UNSPOKEN TRUTH

Ya Tuhan... Lupa nulis disclaimer di 2 chapter pertama... =A=""

Tulis sekarang deh, nyehehe... Lanjut~!

Disclaimer : VOCALOID never belong to me. They belong to YAMAHA~ *kalo punya aye mah yang ada ntar rancu XDD*

DOK! DOK! DOK!

Miku menggedor pintu rumah Gakupo. Tak lama, Gakupo pun membukakan pintu rumahnya.

"Miku? Ada apa…?" ucap Gakupo saat melihat adik angkatnya. Miku tidak bisa berbicara, napasnya tersenggal – senggal karena berlari. Gakupo pun menyuruh Miku masuk.

"Ini… minum dulu…" Gakupo memberikan segelas susu hangat pada Miku.

"Selama ini aku mengatai Kaito bodoh… Tapi ternyata yang paling bodoh itu aku ya, Gaku-nii…?" ucap Miku sambil mengatur napasnya. Gakupo pun merangkul Miku.

"Oh… sudahlah… Biarkan Kaito. Lagipula selama ini kau sudah bersamanya kan…? Biarkan dia merasa bahagia dengan orang yang dicintainya…" bisik Gakupo lembut. Miku mengangguk pelan. Ia pun tertidur disofa karena kecapekan.

"Miku…" ucap Gakupo. Miku pun membuka matanya perlahan.

"Ayo bangun, sudah hampir jam 8 malam. Kau harus kembali ke asrama sebelum Pak Beouf mengunci gerbangnya…" Gakupo membelai lembut kepala Miku.

"Ah iya…Kau benar…" Miku pun mengambil jaketnya dan bersiap untuk pulang.

"Niisan… boleh aku minta tolong…? Satu hal saja…" ucap Miku sebelum keluar.

"Apa itu?" tanya Gakupo.

"Tolong berbohong dan katakan pada Kaito bahwa kita jadian… terima kasih…" Miku pun berlalu meninggalkan Gakupo dipintu rumahnya.

"Tentu adikku, apapun kulakukan untukmu~" ucap Gakupo pelan. Ia pun tersenyum sedih melihat punggung adiknya.

Sesampainya dirumah, suasananya menjadi sedikit tegang. Miku hanya diam saja, begitu pula dengan Kaito yang fokus pada nintendonya. Tidak biasanya Kaito yang cerewet kini diam seribu bahasa. Tapi akhirnya, Miku buka mulut.

"Oh ya…Gakupo… menerimaku, terima kasih ya sarannya. Kau benar juga. Aku bodoh tidak menyadarinya dari awal…" ucap Miku datar. Miku pun tersenyum.

"Ah iya, sama – sama… Selamat juga ya untukmu…" ucap Kaito sambil terus memperhatikan nintendonya. Kaito masih tidak berani menatap Miku.

Setelah menaruh jaketnya, Miku langsung pergi ke kamarnya, merebahkan tubuhnya dikasur dan memakai selimut.

"Oyasumi…" ucapnya pada Kaito sebelum pergi ke kamar.

"A-ah… oyasumi…" jawab Kaito pelan. Padahal Kaito ingin membicarakan soal kacamata Miku yang Ia rusak. Besok sudah hari Senin, bagaimana Miku bisa belajar jika Ia tidak bisa melihat jelas ke papan tulis…?

Pagi – pagi sekali, tidak biasanya Kaito bangun lebih dulu dari Miku. Ia pun segera cuci muka dan ganti baju. Kemudian Ia membangunkan Miku.

"Hey, Miku~ Ayo bangun! Sudah siang nih! Kau bisa terlambat!" ucap Kaito. Tapi Miku tidak kunjung bangun.

"Kutinggal ya?" Kaito berusaha menggertak Miku agar Ia bangun. Tetapi tidak ada perubahan. Akhirnya, Kaito pun berangkat duluan.

"Masih pagi… Miku tidak akan telat jika Ia bangun 15 menit lagi…" pikir Kaito. Ia ingin segera menemui Luka. Tak lama Ia sampai dikelas dan mengobrol dengan Luka, Miku datang dengan napas tersengal – sengal.

"Ah, Miku! Maaf ya aku tidak membangunkanmu! Aku…" Kaito menghentikan kata – katanya saat Miku hanya melewati dirinya. Bahkan tidak menyapanya. Kaito hanya menatap Miku. Diam.

"Neru, boleh aku duduk didepan? Kacamataku rusak dan aku tidak bisa melihat jelas ke depan dari barisan belakang…" pinta Miku.

"Ah ya, tentu saja…" ucap Neru. Ia pun pindah ke barisan paling belakang dan duduk disamping Kaito.

Kaito merasa tidak enak pada Miku. Setiap pagi, Miku selalu menunggunya sampai Ia bangun, sedangkan Ia? Padahal baru kali ini Miku terlambat bangun. Istirahat, rencananya Kaito akan meminta maaf pada Miku. Tapi ternyata Miku langsung pergi ke kantin saat Kaito hendak menghampirinya.

Akhirnya, Kaito baru bisa menyapa dan berbicara langsung pada Miku saat jam pelajaran berakhir.

"Miku…" panggil Kaito saat menghampiri sahabatnya itu. Miku terus menulis. Ia tidak menoleh pada Kaito. Kaito pun duduk dikursi tepat dihadapan Miku.

"Miku…" panggilnya lagi. Akhirnya Miku menatap Kaito. Tanpa bicara, seakan tatapan Miku mewakilinya mengatakan 'katakan apa yang mau kau katakan'.

"Aku… minta maaf untuk kacamatamu, aku juga minta maaf aku tidak membangunkanmu tadi pagi! Maafkan aku!" ucap Kaito sambil membungkuk. Miku hanya diam menatapnya.

"Kaito…" Kaito langsung mendongak mendengar Miku memanggil dirinya.

"Ya?" mata Kaito berbinar. Berharap Miku mau memaafkannya.

"Kau menghalangi papan tulis. Bisa geser sedikit?" ucap Miku. Kaito tidak jadi semangat. Ia duduk lagi dikursi depan Miku. Semakin menghalangi pandangan Miku pada papan tulis.

"Kaito-kun" ucap Miku kesal. Nada bicaranya menjadi tegas dan terdengar marah.

"Aku minta baik – baik. Tolong, jangan halangi pandanganku. Aku sedang menulis." ucap Miku sambil menatap Kaito tajam.

"Ayolah… Aku minta maaf…" ucap Kaito sambil berdiri. Miku hanya diam. Ia ambil bukunya dan pindah ke meja sebelah. Kebetulan jam pulang sudah lewat daritadi. Jadi hanya ada mereka berdua dikelas. Kaito kembali menarik kursi dan duduk dihadapan Miku. Miku jadi semakin kesal dengan Kaito.

"Miku… Maafkan aku…" ucap Kaito. Miku menggeleng – gelengkan kepalanya dan menatap tajam mata Kaito.

"Kau tahu, kenapa kau tidak meninggalkan saja aku disini sendirian dan pergi dengan kekasih barumu itu? Kau hanya buang – buang waktu disini!" ucap Miku dengan nada sedikit membentak.

Raut wajah Kaito langsung berubah masam.

"Kenapa kau membawa – bawa Luka sih? Hey, aku kan hanya ingin minta maaf!" emosi Kaito jadi sedikit terpancing. Miku langsung menggebrak meja.

"Kalau kau kumaafkan kau akan pergi?" nada suara Miku meninggi. Kaito mengepalkan tangannya. Ia sudah kesal dengan sikap Miku. Tapi berusaha Ia tahan.

"Iya!" ucap Kaito tegas.

"Baiklah, kau sudah kumaafkan. Sekarang pergi dari sini!" nada suara Miku tetap tinggi. Ia menunjuk pintu keluar untuk Kaito. Kaito pun sengaja menabrakkan dirinya ke meja Miku dan berlalu.

"Dengan senang HATI!" ucap Kaito kesal. Miku tidak menoleh padanya. Ia membereskan mejanya dan kembali menulis. Kaito keluar dan membanting pintu.

Miku terduduk kaku dibangkunya. Tangannya tidak kuat lagi menulis. Ia pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menaruhnya diatas meja. Ia sudah lelah terus sembunyi, tapi ada daya...?

Afterword :

Minna... SANKYUU RIPIU-NYAAH! *hug all* Saya akan terus menulis kisah ini... Let's answer everyone kindness :

ReiyKa : Nyuu sankyuu! Iya, memang Kaito itu bodoh... =_=" *ditabok Kaito* hehehe... Tenang saja! Tenang saja! Pasti akan di update! XDD

Nia Kagamine : Sankyuu ripiunya~ :D Iya, nih gimana sih Kaito? Buu... *ditabok Kaito part 2* keep reading! 8DD

Rii-san : Ho-oh ho-oh setuju~ saya juga pas ngetik emosi~ 8D *ditabok Kaito part 3* XDD Sankyuu ripiu-nya~ XDD Ok deh! Ditunggu ya! 8DD

Yuuki Arakawa07 : Uhoooh! Moshi – moshi Yuuki-san~! 8D Sankyuu ripiu-nya! That's keep me alive! XDD Ok deh, pasti di update~! XDD

Pschyoticsurgery aka Nak Peter : Makasiiiiiih~~ XDD Maaf ya alurnya masih rada ngaco, hehehehe... Peace bro... =w=b