"Hei, Kaito~!" ditengah jalan tiba – tiba Gumi bertanya.

"Orang yang ingin kau temui ini pasti orang yang sangat penting untukmu ya?!" Gumi bicara agak keras karena jalanan sangat bising. Kaito pun tersenyum.

"Iya! Orang yang pernah aku sukai!" Kaito pun agak mengeraskan suaranya.

"Oooh! Kalau begitu kita harus bergegas! Waktu kita semakin sempit!" Gumi pun kemudian tancap gas.

…DI STASIUN…

"Oh tidak…" ucap Kaito. Gumi yang baru turun dari motornya pun menghampirinya.

"Ada apa? Kita telat ya?!" tanya Gumi panik.

"Yah… sedikit… Keretanya baru saja berangkat… Lihatlah…" ucap Kaito sambil menunjuk ke arah kereta yang berjalan. Ada sedikit rasa kecewa hadir diwajah Kaito, tapi kemudian Ia kembali memakai helmnya dan menaiki motor Gumi.

"Hey, hey, hey! Kau tidak gila kan? Kau tidak akan mengejar kereta itu dengan motorku kan?!" ucap Gumi. Ia pun secara tidak disadari kembali memakai helmnya.

"Sudah ayo naik! Pinjam sebentar motornya!" setelah Gumi naik, Kaito pun langsung tancap gas mengejar kereta itu. Tak lama, kereta itu pun tersusul.

"Ah, itu dia!" seru Kaito. Ia pun berusaha mengejar gerbong tempat Luka duduk. Setelah sejajar, Kaito berteriak memanggil Luka. Dari dalam gerbong, Luka mencari – cari orang yang memanggilnya, saat Ia menoleh keluar jendela, Ia tersenyum dan melambaikan tangannya.

"Luka! Terima kasih ya! Hati – hati!" teriak Kaito. Gumi hanya bisa tersenyum dibelakang Kaito. Luka pun hanya bisa tersenyum membalas ucapan Kaito. Sesaat Luka menoleh ke depan. Wajahnya langsung pucat dan panik. Ia berusaha memberitahu Kaito akan sesuatu. Tapi Kaito tidak dapat mendengarnya karena suara kereta. Gumi menyadari maksud Luka, tapi Ia terlambat.

"KAITO, AWAS!" teriak Gumi. Saat Kaito menoleh ke depan, mereka sudah terjun ke bawah jembatan. Kaito tidak sempat menghentikan ataupun mengubah haluan motornya. Semua itu terjadi dalam waktu hitungan detik. Motor Gumi dan penumpangnya berdebam keras ke tanah. Kaito tidak dapat merasakan tubuhnya. Perlahan kesadarannya pun mulai menghilang. Tapi hanya satu nama yang terucap…

"Miku…"

TENG TENG TENG TENG!

Bel sekolah berbunyi sangat keras, ditambah dengan suara pintu kamarnya yang digedor keras oleh seseorang membangunkan Kaito dari tidurnya. Tape dikamarnya masih mengalunkan lagu Aino Minako yang baru. Kaito baru sadar, Ia seharusnya terjatuh dari tebing. Ia meraba – raba tubuhnya, melihat ke kaca dan merasa aneh.

"Aku tidak apa – apa… Lalu…? Apa itu Cuma mimpi ya?" pikir Kaito. Ia hampir lupa dengan pintu kamarnya yang berisik daritadi. Saat pintu dibuka, Miku sudah berdiri dengan tangan terlipat didadanya.

"Jam berapa ini, KAITO!" seru Miku. Kaito terbelalak melihat Miku. Kontan Ia langsung memeluk Miku.

"H-he?!" Miku sangat kaget dengan reaksi Kaito. Wajahnya memerah seketika.

"A-apa apaan kau Kaito!" ucap Miku sambil berusaha melepaskan diri. Kaito hanya tertawa sambil tetap memeluk erat Miku seakan tidak ingin kehilangannya lagi. Miku menghela napas. Ia pun menjitak Kaito.

"Adaow! Apaan sih?!" ucap Kaito sambil mengelus kepalanya yang sakit. Kaito mendengus. Namun ketika Ia melihat wajah tersipu Miku, Ia tertawa kecil.

"A-apa yang kau tertawakan! Cepat pakai seragammu! Kita sudah terlambat!" ucap Miku dengan tampang cemberut, berusaha menutupi pipinya yang merah.

"Berangkat saja duluan sana…" ucap Kaito. Miku langsung menatap heran Kaito.

"Aku sudah terlanjur menunggumu! Sudah cepat sana ganti baju!" Miku pun mendorong Kaito ke dalam kamarnya. Kaito hanya tertawa lepas mendapat perlakuan seperti itu. Ia pun segera mengambil seragamnya dan berganti di kamar mandi.

"Dasar gila…" ucap Miku dalam hati. Wajahnya kembali memerah saat mengingat kejadian tadi. Ia pun menutup wajahnya dengan sebelah tangan dan tersenyum kecil.

"Selesai! Ayo berang-!" Kaito menghentikan kata – katanya saat melihat Miku tersipu sambil menatap kosong pintu. Kaito pun menghampirinya perlahan.

"Membayangkan siapa sih? Aku ya~3?" ucap Kaito centil Miku terkejut dan kontan menepak muka Kaito dengan telapak tangannya.

PLAKK!

"A-ah…" muka Kaito pun merah berbentuk tapak tangan. Miku pun langsung salah tingkah.

"Ma-makanya jangan suka mengagetkan orang!" ucap Miku yang sebenarnya ingin meminta maaf tapi rasa percaya dirinya menghentikan kata itu untuk keluar dari mulutnya.

"S-su-sudah ayo berangkat! Kita sangat terlambat nih!" ucap Miku sambil memalingkan wajahnya dan berjalan menjauh, menyembunyikan wajah merahnya yang tersipu.

"Eh! Tunggu! Aku belum mengunci kamarku!" secepat kilat Kaito mengunci pintu kamarnya dan berlari menyusul Miku. Setelah sejajar, Kaito pun menggenggam tangan Miku. Miku yang kaget berniat menepis genggaman ditangannya, tapi kemudian, Ia membiarkannya dan malah menggenggam balik tangan Kaito sambil terus berusaha menyembunyikan wajahnya dari Kaito.

"Maaf Miku, aku tidak menyadarinya dari awal… Kalau aku, ahaha… Sungguh sangat menyukaimu!" ucap Kaito dalam hati sambil tersenyum.

"Kau lucu sekali sih, Miku~" ucap Kaito tiba – tiba. Miku tidak menoleh, Ia masih berada didepan Kaito dan mempercepat langkahnya. Kaito hanya tertawa melihat tingkah orang yang paling disayanginya itu.

"Syukurlah semua itu hanya mimpi… Terima kasih Tuhan, Kau mengingatkanku untuk bersyukur bahwa ada Miku yang akan selalu berada disisiku… Terima kasih Tuhan, Kau memperlihatkanku betapa beruntungnya aku memiliki salah satu malaikat Mu disisiku… w~"

~THE END~

Afterwords : MINNA! Gomen saya teramat sangat telat sekali membuat endingnya desu… Kelas 1 SMA Itu memang saat yang paling sibuk desu… Puyeng desuuu… TTwTT~ Terima kasih sudah setia dan mau membaca cerita saya yang masih abal ini sampai akhir ya~ Arigatou to gomenasai ne minna-saaan~! Ditunggu ya cerita selanjutnya! XDD

Inspirasi :

The Disappearance of Hatsune Miku– DEAD END~

Cahaya Bulan – OST GIE