UNSPOKEN TRUTH
Disclaimer : VOCALOID never belong to me. They belong to YAMAHA~ *kalo punya aye mah yang ada ntar rancu XDD*
BRAKK! Kaito membanting tasnya ke kasur. Ia sungguh tidak percaya Miku bisa jadi orang yang sangat menyebalkan seperti itu.
"Kenapa sih Miku! Dasar…!" Kaito pun pergi mandi. Ia ingin mendinginkan kepalanya. Selesai mandi, Ia langsung menelepon Luka. Saat sedang asyik bicara, Miku pulang. Wajahnya pucat. Kaito pun langsung memutuskan teleponnya. Ia berusaha terlihat sibuk dan mengambil nintendonya.
"Kenapa kau memutuskan teleponnya? Aku mengganggu ya?" ucap Miku tanpa menoleh sedikit pun pada Kaito. Miku langsung pergi ke kamar mandi. Kaito, meskipun kesal, khawatir melihat wajah Miku yang pucat.
Saat Miku sudah memakai selimutnya, Kaito pun mematikan lampunya. Hanya gelap dan diam mengisi ruangan itu. Miku tidak bisa tidur. Ia hanya menatap langit – langit kamarnya yang kosong. Begitu pula dengan Kaito.
Ada perasaan tidak enak yang menyelimuti mereka karena pertengkaran tadi. Tapi keduanya sama – sama tidak mau mengalah dan minta maaf. Tak lama kemudian, Miku datang ke kamar Kaito dan angkat bicara.
"Kaito…" masih dalam selimutnya, Miku berkata.
"Maafkan aku…" Kaito yang mendengarnya hanya diam saja. Ia ingin bicara, namun hatinya masih kesal. Lama mereka terdiam, belum sempat Kaito bicara, Miku menyeletuk.
"Dasar egois…"
"Apa kau bilang?" Kaito pun terpancing juga emosinya. Ia langsung berdiri dan menghampiri Miku.
"Katakan sekali lagi!" ucap Kaito kesal.
"E-G-O-I-S! Haruskah aku mengejanya untuk orang BODOH SEPERTIMU?" bentak Miku.
"Aku sudah cukup sabar menghadapimu, Miku! Sudah CUKUP! Kau ini kenapa sih? Tidak suka aku bersama dengan Lu-?" belum sempat Kaito selesai bicara sebuah tamparan melayang ke pipinya.
"Kau orang yang paling tidak punya perasaan yang pernah aku temui!" bentak Miku sambil menunjuk muka Kaito. Ia pun keluar kamar dan membanting pintunya.
Kaito masih meringis kesakitan. Gusinya berdarah akibat tamparan tadi. Kepalanya pusing. Meskipun kesal, Kaito memutuskan untuk menyusul Miku karena sekarang sudah hampir tengah malam.
"Kaito bodoh…" ucap Miku lirih. Matanya basah. Entah karena tangannya atau hatinya yang terasa sakit.
"Miku, Kau dimana? AAARGH! Sial!" Kaito menendang kaleng didekatnya. Ia sungguh sangat kesal dengan Miku hari itu. Kaito sudah mencarinya kemana – mana tapi Ia tidak menemukan Miku. Ia pun duduk dibawah sebuah pohon besar ditaman sekolah untuk beristirahat sejenak.
Saat Ia mendongak, Ia baru sadar kalo pohon itu adalah tempat dimana Ia dan Miku biasa bermain saat mereka masih kecil.
"Pohon Oak…" pikirnya. Kaito pun menyandarkan tubuhnya dipohon itu dan memejamkan matanya. Mengingat semua yang pernah Ia lalui bersama Miku disana. Kaito tersenyum, amarahnya mereda dan tak lama kemudian Ia pun tertidur dan bermimpi.
"Kaito, ayo turun! Aku takut sendirian dibawah…" panggil Miku.
"Ahahaha~ Miku~! Ayo naik~!" ajak Kaito. Akhirnya Miku pun berusaha mencapai Kaito yang sudah berada didahan pohon Oak besar itu.
"Sini~!" ucap Kaito. Saat Miku hendak sampai, Kaito pun menarik tangan Miku supaya Miku bisa sampai ke tempatnya. Tapi tiba – tiba tangan Kaito terlepas dari genggaman Miku.
"KAITO!" jerit Miku. Tubuh mungil Miku terhempas keras ke tanah, dan darah mengalir dari kepalanya.
"MIKUUU!" Kaito berteriak dan langsung terbangun dari tidurnya. Ia benar – benar kaget karena mimpi itu. Saat melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Kaito pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Sampai dikamar, Ia langsung tidur karena capek, meskipun pikirannya tak bisa lepas dari mimpi itu…
"Kaito, terima kasih ya~! Kau sudah mau menemaniku berbelanja!" ucap Luka.
"Anything for my girl~" ucap Kaito. Mereka pun tertawa mendengarnya. Gedubrak! Tiba – tiba saja Luka terjatuh.
"Luka, kau tidak apa – apa?" Kaito pun membantu Luka berdiri.
"Ah, iya… tidak apa – apa… Rupanya minus kacamataku memang harus ditambah…" ucap Luka sambil membersihkan roknya.
"Matamu minus berapa?" tanya Kaito iseng.
"Sebenarnya sih… Sudah silinder 2… hehehe…" Luka pun tersenyum dan membenarkan kacamatanya.
"Sama seperti Miku…" pikir Kaito.
Saat sedang berjalan – jalan, Luka meminta Kaito untuk mampir ke toko kacamata. Luka pun memilih kacamata yang sama persis dengan milik Miku yang Kaito patahkan pagi ini.
"Bagaimana? Bagus tidak?" tanya Luka saat Ia mengenakan kacamata itu.
"Bagus kok, bagus… hehehehe…" ucap Kaito sambil tersenyum. Luka pun membalas senyumnya. Kemudian Ia menaruh kembali kacamata itu.
"Lho? Kenapa? Kau tidak jadi beli? Katamu minus lensanya harus ditambah?" tanya Kaito.
"Tidak ah, aku ingin menabung dulu untuk membelinya. Walaupun aku sangat menginginkan kacamata berbingkai coklat itu… tapi sudahlah~ Aku masih bisa beli di sekitar rumah baruku nanti~ Ayo jalan lagi~!" ucap Luka sambil menggandeng lengan Kaito.
Setelah mengantar Luka sampai ke gerbang asrama putri, Kaito kembali ke kota. Ia pun membeli kacamata berbingkai coklat itu, sebagai hadiah perpisahan untuk Luka. Dan kemudian barulah Ia kembali ke asrama dan menemui Miku.
Setibanya di asrama, Ia melihat Miku menangis. Kaito bingung dan langsung bertanya pada Miku.
"Miku… ada apa?" saat hendak menyentuhnya, tiba – tiba saja Miku menghilang. Kaito pun tercengang kaget.
"MIKU…?"
Jam weker milik Kaito sudah berbunyi daritadi, tapi pemiliknya belum juga bangun. Saat mendengar handphonenya berbunyi, barulah Kaito bangun. Ia membaca pesan singkat dari Luka.
"Pagi Kaito-kun~" Kaito merasa sedikit kaget dengan pesan singkat itu. Tapi Ia lebih kaget lagi ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 kurang 15.
"Miku! Apa dia dendam sekali padaku sampai – sampai Ia tidak membangunkanku hingga setelat ini?" Awas saja kalau kulihat dia dikelas nanti!" gerutu Kaito saat mengganti bajunya.
"SHION! Sudah berapa kali kau terlambat minggu ini!" seru pak Kiyoteru saat melihat Kaito masuk ke kelas.
"MAAF PAK!" balas Kaito. Setelah duduk, Kaito pun menoleh ke sampingnya. Ia heran. Miku, maupun mejanya, tidak ada ditempat.
"Kemana Miku?" pikir Kaito. Saat jam istirahat, Luka menghampiri meja Kaito.
"Hai Kaito~" ucap Luka.
"Hai…" Kaito Nampak tidak bersemangat. Ia masih heran, kemana Miku? dan Ia pun masih terus memikirkan mimpinya semalam. Ketika Ia melihat Miku menangis dan menghilang dihadapannya.
"Kaito… kau kenapa…?" tanya Luka cemas.
"Aku… Ah… Aku tidak apa – apa Luka. Aku hanya sedih mengingat kau akan pergi besok…" ucap Kaito. Ia lupa menanyakan Miku pada Luka. Ia pun ingat dengan kacamata berbingkai coklat yang ingin Ia berikan pada Luka.
"Oh ya, sepulang sekolah nanti, temui aku di stasiun ya, aku ingin mengajakmu pergi…" ucap Kaito lagi pada Luka.
"Ehm… baiklah, tapi kau tidak boleh terlambat lagi ya…" ucap Luka sambil tersenyum. Saat Kaito hendak menanyakan Luka soal Miku, Luka sudah berlalu ke kantin.
"Shin, kau tahu kemana Miku?" tanya Kaito pada ketua kelas.
"Miku? Siapa Miku?" tanya Shin heran.
"Jangan bercanda kau, Shin! Miku! Teman seruangan ku! Dia selalu duduk disampingku! Disebelah jendela itu!" ucap Kaito sambil menunjuk pojok kosong tempat bangku Miku. Nada suaranya sedikit meninggi.
"Hey, jangan berkhayal, teman. Kau selalu sendiri dibarisan paling belakang! Tidak ada yang pernah duduk dipojokan itu!" ucap Shin. Kaito menjadi semakin bingung.
"Sudahlah, ayo ke kantin. Kubelikan kau minuman. Mungkin kau hanya sedikit stress karena Luka akan pergi…" ucap Shin sambil berdiri. Akhirnya Kaito pun mengikuti Shin ke kantin.
"Kemana Miku? Kenapa Shin tidak mengenal Miku? Aku harus menanyakannya pada Gakupo!" batin Kaito.
Sepulang sekolah, Kaito pun langsung berlari ke rumah Gakupo.
"Gakupo! Buka pintunya!" ucap Kaito. Tak lama, Gakupo pun membuka pintunya.
"Haduh, kamu ini berisik sekali sih, Kaito! Ada apa?" tanya Gakupo.
"Miku! Kemana Miku?" tanya Kaito.
"Miku? Siapa Miku?" Gakupo keheranan melihat Kaito yang juga berwajah heran setelah Ia bertanya siapa Miku.
"MIKU! Kekasihmu! Masa kau tidak tahu?" ucap Kaito dengan nada suara yang mulai meninggi.
"Hei, dengar ya Kaito! Aku tidak pernah punya kekasih bernama Miku! Siapa itu Miku? Aku tidak kenal!" Gakupo berusaha meyakinkan Kaito bahwa Ia memang tidak mengenal Miku dengan menegaskan nada suaranya.
Kaito masih kebingungan. Ia menjadi panik ketika Gakupo, orang terakhir yang akan di cari Miku, bahkan tidak mengenal Miku. Ketika Ia melihat jam, Kaito segera berlari meninggalkan Gakupo yang masih keheranan didepan pintu rumahnya. Ia harus memberikan hadiahnya pada Luka. Saat berlari, Ia menggenggam erat bungkusan kacamata berbingkai coklat yang rencananya ingin Ia berikan pada Luka sebelum Ia pergi. Tapi ada sesuatu yang memberatkan langkahnya... sesuatu... tentang Miku.
A-ara... Cacadow ya? Gomenasai! Lagi ga bisa konsen... TTATT Anyway, please R+F~! w (banyak mau... *digaplak*) Maaf ya saya jadi membuat Kaito tidak berperasaan dan berperikemanusiaan *digampar Kaito*
Jawab ripiu dulu deh~ :D
FallingtotheGround : Aleeee~~ Abaaaaang~! Makasih ripiunya~~! *peloktjipoks* XDD Hahahaha~ kaga tau nih dapetnya ide yang begini terus... Weh... berkat toto-chan, semua ini terwujud~ XDD
Kuroshiyu : Nyiaaah~! Sankyuu ripiu-nya~! Maafkan daku sekali lagi karena telah membuat Kaito setara dengan P**rick dari Sp***eb**... TtwTTa I will update sooner! XDD
Yuuki – nyan : Uwoooh... Sankyuu dah tetep merhatiin... QwQ Makasih banyak ripiunya ya~~ X3 Iya, entah mengapa Miku jadi OOC... Hontou ni gomenasai... m(QwQ)m
