Warning : cerita monoton, garing, gaje, miss typo bertebaran, banyak kekurangan, karakter OOC, dan kesalahan lainnya. Jika ada kesamaan ide, kejadian, alur, tempat, mohon maaf itu bersifat tidak sengaja. Cerita ini memang ide yang muncul dari pemikiranku. Dimohon tinggalkan jejak ya. Terima kritik, saran,komentar, dan masukan. Makasih

Disclaimer : Masashi Kishimoto

The Maid

Chapter 2

Waktu menunjukkan pukul 06.35 pagi. Matahari masih belum begitu menampakkan cahayanya, dan sebagian orang mungkin masih sibuk mempersiapkan dirinya untuk kegiatan yang akan dilakukannnya hari ini. Namun tidak dengan Hinata, dia telah menapakkan kakinya menyusuri jalan menuju sekolahnya. Terlalu pagi? Memang sengaja Hinata berangkat ke sekolah sepagi itu, berusaha meminimalisir kemungkinan bertemu dengan orang-orang disekolahnya. Karena pertemuannya dengan majikan sementaranya, membuat Hinata paranoid ada warga sekolah ada yang mengetahui pekerjaan yang sedang dilakukannya saat ini. Bukan karena malu, tapi takut diserbu oleh para fans Sasuke yang fanatik. Bukan rahasia jika para fans Sasuke yang fanatik itu rela melakukan apa saja saat mereka cemburu.

Hinata mempercepat jalannya saat memasuki gerbang sekolah. Setelah memasukki kelas berplang 2-A Hinata menuju meja paling pojok sebelah kiri, tempat yang membuatnya jarang terlihat dari luar kelas. Satu-persatu siswa yang sekelas dengannya memasuki kelas 2-A, mereka semua tampak bersikap seperti biasa, mengacuhkan keberadaan Hinata. Hinata merasa sangat bodoh, untuk apa dia pergi pagi-pagi? Toh akhirnya dia belajar dengan warga sekolah lainnya bukan?

SKIP TIME

Hinata memusatkan pendangannya pada buku tebalnya, yang kini berjudul 'The Lost Symbol' . Hinata sengaja menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan sambil memakan bentou-nya.

"Kriiiing" terdengar bunyi bell yang menunjukkan jam istirahat berakhir. Hinata segera menutup bukunya dan menunggu koridor lebih sepi untuk berjalan menuju kelasnya.

"untung tinggal satu jam lagi" Hinata merasa lega, kekhawatirannya memang berlebihan, padahal Hinata sendiri tahu Sasuke bukanlah orang yang akan memberikan informasi tidak penting pada orang lain. Tapi Hinata masih takut jika harus bertemu Sasuke, dia masih belum mempersiapkan jawaban jika Sasuke bertanya banyak hal tentang pekerjaannya.

Karena terlalu asik melamun, Hinata tidak menyadari ada dua tangan kokoh yang menariknya menuju gudang yang menyimpan peralatan olahraga yang tidak jauh dari sana.

Sasuke's POV

Nah, itu dia. Aku sengaja ke sekolah hari ini untuk mencarinya, karena sepertinya jadwalku hari ini cukup padat. Kenapa dia terlihat melamun? Lebih baik kutarik dia saja. Walau sudah sepi, tidak tertutup kemungkinan ada yang melihatnya.

Dia terlihat tersentak, wajahnya terkejut melihatku yang tiba-tiba menarik kedua tangannya menuju gudang. Aku menempelkan punggungnya ke dinding, mengunci gerakannya dengan kedua tanganku yang berada di samping kedua lengannya. "kenapa kau terlihat takut hmm? Mukamu pucat." Kataku sambil mengangkat dagunya dengan sebelah tanganku. Mungkin jika salah satu dari fangirl-ku mukanya akan merona. Tapi tidak dengannya, mukanya malah semakin pucat dan terlihat seperti ingin menangis. Huh, aku jadi merasa bersalah. Dari dulu memang dia tidak bisa kutebak. Dia tidak pernah memperlihatkan ketertarikannya yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan si dobe yang berisik itu. Aku melonggarkan kuncianku terhadap tubuhnya, terlihat dia menghela nafas. Sepertinya mengganggunya dengan cara seperti itu bukan membuatnya menyukaiku malah membenciku. Oke, aku harus kembali pada tujuan awal, menanyakannya tentang sesuatu yang membuatku penasaran sejak tadi malam.

"kanapa kau bekerja sebagai pembantu?" tanyaku dengan nada yang kubuat sedingi mungkin. Dia tampak berpikir, membuatku gemas dengan wajah imutnya itu.

"mmm, a-ano u-uchiha-senpai.. mmm, aku ingin belajar mandiri seperti u-uchiha senpai yang menghasilkan uang dengan keringat sendiri setelah tidak tinggal dengan orangtua." Dia mengatakannya dengan cukup cepat. Membuatku berpikir, apa benar dia meneladaniku yang memang hidup dengan uang hasil keringat sendiri seperti yang dia katakan?

Drrt drrt drrt

Terasa getaran yang berasal dari saku seragamku, yang ternyata adalah telepon genggamku. Hah, kakashi ternyata. Dia memang paling pintar mengganggu orang. Sepertinya aku harus menunda melontarkan pertanyaan lainnya pada Hinata.

"hn? Kau masih disini? Pergilah, jangan lupa kerumahku sore ini" kataku pada Hinata yang masih kaku di hadapanku. Dia langsung pergi setelah kupersilahkan. Kenapa dia sepertinya takut sekali denganku? Apa aku melakukan hal yang salah?

"hn? Iya kakashi? Hn, sebentar lagi aku berangkat.."

Normal POV

"Kami-samaaaaa, mengapa Sasuke datang di saat yang tidak tepat begitu? Untung saja jawaban spontanku tidak begitu dipermasalahkan olehnya. Aura yang dia keluarkan sangat dingin, membuatku takut, semoga jadwalnya selalu penuh biar aku tidak usah bertemu dengannya." Batin Hinata sambil bergegas menuju kelasnya dengan langkah cepat. Hinata menghela nafas panjang, terlalu terkejut dengan perlakuan Sasuke tadi, dan karena Sasuke juga, kemungkinan Hinata dimarahi Kurenai-sensei karena telat masuk ke kelas.

Skip time

Setelah bel yang menandakan seluruh kegiatan di sekolah berakhir Hinata segera menuju rumahnya untuk bersiap menjalani pekerjaan sementaranya sebagai pembantu. Hinata berjalan pelan menuju rumah majikannya, berharap majikannya tidak ada di rumah dan tidak cepat kembali pulang. Setelah sampai di rumah mewah yang pernah dia kunjungi sebelumnya, Hinata bergegas masuk dan mengganti pakaiannya dengan seragam maid-nya. Membersihkan toilet, merapikan segala ruangan, menyiram tanaman dan mengurus beberapa hewan peliharaan dilakukan Hinata. Waktu baru menunjukkan pukul 18.10, namun terdengar suara orang yang membuka pintu rumah tersebut dari luar. Hinata menghentikan kegiatannya. Nampaknya doa Hinata tidak dikabulkan kami-sama.

Sasuke's POV

Setelah memarkir mobil, aku langsung menuju ke dalam rumah. Seperti dugaanku, Hinata sudah ada di rumah. Pintu tidak terkunci. Aku rela menyetir sendiri walaupun dalam keadaan lelah total seperti ini asalkan kakashi yang biasanya yang merangkap menjadi supirku tidak menggangguku. Hari ini aku sengaja melakukan semua pemotretan, wawancara dan segala kegiatan lainnya dengan sebaik-baiknya dan dengan secepatnya agar bisa kerumah lebih awal dan bertemu dengan Hinata.

Ah, mengingat dia dirumahku dalam keadaan begini seperti memiliki istri yang menungguiku di rumah. Apalagi gadis lembut yang selalu memenuhi pikiranku selama ini. Rasanya semua rasa penat hialng hanya dengan memikirnkannya, apalagi jika dia benar-benar menjadi istriku. Aduh, pikiranku terlalu jauh.

"selamat malam u-uchiha-san" ucapnya sambil membungkukkan badan 90° menyambutku yang baru melepas sepatu.

"tidak usah memakai embel-embel tuan" ucapku dingin.

"baik u-uchiha-senpai" ulangnya,

"Sasuke."

"eh?"

"Sasuke saja" ulangku kali ini,

"baik sa-Sasuke-senpai." ucapnya, terasa begitu merdu ditelingaku.

"Emm, a-aku permisi melanjutkan pe-pekerjaanku Sasuke-senpai" ucapnya lagi lalu berbalik.

"bisakah kalau tidak gagap?" kataku dingin.

"eh?" lagi-lagi dia mengeluarkan mimik imutnya itu, membuatku semakin gemas.

"bisakah tidak tergagap jika berbicara denganku?santai saja, aku tidak akan menggigitmu." Ulangku, berusaha melucu agar dia terlihat rileks. Namun dengan wajah stoic-ku, sepertinya itu kurang berhasil. Memang membuatnya tersenyum, namun seperti senyum yang dipaksakan.

"baik Sasuke-senpai" ucapnya cepat, mungkin agar tidak tergagap. Lalu membalikkan tubuhnya lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Aku menghela nafas, memang sulit seorang uchiha menjadi orang yang ramah seperti si dobe itu. Mungkin karma karena aku selalu mengatai sikap ramah naruto yang lebih mirip perilaku orang bodoh.

Normal POV

Sasuke menghrmpaskan tubuhnya di kasur empuk berukuran king-size di kamarnya. Lagi-lagi pemuda tampan ini menghela nafas. Semenjak kedatangan Hinata yang menjadi pembantunya, aktifitas menghela nafas makin sering dilakukannya. Semua yang direncanakannya untuk menarik perhatian Hinata nampaknya tidak berhasil. Pertanyaan yang sudah dipersiapkan untuk Hinata agar lebih dekat pun hilang saat menatap mata Hinata. Bukannya semakin membuat Hinata tertarik malah membuatnya seperti orang bodoh. Sejak pulang tadi dia menyuruh Hinata segala macam. Dari yang normal hingga yang aneh. Dari meminta Hinata membuat jus tomat, merapikan semua buku koleksinya yang banyaaak, sampai meminta Hinata untuk memandikan ikan yang ada di akuarium di rumahnya. Bodoh kan? Sasuke juga merasakan hal itu. Apa ini yang dimaksudkan jatuh cinta bisa membuat orang gila? Sengaja Sasuke melakukan semua itu agar Hinata selalu menghadapnya. Rasanya gatal tidak memanggil nama Hinata dan tidak melihatnya. Namun dia sadar, kelakuannya hanya membuat Hinata kesulitan dan kelelahan. Sasuke tidak tega, apalagi melihat wajah bingung dan lelah Hinata saat Sasuke meminta Hinata memandikan ikannya.

Kruuuuuk

Berpikir tentang Hinata membuat tenaga Sasuke berkurang, bahkan lambungnya pun meminta asupan makanan. Sasuke segera bergegas menuju meja makan untuk mengabulkan permintaan lambungnya itu. Sasuke melihat meja makan yang bersih, terlalu bersih malah. Lalu dia ke kulkas untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa mengganjal isi perutnya. Terlihat hanya beberapa bahan makanan yang harus dimasak di dalam kulkas membuat Sasuke kecewa. Biasanya jam seperti ini Sasuke masih sibuk di lokasi pekerjaannya, dan makanan telah disediakan para kru. Hinata yang tidak sengaja lewat dapur melihat Sasuke yang sedang meratapi kulkas sambil mengelus perutnya,

"Sasuke-senpai mencari apa?" Tanya Hinata, membuat muka Sasuke yang memelas mengembalikan mimik mukanya seperti biasa, dingin. Dalam keadaan lapar pun sepertinya seorang uchiha harus mempertahankan ekspresinya.

"Sasuke-senpai lapar ya? Maaf.. aku kira kau tidak pulang cepat. Dan tadi aku tak sempat masak," ucap Hinata sambil menunjukkan wajah yang terlihat bersalah. Memang karena permintaan Sasuke yang aneh-aneh tadi Hinata tidak memikirkan soal dapur. Sasuke yang melihat wajah Hinata menjadi tidak enak. Karena ulahnya juga kan Hinata jadi repot dan tak sempat memasak untuknya?

"tidak apa Hinata-chan, aku tidak lapar kok." Ucap Sasuke berusaha menenangkan Hinata. Namun perut Sasuke sepertinya tidak mau danggap kompromi,

"Kruuuuuuuuk" terdengar kembali suara perut Sasuke. Membuat si empunya megeluarkan rona merah di wajahnya, malu karena telah berusaha bersikap cool. Hinata yang juga mendengar suara perut Sasuke mencoba menahan tawanya.

"sebentar Sasuke-senpai, akan kumasakkan nasi goreng, tidak akan lama. Duduklah dulu" ucap Hinata.

Dengan wajah yang masih memerah Sasuke duduk di kursi meja makan yang jaraknya berdekatan dengan dapur. Sasuke memperhatikan sosok Hinata dari belakang yang sedang sibuk memasakkan nasi goreng untuknya. "benar-benar seperti memiliki seorang istri" pikir Sasuke sambil melamun, tidak sadar Hinata sudah menghampirinya sambil membawa sepiring nasi goreng.

"maaf agak sedikit lama Sasuke-senpai" ucap Hinata sambil menyodorkan piring berisi nasi goreng dan segala peralatan makan lainnya. Setelah mengambilkan air minum untuk Sasuke Hinata berdiri di dekat Sasuke menunggu tanggapan dari majikannya tentang masakannya tersebut.

Sasuke menyendok nasi goreng yang berada di piring di depannya, mengunyahnya dengan perlahan. Hinata menatap majikannya itu dengan cemas, khawatir ada yang salah dengan masakannya. Sasuke menelan butiran nasi yang telah dihaluskan di dalam mulutnya, dia terdiam, lalu menarik sedikit ujung bibirnya.

"enak" ucap Sasuke tulus, membuat wajah Hinata merona. Bukan rahasia bahwa majikannya yang seorang selebritis ini merupakan orang yang pemilih dalam masalah makanan. Bukan karena Sasuke memujinya, tetapi saat melihat mata Sasuke saat memujinya, disana Hinata untuk pertama kalinya merasakan kehangatan yang dipancarkan oleh Sasuke. Membuat hati Hinata pun ikut menghangat. "mungkin, Sasuke-senpai bukan memang bukan orang dingin seperti yang kupikirkan sebelumnya"ucap Hinata dalam hati sambil tersenyum menatap Sasuke yang sedang lahap memakan nasi gorang buatannya.

TBC

Huwaaaaah! Garing yaaa? Maaf ya minna-san kalo garing. Romancenya juga dikiiit banget. Ide ini muncul pas sebelum tidur siang, jadilah pas malem sabtu langsung ngetik chap1, dan alur cerita, padahal lagi bikin ff multi chapter juga, pair kakasaku, judulnya 'holiday' kalo sempet mampir dan review ya *cari kesempetan iklan* *digeplak reviewer*. Selama proses yang aku kepikiran takut kejadian dan alur yang aku bikin ada yang sama dengan ff lain karena ide Hinata jadi maid itu ga dikit. Mudah-mudahan enggak, amin. Oh iya, Bingung mau bales review dimana, liat di beberapa ff lain membalas review dengan cara seperti ini, jadilah saya mengikuti *ikut-ikutan aja bisanya* hehe

Lonelyclover: iyaa, awalnya salah klik pair. Maaf, hehe. makasih banyak yaa

Hyou hyouichiffer :makasih banyak , diusahakan agar semakin baik , makasiiih

Sasuhinalovers : iyaa, aga terlalu napsu publish jadi lupa diperiksa *alesan*, hehe. makasih banyak yaa

Hyuuchiha prinka : iya, udah diedit, dan ditambah disclaimernya, makasih banyak senpai

Uciha athrun ,Mizuki Kana, R : makasih banyaak

Makasih banyak ya senpai-senpai, aku bener-bener baru nulis di ffn ini soalnya. Baru sign-up sebulan lalu. Ini fic keduaku, yang pertama baru publish minggu lalu. Tegur aku kalo aku ngelakuin salah ya senpai. Mohon maaf atas segala kekurangan, makasiih.