UNSPOKEN TRUTH

Keesokan harinya, Miku dan Gakupo, sahabat dari kecil Miku dan juga teman baru Luka, mengajak Kaito dan Luka untuk berenang dan pergi ke Taman Ria bersama. Kebetulan hari itu hari Sabtu, dan mereka banyak waktu luang.

"Hai! Maaf membuat kalian menunggu!" teriak Kaito sambil melambaikan tangannya pada kedua teman sekelasnya itu. Dari semua, dia yang datang paling terlambat. Tanpa membuang – buang waktu lagi mereka pun langsung berangkat.

Saat melihat Gakupo menggandeng tangan Miku, ada suatu perasaan aneh muncul dalam benak Kaito. Tepatnya secuil perasaan marah dan kesal.

"Ayo, kita berangkat juga, Kaito-kun…" ucapan Luka membuyarkan pikiran Kaito.

"Ah, iya iya~" Kaito pun berjalan bersama Luka. Seusai berenang, mereka pun menghabiskan sisa hari itu di Taman Ria. Hari sudah semakin sore, Luka dan Kaito pun semakin akrab.

"Miku, sebelum pulang, ayo kita naik bianglala!" ajak Gakupo.

"Ah, ayo… Kaito—" ucapan Miku terhenti ketika melihat Kaito dan Luka yang begitu akrab.

"Ah, ya? Aku… disini saja menemani Luka. Ia tidak ingin naik…" ucap Kaito. Miku hanya tersenyum simpul dan mengangguk. Ia pun langsung menarik tangan Gakupo. Kaito pun memandang mereka miris. Tapi Ia sembunyikan ekspresi itu kala Luka mengajaknya bicara. Di biang lala…

"Miku…?" panggil Gakupo. Miku yang termenung pun langsung sadar dari lamunannya.

"Ya?" jawab Miku. Gakupo hanya diam memandangnya. Tatapannya sedih.

"Gakupo…? Ada apa…?" tanya Miku lembut.

"Maafkan aku… Seharusnya aku tidak memaksamu menemaniku hari ini…" ucap Gakupo sambil menunduk.

"Eh? Memang kenapa?" tanya Miku heran.

"Kau… menyukai… Kaito kan…?" Gakupo menatap Miku lekat – lekat. Miku tercengang, bagaimana Gakupo bisa tahu? Hanya Miku seorang yang mengetahui hal itu. Miku terdiam. Matanya menerawang jauh keluar bianglala itu.

"Benar kan…?" tanya Gakupo lagi dengan suara pelan. Miku mengangguk pelan. Sebenarnya hati Miku sangat sakit melihat mereka berdua. Tapi Ia tidak bisa berkata apa – apa. Ia tidak ingin menyakiti Kaito. Miku pun tersenyum simpul.

"Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, niisan…" ucap Miku lirih tanpa menoleh. Ia terus memandang keluar.

"Kau tidak harus menahan dirimu lagi didepanku, Miku… Kalau kau mau menangis, menangis saja…" ucap Gakupo sambil membelai kepala Miku. Miku hanya diam. Ia menangis sejadinya dipelukan Gakupo. Sejak kecil, Gakupo memang sudah seperti malaikat penjaganya. Miku sangat senang bisa bertemu dengan Gakupo hari itu. Perpisahannya dengan Gakupo sewaktu kecil dipanti asuhan mempertemukannya dengan Kaito.

Sesampainya diasrama, Miku langsung mandi, sedangkan Kaito duduk di ruang tamu dan terus tersenyum memikirkan hari itu. Ia tidak percaya bisa menjadi seakrab itu dengan Luka dihari pertama. Selesai mandi, Miku yang melihat Kaito pun langsung melemparkan handuk.

"Kamar mandi sudah kosong tuh, mandi sana.." ucap Miku.

"Ahahaha~ Oke, oke~!" ucap Kaito sambil melangkah ke kamar mandi. Ia pun terus bersiul – siul menyanyikan lagu C'Est La Vie milik Aino Minako, idolanya.

"Kaito…" panggil Miku dari luar kamar mandi.

"Ya?" jawab Kaito.

"Apa… yang kau sukai dari Luka?" tanya Miku iseng.

"Wajahnya! Wajahnya mirip sekali dengan Aino Minako! Ahahaha~ Aku... sangat menyukainya!" seru Kaito dari dalam kamar mandi. Nadanya terdengar sangat senang. Miku pun menunduk. Ia beranjak ke kamarnya dan membanting tubuhnya ke kasur. Tubuh dan mentalnya terkuras habis hari ini. Ia pun tertidur.

"Hei Miku! Minggu besok temani aku pergi ke kota ya! Ada yang ingin aku… Eh?" Kaito pun berhenti bicara saat sosok yang diajaknya bicara sudah tidak ada. Ia pun menuju ke kamar Miku dan melihat Miku sudah tertidur lelap. Ia jadi malu bicara sendiri.

"Ahahaha… bodohnya aku!" ucap Kaito.

"Selamat malam, Miku~" Kaito pun menarik selimut dan menyelimuti Miku. Ia pu kembali ke kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya dan kemudian tidur.

"Miku-chaan~! Ayo banguun~!" ucap Kaito. Ia ingin Miku menemaninya untuk jalan – jalan keliling kota bersama Luka. Ia pun menarik selimut Miku.

"Huh? Heumm… berisik ah, ini Minggu tahu! Aku mau istirahat…!" ucap Miku malas.

"Hah? Ayolaaaah, bangun~! Hari Minggu itu waktunya jalan – jalan! Ayo banguuuun~!" Kaito menarik – narik lengan Miku. Dengan sangat terpaksa, Miku pun bangun. Ia meraba – raba meja mencari kacamatanya. Tapi tak sengaja Ia menjatuhkan nya ke lantai. Sambil terus mencari, Miku memanggil Kaito.

"Kaito… Bisa tolong kau ambilkan kacamataku? Dimana dia?" ucap Miku sambil mengernyitkan dahi, berusaha memfokuskan penglihatannya.

"Ya?" dan PRAKK! Saat Kaito menoleh, Ia tidak sengaja menginjak kacamata Miku sampai terbelah dua.

"Ah… kau menghancurkan kacamataku… lagi…" ucap Miku pelan.

"GAAAH! MAAFKAN AKUU!" Kaito pun langsung mengambil sisa kacamata Miku dan langsung membungkusnya dengan kain.

"Aku ganti ya? Ya?" ucap Kaito panik. Miku pun mengambil sisa kacamatanya dari Kaito.

"Tidak usah. Aku tahu dompetmu sedang tipis, lagipula kalau kau menggunakan uangmu untuk membetulkan kacamataku, kau tidak bisa membeli apa – apa untuk Luka" ucap Miku datar.

"Ah… Aku…" belum sempat Kaito selesai bicara, Luka menelponnya.

"Maaf Miku, aku harus pergi… Maafkan aku karena merusak kacamatamu!" Kaito pun langsung berlalu. Miku hanya mengangguk pelan sambil terus memperhatikan kacamatanya. Ia banting lagi tubuhnya ke kasur dan kembali tidur.

"Dasar Kaito… Mengganggu tidurku saja… Mau kencan jangan ajak aku! Bodoh…" ucap Miku sebelum Ia benar – benar tertidur.

"Miku-chan~ Miku-chan~ Ayo banguun~!" sayup – sayup terdengar lagi suara Kaito ditelinga Miku.

"ah, berisik…" pikir Miku. Ia pun menutup wajahnya dengan bantal supaya suara itu tidak terdengar lagi. Sraaakk! Kaito menarik lagi selimut Miku. Rupanya hari sudah sore saat Miku bangun. Itu pun dengan terpaksa.

"Apa sih? Kau ini mengganggu sekali dari pagi!" bentak Miku. Tapi Kaito tidak menggubrisnya dan malah tersenyum.

"Aku ada kejutan untukmu!" ucap Kaito. Miku pun mendongak. Menatap wajah Kaito.

"Apa?"

"Aku dan Luka sekarang sudah jadian~! Yeeey~!" ucap Kaito setengah berteriak. Ia sangat senang. Miku, dengan wajah datar, berusaha menyembunyikan hatinya yang hancur.

"O-oh… Selamat ya…" ucap Miku pelan. Ia langsung beranjak ke kamar mandi dan membasuh mukanya. Ia kemudian ganti baju dan bersiap untuk pergi.

"Lho? Miku? Mau kemana?" tanya Kaito ketika melihat Miku sudah rapi dan sepertinya hendak pergi..

"Aku mau pergi bertemu Gakupo…" jawab Miku sambil mengenakan sepatu. Ia sama sekali tidak mau menoleh pada Kaito.

"Oh… Ah ya, Miku~! Kenapa kau tidak jadian saja dengan Gakupo~?" tanya Kaito iseng. Tiba – tiba saja Miku terdiam dan menghentikan semua gerakannya. Mereka pun terdiam cukup lama. Tanpa sadar Miku mengepalkan tangannya.

"M-Miku…?" Kaito bertanya pelan, takut apa yang Ia katakan tadi menyinggung Miku.

"Iya…, kau benar juga. Hahahaha… Aku akan mengatakan padanya hari ini. Doakan aku ya. Ittekimasu…" Miku, dengan senyum mirisnya, melangkah keluar. Tanpa menoleh lagi, Miku langsung berlari.