Title : Fragile

Disclaimer : FF Origin by me, San. Cast origin by themselves

Cast : Kim Jaejoong

Jung Yunho

Kim Junsu

Park Yoochun

Shim Changmin

Pairing : Yunho x Jaejoong (YunJae)

Rate : T, a bit M

Warning : Slash/Yaoi/Boy x Boy. It's only my own imagination, don't take it for real.

A/N : Gomen, udah mau ½ tahun ya? TTATT Maafkan San yang tenggelam dalam kesibukan IRL mendadak (San sakit lama sih) Sekarang sudah sembuh A Tapi tetep ga bisa rutin bikinnya.

Previous Chapter...

"Kim—Hero—Jaejoong dikabarkan pingsan kemarin malam usai pemotretan majalah. Cjes Ent angkat bicara pagi ini, mengatakan kalau Jaejoong sedang dalam kondisi tidak sehat dan akan rehat untuk sementara waktu. Saat ini kabanya Jaejoong masih dirawat di rumah sakit—"

"Kumohon Hyung, selesaikan... Selesaikan penderitaan kalian berdua."

"Beritahu aku dimana alamat Jaejoong."

.::Fragile::.

Mobil itu menderu pelan sebelum akhirnya benar-benar berhenti di pinggir jalan. Dengan kabut tebal salju menggantung siap jatuh di permukaan langit, seluruh radio memancarkan perkiraan cuaca yang menyarankan agar tetap di rumah dan tidak berpergian. Badai diperkirakan akan menerjang Seoul dan sekitarnya. Indikasi jelas dari betapa hitamnya langit Seoul hari ini. Angin menerpa kencang, membuat suara tamparan kasar pada dinding kaca mobilnya sedangkan sosok itu terdiam.

Pecundang...

Ketiga kalinya dia menghantamkan kepala pada sandaran kursi di belakangnya. Keberanian itu ada—tadinya—sebelum lenyap menjadi rasa putus asa yang memisahkan mereka berdua dua tahun belakangan. Seakan keberanian yang dibentakkan Changmin ikut terbang terbawa angin. Apartemen itu seharusnya tidak jauh lagi tapi semakin banyak lampu lalu lintas yang dilewatinya semakin menjadi rasa takut itu. Rasa takut untuk menemui Jaejoong.

Menghela nafas panjang—yang berubah menjadi kabut buram pada kacanya—dalam batinnya pun Yunho bertanya-tanya kenapa dia menjadi seperti ini. Rasa marah itu sudah lama padam dan hilang dari dirinya. Bahkan pria berekpresi keras itu telah mencoba membuat dirinya mengerti mengapa Jaejoong memilih pergi. Dia tahu itu bukan pilihan egois, bukan sekedar ingin dan tak ingin. Tapi toh ego seorang Jung Yunho tetap membuat jemari itu tak pernah membalas setiap pesan dari Boo-Jae nya, menolak panggilan. Sosok itu tahu bahwa Kim Jaejoong masih mencintainya, sama besar dengan bagaimana mereka dulu mencintai. Dan egonya mungkin hanya ingin membuat Jaejoong menderita sepertinya. Membuat Jaejoong selalu memikirkannya, tidak pernah melupakannya.

Tidak perlu dikatakan, Yunho sudah tahu. Betapa tidak dewasa dia.

Diputarnya kunci mobil, menstarter mobil dan mengincak pedal gasnya. Tidak, dia tidak boleh lari lagi. Dia tidak boleh membuat Jaejoong terluka lebih dalam lagi.

.::::.

Satu kali pintu itu diketok dan hanya ada hening. Lalu diketoknya lagi lebih keras dan tetap tidak ada respon sama sekali. Pabo! Batinnya pada diri sendiri yang akhirnya memaksakan diri memencet bel yang terpasang rapi di samping pintu. Ujung sepatunya mengetuk permukaan lantai yang dibalut karpet merah tua dengan gelisah. Menyakukan kedua tangannya dalam jaket hitam sekalipun koridor apartemen cukup hangat.

Sekali lagi bel dipencetnya dengan hati-hati. Dia akan jujur jika ada yang bertanya apakah dia gelisah—gugup. Jantungnya berdegup kencang dan kulitnya terasa dingin-pucat. Sebagian dari dirinya ingin segera merefleksikan wajah manis itu dalam maniknya, ingin menghirup aromanya, merasakan hangat tubuhnya daan sisanya ingin lari dari rasa malu.

"Iya...iya Junsu, tunggu seben—" Suara yang begitu familiar dalam inderanya terdengar samar dan semakin mendekat. Diiringi langkah derap kaki dan suara roda yang bergulir tergeret oleh gerak si pemilik kaki. Suara kunci yang dibuka dan kenop pintu yang dibuka mengiringi momen luar biasa itu. Momen saat suara itu tercekat dengan manik melebar bulat ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintu apartemennya.

DUG.

Itu reflek. Saat tangannya justru malah menutup pintu kembali—untungnya tidak dibanting. Dengan nafas tersengal kaget, nyaris terkena serangan jantung rasa. Jaejoong bersandar pada pintunya, tertawa ringan pada dirinya. Dia pasti berhalusinasi kan? Tidak mungkin kan seorang Jung Yunho berdiri di depan pintu apartemennya? Apa? Yunho? Y-yunnie?

Suara derit pintu dibuka amat pelan menjadi pengiring kembali. Dengan rasa takut tapi jelas penasaran melongokkan kepalanya dari belakang pintu mengintip keluar. Rasa itu jelas ada, harapan bahwa itu memang benar-benar Yunho. Tapi otak sehatnya justru berharap bahwa sosok itu hanya halusinasinya saja, karena jika bukan dia tidak tahu harus berbuat apa.

Dan memang bukan.

Keadaannya sama-sama bisu, canggung, gugup dan membatu. Pintu itu hanya terbuka setengah karena Kim Jaejoong sudah terlanjur membeku di tempatnya, menatap hingga maniknya benar-benar bulat pada sosok tinggi di depannya. Dia Yunho juga tidak jauh berbeda. Untuk dua tahun ini, wajah masing-masing hanya terefleksi secara dua dimensi saja—entah dari media, entah dari alam mimpi.

"Jaejoongie..." dia tidak bisa lagi menggunakan akalnya—logikanya. Ketika bibirnya menyebut nama Jaejoong itu otomatis saja, insting. Dan sama adanya dengan Jaejoong mendongakkan wajahnya pada Yunho dan tersenyum kecil. "Yunnie..."

Mereka memang telah dua tahun tidak bertemu, bercakap terlebih bercumbu. Tapi tidak ada yang pernah bisa mengatakan kalau selama dua tahun itu hati mereka telah putus. Sekalipun benang merah yang menyatukan mereka telah ditarik ulur, tali itu tidak akan pernah putus. Sebuah fakta yang baru saja mereka berdua sadari saat manik hitam mereka saling bertemu, bertatap dan membaca apa yang ada di sana.

Jaejoong berjalan lambat di belakang Yunho, memegang erat tiang infusnya. Dia harus diinfus selama beberapa hari ke depan, tidak boleh tidak. Sedangkan Jaejoong terlalu keras kepala untuk mau bedrest di rumah sakit, maka mau tak mau untuk beberapa hari kedepan Jaejoong harus hidup bersama tiang infusnya.

"Kau.. mau minum apa?" Menggigit bibirnya, tanda bahwa dia gelisah. Sedangkan jemarinya bermain dengan keliman bajunya. Menunduk pada lantai—tak berani memandang wajah Yunho.

"Tidak perlu," sedangkan kondisi Yunho juga tidak jauh berbeda. Walau bagaimanapun Yunho lah yang datang kemari. Yang dapat dikata telah menyiapkan mental lebih dulu. "Tidak perlu repot-repot."

Tidak ada yang bisa ada setelahnya kecuali hening. Saat dengan hati-hati Jaejoong mendudukkan dirinya di bangku paling ujung dari Yunho. Situasi ini bukan kondisi yang menyenangkan. Atmosfer keduanya terlalu canggung untuk dapat memecahkan sunyi yang memenuhi ruangan. Sekalipun petir menyambar-nyambar di luar sana. Kedua pasang telinga itu seakan tidak dapat mendengar apa-apa.

Delapan menit lewat penuh diam sebelum dering handphone Jaejoong memecah suasana. Membuat pemilik wajah rupawan itu entah mengapa menghela nafas lega. Setidaknya ada sesuatu yang bisa membuatnya keluar dari posisi menunduk dan diam. Dilihatnya layar, bukan nomor asing. Yoochun.

"Ne? Ada apa Yoochun-ah?"

"Mian Hyung, kami tidak bisa pulang hari ini—" suara gemeresak terdengar melatari suara Yoochun yang timbul tenggelam. Terkalahkan oleh suara petir yang menyambar serta noise pada saluran telepon mereka. Hanya satu dua kata yang bisa Jaejoong dengar sebelum telepon benar-benar putus. Badai dan terjebak.

"Junsu?" Tanya Yunho reflek setelah Jaejoong mensakukan kembali handphonenya. Bersama Jaejoong selalu membuat insting sosok bertubuh tinggi besar itu bekerja lebih baik ketimbang logika. Memori bertahun-tahun yang dibangun bersama tak akan bisa terhapus semudah itu dalam waktu dua tahun. Dimana nama satu sama lain terasa begitu akrab dan nyaman, tidak seperti kondisi yang memaksa seperti sekarang.

"Bukan," Jaejoong menggeleng sekali. "Yoochunnie, katanya terjebak badai tidak bisa pulang."

"Oh..."

Kembali hening, hampir jika sang leader tidak menarik nafas panjang—benar-benar panjang—dan berjalan mendekatkan diri pada belahan jiwanya. Duduk di sampingnya dan merasakan wangi familiar yang menguar dari kekasihnya. Wajah itu datar—sama seperti sebelumnya—pada detik pertama sebelum seorang Jung Yunho tak tahan lagi untuk memakai topengnya. Saat wajah itu penuh dengan ekspresi yang sempat terhapuskan. Saat Yunho memeluk Jaejoong erat, melingkarkan tangannya pada tubuh itu dan menghapus jarak yang tersisa. Meminta hangat tubuh Jaejoong yang begitu dirindukannya.

"Apakah sakit?" bisiknya lirih pada telinga Jaejoong.

"Y-yunnie?"

"Apakah sakit, Boo?"

"..." Butuh satu detik lagi untuk Jaejoong hingga mengerti apa yang Yunho maksud. Perlahan disandarkannya kepala pada dada bidang itu. Merasakan tekstur yang begitu dia rindu. "Ne, appo."

"Mianhe.."

Dia tahu yang Yunho tanyakan bukanlah tentang tubuhnya hari ini. Tentang pingsannya—yang kemungkinan besar karena hal itulah membawa pria yang begitu dirindukannya kemari. Manik hitam legam milik Yunho yang selalu bermakna dalam menatapnya dengan ekspresi sarat kesedihan, terlalu banyak hingga sulit dimengerti olehnya. Jaejoong tidak tahu apakah Yunho telah memaafkannya, dia tak sanggup melihat ke dalam mata legam itu. Lagian lengan Yunho yang melingkar di tubuhnya cukup membuat Jaejoong kehilangan logika—tidak dapat berpikir apa-apa—dia terlalu merindukan kehangatan untuk bisa menginterupsinya dengan apapun.

"Mian," bisiknya pelan berharap Yunho dapat mendengarnya.

Yunho menegakkan wajahnya sedikit, mencoba melihat wajah kekasihnya yang sekarang tersembunyi di dadanya, "Untuk?"

Jaejoong menggigit bibir dalamnya sejenak, menarik nafas, "Ya... semuanya," ucapnya pelan. Lidahnya kelu, "Kau tahu... telah meninggalkanmu."

Tidak ada suara apapun dari Yunho selain hening yang tidak mengenakkan. Sedangkan Jaejoong sendiri terlalu takut untuk mendongak melihat wajah Sang Leader. Apakah dia telah membuat Yunho marah? Batinnya gelisah menunggu pecahnya keheningan. Hanya detak jantung Yunho yang mendegup sama kencangnya dengan miliknya yang dapat dijadikannya pengalih perhatian.

Terlalu tiba-tiba—atau seperti biasa dia terbawa ke dalam alamnya sendiri dalam lamunan—saat Yunho

memisahkan tubuhnya dari pelukan itu. Dia terkejut, sedetik di awal sebelum Yunho menangkupkan tangannya pada wajah lembut Jaejoong dan menghapus jarak. Menempelkan bibirnya yang dingin pada milik Jaejoong, bergetar dan mendesah pelan di sana. Dia bukan orang yang pintar berkata-kata, setelah bergulat dengan pikirannya untuk mencari kata yang paling tepat. Yang bisa dia lakukan hanyalah mencium Jaejoong dengan segala perasaan yang sekarang membanjirinya. Melumat sisi bawah bibir Jaejoong yang perlahan terbuka, menyambut miliknya. Dalam pelukannya yang kembali mengerat dia bisa merasakan Jaejoong menggeliat. Satu tangan pemuda yang secara bulan kelahiran lebih tua darinya itu merambat naik ke tengkuk, membuat ciuman itu lebih dalam. Sedangkan saat reflek membawa kedua tangannya untuk meniadakan jarak yang tersisa antara dia dan Yunho, Jaejoong baru menyadari tangannya yang diinfus.

Betapa cepatnya dia lupa kalau dia sedang sakit.

"Kau... bisa... tertular," ucapnya lirih karena terengah-engah, sedikit terkejut betapa cepatnya dia kehabisan nafas. Faktor sakit atau karena telah lama nafasnya tak dibuat habis oleh sang kekasih, Jaejoong tidak tahu. Pipi Yunho yang menempel di pipinya, menjaga jarak tetap dekat membuatnya tahu Yunho belum selesai.

"Aku tidak keberatan," nada nakal yang dulu sering membuatnya merona merah masih dapat membuatnya tersipu malu. Jemari Yunho membelai pipinya lembut sebelum kembali melahap bibir manis itu. Mabuk oleh kehadiran Jaejoong yang selalu melenyapkan logikanya dan menggantikan insting untuk bekerja. Sulit—sangat sulit—untuk dapat menahankan dirinya jika bersama Jaejoong. Terlebih dua tahun aroma hangat yang menguar dari sosok itu tak meracuni dirinya, sudah dua tahun hasratnya terkubur dalam.

Dan tentu Jaejoong tidak keberatan, tidak akan pernah. Ciuman itu sama menghayutkannya bagi Jaejoong hingga dapat membuatnya lupa akan apapun. Membuatnya tidak bisa berpikir dan hanya mendesah pelan dalam tawanan Yunho. Memorinya merekam lebih lambat dari biasanya, tak tahu kapan tubuhnya sudah berbaring di sofa dan kapan Yunho telah meninggalkan bibirnya. Kecupan-kecupan ringan namun menggoda menyebar di sepanjang sisi wajahnya hingga turun ke leher. Sedangkan tangan Yunho ikut merambah turun, menyibakkan kerah bajunya dan memberikan tempat bagi Yunho untuk menodai lehernya dengan bekas merah.

"Aah... Yunnie," Jaejoong mengerang pelan, mencengkram lembut rambut hitam Yunho. Sedangkan sang kekasih bergerak lambat menggoda setiap sisi sensitif leher Jaejoong yang terbuka, membuat sosok di bawahnya itu berulang kali bergetar. Nafasnya menyapu sisi leher Jaejoong, membuat sang pemilik kembali mendesah ringan dan tercekat saat serangan Yunho pada lehernya masih dapat membuat terkejut sekalipun dia telah menyiapkan diri.

"Sst Boo... buka matamu," alunan lembut suara Yunho membuatnya membuka mata. Melihat dirinya terefleksi pada sepasang mata hitam Yunho yang kini begitu dekat. Ujung jemari Yunho kini menempel pada bibirnya, "Jangan digigit," ucapnya sembari menyapukan jemari pada bibir Jaejoong. Pemuda berwajah manis itu mengerjap cepat, arus yang dibawa Yunho terlalu cepat sehingga tak dapat dia ingat. Dia tak sadar bahwa yang dilakukannya sedari tadi hanyalah menggigit bibir dan menutup mata—juga berulang kali mendesah, tentu saja.

Dan Yunho menatapnya dalam, seolah mencoba mengetahui apa yang sedang dipikirkan Boo-Jaenya. Sedikit rasa gugup dan ragu terpecik jelas pada wajah Yunho, membuat Jaejoong juga bertanya-tanya apa yang dipikirkan Yunho. "Boo..." bisik Yunho lirih, ragu dalam suaranya,"... boleh?"

Butuh beberapa detik berlalu hingga Jaejoong paham akan pertanyaan singkat Yunho. Membuatnya sekejap tersipu hingga merah merabai pipinya. Dipalingkannya wajah karena malu mengangguk pelan dalam diamnya. Kenapa Yunho harus bertanya? Sungutnya dalam hati entah kenapa kesal menjadi malu. Tidakkah Yunho tahu dia menginginkan sama seperti Yunho menginginkannya.

"... tapi jangan di sofa."

Tawa ringan Yunho meluncuru pelan, sedikit mengandung ejekan. Dengan enteng saja saat Yunho menggendongnya, namun sekejap terlihat tak senang. "Beratmu banyak turun," ucapnya muram namun beranjak ke kamar yang di arahkan oleh Jaejoong dengan jarinya. Merebahkannya di kasur dengan lembut dan menatap wajah itu sejenak. Senyum perlahan-lahan mengembang di wajahnya.

"Aku harus memanjakanmu, iya kan? Karena kau sedang sakit," Jaejoong tidak tahu sejak kapan Yunho dapat berkata-kata nakal seperti itu. Yunho yang dikenalnya memang seorang penggoda—terutama saat hanya berdua dengannya—tapi kenapa dia menjadi sangat cepat tersipu seperti ini? Gerutunya kesal dalam hati pada diri sendiri. Tapi jelas akan jauh lebih kesal lagi kalau Yunho tidak memanjanya seperti ini.

"Kalau begitu kau harus hati-hati," nada peringatan sekaligus candaan terselip pada suaranya sambil melirik infus yang masih menyambung dengan lengannya. "Sepertinya kau harus bersabar."

"Aku bisa bersabar selama yang dibutuhkan, kok." Senyum mengembang lebar pada wajah Yunho sebelum menghapus jarak yang tersisa.

.::::.

"Ne Hyung, katakan padaku itu darimana?" Junsu terdengar histeris saat menunjuk tanda-tanda merah yang tersebar samar di lehernya, hanya helaian-helaian rambutnya yang mulai panjang kembali saja yang menutupi sekedarnya. Jaejoong hanya mengangkat bahu ringan sambil terus membaca majalah, tidak terlalu menggubris Junsu yang menatapnya ngeri.

"Hyung... kau tidak punya kekasih baru kan?" tanya Yoochun hati-hati, alisnya mengernyit menatap Jaejoong.

Sedangkan Jaejoong hanya tertawa renyah sambil menutup majalahnya. Terkekeh ringan melihat kedua dongsaengnya yang tanpa alasan jelas—baginya—terlihat panik. Menepuk pucuk kepala Junsu sekilas sambil berjalan mengitari mereka dan menuju dapur, mencari minum. "Kalau aku punya kekasih baru, bagus kan?" Nadanya terdengar ceria, yang sejujurnya sengaja dibuat untuk menutupi nada geli pada suaranya.

Junsu membelalakkan matanya dan menghambur ke Jaejoong sembari mendesak lebih lanjut. Yoochun terdiam di tempatnya, mengernyit kan alis dan merasa jengkel karena dia tidak bisa berkata. "Tidak, itu tidak bagus." dan bergumam kembali dalam pikirannya, menakar-nakar kemungkinan kalau itu adalah Yunho.

"Jangan panik seperti itu," senyumnya kembali mengulum. "Anggap saja aku digigit nyamuk yang benar-benar sedang haus." Tawa riang kembali meluncur dari Jaejoong yang berlalu masuk ke kamarnya, mengulum senyum dari semerbak kegembiraan yang menghangatkan perutnya dan membuatnya belum apa-apa sudah rindu lagi.

Sedikit rahasia tidak akan buruk, bukan?

END

Note : well, mengecewakan gak ada NC-nya... San tahu TTATT
mungkinkan San harus bikin NC nya? A Review~