Chapter 2~Trauma
.
"Sepertinya ia sudah sadar—" suara yang asing dan juga pemandangan yang tidak pernah ia lihat. Anak laki-laki berambut biru itu tampak membuka matanya perlahan untuk menemukan tubuhnya yang terikat diatas tempat tidur itu. Dikelilingi oleh orang-orang berpakaian serba putih.
"Di—dimana?"
"Kau ada ditempat kami," salah satu dari orang-orang itu tampak tersenyum dingin, membuat anak itu bergidik ngeri. Ingin bergerak tetapi ia tidak bisa melakukannya, "apapun yang mereka katakan—semua benar bukan? Dari ia adalah anak dari Mist Guardian Vongola Daemon Spade, begitu juga dengan kekuatannya—membuat ilusi diusia yang sangat muda..."
"Begitulah..."
"Si—siapa kalian, dimana ayah, ibu, dan Chrome!"
"Kami Esterno Famiglia, dan mengenai keluargamu—sepertinya mereka melupakanmu Mukuro Spade..."
—
"Mana mungkin aku bisa tenang Giotto!"
Sudah 1 minggu lamanya setelah penyerangan yang membunuh semua orang di manshion itu kecuali anak-anak dari Guardian Vongola dan juga Ellena, serta menghilangnya Mukuro hingga sekarang.
"Kita tidak mengetahui penyerang mereka, Alaude sedang mencoba mencarinya Spade—" Giotto tampak mencoba untuk menanggapi amarah Spade dengan tenang. Ia tahu kalau Spade tidak mungkin tenang mengetahui anaknya menghilang.
"Jangan berfikir panjang jika kita menangkap mereka Giotto," G tampak mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya, "aku akan membalasakan dendam Lavina dan juga yang lainnya..."
"Maaf Giotto-dono—untuk kali ini aku setuju dengan G-dono, anda juga mengerti bukan. Ini semua untuk Tsunayoshi dan Tsunayuki juga," jawab Ugetsu dengan nada tenang meskipun Giotto tahu kalau Ugetsu merasakan perasaan yang campur aduk antara kesal dan juga marah.
Suara teriakan yang cukup keras tampak terdengar ditempat itu. Giotto dan juga yang lainnya tampak terkejut sebelum pintu ruangan mereka terbuka sedikit untuk menunjukkan Chrome yang tampak mengintip dari sana.
"Chrome?" Spade tampak berdiri dan menghampiri anak perempuannya itu. Tampak mata kanan Chrome yang ditutupi oleh eyepatch karena luka itu yang membuat mata kanannya tidak bisa dipakai lagi. Berjalan perlahan kearah Spade tampak ragu dan juga takut sebelum Spade menggendongnya, "siapa yang berteriak tadi?"
"T—Tsuna berteriak ketakutan," Chrome memeluk leher Spade dan tampak sedikit berbisik, "a—aku mencoba menenangkannya karena tahu Paman Giotto dan ayah serta yang lainnya sedang sibuk. Tetapi—Tsuna tetap berteriak dan menangis ketakutan..."
Giotto tampak mendengar perkataan Chrome dan segera berjalan menuju kearah ruang kesehatan tempat Tsuna dan juga yang lainnya berada begitu juga dengan G, Knuckle, Alaude, Lampo, Ugetsu, dan juga Spade. Sampai diruangan kesehatan, beberapa maid dan juga perawat yang memang dipanggil oleh Giotto untuk merawat mereka tampak mencoba menenangkan Tsuna yang masih menangis.
"Tsunayoshi—" Giotto tampak berjalan kearah anak itu dan menggendongnya. Melihat ayahnya, Tsuna tampak sedikit tenang meskipun isakan masih terdengar dari mulutnya, "—ada apa Tsunayoshi, papa ada disini..."
"Ma—mama...dimana..." Tsuna tampak memeluk erat leher Giotto, dan Giotto hanya bisa menatapnya dengan tatapan sedih, "Tsu—Tsuna bersama mama sebelum mereka datang dan—dan suara tembakan terdengar dimana-mana! Ma—mama menyuruh Tsuna untuk bersembunyi, dan mama menyuruh Tsuna diam sampai papa datang. Te—tetapi mama tidak mau bersembunyi karena mama bilang, mereka bisa melukai Tsuna..." Suara Tsuna tampak pelan tetapi cukup untuk didengar semua yang ada diruangan itu.
"Ta—tapi, setelah itu—mereka berbicara kalau me—mereka mencari papa dan mama tidak mengatakannya. Se—setelah itu, suara mama yang berteriak dan tembakan terdengar—"
"Sssh, Tsuna—kau tidak perlu menceritakannya, tenang saja..." Giotto tampak terpukul mendengar perkataan Tsuna. Semua yang terjadi terdengar olehnya. Bahkan ketika ibunya tewas, "sekarang kau istirahat oke?"
"T—tidak, Tsuna ingin bersama papa!" Menggeleng dengan cepat dan memeluk erat Giotto tidak ingin melepaskannya. Giotto menatap Tsuna dan menghela nafas, menepuk kepalanya dan menggendongnya keluar.
"Tunggu—dimana anak-anak lainnya?" G melihat tiga tempat tidur yang harusnya diisi oleh Hayato, Takeshi, dan juga Kyouya.
—With Hayato—
Langkah kecil itu tampak terdengar disepanjang lorong ruangan yang tampak sepi itu. Bangunan yang tampak sudah ditinggal dan sedikit hancur meskipun sudah tidak ada mayat yang tersebar dimanapun seperti saat 1 minggu yang lalu.
"Kaa-chan," anak laki-laki berambut perak itu tampak mencoba mencari sosok perempuan yang terakhir kali ia lihat masih tersenyum kearahnya. Mata emeraldnya tampak menoleh kekiri dan kekanan untuk menemukan sosok itu—tetapi hasilnya nihil. Tidak ada apapun disana, dan hanya ada cahaya remang yang masuk lewat jendela didalam manshion itu.
Membuka pintu ruangan, menemukan sebuah piano hitam yang tampak ditutupi oleh kain putih. Tidak ada sosok yang biasa duduk dan memainkan piano untuknya. Masih tidak menunjukkan emosinya, ia segera berjalan dan membuka penutup itu. Melihat deretan tuts piano didepannya, sebelum menekan salah satunya.
Mendengar suara itu, bayangan suara-suara rentetan senjata dan juga teriakan tampak terbayang dikepalanya. Ketika ia mendengar dari balik lemari itu, saat ibunya ditembak dan ia hanya bisa terdiam saat itu. Menutup matanya dan juga telinganya, menggelengkan kepalanya karena suara-suara itu hanya akan membuatnya takut.
"K—kaa-chan...!"
'Ayahmu akan datang Hayato, tenang saja...' Air matanya tampak turun, ia masih menutup mata dan telinganya semakin kencang. Tetapi suara-suara itu masih terdengar di kepalanya.
"Ayah—" terisak tidak ingin berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Ia ingin seseorang menghentikan suara-suara itu, tetapi yang ia tahu hanya ada ia sendirian disini saat ini dan juga saat itu. Sebelum tiba-tiba sebuah tangan melingkar dan mencoba untuk memeluknya dan menenangkannya.
"Tenanglah—Hayato," walaupun tidak menoleh, ia bisa tahu—suata itu yang sudah menghilangkan semua suara-suara yang ada dibenaknya itu benar-benar ia kenal. Suara ayahnya, "maaf—maaf aku tidak bisa menyelamatkan ibumu..."
"K—kenapa, kau tidak datang..."
...
"Kenapa kau tidak menolongnya! Kenapa kau tidak datang saat kaa-chan menunggumu!"
...
"Aku benci kau! Kenapa kaa-chan yang harus pergi!" Hayato meremas kemeja milik G dan menangis lebih keras. G hanya bisa diam dan membenamkan kepala Hayato lebih dalam lagi. Membiarkannya menangis, hingga ia tenang—hanya itu yang bisa ia lakukan saat itu.
"Maaf Hayato..."
—With Takeshi—
"Jirou, Kojirou—" berada ditengah hutan menuju kearah dojo yang terletak dibelakang manshion, anak laki-laki berambut hitam itu tampak memanggil-manggil kedua hewan peliharaannya—peliharaan ibunya, yang ia tahu berada disana, "—kalian disini?"
Suara anjing yang menggonggong tampak terdengar dan anak itu menoleh untuk menemukan anjing berwarna putih yang langsung berlari kearahnya. Memeluknya, dan anjing itu menjilat wajah anak itu—menandakan ia senang dengannya.
"Ahahaha, maaf meninggalkan kalian berdua—ayo kita bermain lagi seperti biasa," berjalan sambil melemparkan bola untuk ditangkap oleh Jirou, anak laki-laki itu semakin dekat menuju kesebuah dojo disana.
"Tangkap Jirou!" Melempar bola base ball kearah hutan untuk kemudian ditangkap oleh anjing putih itu. Jirou kembali dengan sebuah bola lainnya—bola putih dengan ukiran namanya disana, "Jirou, ini bola milik kaa-san, kau menemukannya dimana?"
Woof!
Takeshi melihat noda yang mengotori bola itu—berwarna merah darah, darah dari ibunya yang tewas ditangan pria yang membawa pedang. Pria yang ia bunuh dengan tangannya sendiri.
Takeshi tidak pernah mau melukai siapapun, tetapi ia tidak mungkin membiarkan ibunya dilukai. Ia tidak mau hanya diam dan tidak melakukan apapun. Dan pada akhirnya ia harus mengotori tangannya dengan darah, hanya untuk melihat ibunya tewas didepannya.
"Aku—" tangannya bergetar, terduduk dan memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkannya diantara lutut, "—a-apa yang harus kulakukan..."
Suara langkah tampak mendekat kearah anak itu. Jirou dan Kojirou yang melihat sosok itu langsung berjalan dan menghampirinya. Mengusap kepala anjing itu, pria itu—Ugetsu tampak berjongkok didepan Takeshi.
"Kau tidak melakukan kesalahan Takeshi—" menarik tubuh kecil itu mendekat, memeluknya dan menepuk kepalanya untuk menenangkannya, "—tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi..."
"Aku melihat darah mereka mengalir di tanganku otou-san," menatap horror kearah tangannya membayangkan darah yang mengalir saat itu dikedua tangannya yang memegang pedang, "a—aku tidak bermaksud membunuh mereka. Tetapi mereka melukai kaa-san, dan—dan kalau aku tidak membunuh mereka, kaa-san akan..."
"Takeshi—"
"Tetapi—ke-ketika salah satu dari mereka akan melukaiku, kaa-san malah—" Ugetsu menepuk kepala Takeshi, merasakan kalau anak itu tampak ketakutan dan meremas kimono putihnya. Air matanya juga tampak keluar dari mata anak itu, menandakan ketakutan yang ia rasakan itu, "—a, aku tidak mau melukai orang lain..."
"Kau tidak bermaksud melakukannya Takeshi, tenang saja—kau tidak akan apa-apa..." Tangan kecilnya tampak bergerak memeluk tubuh ayahnya yang lebih besar darinya, sebelum isakannya tampak semakin keras dan memecah keheningan malam ditempat itu.
—With Kyoya—
Suara hantaman tampak terdengar ditengah hutan yang ada didepan manshion. Seorang anak kecil berambut hitam yang memegang tonfa dikedua tangannya tampak memukul beberapa batang pohon hingga terdapat lubang di batangnya.
Nafasnya tampak terengah-engah dengan beberapa luka gores ditubuhnya.
'Aku belum cukup kuat—' semua bayangan saat ia tidak berdaya melawan beberapa orang didepannya yang membunuh ibunya terus membayangi anak itu. Menghantamkan lebih keras, kedua tangannya sampai berdarah karena gesekan antara tonfa yang dipegangnya dengan batang pohon itu.
'Kalau saja aku lebih kuat—kaa-san tidak akan mati...' Nafas yang memburu tampak terdengar. Sosok seorang pria tampak mendatanginya perlahan. Menyadari aura asing itu, anak laki-laki berambut hitam itu langsung mengarahkan serangannya pada bayangan sosok itu—ayahnya.
"Tubuhmu masih lemah Kyouya—" nada monoton milik ayahnya tampak terdengar di telinganya. Serangan Kyoya dengan mudah tertahan oleh ayahnya.
"Berisik—kau tidak pernah perduli padaku..." Menyerang kembali yang tentu saja dengan mudah dihindari oleh Alaude, "kau tidak pernah berada dimanshion lama seperti yang dilakukan oleh semua yang disini. Bahkan—saat kaa-san diserang, kau tidak pernah ada disampingnya..."
...
"Aku benci kau—" menambah kecepatannya, kali ini Alaude membiarkan serangan itu mengenainya, membiarkan Kyoya yang menundukkan kepalanya sambil memukul Alaude, "aku benci kau yang tidak menolong kaa-san..."
...
"Aku—" menahan tangisnya mati-matian sambil menundukkan kepalanya, Kyoya tampak hanya diam saja tidak menatap ayahnya. Alaude sendiri tampak terdiam melihat serangan Kyoya yang terhenti, memegang kedua tangannya dan memeluknya sambil menepuk kepalanya.
"Satu-satunya hal yang pernah aku sesalkan sampai saat ini—" menghela nafas dan menutup matanya, "—ketika aku tidak bisa menyelamatkan Sakura dan juga membuatmu terlihat lemah..."
"Aku tidak lemah—"
"Kalau begitu buktikan—dimataku kau masih tampak seperti herbivore-herbivore lemah itu," Alaude menatap Kyoya yang tampak kesal dengan ayahnya itu sebelum mendorong Alaude dan menjauh darinya beberapa langkah.
"Aku bukan herbivore!"
Dan ia berlari meninggalkan ayahnya yang hanya berdiri dan berjalan menuju ke sebuah makam yang ada didekat sana. Berbeda dengan yang lain—yang dikubur disebuah tempat yang sama, Alaude lebih memilih tempat ini sebagai tempat untuk mengubur istrinya.
"Bukankah kau menyukai tempat ini—Sakura?"
—With Chrome—
Anak perempuan berambut indigo itu tampak menatap kearah sosok yang tengah berbaring diatas tempat tidur itu. Perempuan berambut ikal itu tampak tidak terbangun dari tidurnya.
Ibunya—koma karena serangan itu...
Ia masih ingat bagaimana ia tidak berguna karena hanya bisa dilindungi oleh kakak dan juga ibunya. Membuat mereka berdua menghilang—kakaknya tampak diculik dan ibunya tampak terluka dan koma karena melindunginya. Sampai sekarang, entah kapan matanya akan terbuka lagi dan tersenyum padanya.
Mencoba menghentikan tangisnya yang tidak bisa berhenti setiap bertemu dengan ibunya dalam keadaan seperti ini, ia hanya mengeluarkan isakan kecil. Tidak ingin ayah atau ibunya mendengar ia menangis, karena itu hanya akan membuat mereka repot lagi.
Hanya duduk dan mencoba menghapus air matanya, ketika kursi yang didudukinya tiba-tiba berputar, membuatnya menghadap kearah belakang dan menemukan sang ayah yang tersenyum dan mengusap air matanya.
"Ayah—"
"Ada apa Chrome, kenapa kau menangis?" Spade tampak tersenyum dan menepuk kepala Chrome, mencoba menenangkan anak perempuannya itu.
"Ayah tidak marah?"
"Hm? Untuk apa aku melakukan itu—kau tidak melakukan hal yang salah," menggendong Chrome, duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Chrome sebelum memangkunya dipangkuannya, "kau bahkan menjaga ibumu setiap hari..."
"Tetapi—karena melindungiku, ibu dan nii-san—"
"Bukan salahmu—kau tidak pernah melakukan kesalahan Chrome, ibumu melakukan itu karena ia sayang padamu. Dan kakakmu juga menggantikanmu karena ia sayang padamu," mengecup dahi Chrome, memeluk dan menepuk kepala belakangnya, "tenang saja, bukankah ayah masih ada disini?"
...
"Aku ingin bisa menggunakan ilusi seperti nii-san—" memeluk ayahnya dan membenamkan dirinya di tubuh ayahnya saat itu. Chrome memang bukan seperti Mukuro yang bisa memakai ilusi seperti ayahnya di usia yang muda. Bahkan mungkin Chrome tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang illusionis seperti Mukuro dan juga Spade.
"Tidak semua yang hebat adalah illusionis, meskipun ayahmu ini adalah yang terhebat Chrome nfufufu~" Daemon tampak berdiri dan akan membawa Chrome keluar, "baiklah, kami keluar dulu Ellena—dimana salammu untuk ibu Chrome?"
"Selamat malam ibu..."
—
Aula utama dimarkas bawah tanah itu tampak kosong, hanya ada Giotto yang sedang duduk disalah satu kursi yang ada disana. Memangku kepalanya dengan kedua tangan dan tampak mengatupkan kedua matanya dengan dahi yang berkerut.
Satu minggu tentu saja tidak akan mungkin membuat Giotto melupakan kematian istrinya beserta semua anak buahnya. Bahkan mungkin ia tidak akan mungkin melupakan peristiwa ini saat ia memegang tubuh dingin perempuan itu.
Tsuna tampak duduk dipangkuannya, bermain dengan beberapa mainan ditangannya meskipun ia masih tampak takut ketika orang lain masuk tiba-tiba atau mendengar suara yang besar tiba-tiba.
"Papa—" suara Tsuna membuat Giotto terbebas dari lamunannya. Giotto menoleh kearah bawah dan melihat Tsuna menatapnya dengan tatapan cemas. Tersenyum, Giotto mencoba untuk bersikap biasa didepan Tsuna.
"Ada apa Tsunayoshi?"
"Papa kenapa?" Giotto menatap dengan tatapan bingung mendengar perkataan Tsuna sebelum Tsuna berdiri diatas pangkuannya dan menunjuk dahi Giotto, "daritadi Tsuna melihat dahi papa berkerut terus. Apakah papa marah karena Tsuna mengganggu?"
"Tidak—papa senang Tsunayoshi ada disini sekarang," tersenyum dan menepuk kepala kecil Tsuna, ia tidak bisa menunjukkan raut wajah yang sedih terus didepan Tsuna, "papa hanya berfikir apakah pamanmu akan menemukan Mukuro-kun atau tidak..."
Memakai kacamatanya dan membuka sebuah koran didepannya dan membaca berita disana.
"Ah, apa ini—Esterno Famiglia?" Melihat berita tentang kebakaran yang ada di Sicilly, tiba-tiba Hyper Inuitionnya bergerak melihat berita itu sebelum tiba-tiba pintu terbuka menunjukkan Spade yang menghela nafas berat dan duduk didekat Giotto, "bagaimana Spade?"
"Tidak ada petunjuk yang membantu—mereka terlalu licik untuk menghilangkan semua bukti yang ada," mengambil koran yang dilipat oleh Giotto dan melihat berita tentang Esterno Famiglia itu, "hancur dan tidak ada yang selamat ya? Mereka adalah famiglia yang melakukan eksperimen manusia untuk percobaannya…"
"Papa?" Tsuna melihat koran yang dipegang oleh Spade dan menunjuk kearah lambang Esterno Famiglia yang ada disana, "aku melihat lambang ini saat mereka menyerang mama…"
"Apa?" Spade dan juga Giotto tampak menatap Tsuna dengan tatapan tak percaya sebelum tiba-tiba pintu terbuka dan menunjukkan G yang tampak terburu-buru.
"Giotto!" G melihat kearah Spade dan Giotto dan mencoba mengatur nafas. Dibelakangnya tampak Alaude yang juga mengikuti mereka.
"Kau menemukan sesuatu G, Alaude?"
"Kami menemukan siapa yang menyerang dan juga menculik Mukuro," Spade menutup korannya dan mencoba mendengar apa yang dikatakan oleh Alaude dan juga G, "—itu…"
"Esterno Famiglia, merekalah yang menculiknya…"
—To Be Continue—
