Lima sosok hitam itu berlari menembus kegelapan. Jubah yang sewarna dengan lingkungan sekitar mereka berkibar-kibar dalam angin. Satu di antara mereka, berwajah paling pucat di antara yang lain, berlari paling depan. Empat lainnya berlari dengan formasi berbentuk segitiga di belakang mereka.

Mereka berlari melewati sebuah tanah lapang yang luas dan kosong. Kabut kelabu tipis menggantung di sekitar mereka. Langit dan tanah di bawah kaki mereka tidak jauh berbeda, sama-sama kelam, membuat seseorang mungkin tidak akan tahu ke arah mana mereka harus pergi.

Namun mereka bukanlah orang biasa.

Yang berwajah pucat mendadak berhenti, lalu melihat sekitar, seolah merasakan sesuatu yang asing di dekatnya. Empat pengikutnya berhenti, ikut merasakan hal yang sama, walaupun indera mereka tidak setajam orang pertama.

"Ini bau Tuan Itachi." ujar salah satu dari mereka.

"Dari arah sana." seru si wajah pucat, kemudian berlari lagi ke arah kanan dari posisi awal mereka, menuju hutan.

Hutan itu sama sekali tidak hijau. Hutan itu bahkan dipenuhi dengan pohon-pohon mati, menjulang dari dalam tanah seperti tangan-tangan kurus dan hangus menghitam. Kabut tampak lebih tebal disana. Sudah bisa dipastikan tidak ada setitik pun cahaya mampu menembus kawasan itu.

Tanpa ragu, lima sosok tersebut menembus hutan. Mengikuti sebuah jejak yang terendus oleh indera penciuman mereka. Jejak yang ditinggalkan oleh orang yang paling mereka cari.

Jauh di tengah belantara, mereka menemukan asal bau tersebut. Sebuah sobekan kain hitam tersangkut di salah satu ranting pohon yang rendah. Diam tak bergerak, seakan memang sudah menunggu untuk ditemukan.

Si wajah pucat meraih sobekan kain itu. Ia mendekatkan kain itu ke hidungnya. Seketika, matanya terbelalak.

"Ada apa, Tuan Sai?" tanya salah satu pengikutnya.

"Ini.. Itachi.." Si wajah pucat tidak tahu harus bagaimana melanjutkan kalimatnya.

Dugaanku benar, batinnya. Ada sesuatu yang direncanakan oleh Itachi.

"Kalian berdua, kembalilah dan kabarkan tentang pelarian Itachi pada Sasuke. Sisanya, ikut aku." Pria berwajah pucat itu meremas sobekan kain hitam tersebut. Setidaknya, ia kini tahu kemana harus melanjutkan pencariannya. "Kita ke kastil Uchiha."

.

.

.

.

Summary:

Hinata bisa merasakan seseorang mengawasinya, menunggunya dari suatu tempat di balik dunia ini. Di sebuah dunia dimana eksistensi kehidupan tidak diizinkan untuk berada.

Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei. Kalo Naruto punyaku, hm.. nggak tau ya..mungkin jalan ceritanya bakal mirip Meteor Garden. :p

Pairing: Sasuke – Hinata

Rate: M *tepar*

Genre: Romance/Supernatural

Warning: OOC (sudah jelas lah ya), miss typo di suatu tempat, AU, alur terlalu cepet, and *sigh* *keringet dingin* here goes the lemon. Ini pertama kalinya aku bikin lemon, jadi harap dimaklumi kalo wujudnya jadi mengerikan. Aku berusaha membuatnya se-implisit mungkin, tapi kalo ternyata malah eksplisit, yah.. ditabok aja boleh deh aku-nya. Buat yang merasa belum cukup umur, aku udah ngasih warning ya. Baca silahkan, kalo mau balik malah lebih bagus. Tanggung jawab ada pada individu masing-masing loh. *dihantam bajaj* Don't like, don't read. ^o^

.

.

.

Fallen: Wedding

by. Kazahana Miyuki

Hinata yakin seratus persen kalau ia salah mendengar.

Atau setidaknya, begitulah yang ia kira.

Mencoba menguji pendengarannya, Hinata bertanya, "A.. apa?"

Sasuke tidak langsung menjawab. Tatapannya mengarah lurus kepada atap kamar yang begitu jauh di atas mereka. Nafasnya tenang dan teratur, membuat kepala Hinata yang berada di atas dadanya ikut bergerak naik turun. Namun Hinata dapat mendengar detak jantung Sasuke bertempo lebih cepat.

Tampaknya, hal ini juga bukan sesuatu yang mudah bagi Sasuke.

"Menikahlah denganku." Suara Sasuke yang merdu kembali terdengar. "Aku tidak tahu bisa menunggu lebih lama lagi atau tidak."

Dahi Hinata berkerut saat mendengar penuturan Sasuke. Diselipkannya satu siku di bawah tubuhnya yang kemudian ia gunakan untuk bertumpu seraya ia mengangkat tubuhnya agar ia bisa melihat wajah Sasuke dengan lebih jelas. Kedua mata onyx sang iblis sepintas diwarnai oleh kekhawatiran.

"A-apa maksudmu?" tanya Hinata. "Kenapa kau bicara seperti itu?"

Sasuke mengangkat tubuhnya sendiri sehingga mereka berdua sekarang sama-sama duduk di atas ranjang. Sasuke meraih tangan Hinata, lalu mendekap tangan mungil itu di dadanya. Menciptakan semburat merah yang seperti biasanya mewarnai kedua pipi Hinata, kali ini sedikit tersamarkan di balik memarnya. Sasuke melihat perubahan warna yang aneh itu dan kesungguhan yang terbit membuatnya semakin berani untuk mengulangi kalimat yang tadi diutarakannya.

"Aku akan mengatakannya sekali lagi. Dan kali ini, jawablah." Sasuke mempererat genggaman tangannya pada tangan Hinata. "Hinata, menikahlah denganku."

Irama jantung Hinata ikut bertambah lebih cepat. Terdengar sangat nyaring di dalam kepalanya, berbaur dengan dua kata yang harus ia pilih sebagai jawaban dari kalimat milik Sasuke.

Ya.

Tidak.

Ya.

Tidak.

Ya.

Tidak.

Nyatanya, menjawab lamaran tidaklah sesederhana itu.

Lamaran.

Mendengar hatinya sendiri menyebutkan kata itu, jantung Hinata semakin berdegup tanpa ampun. Hinata belum pernah dilamar siapapun. Jangankan dilamar, Hinata bahkan belum pernah benar-benar dekat dengan laki-laki manapun yang bukan keluarganya. Hal itu membuat Hinata tidak yakin apa yang harus ia lakukan dalam sebuah hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan.

Terutama jika hubungan itu disebut pernikahan.

Terutama jika pernikahan itu terjadi antara manusia dan iblis.

Tetapi.. menolak Sasuke? Hinata tidak yakin ia punya cukup kuasa untuk melakukannya.

"Aku tidak ingin kehilangan dirimu." Sasuke berkata. "Aku bisa gila. Menghabiskan keabadianku tanpamu—aku lebih baik mati. Aku ingin bersamamu. Aku—"

"Aku mengerti." Hinata memotong kata-kata Sasuke, mengabaikan peringatan yang pernah diberikan kepadanya dulu. "K-kurang lebih, aku bisa mengerti maksudmu. Karena kurasa... kurasa a-aku juga merasakannya. Tapi.. b-bisakah kau memberiku waktu?"

Kedua alis Sasuke bertaut, rasa khawatir akan penolakan Hinata semakin menggerogoti wajah rupawannya. "Waktu?"

"Hanya sebentar. A-aku perlu memikirkannya." jawab Hinata.

Sasuke memiringkan kepalanya. Memandang kedua mata ungu pucat Hinata dengan lembut. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

"Pikirkanlah." bisik Sasuke. Ia kemudian beringsut mendekati Hinata untuk menempelkan bibirnya di atas poni Hinata yang halus. "Pikirkan, lalu jawablah 'ya'."

Hinata terkekeh pelan, masih dengan warna kemerahan di wajahnya yang semakin pekat. "K-kenapa yakin sekali?"

Sasuke ikut tertawa. "Kenapa aku tidak boleh percaya diri? Aku tampan, kaya raya, dan hebat. Tidak ada wanita yang pernah menolakku." gurau Sasuke.

Hinata memukul bahu Sasuke perlahan dengan telapak tangannya saat mendengar kalimat narsis Sasuke. Tawa Sasuke terdengar semakin keras, ia kemudian mengelus puncak kepala Hinata perlahan.

"Sudah waktunya untuk manusia mandi." ujar Sasuke, masih dengan bercanda. Sasuke pun turun dari ranjang dan berjalan menuju lemarinya yang besar. Sasuke mengeluarkan sebuah jubah mandi berwarna merah marun, sebuah handuk kecil berwarna serupa, serta beberapa perlengkapan untuk mandi. Ia berjalan kembali ke arah Hinata yang masih duduk di atas ranjang lalu menyerahkan kedua benda itu padanya.

"Aku punya handuk sendiri." ujar Hinata sambil menerima handuk tersebut.

"Aku tahu. Tapi aku tahu kau terlalu takut untuk mengambilnya ke kamarmu dan aku terlalu malas untuk memanggil pelayan untuk mengambilkanmu." sahut Sasuke. Rupanya ia masih dalam suasana hati untuk bercanda.

Hinata tersenyum melihat tingkah Sasuke yang mendadak berubah kekanakan itu. Senyuman itu tidak terlalu lebar, mengingat ada memar di pipinya yang menghambat.

"Sudahlah." kata Sasuke. "Ayo, kutunjukkan kamar mandinya padamu."

Sasuke menggandeng satu tangan Hinata saat mereka berjalan menyeberangi ruangan dan menuju pintu.

"Kita keluar kamar?" tanya Hinata.

"Tidak. Ruangan ini hanya untuk menempatkan tempat tidurku saja. Sebenarnya, seluruh sisi kastil yang ini.." Sasuke membuat gerakan tangan di udara, menunjuk pada koridor di sekitar kamarnya. "..adalah kamarku."

Hinata takjub. Seluruh koridor itu? Patung-patung gargoyle itu juga? Seluas apa kamar Sasuke sebenarnya?

"Ikuti aku." ujar Sasuke.

Sasuke membimbing Hinata melalui sebuah koridor di sisi kiri kamar, satu bagian lain dari kastil besar itu yang belum pernah dikunjungi Hinata. Koridor itu cukup panjang, namun tidak terlalu sempit. Sebuah cahaya terang muncul dari ujung koridor yang satunya, membuat Hinata bertanya-tanya seperti apa rupa kamar mandi Sasuke.

Mereka sampai di sebuah ruangan. Ruangan itu tidak berpintu dan sangat luas, hampir seperti sebuah aula. Langit-langitnya sangat tinggi, ditopang oleh pilar-pilar berwarna putih yang besar. Atapnya lengkung dan berwarna putih gading. Jendela-jendela kaca yang besar berjejer menghiasi bagian atas dindingnya. Cahaya matahari—yang ternyata sudah sangat tinggi—menembus kaca jendela, menyinari setiap sudut ruangan dan menghasilkan pantulan-pantulan yang bergerak indah.

Sasuke mengajak Hinata menuruni beberapa undakan tangga yang langsung mereka temui setelah masuk. Ternyata tangga itu turun lebih jauh ke dalam sebuah kolam.

Hinata baru memperhatikan sekarang kalau ruangan itu tidak mempunyai lantai. Sebagai gantinya, sebuah kolam besar berbentuk persegi memenuhi seluruh ruangan tersebut. Airnya yang jernih itulah yang memantulkan cahaya matahari dan menciptakan bayangan di dinding. Seperti kolam renang biasa, namun dengan suasana dalam dunia dongeng.

"I.. ini kamar mandimu?" tanya Hinata.

"Hn." Sasuke mengangguk. "Apa kau perlu bantuan pelayan?"

Hinata menggeleng. "K-kurasa aku bisa sendiri."

Sasuke tersenyum. "Baguslah. Jangan khawatirkan masalah pintu. Aku akan memastikan tak ada seorang pun yang masuk."

"Bagaimana denganmu?" tanya Hinata lagi.

"Aku tidak akan mengintip, kalau itu maksudmu." sahut Sasuke sambil membuat tanda silang di dadanya. "Aku ada di kamar jika kau perlu sesuatu. Maksudku, di dekat tempat tidur. Bersenang-senanglah."

Sasuke berbalik, pergi meninggalkan Hinata sendirian di dalam kamar mandi—yang lebih cocok disebut kolam renang—itu. Hinata bisa melihat sosok Sasuke menghilang di balik pintu ruangan yang menuju tempat tidurnya.

Hinata menunggu beberapa menit. Setelah memastikan bahwa tidak ada seorang pun di sekitar tempat itu yang mungkin bisa mengintipnya, Hinata pun mulai membuka pakaiannya.

Saat itu, ia masih mengenakan gaun tidur berenda yang berbahan ringan dan tipis. Tidak banyak material pakaian yang harus dibuka yang mungkin bisa menyulitkan Hinata, hanya beberapa pita berwarna peach yang melilit pinggangnya.

Setelah seluruh lapisan pakaian itu tanggal dari tubuhnya, Hinata cepat-cepat berjalan menuju air. Berulang kali ia menoleh ke belakang, hanya untuk melihat bahwa tetap tidak ada siapapun yang berada di sekitar kamar mandi itu.

Hinata menggerutu. Katanya kaya, tapi membuat pintu saja kenapa tidak bisa?

Tanpa diduga, ternyata air di dalam kolam itu terasa sangat hangat. Mungkin sinar matahari yang telah menghangatkannya. Dalam sekejap, kulit Hinata langsung terasa rileks. Otot-otot yang menegang seolah mengendur, menciptakan rasa nyaman yang luar biasa pada tubuh gadis itu.

Hinata terus melangkah ke dalam air. Semakin jauh ia membenamkan dirinya ke dalam kolam tersebut, permukaan kolam itu juga semakin terasa tinggi.

Hinata berhenti melangkah. Ketinggian air telah mencapai dadanya. Gelombang air yang diciptakan oleh setiap gerakan Hinata melebar ke seluruh kolam, lalu memantul di dinding dan mengarah kembali pada Hinata. Suasananya sangat senyap hingga sayup-sayup, Hinata bisa mendengar suara gemerisik dedaunan yang tertiup angin di luar ruangan.

Hinata memejamkan mata, menikmati setiap sensasi yang mengalir dalam ruangan itu. Perlahan, kedua tangan Hinata ditangkupkan seperti mangkuk. Sedikit bagian air yang berhasil terkumpul di dalam kedua telapak tangannya kemudian ia bawa ke wajahnya. Air yang hangat yang menyentuh wajahnya membuat rasa berdenyut di pipi kirinya terasa sedikit lebih baik.

Hinata mungkin bisa menghabiskan waktu berjam-jam di tempat itu kalau saja ia tidak ingat bahwa ruangan itu tidak mempunyai pintu. Hinata segera memakai sabun, sedikit khawatir pada orang yang harus membersihkan air di dalam kolam itu nantinya.

Setelah benar-benar selesai, Hinata berjalan kembali ke arah tangga dan melilitkan jubah mandi untuk menutupi tubuhnya. Ia mengumpulkan semua peralatan mandi yang tadi dipakainya lalu melangkah kembali ke dalam kamar Sasuke. Ujung rambutnya yang basah meninggalkan jejak-jejak berupa tetesan air di atas lantai marmer.

Hinata mengetuk pintu kamar Sasuke, namun tidak ada jawaban dari balik pintu tersebut. Beberapa kali Hinata mengulangi ketukan, tetap tidak ada suara yang menyahut atau pintu yang terbuka.

Saat ia mulai merasa kedinginan, Hinata pun memutuskan untuk membuka sendiri pintu itu. Sebelum benar-benar masuk, Hinata melongokkan kepalanya ke dalam kamar, takut kalau ternyata Sasuke ada di dalam dan Hinata mengganggunya.

"S.. Sasuke?" tanyanya.

Ruangan yang kosong menjawabnya. Hinata melongok lebih jauh, melihat ke seluruh sudut ruangan. Ternyata Sasuke memang benar-benar tidak ada disana. Hinata pun memberanikan diri untuk benar-benar masuk ke dalam kamar tersebut.

Ia berjalan menuju meja, bermaksud untuk meletakkan peralatan mandinya disana. Sudut matanya menangkap sesuatu di atas tempat tidur. Hinata menoleh ke arah itu dan mendapati sebuah gaun sudah tergeletak disana.

Hinata meringis melihat gaun tersebut. Harus ia akui, selama ia berada di kastil itu, gaun di hadapannya itu adalah gaun tercantik yang ia lihat. Warnanya putih seperti salju, dengan tali-tali di bagian bahunya yang nanti harus diikat di belakang leher dan di atas bahu. Jemari mungil Hinata menyentuh bagian pinggangnya yang terbuat dari sutra, dengan hiasan beberapa mutiara di bagian tengah dada. Sentuhan Hinata turun ke atas roknya yang panjang menjuntai sampai ke mata kaki. Renda yang berlapis di atas rok itu melebar seperti bentuk kerang, namun sangat halus dan terjahit dengan rapi. Melihat gaun itu, hanya kata sempurna yang layak sebagai pendeskripsiannya.

Sebuah kertas putih yang terlipat dua bertengger di samping gaun itu. Hinata meraih kertas tersebut dan membaca tulisan yang sangat indah di atasnya.

'Gaun tercantik untuk sinar matahariku yang paling cantik. Sasuke.'

Sudut bibir Hinata mau tak mau tertarik ke dua sisi berlawanan saat membaca pesan yang gombal itu. Romantis, memang. Tapi tetap bernuansa gombal.

Hinata menggigit bibir bawahnya. Memikirkan lamaran Sasuke yang kembali terlintas dalam benaknya. Hinata seharusnya sudah tahu jawabannya. Sebagian besar suara di dalam hatinya sangat ingin menerima lamaran tersebut. Namun bagian lain, yang lebih kecil, menyuarakan perasaan takut yang aneh, yang membuat hati Hinata terganjal dan ragu akan keinginan yang sebenarnya. Untuk sebuah alasan yang belum terlalu jelas, masih ada sesuatu yang membuat Hinata takut akan kedekatannya dengan Sasuke yang semakin dalam. Takut jika suatu saat, sisi gelap Sasuke—yang Hinata yakin belum muncul seluruhnya—akan hadir ke permukaan dan kembali menyakitinya. Atau jika—mengingat reputasi dan kebiasaan lama Sasuke sebelum mereka bertemu—Hinata akan ditinggalkan untuk seseorang yang baru dan pada akhirnya ia harus sendirian.

Hinata menggelengkan kepalanya perlahan. Pikirannya sudah mengantisipasi terlalu jauh.

Hinata menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah memutuskan. Apapun resikonya, Hinata hanya ingin berpegang pada keputusan terakhirnya ini.

oOo

Entah kenapa, Sasuke sangat sulit dicari.

Hinata tidak tahu kemana iblis tampan itu pergi sepanjang siang itu. Setelah berpakaian, Hinata hendak keluar kamar untuk mencarinya, namun beberapa pengawal yang sudah berjaga di depan kamar malah mencegahnya.

Hinata tidak tahu kenapa, tapi sikap para pengawal dan pelayannya mendadak sangat protektif. Mereka bekerja lebih siaga dan sigap hari itu. Hinata sama sekali tidak boleh meninggalkan kamar Sasuke. Bahkan hanya untuk mencari buku bacaan di perpustakaan pun tidak boleh. Sebagai gantinya, beberapa buku dari sana akhirnya diborong oleh para pelayan ke dalam kamar. Hinata tidak tahu harus menganggap dirinya sebagai orang yang dilayani atau malah seorang tawanan.

Namun, Hinata bisa sedikit memakluminya. Mungkin semua orang bersikap seperti ini karena perlakuan Itachi pada Hinata kemarin.

Hinata bergidik saat membayangkan adegan itu kembali. Cara Itachi mencengkeram lehernya, cara Itachi menyeretnya, cara Itachi memukulnya..

Hinata tidak tahu kenapa kakak sulung Sasuke bertindak seperti itu. Apa ia pernah melakukan salah? Mereka bahkan nyaris tidak pernah saling menyapa satu sama lain.

Ketika matahari sudah hampir tenggelam, Sasuke baru menampakkan dirinya kembali. Wajahnya tampak khawatir. Hinata bisa melihatnya walaupun ada senyuman yang dipaksakan tersungging di wajah tampannya itu.

Sasuke meminta para pelayan untuk meninggalkan kamar dan membiarkannya berdua bersama Hinata. Dalam sekejap, ruangan itu kosong. Tidak ada orang lain selain sang pangeran iblis beserta gadis yang paling diinginkannya itu.

Tanpa basa-basi, Sasuke langsung memeluk Hinata. Hinata terkejut dan bingung. Kedua tangan mungilnya hendak mendorong tubuh Sasuke agar menjauh. Tapi Sasuke justru malah mempererat pelukannya. Akhirnya, Hinata tidak melakukan apa-apa dan hanya bisa membalas pelukan tersebut, membiarkan dirinya tenggelam dalam dada Sasuke yang hangat.

"Maaf meninggalkanmu sendirian selama seharian ini." ujar Sasuke. "Aku merindukanmu."

Ternyata itu alasannya ia bersikap tiba-tiba seperti ini. Hinata tersenyum mendengar penuturan Sasuke.

"Tidak apa-apa. K-kau tahu, aku tidak benar-benar sendirian." jawabnya.

Sasuke menempelkan hidungnya di puncak kepala Hinata. Memejamkan matanya seraya menghirup aroma yang selalu ia sukai dari gadis dalam rengkuhannya itu. Ia kemudian melepas pelukan mereka, dengan berat hati menciptakan ruang kosong di antara mereka berdua. Sasuke meraih tangan Hinata seperti tadi pagi. Namun kali ini Sasuke mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengecup punggung tangan Hinata dengan perlahan.

"Kau sudah memikirkannya?" tanyanya kemudian.

Hinata tersenyum, mengerti maksud pertanyaan Sasuke.

"Y..ya."

"Jadi.. apa jawabanmu?"

"Y-yang tadi itu.. i-itu jawabanku."

Sasuke mengangkat kedua alisnya. "Ya?" tanyanya.

Hinata mengangguk malu-malu.

"Sungguh? Ya? Kau mau?" Sasuke memastikan lagi.

Kali ini, Hinata menjawabnya dengan anggukan yang mantap.

Sudah bisa ditebak, binar kebahagiaan yang belum pernah ada di wajah Sasuke kini muncul dengan sangat jelas, membuat ketampanan sang iblis berlipat ganda. Senyuman yang menampilkan sederet giginya yang putih bersih itu pun tampak lebih lebar dari biasanya. Sasuke belum pernah terlihat sebahagia itu.

Kebahagiaannya itu membuat Sasuke mengembalikan Hinata dalam pelukannya, mengangkat tubuh mungil gadis itu dari lantai dan memutarnya. Hinata terpekik tertahan, namun tertawa bersama Sasuke. Membagi sebuah perasaan senang yang luar biasa.. yang sama-sama baru dan belum pernah dirasakan oleh mereka berdua.

Sasuke kemudian menurunkan Hinata, membiarkan gadis itu berpijak kembali. Mereka saling menatap. Wajah Sasuke masih tampak gembira, namun lebih serius. Kedua matanya yang gelap menelusuri setiap inci wajah Hinata. Sorot matanya seolah tidak percaya kalau ia sedang mengalami situasi membahagiakan seperti ini. Situasi yang dulu—sebelum mereka saling bertemu—mungkin tidak pernah hadir dalam benaknya. Melamar seseorang. Menikah. Tidakkah status itu sangat lucu untuk seorang iblis?

Tidak. Sasuke tidak mau mempertanyakan apapun lagi. Tidak ada lagi yang perlu diragukan. Hinata sudah menerimanya. Itu artinya, Sasuke telah menerobos semua aturan. Dan ia tidak peduli. Ia tidak takut. Walaupun ia harus jatuh lebih jauh lagi ke dalam kegelapan, ada malaikat cantik itu yang menggenggam tangannya dan menjaganya untuk tetap berada dalam cahaya.

Ya, Sasuke sangat yakin kalau Hinata bersedia melakukan itu untuknya.

"Kemarilah." ujarnya.

Sasuke mengajak Hinata untuk duduk berhadapan dengannya di kursi dekat meja bundar. Sasuke mengambil sebuah gelas kaca dan pisau dari atas nampan—yang diletakkan oleh para pelayan sebelum ia datang tadi.

Tanpa bicara, Sasuke menorehkan pisau itu di tangannya. Tepatnya, di telapak tangan yang sama tempat Hinata dulu pernah hampir mengorbankan dirinya sendiri. Darah merah nan segar segera mengucur keluar dari balik kulitnya yang pucat. Warnanya yang kontras membuat Hinata bergidik pelan. Ingatannya kembali pada acara makan malam pertamanya di kastil itu bersama Sasuke dan kedua saudaranya. Hinata ingat betapa perutnya serasa diaduk-aduk saat melihat cairan merah itu.

Namun entahlah, sekarang sepertinya rasa mual di perutnya tidak seburuk waktu itu.

Darah yang tumpah dari dalam telapak tangan Sasuke dikucurkan ke dalam gelas, menutupi permukaannya yang bening. Setelah gelas kaca itu setengah penuh, Sasuke menarik tangannya kembali dan mengusap luka itu perlahan. Entah bagaimana cara kerjanya, luka itu kemudian menutup. Tak ada lagi darah yang keluar.

"Minumlah." katanya, sambil menyodorkan gelas berisi cairan merah itu kepada Hinata.

Wajah Hinata menunjukkan sedikit rasa terkejut. "D-darahmu?"

Sasuke mengangguk. "Kau akan baik-baik saja. Aku berjanji."

Dengan gemetar, tangan mungil Hinata menerima gelas kaca berisi darah Sasuke itu. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan cairan merah tersebut, menahan bau khas yang membuat adukan di dalam perutnya mulai terasa lagi. Tak mau menunggu sampai lebih parah, Hinata memutuskan untuk langsung menuruti saja perintah Sasuke.

Ia menahan nafas, dan mendekatkan gelas kaca itu ke bibirnya.

Seteguk. Dua teguk. Tiga teguk.

Saat gelas kaca itu ditarik kembali dari bibirnya, Hinata setengah takjub ketika menyadari bahwa gelas itu sudah kosong. Ia sudah meminum semua isi gelas itu. Tanpa ia sadari, setetes cairan merah mengalir dari sudut bibirnya.

Secepat kilat, Sasuke menangkap cairan itu sebelum mengalir jatuh..

..dengan bibirnya.

Hinata tidak siap, namun ia ternyata malah menikmatinya. Seperti beberapa waktu yang lalu. Bibir Sasuke di permukaan bibirnya sendiri terasa begitu luar biasa, membuat pikirannya kembali terombang-ambing. Seperti balon yang melayang tak tentu arah karena ditiup angin, namun tetap ada tali yang menahannya di tanah.

Saat mereka terpisah kembali beberapa menit berikutnya, bibir Hinata sudah bersih seperti semula. Ujung lidah Hinata menyapu bibirnya sendiri, seolah tidak ingin rasa yang ditinggalkan Sasuke menghilang sia-sia. Menyadari gerakan refleksnya itu, rona kemerahan di wajah Hinata menjadi semakin pekat.

Sasuke tersenyum. "Sekarang, kau sudah menjadi istriku."

Hinata terbelalak. "A.. apa? S.. sudah? Begitu saja?" tanyanya tak percaya.

Sasuke mengangguk. "Memangnya harus ada apa lagi?"

"En.. entahlah. M-mungkin simbol. Atau lilin. A-atau sumpah. Atau apapun itu.."

"Sumpah? Baiklah." Sasuke bertanya, wajahnya tetap serius. Ia meraih kedua tangan Hinata ke dalam genggamannya, lalu kelopak matanya bergerak turun. Tertutup. "Langit, dengarkan aku. Bumi, camkan kata-kataku.

"Namaku Sasuke Uchiha. Pangeran ketiga dari tiga bersaudara iblis, putra dari Fugaku Uchiha. Dan gadis ini—gadis di hadapanku ini, yang sedang kugenggam tangannya—Hinata Hyuuga. Orang paling penting dalam eksistensiku.. Orang yang telah bersedia berjalan bersamaku. Begitupun aku telah bersumpah untuk selalu berjalan bersamanya. Berjalan untuk memimpinnya dari depan. Berjalan untuk menjaganya dari belakang. Berjalan untuk menemaninya di sisinya. Kemanapun ia pergi, aku tidak akan pernah melepaskan tanganku darinya. Dan demi dia.. Hanya demi dia.. Aku rela berjalan menembus apapun, bahkan api neraka.

"Gadis ini, Hinata Hyuuga, gadis terbaik sepanjang hidupku.. Orang yang telah menerimaku dan memberikan dirinya untukku. Begitupun aku telah bersumpah untuk memberikan padanya semua yang ia inginkan dariku. Aku akan menjadi apapun yang ia inginkan. Kekasihnya. Pelindungnya. Penjaganya. Pembimbingnya. Sahabatnya. Perawatnya. Penghiburnya. Pelayannya. Kekuatannya. Jiwanya.. Dan untuk dia.. Hanya untuknya.. Aku rela berhadapan satu lawan satu dengan kematian, jika itu bisa menjaganya agar tetap aman.

"Gadis ini, Hinata Hyuuga, gadis yang paling tidak ingin kulupakan selama keabadianku. Aku bersumpah akan selalu datang padanya jika ia memanggilku. Aku bersumpah akan menemukan jalanku kembali padanya jika kami terpisah. Aku bersumpah akan mencari jawaban dari semua pertanyaan yang ia ajukan padaku. Aku bersumpah akan ada untuknya dalam setiap detik di kehidupannya, dalam setiap hembusan nafasnya, dalam setiap tawanya, dalam setiap airmatanya. Aku bersumpah akan menjadikannya prioritas teratas, di atas segalanya, bahkan di atas hidupku sendiri.

"Walaupun seribu peraturan kulanggar dan jutaan dosa harus kutanggung karena telah mencintainya, maka aku akan menanggungnya dengan senang hati. Karena aku bersumpah untuk selalu mencintainya. Seperti lingkaran, tanpa awal dan tanpa akhir. Tak terputus. Konstan. Selamanya."

Sasuke mengecup punggung tangan Hinata sekali lagi, lebih lama dari sebelumnya. Saat kedua mata onyx-nya terbuka, sebutir air bening seperti kristal meluncur turun ke pipinya yang seputih tulang.

Satu tangan Hinata bergerak, kemudian mengusap butiran air itu dengan ibu jarinya.

"Kau akhir-akhir ini sering menangis." ujar Hinata perlahan. "Kau tampak sangat lemah."

Sasuke tersenyum, lalu mengecup ibu jari Hinata yang masih basah oleh airmatanya sendiri. "Aku mencintaimu, Hinata. Sangat mencintaimu. Karena itulah aku menangis."

Hinata membalas senyuman Sasuke. "Tidak apa-apa. Ibuku pernah bilang, menangis adalah ekspresi cinta yang lebih kuat daripada tersenyum."

Sasuke menggeser tubuhnya sedekat mungkin dengan Hinata. Ia menempelkan bibirnya di dahi berponi Hinata, lalu berkata, "Maaf jika ini membuatmu bingung. Kami tidak sama seperti apa yang kau lihat di dalam buku atau sumber lainnya. Tidak ada simbol. Tidak ada lilin. Tidak ada ritual atau semacamnya. Semua itu memang diperlukan, tapi bukan itu intinya. Bagi kami, inti dari pernikahan adalah ikatan. Dan dengan saling meminum darah, kau dan aku sudah terikat satu sama lain, sama sekali tidak bisa dipisahkan lagi."

"Ikatan semacam apa?" tanya Hinata.

"Sulit menjelaskannya. Akan lebih baik jika kau merasakannya sendiri nanti." sahut Sasuke. "Selain itu, kau mungkin tidak menyadarinya, tapi… sebenarnya proses pernikahan kita ini.. sudah dimulai sejak beberapa hari yang lalu…"

Hinata memotong kata-kata Sasuke dengan menjauhkan wajahnya dan menatap Sasuke dengan pandangan tak mengerti.

Sasuke membalas tatapan itu dengan senyuman miring yang tipis. "..sejak kau memberikan darahmu padaku."

Kedua alis Hinata terangkat. Tidak percaya. "Kau.. serius?"

Tentu saja ia tidak percaya. Bagaimana mungkin, selama lebih dari seminggu—sejak hari dimana ia memberikan darahnya pada Sasuke yang tengah menderita—ternyata ia sedang berada dalam suatu prosesi pernikahan? Tanpa ia sadari? Tanpa ia ketahui?

"Aku serius. Aku tidak bisa memberitahumu tanpa mendapat resiko bahwa kau akan marah dan menjauhiku lagi. Pengecut sekali, bukan?" Sasuke meringis.

Hinata tampak berpikir sejenak. Lalu, sebuah kesimpulan muncul dalam benaknya, membuatnya tersenyum sendiri. Sebuah kesimpulan bahwa Sasuke telah mengambil keputusan yang tepat dengan tidak memberitahunya saat itu. Dugaan Sasuke mungkin benar, jika ia mengetahui perihal pernikahan tersebut, mungkin Hinata akan membencinya lagi.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

"Tidak ada apa-apa." jawab Hinata sambil menggeleng. Poni di dahinya bergoyang perlahan. Dan Sasuke sangat menyukai wajah Hinata saat itu.

Oh, tentu saja Sasuke selalu menyukai wajah Hinata. Terutama karena ada perubahan berarti disana.

Sasuke mengajak Hinata kembali berdiri, lalu mereka berjalan menghadap sebuah cermin di samping lemari. Sasuke berdiri di belakang Hinata. Gadis itu mendadak terkejut saat melihat bayangannya sendiri di cermin.

Memar biru itu telah menghilang entah kemana. Mengembalikan pipi putih Hinata dengan rona kemerahannya yang khas itu. Bibir Hinata juga tampak sedikit lebih merah. Rambutnya bahkan terlihat lebih halus dari sebelumnya. Hinata tidak tahu sejak kapan setiap elemen yang ada pada tubuhnya berubah menjadi lebih baik.

"Sudah kuduga, kau tampak lebih cantik." ujar Sasuke seraya melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Hinata.

"T..tapi bagaimana bisa?" tanya Hinata.

"Efek yang hampir sama seperti yang pernah kau berikan untukku dulu." jawab Sasuke, senyuman miringnya terus tersungging di bibirnya. "Dan sebagai efek tambahan, apa kau tahu bahwa dengan meminum darahku, kau kini immortal?"

"Apa?" Hinata nyaris memekik.

"Darahku membantu sel-sel tubuhmu untuk melakukan regenerasi lebih cepat. Karena itu, kulitmu akan tampak lebih indah, luka-lukamu juga akan sembuh lebih cepat, semua akan terasa seolah-olah kau tidak pernah bertambah tua."

Hinata menatap bayangan Sasuke di cermin. Wajah rupawan itu tersenyum penuh rasa bangga, dengan binar kebahagiaan yang terus melekat di kedua matanya. Dahi Hinata mengerut.

Kemudian, ia menoleh dan mengecup pipi Sasuke, sebuah rasa terima kasih yang dalam tersirat dari sana. Namun Sasuke sedikit salah mengartikannya. Kejutan kecil itu malah membuat Sasuke membalas kecupan tersebut di tempat lain.

Lebih tepatnya.. di banyak tempat yang lain.

Sasuke kembali mempertemukan bibir mereka. Saling berpagut dan melumat dengan perasaan campur aduk yang sama. Kemudian Sasuke melepas ciuman itu dan cepat-cepat beralih menuju pipi Hinata, lalu berpindah ke mata kanan, ke dahi, bergerak ke mata kiri, lalu turun ke pipi, ke dagu…

Tidak satu inci pun dari wajah Hinata terlewat begitu saja oleh Sasuke.

Tanpa sadar, tubuh Hinata memutar, hingga mereka kini saling berhadapan. Dan saat Hinata merasakan nafas Sasuke menyentuh permukaan kulit lehernya, gadis itu terkesiap. Dicengkeramnya kuat-kuat bagian lengan pakaian Sasuke saat perasaan menggelitik itu menyergapnya. Hinata pun menutup matanya erat-erat.

Tangan Sasuke turut berpindah, kini hinggap di sisi kepala Hinata, menariknya ke samping agar dapat memberikan ruang lebih untuk Sasuke semakin leluasa menyerang leher Hinata. Semua bagian mulut Sasuke bekerja—bibirnya, lidahnya, giginya, nafasnya. Semuanya sibuk memberikan sensasi sengatan listrik kecil pada leher putih itu.

"Ada tiga tahap utama dari sebuah pernikahan di duniaku." bisik Sasuke, suaranya seduktif. "Yang pertama—yang kau lakukan tanpa sadar—kau memberikan darahmu padaku. Yang kedua, aku memberikan darahku padamu…"

Sasuke sampai di telinga Hinata, titik terlemah dari gadis dalam rengkuhannya itu. Nafas Hinata otomatis terdengar semakin berat, bersamaan dengan sebuah suara kecil yang meluncur keluar tanpa bisa dicegah.

"Dan yang ketiga…" bisik Sasuke langsung di telinga Hinata.

Setelah itu, Sasuke menunduk untuk meraih kaki Hinata. Hinata membuka mata, lalu menegang saat mengetahui bahwa Sasuke tengah membopongnya langsung ke tempat tidur.

Jantung Hinata berdebar sangat kencang ketika menyadari maksud dari 'tahap ketiga' yang dikatakan Sasuke. Hinata mempererat pegangan tangannya di leher Sasuke, seolah takut untuk melepaskannya. Setiap langkah Sasuke menuju tempat tidur itu membuat perut Hinata semakin terasa melilit.

Sasuke berhenti. Dengan hati-hati, ia duduk di tengah tempat tidur, membawa serta Hinata bersamanya hingga kini Hinata ada dalam pangkuannya. Tangan Hinata kini pindah, mencengkeram bagian depan pakaian Sasuke. Mata ungu pucatnya menatap Sasuke dengan sangat gugup. Sasuke bisa melihat jelas kegugupan itu. Telunjuk pucat Sasuke bergerak ke arah pipi Hinata dan mengelusnya dengan lembut disana, berharap gerakan itu bisa menenangkannya.

"Kau gugup?" tanya Sasuke.

Hinata mengangguk. Suaranya gemetar. "S-sangat."

Tangan Sasuke berpindah ke dahi, menyibak poni Hinata. "Kau percaya padaku?" tanyanya lagi.

Sasuke mengecup dahi Hinata lagi, seraya gadis itu menjawab dengan anggukan.

"Kau tak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu." bisik Sasuke.

"A..aku tahu." sahut Hinata.

Sasuke kembali mempertemukan bibir mereka. Memulai dari awal, dari kecupan-kecupan yang lembut hingga kemudian berubah menjadi lebih panas. Lidah pun turut berperan, saling menjelajah setiap sudut dalam rongga yang sama-sama telah menjadi area kepemilikan mereka masing-masing itu.

Salah satu tangan Sasuke tidak tinggal diam. Jari-jemari pucat itu mendarat ke belakang leher, lalu menarik tali yang terikat disana—yang terhubung ke bagian atas gaun Hinata. Tali-tali itu pun terkulai jatuh, tidak lagi menjadi penghalang yang menutupi leher dan tulang bahu Hinata.

Tanpa menunggu, Sasuke mulai meninggalkan bibir Hinata dan menuruni dagunya. Gejolak di dalam dadanya terasa tak sabar, namun ia ingin melakukannya dengan perlahan dan hati-hati, agar Hinata juga bisa merasakan setiap detilnya dengan baik.

Sasuke pun menyerang leher Hinata, memastikan bahwa setiap syaraf yang ada disana bisa merasakan sentuhannya. Perlahan, Sasuke mendorong tubuh Hinata hingga rebah ke atas bantal.

Entah sejak kapan, rupanya Sasuke telah menarik turun bagian atas gaun Hinata sampai sebatas perut. Menyadari hal itu, Hinata cepat-cepat menutupi tubuh polosnya dengan kedua tangannya.

Sasuke tersenyum. Digenggamnya kedua lengan yang menghalangi itu, lalu ditarik dengan hati-hati.

"Kau tak perlu menutupi apapun lagi dariku. Kau milikku, Hinata. Tidak apa-apa." ujar Sasuke.

Wajah Hinata lebih merah daripada tomat ketika ia pasrah saja melihat Sasuke meletakkan kedua tangannya di masing-masing sisi kepalanya, memamerkan bagian tubuh yang selama ini belum pernah dilihat siapapun selain dirinya sendiri. Panas di wajahnya serta rasa malu membuat airmata terbit di sudut matanya.

Jantung Sasuke terasa hampir meloncat keluar dari dalam tulang rusuknya saat melihat pemandangan yang disodorkan padanya itu. Ia sudah berpuluh kali melihat banyak gadis melucuti pakaian mereka di depannya. Tapi gadis yang satu ini…

Bagi Sasuke, tampaknya bahkan tidak ada satu kata pun yang bisa digunakan untuk menyaingi keindahan Hinata.

"J-jangan melihatku s..seperti itu." Suara lembut Hinata yang masih gemetar membuat Sasuke terhenyak.

Sasuke tersenyum miring. Ia mengangkat badannya sedikit, memberikan cukup ruang baginya untuk melepas pakaiannya sendiri, lalu gaun Hinata yang masih tersisa.

Bibir Hinata terasa kering saat melihat torso Sasuke yang indah. Setiap garis dan lekuk ototnya seolah berada di tempat yang tepat, tampak seperti dipahat dengan seorang yang ahli. Tangan Hinata hampir saja tergerak untuk menyentuh enam lekukan di perut Sasuke itu. Namun Hinata hanya bisa mengepalkan tangannya lebih erat untuk menahan keinginan itu. Bisa-bisa ia pingsan karena malu berat nanti. Hinata berencana untuk membiarkan Sasuke yang memegang kendali malam ini.

Saat Sasuke kembali merebahkan tubuhnya di atas Hinata, gadis itu terkesiap keras. Terkejut saat merasakan Sasuke langsung di atasnya. Kulit bertemu dengan kulit. Hangat bertemu dengan hangat. Tanpa satu helai pemisah pun.

Sasuke mencium bibir Hinata lagi. Kali ini, tidak tahu bagaimana, Hinata merasa keragu-raguannya lenyap. Rasa takut dan gugupnya sedikit demi sedikit menguap pergi. Hinata merasa lebih berani dan yakin kalau dirinya hanya untuk Sasuke.

Walaupun begitu, debar jantungnya tetap menggebu-gebu saat mulut Sasuke berpindah ke daerah leher, bahu, dan dadanya. Tangan Sasuke menjelajah dengan bebas. Membelai seluruh permukaan kulit Hinata—dari paha ke arah pinggang, lalu naik sampai ke dada, kemudian turun lagi sampai kembali ke paha, begitu seterusnya.

"Kulitmu sangat halus." puji Sasuke, nafasnya berat. "Kau benar-benar cantik, Hinata."

Hinata merespon dengan bersuara pelan, bersamaan dengan nafasnya yang hangat. Kedua tangannya tidak berpindah, tetap mencengkeram kedua sisi bantal di samping kepalanya, menahan perasaan menggelitik dari setiap serangan Sasuke.

Sasuke hampir lepas kendali setiap Hinata mengeluarkan suara seperti itu. Tapi, malam itu, bukan nafsu yang sedang menguasai dirinya. Bukan nafsu yang mendasari hal yang tengah mereka lakukan itu. Yang ada hanyalah rasa saling menginginkan. Saling memiliki. Saling memuja keindahan satu sama lain. Saling menyayangi.

Hal itulah yang membuat Sasuke mampu menahan diri. Membuatnya mampu bergerak sepelan dan sehati-hati mungkin, berusaha tidak membiarkan satu goresan pun hadir di kulit Hinata.

Terutama karena kini Sasuke tengah berpindah lebih ke bawah lagi.

Hinata menggigit bibirnya, menahan suara lembutnya agar tidak keluar tanpa diinginkan. Airmata semakin menggenang di kedua matanya. Kelopak mata dan telinganya terasa sangat panas. Begitu pula dengan nafas Sasuke yang sedang menelusuri bagian bawah perutnya disana.

Puas bermain-main, Sasuke kembali ke Hinata, memagut bibir Hinata sejenak.

"Kau siap?" tanya Sasuke setelahnya.

Hinata bisa merasakan tubuhnya sendiri bertambah tegang, sebagai bentuk antisipasi pada apa yang dimaksudkan Sasuke. Ia menggeleng malu-malu.

"A-aku takut." katanya.

Sasuke tersenyum mengerti. Ia mengusap pipi Hinata. "Tidak apa-apa. Tak ada yang perlu ditakutkan, aku berjanji."

Hinata merasa sedikit tenang dengan mendengar kata-kata Sasuke. Bagaimanapun, siap tidak siap, mereka berdua sama-sama tahu bahwa Hinata akan tetap menjadi milik Sasuke malam ini.

Sasuke mendekatkan wajahnya ke telinga Hinata.

"Katakan saja kalau kau ingin aku berhenti." bisiknya.

Hinata membalas bisikan tersebut dengan tiga kata yang tidak akan pernah dilupakan Sasuke seumur hidupnya, "Aku mencintaimu, suamiku."

Kemudian, rasa sakit itu datang tiba-tiba ketika mereka benar-benar menjadi satu. Sasuke berusaha melakukan semuanya selembut mungkin. Namun tetap saja bagi Hinata, tubuhnya serasa dibelah dua. Jeritannya pun keluar dan airmatanya semakin deras. Rasanya ia sangat ingin mendorong Sasuke menjauh agar rasa sakit itu hilang. Tapi justru rasa sakit itu malah membuatnya tidak bisa bergerak.

Sasuke berusaha menenangkan Hinata dengan mengusap-usap dahi gadis itu, menyingkirkan poninya yang basah oleh keringat. Mencium aliran airmata yang membanjiri pipinya.

Rasa sakit itu tak bertahan lama. Beberapa menit kemudian, Hinata sudah tampak lebih tenang dan tak lagi menangis. Setelah Sasuke memastikan bahwa Hinata sudah merasa lebih baik, ia pun mulai menggerakkan tubuhnya.

Perlahan tapi pasti, gelombang itu muncul ke permukaan. Gelombang yang muncul entah dari mana, memusat di tempat dimana dirinya bersatu dengan Sasuke, sedangkan bagian dirinya yang lain seolah mati rasa. Membuat matanya berkunang-kunang. Kepala Hinata tidak bisa diam, menggeleng kesana-kemari saat perasaan terombang-ambing yang familiar itu hadir.

Sedangkan Sasuke tidak bisa berhenti menyentuh dan menciumi Hinata. Gadis itu sangat membuatnya ketagihan. Kulit halusnya yang seputih susu. Wajahnya yang bersemu dan tampak sangat menggemaskan. Mata ungu pucatnya yang sayu. Rambut indigo panjangnya yang berantakan. Suaranya yang lembut. Tubuh moleknya yang seperti dewi. Semua itu adalah milik Sasuke seorang. Hanya milik Sasuke, tak ada lagi yang bisa mengambil gadis itu darinya.

Hinata mengikuti gerakan Sasuke, menari bersamanya dengan irama yang serasi. Tubuh mereka seperti dua kepingan puzzle—saling melengkapi, setiap lekuk terlihat cocok satu sama lain. Suara mereka berbaur menjadi musik yang melengkapi ritme mereka, memenuhi ruangan. Atmosfer memanas, nafas hangat menguap pekat di udara, membuat tubuh mereka lembab. Suasana yang begitu sempurna dan tak boleh terusik oleh apapun.

Lengan Hinata melingkari bahu Sasuke, berpegangan erat padanya seiring sang suami membawanya terbang. Jari-jari Hinata tenggelam dalam rambut dan kulit Sasuke. Puncak yang tengah mereka daki bersama itu sudah ada di depan mata.

"Aku mencintaimu, Hinata." bisik Sasuke.

Mereka telah sampai disana. Di puncak segalanya, titik tertinggi dari perasaan mereka satu sama lain. Jeritan Hinata dan suara rendah Sasuke mengiringi pencapaian itu.

"Maafkan aku.."

oOo

Aula itu sangat luas dan hampir kosong, kecuali sebuah meja persegi dan dua buah kursi di tengahnya. Dindingnya yang sewarna dengan darah tampak suram, dihiasi lilin-lilin yang digantung beraturan serta beberapa lukisan portrait besar. Lantainya terbuat dari marmer yang jernih, memantulkan kesuraman di atasnya. Pintu lengkungnya yang terbuat dari kayu eboni berseberangan tepat dengan sebuah jendela yang hampir serupa bentuk dan ukurannya.

Pria tampan berambut panjang sepinggang itu berdiri di sisi jendela, menatap keluar. Dilihatnya sebuah siluet berjalan dari balik kegelapan, menembus kabut yang menyelimuti pekarangan depan bangunan.

Itachi, pria itu, tersenyum tipis. Ia berjalan menjauhi jendela, berbalik menuju bagian tengah ruangan. Ia duduk di salah satu kursi. Dagunya bertumpu pada tangan kanannya. Menunggu.

Pintu aula itu terbuka.

Tampaklah sesosok pria dengan pakaian yang berbanding terbalik dengan gaya pakaian Itachi. Pria yang baru datang itu membawa berbagai macam jenis senjata di tubuhnya. Sebuah senapan dan pedang tergantung di punggung, dua buah pistol tersarung di kedua sisi pinggulnya, serta beberapa senjata lain tersemat dalam sebuah tali kulit yang melingkari pinggangnya. Wajah pucatnya datar, namun sedikit kekhawatiran terpancar dari mata hijaunya yang dikelilingi lingkaran gelap.

Itachi tersenyum menyambut kedatangan orang itu. Mata merahnya berkilat-kilat.

"Selamat datang kembali, Sabaku."

To Be Continued..

.

.

.

.

A/N:

*ngintip* *ngeliat readers udah pada nenteng golok sama celurit* *merinding*

H..hai, readers! Maaf banget ya karena update-nya yang super lelet ini. Maaf sebesar-besarnya..

Sebenernya udah mau ku-update dari beberapa minggu yang lalu (niatnya sih sebelum aku UTS), eh tiba-tiba pacarku tersayang (baca: laptop) kena virus dan harus menjalani operasi. Sekarang baru sembuh lagi. *readers: author banyak alasan, rasengaaan!*

Jujur ya, aku sweatdrop berat baca chapter ini. Apaan sih ini? Nggak jelas! Maklumin aja ya, soalnya ini pertama kalinya aku bikin *ohok* lemon *ohok*. Mati2an aku bikinnya. Bikin lime yg chapter lalu aja aku sampe mau nangis saking malunya. Di chapter ini aku nangis beneran loh. *padahal nggak ada yang nanya juga*

Jangan bingung sama kamar mandinya Sasu, aku juga nggak ngerti kenapa bentuknya begitu. Aku dapet inspirasinya *lagi-lagi* dari mimpi. Terus juga aku tahu apa yang ada di pikiran readers waktu liat pernikahannya SasuHina. WTH banget kan? Gaje to the max! aku tahu.. aku tahu.. *sedih*

Yosh, karena nggak tau mau ngomongin apa lagi, jadi aku mau jawab review aja:

kyu's neli-chan: Review-mu membuatku merasa jahat. Huweeee.. *ikutin meluk itachi* *digigit* Maaf ya karena Itachi jadi jahat disini. Sini, sini, silahkan jewer aku.. Hehehe. :p

Maykyuminnie: Loh? Nggak apa-apa kan kalo abis first kiss langsung married? Hahaha, malah menurut aku itu sweet. Pertama dan terakhir. *plakkk* :p

Winda A Shanda: Loh? Berarti Winda-chan kuliah duluan daripada aku dong? Emang umurnya Winda-chan berapa? Kuliah farmasi dimana? *kok jadi interogasi* Ahaha, jangan panggil kakak dong. Aku jadi merasa tua. *padahal emang udah tua* Iya, makasih ya, aku usahain update secepat yang kubisa. :)

Desy Cassiotaku: Hahaha, makasih. Bener tuh, orang ganteng emang harus jahat. Biasanya aura kegantengannya malah lebih keluar. *digerus* Udah di-update nih, maaf banget kalo kelamaan. :)

keiKo-buu89: Wah, berarti Fallen nggak sehat nih, bikin orang melotot begitu bangun. Ck ck ck, parah nih author-nya. *buggh* Hahaha, makasih ya. Soal Itachi, kita lihat aja nanti dia maunya apa. *dicubit* Ini dia update-nya!

RajaKelelawar: Oalah, makasih ya kalo begitu. Aku tersanjung.. *ditoyor* Biar labil, yg penting tetep ganteng lah dia.. :D

lonelyclover: Soal Hanabi, tungguin aja nanti nasibnya gimana. Ada kok, ada. Ini update-nya.. :D

Mimi love: Ayooo, belajar dulu.. Fic ini masih ada disini saat kamu kembali. Hehehe. ^^ Wah, aku dimarahin. Iya, iya maaf kelamaan. Ini udah di-update ya. :D

Ai HinataLawliet: Weleh, weleh, jangan dong! Mentang2 Itachi pernah salah ngambil korban, jadinya disuruh yaoi-an sama Dei! Dei kan selingkuhanku. No! No! *dijambak dei* Tebakannya bener semua tuh. Enjoy this chapter ya! :D

sasuhina hater: Wow, ini flame bukan? Hehehe. Loh? Kenapa harus dihapus? Emangnya ada yang salah? Di bagian mananya ya? :)

mery chan: Hahaha, makasih ya. Eits, tidak bisaa.. Sasu kan punya hime, nanti dimarahin bapaknya loh. Hehehe. *dicakar* Udah aku update nih, tapi maaf ya nggak bisa cepet. :D

ulva-chan: Udah di-update :)

Ma Simba: Alhamdulillah yah, makasih bangeeet. ^^ Oke, dua kata: UDAH LANJUUUTT! :D

lavender hime chan: Uwaaa, makasih banyak ya pujiannya. Sampe deg-degan aku. *lebay amat toh si author ini* Kenapa Itachi begitu? Kita lihat nanti aja ya. Udah di-update nih, lebih romantis kah? :D

The Amethyst Hime: Sabar, nak. Suatu saat pangeranmu akan datang bersama kuda putihnya. Sabarlah menanti dia. *author ngelantur* *padahal itu impiannya author* Hehehe, udah di-update nih ya! :p

widya: Wah, namamu sama kayak aku.. *pede amat nih author* Hehehe, ini chapter 6-nya. Enjoy ya! :D

Miya-hime Nakashinki: No, no, no, silahkan teriak sepuasnya. Tenang aja, aku nggak punya bakiak kok. :p Uwaaa, aku udah bikin anak orang kelelep! Tunggulah, Miya-chan! Aku akan menolongmuuu! *minta tolong sama spongebob* Makasiiiiih banget ya! Ini udah ku-update, maaf ya kalo lelet dan kayaknya update yg berikutnya juga bakal sama leletnya. Enjoy! :D

Uchiha Stephanie: Terima kasih karena udah suka. Udah ku-update, tapi maaf kalo nggak kilat. :)

momo suka ni Fic: Nanti ya, Sasu-nya lagi pelukan sama Hina dulu. Sabar.. sabar.. *digetok* Ini dia lemonnya! *nervous* Hehehe, sudah cukup sweet-kah? :)

SasuhinaLovers: Oh, boleh banget. Sini, nak, silahkan duduk.. *nepok2 bangku sebelah* Hehehe, makasih ya. Hayo, maunya terus sama Sasu apa nggak? Enjoy this chapter.. :D

n: Waaah, berarti kita seumuran dong? :) Ahaha, fic ini nggak seberapa. Aku tetep masih newbie disini. Malah aku lihat banyak yang fic yang lebih keren dari ini, yang ternyata dibikin sama author yg lebih muda daripada aku. Aku salut berat sama mereka. Hehehe.. *seperti biasa, pembicaraan author ini tanpa arah* Enjoy this chapter ya.. :D

zoroutecchi: Uwaaa, aku menularkan jiwa psikopat ke orang lain! Maafkan aku, himeee! *nangis guling2* *ditendang* Udah di-updateeee.. :)

Kaka: Makasih banyak karena udah suka. Hm, Itachi kenapa yaaa? Tungguin aja nanti, ok? Ini udah di-update, maaf kalo nggak cepet. :)

soft purple: Nggak apa-apa, dear. Silahkan review kapan saja, nggak review juga nggak apa-apa, tapi kalo bisa review.. *disumpel duitnya kakuzu* Woh? Kalo gitu, berarti kamu skip sebagian chapter ini dong? Maaf ya kalo "asem-asem"-nya ngeganggu. *ikutan bungkuk* Soal flame, nggak masalah. Aku welcome kok sama flame. Itu kan juga review, cuma bentuknya lebih hot. *eh? maksudnya?* Makasih banyak review-nya, ini penting banget loh. Udah di-update nih. Maaf ya kalo kelamaan.. :)

sasuhina: Hahaha, makasih ya karena udah suka. Updated, but sorry it can't be soon enough. Enjoy? :D

uchihyuu nagisa: Jangan marahin Itachi! Marahin aku! *ampuuun* Nih, Sasu-koi udah nikah *pernikahan yang gaje* Enjoy ya.. :)

sAbAku Grimmy blAckForest: Hahaha *ketawa miris* pernikahannya gaje banget kan? Nggak ada sakral2nya. *minta ampun sama sasu* Soal Itachi, pertanyaannya disimpen aja dulu, lihat nanti aja. Ada apa dengan Itachi? *diguyur ita* Makasih, udah di-update ya. :D

Hyou Hyouichiffer: Maaf ya kemaren nggak sempet ngebales PM-nya. Maaf juga karena kelamaan update-nya. Sekarang aku udah update nih, enjoy ya.. :D

uchiha yoichi: Salam kenal juga.. ^^ Makasih ya, Itachi itu emang keren mau gimana juga. Udah di-update nih. :D

gudeg Jogja: Udah di-update. Makasih ya. :)

Black rose: Makasih, ini udah aku update.. :)

Miss'Ree'moriku: Ahaha, ternyata aku punya tanggung jawab besar ya disini. *meringis* Tapi makasih banyak karena udah nunggu. Akan kuusahain update tiap bulan. Maaf kalo terlalu lama. Enjoy this chapter ya. :D

YuGaemGyu3424: Hahaha, kenapa nggak nyanyi aja berdua sama Kyu? Kan lebih asik tuh. ^^ Wow, jangan jahat2 dong sama Ita-kun. Nanti aku makin merasa bersalah nih. *sedih* Makasih karena udah meluangkan waktunya untuk review disini, udah ku-update ya. :D

Dewi Bulan: Kelamaan ya? Hehehe, maaf banget ya. Tapi makasih karena udah mau nunggu. Enjoy this chapter? :)

Kaguya-Hime: Yap, bener banget. Tuh udah ada di atas. ^^ Kenapa Itachi begitu? Kita tunggu aja nanti ya. Udah ku-update nih. :D

Mei Anna AiHina: Wah, aku nggak sanggup bikin yang lebih daripada itu. Aku bisa pingsan. :( Soal FugaMiko, udah kejawab kan? Makasih ya udah nunggu. Ini dia update-nya! :D

Yuka Shirabuki: Yap, Itachi jadi antagonis. Makasih banyak ya. Ini udah di-update. :D

Rika-hime: Hahaha, pernikahannya gaje kan? *pundung* Makasih ya, ini udah aku update :)

Fujiwara Ami: Wow, kembaran Ami-chan aliran naturalisme? Mau dong minta digambarin! *dicolok* Wah, kayaknya Nararu sama Arashi itu hot. Jadi pengen lihat. ^^ Ahaha, maaf ya karena wedding-nya nggak sesuai harapan. Tapi itu ide-nya Ami-chan kan? Itu weddingnya versi Ami-chan keren loh. Dark banget, tapi aku suka. ^^ Soal Itachi, tungguin aja nanti kayak gimana. Udah ada sedikit spoiler disini kan? Makasih yaaaa.. Ini udah ku-update, tapi aku ditinggalin sama gluduk-nya. Hehehe.. :p

Ind: Makasih pujiannya untuk SasuHina. Dan maaf sebesar-besarnya buat Itachi. Nanti ada alasannya kok kenapa Itachi begitu. :) Soal pernikahannya, maaf ya kalo nggak sesuai harapan. Malah sebenernya jadi gaje banget kan? *nangis* Makasih yaa. Ini dia update-nya. :D

Vipris: Pertanyaannya disimpen aja dulu ya? Nanti pelan2 aku jawab lewat ceritanya, ok? Enjoy this chapter.. :D

Hazuki Furumiya: Nggak setuju ya? Aku juga sih. *terus kenapa dibikin jahat, thor?* Hehehe, udah ku-update nih. :)

Ran Kajiura: Jangan gitu, Ta. Malu nih. Udah dibaca semuanya? Cepet amat. Hehehe. Ditunggu fic darimuuuu.. Hahaha. Ini udah di-update nih. :p

Mikky-sama: Belajar dulu.. belajar dulu.. Semangat ya semesterannya! *apa jangan2 udahan?* Hehehe.. :D

Naoki lee: Makasih ya udah suka. :) He? Uke? Apa karena Sasu jadi rada ababil gitu ya, jadi kesannya lembut? Hahaha. *digampar sasu* Makasih karena udah nunggu, ini udah aku update.. :D

Oke, aku tahu aku dosa besar sama readers karena udah bikin fic ini terbengkalai berminggu2 dan hasilnya ternyata amat sangat terrible. Aku sekali lagi minta maaf.

Tapi juga mau bilang terima kasih buat yang udah review maupun yang jadi silent readers, pokoknya semua yang udah ngikutin fic ini dari awal sampe sekarang. Terima kasih banyak. ^^

Aku menanti review dari readers semua, baik yang positif maupun yang negatif. Aku terima dengan senang hati. Kalo ada yang mau curhat atau sampe OOT juga boleeeeh banget. Silahkan dilimpahkan sampe puas! Aku menanti.. *berdiri di bawah hujan kritik*

Akhir kata, arigatou gozaimaaaaaaaaaasu! ^o^