Yoyoyo! Chapter 2 is updated! Semoga para readers tidak terlalu lama menunggu! :D RnR again, i hope you all will like this one!

Ohya, banyak yang bingung dengan genre crime, yak? Saya pikir sih tentang yang pembunuhan-pembunuhan gitu, okedeh saya ganti jadi mystery aja...thanks para reviewers .

The Physicist and The Detective

Disclaimer : oh, ayolah Masashi Kishimoto-sensei! Pinjami aku karakter buatanmu itu sebentar!

Story By : Hasegawa Nanaho

Pairing : InsyaTuhan(?) SasuHina always!

Warnings : (tidak pernah ada perubahan) Gaje, OOC, OC, lebay, garing, kaku, dan ketidaksempurnaan lainnya sebab saya masih newbie! Don't like don't read yo! No flame permitted! Critics? That's OK!

Happy Reading, minna!

.

.

Chapter 2

"Aku belum pernah melihat wajahmu sebelumnya..." jawabnya santai.

"Ja-jadi, kau..." Hinata hanya pasang tampang baby face sambil menunjuk-nunjuk pria tampan itu.

"Aku Uchiha Sasuke. Sekarang, katakan siapa kau?" tanyanya dingin.

"Sa-saya Hyuga Hinata dari Kepolisian Konoha! Sa-saya mau minta tolong untuk memecahkan suatu kasus..." terang Hinata sambil merogoh tasnya itu, mencari dokumen kejadian, tentunya.

"Maaf, aku sedang tidak tertarik...nah, anak-anak, perhatikan papan tulis, kejadian ini terjadi karena CO2 bergabung dengan H2O sehingga terjadi sebuah relasi..." fisikawan itu dengan cepat menolak permintaan Hinata dan lanjut mencerocos langsung ke pelajaran.

"Sasuke-sensei! To-tolong dengarkan penjelasanku!" Hinata masih memaksa untuk mendapat perhatian Sasuke.

"Oh, tidak bisa, nona. Tolong keluar, Sasuke-sensei, teruskan pelajaran anda..." seorang asisiten Sasuke yang mirip nerd mengusir Hinata.

"Ka-kali ini, seseorang dibunuh dan mayatnya nyusruk ke lantai, sepertinya ia habis digantung..." Hinata masih berusaha menjelaskan walau sudah diusir.

"Bisakah kau berhenti bicara! Kau mengganggu pelajaran Sasuke-sensei!" asisten Sasuke hanya bisa mengomeli Hinata.

"A-aku tidak bicara kepadamu...Ohya! ma-mayatnya terperosok dengan kedalaman 30 cm!" Hinata kembali melanjutkan ocehannya.

Ctak! Tanpa sadar, Sasuke mematahkan kapur yang dia gunakan untuk menulis.

"Prinsip Energi potensial, huh?" ia menoleh kecil ke Hinata.

"A-apa? Energi po-potensial?"

.

.

.

The Next Day~

"La-lalu...ke-kenapa kau ikut aku ke TKP?" tanya Hinata gugup.

'Pria ini benar-benar dingin dan aneh...' batin Hinata sweatdropped.

"Bukannya kau yang meminta bantuanku?" balas Sasuke dengan dingin.

"I-iya sih..."

"Kalau begitu diamlah..." perintah Sasuke membuat Hinata tersentak.

'Huuuh! Seenaknya saja dia!' Hinata hanya bisa menggerutu dalam hati.

"Bisa tolong bacakan deskripsi kasusnya?" pinta Sasuke masih dalam nada dingin.

"Ta-tadi kau menyuruhku diam, ka,-"

"Tidak ada kasus yang terpecahkan dengan petunjuk yang sangat sedikit..." balas Sasuke memotong omelan Hinata sambil mengenakan kacamatanya.

'Benar-benar Cold Weirdo' Man...' Hinata hanya bisa mengomel di dalam hati sambil membuka buku agenda kasusnya.

"Ba-baik, ka-kasus terjadi pukul 07.00 PM kemarin, ditemukan bekas jeratan tali di leher korban, dan tali itu menggantung di plafon atap rumahnya. Pe-perut korban terkoyak dengan semacam pisau, dan terdapat lilin 50-60 cm di belakangnya..." Hinata menghela nafas sebentar.

"...Korban terperosok di kedalaman 30 cm lantai kayu rumahnya. Ha-hanya itu yang bisa kami selidiki..." Hinata menutup agenda kasusnya.

"Hanya itu? Sungguh lucu." Balas Sasuke dingin.

"Ber-berhentilah bercanda, sensei..."

"Lalu? Kau menganggap kasus ini kasus apa?" tanya Sasuke masih dengan nada cuek.

"Em...bu-bunuh diri, mungkin?" balas Hinata takut.

"Siapa saja tersangkanya?" tanya Sasuke lagi.

"Ter-tersangka ada 3 orang, yang pertama Sabaku No Temari, tetangga sebelah. Lalu, Hyuga Neji, pacar Tenten se-sekaligus ka-kakakku,-"

"Kakakmu menjadi tersangka? Sungguh aneh..." potong Sasuke begitu mendengar kata 'kakakku'.

"...Ja-jangan memutuskan pembicaraan! La-lalu yang terakhir adalah Haruno Sakura, sahabat karib Tenten." Hinata menyudahi penjelasannya.

"Kenapa keluarga tidak ada yang menjadi tersangka?"

"I-itu, keluarga Tenten sedang ke luar kota karena ada acara, sedangkan Tenten disuruh jaga rumah. Be-begitulah penjelasan mereka..." jelas Hinata.

"Hm, lalu kau menganggap ini bunuh diri?" Sasuke membetulkan posisi kacamatanya.

"Bu-bukan Cuma aku, semua petugas kepolisian menganggap ini kasus bunuh diri. Ta-tadinya aku menganggap ini pembunuhan, namun sepertinya tidak..." jelas Hinata dengan terengah-engah.

"Hyuga Neji sudah diselidiki?" tanya Sasuke lagi.

"Su-sudah! A-aku sudah menanyakannya, pukul 05.30 PM, mereka berdua baru pulang dari kencan..." jelas Hinata lagi.

"Tetangga sebelah?"

"Te-Temari-san hanya me-mengantarkan sebuah majalah remaja pa-pada pukul 03.00 PM!"

'Benar-benar Cold Weirdo' Man, banyak tanya...' batin Hinata sambil geleng-geleng kepala.

"Hm..." Sasuke hanya bergumam kecil, lalu mengambil sebuah album foto di rumah Tenten.

"He-hei! Ja-jangan sembarangan di rumah orang!" tegur Hinata.

"Bagaimana dengan Haruno Sakura?" tanya Sasuke lagi.

"I-iya, di-dia teman lama Tenten,-"

"Aku ingin ke rumahnya..." pinta Sasuke memutuskan pembicaraan Hinata.

'Whats?' Hinata kaget dalam hati.

"Antar aku, cepat!" Sasuke memerintah Hinata.

"Ugh, ba-baik!" Hinata langsung menyalakan mesin mobil.

.

.

Sakura's Home.

"Konnichiwa, Sakura-san?" Hinata memanggil Sakura.

"Ya?" . "Oh, kau polisi yang kemarin?" Sakura memandang orang di sebelah Hinata, Sasuke.

"O-oh, i-ini Sasuke-sensei, beliau membantu saya dalam penyelidikan-"

"Bukannya itu kasus bunuh diri?" Sakura menyela pembicaraan Hinata.

"Bukan, itu bukan bunuh diri." Sasuke angkat bicara.

"Sasuke-sensei! Ma-maaf, ia memang begitu..." terang Hinata.

"Tidak apa, masuklah..." Sakura mempersilahkan Hinata dan Sasuke masuk ke dalam rumah megahnya.

"Kau orang yang terakhir di temui Tenten, eh?" Sasuke mulai menyerocos.

"Er.. iya, aku ke rumahnya untuk mengambil kue tart yang kutitipkan padanya..." jelas Sakura gugup.

"Oh... pukul berapa itu, nona?" Sasuke bertanya lagi.

"Pukul 05.30 PM...ia juga baru pulang sehabis jalan dengan pacarnya..." jelas Sakura.

"Kau pulang pukul berapa?" tanya Sasuke lagi.

"Pukul 06.30 PM, Tenten mengajakku bicara dan makan malam. Barulah setelahnya aku pulang..." jelas Sakura.

"Ho, terima kasih infonya, kami permisi..." Sasuke langsung ojigi lalu pergi keluar dari rumah Sakura.

"Sa-Sasuke-sensei! Ma-maaf, kami permisi..." Hinata menyusul Sasuke.

Sakura hanya cengok melihat pasangan detektif itu.

.

.

"Sa-Sasuke-sensei apa-apaan sih? Be-berhentilah bermain-main!" Hinata langsung mengomeli Sasuke, tapi hanya dianggap angin oleh Sasuke.

"Hn." Semua omelan panjang Hinata hanya di balas dengan gumaman dua kata. Sasuke langsung menoleh ke Hinata.

"A-apa?" Hinata bertanya dengan kesal.

"Perut korban dikoyak dengan pisau, eh? Pisau darimana itu?" Sasuke langsung bertanya, mengabaikan omelan Hinata.

"Ugh! Pi-pisau dari rumah korban!" Hinata sudah ogah-ogahan menjelaskan hal ini pada Sasuke.

"Berapa berat badan korban?"

"Li-lima puluh kilogram!"

"Berapa tinggi korban?"

"Se-seratus enam puluh lima cm!"

"Berapa tinggi rumah korban?" tanyanya lagi.

"Li-lima meter!" Hinata menjelaskan sambil bersungut-sungut. Kesal, tentunya.

"Berapa tinggi mayat dari lantai?" pertanyaan Sasuke membuat wajah Hinata memerah.

"Empat meter!" Hinata menjawab dengan marah, tidak ada lagi aksen gagap di kalimat ini.

"Aa...Sou ka!" Sasuke tersadar akan sesuatu dan melihat ke sekitarnya.

Pandangan mata Sasuke menangkap sebuah tembok semen dan pohon yang berdaun di sebelahnya. Langsung saja, ia ambil beberapa helai daun yang masih basah itu dan menggoreskannya pada dinding semen itu. Membuat dinding yang tadinya abu-abu itu menjadi bercampur warna hijau redup.

"Sa-Sasuke-sensei! I-inikan rumah orang!" imbauan Hinata di abaikan Sasuke, Sasuke terus-menerus menuliskan berbagai macam hitungan fisika, serta rumus-rumus yang Hinata tidak mengerti.

'Tinggi rumah 5 meter, tinggi mayat 4 meter, berat korban 50 kg, tinggi korban 165 cm, gravitasi 10 N/m kuadrat...' yang ada dipikiran Sasuke hanya hitungan fisika itu saja.

"Ho, begitukah?" selesai menulis, Sasuke mengelus-ngelus dagunya.

"A-ano, apakah kau mengerti sesuatu? S-sensei?" Hinata mencoba menanyakan pada Sasuke.

"Tentu, ke Laboratoriumku besok..." setelah mengucapkan hal itu, Sasuke berjalan pulang.

"Cold Weirdo' Mannn..." Hinata hanya bisa sweatdropped melihat Sasuke yang berjalan menjauh. Ia menjelaskan sebegitu panjang dan hanya ditanggapi sepat dua patah kata saja oleh Sasuke. Tapi ia harus bersabar, nampaknya penyelidikan akan selesai besok, kan?

.

.

.

To Be Continued~

Sudah jelaskah siapa pelakunya? Haiyah, saya sudah kehabisan ide untuk menyembunyikan pelakunya~ tapi, tolong jangan diberi tahu, yak?

Saya memang gak betah bikin fic panjang-panjang, chapter depan mungkin tamatnya~

Review plisss, kritik boleh, flame? Jangan yak?

Arigatou Gozaimasu!