UNSPOKEN TRUTH
Disclaimer : VOCALOID never belong to me. They belong to YAMAHA~ *kalo punya aye mah yang ada ntar rancu XDD*
Sesampainya distasiun kereta, Luka sudah menunggu Kaito di loket. Ia melambaikan tangannya pada Kaito.
"Luka! Maaf aku terlambat!" ucap Kaito sambil berlari ke arah Luka.
"Tidak apa – apa… Ayo, berangkat! Kau mau mengajakku kemana?" tanya Luka.
"Ke Taman Ria. Tidak apa – apa kan?" ajak Kaito. Napasnya masih tersengal – sengal karena berlari.
"Iya, tidak apa – apa~ Ayo kita pergi!" Luka pun menggandeng tangan Kaito dan membeli tiket. Seperti hari ketika Kaito pergi berempat bersama Miku dan Gakupo, mereka menghabiskan waktu berdua saja menikmati taman ria. Saat hendak pulang, Kaito melihat bianglala itu dan kemudian teringat lagi pada Miku.
"Luka, waktu kita pergi bersama… Eh, uhm… maksudku, waktu itu, kita tidak sempat naik bianglala… Kau…mau naik bersamaku?" tanya Kaito.
"Tentu~" ucap Luka senang. Mereka pun kemudian menaiki bianglala itu.
"Luka… Aku… ingin mengatakan sesuatu…" ucap Kaito.
"Apa itu?" Luka pun bertanya sambil membenahi tasnya. Raut wajahnya menjadi cerah.
"Apa… kau tahu Miku dimana…?" tanya Kaito. Raut wajah Luka sedikit meredup.
"O-oh… Miku… Siapa Miku?" tanya Luka heran.
"sudah kuduga…" pikir Kaito.
"Ah, lupakan saja…" ucap Kaito. Dalam kantongnya, Ia menggenggam erat kacamata berbingkai coklat yang hendak Ia berikan pada Luka. Entah kenapa,hatinya berat untuk memberikan kacamata itu pada Luka. Ia ingin memberikannya pada orang lain. Ia ingin memberikan kacamata itu… pada Miku.
"Satu hal lagi…" ucap Kaito sebelum bianglala itu berhenti berputar.
"Aku… Ah… maafkan aku Luka… Aku…" Luka tidak menoleh saat Kaito berusaha mengatakan tujuannya.
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan…" ucap Luka tiba – tiba. Kaito pun terkejut.
"Eh? B-bagaimana bisa?" tanya Kaito heran.
"Sikapmu itu sudah terbaca jelas, tahu…" Luka pun tertawa kecil. Ia tersenyum melihat wajah Kaito yang keheranan.
"Jadi… kau sudah tahu apa yang ingin kukatakan?" tanya Kaito berusaha meyakinkan. Luka mengangguk. Senyumnya tak juga hilang.
"Katakan setelah kau mengabulkan satu permintaanku~" ucap Luka sambil terus memandang wajah Kaito dengan tatapan lembut.
"Apa itu?" tanya Kaito. Tiba – tiba saja Luka menciumnya. Kaito terkesiap. Ia sangat kaget dengan Luka.
"Hanya itu… Terima kasih ya Kaito, kau sudah mau menemaniku selama aku disini. Aku benar – benar punya kenangan manis~ Walaupun hanya sebentar, kuharap kau masih mau jadi temanku setelah aku pindah nanti…" Luka tersenyum. Menurut Kaito, itu adalah senyum Luka yang paling manis yang pernah dilihatnya.
"Sekarang, aku sudah siap mendengar apa yang ingin kau katakan…" ucap Luka lagi. Kaito masih terkejut dengan tindakan Luka. Ia masih terpaku.
Luka pun tertawa lagi. Ia kemudian mengelus kepala Kaito dengan lembut dan menjetikkan jarinya didepan mata Kaito.
"Hey, kau masih sadar kan? Masih hidup kan?" tanya Luka jahil. Kaito pun lalu ikut tertawa. Mereka pun segera turun saat bianglala itu berhenti.
"Sekali lagi maafkan aku ya Luka…" ucap Kaito. Luka tersenyum. Ia terlihat lega.
"Tidak usah minta maaf~ terima kasih banyak ya Kaito… Atas semua kenang – kenangan darimu…" setelah mengatakan hal itu, Luka pun berlalu menaiki kereta yang menuju daerah rumahnya.
"Sekarang saatnya mencari Miku!" pikir Kaito. Ia pun langsung berlari, mencoba mencari Miku ke setiap tempat yang pernah mereka datangi. Terus dan terus mencari, Kaito pun akhirnya sampai di tempat dimana pohon Oak tua tempat mereka selalu bermain saat kecil. Tapi pohon Oak itu tidak ada…
DI BIANG LALA…
"Sepertinya… aku harus mengakhiri hubungan kita… maafkan aku!" Kaito pun membungkuk. Luka pun tertawa.
"Sudah kuduga… Kau… pasti menyukai Miku itu kan?" pertanyaan Luka membuat Kaito terkejut lagi.
"Aku…menyukai Miku…?" bisiknya.
"Iya kan?" Luka masih tersenyum.
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa aku menyukai Miku…?" tanya Kaito balik.
"Mudah saja… kudengar seharian ini kau terus mencari seseorang yang bernama Miku itu. Ditambah lagi, caramu memanggil namanya… seperti memanggil seorang kekasih… Dia pasti sangat berarti untukmu, kan?" Luka kembali tersenyum.
"Maafkan aku…" ucap Kaito. Ia masih menunduk sedih. Luka pun mengelus wajah Kaito. Ia mengangkat dagu Kaito dan menatap matanya. Luka masih tersenyum.
"Tersenyumlah untukku…mau kan?" ucap Luka. Kaito pun tersenyum kecil.
"Nah… itu hadiah lagi darimu untukku… Ingat ya, apapun yang terjadi, jangan pernah kehilangan senyum itu~" ucap Luka.
"Terima kasih ya, Luka…" Mengingat kejadian itu, Luka hanya bisa tersenyum saat memandang langit sore itu. Ia pun mempercepat langkahnya menuju asrama karena Ia tahu Ia tak dapat lagi menahan air matanya…
Kaito bingung dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin satu –satunya hal yang tersisa tentang Miku hanyalah memori yang Ia punya? Seakan – akan Miku tidak pernah nyata. Bagaimana pun, Kaito sangat sedih jika Miku tidak ada.
Untuk Kaito, Miku merupakan orang satu – satunya yang bisa mengerti dan mentolerir kebodohan serta kecerobohannya. Miku jugalah yang selalu mengingatkan kesalahan – kesalahan yang diperbuat Kaito agar Kaito tidak mengulanginya lagi.
"Miku…maafkan aku…" ucap Kaito lirih. Ia terduduk ditempat dimana pohon Oak kenangan itu berdiri. Ia pun menjatuhkan tubuhnya yang kelelahan ketanah. Perlahan – lahan bulir – bulir hangat jatuh membasahi pipinya. Kaito tidak menyangka Ia akan kehilangan Miku, sahabatnya, sekaligus cinta pertama yang telah dilupakannya. Tak lama, Kaito pun tertidur…
Saat terbangun, Kaito membersihkan tanah dari bajunya dan berjalan dengan lesu kembali ke asrama. Kemudian Ia melihat toko antik yang bernama "Lazy Moon" yang pernah Ia kunjungi bersama Miku. Sayangnya, saat pertama kali mengunjunginya, toko itu tutup.
"Hanya toko ini yang belum kudatangi…" batin Kaito. Saat hendak masuk, Ia melihat arloji berwarna keemasan di etalase toko. Ia ingat Miku pernah menginginkan jam itu. Setelah masuk, pemilik toko langsung menyambutnya.
"Selamat datang~" ucapnya. Kaito sangat terkejut melihat pemilik toko itu. Ia… sangat mirip dengan Miku!
"Ada yang bisa kubantu~?" ucap pemilik toko itu. Kaito masih terkesiap dengan apa yang dilihatnya.
"Ah-uh… tidak…aku… hanya melihat lihat saja…" Kaito pun duduk dikursi dekat meja kasir. Ia masih menunduk dan merasa sedih saat mengingat Miku.
"Baiklah, kalau kau butuh apa – apa, pangil saja ya~ aku sedang membereskan barang~" ucap pemilik toko itu. Kaito memperhatikan si pemilik toko.
"Ia benar – benar mirip dengan Miku…" pikir Kaito lagi. Jam antik di toko itu berdentang, waktu menunjukkan pukul 8 kurang 15 menit. Kaito pun berdiri.
"Lho? Kau mau pulang?" tanya si pemilik toko.
"Yah… Aku… belum menentukan mau beli apa…" ucap Kaito.
"Besok pagi aku kesini lagi…" Kaito pun beranjak pergi. Belum sempat Ia menutup pintu, si pemilik toko berseru :
"Hati – hati ya dijalan~ langsung pulang, lho~! Sudah malam!"
"Ya!" Kaito pun melenggang pergi. Ia tersenyum, rasa rindunya akan Miku sedikit terobati. Mengingat Miku, Ia langsung belari kembali ke toko. Ia pun menggedor kaca toko itu.
"Hay, ada apa~? Kau tidak jadi pulang?" tanya si pemilik toko itu lagi. Sambil terengah – engah, Kaito pun bertanya.
"Siapa… siapa namamu?"
"Aku? Ah… namaku Gumi" jawab si pemilik toko kalem. Ia pun mengambil sekaleng kopi untuk Kaito. Tapi saat Ia hendak memberikannya, Kaito sudah berlari pulang.
"Wah… pelanggan yang aneh…" ucap Gumi sambil menggeleng – gelengkan kepalanya. Dijalan pulang, Kaito memutuskan untuk kembali lagi ke toko itu besok. Ia masih penasaran dengan Gumi yang hampir seperti pinang dibelah dua dengan Miku yang dicarinya.
"Kalo bukan karena waktu, aku sudah menanyakannya padamu, Gumi!" batin Kaito. Sesampainya di asrama, Ia baru menyadari bahwa kasur di kamar Miku rapi dan tidak berseprai, menandakan tidak pernah ada yang menempati tempat itu…
