aku tidak ingin kau lari lagi." ujarnya. "Aku hanya ingin kau ikut denganku. Apakah itu terlalu sulit bagimu?"
"H-hentikan!" seru Hinata. "Hentikan semua ini, Sasuke. Aku mohon padamu."
"Aku tidak ingin kau memohon padaku, Hinata. Aku ingin kau ikut bersamaku."
"A.. aku tidak mau! Kau.. kau sudah menyakiti banyak orang!"
Rahang Sasuke mengeras. Ia berusaha keras menahan rasa kesalnya agar ia tidak melukai gadis ini tanpa ia sadari. Ia mendengus.
"Kurasa aku tidak punya pilihan lain." katanya.
Kemudian, tangan Sasuke terangkat dan sesuatu muncul dari balik kobaran api di sebelah kanan Hinata. Bentuknya seperti kerangkeng besi yang sangat besar. Hinata terbelalak saat melihat apa yang ada di dalam kerangkeng tersebut.
"Sakura! Ino! Tenten!" seru Hinata.
Ya, ketiga teman Hinata itu ada di dalam kerangkeng besi tersebut. Pakaian mereka compang-camping, wajah mereka penuh keringat dan jelaga. Mereka tampak sangat letih.
Sebuah kerangkeng lain muncul dari sisi kiri Hinata. Hinata sempat menebak-nebak, siapa yang mungkin ada di dalam sana. Namun ternyata, orang yang ada di dalam sana, adalah orang terakhir yang akan Hinata harapkan akan terlibat dengan semua ini.
Naruto.
"N.. Naruto-kun.."
Hinata menoleh ke arah Sasuke, menatap dengan penuh kebencian pada iblis itu.
"Kalau memang kau tidak ingin ikut denganku, tidak masalah. Tapi, aku hanya ingin memberitahumu kalau teman-temanmu sudah menjadi milikku sekarang. Siapa yang tahu nasib mereka kelak?" goda Sasuke.
"K.. kau.. Lepaskan mereka!" Hinata menjerit.
"Kenapa kau pikir aku mau melepaskan mereka begitu saja? Bisa saja sih. Tapi.."
Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Rencananya akan berhasil dengan mudah. Ia sudah bisa menebak jalan pikiran Hinata.
"..kau hanya boleh memilih satu. Mana yang akan kau bebaskan? Teman-temanmu atau orang yang kau kasihi? Pilih dengan bijak." pancing Sasuke.
Hinata merasakan airmatanya terbit. Tentu saja ia tidak bisa memilih. Mereka semua sangat berarti baginya. Siapapun yang ia pilih, sudah pasti akan menyisakan penyesalan besar untuknya.
Hinata meremas-remas tangannya. Ia tahu, sangat tahu kalau ia masih punya pilihan ketiga. Bukan pilihan terbaik, namun juga bukan yang terburuk. Mau tak mau, ia hanya bisa mengambil pilihan ini.
"Aku memilih.." ujar Hinata.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, menunggu dengan sangat antusias.
"..diriku sendiri."
Bingo, batin sang iblis.
"Dirimu sendiri?" Sasuke pura-pura bertanya.
"Y.. ya! Lepaskan mereka d-dan.. dan aku akan ikut denganmu." lanjut Hinata.
Sasuke tertawa dalam hati. Benar-benar gadis yang polos dan baik hati. Ia menyembunyikan kesenangannya itu dalam sebuah senyuman tipis yang lembut.
"Tidak sulit, bukan?" tanya Sasuke. "Kemarilah."
Hinata berjalan perlahan ke arah Sasuke. Kedua kakinya gemetaran. Semakin pendek jarak mereka, Hinata merasa dadanya semakin sesak. Hatinya sakit. Pada akhirnya, apapun yang sudah dilakukan oleh Neji serta Temari dan kedua adiknya, semuanya itu sia-sia. Pada akhirnya, Hinata tetap harus menyerahkan dirinya pada Sasuke. Harusnya sejak awal saja semuanya berjalan seperti ini, sehingga tidak harus ada pihak yang kehilangan. Hanya demi menyelamatkan satu nyawa, banyak orang jadi terluka seperti ini.
Hinata sampai di depan Sasuke, tepat saat kerangkeng berisi ketiga teman Hinata dan Naruto terbuka. 'Tawanan' di dalamnya segera melangkah ke luar dengan ketakutan dan kebingungan. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.
Hinata menoleh ke belakang, lalu tersenyum saat melihat teman-temannya sudah dibebaskan. Ia menatap Naruto dan rambut pirangnya yang terlihat dekil. Cowok itu tidak menyadari kalau Hinata ada di sana, tak jauh darinya. Ia tak pernah mengetahui keberadaan Hinata, tak pernah melihat perasaan gadis itu padanya, dan Hinata tahu, selamanya akan tetap jadi seperti itu. Senyuman Hinata berubah menjadi pahit. Ia kemudian berbalik menghadap Sasuke.
"Sa.. Sasuke, sebelum aku ikut denganmu, a-apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Hinata.
"Apa saja." sahut Sasuke.
"Kembalikan ini semua." Hinata melanjutkan. "Kembalikan semuanya seperti semula. Tapi, hapuslah memori mereka. Buat mereka melupakanku. Buatlah seolah-olah aku tak pernah terlahir di dunia ini."
Sasuke tampak terkejut dengan permintaan itu, sedikit tidak menduganya.
"Kenapa kau menginginkan hal itu?"
"Aku ingin mereka melupakanmu. Namun tidak akan bisa, jika mereka masih mengingatku. Karena itu, satu-satunya cara hanya dengan membuat mereka melupakanku. Dengan begitu, mereka tidak akan pernah mengetahui keberadaanmu lagi."
Sasuke tertegun sejenak mendengar penjelasan itu. Namun kemudian, ia hanya bisa memejamkan mata sambil tersenyum. Saat ia membuka matanya lagi, kedua bola matanya sudah menjadi warna hitam kembali.
"Itu hal yang mudah. Biar Sai yang mengurusnya." katanya.
Sasuke kemudian mengulurkan tangannya ke depan, sekali lagi menunggu Hinata menyambut uluran tangan itu.
Hinata sempat ragu sejenak. Ia menatap tangan pucat itu dengan perasaan cemas. Kemudian, ia menghela nafas, lalu mengangkat tangannya sendiri untuk menggapai tangan Sasuke.
Segera setelah tangan mereka saling terkait, kedua sosok itu menghilang. Pudar di tengah kobaran api yang masih menampar-nampar udara. Tersedot jauh menuju sebuah dunia baru yang diselimuti kegelapan.
To Be Continued..
A/N:
Ehehehe, aku cuma bisa nyengir gaje pas baca ulang chapter gaje ini. Apa-apaan ini? Ceritanya kok semrawut banget, thor? Ya, aku bakal maklum banget kalo ada yang berpikiran seperti itu. Emang aku tuh kayaknya iseng banget deh, bikin orang bingung sama jalan cerita.
Yah, kalo pada bingung, pada mau protes, pada mau demo mungkin kalo ada? Sah-sah aja kok, dibayar tunai malah. *digaplok* Silahkan ngomel sampe lega sama aku. ^_^v
Jadi begini, aku jujur aja, ok? Bagian yang foto-foto itu, aku dapet inspirasi dari Insidious. Trus bagian yang berita soal darah, dkk aku ambil dari film The Mummy sama Constantine. Bagian yang kejar-kejaran itu, aku kepikiran waktu lagi nonton End of Days. Entah ada yang nyadar atau nggak sama bagian-bagian itu. Kuharap sih ada, jadi aku nggak akan merasa bersalah. Hehehe.
Oh ya, pas banget waktu aku lagi buntu sama bagian Sabaku bersaudara muncul—tadinya malah mau aku hilangin bagian mereka—eh, ternyata di TV muncul Supernatural. Aku jadi termotivasi gitu bikinnya. *maklum, baru pulang dari antah berantah, baru ketemu tipi lagi*
Maaf lagi sebesar-besarnya kalo alurnya masih kecepetan, soalnya aku juga lagi dikejar deadline banyak, tapi gemes juga pengen update ini. Jadilah aku bikin chapter ngebut ini. Ampuni saya, ya, readers.. T.T
Baiklah, kali ini aku pengen bales review readers yang charming-charming ini. Here we go:
Kuro: Sudah di-update ya
auricavip: Kuusahain nggak akan lama kok. Makasih, Udah update lagi nih. :D
Gudegjogja: Sudah ku update nih. Nggak terlalu lama kan? :p
KyoDe: Sudah di-update ya. :D
lavender hime chan: Hehe, makasih. Iya, kuusahain chapter depan bakal lebih banyak SasuHina. Sudah di-update ya.
ulva-chan: Uwaaa, review-nya ulva-chan bikin aku blushing deh. *plakk* Hehehe, makasih banyak atas pujiannya. Makasih juga atas sarannya, lain kali kuusahain keterangan waktunya lebih jelas. Gimana dengan chapter ini? *maksud terselubung, mengharap review* Aku juga ngeri deh. Nah, pertanyaannya sudah terjawabkah? Apa kurang puas?
RajaKelelawar: Wah, makasih banyak kalo gitu. Gimana, pertanyaannya sudah terjawabkah? Apa masih kurang puas? :p
uchihyuu nagisa: SasuHina rate M.. Aku juga seneng mendengar kata-kata itu. *ketawa mesum* Hehehe, makasih fav-nya.. :D
Hyou Hyouchiffer: Oalaah, Narnia toh. Tapi disini Narnia-nya versi rate-M. :p Dari chapter ini, udah tau dong umur Hinata berapa? Trus udah tau juga dong saudara-nya Sasuke siapa.. *tralalala*
Miya-hime Nakashinki: Eh? Padahal aku sama sekali nggak bermaksud buat nakutin siapa-siapa kok. Sumpah, beneran. *nelen ludah* Sudah di-update, udah tau dong jawabannya. :p
Yamanakaem0: Ah, aku tau. Mimpi pertamanya pasti ketemu Deidara, mimpi kedua ketemu Kisame, trus mimpi ketiga ketemu sama.. uhm.. Pein? Huuu, author-nya sotoy. Sudah di-update ya.. :D
Fujiwara Ami: Ahahaha, ini udah balapan sama gluduk. Udah di-update. Apa kurang gluduk? Hehehe. :p
Firah-chan: Iya, semoga. Aku juga berharap bisa mengkhatamkan fic ini. Dukung saya ya! ^_^
Desy Cassiotaku: *akhirnya ada yang mengkritik* Iya, sebenernya aku juga kurang suka kalo Hinata gagap. Cuma entah kenapa aku jadi bikin dia jadi gagap. Maaf kalo terkesan maksa, kan yg pertama itu dia lagi malu di depan kelas. Kalo sama Neji, dia kan lagi marah. *ah, author banyak alasan! chidori* Bagaimana dengan yg sekarang? Apa udah lebih baik?
choco momo: Makasih. Ini sudah update kok. :D
Yah, karena aku udah ngantuk berat, otaknya udah minta hibernate, jadi aku mohon kritik dan saran dari readers semuanya ya. Kalo bisa kritik yang banyak, tapi yg membangun. Oke?
Akhir kata, arigatou gozaimaaaaaaaaaasu! ^o^
