A/N : cerita monoton, garing, gaje, miss typo bertebaran, banyak kekurangan, karakter OOC, dan kesalahan lainnya. Jika ada kesamaan ide, kejadian, alur, tempat, mohon maaf itu bersifat tidak sengaja. Cerita ini memang ide yang muncul dari pemikiranku. Dimohon tinggalkan jejak ya. Terima kritik, saran,komentar, dan masukan. Makasih

Disclaimer : Masashi Kishimoto

The Maid

Chapter 4

.

.

.

From : Gaara

Hinata, tolong katakana pada Kurenai-sensei hari ini aku izin tidak masuk. Ada urusan penting. Arigatou.

Hinata menatap layar telepon genggamnya. Masih sangat pagi, namun Gaara sudah mengirim pesan padanya. "Hari ini kan hari sabtu, mungkin Gaara ingin mengunjungi orangtuanya." Pikir Hinata yang tahu Gaara yang tinggal sendiri di Konoha seperti dirinya. Setelah memastikan seluruh peralatan sekolah dan seragam yang digunakannya lengkap Hinata segera pergi menuju sekolahnya.

Saat sampai di sekolah, Hinata tidak langsung ke kelasnya. Ia pergi dulu ke perpustakaan untuk meminjam buku yang akan dipergunakan untuk bahan presentasinya hari ini di kelas.

"AAAAA SASUKE-KUUUN"

Beberapa siswi berteriak mengiringi datangnya pangeran sekolah yang jarang menampakan dirinya di kawasan sekolah ini, Sasuke. Hinata yang baru saja keluar dari perpustakaan mengalihkan pandangannya pada Sasuke sambil tersenyum. Sasuke yang menyadari hadirnya Hinata disitu hanya melirik Hinata sedikit lalu membuang muka. Hinata bingung, ada apa dengan Sasuke? Mengapa perilakunya masih sama seperti tadi malam? Apa dia melakukan sesuatu yang salah? Namun semua pertanyaan itu hanya bisa disimpan Hinata dalam hati karena dia tidak mungkin berani menanyakan langsung pada Sasuke.

SKIP TIME

Tidak seperti biasanya, Hinata tidak menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Semua ini dikarenakan Hinata lupa membawa bentou-nya, sehingga ia membeli makanan di kantin. Hinata menjatuhkan pilihan pada takoyaki untuk makan siangnya. Saat melahap takoyaki-nya, Hinata melihat beberapa siswi yang sedang berbisik menyebut nama yang sudah sangat dikenalnya.

"sst, kau tahu Naruto-senpai dan Sakura-senpai sudah jadian!" ucap seorang gadis dengan rambut merah, membuat Hinata terkejut mendengarnya. Dalam sekejap, Hinata merasa ada sesuatu yang mencengkram dadanya. Membuat selera makan Hinata memudar.

"benarkah? Kukira Sakura-senpai tidak akan menerima Naruto-senpai sampai kapanpun." Balas gadis berambut coklat yang sepertinya teman si gadis berambut merah. Hampir seluruh penduduk Konoha High School mengetahui bahwa Naruto menyukai Sakura dan terus mengejarnya. Namun Sakura selalu menolak Naruto karena alasan yang tidak diketahui siapapun.

"benar! Tadi pagi aku melihat mereka datang bersama! Lalu bergandengan tangan! Sangat mesra!" ucap gadis berambut merah dengan semangat. Membuat cengkraman dalam dada Hinata terasa lebih erat.

"waaah, mereka memang serasi! Eh eh! Lihat! Itu mereka berdua!" pandangan kedua gadis yang sedang bergosip langsung beralih pada dua sosok yang sedang bergandengan tangan. Pria bersurai kuning dengan cengiran khasnya sedang menggenggam erat tangan gadis bersurai pink yang terlihat sedang tersipu.

Beberapa siswa-siswi lain yang berada di kantin itu pun memandangi kedua sejoli tersebut, tidak terkecuali Hinata. Hinata merasa matanya panas, melihat pemandangan seperti itu membuatnya ingin menangis. Memang Hinata sadar dia takkan bisa mendampingi senpai-nya yang satu itu. Apalagi mengingat cinta senpai-nya yang selalu tertuju pada satu gadis, Sakura.

Hilang sudah semua nafsu makan Hinata. Walaupun belum sarapan dan hanya seperempat bagian yang baru dimakan Hinata, ia meninggalkan makanannya dan berlari menuju kamar mandi. Entah kenapa hanya tempat itu yang terpikir olehnya untuk mnyembunyikan dirinya saat ini.

Dengan langkah lunglai Hinata menapaki jalan menuju rumah Sasuke. Setelah mengurung diri di salah satu bilik di toilet wanita dan menangis disana sepuasnya tidak membuat perasaannya lebih lega. Merasa sangat bodoh, untuk apa dia pergi ke konoha dan tinggal terpisah dengan orangtuanya demi seorang lelaki. Sedangkan dia tidak pernah berani melakukan apapun, dan lelaki tersebut tidak pernah menyadari keberadaannya.

Hinata menghela nafasnya dengan sangat panjang. Hinata percaya pada takdir tuhan, dan ia percaya pada setiap kesedihan ada kebahagiaan yang akan dibawanya. Namun mungkin Hinata tidak dapat melepaskan pikirannya dari kejadian di kantin tadi hari ini dengan cepat, dia masih membutuhkan waktu.

Saat mencoba memasuki rumah Sasuke Hinata terkejut, pintunya tidak terkunci. Mungkin Sasuke tidak ada jadwal hari ini, sehingga ia dapat masuk sekolah dan sekarang berada di rumah. Hinata masuk tanpa menemui Sasuke dahulu, ia takut perasaan Sasuke masih belum baik walaupun Hinata tidak tahu penyebabnya.

Pekerjaan rumah dilakukan Hinata dengan tidak fokus. Sempat beberapa kali saat menyapu dan mengepel Hinata hampir memecahkan pajangan karena tidak sengaja menyenggolnya. Saat didapur Hinata hampir membuat masakannya hangus, untung dia cepat sadar dari lamunannya sebelum hangus. Dan sekarang, saat membersihkan kamar mandi pun Hinata tampak sedang mengelap kaca sambil melamun. Tanpa sadar, Hinata menginjak sabun yang dia pindahkan dari depan kaca ke lantai. Membuat badannya tidak seimbang dan limbung. Dalam sekejap, badannya ambruk dan menghantam pintu kamar mandi .

DUAKKK

Kepala Hinata sempat terbentur kenop pintu, kakinya juga terpelintir. Hinata mencoba berdiri, namun tenaganya terasa habis. Kakinya dan kepalanya pun terasa sangat sakit. Perlahan, pandangan Hinata mengabur, ia tak saadarkan diri.

Sasuke's POV

Sejak pulang sekolah yang kulakukan hanya berbaring. Aku tidak tahu harus melakukan apa, jarang sekali memiliki waktu luang seperti ini. Mungkin kalau aku sudah tidak kesal pada Hinata aku akan terus memanggilnya sejak tadi dan menyuruhnya melakukan segala hal. Gara-gara pria berambut merah bernama Gaara itu aku kesal. Mungkin harusnya aku tidak marah pada Hinata, tapi tiap mengingat wajah merona Hinata saat bersama lelaki itu aku kesal. Eh, tapi kan Hinata juga sering merona karena Naruto. Mm, tapi Naruto tidak pernah melakukan kontak seperti yang dilakukan pria berambut merah itu. Dan aku tahu Naruto mencintai siapa. Aku jadi ingat wajah si dobe itu saat memproklamirkan Sakura telah menjadi kekasihnya, lucu sekali. Apa Hinata sudah tahu ya? Apakah dia akan bersedih karena si dobe itu? Haaaah, Hinataa, kau sangat sulit kumengerti…

DUAKKK

Suara apa itu? Apa itu Hinata? Aku segera berlari mencari sumber suara,

"Hinata?" teriakku, tidak ada jawaban. Dimana Hinata? Apa yang terjadi dengannya? Aku mencarinya ke ruang tamu, tidak ada. Ke kamar tamu, tidak ada. Dapur dan taman pun tidak ada. Toilet, itu satu-satunya tempat yang belum ku datangi. Kakiku melangkah dengan sangat cepat. Kami-sama, semoga Hinata baik-baik saja. Namun sepertinya doaku tidak dikabulkan…

"HINATAAA!"

Kulihat Hinata dalam keadaan tidak sadar bersender pada pintu kamar mandi. Kami-sama apa yang terjadi? Aku segera menggendongnya dengan cara yang dikatakan orang 'bridal style', segera membawanya ke kamar tamu yang berada di lantai satu. Perlahan, aku membaringkan tubuhnya di kasur dengan hati-hati. aku panik, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bajunya terlihat sedikit basah, mungkin aku harus menggantikannnya.

Aku berggegas ke kamar, asal mengambil baju di lemariku. Aku tidak boleh lama-lama meninggalkannya. Saat sampai di kamar tamu, aku bingung bagaimana cara menggantikan pakaiannya? Aku tidak ingin memanfaatkan keadaan, tapi dia akan demam jika terus menggunakan pakaian itu.

Mungkin jalan satu-satunya memang menggantikan pakaiannya. Kami-sama.. aku berjanji tidak akan berlaku yang aneh-aneh. Kubuka kancing pertama seragam maidnya, peluhku terasa menetes dari pelipisku. Lalu kancing kedua, "uugh" Hinata tampak bergerak-gerak, nampaknya dia kesakitan. Aku menelan ludah, jika kancing ketiga ini kubuka sebagian tubuhnya akan terlihat. Tepat saat kancing ketiga akan terlepas, mata Hinata terbuka!

Mataku membulat, matanya juga melotot. Melihat kearahku dan tanganku yang masih berada di pakaiannya bergantian.

"AAAAA!" Hinata berteriak, aku melepaskan peganganku pada pakaiannya dan menjauh. Hinata berusaha melemparkan guling yang berada disampingnya. Namun, tampaknya seluruh badannya masih sakit, terbukti saat mengangkat guling pun ia meringis,

"uuugh" ia mambatalkan niatnya untuk melemparku dan mengelus tangannya yang sepertinya terasa sakit.

"Hinata, sumpah, demi kami-sama aku tidak bermaksud buruk padamu. Kau pingsan tadi, dan pakaianmu basah, aku berpikir untuk menggantinya." Ucapku sambil mendekatinya, merasa dia tidak akan melempariku.

Dia hanya menatapku, tanpa berkata apapun. Matanya tiba-tiba terlihat berkaca-kaca, lalu tiba-tiba ia menangis! Aku panik! Kami-sama apa aku terlihat sejahat dan semesum itu?

"Hinataaaa, benar, aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin mengganti pakaianmu. Ini bajunya, tunjukku pada pakaian yang kuambil dari meja rias di kamar itu. Dan aku baru sadar pakaian itu hanya kemeja yang sepertinya akan terlihat kebesaran padanya. Aduh! Aku mungkin akan benar-benar dicap mesum olehnya. Namun Hinata tidak menanggapi perkataanku, dia hanya menangis sendiri. Apa penyebab dia menangis bukan karena aku mencoba membuka pakaiannya dan menggantinya dengan kemeja ini?

Aku mendekatinya, dia masih menangis namun tidak melihat ke arahku. Mungkin penyebab Hinata menangis memang bukan aku.

"Na-Naruto" dia berucap sangat pelan. Mungkin agar tidak bisa kudengar apa penyebab ia menangis. Benar, penyebab ia menangis bukan aku. Melainkan si dobe itu. Aku menghampiri Hinata, merangkulnya, lalu memeluknya.. Pedih melihatnya menangis karena pria lain. Biar ia menangis melepas kesedihannya di dadaku, asalkan ia akan tersenyum esok dan seterusnya. Aku terus memeluknya sambil menggosok punggungya. Lima belas menit kemudian tangisannya mereda, namun dia tidak menjauhkan wajahnya dari dadaku. Mungkin dia malu karena telah menangis di dadaku tanpa sadar.

"sudah merasa baikan?" tanyaku sambil mengelus lembut rambutnya. Perlahan dia menjauhkan kepalanya dari dadaku sambil menunduk, lalu dengan perlahan lagi mengangkat wajahnya untuk menatapku. Dia mengangguk.

"sebaiknya kau ganti baju dulu agar tidak demam. Sebentar, aku ambilkan baju yang lain saja. ini sepertinya tidak cocok" ucapku sambil beranjak dari kasur. Namun, ada tangan yang memegang pergelangan tanganku, menahanku pergi.

"tidak apa senpai. Aku pakai baju ini saja. aku tidak ingin merepotkan senpai" ucapnya halus,

"aku tidak merasa direpotkan" ucapku meyakinkannya,

"tidak apa senpai..senpai bisa keluar dulu sebentar?aku ingin ganti baju.." ucapnya langsung, aku ingin menolak dan meyakinkannya untuk tidak menggunakan baju itu. Tapi matanya memelas, aku tidak tahan ditatapnya seperti itu. Aku menunggu diluar, memberikannya waktu untuk mengganti pakaiannya

Hinata's POV

Kakiku masih sangat sakit. Sepertinya kakiku keseleo. Dan kepalaku masih berat. Mengganti pakaian pun aku lakukan di atas kasur. Ah, aku tidak sadar ternyata bajunya hanya sebuah kemeja ini. Memang besar sekali kemeja ini, panjangnya pun sampai menutupi hingga sebagian pahaku. Tidak masalah, lagipula jika Sasuke-senpai membawakan celana juga mungkin akan sulit untukku memakainya. Aku merasa tidak enak juga tadi hampir melemparnya dengan guling karena kaget. Untung saja tidak sampai kulakukan hal itu.

"Sasuke-senpai aku sudah selesai," ucapku, dia sepertinya menungguiku di depan kamar tamu ini. Benar saja, dia langsung masuk setelah aku berkata tadi.

"Sasuke-senpai, maaf karena telah merepotkanmu. Padahal pekerjaanku belum selesai." Ucapku pada Sasuke-senpai yang baru masuk ke kamar tamu.

"tenang saja. apa kau sudah makan?" tanyanya padaku. Ah, eku memang baru makan takoyaki hari ini, dan itu baru seperempatnya.

"Sudah, terimakasih senpai," ucapku berbohong, aku tidak mau merepotkan Sasuke-senpai lebih jauh.

Kruuuuuuk

Sial, perutku malah berbunyi! Sasuke-senpai menatapku sambil menahan tawa. Mukaku pasti sudah sangat merah. Ah, seperti ini mungkin perasaan Sasuke-senpai dua hari lalu saat menahan lapar.

"aku ambilkan makanan ya? Kan semua itu masakanmu, jadi tidak perlu khawatir kalau kau berpikir kau telah merepotkanku." Ucapnya yang sepertinya tahu penyebab dari penolakanku. Aku hanya mengangguk sambil menunduk, tidak berani menatap Sasuke-senpai hingga ia keluar dari kamar ini.

Tidak lama, Sasuke-senpai kembali sambil membawa nampan berisi piring yang isinya lengkap dengan nasi dan lauk, serta segelas air putih. Ia lalu duduk di tepi kasur.

"arigatou senpai, maaf merepotkan.." ucapku sambil mengambil piring ditangannya, Sasuke-senpai hanya tersenyum. Kami-sama dia tampan sekali jika tersenyum! Aduh, bodohnya aku masih bisa berpikir seperti itu disaat seperti ini.

Saat tangan kananku terangkat terasa sangat sakit, mungkin tadi sempat terbentur juga. Tapi kupaksakan tangan kananku mengangkat sendok. Ah! Sendok itu malah terlepas dari genggamanku dan terjatuh kembali di piring. Sasuke-senpai yang melihatnya mengambil alih prirng di tangan kiriku.

"sudah, jangan memaksakan diri. Sebaiknya aku suapi." Ucapnya sambil menyendok nasi di piring itu lalu mengarahkannya ke mulutku.

"arogatou senpai, ma—" mulutku terlebih dulu disumbat dengan sendok yang berisi makanan sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

"sudahlah, jangan minta maaf lagi. aku tidak keberatan kok," ucapnya sambil tersenyum. Sasuke-senpai memang tidak seperti yang kubayangkan selama ini. Dia sangat baik dan perhatian. Pipiku terasa memanas mengingat senyum Sasuke-senpai dan perlakuannya hari ini. Aduh, apa-apaan aku ini?

Setengah jam kemudian isi piring telah habis dan bersih. Aku ternyata benar-benar lapar. Sasuke-senpai yang menyadari aku yang sedang kelaparan ini hanya tersenyum.

"sudah kenyang? Mau tambah?" tanyanya, membuat wajahku memerah. Aku menggeleng, perutku memang terasa sudah penuh.

"baiklah, sekarang aku ambilkan obat dulu," ucapnya sambil keluar dari kamar tamu membawa piring bekas makanku.

Normal POV

Tidak berapa lama, Sasuke kembali sambil membawa kotak obat. Ia duduk kembali di tepi kasur, lalu mengeluarkan beberapa obat. Sasuke bergerak ke arah kaki Hinata, lalu mengoleskan obat gosok untuk otot, dan menggosok sambil mengurut mata kaki Hinata yang terlihat membiru. Lalu beralih pada siku tangan kanan Hinata dan melakukan hal yang sama seperti pada kakinya. Sasuke memposisikan tubuh Hinata menjadi setengah duduk, menyibak poni rata Hinata. Memperlihatkan luka di dahi Hinata karena tebentur kenop pintu kamar mandi. Sasuke mengambi kapas dan memberinya obat merah, lalu menempelkan kapas tersebut di luka Hinata.

"uuugh" Hinata meringis, tanpa sengaja mencoba menahan Sasuke yang sedang mengobati dahi Hinata dengan memegang tangan Sasuke yang memegang kapas. Dengan cepat, Sasuke meniup luka yang telah terkena obat merah tersebut, untuk meredakan sakit yang Hinata rasakan. Memang Hinata merasa lebih baik setelah ditiup, Hinata mengadahkan kepalanya. Menatap Sasuke yang sedang meniup lukanya tanpa melepaskan pegangan tangannya pada tangan Sasuke. Sasuke menghentikan kegiatannya. Menatap Hinata balik. Mereka berdua terpaku, Hinata menatap iris onyx Sasuke dan Sasuke menatap iris lavender Hinata. Waktu terasa waktu berhenti. Entah apa yang menahan mereka hingga tetap membeku dan saling menatap seperti ini. Wajah Sasuke terasa mendekat ke arah wajahnya. Dan Hinata masih membeku, tersihir dengan pesona sang majikan.

5 cm…

4 cm…

3 cm…

2 cm…

….

"TONG TONG TONG" terdengar suara lonceng jam kuno di rumah Sasuke. Jam tersebut memang bunyi setiap pergantian jam. Dan sekarang waktu menunjukkan pukul delapan malam. Dua mahluk yang berada di rumah tersebut terkejut. Jam yang tadinya tidak pernah dihiraukan membuat kedua mahluk tersebut kembali kea lam sadarnya.

Mereka berdua tampak gugup, mengalihkan pandangan ke berbagai tempat. Namun tanpa sengaja mereka kembali berpandangan, tidak lama kemudian Hinata menundukkan kepalanya.

"mmm, a-ano.." Hinata mencoba memecah keheningan dan kegugupan antara mereka berdua, kedua jari telunjuknya bertautan

"se-sebaiknya a-aku pu-pulang," Hinata kembali tergagap di depan Sasuke, padahal Sasuke telah memperingatkannya untuk tidak gagap saat bicara dengannya. Hinata mencoba berdiri dari kasur, namun badannya belum mampu untuk berdiri dan membuatnya hampir terjatuh.

Kedua tangan Sasuke memegangi lengan hinata, menahan agar hinata tidak terjatuh. Membuat kedua wajah mereka tidak sengaja kembali berhadapan dan saling menatap dengan jarak yang amat tipis. Sasuke yang kini segera sadar, ia mengalih kan pandangannya. Merebahkan hinata kembali ke kasur.

"mm-m se-sebaiknya kau tinggal di-disini malam ini. I-ini sudah terlalu ma-malam, tidak bai-baik pulang selarut i-ini. Apalagi ke-keadaanmu belum sehat. Tidurlah di ka-kamar ini, lagipula besok libur." ucap Sasuke tergagap, sepertinya dia tertular penyakit hinata yang satu itu. Hinata tidak bisa menolak, semua yang dikatakan Sasuke memang ada benarnya. Hinata hanya mengagguk. Sasuke yang melihat anggukan Hinata bergegas keluar dari kamar tersebut, namun dia berhenti di pintu lalu berbalik.

"semoga cepat sembuh Hinata, selamat tidur.." ucap Sasuke sambil tersenyum sebelum pergi setelah menutup pintu kamar tersebut.

Sasuke hanya berbaring dikamarnya tanpa memejamkan mata. Masih teringat bayangan saat dirinya dan Hinata berada dalam jarak yang sangat tipis. Sasuke sendiri bingung bagaimana mereka bisa sampai dalam keadaan seperti itu. Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, namun belum ada keinginan untuk tidur. Ia berpikir untuk menonton televisi untuk membangkitkan rasa kantuknya.

Sasuke memilih untuk menonton televisi di ruang tengah yang berada di lantai satu. Memang ada televisi di kamar sasuke, namun ia khawatir dengan keadaan Hinata. Menonton televisi bisa dilakukannya sambil menjaga hinata yang berada di kamar tamu yang tidak jauh dari ruang tamu.

"uuugh… na-Naruto- senpaii" Hinata mengigau dalam tidurnya. Mungkin pikirannya belum sepenuhnya terlepas dari Naruto. Sesuai dengan perkiraan Sasuke, Hinata belum bisa tenang. Mungkin sakit di badannya dan pikirannya yang masih belum stabil membuatnya belum bisa tenang. Sasuke segera menghampiri Hinata di kamar tamu.

"uuugh, sa-saakit" Hinata mengigau dengan gelisah. Sasuke yang kasihan melihat keadaan Hinata langsung pergi mencari kotak P3K untuk mengambil obat penghilang rasa sakit. Setelah mengambil segelas air putih Sasuke kembali ke kamar tamu dan menghampiri Hinata.

Sasuke memposisikan badan Hinata setengah duduk, Hinata terlihat masih belum sadar sepenuhnya. Sasuke menyenderkan kepala Hinata di dadanya lalu menyuapi Hinata obat dan air putih. Setelah itu, Sasuke membaringkan tubuh Hinata kembali ke kasur. Karena khawatir, Sasuke menarik kursi ke samping kasur dan duduk disitu untuk menjaganya. Ternyata tidak perlu menonton televisi, dengan hanya memandangi wajah Hinata yang sudah lebih tenang pun membuatnya terlelap.

Hinata membuka mata dan melihat ke arah jam yang menunjukkan waktu pukul enam pagi. Hinata memposisikan dirinya duduk, lalu menggeliatkan badannya untuk meregangkan otot-otot badannya yang terasa lebih baik. Lalu Hinata mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamar. Ia terkejut mendapati Sasuke yang tertidur dalam keadaan duduk di samping kasurnya. Hinata mencoba kembali mengingat apa yang membawa Sasuke hingga ia tidur dengan posisi seperti ini. Setelah mengingat-ngingat, Hinata tersenyum. Walaupun samar, ia bisa mengingat Sasuke yang menyuapinya obat. Pahitnya obat bahkan masih terasa. Hinata tidak menyangka Sasuke menjaganya semalaman. Pemikirannya tentang Sasuke pun semakin berubah.

Hinata mengendap, mencoba berdiri dari kasurnya. Kaki dan tangannya sudah tidak sesakit semalam, luka di dahinya pun mulai mongering. Hinata berjalan perlahan menuju keluar kamar, namun ia berhenti sejenak, lalu kembali ke kasur. Hinata mengambil selimut dan menyelimuti Sasuke, lalu kembali keluar.

Hinata berjalan menuju dapur, berpikir untuk membuatkan Sasuke sarapan sebagai ucapan terima kasih. Hinata membuat kopi, roti bakar, dan cream soup. Tanpa Hinata sadari Sasuke sudah bangun dan memperhatikannya yang sedang membuat sarapan.

Sasuke memperhatikan Hinata yang sedang memasak. Sasuke menelan ludahnya, siapa yang tidak tergoda melihat penampilan Hinata yang hanya dibalut kemeja kedodoran seperti itu. Sasuke menggelengkan kepalanya, menghapus pikiran aneh dari otaknya.

Hinata berbalik untuk menyajikan sarapan yang telah dibuatnya. Terkejut melihat Sasuke yang ternyata sudah bangun.

"ohayou Sasuke-senpai.. mari sarapan.." ucap Hinata sambil tersenyum menatap Sasuke,

"ohayou Hinata.."ucap Sasuke sambil menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursinya. Mereka berdua sarapan bersama dalam diam, merkutat dengan pikirannya masing-masing.

Hinata tersenyum, memandang sosok yang terlihat sangat menikmati sarapan yang dibuatnya. Orang yang telah menjaga dan mengobatinya semalaman. Sasuke yang sadar diperhatikan menujukan pandangannya pada hinata, ia tersenyum. Seolah emosi yang dipendam sasuke sejak melihat hinata bersama gaara di perpustakaan waktu itu hilang dibawa angin. Sasuke kembali menjadi sasuke yang hangat di depan hinata. Senyumnya membuat hati gadis di hadapannya ikut menghangat tanpa diketahui penyebabnya oleh gadis itu sendiri.

TBC

Agak maksain menambah romance-nya nih. Kejadiannya jadi ada yang diulang beberapa, maaf yaaa. Alurnya juga mungkin kecepetan, hehehe. Makasih yaa yang udah baca dan review : ) maaf kalo masih banyak kekurangan, kalo aku ngelakuin kesalahan mohon ditegur, makasih.

n : wah, iyaa? Makasih yaaa : ) sip,walopun rate t mudah-mudahan bisa disisipkan yaa *author mesum*

Princess Psykhe ,lonelyclover, R, uciha athrun,Uciha Hikari, Sasuhina-caem, : Makasih banyaaaak yaaaa : )

SuHi-18 : di chapter ini sasu hina mulai deket senpaaai : )

Shyoul lavaen : habisnya kan hinata jarang deket ama cowo, jadilah sasuke cemburu berat, hehehe. Aku usahakan ya senpai : ) makasih banyak senpai : )

Makasih banyak ya semuanyaaaaaaaaaaaaa : )

jangan bosen ikutin ceritanya dan review yaaa : )