A/N : cerita monoton, garing, gaje, miss typo bertebaran, banyak kekurangan, karakter OOC, dan kesalahan lainnya. Jika ada kesamaan ide, kejadian, alur, tempat, mohon maaf itu bersifat tidak sengaja. Cerita ini memang ide yang muncul dari pemikiranku. Dimohon tinggalkan jejak ya. Terima kritik, saran,komentar, dan masukan. Makasih

Disclaimer : Masashi Kishimoto

The Maid

Chapter 5

.

.

.

"AAAAAAA" Hinata berteriak saat jam wekernya berbunyi untuk kesekian kalinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi saat ini, sedangkan Hinata baru bangun dari tidurnya. Padahal biasanya jam seperti ini Hinata sudah di jalan menuju sekolahnya. Dengan segera Hinata menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya secepat mungkin. Tanpa sarapan, dengan seragam dan rambut berantakan Hinata berlari keluar dari flatnya.

Salah Hinata sendiri setelah mempersiapkan alat sekolahnya ia malah melamun hingga lupa waktu. Sudah hampir tengah malam dia tidak bisa menutupkan matanya tadi malam. Karena siapa? Apa masih karena Naruto? Ternyata bukan, yang menjadi objek dari lamunan Hinata adalah pria berambut raven yang menjadi majikannya beberapa hari ini. Pria yang menjaga dan mencurahkan perhatiannya pada Hinata kemarin. Pria yang membuatnya tersenyum hanya dengan mengingat senyumnya sehingga ia sulit tidur, Uchiha Sasuke.

Brukk

"Ah, go-gomen-ne" Ucap Hinata sambil mengusap dahinya yang tertabrak dengan badan seseorang dihadapannya.

"Kenapa lama sekali eh? Kesiangan?" Ucap pria yang ditabrak Hinata tadi. Hinata mendongakkan kepalanya untuk mengetahui sosok yang ditabrak Hinata, dan untuk mengetahui apa pertanyaan yang dilontarkan si pria tersebut untuknya. Hinata terkejut, objek lamunannya semalam berada di hadapannya dengan seragam sekolah dan helm ditangannya yang disodorkan pada Hinata.

"Sasuke-senpai? Untuk apa kesini? " Tanya Hinata sambil menatap Sasuke bingung.

"Tentu saja untuk menjemputmu, cepat naik," Ucap Sasuke sambil menaiki motor sportnya, setelah menyerahkan helmnya kepada Hinata yang masih kebingungan. Hinata yang masih bingung hanya mengekori Sasuke tanpa naik ke motor.

"Apa senpai sedang libur?" Tanya Hinata yangmasih kebingungan atas kehadiran Sasuke di depan flatnya untuk menjemputnya.

"Apa itu penting? Kau lupa kalau sudah terlambat? Cepat naik." Perintah Sasuke, yang ditanggapi Hinata dengan anggukan lalu ia menaiki kursi penumpang.

"Pegangan."Ucap Sasuke singkat. Hinata hanya mencengkram seragam Sasuke karena tidak berani melakukan hal yang lebih jauh dari itu. Namun, Sasuke menggas motornya dengan kencang dan membuat Hinata kaget, sehingga Hinata reflek melingkarkan tangannya di pinggang Sasuke.

"Aku libur. Sampai hari ini. Istirahat untuk shooting video klip-ku" Sasuke baru menjawab pertanyaan yang diajukan Hinata sebelum mereka berangkat tadi. Namun, karena suara bising lalu lintas membuat Hinata tidak merespon perkataan Sasuke. Selain itu, Hinata terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia khawatir saat sampai di sekolah ada yang melihat kebersamaannya dengan pria ini.

Hinata sempat bersyukur karena terlambat, walaupun mendapat teguran dari Iruka-sensei. Tapi, karena keterlambatannya itu tidak ada yang melihat kebersamaannya bersama Sasuke. Bisa dibilang Hinata aman dari para fans Sasuke yang ganas itu.

Perasaan tegang dan malu karena dibonceng senpainya masih terbayang di benak Hinata. Tidak menyangka bisa sedekat ini dengan Sasuke, dan mengenal sikap Sasuke yang tidak diperlihatkan pada banyak orang.

Perasaan Hinata yang tidak menentu karena Sasuke sejak tadi malam sempat mengganggunya. Hinata sendiri masih bingung dengan perasaan yang sedang dirasakannya, dia tidak tahu dan masih buta dengan perasaan macam ini. Selama pelajaran pun Hinata berusaha memperhatikan, tidak ingin mendapat teguran untuk kedua kalinya hari ini walaupun merasa masih ada yang mengganggu pikirannya.

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiing

Tak terasa bel yang menunjukkan waktu istirahat telah berbunyi. Baru saja Gaara hendak mengajak Hinata untuk bersama-sama ke perpustakaan, namun gadis itu sudah tak terlihat. Ah, sudah dua hari Gaara tidak bertemu gadis itu. Dan karena keterlambatan gadis itu Gaara tidak sempat mengobrol dengannya. Setelah mengunjungi makam orangtuanya, Gaara berjanji akan menyatakan perasaannya pada gadis yang kembali menyinari hidupnya.

Hinata berjalan menuju perpustakaan sambil membawa bentou-nya. Hinata tidak menyadari keberadaan seorang pria yang telah menunggunya di depan perpustakaan.

Greb

"Ayo" Sebuah tangan menarik lengan Hinata menuju tempat yang berlawanan dari pintu masuk perpustakaan. Hinata mendongakkan kepalanya untuk mengetahui sosok yang menarik dirinya menjauh dari perpustakaan, ia adalah Sasuke. Walaupun sepi, beberapa anak perempuan melihat kebersamaan Hinata dan Sasuke degan iri dan tatapan membunuh pada Hinata. Hinata tidak tahu dibawa kemana dirinya pergi. Dia tidak berani untuk membantah ataupun melepaskan diri dari pegangan tangan Sasuke tanpa tahu kemana arah mereka pergi.

Setelah menaiki beberapa tangga yang berada di bagian belakang sekolah, Hinata dan Sasuke dibawa ke sebuah pintu besar yang menghubungkannya dengan atap sekolah. Sasuke melepaskan pegangannya lalu mendudukan diri pada lantai atap sekolah yang cukup kotor Hinata yang lagi-lagi terkejut karena ulah Sasuke hari ini hanya mematung di depan pintu yang telah ditutuup.

"Kenapa diam saja? kemari, dan duduklah." Ucap Sasuke sambil menggosok lantai sampingnya berusaha untuk menghilangkan debu untuk Hinata duduk. Lagi-lagi Hinata tanpa protes menuruti Ucapan Sasuke yang terdengar seperti perintah itu.

" Mm, aku tidak bawa bentou. Lagi pula kantin penuh. Boleh aku minta bentou-mu?" Ucap Sasuke, Hinata hanya mengangguk lalu menyodorkan kotak bentou-nya pada Sasuke. Namun Sasuke mendorong kembali kotak bentou itu ke hadapan Hinata.

"Kita makan bersama, kau juga harus makan."

Hinata mengangguk lalu membuka kotak bentou-nya, lalu dia terdiam karena memikirkan sesuatu.

"Ta-tapi sumpitnya hanya satu, Sasuke-senpai.."

Sasuke menyeringai menatap Hinata yang masih betah menundukkan kepalanya.

"Suapi aku.."

"Eh?" Hinata kaget dengan Ucapan senpai-nya tersebut,

"Anggap saja bayaran untuk jemputanku tadi pagi." Ucap Sasuke yang memasang wajah stoic-nya pada Hinata bingung, memang berkat Sasuke dia hanya mendapat teguran dari Iruka-sensei. Setelah sebentar berpikir Hinata mengambil sumpitnya untuk menyuapi Sasuke.

Secara bergantian sumpit yang telah mengapit isi bentou Hinata menuju mulut Hinata dan Sasuke. Sasuke sejak tadi menahan senyum bahagianya, melihat wajah Hinata yang dihiasi rona merah karena ulahnya. Memang ini bukan pertama kalinya Hinata menyuapi Sasuke, namun keadaan Sasuke yang saat ini sadar dan perasaan yang sedang mengganggu Hinata membuat rona merah tak dapat dihindari memenuhi wajahnya.

Saat berdua seperti ini membuat waktu terasa berjalan lebih cepat karena perasaan nyaman yang dirasakan keduanya. Tanpa terasa jam istirahat telah selesai, mengharuskan mereka berdua kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran.

Tanpa mereka ketahui, seorang pria berambut merah sejak tadi mencari keberadaan gadis berambut indigo yang tengah menikmati makan siangnya bersama orang lain hingga waktu istirahat habis.

"Hinata, aku mencarimu di perpustakaan tadi. Tapi kau tidak ada." Ucap Gaara setelah bel yang menunjukkan jam pulang berbunyi. Ia langsung menghampiri Hinata setelah Kurenai-sensei keluar kelas.

"Eh.. a-ano, a-aku tadi ke.."

"AAAAA SASUKE-KUUN" Hinata dan Gaara langsung mengalihkan perhatian pada depan kelas mereka yang ribut oleh teriakan para gadis. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan sang pangeran sekolah, Sasuke, yang kini sedang berjalan menuju kelas Hinata dengan santainya tanpa memperdulikan teriakan-teriakan yang sebenarnya sangat mengganggu.

Dengan santai, Sasuke masuk ke dalam kelas Hinata dan menarik tangan Hinata tanpa memperdulikan tatapan tajam dari pria berambut merah disebelah Hinata dan para fans-nya. Sasuke merasa tepat waktu karena dia datang sebelum Hinata pergi bersama pria berambut merah itu.

Sasuke lagi-lagi seenaknya menarik lengan Hinata sambil membawanya pergi. Dan Hinata lagi-lagi hanya bisa menunduk tanpa mampu protes atau melepaskan pegangan tangan Sasuke padanya. Hinata terlalu takut untuk melihat sekelilingya menatap dengan tatapan membunuh dan berbisik mencibir dirinya. Hal yang paling ditakutkan Hinata benar-benar terjadi, kedekatannya dengan Sasuke karena ia menjadi pembantu di rumah Sasuke mungkin membawanya kepada hal buruk.

Namun sang majikan nampaknya tidak perduli dan tidak sadar dengan sikap para fansnya yang mungkin akan melakukan hal menyeramkan. Ia terus menarik tangan Hinata, yang dia perdulikan saat ini adalah menjauhkan Hinata dari pria berambut merah tersebut.

Hinata membuka mata dari tidurnya yang tak begitu tenang. Hinata merasa enggan untuk pergi kesekoolah hari ini. Semua karena kejadian kemarin, saat Sasuke membawanya pergi dari sekolah dan memboncengnya.

Saat bekerja pun hinata tidak berani mengatakan apapun pada sasuke. Hinata takut dianggap melebih-lebihkan. Karena memang sejauh ini belum ada kejadian dimana seorang siswi diserbu oleh para fans Sasuke. Namun, semua itu terjadi karena Sasuke sendiri belum pernah dekat dengan siswi lain kecuali Hinata. Walaupun Sakura teman Sasuke dan Sakura sempat menyukainya, Sasuke tidak pernah menanggapi Sakura layaknya fansnya. Tapi, ada keyakinan jika benar ada yang begitu dekat dengan Sasuke, kemungkinan besar para fans itu akan berbuat hal yang tak pernah terpikirkan olehnya. Hinata hanya dapat berdoa apa yang dipikirkannya tak akan terjadi.

Setelah segala persiapan untuk sekolah dan seragamnya telah lengkap, Hinata segera bergegas menuju sekolah. Melihat keadaan depan rumahnya yang kosong, mengingatkannya bahwa senpai-nya tidak akan menjemputnya karena dia mulai shooting video-clip hari ini. Hinata bersyukur, setidaknya kemarahan fans Sasuke tidak akan bertambah padanya, walaupun ia sendiri tak yakin.

Benar saja, baru memasuki gerbang sekolah Hinata telah disambut dengan tatapan tajam dari beberapa siswi yang pastinya adalah fans Sasuke. Hinata semakin menundukkan kepalanya yang memang biasanya menunduk. Mendapat perhatian dari banyak orang bukanlah hal yang disukainya, apalagi perhatian yang tidak menyenangkan seperti ini.

Hinata terus berjalan menuju lokernya tanpa menyadari beberapa tatapan selain tatapan membunuh juga ada tatapan kasian padanya. Bagaimana tidak, baru saja Hinata mendongakan kepalanya untuk membuka loker. Dihadapannya disuguhi pemandangan lokernya yang telah dicoret dengan segala macam hujatan dari para fans yang iri dengan Hinata. Dan saat membuka lokernya, langsung berserakan kertas-kertas yang kemungkinan besar isinya tidak jauh berbeda dengan tulisan pada pintu lokernya.

Hinata hanya bisa menghela nafas. Gadis culun yang bahkan tidak disadari kehadirannya oleh beberapa orang disekolah dapat berbuat apa? Mungkin diam hanya satu-satunya cara menghadapi semua ini. Hinata berpikir, waktunya bersama Sasuke hanya hingga konan kembali. dan saat Hinata sudah tidak bekerja di rumah Sasuke, dia tidak akan pernah dekat atau berhubungan dengan Sasuke. Karena menurut Hinata, mungkin Sasuke baik dan perhatian padanya karena mereka kini sering bersama. Walaupun dalam hatinya Hinata tanpa sadar berharap lebih pada perhatian Sasuke padanya.

"Heh kau!" Tiba-tiba seorang gadis menarik rambut Hinata, membuat Hinata hampir terjatuh.

"Beraninya kau! Dekat dengan Sasuke kami!" Ucap seseorang lagi sambil mendorong tubuh Hinata hingga terjatuh. Hinata meringis menggapai pundaknya yang terasa sakit karena terbentur tembok, ia hanya diam dan tak dapat melakukan apapun atas perlakuan para siswi yang dapat dipastikan fans Sasuke.

"Apa yang kalian lakukan!" Terdengar suara yng membuat orang yang mengerumuni Hinata beepaling darinya. Terlihat gadis bersurai merah muda menatap mereka dengan tatapan kesal.

"Pergi kalian dari sini!" Dengan sekejap para siswi menyingkir dari hadapan Hinata. Mereka tidak ingin mencari masalah dengan ketu klub judo yang satu ini. Sakura, gadis bersurai merah muda itu membantu Hinata bangun dari jatuhnya.

" Kau selamat saat ini! Lihat saja nanti!" Ucap salah satu dari siswi yang sekarang menjauh dari keberadaan Hinata dan Sakura, beberapa siswa-siswi yang tadinya menonton kejadian tadi pun menyingkir dan kembali pada kegiatan masing-masing.

"Kau harusnya melawan Hinata.." Sakura membantu merapikan pakaian gadis yang di-bully karena kedekatannya dengan temannya. Teman yang pernah mengisi hatinya walapun itu dulu, karena kini telah diisi oleh Naruto.

"Cantik.. sayang banyak yang tidak menyadarinya..pantas saja Sasuke-kun menyukainya.." batin Sakura saat menatap Hinata.

"A-arigatou ha-haruno-senpai.." Ucap Hinata terbata-bata. Kejadian ini memang sudah diperkirakannya terjadi, namun belum pernah terjadi sebelumnya dalam hidup Hinata. Sakura tersenyum melihat sikap Hinata yang pemalu dan tertutu itu.

"Hati-hatilah Hinata.. mereka mereka berbahaya. Tadi kebetulan aku melihatmu, jika tidak mungkin kau kenapa-napa.."

"Ha-ha'i ha-haruno-senpai"

"Panggil aku Sakura saja Hinata-chan. Sepertinya sudah hampir bel masuk, jaga dirimu ya… jaaa" Hinata menatap kepergian Sakura. sebelumnya tidak pernah Hinata dekat dengan Sakura. walaupun tahu senpai-nya itu yang membuatnya patah hati karena kini berpacaran dengan pria yang disukainya, atau mungkin pernah disukainya. Karena perasaan sedih saat mendengar kabar itu pertama kali sudah hilang dari benak Hinata. Entah karena kebaikan Sakura tadi, atau tanpa sadar sudah ada yang menggantikan posisi Naruto di hati Hinata.

Selama pelajaran berlangsung hingga bel pulang berbunyi, keadaan masih seperti biasanya, walaupun beberapa siswi masih ada yang menatap Hinata dengan tajam. Mungkin, karena gertakan Sakura tadi pagi dan Gaara yang selalu berada di samping Hinata, para fans Sasuke tidak berani mengganggunya.

Gaara yang tahu keadaan Hinata yang kesulitan karena ulah Sasuke tidak ingin apapun terjadi pada Hinata dan tidak ingin bertanya dulu untuk kejadian kemarin. Gaara memilih untuk diam dan Hinata sendirilah yang berbicara. Dan, Gaara telah meyakinkan dirinya hari inilah dia akan menyatakan perasaannya pada Hinata. dia tidak ingin terlambat, apalagi menyadari tatapan Sasuke pada Hinata yang menyiratkan hal yang sama seperti yang dirasakan Gaara pada Hinata. Gaara harus cepat, sepulang sekolah ini ia akan mengantar Hinata dan menyatakan perasaannya.

" Hinata, hari ini kita pulang bersama ya.." Ucap Gaara saat menghampiri Hinata yang sedang merapikan tasnya.

"Gaara, kakashi-sensei memanggilmu ke ruang olahraga.." Ucap seorang gadis berambut coklat pada Gaara.

"Hn? Baiklah.. aku akan kesana.. Hinata, tunggu aku di parkiran ya, aku tak akan lama." Gaara pergi meninggalkan Hinata tanpa ada rasa curiga pada beberapa siswi yang terlihat masih betah di kelasnya.

Hinata berjalan menuju parkiran yang berada disamping gedung sekolah. Keadaan sekolah sudah lumayan sepi saat ini, namun Hinata masih berupaya untuk waspada pada keadaan sekitar. Tapi, kewaspadaannya itu nampaknya tidak cukup mengamankan dirinya. Hinata ditarik dan disekap oleh seseorang, lalu ditarik menuju suatu tempat.

Hinata's POV

Gelap, aku tak bisa melihat apapun. Mataku dan mulutku di tutup oleh kain. Aku tahu, ini pasti ulah fans Sasuke-senpai.

"MMMHHH" aku mencoba berteriak sejak tadi, namun percuma. Yang terjadi malah cengkraman ditanganku semakin menguat.

Perih, terasa sesuatu melilit ditubuhku dengan kencang. Apa yang ingin mereka lakukan padaku? Tempat apa ini?

"Cih, dia pikir siapa dia. Seenaknya dekat-dekat dengan Sasuke kami, masih genit dengan Gaara pula.."

"Cih, kami sudah cukup baik tidak melakukan yang lebih dari ini!"

"Benar! Tinggalkan saja dia disini! Sebelum ada yang lihat. "

Blam!

Gelap, aku sendiri.. bagaimana ini? Kami-sama.. tolonglah aku.. Aku hanya bisa menangis dalam diam sambil berdoa, berdoa agar seseorang datang ke ruangan gelap yang merupakan gudang

Gaara POV

Sial, pasti mereka ingin mengerjai Hinata! aku mencari kakashi-sensei ke ruang olahraga, namun dia tidak disana. Aku disuruh oleh seorang gadis yang mengatakan kakashi-sensei ada di ruang guru namun dia juga tak ada. Beberapa kali aku dibawa berputar untuk mencari kakashi-sensei yang ternyata tidak mencariku.

Benar saja, Hinata tidak ada di kelas maupun parkiran. Aku mencari ke semua bagian sekolah, sampai aku menemui pintu gudang yang berada di belakang sekolah. Terdengar isakan dari dalam sana, itu pasti Hinata!

Sial, pintunya dikunci! Mereka tega sekali melakukan hal ini! Aku langsung mendobrak pintu ini, setelah beberapa kali mencoba akhirnya pintu itu terbuka. Hinata ada disana, dengan keadaan terikat dan mata serta mulut tertutup! Aku membuka ikatan tali tambang yang melingkari tubuhnya, dan ikatan pada mata dan mulutnya. Aku memeluknya, mencoba menenangkannya yang masih bergetar karena menangis ketakutan.

"Tenang, aku disini.. aku akan menjagamu.." Ucapku pada Hinata yang masih menangis dalam pelukanku. Hinata menarik kepalanya menjauhiku, menatapku.

"A-a-arigatou ga-Gaara-kun" Ucapnya sambil terisak kembali. Aku menghapus air mata yang ada dipipinya, mengelus kepalanya agar tenang.

"Aku akan menjagamu.. bahkan tanpa kau minta aku akan menjagamu..karena aku.." Hinata menatapku, mungkin bingung mengapa aku tiba-tiba berbicara seperti itu. Mungkin aku keterlaluan jika menyatakan perasaanku pada Hinata yang masih tergoncang. Tapi aku tak ingin terlambat, sekarang aku harus mengatakannya.

"Aku menyukaimu Hinata.. aku akan terus menjagamu dan berada disismu.. jika kau mengijinkanku.." Ucapku dengan nada sehalus mungkin. Hinata sepertinya terkejut, matanya membesar dan ia melepaskan peganganku pada lengannya.

"A-ano.. Gaara a-aku.." Hinata tampak ragu, aku setia menunggu jawabannya. Aku melihatnya, melihat sebuah bayangan yang menjauh. Itu Sasuke, mungkin lagi-lagi ingin membawa Hinata dariku. Tapi, kurasa sekarang satu sama. Aku lah yang lebih pantas mejaga Hinata, dia pasti akan membuat Hinata tersiksa. Sayang sekali ia pergi sebelum mendengar jawaban Hinata.

"En-entahlah ga-Gaara-kun, aku tak bisa men-menjawabnya sekarang.." Ucap Hinata lirih. Aku memakluminya, ia masih terguncang. Aku akan menunggunya samapai kapanpun. Lebih bail sekarag aku mengantarnya pulang.

Hinata's POV

Aku tidak mungkin kabur dari tanggung jawabku untuk menggantikan pekerjaan konan-nee. Badanku masih terasa sakit karena kejadian tadi, tapi aku tidak mungkin bolos. Untung saja tadi ada Gaara-kun, kalu tidak mungkin saja aku akan terkurung semalaman disana. Ah, tadi Gaara-kun menyatakan perasaannya. aku bingung harus berkata apa, aku merasakan perasaan sebagai teman dengannya, tidak lebih. Apalagi aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan diriku tiap mengingat Sasuke-senpai. Ah, aku tidak mengerti ada apa denganku.

Pintu rumah Sasuke-senpai tidak terkunci, apa Sasuke-senpai sudah menyelesaikan shootingnya? Ah, ternyata kakashi-san yang ada didalam rumah, terlihat dia sedangasik menonton acara infotaiment di televisi. Sepertinya dia menunggu sesuatu, mungkin berita tentang video-clip Sasuke? Aku tidak tahu. aku tidak berani mengganggunya yang Nampak serius. Aku segera melakukan pekerjaanku membersihkan segala penjuru ruangan.

"Ah, ini dia.." kakashi-san menggumam sambil menegakkan badannya menghadap televisi. Aku yang sedang mengelap pajangan di ruang tamu ikut mengalihkan perhatian pada televisi.

Normal POV

Kakashi memperhatikan pemberitaan tentang artis asuhannya yang sedang menggarap video-clip di infotaiment. Namun, berita tersebut dihubung-hubungkan dengan model video-clip yang merupakan model terkenal, Karin. Gadis tersebut sepanjang waktu menempel pada Sasuke, tanpa memperdulikan Sasuke yang merasa cukup risih.

Namun, kedekatan ini dijadikan bahan oleh infotaiment sebagai hot gossip yang mungkin akan menarik penontonnya. Terbukti dengan pemberitaan yang dilebih-lebihkan oleh awak media yang satu itu.

"Cih, dasar.. bukannya fokus ke video-clip malah hal seperti ini yang dibicarakan." Gumam kakashi yang akhirnya menyadari ada gadis dibelakangnya, dan mengalami perubahan mimik setelah melihat pemberitaan tersebut. Kakashi menyadari perubahan pada muka Hinata, dan mengerti apa maksudnya. Ya, Hinata pasti cemburu. Kakashi menyeringai, namun tak lama. Dia ingat tadi siang setelah Sasuke ijin untuk ke sekolah sebentar mukanya sangat masam dan konsentrasinya buyar. Mungkin kakashi harus menanyakan hal ini pada Hinata.

"Hinata?"

"Ya, kakashi-san?"

"Kau pulang dengan siapa hari ini?"

"Hmm? A-ano, dengan temanku. Ada apa kakashi-san?

"Pria atau wanita?"

"Ha? Pri-pria, ada apa?"

"Hn, tak apa." kakashi menyeringai,

"Jadi itu alasan Sasuke hilang konsentrasinya sehingga menghambat proses shooting?" batin kakashi. Sasuke memang ijin saat jam istirahat shooting. Sasuke tidak memberika alasan untuk apa ia ijin, namun kakashi sudah hapal kelakuan artis asuhannya yang satu ini. Pasti ia ingin menjemput Hinata. Namun kakashi sempat bingung saat Sasuke kembali dengan wajah yang kesal. Baru sekarang kakashi tahu penyebabnya.

Sekarang Sasuke entah dimana, dia hanya bilang ingin menyegarkan pikiran pada kakashi. Yang biasanya berarti bermain-main dengan beberapa wanita di bar. Sejak hinat bekerja disini, kakashi merasa senang karena kemungkinan Sasuke untuk main-main dengan pekerjaannya ataupun dengan wanita berkurang. Namun kebiasaan Sasuke saat kesal ini sepertinya tak dapa diubah. Hinata-lah yang menjadi harapan kakashi saat ini terlihat memiliki perasaan yang sama dengan Sasuke.

Hinata telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, setelah membersihkan diri ia segera pamit pada kakashi.

"Kakashi-san, aku pamit"

"Hn, terimakasih Hinata-chan"

Ceklek

Sebelum Hinata membuka pintu, pintu telah terbuka oleh seseorang yang tak lain adalah Sasuke yang baru pulang. Entah kenapa, saat melihat wajah Sasuke Hinata mengingat berita di televise tadi. Dan ia langsung memasang wajah yang dingin pada Sasuke. Sasuke yang masih kesal karena kejadian tadi siang mengira sikap Hinata ini karena berpikir Hinata pasti telah berpacaran dengan Gaara. Dan Karena pemikiannya itu Sasuke hanya diam dan bersikap lebih dingin dari biasanya, membiarkan Hinata pergi tanpa mengucapkan salam padanya seperti biasa.

Kakashi yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kakashi tidak ingin ikut campur, biarkan mereka berdua menyelesaikannya dengan cara menreka sendiri. Toh hati tak dapat berbohong kan?

TBC

Huwaaaah! Akhir yang aneh buat chapter ini! Aku sednag merasakan authors block ato writers block ato apapun itu namanya sepertinya. Kesulitan menyusun kata-kata, padahal alur udah dibikin.. maaf ya semuanya kalo banyak kesalahan, dan kekurangan. Mikirin libur mau abis bikin banyak pikiran nih, kelas tiga banyak pikiran! Aduh jadi #curcol, maaf yaa, hehe. semoga chapter ini cukup memuaskan minna-san : )

Sasuhina-caem, animea lover Ya-ha, Hizuka Miyuki: Makaasih banyaaaaaaaak : )

Shyoul lavaen : makasih ya Shyoul buat review, sasuke kan barengan terus sama Naruto pas smp dan hinata sering ngeliatin naruto, jadi deh sasuke tau, hehehe. mudah-mudahan chapter ini udah bener, hehe

RK-Hime : sekarang Hinata udah mulai sadar tuh :p ini aku coba bikin Hinata cemburu, tapi baru dikit ya.. hehe

Y. C : hmm, kayanya chap ini interaksinya aga sedikit ya.. hehe, entar diusahakan lebih yaa..

SuHi-18 : iyaa suhii, maaf ya aku baru baca pm-nya. Aku online pas mau update aja, jadilah telat baca pm, hehe

Makasih banyak yang masih sempetin waktu buat baca dan review :D semoga update-nya memuaskan, hehehe