A/N : cerita monoton, garing, gaje, miss typo bertebaran, banyak kekurangan, karakter OOC, dan kesalahan lainnya. Jika ada kesamaan ide, kejadian, alur, tempat, mohon maaf itu bersifat tidak sengaja. Cerita ini memang ide yang muncul dari pemikiranku. Dimohon tinggalkan jejak ya. Terima kritik, saran,komentar, dan masukan. Makasih

Disclaimer : Masashi Kishimoto

The Maid

Chapter 3

Salju yang mulai turun mengalihkan para pejalan kaki pagi ini. baik pelajar, pekerja kantoran, ibu rumah tangga yang berjalan menuju tujuan mereka memperhatikan butiran salju yang mulai turun. Tidak terkecuali gadis bersurai indigo yang menatap butiran saju dengan mata iris lavendernya saat menapaki jalan menuju sekolahnya. "Untung aku sudah membawa jaket dan syal" pikir gadis bersurai indigo itu, Hinata.

Tanpa terasa Hinata sampai di sekolahnya. Tidak seperti kemarin, saat Hinata memasuki gerbang terlihat beberapa anak sudah datang. Tentu Hinata tidak akan datang sepagi kemarin mengingat tindakannya itu cukup sia-sia. Saat berjalan melewati gerbang, Hinata merasa terganggu. Ia merasakan sesuatu sedang memperhatikannya. Benar saja, ada pria yang sepertinya seumurannya menggunakan seragam yang berbeda dengan siswa-siswi yang berada di kawasan Konoha Gakuen ini. Pria bersurai merah dan bermata jade dengan lingkar hitam disekitar matanya berpaling dari objek yang diperhatikannya, setelah sadar objek tersebut menyadari tatapannya.

Kriiiiiiiiing

Bell tanda masuk berbunyi, anak-anak yang tadinya masih asik bergosip, mencontek pr, dan lainnya langsung duduk rapi di tempatnya masing-masing. Kurenai-sensei, wali kelasnya yang terkenal dengan kesangarannya itu memasuki kelas, namun dia tidak sendiri. Dibelakangnya mengekor seorang siswa yang tidak pernah dilihat siswa-siswi lainnya di kelas itu. Membuat beberapa siswi di kelas Hinata terkikik sambil memandang genit pada sosok berambut merah didepannya.

"anak-anak, perkenalkan. Dia anak baru pindahan dari amekagure, Sabaku no Gaara. Gaara, perkenalkan dirimu." ucap kurenai yang lalu disambut riuh oleh beberapa siswi genit. Gaara tidak menghiraukan sikap para siswi tersebut, dia lebih tertarik pada gadis yang menjadi objek yang menarik untuknya tadi pagi dan alasannnya datang ke Konoha Gakuen ini. Hinata, yang sejak tadi diperhatikan hanya diam, sadar sosok didepan kelas tersebut juga memperhatikannya tadi pagi. Tidak ambil pusing, Hinata mengacuhkan tatapan dari Gaara, walaupun Hinata merasa pernah mengenal tatapan itu sebelumnya.

SKIP TIME

Seperti biasanya, jam istirahat dihabiskan Hinata di perpustakaan. Karena terlalu asik membaca buku sambil melahap bentou-nya Hinata tidak sadar seseorang telah duduk dibangku yang sama dengannya, disampingnya.

"sepertinya kau benar-benar melupakanku?" ucap sosok yang berada disebelah Hinata, membuat Hinata mengalihkan pandangannya dari bukunya.

"Hm?" Hinata hanya menatap pria disebelahnya, Gaara, dengan bingung. Membuat Gaara gemas dengan Hinata, sudah lama sekali dia tidak melihat tatapan itu. Walaupunbaru satu kali melihatnya, Gaara sangat mengingat dan rindu akan tatapan polos Hinata itu.

FLASHBACK

Seorang gadis kecil tampak asik berlarian di taman kota. Rambut indigo gadis kecil tersebut bergoyang saat gadis kecil tersebut mencoba berlari mengejar kupu-kupu. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di taman kota. Sikap over-protective ayahnya membuat ruang bermain gadis tersebut sangat terbatas. Atas bantuan sepupunya, ahirnya Hinata dapat bermain di taman kota yang sepi itu. Hinata, gadis kecil berusia sepuluh tahun sangat menikmati bermain di taman kota ini. Tanpa sadar kaki kecilnya yang berlarian membawanya ke semak-semak yang berada di belakang taman kota. Senyum yang diperlihatkan Hinata pudar saat kupu-kupu yang sejak tadi dikejarnya tidak terlihat lagi.

Kakinya terus melangkah, Hinata baru sadar dia sudah berada di luar kawasan taman kota. Samar-samar, Hinata mendengar isakan. Bukannya menjauh, Hinata malah mendekati dan mencari sumber suara isakan tersebut. Hinata kaget, dia mendapati seorang anak lelaki yang meringkuk.

"Kenapa kau bersedih?" Tanya Hinata sambil memegang pundak anak lelaki tersebut . secara perlahan anak lelaki tersebut menegakkan kepalanya. Menatap gadis kecil itu balik, sambil ragu-ragu anak lelaki tersebut, Gaara manjawab.

"orangtuaku mati… semuanya karena ulahku.." Gaara kembali terisak, mengingat kabar yang pagi ini dibawa oleh anak buah ayahnya. Orangtuanya tewas dalam kecelakaan pesawat. Ayah dan ibu Gaara berencana pulang ke Konoha dari Amekagure setelah mendengar Gaara yang merajuk karena orangtuanya tidak bisa datang ke acara ulang tahunnya.

"harusnya aku tidak perlu memaksa mereka ke konoha..hiks..aku..hiks.. sangat menyesal..hiks..karena aku mereka meninggal..hiks.." ucap Gaara sambil terbata, Hinata mengulurkan tangannya untuk mengelus surai merah tersebut.

"semua bukan salahmu, semuanya telah diatur tuhan dalam takdirya. Jika kamu menangis malah membuat orangtuamu sedih kan?" ucap Hinata sambil tersenyum memandang lembut anak lelaki didepannya. Gaara tertegun, merasa agak tenang karena ucapan gadis kecil tersebut.

"Hinata-samaaa" seseorang memanggil Hinata, membuat gadis itu mendatangi sumber suara. "ah, aku lupa kalau aku bersama neji-nii tadi. Aku harus pergi. Jangan menangis yaa, buatlah orangtuamu bangga dengan yang kau lakukan walaupun mereka tidak disampingmu, mereka akan selalu mengawasimu dari alam sana, jaaaa" Ucap Hinata sambil meninggalkan Gaara, menghampiri sepupunya, Neji.

"Hi-na-ta…" Gumam anak lelaki bersurai merah sambil tersenyum. Merasa ucapan gadis itu ada benarnya.

FLASHBACK END

"Ah, lupakan, aku mungkin salah orang.." ucap Gaara sambil menatap mata lavender tersebut. Tidak ingin membuat Hinata bingung dengan sikapnya. Tapi Gaara yakin, Hinata yang membuatnya tetap semangat hidup adalah Hinata yang berada di hadapannya.

"kita belum berkenalan, kita sekelas kan? Namaku Sabaku Gaara " Gaara mengulurkan tangan kanannya yang disambut Hinata sambil tersenyum lembut.

"Hyuuga Hinata, panggil Hinata saja." Ucap Hinata,

"kalau begitu, panggil aku Gaara saja Hinata," Kata Gaara sambil tersenyum.

SKIP TIME

Hinata berjalan menuju tempat yang sudah beberapa hari ini menjadi salah satu rutinitasnya. Rumah tempat sementara Hinata bekerja. Hinata mengingat-ngingat kejadian sepulang sekolah tadi. Gaara mengajaknya pulang bersama. Walaupun sudah menolak, Gaara memaksa untuk mengantar Hinata hingga Hinata terpaksa menerima tawarannya. Gaara bersikap berbeda pada Hinata, di depan siswa lain Gaara bersikap dingin, sedangkan di hadapan Hinata sangat akrab. Dan sikap Gaara itu sempat membuat Hinata bingung.

Sesampainya di rumah Sasuke, Hinata langsung mengganti bajunya dengan seragam maid. Seperti biasanya Hinata melakukan kegiatan sebagai seorang pembantu. Membersihkan toilet, merapikan segala ruangan, menyiram tanaman dan mengurus beberapa hewan peliharaan. Hinata bingung, apakah ia harus memasak atau tidak untuk tuannya, Sasuke. Setelah kejadian kemarin, Sasuke meminta nomor telepon Hinata dengan alasan agar dapat memberi tahu Hinata apakah dirinya akan pulang atau tidak. Namun, sejak tadi Hinata belum menerima kabar apapun dari Sasuke. "mungkin Sasuke terlalu sibuk dan tak sempat pulang." Pikir Hinata.

Namun pikiran Hinata nampaknya salah, pintu terdengar terbuka. Hinata yakin itu adalah Sasuke. Namun bukannya segera menghampiri Sasuke, Hinata bergegas pergi ke dapur untuk memasakkan makan malam untuk Sasuke. Setelah selesai memasak, Hinata segera menuju kamar Sasuke untuk member tahu bahwa makan malam telah siap.

"Sasuke-senpai.. makan malam telah siap" Ucap Hinata sambil mengetuk pintu kamar Sasuke. Namun telah lima menit Hinata melakukan hal tersebut, Sasuke tidak keluar dari kamarnya ataupun menjawab panggilan Hinata. Hinata khawatir, namun dia ragu jika langsung masuk ke dalam kamar tuan mudanya tersebut. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Hinata memberanikan diri untuk masuk ke kamar Sasuke.

"Sasuke-senpai!" Hinata berteriak sambil berlari ke arah Sasuke yang tergeletak di lantai kamarnya. Wajah Sasuke tampak merah, nafasnya pun berat. Hinata memposisikan kepala Sasuke di pahanya, memegang dahi Sasuke yang ternyata sangat panas. Hinata terkejut, namun ia segera memapah Sasuke menuju kasurnya.

Hinata bergegas ke dapur membuat bubur untuk Sasuke. Hari ini jadwal Sasuke memang sangat padat, apalagi sejak kemarin dia memaksakan diri untuk mempercepat proses pekerjaannya agar dapat bertemu Hinata. Didukung cuaca yang sangat dingin, maka tumbanglah Sasuke. Setelah bubur matang, Hinata membawa bubur bersama dengan beberapa obat dan kompres untuk Sasuke.

"hhh-ii-naa-thaa" Sasuke menggumamkan nama Hinata di tengah tidurnya. Hal itu sempat didengar Hinata yang baru memasuki kamar Sasuke sambil membawa bubur dan beberapa obat. Hinata menyelipkan thermometer pada ketiak Sasuke. Betapa terkejutnya Hinata mendapati angka yang tertera pada thermometer tersebut.

"Sasuke-senpai, kau harus makan bubur lalu makan obat penurun panas ya." Ucap Hinata sambil memposisikan Sasuke agar setengah duduk dengan bersandar pada kepala kasur. Sasuke membuka matanya sedikit-sedikit dan secara perlahan. Kepala Sasuke terasa sangat berat, untuk membuka mata pun terasa sulit. Sasuke tidak banyak bicara, hanya menuruti Hinata yang menyupinya bubur sedikit demi sedikit.

"aku sudah kenyang," ucap Sasuke dengan suara yang agak serak. Hinata melihat isi mengkuk yang setengahnya telah berpindah ke lambung Sasuke. Melihat kondisi Sasuke yang sangat lemah, Hinata memposisikan kepala Sasuke di pundaknya untuk memudahkannya menyuapi Sasuke obat. Mungkin jika dalam keadaan sadar, saat ini Sasuke sudah merona hebat menahan malu karena posisinya ini. Setelah yakin Sasuke menelan obatnya sampai habis, Hinata membantu Sasuke untuk minum. Lalu Hinata kembali memposisikan Sasuke untuk berbaring di kasurnya.

Hinata memasangkan kompres di dahi Sasuke. Hinata sangat khawatir sengan keadaan tuan mudanya ini, dan berharap Sasuke cepat sembuh. Sudah hampir dua jam Hinata menunggui Sasuke sambil mengganti kompresannya jika sudah tidak dingin. Selama itu juga yang dilakukan Hinata hanya memandangi wajah Sasuke. Mengagumi wajah Sasuke yang tampan, "sayang dia jarang tersenyum" pikir Hinata. Tapi semenjak melihat senyuman Sasuke saat memakan nasi gorengnya, pikiran Hinata berubah. Selain tampan, Sasuke juga orang yang baik hati. Tanpa Hinata sadari, tersebar rona merah pada pipinya saat memandangi wajah Sasuke.

Sasuke's POV

Aku harus mencari Hinata. Berkatnya, aku segar saat bangun pagi ini. Untung saja hari ini aku sempat ke sekolah. Aku harus berterima kasih padanya. Sepertinya Hinata menjagaiku hampir semalaman. Aku sempat terbangun pukul duabelas malam dan Hinata duduk di samping kasurku dalam keadaan tertidur. Aku tak tega membangunkannya, ingin memindahkannya ke tempat yang lebih nyaman tapi tenagaku masih lemah. Tapi, saat pagi aku tidak mendapati dia ada dirumahku. Yang kudapati bubur dalam panci dan sebuah notes yang dia tinggalkan, 'panaskan dulu, lalu makan bubur ini untik sarapan. Obat kutaruh di atas piring kecil diatas meja. Jangan lupa.'

Rasanya benar-bebar seperti memiliki seorang istri. Aduh, aku mulai berhayal. Sebaiknya aku harus cepat menemukannya sebelum jam istirahat berakhir. Mungkin aku harus meneleponnya, aku mengeluarkan telepon genggamku dari saku, namun aku teringat sesuatu. Pasti Hinata sedang berada di perpustakaan, sebaiknya aku segera kesana.

Seperti biasa, keadaan perpustakaan sepi, dimana biasanya Hinata duduk ya? Aku mengelilingi beberapa bagian perpustakaan hingga mencapai bagian pojokan. Aku melihat Hinata disana, segera kukencangkan langkah kakiku menuju gadis itu. Namun kuurungkan, kulihat seorang pria berambut merah duduk di samping Hinata, bercanda dengan Hinata dangan sangat akrab. Pria itu mengacak rambut Hinata dengan gemas, pipi Hinata merona,sepertinya karena diperlakukan seperti itu. Siapa pria itu? Kenapa aku belum pernah melihat dia sebelumnya?

"Hari ini kau kuantar lagi ya?" Tanya pria itu pada Hinata,

"Tidak usah Gaara-kun, aku bisa pulang sendiri." Hinata menolak dengan sangat halus. Bagus Hinata.

"ayolah, aku memaksa Hinata.."ucap pria bernama Gaara itu. Huh, apa-apaan dia memaksa Hinata? Hinata pasti tidak bisa menolak, dia terlalu lembut. Sebaiknya aku keluar dari sini, terlalu memuakkan melihat tingkah laku pria itu dan Hinata yang tidak berdaya menolak.

Hinata's POV

From : Sasuke-senpai

Pulang sekolah langsung kerumahku. Ada hal penting.

Aku menatap layar telepon genggamku yang menunjukan pesan yang baru saja kuterima dari Sasuke-senpai. Aku bingung, ada masalah apa hingga aku harus cepat kerumahnya? Apa dia masih sakit? Semoga saja bukan. Sepertinya aku harus membatalkan janji untuk pulang bersama dengan Gaara.

"Gaara, sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu." Ucapku pada Gaara yang sedang membereskan tasnya. Bel yang menandakan kegiatan sekolah berakhir memang telah berbunyi sepuluh menit yang lalu.

"kenapa Hinata?" tanyanya bingung,

"A-ano, aku ada urusan penting, aku harus langsung kesana."

"kemana Hinata?biar kuantar.." ucap Gaara. Aduh, jika dia mengantarku ke rumah Sasuke-senpai pasti akan menjadi masalah. Aku harus mencari alasan apa?

"Hmm, a-anoo, a-aku a-akan dijemput oleh saudaraku, aku harus menemaninya, mm-membeli buku untuk bahan ujiannya" aduh, alasan macam apa itu? Semoga Gaara percaya. Gaara menatapku sesaat, seperti berpikir, aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya.

"hmmm, baiklah, hati-hati ya, aku duluan" ucapnya sambil mengacak rambutku lalu keluar kelas. Aku menghela nafas, untung saja Gaara percaya. Sekarang aku harus cepat pergi kerumah Sasuke-senpai.

Normal POV

Saat sampai di rumah Sasuke Hinata mendapati keadaan rumah Sasuke terkunci. Hinata pikir jika Sasuke sudah dirumah dan pastinya keadaan rumah tidak terkunci. Segera Hinata mengeluarkan kunci rumah Sasuke dan membukanya. Rumah itu dalam keadaan sepi. Hinata langsung mencari keberadaan Sasuke, takut jika mendapati Sasuke dalam keadaan seperti semalam. Namun, setelah mencari kesemua ruangan, Sasuke tidak ditemukan dimanapun. Hinata bingung, untuk apa Sasuke menyuruhnya datang lebih cepat sedangkan Sasuke sendiri tidak di rumah?

Hinata hanya duduk-duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Sasuke. Namun, karena bosan, Hinata memutuskan untuk mengerjakan tugasnya walaupun lebih awal dari pada jadwal kerjanya.

SKIP TIME

Semua pekerjaan rumah sudah hampir semuanya dilakukan. Sampai saat ini, Sasuke belum menampakkan dirinya. Membuat Hinata semakin khawatir dan bingung. Namun, tidak berapa lama terdengar suara pintu yang terbuka. Hinata segera menghampiri Sasuke.

"Okaeri Sasuke-senpai.." ucap Hinata sambil tersenyum lembut. Dia senang melihat Sasuke kembali sehat.

"Hn" ucap Sasuke sambil melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal. Sasuke masih kesal mengingat kejadian di sekolah tadi siang.

"Syukurlah kau sudah kembali sembuh Sasuke-senpai. Sebenarnya ada hal penting apa?" ucap Hinata tanpa menyadari perlakuan Sasuke yang agak berbeda dari hari sebelumnya.

"Tidak ada. Pulanglah jika pekerjaanmu telah selesai."ucap Sasuke kembali ketus, sambil menatap mata Hinata dengan tatapan yang sangat dingin. Sasuke sengaja mengirim sms seperti itu pada Hinata agar hinata tidak pulang bersama Gaara. Dan sepertinya rencananya berhasil, walaupun tidak mengurangi rasa kesalnya karena kejadian tadi siang.

Hinata cukup terkejut dengan sikap Sasuke kali ini saat melihat tatapan Sasuke. Mungkin sikap seperti itu sudah biasa diperlihatkan Sasuke mengingat sikapnya yang memang selalu dingin. Namun, pada Hinata dia tidak pernah mempperlihatkan tatapan dingin seperti itu. Dan Hinata meyadarinya, tatapan Sasuke bukan seperti biasanya, ini lebih terlihat seperti orang yang marah, sangat marah. Hinata tidak berani melakukan apapun. Juga tidak berani bertanya atas perubahan muka Sasuke itu. Hinata memilih diam dan pergi. Meninggalkan Sasuke dengan amarah yang tidak tahu harus diapakannya.

TBC

Huaaaah, sepertinya yang ini lebih gariiing! Maaf yaa minna-san *bungkuk-bungkuk*. Maaf juga baru bisa update karena banyak pengganggu beberapa hari ini (berasa ada yang nungguin ajaa). Romance-nya juga belum bisa banyak nih, idenya agak mandet karena galau mikirin rapot *alesan*

Mery Chan, SuHi-18 , Hyou Hyouichiffer,Kunieda Aoi, Evil Princess, n : makasih banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak : ) Jangan bosen ikutin ceritanya dan review yaa : )

Troll : sebenernya kalo aku, masang bad summary Karena ga pd ama summary dadakan yang aku bikin, hehehe.

Sasuhina-caem : waduh, aku bukan agen pembantu , hehehe. Makasih banyak yaaa. Pengen sih bikin rated M, tapi… kemampuan nulis aku kayanya belum nyampe.. tapi nanti insyaAllah dicoba, hehe

Shyoul Lavaen : makasih senpai atas saran dan masukannya : ) salam kenal juga senpai : )

Makasih banyaaak semua yang udah review : )

Ditunggu masukan,saran, kritik, dan lainnya : )