7 DAYS
Disclaimer :Masashi Kishimoto / Shonen Jump
Dedicated for Gaara b'day! telat banget maaf yaa :(
Lagi senggang, jadi buat ini lol padahal masih banyak fic yang belum diselesaikan :(
Meski pairingnya GaaHina, sepertinya lebih fokusin cerita dengan Gaara dan anaknya.
Oke, silahkan membaca ^^
Happy Birthday Gaara-kun!
7 DAYS
chapter 1
DAY 1
Sunagakure
Suara tangisan dari luar kamar, membuatku terbangun dari tidurku. Inilah hal rutin yang aku alami akhir-akhir ini. Tangisan itu bagaikan alarm yang tidak dapat berhenti sampai ada yang mendiamkannya. Aku menelusuri kasurnya dengan tangan. Aku menggoyangkan pundak seseorang yang berada di sebelahku.
"Hinata, dia terbangun." Gumamku dengan suara parau. Yang dipanggil langsung terbangun dan segera menuju ke arah sumber tangisan.
Tangisan yang tadi menggema di seluruh ruangan akhirnya melemah. Mendengar hal itu, aku menghela nafas lega. Belum sempat aku kembali menutup mata, lagi-lagi aku dikejutkan dengan hal lain.
"Gaara! Gaara bangun! Ada surat dari Konoha." Seru Hinata yang berlari menuju kamar. Oh, tuhan, rasanya aku ingin menutup telingaku jika saja dia bukan Istriku.
"Baguslah." Aku hanya menoleh sebentar dan kembali menutup wajahku dengan selimut tebal. Tidak bisa dipungkiri, aku sangat mengantuk karena sudah begadang semalaman karena dokumen yang menumpuk kemarin. Bagiku, tidur adalah hal yang sangat penting sekarang. Ya, meski Kage aku punya kadar lelah, dan bisa ambruk kalau bangun 24 jam tanpa henti. Aku butuh tidur, sekarang.
"Tapi ini penting, Gaara-kun! Ayah...Ayahku sakit." Ujar Hinata terlihat sedih. Hinata melihat isi surat tersebut serius. Mendengarnya, aku langsung menyingkap selimut tadi dan membaca isi surat yang Hinata pegang.
"Kamu mau pulang ke Konoha?" Tanyaku setelah membaca surat tadi.
Hinata langsung mengangguk. "Iya."
"Baiklah, pergilah sekarang. Tapi, kurasa aku tidak bisa ikut, masih banyak tugas disini. Aku akan menyuruh beberapa Shinobi serta Temari menemanimu." aku tersenyum pahit. Jujur, aku ingin pergi kemanapun Hinata berada, tapi tubuhku yang rasanya mau remuk ini bisa hancur kalau mengikuti Hinata hari ini juga.
"Tidak apa, aku akan segera kembali. Maka dari itu, aku titip anak ini, ya." Hinata langsung menyerahkan bayi ditangannya dan menyerahkan kepadaku. "Hanya 7 hari, terimakasih Gaara-kun."
"Eh? Tu-Tunggu Hinata. Kenapa kau tidak membawanya?" Tanyaku heran seraya memangku seosok anak bayi ditanganku.
"Tidak mungkin. Dia masih berumur 8 bulan. Aku tidak bisa membawanya diperjalanan yang berbahaya itu." Ujar Hinata seraya menyiapkan pakaiannya.
"Tapi, Hinata..."
"Tenang saja, aku percaya pada Gaara." Hinata tersenyum sesaat sebelum akhirnya ia memasuki kamar mandi.
Sepertinya aku masih berada di awang mimpi. Tunggu, kurasa ini nyata, buktinya rasa sakit dari gigitan anakku yang satu ini terasa sampai kulitku. Jadi, ini bukan bohongan? Aku harus menjaga anak ini? Yang benar saja. Bagaimanapun, seberapa besar aku menyayangi anak ini, bukan berarti aku siap menjaganya tanpa pengawasan dari Hinata.
Hinata kembali keluar dari pintu kamar mandi dan memandangku lekat. Kurasa tampangku seperti orang dungu sekarang. Ya, aku tak tahu bagaimana wajahku sekarang, tapi yang pasti aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu sedang berbuat apa.
"Gaara-kun, aku pergi dulu!" Ya, itulah kalimat terakhir Hinata yang kuingat. Entah sudah berapa banyak yang Ia katakan, tapi hanya itu yang kuingat. Aku langsung menjatuhkan tubuhku di kasur dan membiarkan jagoanku itu bermain di atas tubuhku yang terlentang di atas kasur.
Aku masih setengah sadar, masih belum percaya kalau Hinata sudah pergi ke Konoha 2 jam yang lalu bersama Temari. Tunggu dulu, semoga ini mimpi. Tidak, aku bisa dibilang tidak becus bila melarikan diri dari kenyataan. Baiklah, apapun keadaannya aku terima, 7 hari bersama anakku ini.
Aku memandangi dari jauh anakku yang bernama Jun itu. Kanji Jun yang berarti suci atau murni berharap kelak dia akan menjadi orang yang berhati murni terhadap siapapun. Mendapat mata Hinata, dan warna rambutku. Golongan darahnya A, sama seperti Hinata. Anak yang sehat dan memiliki tubuh yang gembul untuk ukuran bayi seumurnya. Membuat Temari sendiri gemas dengan anak ini.
Aku agak takut dalam menghadapi bayi dihadapanku. Selama dia lahir, aku jarang sekali berada di rumah karena pekerjaan, karena itu juga aku jarang bersama dengannya.
Menghapus rasa takut, aku berjalan pelan menuju anakku yang sedang bermain di kasur tipis yang kutaruh di lantai.
"Kau lapar?" Aku menyentuh pipinya pelan. Dia hanya tertawa kecil. Melihat tawanya ikut membuatku tersenyum. Yah, inilah salah satu dari sekian banyaknya alasan aku sangat menyayangi dia.
Dia mencoba merangkakkan badannnya menuju pangkuanku. Dengan segera aku mengangkat tubuhnya. Kurasa aku harus memberi dia sebotol susu yang sudah Hinata siapkan, aku hanya tinggal menghangatkannya saja, beruntung aku tidak harus membuatnya, karena aku bisa saja malah membuat anak ini mabuk dengan kadar susu yang bahkan aku tidak tahu seberapa takarannya.
Ternyata repot juga kalau harus memanaskan susu di dapur seraya menggendongnya. Ya, dia benar-benar tidak bisa diam, entah sudah keberapa kalinya rambutku dijambak oleh tangannya. Sakit? Tidak perlu ditanya. Rasanya benar-benar menyedihkan seorang lelaki berada di dapur seraya menggendong anak bayinya yang terus menyiksanya.
"Ayolah, kamu diam sedikit," Gumamku seraya memasukan susu hangat tadi ke dalam botol susu miliknya. Selesai menaruhnya, aku menidurkannya lagi di kasur tempat tidurku. Rasanya malas sekali kalau harus membungkuk terus di ranjang bayi itu. Lebih baik aku sambil duduk di atas ranjangku sendiri.
Botol susu tersebut ku beri pada Jun. Dia terlihat mulai tenang seraya menyusu dengan botol berukuran sedang itu. Ya, aku bisa tidur sejenak. Aku masih sangat mengantuk, serius. Aku mulai memejamkan mataku, belum ada semenit, anak ini menangis. Oh tuhan, apa lagi sekarang?
Dia meraung keras, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Harusnya Hinata memberikanku sebuah list, tahapan-tahapan yang harus kulakukan nantinya. Ya, kurasa itu membantu.
Aku menggendongnya lagi dan baru saja ku angkat, dengan sukses malaikat kecil itu memberiku hadiah yang berasal dari mulutnya. Baiklah, apa lagi nanti?
Dia terus menangis kencang, aku benar-benar tidak bisa menghentikan tangisannya. Mungkin aku harus membuka celananya, tapi setahuku, Hinata sudah mengganti popoknya sebelum Ia pergi, jadi pasti tak ada masalah akan hal itu. Baiklah, satu-satunya cara aku harus ke tempat orang itu, Shikamaru!
"Eeeeh? Kau meminta bantuanku untuk menjaga anakmu?" Shikamaru memandangku kaget. Pasangan dari Kakak perempuanku yang satu ini benar-benar tidak bisa diandalkan, tapi setidaknya aku sering melihat dia bermain bersama anak-anaknya, kurasa dia pasti paham benar dalam mengurus anak.
"Ya, dia tidak berhenti menangis." Aku menunjukkan Jun padanya.
"Ya ampun, Gaara. Dia sampai keringatan seperti ini, kau belum memandikan dia?" Shikamaru memandangku. Aku hanya mengangguk pelan. Sebenarnya aku ingin memandikannya, tapi bagaimana bisa? Yang ada anak ini tenggelam karena kecerobohanku. Bukannya membaik, bisa-bisa aku dibunuh Hinata saat ia pulang.
Aku lalu menyerahkannya pada Shikamaru. "Baiklah, aku titipkan dia padamu."
Belum sempat aku berjalan menuju Gedung Kage, Shikamaru menangkap pundakku erat.
"Enak saja kau Gaara! Kau yang memandikannya!" Shikamaru berseru kencang dan menarikku memasuki rumahnya.
"Tunggu, apa maksudmu?" Tanyaku bingung. Ia menarikku ke rumahnya dan menuju kamar mandi miliknya. Dan yang paling tak bisa kumengerti kenapa sekarang aku sedang menggendong anakku yang tidak menggunakan sehelai benang pun?
Shikamaru yang berdiri di depan pintu hanya tersenyum tipis.
"Kau kan Ayahnya, ya kau yang harus memandikannya!" Shikamaru memberikanku sebuah sabun mandi khusus bayi yang wanginya sangat harum. Bau yang biasanya kucium pada anakku ini.
"Lalu, bagaimana?" Tanyaku bingung. Aku sudah siap akan hal ini, kaus lengan panjang yang kugunakan pun sudah kulipat menghindari basah yang sepertinya akan sia-sia. Buktinya belum mulai memandikan anak ini, Jun sudah membasahiku dengan cipratan air yang ia layangkan ke Ayahnya sendiri. Tapi aku menyukai bagaimana ia bahagia bermain air.
"Ya, kau masukan dia ke tempat mandi itu, isi airnya sedikit saja," Shikamaru menuntun gerakanku. Sejujurnya aku sangat takut saat membasahi tubuh anak ini. Takut kalau terkena matanya. Aku merasa salut pada Hinata yang selalu bangun tiap pagi dan mengurus anak ini tanpa mengeluh sedikitpun.
Aku mulai membilas Jun pelan-pelan. Ia terlihat senang saat air membasahi tubuhnya. Melihat hal itu, aku ikut tersenyum.
"Ya, kalau sudah selesai, langsung balut dengan handuk biar dia tidak kedinginan. Aku akan mengambil bajunya di rumahmu." Shikamaru melemparkan sebuah handuk tebal padaku. Untuk ukurannya, dia terlalu bersikap seenaknya, bagaimanapun aku ini Kazekage. Beruntung dia adalah Suami Temari, kalau tidak aku sudah pasti akan sangat kesal akan hal ini.
Jun lalu tertawa kecil saat melihat tubuhku yang ikut basah kuyup.
"Kenapa? Kau senang melihat Ayah basah kuyup begini, Jun?" Aku mencium dahinya lembut. Ia langsung tertawa lagi, membuatku tak tahan untuk tersenyum senang. Kurasa ini alasan mengapa mereka dibilang malaikat, senyum mereka membuatku ingin menjaga senyum itu seumur hidup.
"Gaara, aku sudah mengambil baju-nya. Yang ini kah?" Shikamaru menunjukkanku sebuah baju bayi yang berwarna putih kelam ditangannya. Aku mengangguk cepat.
"Terimakasih."
Aku lalu keluar dari kamar mandi tersebut tetap menggendong Jun yang berselimut handuk. Ku rentangkan dia di atas kasur milik anak Shikamaru dan Temari yang sedang tertidur di sebelahnya. Perbedaan umur anakku dan anak Temari hanya berkisar 7 bulan, membuatku yakin mereka bisa berteman akrab nantinya.
Selesai memakaikan popok dan mengganti baju Jun, aku segera menggendongnya lagi. Kulihat Shikamaru sedang sibuk membaca sebuah buku. Aku langsung menuju ke arahnya dan duduk di hadapannya.
"Sudah? Anakmu sepertinya mengantuk, tidurkan saja dengan Tenshi." Ujar Shikamaru menunjuk kamar anaknya tadi.
"Ya, kebetulan aku juga harus ke ruangan Kage." Aku lalu menuruti usulan dari Shikamaru. Selesai menidurkan Jun, aku segera bersiap ke Gedung Kage setelah mengganti pakaian.
"Oya, Gaara. Jangan lupa siaga, kudengar para missing nin bergerak menuju Suna." Shikamaru menatapku serius. Ya, aku sudah dengar hal ini berkali-kali dari shinobi lainnya. Aku hanya mengangguk tanda mengerti dan langsung menuju ke arah pintu luar.
"Tolong jaga harta berhargaku, ya."
Ini sudah lebih dari dua jam aku menunggu dia tertidur. Kulihat sudah pukul 11 malam, dan anak ini masih asik bermain dengan boneka yang menjadi benda kesayangannya. Kubiarkan ranjang bayi berada di dalam satu kamar denganku. Memudahkan apabila ia menangis malam hari, tapi ternyata sampai malam pun ia belum tertidur.
Terdengar gumaman dari bibirnya entah apa yang dia katakan, yang pasti ia belum bisa berkata-kata. Kulihat lagi ke arah ranjang tidurnya yang berwarna hijau. Saat menyadari kehadiranku, Jun langsung mencoba menggapaiku dengan kedua tangannya seraya tidur terlentang. Lagi-lagi aku tak kuasa untuk menggendongnya.
"Baiklah Jun, tidurlah. Ayahmu ini akan menemanimu sampai tertidur," Ucapku yang entah ia mengerti atau tidak. Jun lalu tertawa. Aku bingung melihatnya. Apa mukaku sebegitu lucunya, sehingga Ia melihatku dan tertawa terus?
"Kau lapar lagi?" Ucapku sambil menyentuh pipinya. Ternyata ia tidak lapar. Dari yang kutahu, seorang bayi yang lapar jika ditekan pipinya akan mengelurkan reaksi, seakan-akan itu adalah makanannya. Yah, kurang lebih begitulah.
Aku menepuk-nepuk pundak Jun menunggunya sampai tertidur. Suara gumamannya sudah melemah, kulihat wajahnya. Ya, dia sudah tertidur pulas. Akhirnya, aku bisa tertidur. Tapi ternyata dugaanku salah, saat ku taruh kembali ke dalam ranjang tidurnya, Jun kembali bangun dan menangis. Ya tuhan, apa seluruh bayi seperti ini?
"Ayolah tidur," Aku kembali mengangkatnya dan menepuk pundaknya lagi. Ia berhenti menangis dan tertidur lagi. Ya, anak bayi selalu seperti ini. Sekarang aku berjanji tidak akan mengeluh jika Hinata harus bulak-balik ke kamar Jun tengah malam, aku mengerti kenapa sekarang.
Alhasil, sampai jam 2 pagi, akhirnya Jun tertidur pulas. Dan aku akhirnya bisa tidur. Meski 3 jam berikutnya terbangun lagi karena tangisannya.
Hinata, kau sungguh meninggalkan anak ini? Ini baru 1 hari, dan aku harus menjaganya 7 hari?
TBC
Hola semua! Maafkan akuuuuuu.. Tiba-tiba lagi mau membuat cerita tentang Gaara dan anaknya
Aku berfikir gimana ya Gaara kalau sedang bersama anaknya fufufuf
Padahal yang flower and the star belum rangkum
Gomen! karena saya lagi menyembuhkan hati juga. Pas Flower and the star mau kusave, tiba-tiba lappy mati, dan saya ngerjain di doc manager, alhasil tak ada backup-an dan membuat saya belum bisa menerima kenyataan, hingga membuat fic lain #dor
Ah, bagaimana? Apakah ada yang kurang? Aya sangat butuh revieew, apakah kurang bagus ya kalau Gaahina nya dikit? Aduh, bingung.. bingung sekali...Terus nama Anaknya itu Jun.. Jauh banget dari kesan GaaHina
Maaf ya .
Terus sedikit banget. Kenapa? karena 1 hari itu 1 chapter, dan Aya akan berusaha fast update!
Please review, need comment minna! thanks for read yay!
Review ya ;o; beri daku masukaan
