UNSPOKEN TRUTH
Disclaimer : VOCALOID never belong to me. They belong to YAMAHA~ *kalo punya aye mah yang ada ntar rancu XDD*
Kaito terduduk dan termenung melihat kasur kosong dihadapannya. Ia pun mengeluarkan kacamata berbingkai coklat yang dibelinya dari kantong celananya. Tatapannya kosong. Saat menoleh, cahaya bulan memasuki kamar Kaito yang gelap.
Kaito ingat akan suatu kala ketika Ia dan Miku bermain bersama ditanah lapang yang luas. Yang kini telah menjelma menjadi gedung sekolah mereka.
"Kaito, lihat! Bulannya besar sekali ya~?" tanya Miku sambil menunjuk bulan.
"Iya~ Itu namanya bulan purnama~" jawab Kaito.
"Wah…Indah sekali ya… Oh iya, mengenai bulan, apa kau pernah mendengar dongeng mengenai kerajaan di bulan, Kaito?" tanya Miku tanpa menoleh pada Kaito. Pandangannya masih tertuju pada bulan malam itu.
"Eh? Dongeng tentang kerajaan bulan? Aku belum pernah dengar… Apa kau tahu, Miku?" tanya Kaito lagi.
"Suatu kala, di bulan, terdapat sebuah kerajaan yang makmur… Tapi suatu ketika, semua itu berubah… Terjadi pemberontakan dan semua anggota keluarga kerajaan terbunuh. Kecuali seorang putri yang telah dikirim ke bumi sebelumnya…" Miku mulai bercerita. Kaito pun mendengarkan dengan seksama.
"Putri kecil itu diurus oleh sepasang kakek dan nenek… Mereka sangat senang, karena sampai umur setua itu, mereka tidak mempunyai seorang pun anak…" Kaito memandang Miku yang menceritakannya dengan pandangan berbinar. Tanpa sadar, senyum kecil menghias bibirnya.
"Lalu?" ucap Kaito sambil terus tersenyum.
"Saat putri itu sudah besar, Ia merasa asing didunia ini… Padahal kecantikannya luar biasa… Tapi ada sesuatu dari dirinya yang hilang… Sampai suatu ketika, Ia menemukan kembali roket bambu yang digunakan raja dan ratu bulan untuk mengirimnya ke bumi…" Kaito mengernyit mendengar kata "roket".
"Tunggu, tunggu, tunggu… roket?" tanya Kaito heran sambil tertawa kecil.
"Yah mana ku tahu, itu yang ku dengar. Kau mau dengar lanjutannya atau tidak?" tanya Miku sambil menatap Kaito heran.
"Iya, iya…lanjutkan…" jawab Kaito sambil tersenyum.
"Walaupun terbebani dengan kakek dan nenek yang begitu menyayanginya, sudah menjadi kewajibannya untuk mengambil alih pimpinan dikerajaan bulan saat raja dan ratu wafat… Karena itu, dengan berat hati, kakek memperbaiki roket bambu milik sang putri dan mengucapkan selamat tinggal…" senyum Miku menjadi sedih. Ia pun menatap bulan dengan tatapan sedih.
"Waw… pasti menyedihkan sekali harus berpisah dengan orang yang paling kau sayangi…" ucap Kaito tiba – tiba. Miku pun menoleh. Ia tersenyum simpul.
"Tapi… aku tahu sedikit cerita lain tentang putri bulan itu…" ucap Miku. Kaito menaikkan sebelah alisnya.
"Eh? Masih adakah?" tanya Kaito.
"Ini sih hanya rumor saja, entah betul atau tidak… Katanya, sewaktu putri bulan masih tinggal dibumi, seorang pangeran bumi jatuh cinta padanya… Begitu pun sebaliknya… Tapi… cinta mereka tidak dapat bersatu karena panggilan tugas sang Putri…" kali ini senyum diwajah Miku benar – benar pudar. Kaito pun menghela napas panjang. Ia pun menepuk dahi Miku.
"Aduh…" Miku pun menepis tangan Kaito.
"Kau ini! Sentimen banget sih! Ceritanya memang sedih, tapi wajahmu juga jangan ikutan murung dong…!" ucap Kaito. Miku kembali tersenyum.
"Iya ya, aku kan masih bisa bersama dengan orang yang aku sayangi~" ucap Miku.
"Siapa?" tanya Kaito iseng. Miku pun langsung memeluk Kaito.
"Kaito-niisan~!" ucap Miku. Mengingat sepotong memori itu, tak terasa pipi Kaito sudah basah. Tatapannya benar – benar kosong saat melihat kacamata berbingkai coklat itu. Ia termenung, hampir semalaman…
Jam menunjukkan pukul 05.30, Kaito sudah bangun. Matanya terbuka, tapi Ia tetap berbaring di sofa di kamar Miku. Ia pun menoleh ke sampingnya. Kasur itu tetap kosong. Padahal Kaito berharap saat Ia membuka matanya Miku sudah berada ditempat itu lagi. Menemaninya dan memarahinya lagi jika Ia terlambat. Tapi harapannya hanya harapan kosong.
Kaito pun bangun dan dengan langkah gontai, Ia ke kamar mandi. Ia sengaja berangkat jauh lebih awal dari biasanya. Ia pun menyusuri jalanan yang lengang menuju ke gedung sekolah. Rasanya di tiap sudut tempat itu, terdapat semua kenangan Kaito dan Miku.
Dada Kaito terasa sesak. Ia pun langsung berlari menuju kelasnya. Sesampainya dikelas, tidak ada seorang pun disana. Kaito memindahkan mejanya ke tempat Miku. Ia duduk disitu dan kembali termenung. Ia memperhatikan papan tulis putih yang masih bersih. Saat Miku masih ada, mereka sering kena hukuman membersihkan papan tulis karena datang terlambat.
"Saat Miku masih ada…?" pikir Kaito.
"Miku… Kau dimana…?" Kaito pun meletakkan kepalanya ke meja. Ia melamun. Merasakan belaian angin yang masih dingin. Kaito pun kembali tertidur…
"Miku…"
Bel pulang sekolah pun berbunyi, Luka pun mengucapkan salam perpisahan pada seluruh kelas, pun pada Kaito. Luka dan Kaito hanya bisa saling balas senyum. Mereka sudah putus, tapi bukan berarti mereka tidak bisa menjadi teman.
"Hati – hati dijalan ya, Luka~" ucap Kaito.
"Iya, terima kasih. Kau juga hati – hati ya, Kaito…" ucap Luka. Ia pun mencium pipi Kaito sebelum berlalu. Sepeninggal Luka, Kaito hanya tersenyum.
"Maaf… kau pasti bisa menemukan orang yang benar – benar mencintaimu, Luka… Ganbatte!" gumam Kaito. Ia pun mengambil tasnya dan langsung berangkat ke "Lazy Moon".
"Ah, selamat datang~" sambut Gumi. Kaito hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia hanya duduk ditoko itu.
"Maaf ya, kemarin masih berantakan~ Jadi, kau sudah memutuskan mau beli apa~?" tanya Gumi.
"Aku boleh lihat arloji yang ada di etalase?" tanya Kaito.
"Oh, tentu!" Gumi pun langsung beranjak mengambil arloji yang dimaksud dan menyerahkannya pada Kaito. Kaito pun hanya diam memandangnya. Tanpa sadar, Ia tersenyum.
"Wah, wah, sepertinya kau sangat menyukai jam itu ya?" tanya Gumi saat melihat perubahan wajah Kaito yang melembut.
"Ah-eh? Ahahah... Tidak, jam ini mengingatkanku pada seseorang..." ucap Kaito. Gumi terdiam sejenak kemudian bertanya lagi pada Kaito.
"Apa dia orang yang spesial untukmu?" mendengar pertanyaan Gumi, Kaito pun ingat dengan perkataan Luka.
"Kau pasti menyukai Miku kan?" Kaito hanya diam, sebelum Ia mengangguk sambil tersenyum.
"Apa kau ingin memberikan arloji itu padanya?" tanya Gumi lagi. Kali ini Kaito hanya menatap Gumi. Kemudian Ia pun tertawa.
"Aku ingin sekali memberikannya... Tapi... Uangku tidak cukup..." ucap Kaito.
"Lagipula saat ini, aku tidak tahu Ia dimana..." lanjutnya dalam hati. Gumi pun menaikan sebelah alisnya.
"Benar kau akan memberikannya padanya?" tanya Gumi lagi. Seakan Ia ingin memastikan niat Kaito.
"Yeah..." jawab Kaito pelan. Wajahnya berubah agak sedih.
"Hemm... Kalau begitu, akan ku berikan arloji itu gratis untukmu~ dengan satu syarat!" ucap Gumi. Kaito kaget mendengarnya.
"Syarat apa...?" tanya Kaito penasaran.
"Kau harus memberikannya pada gadis itu saja. Tidak boleh ke orang lain! Janji?" ucap Gumi sambil tersenyum. Ia pun kembali membereskan barang – barang di etalase tokonya.
"E-eh...?" Kaito masih shock dengan apa yang baru saja di dengarnya. Gumi yang menyadari tidak adana pergerakan dari pelanggannya kembali menoleh.
"Aku serius, kawan... Sanggupi saja syaratnya!" ucap Gumi seakan ingin meyakinkan Kaito dengan apa yang baru saja diucapkannya.
"Tapi kan arloji ini mahal..." ucap Kaito pada akhirnya. Gumi hanya tersenyum membalas ucapan Kaito.
"Aku bertaruh gadis spesial itu jauh lebih berharga, bahkan tiada tara untukmu... Iya kan?" Kaito hanya bisa tersenyum mendengarnya. Ia pun mengangguk pelan.
"Umm… Aku boleh minta pendapat?" tanya Kaito.
"Boleh, boleh… ada apa?" Gumi tetap merapikan barang – barang di etalase tokonya.
"Aku… sebenarnya bingung… Aku menyukai seseorang, tapi aku tidak bisa berbuat apa – apa jika aku tidak bersama dengan seseorang yang lainnya… Yang ingin kuberikan arloji ini... Aku…Uh…" Kaito terdiam. Begitu pula dengan Gumi. Tiba – tiba saja Gumi mengeluarkan Harisen.
PLAKK!
"Adaow! Kau ini apa – apaan sih?" seru Kaito sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Jangan linglung! Tentukan sekarang! Pilih salah satu!" ucap Gumi. Nadanya menjadi tegas. Gumi pun duduk disamping Kaito. Wajahnya berubah agak sendu, tapi senyum tetap tersungging dibibirnya.
"Maaf ya… Mendengar ceritamu, aku jadi ingat dengan pengalamanku dengan seseorang…" ucap Gumi. Nada suaranya melembut.
"Siapa…?" tanya Kaito penasaran.
"Dia… hanya orang bodoh penggemar Aino Minako~ Si bodoh itu… tidak pernah bisa menentukan siapa yang harus dipilihnya… Karena itu aku mundur… Sebelum aku pergi, aku meninggalkan sepenggal lirik Aino Minako untuknya… Aku sengaja menyimpan kopiannya…" Gumi pun menarik secarik kertas dari bawah meja kasirnya.
"Boleh aku baca?" tanya Kaito. Gumi pun memberikan secarik kertas itu pada Kaito.
"I was often sitting
By the window
I knew that you had a girlfriend
Over my shoulder, the smell of grass
Hold on tightly to these feelings
Painfully, these frustrating
Feelings will also
Turn into flowers someday
I'll go into the twilight
My radiant smile
Will go along with me
Tomorrow I'll smile again
I'll be in pain forever and ever
But my tears are gone
I will find a new love
While looking at Venus..."
"Looking at Venus…? Katagoshi ni Kinsei… Eh…?" Kaito terkejut membaca lirik yang diberikan Gumi.
"Katagoshi Ni Kinsei adalah satu – satunya lagu Aino Minako yang disukai Miku!" pikir Kaito. Ia pun menoleh pada Gumi.
"Ada apa? Kau terlihat terkejut sekali~" Gumi hanya tersenyum memandang Kaito. Belum sempat Kaito bertanya, jam dinding antik ditoko Gumi berbunyi. Kaito ingat Luka akan berangkat setengah jam lagi. Dan butuh waktu 45 menit dengan berjalan untuk mencapai stasiun dari Lazy Moon.
"Ah, aku…" Kaito bingung antara ingin "menginterogasi" Gumi dan menyusul Luka ke stasiun. Kaito jadi semakin panik setelah melihat jam. Melihat gelagatnya, Gumi pun lalu bertanya.
"Sepertinya kau sedang terburu – buru, apa mau ku antar dengan motor ku?" tawar Gumi. Wajah Kaito lalu berubah cerah. Kaito pun mengangguk.
"Aku akan menanyakan semuanya setelah kembali dari stasiun!" pikir Kaito. Ia pun lalu naik ke motor Gumi.
"Pegangan ya!" ucap Gumi. Suaranya jadi agak tidak jelas karena Ia mengenakan helm.
"BERANGKAT!"
Let's reply minna's kindness~:
Yuuki-nyan : U-uwaaah... Sankyuu! *huggy* Makasih udah tetep baca ya Yuuki-nyan... ;;w;; Makasih banyaaak~! X3 Saya akan melanjutkannya! X3
ReiyKa : H-ha? Malaikat? OwO"" Ahahaha... Mungkin ya~? 0w0~ I-iya, makasih~! X3 Oke deh, Gumi lumayan banyak kok~! Tenang saja~! XDD
Peter : Hooooh~ Ok boss! Ditunggu ye... XDD
