7 DAYS
Disclaimer :Masashi Kishimoto
Pair : Gaara x Hinata
Waah aku tak menyangka baru publish sudah ada yang me-review ;o; #nangiskejer
Aku tak berpengalaman dengan bayi, jadi nggak terlalu tahu juga gimana ngurusnya, kira-kira posisiku sama seperti Gaara. Jadi Informasi tentang bayi itu aku cari dari gugel dan buku-buku lainnya ^^ Jadi, kalau ada yang punya informasi tentang bayi umur 8 bulan, share-share yuk ;D maaf ya setiap chapter pendek, tapi apdetnya kubuat cepat kok :"D #serius
Kubalas review dulu yaaaps :D anyway, isn't this is fast update? lol
Agehashiroi : Halo ageha! sankyuu :D ah iya, makanya aku nyoba buat nih ;D Temari kan nemenin si Hinata :)
Mitsuki Ota : Halo Ota! wah, aku senang di review Ota! #SempetbacaficGaaHinanya# /
Yumechan : Gomen Yume! Sankyuu! Oke, akan kuperlambat disini D: Thx!
Suka snsd : Haloo! Salam kenal! Wah, salam buat anaknya! :D Senangnya kalau ada yang setuju dgn fic ini :D
Yamanaka Emo : Hai Emo! wah, anak siapaitu? XD Si Jun-chan asik ya D:
Kikyo Fujikazu : Ini update kilat!
Seiran : Benar sekaliiii :D hahaha.. semangat Gaara! Ah, Anak Temari yang 7 bulan lebih tua :D
SuHi-18 : Dia calon lelaki yang hebat #diezh# iyaa ;;; Ah, aku juga mau liaat A ini apdet kilat! Yang flower nunggu luka di hati sembuh dulu lol
Kuroophantomhive : Ini apdet kilaat kook :D iya, aku juga mau punya suami kayak Gaara #ngarep#
mayraa: Mayraaa! thanky so much :D Waah, senangnya mlihat review darimuu / akan kucoba lebih banyak dengan humornya D: masih hari ke 2 sih ;;; waah, itu kapan? karna aku ga ol jd gak tahu niiiih :( sankyuu
Terimakasih untuk yang revieew, maupun yang mengirim ke inbox D: Baiknyaa ;;;
Kenapa Aya pilih umur 8 bulan? Karena itulah masa lucu-lucunya sang bayi! lolol
Dan kuputuskan panggilan Jun ke GaaHina itu papa-mama, kenapa? karena orang Jepang yang masih bayi kebanyakan manggilnya begitu sih ohoho
Keep reading! ;D
DAY 2
Sunagakure
Kurasakan sakit di wajahku. Siapa yang berani menyentuh wajahku seenaknya? Rasanya rambutku ikut terasa sakit. Apa-apaan ini?
Aku membuka mataku perlahan. Begitu kubuka kedua mataku, terlihat sesosok bayi kecil sedang menindih tubuhku tanpa dosa sedikitpun. Siapa lagi kalau bukan Jun. Aku tersenyum pasrah dan segera bangun dari tidurku.
"Baik,baik, aku bangun." Aku mengangkatnya dari atas tubuhku dan mendudukkannya diatas kasur. Kulingkarkan tanganku di tubuhnya. Jun terlihat senang saat aku bangun.
"Aku akan membuatkanmu makanan, jadi tunggulah dulu." Aku mengangkat Jun dan memasukkan kembali ke ranjang tidurnya. Cukup aman dengan tempat tidur yang seperti pagar itu. Aku tidak perlu takut Jun terjatuh. Atau dengan kata lain, aku tidak perlu takut menerima omelan Hinata selama Jun baik-baik saja.
Aku menuruni anak tangga dan menuju dapur. Disana aku membuka lemari kayu yang berada di dalam dapur tersebut. Ada sebuah kotak untuk makanan Jun. Aku segera mengambilnya dan membuka kotak tersebut. Aku memandangi makanan itu bingung. Seingatku, Hinata hanya memberinya air hangat dan langsung menyuapi Jun.
Ah, tak pernah terfikirkan olehku sebagai Kazekage harus mengurus anaknya dulu sebelum menyelesaikan kerjaannya. Segeralah aku mengeluarkan isi dari kotak itu ke sebuah mangkuk plastik kecil. Kusiapkan pula sebuah kain untuk berjaga-jaga.
Dari sini aku bisa dengar Jun bergerumul kencang. Ya, tanda bahwa Jun mulai tidak nyaman ditinggal sendirian olehku. Aku segera secepat mungkin membuat makanan untuk Jun ini. Aku mengaduknya perlahan, melihatnya aku sedikit merasa mual. Apa bayi suka dengan yang kental begini. Bagiku ini terlihat...Menjijikan. Apa aku harus mencoba dulu? Haruskah? Tidak perlu. Tapi, bagaimana kalau terlalu kental? Bisa-bisa Jun tersedak dan masuk RS? Dan saat Hinata pulang, rasanya cekikan dari Hinata cukup untukku. Ya, menghindari hal itu, dengan sekuat tenaga aku mencobanya sedikit.
Rasanya aku ingin muntah. Tapi, makanan ini tidak terlalu kental, dan tidak terlalu encer, kurasa Jun bisa memakannya. Baiklah, bagaimanapun rasanya, aku bersedia mati demi Jun meski itu mati konyol hanya karena mencoba makanan bayi ini.
Aku segera berlari ke lantai atas menuju tempat Jun. Kulihat ia berdiri di pinggir ranjangnya seraya berpegangan pada pagar kayu itu. Saat melihatku, ia menjatuhkan dirinya. Hal itu cukup membuat nyawaku melayang sedetik.
"Jun, jangan membuatku panik begini." Aku mengangkatnya dan menggendongnya dengan satu tangan. Ah, untuk bayi berumur 8 bulan, Jun cukup berat. Beruntung aku cukup kuat meski hanya menggunakan 1 tangan untuk menopang tubuhnya itu.
Aku segera kembali ke lantai bawah, menuju tempat makan yang sudah siap dengan makanannya.
"Ya, pakai dulu ini." Aku melingkarkan handuk kecil di lehernya. Setelah mendudukkan dia di sofa, aku segera menyuapinya perlahan. Sepertinya makanan buatanku tidak buruk, Jun makan dengan lahap. Aku tersenyum senang melihatnya.
"Pintar." Aku mencium pipinya setelah ia menghabiskan seluruh makanannya. Jun membalas dengan tawanya. Oh,ya... Balasan yang setimpal.
Setelah memberinya sebotol susu, aku membuka bajunya, hingga Jun hanya dibalut handuk kecil tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Aku menepuk-nepuk kembali punggungnya, menunggu sampai ia bersendawa. Shikamaru yang menjelaskannya padaku, jika bayi harus bersendawa setelah meminum susu. Jika ia memuntahkannya, kita baru bisa memberinya susu lagi. Karena, bayi juga menghirup udara. Yah, makin lama aku jadi mempelajari hal ini. Jun bersendawa. Mendengarnya aku menghela nafas lega, artinya aku tak perlu memberinya susu lagi.
"Baiklah, baiklah. Papa akan memberimu hadiah, tuan Sabaku." Aku menatapnya seraya tersenyum. Ia membalas senyumanku lagi. Benar-benar menyenangkan.
Sebelum memberinya boneka kesayangannya, aku terlebih dahulu memandikannya. Ya, dalam 2 hari ini aku selalu mandi bersama Jun. Ah, kalau boleh jujur ini merepotkan, aku jadi tak ada waktu bersantai di ofuro dan menikmatinya seperti biasa. Yang ada, aku harus terus memegangi Jun yang bukan main aktif di ofuro. Tangannya selalu berusaha melepaskan dirinya dari genggamanku. Benar-benar melelahkan.
Siang ini aku menyerahkan tugas ku pada Kankurou, kurasa aku berhutang banyak padanya.
Ku amati Jun yang asik bermain dengan bonekanya. Aku memandanginya tanpa bosan. Kulihat bonekanya terlempar jauh darinya. Jun merangkak mengambil boneka yang terlempar jauh itu. Merasa lelah, ia menghentikan tubuhnya. Kulihat wajahnya. Ah, lagi-lagi tampang itu. Tampang kalau ia akan menangis. Dengan segera aku mengambil bonekanya dan menunjukan pada Jun.
"Nah, Jun. Lihat, kau ingin ini, kan? Ayo ambil kemari." Aku menggerakan boneka itu dengan tanganku. Sebuah boneka beruang seukuran lengan tanganku.
Jun tampak tidak senang dengan perilaku-ku. Tapi aku tetap sengaja. Bagaimanapun, Jun harus berusaha memperoleh sesuatu yang Ia inginkan.
"Uuh.." Terdengar gerumulan suara dari mulut Jun. Tapi Ia tetap berusaha merangkak menuju ke arahku.
"Ayo, sedikit lagi, Jun."
Aku tersenyum tipis melihat usaha anak ini. Jun terlihat makin bersemangat menuju ke arahku.
"Berhasil!" Ujarku saat Jun berhasil menuju ke pangkuanku. Kuberikan boneka itu padanya. Ia tersenyum lebar. Ah, betapa bahagianya kalau Hinata juga ada disini. Rasanya memang ada yang kurang tanpa kehadiran Hinata. Aku mengelus kepala Jun.
"Maaf ya, pasti mama lebih banyak memberikan kasih sayang padamu lebih dari ini, kan?" Aku menggendong Jun lagi dan menaruhnya kembali ke atas sofa.
"Kazekage-sama!" Kudengar seruan dari Shinobi yang terlihat habis dikejar hantu. Aku memandangnya bingung.
"Kenapa?"
"Ada Shinobi yang tidak diketahui asalnya menyerang gerbang Suna!" Seru Shinobi itu meyakinkan.
"Baiklah, beritahu Kankurou untuk bersiaga, aku akan menyusul. Lalu, panggil matsuri kemari!" Seru-ku cepat. Aku segera mengambil gourd pasirku dan melingkarkannya di tubuhku.
Belum ada 2 menit, Matsuri datang. "Ada apa, Kazekage-sama?" Terlihat tanya tanya di wajahnya.
"Tolong kau jaga Jun. Ingat Matsuri, jangan sampai dia terluka." Aku memandang Matsuri serius. Matsuri lalu mengangguk. Yah, bagaimanapun, Matsuri adalah salah satu Kunoichi yang bisa kupercaya disini, selain alasan karena ia adalah muridku dulu.
Setelah mempersiapkan peralatanku, aku langsung menuju ke depan gerbang Suna. Ya ampun, aku sedikit kesal dengan kerusakan ini. Bukan apa-apa, tapi rasanya menjengkelkan sekali aku harus mengerahkan tenaga Shinobi hanya untuk membetulkan pasir-pasir yang sudah hancur ini. Kurasa, saat kutemukan siapa yang melakukannya, sebuah goresan di wajahnya tidak terlalu buruk juga.
"Gaara! Ini data yang kudapat. Dia Shinobi dari Desa Iwa. Salah satu Shinobi pelarian dari Desa itu. Aku sudah mengirimi Desa Iwa dengan surat lewat elangku." Seru Shikamaru yang entah dari mana datangnya sudah berada di sebelahku. Shinobi yang berasal dari Konoha, dan harus mengganti papan ikat shinobi miliknya dengan lambang Suna semenjak meminang Kakak perempuanku. Konoha pasti sangat menyayangkan kehilangan satu Shinobi yang memiliki tingkat kejeniusan di atas rata-rata ini.
Aku melihat sebuah dokumen yang diberikan Shikamaru padaku. Oh, lagi-lagi Shinobi pelarian. Shinobi bodoh yang tidak memiliki tujuan hidup. Sama sekali harus dibasmi.
"Ya, hubungi aku lagi jika mendapat balasan dari Iwa. Kira-kira total seluruh Shinobi yang menyerang ada berapa?" Tanyaku pada salah satu Shinobi yang sekarang berdiri tegap di hadapanku, Baki.
"Entahlah, yang terlihat hanya 5 orang." Baki menjawab pertanyaanku tidak serius. Ah, ini menyebalkan kalau ada yang memberiku suatu bukti tak akurat.
Belum selesai aku bicara pada Shinobi yang lain, datang lagi kekacauan lainnya.
"Kazekage-sama! Para Shinobi itu dataang!" Kulihat beberapa Shinobi dari luar Sunagakure menuju gerbang Suna. Tubuhnya sudah penuh dengan luka. Lagi-lagi mereka pasti kabur saat melawan musuhnya.
"Biar aku yang maju. Lebih cepat lebih baik." Aku menghentakkan kakiku kedepan, menuju kedepan gerbang Suna. Kulihat bayang-bayang Shinobi itu mulai berdatangan. Bodoh sekali, datang tanpa menyelinap sedikitpun.
"Oh tidak," Ujar salah satu Shinobi pengecut tadi. Aku hanya menggeleng kepalaku sedikit. "Kazekage-sama! Mereka lebih dari 100 orang!"
Ku angkat kepalaku. Ya, 100 orang. Tidak, lebih dari 100 orang, itu hampir 200 orang. Bunshin? Tidak. Mereka tidak akan terlalu hebat hingga dari 5 orang bisa mengeluarkan bunshin sebanyak itu. Setidaknya, cukup Naruto yang memiliki bakat itu.
"Gaara, biarkan saja pengawalmu yang melawan mereka." Shikamaru menyenggol lenganku. Aku hanya menggeleng. Apa aku harus seperti pengecut tadi? Tiba-tiba mundur setelah mengatakan 'aku yang maju' ? Hah! Memalukan.
Aku melangkahkan lagi kakiku, berjalan mendekati Shinobi-Shinobi kurang kerjaan itu. Mereka terlihat bergidik saat melihat bahwa aku sendiri yang maju.
"Heh! Lihat! Kazekage bodoh ini mau menghadapi kita semua!" Seru salah satu Shinobi itu. Oh, kurasa dia akan menjadi orang pertama yang kubunuh disitu nanti.
Aku menatap mereka datar. Tidak perlu aku mengeluarkan berbagai macam ekspresi yang akan meguras sedikit tenagaku. Kugerakan jariku yang berada di tangan sebelah kanan-ku. Pasir yang mulai menggeluti dari gurun yang ku tapaki terlihat mulai bergerak.
"Tunggu dulu, Kazekage. Kau yakin dapat melawan 200 orang lebih ini? Bodoh." Shinobi yang berdiri paling depan menyeringai kejam. Aku tidak memperdulikannya dan tetap menggerakan pasirku.
"Hati-hati belakangmu." Bisikku. Kurasa bisikkanku terlalu besar hingga mereka dapat mendengar dan segera melihat belakang mereka. Aku langsung mengerahkan kedua tanganku ke atas. Dibelakang mereka sudah terlihat pasir berbentuk seperti ombak laut yang siap untuk menyelimuti mereka selama-lamanya.
"Persetan dengan Shinobi pelarian seperti kalian." Aku segera menggerakan tanganku diikuti dengan tubuhku yang langsung membungkukkan hingga ke dasar tanah membuat pasir besar tadi segera ikut ambrus menutupi seluruh Shinobi tadi.
"Kazekage-sama memang hebaat!" Seru Shinobi Suna yang sedari tadi hanya menonton.
"Gaara! Dibelakangmu!" Aku segera melihat apa yang ada dibelakangku mengikuti saran Baki-sensei.
Aku hanya mengerutkan dahiku bingung. Shinobi ini hanya diam dan tidak bergerak. Kutengok kebelakang shinobi itu, dan kulihat Shikamaru menggunakan jurus bayangannya. Yah, kurasa sebagai ipar dia tidak buruk juga.
Setelah Shikamaru melepasnya, dengan satu pukulan dari pasirku, Shinobi dihadapanku runtuh tak bernyawa lagi.
"Terimakasih, Shikamaru." Ucapku pelan. Sejujurnya kata 'terimakasih' bagiku adalah hal yang mahal. Tidak semudah itu aku bisa mengucapkannya.
Aku kembali lagi ke pada kumpulan Shinobi Suna itu. Mereka terlihat senang saat seluruh musuh sudah tak bernyawa. Ada pula yang terlihat ketakutan dengan kekejianku yang membunuh 200 Shinobi hanya dalam beberapa detik. Kalau mengingat ini, aku berfikir.
Apa yang kira-kira Jun pikirkan saat mengetahui kekejamanku?
"Gaara-sama? Sudah pulang?" Ujar Matsuri yang sedang memangku Jun di ruang tamu rumahku. Aku jadi teringat pada Hinata. Biasanya saat pulang, Hinata langsung menghampiriku ke pintu depan bersama Jun. Lalu Hinata segera menuntunku ke ruang makan dengan segala macam makanan yang sudah Ia siapkan.
"Ga..Ehm, Kazekage-sama?" Matsuri memandangku lagi. Sepertinya Ia berfikir aku tidak menjawabnya karena Ia memanggil namaku.
"Jun, kemarilah." Aku membuka lebar tanganku, membiarkan Jun dengan sendirinya menuju tanganku.
"Kazekage-sama, aku pulang dulu." Matsuri membungkukkan tubuhnya padaku.
"Ya, Matsuri tolong katakan pada Kankurou kalau mulai besok aku yang akan mengerjakan tugasku lagi."
Matsuri mengangguk tampak mengerti. Setelah Matsuri keluar dari rumah, aku segera melepas Jubah Kage yang sedari tadi kugunakan. Sudah hampir malam sekarang dan aku masih bermandi keringat. Berat sekali kalau harus memakai Jubah putih itu tiap hari. Aku ingin rasanya tidur sekarang, tapi Jun belum kumandikan, belum kuberi makan, belum kuganti pakaiannya. Apalagi aku harus menunggunya tidur nanti malam. Aku rasanya ingin berteriak.
Seraya memangku Jun aku duduk bersila di lantai menenangkan diri. Kubiarkan Jun sendiri di pangkuanku asik memainkan baju hitam lengan panjangku. Aku lelah. Ini sangat melelahkan.
Aku butuh Hinata.
Aku butuh kehangatan yang lembut dari Hinata seperti biasanya.
Dasar sombong, baru 2 hari ditinggal Hinata saja sudah begini. Apanya yang pemimpin Desa kalau hanya begini aku mengeluh.
Entah kenapa tubuhku terasa lemas sekali. Dari kemarin seingatku aku belum makan. Ya tuhan, aku baru ingat itu. Dari kemarin yang kuperhatikan makannya hanya Jun. Aku benar-benar lupa dengan diriku sendiri.
"Hinata.." Aku bergumam tipis. Kututup mataku dengan telapak tangan kiriku. Kurasa aku demam. Ini tidak baik, Jun bisa tertular. Aku mual. Mau muntah.
"Uuuhh..." Kurasakan Jun mencoba berdiri dengan menarik bajuku sebagai penopangnya. Aku membuka kedua mataku.
"Kenapa Jun?" Aku menjaga keseimbangannya dengan tangan kananku. Kulihat wajahnya ingin menangis. Kenapa? Apa dia mulai merasa kepanasan?
Mulutnya tetap bersuara menggerumul. Ia segera menjatuhkan dirinya ke dadaku dan bersender dengan sukses. Lalu Jun kembali mencoba berdiri dan menghadapkan wajahnya kepadaku. Dia tertawa kecil membuatku ikut tersenyum.
"Kau mengkhawatirkan papamu, Jun? Anak pintar." Aku tersenyum simpul dan segera memeluknya. Jun tertawa lagi dengan lepas. Tawanya benar-benar obat mujarab untukku saat ini. Tanpa alih-alih lagi aku segera mengangkatnya dan membawanya ke kamar mandi untuk segera memandikkannya.
Melihat Jun, seluruh perasaan tidak nyamanku hilang. Sekarang malah aku tersenyum-senyum sendiri saat menggendong anak lucu ini. Aku segera membuka pintu kamar mandi yang berada di sudut rumah.
Melihat air, Jun langsung menggerakan tubuhnya. Ya, mulai berusaha melepaskan diri dari pelukanku. Oh tidak, belum saatnya aku melepas dia. Aku sendiri belum melepas pakaianku, akan lebih melelahkan jika pakaianku terkena basah lagi.
Kutaruh Jun di sebuah bak kecil yang belum di isi air. Ia terlihat tidak senang karena tidak menemukan air di bak tersebut.
"Aaah!" Jun berteriak. Aku yang sedang melepas pakaianku langsung terloncat kaget. Ya tuhan, sebegitu cintanyakah kau pada air, hingga meneriaki ayahmu sendiri?
Jun terus mengeluarkan suaranya kencang melengking. Ya ampun, aku harus segera melepas pakaian sialan ini dan buru-buru membawa Jun masuk ke Ofuro bersama-ku sebelum telingaku pecah karena teriakan Jun yang menggema di kamar mandi membuat suara itu lebih kencang.
"Sabarlah, Jun!" Tanpa sadar aku mengucapkan hal itu dengan lantang. Jun langsung terdiam dan segera menangis. Melihat hal itu, rasanya aku yang ingin menangis.
"Iya..Iya, Papamu ini yang salah." Selesai melepaskan pakaian, aku langsung mengangkat Jun yang masih menangis kencang. Aku menggeleng kepalaku. Saat kucoba mendekatkan wajahnya, Jun malah menarik rambutku kencang.
"Aduh! Jun!" Aku menunduk dalam saat Jun terus menarik-narik rambutku dengan kedua tangannya. Ya tuhan, dia balas dendam?
"Baik,baik...Kita masuk ofuro secepatnya, oke?"
Aku langsung memasuki Ofuro dan berusaha melepaskan genggaman tangan Jun di rambutku. Merasakan air hangat yang berada di dalam ofuro, Jun melemahkan tangisannya, berubah menjadi tawa. Aku terus memegangi tubuh Jun yang asik bermain dengan Air.
"Jun, kau ini benar-be..." Belum selesai aku menyelesaikan kalimatku, wajahku sudah tersiram air yang di lemparkan oleh tangan Jun yang asik bermain. Bukan sekali atau dua kali, Jun berkali-kali melayangkan tangannya dalam air hingga semburan air terlempar ke wajahku.
"He-Hentikan...Jun!"
Jun sepertinya kurang mengerti apa yang kukatakan saat itu. Setahuku, bayi umur 8 bulan sudah dapat mengerti arti larangan, tapi kurasa Jun belum mengerti hal ini.
"Jun, papa bilang hentikan!" Seruku sedikit kencang. Untuk kedua kalinya, Jun memandangku kaget dan menangis kembali.
"Ya tuhaaan, kumohon, siapapun bantu aku."
A/N : Author mauu membantu Gaara-sama ngurusin Juun #dilemparjauh#
Haloo semuaa! Lagi-lagi Chapter ini pendek, yah, namanya juga 1 hari 1 chapter D: Maafkan aku, beneran.
Ngomong-ngomong, disini Gaara emosinya tinggi ya :'D Kurasa ada saatnya seorang yang biasanya selalu di 'beri' harus 'memberi' itu frustasi.
Hinata lagi apa ya ... Entahlah. Apa aku harus ceritakan keadaan Hinata juga di Konoha? :D
Dari yang kubaca, umur 8 bulan itu benar-benar mulainya perkembangan bayi dimana mereka mulai bisa mencoba berdiri, bicara 2 suku kata, tahu kata larangan, mengerti kalau orang itu sedang sedih atau marah. Dan Jun umur 8 bulan! Yes, itu sangat pas sekali dengan keadaan ini. lol
So, please review! Review kalian adalah harta berhargaku membuat Aya menjadi semangat nulis fic ini :"( Silahkan komen dan share bareng2 ttg Gaara dan bayi. Diriku masih butuh pengajaran para senpai :D
Untuk kedepannya, mohon bantuannya! semangat Gaara-kun!
