Summary:
Hinata bisa merasakan seseorang mengawasinya, menunggunya dari suatu tempat di balik dunia ini. Di sebuah dunia dimana eksistensi kehidupan tidak diizinkan untuk berada.
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei. Kalo Naruto punyaku, mungkin judulnya udah berubah jadi SasuHina. XD
Pairing: Sasuke – Hinata
Rate: M *kalem*
Genre: Romance/Supernatural
Warning: OOC (mungkin), miss typo di suatu tempat, AU, alur terlalu cepet, sedikit mild profanity, trus... *apa lagi ya?* oh ya, we have lime here! Tapi nggak yang aneh2 kok. Pokoknya aku udah bilang loh, don't like, don't read :)
.
.
.
.
.
Fallen : Angel
by. Kazahana Miyuki
Sebuah garis putih hadir dalam penglihatan Hinata, membelah kegelapan. Garis putih itu kemudian melebar, menelan warna hitam yang tadi menyelubunginya. Sebuah wajah terlihat. Wajah yang sangat rupawan, batin Hinata.
"Hinata?"
Sebuah suara terdengar. Suara yang sama indahnya dengan wajah di hadapannya itu.
Hinata kini bisa melihatnya dengan jelas. Rambut biru gelapnya. Bibir tipisnya. Kulit pucatnya. Hidung mancungnya. Mata hitamnya. Hanya ada satu nama yang terlintas di pikiran Hinata saat itu.
"S.. Sasuke?" tanya Hinata.
Wajah itu mengangguk. Ekspresi kelegaan terbit di sana, menghapus kekhawatiran yang sedetik lalu masih membayanginya. Ia lalu tersenyum. Hinata harus mengakui kalau ia sangat menyukai senyuman itu. Senyuman Sasuke.
Sasuke tanpa sadar mendekat ke arah wajah Hinata. Menempelkan keningnya pada mata sayu gadis itu. Rambut biru gelap Sasuke jatuh ke atas bibir Hinata. Hinata bisa merasakan uap hangat dari hidung Sasuke membelai bagian bawah dagunya.
Anehnya, Hinata sama sekali tidak merasa risih dengan posisi itu. Wajahnya memang memerah dan ia sempat berpikir untuk menghindar. Tapi, tidak tahu karena tubuhnya terlalu lemah atau ada alasan lain, Hinata tidak bergerak. Ia biarkan saja wajah mereka terus bersentuhan seperti itu. Semakin lama, Hinata mulai merasa nyaman. Menghirup aroma yang sangat enak yang menguar dari rambut Sasuke.
Kemudian, setetes air jatuh membasahi pipi Hinata. Dan Hinata sangat yakin tetesan air itu bukanlah miliknya.
Hinata menarik wajahnya sedikit ke samping agar dapat melihat wajah Sasuke. Dan dugaannya benar.
Sasuke menangis.
Hinata mengerutkan alis. Pemandangan itu sangat janggal untuknya.
"K-kau.." Hinata terbata.
Sasuke memalingkan muka dan menyeka kantung matanya yang basah. Ia kemudian menegakkan tubuhnya dan tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke kemudian.
Hinata masih memandangnya dengan bingung. Gadis itu kemudian mencoba menarik tubuhnya untuk duduk. Ia bertumpu pada kedua lengannya, lalu meringis.
Tangan kanannya terasa sangat nyeri. Seraya merapikan posisi duduknya, Hinata mengecek tangan kanannya.
Telapak tangannya sudah dibalut oleh perban. Ada sedikit bau obat antiseptik yang tercium dari sana. Hinata pun kemudian teringat kenapa ia bisa mendapatkan perban itu.
"T.. tanganku..?"
"Lain kali, kau jangan lakukan itu lagi." potong Sasuke.
Hinata menengadah kembali untuk menatap Sasuke. Belum pernah ia melihat wajah Sasuke selembut itu. Sorot mata hitamnya tampak sangat teduh, membuat Hinata merasa tenang.
Tidak ada respon dari Hinata, Sasuke melanjutkan, "Jangan pernah melukai dirimu sendiri untukku."
"Bukan." sahut Hinata. "A-aku tidak melukai diriku sendiri. Aku.. aku hanya ingin menolongmu."
"Aku baik-baik saja, Hinata." Sasuke balas menyahut. "Aku memang akan melemah, tapi aku tidak akan mati. Sedangkan kau? Jika aku lupa diri, kau bisa..."
Sasuke tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Mereka kemudian saling terdiam. Kamar yang hampir kosong itu pun senyap. Hanya ada suara nafas yang berhembus perlahan dari dua orang yang duduk berhadapan di atas tempat tidur itu.
"T-tadi.." suara lembut Hinata memecah kesunyian itu. "kau.. menangis?"
Sekali lagi, Sasuke memalingkan wajah. Hinata bisa melihat, dari bentuk wajahnya, Sasuke sedang tersenyum. Pria itu kemudian kembali berbalik menghadap Hinata, masih belum bisa menahan senyumannya.
"K-kenapa kau malah tersenyum?" tanya Hinata lagi.
"Apa aku jadi terlihat konyol?" Sasuke balik bertanya.
Hinata menggeleng. "Tidak. A-aku hanya penasaran. Aku tidak tahu.. k-kalau iblis bisa menangis."
Senyuman Sasuke melebar. Matanya mengarah ke seprai, tenggelam sejenak dalam pikirannya sendiri.
"Itu karena aku menertawakan kebodohanku." jawabnya.
"Ke.. kebodohan?"
Sasuke menatap gadis di hadapannya. "Aku sadar, aku ini masih sangat lebih labil dibanding kedua kakakku. Sehingga apa yang kulakukan sering kali tidak dengan pemikiran matang terlebih dahulu. Seperti sekarang.
"Aku tidak tahu apa yang ada di otakku sewaktu aku memutuskan untuk menghukum diriku sendiri. Aku bisa menebak kalau Sai akan memberitahu keadaanku padamu. Tapi, bodohnya, kenapa aku bisa lupa kalau aku akan berubah wujud?
"Aku panik saat aku tiba-tiba berubah di hadapanmu. Sangat panik. Karena saat kami berubah, logika menghilang. Akal sehat tertutupi oleh keinginan untuk melukai dan membunuh. Yang ada hanya haus dan lapar.
"Aku berharap kau kabur saat itu. Atau setidaknya Sai membawaku ke tempat lain."
Sasuke berhenti sejenak, lalu mendengus kecil sebelum melanjutkan,
"Sepertinya Sai juga tidak menyangka kalau kau masih ada disitu."
Hinata tersenyum kecil. "A-aku sendiri tidak menyangka kalau aku masih disitu." sahutnya.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Sasuke.
"Aku.." Hinata berpikir sejenak, lalu mengangkat bahunya perlahan. "Aku juga tidak mengerti. A-aku hanya tidak tega melihatmu kesakitan seperti itu."
Sasuke terkekeh. "Apa itu karena kau sudah mulai menyukaiku?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan yang tidak diduganya itu, rona merah segera menjalar di pipi Hinata. Telinganya bahkan terasa panas. Kenapa Sasuke tiba-tiba berkata seperti itu?
Sasuke, melihat reaksi Hinata, semakin tidak bisa menahan senyumnya. Ia suka wajah Hinata yang seperti itu. Di matanya, Hinata tampak lebih cantik jika sedang merona.
Tiba-tiba, perut Hinata berbunyi. Cukup keras, tanda bahwa gadis itu sangat lapar.
"Benar juga." ujar Sasuke. "Kau belum sarapan, bukan?"
Sasuke bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah meja bundar dan mengangkat sebuah nampan yang sepertinya sudah ada disana sejak sebelum Hinata sadarkan diri. Sasuke lalu berjalan kembali ke arah Hinata dan meletakkan nampan itu di meja kecil di samping tempat tidur. Di atas nampan itu, ada semangkuk sup bayam bening yang masih mengepul serta segelas susu dan beberapa buah-buahan.
Sasuke mengangkat mangkuk sup itu dan menyodorkannya pada Hinata.
"Makanlah. Hati-hati, masih agak panas."
Hinata menerima mangkuk itu dari tangan Sasuke. Aroma bayam yang manis memenuhi indera penciuman Hinata. Dengan perlahan, ia berusaha menggenggam sendok untuk menyantap sup itu. Namun, rasa nyeri di telapak tangannya membuat gadis itu kesulitan. Setiap kali telapak tangannya tertekuk, rasanya sangat sakit. Seperti ditusuk-tusuk. Tidak mungkin ia menggunakan sendok hanya dengan satu atau dua jarinya saja. Pasti akan tumpah kemana-mana.
Sepasang tangan pucat meraih mangkuk kristal itu kembali dari tangan Hinata. Hinata mendongak dan melihat Sasuke sedang sibuk mengaduk-aduk sup itu. Ia kemudian menyendok sedikit bagian dari sup tersebut dan menyodorkannya di depan bibir Hinata.
Sasuke menyuapi Hinata.
Rona merah yang lebih tipis hadir kembali di pipi Hinata. Ia bisa mendengar denyut nadinya berdesir cepat, sangat jelas di dekat telinganya. Tapi anehnya, Hinata sama sekali tidak merasa terganggu dengan keadaan itu. Ia membiarkan bibirnya terbuka dan suapan dari Sasuke memasuki mulutnya.
Sesendok demi sesendok, Sasuke terus menyuapi Hinata dengan lembut. Rasa bersalah terpancar jelas dari wajahnya yang tampan. Mungkin ia sadar, Hinata kesulitan makan gara-gara dirinya.
Pertanyaan Sasuke kemudian terbesit kembali di dalam benak Hinata.
'Apa kau sudah mulai menyukaiku?'
Apa aku menyukainya, Hinata mengulangi pertanyaan itu dalam hati.
Sejauh yang Hinata lihat, walaupun masih agak kasar, ia bisa melihat kalau Sasuke berusaha bersikap lembut dan baik padanya. Mungkin ia begitu agar Hinata merasa nyaman? Mungkin juga agar Hinata tertarik padanya? Apapun alasannya, Hinata harus mengakui kalau dia memang mulai merasa ingin dekat dengan Sasuke lebih jauh lagi.
Tapi Sasuke adalah iblis—sisi lain Hinata memperingatkan. Siapa yang tahu kalau kali ini Hinata hanya beruntung? Siapa yang tahu kalau lain kali, jika Sasuke berubah lagi, dia akan benar-benar menghabisi Hinata?
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sasuke tiba-tiba.
Hinata menyadari kalau ia sudah menyantap tiga perempat dari isi sup itu, dan sekarang perutnya sudah terasa lebih kenyang. Hinata meraih serbet dari atas nampan, lalu menyeka bibirnya yang basah oleh kuah sup.
"T-tidak ada." sahutnya kemudian.
"Hn." sahut Sasuke. "Aku berharap kau mau menceritakan sesuatu padaku. Apa saja. Aku ingin menjadi pendengarmu."
Hinata tersenyum, lalu mengangguk. "Mungkin lain kali." ujarnya.
"Apa itu artinya kau tidak akan menghindar lagi dariku?"
Hinata tidak menjawab. Sebagai respon, ia lagi-lagi hanya mengangkat bahunya sedikit. Senyuman kecil yang manis masih menghiasi wajahnya.
Sasuke membalas senyuman itu, kali ini menampilkan sederet giginya yang putih dan rapi.
"Kau sudah selesai?" tanya Sasuke, sambil mengacungkan mangkuk.
Hinata mengangguk lagi. "Ya. Aku sudah kenyang. Terima kasih."
Sasuke meletakkan kembali mangkuk kristal itu di atas nampan, lalu mengambil gelas berisi susu dan memberikannya pada Hinata. Hinata menerima gelas tersebut dan menghabiskan isinya hanya dalam beberapa teguk. Melihat itu, Sasuke hanya bisa tertawa kecil.
Hinata menurunkan gelas, memperlihatkan noda putih di atas bibir mungilnya. Sebelum Hinata sempat menyekanya dengan serbet, jari Sasuke yang pucat sudah mendahuluinya. Ibu jari Sasuke menghapus sisa susu di bibir atas Hinata, membuat gadis itu lagi-lagi merona.
Sasuke kemudian menatap Hinata lekat-lekat, mengurung gadis itu di dalam kegelapan matanya yang kali ini lebih teduh. Wajah Hinata semakin terasa hangat. Terutama ketika perlahan-lahan, Sasuke memajukan wajahnya mendekati Hinata.
Hinata membeku di tempat. Ia tidak tahu harus melakukan apa, karena ia sendiri tidak yakin pada apa yang hendak Sasuke lakukan. Gadis itu terdiam disana. Kedua tangannya menggenggam seprai, seolah mencari tempat berpegangan. Semakin dekat Sasuke dengan wajahnya, genggaman itu semakin erat. Hinata berusaha mengabaikan rasa perih yang terasa mencakar dari telapak tangannya.
Kemudian, Sasuke menutup jarak di antara mereka. Bibir tipis Sasuke bertemu dengan bibir Hinata yang mungil. Bersentuhan dengan lembut. Sangat lembut. Perlahan-lahan, Sasuke menekan bibirnya, membuat bibir mereka lebih menempel lagi.
Hinata merasa sekujur tubuhnya lemas. Ototnya seolah berubah menjadi lembek. Tulangnya seolah berubah setipis kertas. Bibirnya terasa aneh, karena baru kali ini ada bibir orang lain yang menyentuhnya.
Tidak hanya menyentuh, Sasuke mulai menggerakkan bibirnya, mengulum bibir bagian atas Hinata. Menyesap rasa susu yang masih tersisa disana. Rasa itu terasa aneh dan asing, namun Sasuke justru menyukai sensasinya. Mungkin karena ia merasakannya langsung dari bibir Hinata? Yang pasti, ia jadi menginginkan lebih.
Sasuke berpindah ke bibir bawah Hinata, kali ini lidahnya ikut berperan. Satu sapuan kecil membuat Hinata terkesiap dan tanpa sadar membuka sedikit bibirnya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sasuke. Ia memajukan indera pengecapnya itu perlahan, mengeksplorasi lebih jauh.
Kepala Hinata terasa berputar-putar. Jantungnya bertalu-talu, memukul tulang rusuknya, terasa meronta ingin keluar. Tapi Hinata menyukainya. Bibir Sasuke terasa manis. Ia tidak pernah menyangka kalau rasanya akan semanis itu. Juga cara Sasuke bermain-main dengan rongga mulutnya dan bagaimana ia sendiri kemudian ikut bergabung bersama Sasuke—ini benar-benar sesuatu yang baru bagi Hinata.
Ciuman pertama, begitukah sebutannya?
Ciuman yang selama ini selalu Hinata harapkan akan ia dapat dari Naruto, kini malah menjadi milik Sasuke, seorang iblis.
Lucu, Hinata bahkan mengabaikan kenyataan itu. Ia menulikan dirinya dari sebuah bagian di dalam hatinya yang menjerit bahwa Sasuke bukanlah manusia.
Manusia atau iblis, Hinata merasa dirinya sedang tidak bisa membedakan dua kata itu. Pikirannya terfokus pada kegiatan mereka. Saling memagut dan melumat bibir satu sama lain. Saling mengecap rasa masing-masing yang membuat keduanya sama-sama ketagihan. Sama-sama tidak rela untuk berhenti. Suara nafas yang memburu semakin memenuhi ruangan.
Tanpa sadar, tangan kiri Hinata bergerak naik ke tengkuk Sasuke. Jemari Hinata yang mungil menjambak perlahan bagian belakang kepala Sasuke, tenggelam dalam rambutnya yang jabrik. Sasuke menyukai gerakan itu dan hal itu membuat Sasuke semakin memperdalam ciuman mereka, menjadikan suasana lebih hangat.
Tangan kiri Sasuke melakukan hal yang sama pada kepala Hinata, menahannya agar mereka tetap beradu. Sementara tangan yang satunya mulai mencoba lebih berani. Ia menarik selimut yang menutupi tungkai Hinata dan tampaklah betis putih Hinata yang tidak tertutupi gaun tidurnya. Sasuke meletakkan tangan itu disana, mengirimkan sensasi sengatan listrik pada kulit Hinata, membuat gadis itu gemetar. Melihat reaksi itu, Sasuke menyeringai dalam ciuman mereka.
Tangannya mulai menemukan keberanian untuk bergerak naik, merayap sampai ke lutut, dan berhenti di ujung bagian rok gaun Hinata. Sasuke memijat perlahan disana, menciptakan suara pelan dari Hinata. Menganggap itu sebagai izin, Sasuke kembali bergerak. Tangannya kembali menelusuri bagian atas lutut Hinata, kali ini sambil menyibakkan gaunnya, sehingga kulit mereka tetap bertemu.
Tiba-tiba, panik karena tangan Sasuke yang sudah setengah jalan di pahanya, Hinata mendorong pundak Sasuke agar menjauh. Ciuman mereka otomatis terhenti. Hinata menarik kakinya menjauh dari tangan Sasuke. Sasuke membuka matanya dan melihat wajah Hinata sudah semerah tomat.
"Kenapa?" tanya Sasuke.
Hinata tersengal. Nafasnya terkuras. Kedua tangannya masih bertengger di pundak Sasuke, seolah bersiap mencegahnya kalau-kalau Sasuke akan melanjutkannya lagi. Kepalanya masih terasa seperti diombang-ambing. Tampaknya butuh beberapa saat bagi Hinata untuk dapat normal kembali.
Sasuke meraih kedua tangan Hinata, lalu menurunkannya. Ia berdiri dan menutupi kembali kaki Hinata dengan selimut.
"Maaf." ujar Sasuke, sambil merapikan selimut itu. "Seharusnya kau katakan saja kalau memang tidak suka."
Hinata menggeleng. "B-bukan b-begitu."
Sasuke melirik gadis itu. "Lantas?"
"A-aku hanya merasa... uhm.." Hinata ragu-ragu, sampai kemudian ia memalingkan wajahnya. "A-aku takut."
Sasuke memandang gadis itu lekat-lekat. "Kau takut padaku?" tanyanya.
Hinata menggeleng lagi. "Tidak. A-aku takut pada.. p-pada yang tadi itu..."
Sasuke tersenyum miring. Hinata, Hinata, batinnya, kau benar-benar menggemaskan. Ia kemudian duduk kembali di dekat kaki Hinata. Gadis itu sedikit terkejut dan beringsut menjauh, membuat Sasuke terkekeh.
"Aku tidak akan menciummu lagi, Hinata. Tenang saja. Aku hanya ingin bertanya." ujar Sasuke.
"B-bertanya?" Hinata tergagap.
"Karena tadi ada pertanyaanku yang belum kau jawab." lanjut Sasuke. "Katakanlah, apa kau menyukaiku?"
Entah untuk yang keberapa kalinya, wajah merona Hinata kembali hadir. Tidak tahu apakah Sasuke sengaja melakukan itu untuk hiburan pribadinya saat menonton Hinata yang malu setengah mati, atau mungkin karena Sasuke memang ingin tahu.
Hinata menarik nafas dalam-dalam. Mengisi paru-parunya sampai penuh dengan oksigen, agar kerja jantungnya bisa sedikit melambat. Ia kemudian mencoba menjawab.
"K-kau jahat." Hinata memulai. "D-dan kau bodoh. Kau menyakiti teman-teman dan keluargaku. Aku benci padamu."
Wajah Sasuke merengut. Muram. Apa-apaan jawaban itu?
"Tapi.." Hinata melanjutkan sebelum suasana hati Sasuke berubah menjadi jelek. "A-aku mendengarkan yang dikatakan Sai. Dan dari apa yang kudengar, aku bisa melihat bahwa kau tidak seburuk itu. D-dan kurasa.. a-aku bisa memberimu kesempatan."
Binar sumringah di wajah Sasuke muncul kembali.
"Sungguh?" tanyanya. "Kau serius?"
Hinata mengangguk.
"Walaupun kau tahu kalau aku ini iblis?" tanya Sasuke lagi.
"A-aku sedang tidak ingin memikirkan itu." jawab Hinata, disusul dengan sebuah senyuman kecil yang manis.
oOo
Sejak hari itu, Hinata jadi lebih sering menghabiskan waktunya bersama Sasuke.
Mereka sering membaca buku berdua di perpustakaan, lalu mendiskusikannya kembali saat mereka berjalan di taman atau duduk di bawah pohon duskblossom. Saat sore hari, mereka sering terlihat berjalan berdua di dalam kastil, dengan Sasuke sebagai pemandu Hinata saat mereka melewati ruangan-ruangan yang belum pernah Hinata datangi.
Hanya saat makan malam mereka berpisah.
Sasuke akan makan lebih dahulu di ruang makan saat Hinata mandi di kamarnya. Setelah itu, Sasuke—dengan beberapa pelayan—akan membawakan makan malam ke kamar Hinata. Kemudian, seraya menunggui Hinata menghabiskan makan malamnya, mereka akan membicarakan beberapa obrolan ringan. Sebagian besar mereka mengangkat topik tentang kastil, dan sebisa mungkin mereka menghindari pembicaraan tentang keluarga Hinata. Bukan karena Hinata tidak mau membicarakannya, tapi Sasuke sendiri yang tidak pernah mengungkit hal itu karena ia tidak tahan melihat kesedihan yang hadir di mata indah Hinata setiap topik itu terselip. Biarlah nanti suatu saat Hinata sendiri yang memulai pembicaraan itu jika ia memang sedang ingin membicarakannya.
Di lain pihak, Hinata mulai merasa nyaman dengan keadaan itu. Sasuke telah menjadi teman bicara yang baik baginya. Selera humornya juga lumayan. Aura gelap yang Hinata lihat saat pertama kali melihat Sasuke kini berganti menjadi sesuatu yang lebih hangat dan menyenangkan.
Hampir seperti manusia biasa.
Hampir seperti Naruto.
Hinata bahkan nyaris sudah tidak pernah mengingat nama Naruto lagi. Hanya sesekali ketika ia benar-benar melamun untuk memikirkannya. Tapi, saat Hinata sedang bersama Sasuke, bayangan tentang cowok pirang itu lenyap, dan lambat laun berubah menjadi sosok seorang pria rupawan berambut biru gelap dengan mata sehitam batu onyx yang teduh.
Sejak hari dimana Hinata mendapat ciuman pertamanya, hanya sang pemberi ciuman itulah yang terus terbayang di dalam memori Hinata.
Mungkin Hinata harus benar-benar mengakuinya, kalau ia memang menyukai Sasuke.
Karena Hinata menyadari, sang iblis—perlahan tapi pasti—telah berubah menjadi malaikat.
oOo
"Oh, kau harus lihat wajah Itachi sewaktu ia tahu kalau gadis yang dibawanya itu ternyata laki-laki. Dia jengkel setengah mati!" ujar Sasuke, sambil berusaha menahan tawanya.
Sementara Hinata sudah merasa perutnya keram. Setitik airmata muncul di sudut matanya. Ia baru saja selesai tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Sasuke.
"M-memangnya Itachi.. t-tidak bisa mengenali aromanya?" tanya Hinata di sela tawa.
Sasuke menggeleng. "Dia benar-benar lapar saat itu. Hidungnya menghilang!" tambah Sasuke, semakin asyik meledek kakaknya. "Lagipula, orang itu benar-benar cantik. Aku sendiri hampir salah mengira. Sungguh, aku juga sempat berpikir kalau dia itu perempuan."
"Untung kau tidak menangkapnya lebih dulu." sahut Hinata.
Sasuke membuka mulut, hendak menanggapi candaan Hinata, ketika tiba-tiba sebuah ketukan keras di pintu membuat keduanya berhenti tertawa.
"Aku sudah lima kali mengetuk." Sebuah suara yang berat dan datar pun terdengar.
Sasuke dan Hinata menoleh ke arah pintu. Mata Hinata sedikit melebar saat mendapati sosok bertubuh tinggi dan berambut hitam menjuntai sampai ke pinggang telah berdiri disana dengan ekspresi yang sangat dingin.
Itachi.
"Oh, kau." Sasuke menyambut dengan malas, kesal karena merasa terganggu. "Ada apa?"
Nada suara Sasuke kembali dingin. Berbeda jauh dengan cara bicaranya kalau sedang mengobrol dengan Hinata.
"Sai memerlukan bantuanmu." jawab Itachi, masih dengan sangat datar.
Hinata jadi ingin tahu, apa Itachi mendengar apa yang baru saja ia bicarakan dengan Sasuke? Apa ia mendengar kalau mereka baru saja meledeknya habis-habisan? Jika ia mendengarnya, kenapa ia tampak sangat tenang dan tidak marah sama sekali? Sepengetahuan Hinata—dari yang pernah diceritakan oleh Sai—Itachi adalah iblis yang berbahaya.
"Mau apa dia?" tanya Sasuke, menanggapi kalimat dari Itachi.
"Tidak tahu. Ia hanya menyuruhmu datang ke menara pengawas sekarang juga." sahut Itachi.
Sasuke mendelik pada kakaknya itu. Mencari kesungguhan dalam matanya yang mirip dengan miliknya sendiri. Namun, mengingat bahwa Itachi hampir tidak pernah menampilkan ekspresi, Sasuke hanya bergumam. "Hn."
Ia berdiri dari kursinya, lalu menoleh pada Hinata. "Maaf, kau kutinggalkan sebentar. Nanti aku akan kembali lagi." ujarnya.
Hinata mengangguk. "B-baiklah."
Sasuke kemudian berjalan menuju pintu, lalu melangkah keluar kamar, dengan Itachi menyusul di belakangnya.
Setelah pintu tertutup, Hinata menyandarkan punggungnya ke sofa. Biasanya, sekitar lima atau sepuluh menit lagi, pelayannya akan datang untuk mengambil piring bekas makan Hinata lalu merapikan tempat tidur.
Hinata melihat sekitarnya. Kamar ini terlalu luas baginya. Dengan kamar seluas ini, Hinata selalu merasa kesepian. Belakangan, karena Sasuke sering menemaninya, ia merasa lebih baik. Tapi, saat ia berbaring di kamarnya, kerinduan akan rumahnya akan selalu muncul kembali. Tidak separah waktu masa-masa awal Hinata berada disini, tapi tetap saja perasaan itu cukup besar untuk membuatnya sesak.
Hinata merindukan sekolahnya. Hinata merindukan rumah lamanya. Hinata merindukan kamar lamanya, yang tidak terlalu luas tapi sangat nyaman. Bukan berarti kamar barunya ini tidak nyaman. Tapi...
Hinata menghela nafasnya yang terasa berat. Sepertinya ia membutuhkan udara segar.
Hinata berjalan ke arah jendela besar di seberang tempatnya duduk. Ia mematikan lampu chandelier yang menerangi ruangan, lalu membuka tirai jendela itu lebar-lebar.
Hinata memejamkan mata, menikmati saat-saat cahaya bulan menyorot langsung padanya. Gaun Hinata memantulkan warna keperakan. Wajahnya yang seputih susu tampak sedikit lebih pucat, namun sangat cerah. Siapapun yang melihatnya, pasti akan langsung kagum pada keanggunan gadis itu.
Saat itu, Hinata terlihat seperti bulan di permukaan bumi.
Suara ketukan di pintu membuat Hinata membuka matanya. Kalau bukan Sasuke, itu pasti para pelayan, batin Hinata.
"Masuklah." Hinata bersuara sedikit keras, agar terdengar sampai ke seberang ruangan.
Gadis itu tidak menoleh ke belakang, tapi ia bisa mendengar pintu itu terbuka. Berderit dengan sangat perlahan. Hinata ingat, Sasuke tidak mungkin membuka pintu dengan cara seperti itu. Pria itu selalu membuka pintu dengan cepat, sampai hampir terbanting ke dinding. Jadi, Hinata menyimpulkan, itu pasti pelayannya.
"Nampannya ada di meja seperti biasa, Ayame." ujar Hinata.
Di luar dugaan, sebuah suara berat yang familiar menyahutinya. "Aku bukan Ayame."
Hinata cepat-cepat berbalik.
Dan mendapati Itachi tengah berdiri di ambang pintu. Menatap tajam ke arah Hinata.
Hinata ciut seketika. Tatapan Itachi benar-benar terasa menusuk, seperti panah runcing yang dapat menembus sampai ke tulang. Hinata merinding. Mau apa ia kembali kesini?
Sekujur tubuh Hinata menegang saat dilihatnya Itachi tengah menutup pintu kembali dan menguncinya dari dalam, membuat mereka hanya berdua di dalam kamar.
Kemudian, tanpa bicara, Itachi melangkah lebar-lebar ke arah Hinata. Kedua matanya berwarna merah. Merasa terancam, Hinata memundurkan tubuhnya ke belakang, hanya untuk membuat punggungnya bertemu dengan kusen jendela.
Hinata benar-benar panik. Dari auranya, Hinata menduga Itachi sedang memiliki niat yang tidak baik di pikirannya. Jadi, sebaiknya ia menghindar dari sana secepat mungkin.
Naas, saat Hinata baru saja akan bergerak menjauhi jendela, tangan Itachi sudah lebih dulu menangkapnya. Iblis bertubuh ramping itu menghempaskan tubuh Hinata ke dinding di samping jendela. Satu tangan bertumpu pada dinding, dan yang satunya mencengkeram leher Hinata erat-erat. Hinata kesulitan bernafas.
"Pantas saja.." gumam Itachi. Ia menyusuri dagu dan pipi Hinata dengan hidungnya, mengendus perlahan disana, mengirimkan rasa dingin ke tengkuk Hinata. "Pantas saja adikku tidak mau jauh darimu."
Itachi mempererat cengkeramannya di leher Hinata. Gadis itu mengatupkan kelopak matanya erat-erat, menahan rasa sakit yang melilit leher putihnya itu.
"Kau benar-benar menggoda." Itachi melanjutkan gumamannya.
Suaranya yang dalam dan mengerikan membuat Hinata gemetar.
Sasuke, Hinata menjerit dalam hati. Sasuke, tolong aku!
Hinata megap-megap. Cengkeraman Itachi benar-benar menutup saluran pernafasannya. Hinata bisa merasakan dada dan lehernya sakit karena kehabisan udara.
"Kau tahu?" tanya Itachi. Retoris. "Aku tahu persis apa yang paling diinginkan adikku darimu. Tapi ia terlalu mengulur waktu. Dan aku.."
Itachi mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata, lalu berbisik disana.
"..bukan tipe pria yang suka membuang-buang waktu."
Setelah itu, cengkeraman Itachi berpindah ke lengan Hinata dan menariknya. Lebih tepatnya, menyeret gadis itu. Mata ungu pucat Hinata terbelalak saat menyadari bahwa Itachi tengah menyeretnya ke arah tempat tidur.
Hinata mencoba meronta. Ia berontak. Ia menyentakkan cengkeraman Itachi pada lengannya. Begitu ia berhasil terlepas, Hinata cepat-cepat berlari menuju pintu, sedikit mengomel dalam hati saat ingat bahwa pintu itu terkunci.
Tapi, belum sempat Hinata meraih pintu tersebut, tangan Itachi sudah lebih dulu meraih pinggangnya. Sekali lagi, Hinata diseret menuju tempat tidurnya sendiri.
"Lepaskan!" jerit Hinata, seraya meronta. "Lepaskan aku! Tolong! Sasuke!"
"Sasuke tidak akan mendengarmu!" bentak Itachi.
Ia kemudian membanting tubuh mungil Hinata ke atas tempat tidur. Hinata berusaha bangkit kembali, tapi Itachi sudah lebih dulu menjulang di atas tubuhnya.
Tangan Hinata bergerak tanpa arah. Menepis tangan Itachi, berusaha mencakar dan memukulnya. Berharap satu dari gerakan itu akan mengenai sasaran. Tapi harapan Hinata nihil.
"Diam kau!" Itachi membentak Hinata lagi.
BUGHH! BUGHH!
Itachi melayangkan tinjunya pada pipi kiri Hinata. Dua kali. Hinata terkejut. Ia pun berhenti bergerak. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Itachi. Ia menggenggam kedua tangan Hinata dan menahannya dengan kedua tangannya sendiri.
Itachi bisa melihat airmata ketakutan mengalir di wajah Hinata. Sayangnya, tidak seperti Sasuke, Itachi justru senang melihat airmata itu. Ia selalu senang melihat wanita ketakutan dan menangis. Ia senang setiap mendengar jeritan ketakutan mereka. Ia senang melihat wajah cantik mereka menjadi rusak karena dirinya. Baginya, pemandangan semacam itu seperti pertunjukan kelas tinggi. Terutama jika aktrisnya adalah gadis manis di bawahnya itu.
BRAKKK!
oOo
Sasuke menoleh ke belakang. Ia heran, kemana perginya Itachi? Sepertinya di koridor sebelumnya tadi, ia masih berjalan di belakang.
Sasuke memutuskan untuk mengabaikannya saja. Itachi memang selalu seperti itu. Muncul dan menghilang seperti hantu.
Lebih penting lagi, kenapa Sai tiba-tiba memanggilnya? Menuju menara pengawas pula. Biasanya, kalau ada masalah di area itu, Sai bisa menanganinya sendiri. Kenapa kali ini ia meminta bantuan pada dirinya?
Sasuke melihat sosok pucat kakaknya itu di salah satu menara dan menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Sasuke langsung.
Sai, melihat kedatangan Sasuke, bingung. "Sedang apa kau disini?" tanyanya.
"Pertanyaan macam apa itu? Kau yang memanggilku kesini." jawab Sasuke.
"Aku tidak memanggilmu." Sai menoleh pada anak buahnya. "Apa salah satu dari kalian yang memanggilnya?"
Beberapa pengawal di belakang Sai menggeleng. Lagipula, kalaupun ada urusan, seharusnya merekalah yang datang pada Sasuke, bukan sebaliknya.
"Tak ada yang menyuruhmu kesini." ujar Sai.
Sasuke mengerutkan alisnya. Kesal karena waktunya bersama Hinata jadi terbuang sia-sia. "Berhenti bermain-main denganku." katanya dengan nada mengancam.
Ia kemudian berbalik untuk kembali ke kamar Hinata. Ah, ia mungkin sudah tidur sekarang, batin Sasuke, aku belum sempat mengucapkan selamat tidur padanya.
Sasuke berjalan menelusuri salah satu jembatan penghubung yang menuju langsung ke bangunan utama kastil. Saat Sasuke menoleh ke sebelah kiri, ia baru menyadari kalau dari sana, kamar Hinata terlihat jelas. Tirai jendela kamar itu dibuka, dan tampaklah seorang gadis berkulit seputih susu dengan rambut berwarna indigo yang panjang dan halus.
Gadis yang tak pernah bosan berada dalam pikirannya. Hinata.
Hn, ternyata dia belum tidur.
Sasuke menghentikan langkahnya dan menikmati pemandangan yang tersodor di hadapannya itu. Disirami cahaya bulan, gadis itu sungguh seperti malaikat. Sasuke bahkan bisa membayangkan dengan jelas sepasang sayap indah di belakang punggung langsingnya. Sasuke mendengus. Mencibir dirinya sendiri.
Iblis dan malaikat. Sangat kontras. Bisakah keduanya benar-benar bersatu? Bisakah sang iblis mencintai malaikat itu tanpa perlu melukainya? Dan relakah sang malaikat meninggalkan dunianya yang penuh cahaya, untuk jatuh ke dalam kegelapan bersama iblis itu?
Apa harapan itu terlalu muluk untuknya?
Sasuke memandang Hinata sekali lagi dan tanpa sadar tersenyum.
"Terima kasih karena telah memberiku kesempatan." bisiknya.
Mendadak, senyuman Sasuke pudar seketika saat ia melihat Hinata berbalik, dan satu sosok lain mendekati gadis itu. Darah Sasuke mendidih saat matanya menangkap sepasang mata berwarna merah tiba-tiba berada di dalam kamar itu. Ia tahu siapa pemiliknya.
"Sial!" umpatnya.
Secepat mungkin, Sasuke berlari menuju kamar itu. Berusaha menyingkirkan pikiran buruk dari kepalanya, namun sia-sia. Bayangan tentang Hinata disakiti oleh orang itu membuat Sasuke serasa mau meledak.
Ia berlari di sepanjang koridor di depan kamar Hinata. Ia bisa mendengar Hinata menjeritkan namanya.
"...Sasuke!"
"Sasuke tidak akan mendengarmu!"
Aku mendengarmu, Hinata, batin Sasuke. Aku mendengarmu.
BRAKKK!
Sasuke merasa dadanya bergemuruh saat melihat posisi mereka berdua. Itachi menoleh dan menyeringai. Sementara, Hinata di bawahnya menangis. Sorot matanya benar-benar ketakutan. Gemuruh di dalam dada Sasuke memuncak saat melihat sudut bibir Hinata sedikit mengeluarkan darah. Dan ada warna merah di pipi kirinya, dan Sasuke tahu pasti, itu bukan rona merah yang biasa ada disana.
"Mati kau, Itachi!" Sasuke menggeram.
Sasuke menerjang Itachi, menjauhkan kakaknya itu dari Hinata. Hinata beringsut ke sisi lain tempat tidur. Bersembunyi disana. Menatap ngeri pada dua kakak beradik yang sedang saling baku hantam itu.
Itachi lebih tangkas, tapi amarah membuat Sasuke lebih kuat.
"Berani-beraninya kau menyentuh dia!" seru Sasuke.
"Kau sendiri tidak pernah menyentuhnya. Kenapa aku harus menyia-nyiakan kesempatan itu?" sahut Itachi.
"Brengsek!"
Tubuh keduanya sudah babak belur. Dada Itachi tidak luput dari sasaran tinju Sasuke. Sebagai gantinya, wajah Sasuke berulang kali terkena kepalan tangan Itachi yang keras—Hinata tahu persis rasanya seperti apa. Perut Sasuke juga beberapa kali dihantam oleh lutut Itachi.
Tepat saat Hinata merasa ia tidak sanggup melihat lebih jauh lagi, Sai datang bersama anak buahnya.
Kakak kedua Sasuke itu cepat-cepat menempatkan diri di antara kedua saudaranya, dibantu dengan dua orang yang mengikutinya. Beberapa kali, ia sempat terkena hantaman dari Itachi dan Sasuke. Tapi, tampaknya akal sehat Sai lebih terkendali. Ia segera menarik Sasuke, memiting kedua lengannya ke belakang. Sasuke berontak, masih sangat ingin menghabisi Itachi. Sementara Itachi, setelah melemparkan tatapan tajam pada Hinata, beranjak pergi dari ruangan itu.
"Susul dia!" perintah Sai pada para anak buahnya. "Ikuti kemana ia pergi."
Orang-orang berseragam hitam itu segera menuruti perkataan Sai. Mereka bergerak untuk menyusul Itachi. Sementara, Sasuke masih berusaha melepaskan lengannya dari Sai.
"Kemari kau, Itachi! Sai, bawa si brengsek itu kembali kesini! Biar kubunuh dia! Lepaskan aku!" maki Sasuke.
"Sasuke! Tenangkan dirimu! Ingat Hinata." ujar Sai.
Mendengar satu nama yang disebutkan oleh Sai itu, Sasuke terhenyak. Matanya mencari-cari ke dalam kamar, ingin segera menemukan sosok gadis itu. Amarah benar-benar membuatnya lupa akan alasan sebenarnya ia tadi menghajar Itachi.
Sasuke melihatnya disana, meringkuk ketakutan di sisi seberang tempat tidur. Tanpa menunggu lagi, Sasuke melepaskan diri dari Sai dan setengah berlari menghampiri Hinata. Kedua tangan Sasuke terulur lebih dulu, seolah tak sabar ingin segera memberikan perlindungan pada gadis itu. Di lain pihak, Hinata membalas uluran tangan itu. Seperti anak kecil, menemukan seseorang yang melindunginya hanyalah satu-satunya yang paling ia inginkan saat itu.
Mereka berpelukan.
Sasuke merengkuh punggung dan kepala Hinata, sementara Hinata membenamkan wajahnya di dada Sasuke. Kedua tangan mungilnya yang gemetar hanya bisa meremas bagian depan baju Sasuke. Airmatanya tumpah disana, tapi Sasuke sama sekali tidak keberatan. Sasuke merasa dadanya seperti dipuntir, karena telah membiarkan seseorang menyakiti Hinata. Ia merasa telah melanggar janjinya sendiri.
"Aku disini, Hinata." bisik Sasuke. "Menangislah. Aku disini."
Melihat pemandangan di depannya itu, Sai merasa tidak ingin mengganggu. Ia tersenyum tipis melihat dua orang yang tengah berpelukan itu, lalu berjalan ke luar ruangan. Saat ia tengah menutup pintu kamar, dua orang berpakaian hitam berlari menghampirinya. Sai mengenali mereka sebagai anak buahnya. Keduanya membungkuk, lalu salah satu di antara mereka berkata,
"Maaf, Tuan. Tuan Itachi melarikan diri."
"Kemana?" tanya Sai.
"Kami belum tahu pasti. Kami sudah mengirim beberapa orang untuk mengejarnya, sesuai perintah Anda. Tapi kami masih menunggu keputusan berikut dari Anda."
"Persiapkan diri kalian. Kita akan mengejar Itachi. Sementara itu, perketat pengawasan pada Sasuke dan Hinata."
"Baik."
Sai dan kedua bawahannya itu melesat pergi, melakukan pengejaran mendadak pada kakak sulungnya. Sai merasa ada yang tak beres dengan Itachi. Tidak biasanya ia bertindak brutal seperti itu. Walaupun kejam, Itachi selalu terorganisir. Namun kali ini, Sai merasa tindakan Itachi sedikit.. berantakan.
Ia harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh kakaknya itu.
oOo
Hinata masih terisak di dada Sasuke, namun nafasnya sudah mulai teratur. Tangan Sasuke belum bosan menetap di kepala dan punggung Hinata, mengusapnya lembut, memberikan rasa nyaman pada gadis itu. Jari Sasuke yang pucat menyusup ke dalam rambut indigo Hinata yang awut-awutan, tampak sangat kontras saat Sasuke menyisirnya dengan hati-hati.
"S.. Sasuke." Hinata bersuara. Parau.
"Ya?" sahut Sasuke, sedikit lega karena menduga Hinata sudah merasa lebih baik sekarang.
"A-aku tidak ingin.. ad.. ada di kamar ini l-lagi." ujar Hinata, terdengar nyaris seperti bisikan.
Sasuke memeluk Hinata lebih erat lagi. Merasa bersalah. Bayangan tentang perlakuan Itachi tadi pasti terus berputar di dalam kepala Hinata.
"Kau mau aku bagaimana?" tanya Sasuke.
"B-boleh aku pindah ke k.. kamarmu?" tanya Hinata, setengah malu-malu.
Sasuke mendekap Hinata sekali lagi. Lalu, tanpa menjawab, Sasuke segera membopong Hinata. Ia menggendong Hinata dengan kedua tangannya, menempelkan gadis itu begitu erat ke dadanya agar tidak terlepas. Oh, Sasuke sangat tidak ingin Hinata terlepas lagi darinya.
Di depan kamar, beberapa pelayan dan pengawal sudah berjaga. Pasti Sai yang menyuruh mereka kesini, pikir Sasuke.
Salah seorang pelayan yang biasa melayani Hinata bertanya dengan penuh nada cemas tentang keadaan nona mudanya itu, dan dijawab dengan senyuman kecil dari Hinata. Hinata tidak bisa tersenyum lebih lebar lagi. Tulang pipinya terasa berdenyut, terasa ngilu sampai ke mata dan rahang.
Sasuke yang menjawab pertanyaan pelayan itu. "Tidak apa-apa, Ayame. Hinata ingin beristirahat di kamarku."
Rombongan itu segera membuntuti Sasuke dari belakang, mempersiapkan diri mereka andai dibutuhkan.
Dalam gendongan Sasuke, Hinata meringkuk lebih dalam. Nyaman, batinnya. Seandainya Sasuke mau mendekapnya lebih lama lagi nanti, mungkin besok pagi rasa takut Hinata sudah hampir lenyap semua. Mungkin yang tersisa nanti hanya rasa nyeri di pipinya, yang juga akan sembuh dalam beberapa hari ke depan.
Rasa sakit di pipi serta tubuhnya yang letih menyeret rasa kantuk hadir di mata Hinata. Ditambah dengan gendongan Sasuke yang berayun perlahan, sebelum mereka sampai ke tujuan, gadis itu sudah lebih dulu jatuh tertidur.
oOo
Ketika Hinata membuka matanya kembali, hal pertama yang ia lihat adalah sebentuk dagu dan leher yang kekar namun berwarna hampir seputih tulang. Hinata kenal betul siapa pemilik dagu itu. Tanpa ragu, Hinata pun memanggil namanya.
"Sasuke?" Suaranya nyaris tak keluar, terlalu lemah.
Namun yang dipanggil dapat mendengarnya. Sepasang mata hitam yang tadi terpejam kini membuka, kemudian memandang turun ke arah gadis jelita yang baru saja terbangun itu, yang semalaman tertidur dengan sangat nyenyak di atas dadanya. Perasaan bersalahnya kembali saat melihat ada bercak biru keunguan besar yang menutupi pipi kiri Hinata yang putih.
Memar. Wajah Hinata memar. Dan sangat parah.
Tangan Sasuke bergerak. Jari telunjuknya menyentuh memar itu dengan sangat hati-hati, menyusuri bentuk abstraknya dari bawah kantung mata sampai ke samping bibir.
Hinata meringis. Kulit pipinya terasa aneh. Bengkak dan agak berat. Saat jari Sasuke menyentuhnya, terasa nyeri luar biasa.
"Maaf." ujar Sasuke pelan, suaranya letih.
Di luar dugaannya, Sasuke mendengar Hinata menjawab. "T-tidak apa-apa. Ini.. uhm.. n-nanti juga akan hilang sendiri. Benar, kan?"
Sasuke tersenyum lemah, lalu mengangguk. Mencoba meyakinkan Hinata. Memar itu memang akan menghilang. Tapi tetap saja, memori tentang bagaimana ia pernah mendapatkan memar itu mungkin akan sulit dihilangkan.
Sasuke menggeser wajahnya sedikit, lalu meletakkan bibirnya di puncak kepala Hinata. Menghirup aroma blueberry yang samar-samar tercium disana. Ia memejamkan matanya, menyesal kenapa ia sangat bersikeras membawa Hinata untuk tinggal bersamanya. Seharusnya ia sadar akan keberadaan Itachi dan rasa laparnya yang sering kali sulit dibendung itu bisa membahayakan Hinata.
Kalau saja ia tidak egois dan terlalu posesif, Hinata mungkin masih tertidur dengan aman dan nyenyak di dalam kamarnya sendiri. Dan pipi Hinata pasti masih mulus.
"Kau ingin pulang?" Pertanyaan itu meluncur keluar begitu saja dari mulut Sasuke.
"A-apa?" Hinata balik bertanya, matanya melirik ke atas dengan bingung.
"Maafkan aku. Aku baru menyadarinya sekarang, tempat ini berbahaya untukmu. Kau akan lebih aman kalau kau tidak disini."
Hinata tidak menyahut. Ia terdiam, membenarkan kata-kata Sasuke, yang juga merupakan keinginannya sejak dulu. Tetap bersama keluarga dan teman-temannya..
..dan tak pernah mengenal iblis tampan tempatnya berbaring saat ini.
Kalimat yang terakhir itu, entah kenapa, membuat dada Hinata sesak. Bagaimanapun, kini ia merasa tidak rela jika keadaannya seperti itu.
Tidak pernah mengenal Sasuke, tidak pernah mengenal Sasuke—Hinata mengulang-ulang kalimat itu di kepalanya.
Tidak. Tidak mau.
Ia ingin mengenal Sasuke. Ia ingin bersama Sasuke.
"L-lalu nanti aku mau p-pulang kemana?" tanya Hinata lirih.
"Hn?" gumam Sasuke.
Hinata menarik nafas dalam-dalam. "K-kalau kau.. m-mengusirku dari sini, a-aku harus pergi kemana? Tak ada seorang pun yang mengingatku lagi disana. A-aku pasti akan sangat kebingungan." Hinata menjelaskan.
Benar juga, batin Sasuke. Lagi-lagi ia merasa bodoh karena tidak memikirkan sampai sejauh itu. Sasuke mempererat rengkuhannya di punggung Hinata.
"Kenapa kau menganggap aku mengusirmu?" tanya Sasuke.
"R-rasanya pasti seperti itu. Diusir dari rumah." sahut Hinata.
Sasuke tersenyum mendengar Hinata sudah mulai menggunakan istilah 'rumah' untuk kastilnya itu. Saat itu juga, Sasuke mengerti satu hal. Hal yang belum mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Mereka saling mencintai.
Sebagai iblis, kata 'cinta' itu terasa sangat tabu untuk diucapkan. Tapi bagaimanapun, ia tahu seperti apa rasanya. Rasa yang sedang berada di dalam dadanya saat ini, yang membuat sekujur tubuhnya terasa lebih hangat dan ringan. Sasuke yakin seratus persen kalau ia sedang jatuh cinta. Bukan pada orang biasa, tapi pada gadis istimewa di dalam lingkaran lengannya itu.
Malaikat pribadi-nya.
Dan Sasuke juga yakin kalau Hinata juga mencintainya. Memang perasaan itu belum tumbuh, tapi Sasuke bisa merasakan percikan hangatnya. Pada senyumannya, pada tatapan matanya, pada ujung-ujung jarinya ketika mereka bersentuhan, Sasuke yakin semua itu mengandung cinta.
Kuharap begitu, Hinata. Sasuke membatin. Aku sangat berharap seperti itu.
Lalu, kalimat berikutnya yang terlontar dari Sasuke membuat irama jantung Hinata berubah menjadi lebih cepat.
"Menikahlah denganku, Hinata."
To Be Continued..
.
.
.
.
A/N:
Jreeeng! Kok ending-nya tiba-tiba jadi kayak New Moon? Hahaha. *ditonjok Itachi*
Pertama-tama, aku mau bungkuk minta maaf sama Itachi-san karena disini dia kubikin jadi biadab. Ampun, kakaaaak! Buat Itachi FG, tolong jangan lempar deathglare itu padaku. Demi Icha Icha Tactics, aku juga sayang sama Itachi-san. Serius! Aku cuma butuh seorang antagonis, itu aja. *Itachi FG: tapi kenapa antagonisnya harus Itachi, hah!* *ampuuun*
Errr, aku nggak tau deh sup bayam sama susu itu kombinasi yang bener apa nggak. Tapi aku sendiri lumayan sering makan kayak gitu. Hahaha. Terus, tadinya aku pengen pake OC buat pelayan, tapi karena aku nggak bisa nemuin nama yang bagus, jadinya aku minjem Ayame sebentar. *disirem ramen*
Oh ya, nanti SasuHina bakal nikah, tapi jangan bingung kalo nikahnya nggak sesuai sama adat manapun yang ada di dunia ini. Berhubung dunianya Sasu itu di antah berantah, dan dia juga disini ceritanya jadi iblis, dan aku nggak bisa ngebayangin Sasu ngucapin ijab qabul, jadi tolong readers jangan ngambek ya kalo nikahnya nanti aneh banget. Ya? Ya? Ya? *puppy eyes* *dicolok* Kalau nanti ada yang merasa nggak nyaman dan pengen ninggalin fic ini juga nggak apa2 kok. Aku bakal maklum. T.T
Hm, sekedar pemberitahuan aja, Sasu ceritanya belum tau nih kalo Itachi pergi. Yang dia tau, Itachi masih ada di kastil dan dijaga ketat sama Sai. Nanti di chap depan ada dialognya deh.
*sigh* Kayaknya di chapter ini kok banyak pengulangan kata dan kalimat ya. Pembendaharaan kataku lagi abal banget nih. Aku udah coba cari referensi dari beberapa novel, tapi yah.. beginilah hasilnya. *sedih*
Ah! Mendingan sekarang, aku mau bales review dari para readers yang amazing itu ^^ :
YuGaemGyu3424: Hahaha, kalo kejadiannya sama Kyuhyun mah nanti bisa2 diajak kepret dance tiap hari ^o^ Mengenyangkan-kah? Mudah2an nggak sampe begah ya. Iya, aku juga nggak rela kalo ini discontinued. Ditunggu aja ya. :D
Desy Cassiotaku: Jadi pengen tau kayak apa ekspresinya Desy-chan. :p Iya, aku lupa nulis di A/N sebelumnya, wujud Sasuke pas berubah itu sama kayak Curse Mark form-nya. Itu serem bangeeet! Sasu pake lipstik! *eh?* *ditebas kusanagi* Udah di-update ya. :)
Winda.: Winda-chan, maaf ya kemaren namanya kepotong. T.T Loh, kenapa kakaknya marah2? Coba deh disuruh ikutan baca. *promosi detected* *ditoyor* Kesemutan? Sini2 aku pijitin. Hehehe. Tunggu update-nya lagi ya. XD
n: Iya, malaikat kecil yg dimaksud Sasu itu emang Hina waktu kecil. Nanti ada kok ceritanya gimana Sasu ketemu Hina. :)
uchihyuu nagisa: Iya kan? Iya kan? Mukanya Sasu itu serem banget kan? *ikut dichidori* Syukurlah kalo ternyata nggak terlalu gore. Aku juga lemah iman kalo bikin yang satu itu :p Maaf update-nya nggak cepet. Enjoy ya..
lonelyclover: Oh? Keliatan ya cintanya Sasu ke Hina? Aku pikir nggak bakal keliatan. Hehehe. Soal hal yang Hinata nggak sadari itu, jawabannya ada di bawah. :)
Ai-chan Kim: Terima kasih. Iya, Sasu kamu kasian. *hei, kamu authornya, ngapain ikutan prihatin?* Gimana Itachi yang sekarang? Masih terasa dingin-kah? Hehehe. Sudah di-update ya..
Mei Anna AiHina: Sekarang gimana romance-nya? Sudah lebih banyakkah? Hehehe. Soal clue dari Sai itu, jawabannya ada di bawah kok. Beauty and the Beast ya? Hm, mirip sih, tapi beast-nya itu lebih ke sifatnya Sasu. Berubah handsome karena Hina. *duarrr* Happy ending, happy ending. Tenang aja. :p Soal para pelayan, nanti biar Hina sendiri yang cari tahu di chapter berikutnya. :D Hm, SasuHinaIta/Sai ya? Kita lihat nanti aja deh ya. Hahaha. *dicakar* Oke, review lagi ya. *maksa*
keiKo-buu89: Satu kata, MAKASIIIHHH! Kyaa! Kyaa! *heboh sendiri* Itu belum berubah sepenuhnya, masih loading 80%. Hehehe. Itachi disini bakal jadi antagonis, udah keliatan lah ya dari chapter ini. Oke, udah di-update ya. ^^
Peace n love: Iya, Sasu emang love at first sight sama Hina, tapi maaf bukan itu jawaban pertanyaannya. Jawabannya ada di bawah. ^^ Maaf, kalo aku nggak bisa update kilat, tapi bakal kuusahain secepatnya ya. :D
Helvetica Crisis: Terima kasih atas pujiannya. Sasu-koi kan emang seksi. Hahaha. *disumpel* Uwaaa? Foto bareng? Ayo, boleh kita narsis bareng. Yuk! Yuk! Yuk! Hehehe. :p Nah, di chapter ini romance-nya udah nambah atau belum? Review lagi ya *ngarep* ^o^
Miya-hime Nakashinki: Uwaaaa, aku sampe bingung mau nanggepinnya gimana. Review positif-nya Miya-chan banyak banget, bikin mukaku jadi semerah Hina. *plakkk* Makasih! Makasih! Makasih! Maaf aku nggak yakin bisa update kilat, tapi pasti ku-update. Tunggu aja ya :D
RajaKelelawar: Pasti ku-update, tapi aku nggak bisa janji cepet. Maaf ya. Umurku? InsyaAllah bulan ini aku bakal jadi 19 tahun. Tua ya? Hahaha. :p Vampir? Wah, suka banget! Tapi aku lebih suka vampir yang klasik daripada modern. Kayaknya lebih berkelas, lebih dark, dan lebih *uhuk* sexy *uhuk* *kok jadi ngomongin vampir?* Hehehe. Jangan bosen review ya. ^^
Chan-chan: Iya, walaupun cuma pingsan, Sasu nangis karena dia ngerasa Hina pingsan gara2 dia. Takut Hina kenapa2, gitu. Betul! Wujud Sasu yang asli itu kayak Curse Mark form yang di anime. Maaf ya, aku lupa ngejelasin itu sebelumnya. :) Udah di-update..
Hanya Lewat: Sasuke emang cinta sama Hinata, tapi bukan itu jawabannya. Hehehe. Loh? Loh? Kok bisa nebak sih? Hahaha. Ya, pokoknya nanti Itachi bakal dapet peran yang sesuatu banget deh. Hehehe. Tungguin aja ya. :p
lavender hime chan: Haaai, silahkan masuk! ^o^ Uwaaa, makasih, makasih banyak pujiannya. Jangan sedih dong. Udah biarin aja Sasu nangis sendirian disitu. *digaruk* Soal bagian itu, jawabannya ada di bawah tuh. :)
Airin Aizawa: Makasih. Yah, Sasu kan labil, jadi semua yg dia lakuin jadi lebay. Hahaha. *digerus sasu* Udah di-update ya.. ^^
Dewi Bulan: Terima kasih. Umurku? At the end of this month, I will be 19. Hehehe. Udah ku-update nih, tapi nggak bisa bareng sama petir. Maaf ya. Hehehe :p
Pembaca setia: Terima kasih banyak. Berarti kalo udah review, tangannya nggak gatel lagi dong? Jadi nanti review lagi ya. Hahaha. *bughh* Udah di-update ya. :)
Miss'Ree'moriku: Iyaa, aku juga nggak akan ngebiarin fic ini discontinued. Tapi maaf kalo aku update-nya pelan2. Tungguin aja ya. ^^
The Amethyst Hime: Makasih karena udah mau nungguin Fallen. Ini dia update-nya.. :)
Hyou Hyouichiffer: Oh? Coba dibaca lagi deh. Kan Sai bilang, "Sasuke tidak pernah membunuh pamanmu." Hina nyangka Hizashi masih hidup, karena sebelumnya dia pikir Hizashi dibunuh sama Sasu. Ternyata Hizashi emang mati, tapi bukan di tangan Sasu langsung, melainkan ngorbanin diri sendiri bareng sama papanya Sabaku bersaudara. Gitu loh. Udah nggak bingung lagi? Apa masih? O.O Kira2 sekarang hubungan SasuHina udah deket apa belom? Hehehe. Makasih udah semangatin aku. ^o^
Zoroutecchi: Iya, yang bola2 itu emang dari mimpiku. Yang Sasu berdiri di halaman belakang itu, sama semua lampu2 rumah tetangga Hina pada mati, itu juga dari mimpiku sendiri. Weks, kalo Orochimaru yang ngirim, Hina pasti udah kejang2 tuh. :p Karena tema-nya bakal dark, mungkin horor-nya bakal berlanjut. Tapi aku mau berkutat sama bagian romance-nya dulu ya. ^^
Maykyuminnie: Di chapter ini kayaknya udah bukan sekedar 'terbawa' lagi ya. Hehehe. Udah di-update ya. :)
Firah-chan: Terima kasih lagi ya. Ini udah aku update. ^^
Gudeg Jogja: Terima kasih. Udah di-update nih. Tunggu lagi ya. :D
sasuhina: Uwaaa, terima kasih banyaaaak! Already updated ^o^
ulva-chan: Kelamaan nunggunya ya? *pede amat* Hahaha, maaf ya. Biarpun alasannya sama, tapi kan sifat mereka bertiga beda. Lumayan keliatan kan di chapter ini? Udah di-update, tapi maaf nggak kilat. :p
sAbAku Grimmy bAlckForest: Iya, Sasu emang serem banget pas berubah. Tadinya malah mau kubikin lebih serem lagi, tapi aku nggak tega sama Hina-nya. Di chapter ini kira-kira Hina udah jatuh cinta apa belum sama Sasu, hayo? Udah ku-update ya, maaf kalo lama. :)
Fujiwara Ami: Loh? Loh? Kok jadi jatuh cinta sama aku? Yang punya pesona disini kan Sasu, bukan aku. Hehehe. *dzigghhh* Kalo mau belajar jatuh dengan elit, datanglah ke Guy-sensei dan mintalah bagaimana cara menampilkan kilau giginya yang legendaris itu, lalu praktekan saat kau jatuh. *tringgg* ^o^ Hm, darah Hina sepertinya nggak akan punya pengaruh lain ke Sasu selain untuk mengenyangkan. Soalnya buat Sasu, darah itu masuk ke perut. Iya sih emang makanan larinya ke darah juga, tapi nggak bakal ada pengaruh 'campuran' itu. :) Nah, Itachi bakal dapet peran antagonis disini, tapi motif-nya apa, belum ketauan dulu ya. Hehehe. Sabaku bersaudara bakal muncul lagi, tapi nggak sekarang. Biarlah kita menikmati momen2 SasuHina terlebih dahulu. Hahaha. :p Daya tarik magis? Hm.. kayaknya nggak deh. :) Hahaha, makasih ya atas 'tsunami'-nya. Ayo, kirimkan saya tsunami lagi. Ajak Kisame sekalian! *disembur kisame* Udah di-update ^o^
Hime: Ini udah di-update. Enjoy ya! :)
Rika-hime: Terima kasih. Udah ku-update, maaf kalo lama. :)
YamanakaemO: Ahaha, terima kasih karena udah jadi reviewer-ku yang ke-100. Itu request? Mungkin bisa. Tapi nggak dalam waktu dekat ya. Hm, mau pure horor/mistery atau boleh kugabung dengan genre lain? Tungguin aja ya. ^^
Ai HinataLawliet: Hai juga. Sebenernya maksudku bukan itu, tapi aku jadi nyadar kesalahanku itu. Hehehe. Kuhitung sebagai kritik, boleh? Makasih banyak ya. Udah sedikit dibahas tuh sama Sasu. Maaf ya. ^o^
Yuka Shirabuki: Ahaha, iya sih, tapi kayaknya aku nggak bisa update cepet. :p Yap, sifat Itachi itu lebih gelap dibanding yang lain. Ini dia chapter 5. Enjoy ya! ^^
Noverius2012: Ini udah ku-LANJUTKAAAN lagi! Makasih ya.. XD
Ma Simba: Terima kasih udah rnr dan fave. Terima kasih banyak. *bungkuk-bungkuk* ^^
Ind: Eits, bacanya jangan ngebut2. Pelan2 aja. Hayati dengan khidmat... *bughhh* Terima kasih atas pujiannya. Disini Hina udah mulai sadar kan? Emang hime itu selalu bikin gemes! :p Ahaha, soalnya aku ini korban sinetron. Kalo lagi seru2nya, tau2.. jeeeng jeeeng! Bersambung. Bikin sweatdrop aja. Jadi kulampiaskan di fic. Hahaha. *plaakk* Tuh kan bener alurnya kecepetan, hehehe. Tapi sekali lagi makasih ya. Udah di-update nih, mind to review again? :)
Seperti yang kubilang di atas, aku bakal ngasih jawaban tentang hal yang nggak Hina sadari waktu dia ngobrol sama Sai itu. Yah, walaupun sebenarnya aku juga cuma iseng aja nanyanya. Tapi gini:
Sai bilang kalo kutukan Sasu ke keluarganya nggak bisa dicabut lagi. Hina sendiri juga cuma bisa selamat dengan minum darahnya Sasu, jadi dia bisa hidup lama. Tapi, Hina lupa sama Hanabi. Adiknya itu masih dapet kutukan dari Sasu, dan bakal meninggal. Nanti Hina nyadar kok, dan dia juga bakal nyari cara biar Hanabi selamat. Itu aja sih. Nggak ada yang heboh2 amat. Hehehe. :p
Karena aku belum mandi dari pagi demi update ini, aku nggak bakal cuap2 lebih banyak lagi deh. Tapi kalo readers masih bingung, masih banyak yang pengen ditanyain dan dikritik, amat sangat dipersilahkan. Ditunggu review-nya ya, minna! XD
Akhir kata, arigatou gozaimaaaaaaaaaasu! ^o^
