PS: Check my polling! ;)

PPS: Terinspirasi dari salah satu scene di City Hunter dan Dream High 2, hanya secuil :3 (guess which?)

PPPS: Request-an dari Lady Raven :3 (Maap kalo JapNes-nya dikit ._.)

Warning: OOC, AU, a bit of Mary Sue/Gary Stu, human name used, maybe plot hole, and other warnings.


xXx_The Untold Story_xXx

Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya

The Untold Story © thisangtjoo

Pororo © Iconix Entertainment dkk

DON'T LIKE DON'T READ!

xXx_The Untold Story_xXx


Kirana melirik Kiku yang sedang serius menyetir mobil di sampingnya. Tatapannya melembut. Seulas senyum samar tersungging di bibirnya. Tangannya menyentuh plester kuning bergambar penguin kecil berkacamata yang memakai helm yang menempel di pipi kanannya.

Wajahnya memerah saat kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu itu kembali melintas di benaknya.

Flashback

Kiku sedang bersandar di kap mobil birunya sementara menunggu Kirana yang sedang membeli baterai ponsel di sebuah gerai elektronik.

Pemuda itu menyunggingkan senyum senang mengingat gadis yang sudah ia pacari selama setengah tahun itu mulai membuka dirinya. Sebelum ini, gadis itu selalu menolak saat diajak kencan olehnya. Kiku hanya bisa menemuinya di kantor majalah fashion tempat gadis itu bekerja pada saat makan siang.

"Maaf lama menunggu. Antriannya panjang." Ucap Kirana membuyarkan lamunan Kiku.

Kiku menoleh mendapati Kirana berjalan menghampirinya. Rambut hitamnya yang panjang sepinggang digerai dan dihiasi dengan jepit berbentuk bintang putih bergerak melambai seiring dengan langkah kakinya yang anggun.

Dari ujung jalan, sekelompok remaja laki-laki berlarian kencang dan menubruk Kirana dengan keras. Kirana menjerit pelan dan jatuh dengan tidak elitnya─wajah mencium trotoar.

Kiku cepat-cepat membantu Kirana berdiri dan membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor. Remaja-remaja yang menabrak Kirana hanya menyerukan 'maaf' pelan dan kembali berlari seolah tidak terjadi apa-apa. Kiku menghela napas. Dasar anak-anak.

"Terima kasih." Ucap Kirana setelah pakaiannya bersih dari debu.

Kiku mendongak menatap Kirana, "Pipimu terluka."

"Benarkah?" Kirana meraba-raba pipinya dan meringis perih saat jemarinya menyentuh lukanya.

"Ssh... jangan dipegang. Nanti infeksi," Kiku menahan pergelangan tangan Kirana. "Masuk mobil, Kirana-chan."

Kirana menurut. Ia membuka pintu mobil dan menghenyakkan tubuhnya ke kursi samping roda kemudi. Kiku ikut masuk dan duduk di sebelahnya.

Kiku mencondongkan tubuh ke laci dasbor dan mengambil kotak P3K. Ia membersihkan luka Kirana kemudian mengambil plester kuning bergambar. Ia tersenyum dan mengecup plester itu dengan sayang─yang membuat Kirana sweatdrop─sebelum menempelkannya ke pipi Kirana. Lalu keduanya terdiam.

Jantung Kirana sudah berdegup sangat kencang entah sejak kapan. Ia menunduk, tidak berani beradu pandang dengan Kiku yang berada dekat sekali dari wajahnya. Napasnya tertahan saat Kiku mengecup pipinya─plester yang melekat di pipinya. Rona merah menjalari wajahnya dengan cepat.

Kini ia merasakan tangan Kiku mengelus pipinya dengan sangat lembut.

"Kirana-chan..."

Kirana mendongak dan memandang mata Kiku dengan sorot bertanya. Kiku menatap bibirnya sekilas sebelum kembali menatap matanya.

Kirana menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tahu isyarat itu. Namun ia tidak pernah melakukannya sebelum ini.

Kirana akhirnya pasrah dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian bibir Kiku menekan bibirnya dan menciumnya lembut.

Flashback off

"Kirana-chan, kita mampir ke rumah sepupuku sebentar, ya?" tanya Kiku tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

"Mm." Kirana mengangguk, tetap memandangi Kiku.

Merasa dipandangi, Kiku menoleh dan Kirana langsung memalingkan wajahnya. Pipinya memanas.

Kirana merasakan jemari Kiku mencubit kecil dagunya. Ia menunduk malu. Dan menikmatinya.

"Hentikan." Mau sesenang apapun dirinya, bibirnya selalu melontarkan hal yang sebaliknya. Kirana menjauhkan tangan Kiku yang kini mengelus-elus bibirnya.

"Haha, kau memang tidak berubah." Kiku tertawa pelan dan berkonsentrasi ke jalanan. Ia membelokkan mobilnya, masuk ke lobby apartemen mewah yang terletak di Manhattan bagian Upper West Side.

Setelah memarkirkan mobilnya di gedung parkiran, Kiku mematikan mesin dan membuka pintu. Kirana melakukan hal yang sama.

Setelah berjalan menyusuri lorong apartemen di lantai lima, mereka berhenti di depan pintu bernomor 567. Kiku menekan bel dan tak lama kemudian pintu di buka oleh seorang gadis Asia berambut hitam keriting dan bermata hitam besar─Kirana curiga gadis itu memakai lensa kontak saking bulatnya.

"Silakan masuk." Mata besar gadis itu menatap mereka berdua ramah.

"Lho, kalian berdua kesini juga?" tanya Yong Soo begitu Kirana dan Kiku duduk di sebelahnya.

"Kami dengar Ming Yi sakit," Kiku berdeham. "Tapi sepertinya keadaannya sudah jauh membaik."

"Tentu saja, aku tidak akan kalah dengan penyakit." Ucap gadis yang tadi membukakan pintu.

"Ah, begitu rupanya. Aku pinjam toiletmu." Pamit Kiku. Gadis itu mengangguk.

Kirana memandangi gadis yang duduk di hadapannya dengan pandangan menilai.

Ming Yi, seorang gadis Taiwan yang ditaksir dari penampilannya berumur sekitar awal duapuluhan─sepantaran dengannya. Ia terlihat cantik dengan rambut hitam bob keriting, mata hitam besar, hidung mancung, wajah bulat, dan bibir merah merekah. Ia seorang artis serbabisa─penyanyi, bintang film dan iklan, dan segala tetek bengek lainnya di bidang entertainment─yang terdampar di New York dengan alasan yang sama dengan Yong Soo, fokus pada sekolahnya.

Pelipis Kirana berdenyut-denyut. Kenapa keluarga Kiku artis semua, sih?

Karena sibuk dalam pikirannya sendiri, Kirana tidak menyadari Yong Soo di sebelah kirinya yang sedari tadi memandanginya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia juga tidak menyadari lirikan usil dari Ming Yi.

"Aaah, Im Yong Soo..." desah Ming Yi dramatis. "Kau suka Pororo-nya atau Kirananya Kiku?" ia menyeringai.

Kirana tersadar dari lamunannya begitu namanya disebut sementara Yong Soo cepat-cepat mengalihkan pandangannya dengan wajah malu khas maling tertangkap basah.

"Apa maksudmu?" tanya Kirana.

"Bukan apa-apa kok, ahahaha..." Ming Yi tertawa sambil mengibaskan tangannya. "Plestermu menarik perhatian seseorang." Bisiknya di telinga Kirana. Kirana seketika menoleh menatap Yong Soo.

"Jangan dengarkan kata-katanya. Dia agak gila." Ujar Yong Soo sambil meringis.

"Ya, betul. Jangan dengarkan kata-kataku. Aku agak gila." bibir Ming Yi mencebik menirukan Yong Soo sambil memutar matanya.

Kirana menahan keinginannya untuk facepalm.

"Hai. Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Kiku yang sudah kembali dari toilet. Ia duduk di sebelah kanan Kirana dan memandangi setiap orang dengan senyum ingin tahu.

"Tidak ada kok. Hanya membicarakan Im Yong Soo yang tertarik pada Kirana─aduh!" Ming Yi mendelik pada Yong Soo yang menendang kakinya.

Senyum Kiku memudar dan menatap kakaknya garang. Yong Soo memutar matanya. Ming Yi cekikikan senang merasakan hawa membunuh dari Kiku. Sedangkan Kirana yang berada di antara kakak-beradik itu hanya bisa facepalm─akhirnya ia bisa melakukannya.

"Apa? Aku tidak tertarik kok. Aku hanya tertarik pada... yah, kau tahu kan? Pororo, pororoo~" Yong Soo memelankan suaranya di dua kata terakhir sambil membuat gerakan jenaka.

Alis Kiku terangkat tinggi, "Aaaah, souka... Aku lupa kalau kau penggemar fanatik penguin berkacamata itu." Katanya diakhiri tawa maklum.

"Penguin berkacamata? Pororo?" tanya Kirana tidak mengerti.

"Pororo itu nama penguin yang ada di plestermu itu, Kirana-chan." Jawab Kiku dengan senyum. Lalu ia menatap Ming Yi dengan kesal, "Ming Yiiii..."

Ming Yi menyeringai menampilkan deretan giginya yang rapih dan putih cemerlang. Jari telunjuk dan jari tengahnya terangkat membentuk 'V'.

Sementara Kirana mengangguk-angguk sambil bergumam, "Jadi gambar yang ada di plester ini penguin Pororo ya. Hmm..."


Memanfaatkan musim gugur yang indah di Central Park, Kirana─plester Pororo-nya sudah dilepas─dan para rekannya melakukan pemotretan untuk majalah edisi selanjutnya─lolita fashion yang mulai digandrungi para remaja di Amerika.

Model yang dipotret mengenakan pakaian lolita yang penuh warna dan mengembang serta berenda-renda, dengan topi dan payung berenda.

Kali ini yang memotret adalah Chelsie karena Kirana sibuk menemani Stuart Lee, desainer pakaian lolita yang dikenakan model.

Stuart Lee, seorang desainer pakaian lolita yang berumur empatpuluhdelapan tahun dan berdarah campuran Amerika dan China─Hong Kong tepatnya─yang awalnya bernama Lee Shin.

Berbicara dengan pria itu membuat Kirana merasa seperti berbicara kepada ayahnya sendiri. Nada bicaranya yang lembut dan santun mirip sekali dengan nada bicara ayahnya. Belum lagi jika tersenyum lebar, matanya akan menyipit sampai tinggal segaris─lagi-lagi seperti ayahnya.

Pembicaraan yang awalnya berkisar tentang merek pakaian lolita desainnya kini sudah melenceng jauh ke arah hubungan keluarga. Stuart rupanya menyukai Kirana─tunggu, jangan menyela dulu. Stuart menyukai Kirana sebagai anaknya.

Dan Kirana terpaksa mengikuti pembicaraannya.

"Aku memiliki seorang putra yang lebih tua darimu beberapa tahun. Akan kukenalkan secepatnya. Dia sangat tampan. Dan mapan." Bisik Stuart sambil tersenyum.

Kirana ikut tersenyum. Namun dalam batinnya ia mulai panik. Ia takut Stuart berniat untuk menjodohkan putranya itu dengan dirinya.

Oke, itu berlebihan. Sepertinya Kirana terlalu banyak menonton sinetron tanah air.

"Ah, sepertinya kita beruntung." Ucapan Stuart membuyarkan pikiran Kirana. Kirana menatap Stuart dengan penuh tanya dan mendapati pria itu tersenyum ke arah seseorang. Kirana mengikuti arah pandangan Stuart dan matanya menangkap sesosok pemuda yang berjalan ke arah mereka. Ia merutuk pelan.

"Papah, kebetulan ada disini." Kata pemuda itu.

Stuart tersenyum─pria itu sepertinya memiliki stok senyum yang melimpah─dan berdiri sambil menarik lengan Kirana untuk ikut berdiri, "Perkenalkan, ini Kirana Kusnapaharani, seorang gadis asli Indonesia yang bekerja sebagai fotografer sekaligus putri pemilik majalah La Fashionista. Kirana, ini putraku Yi Shin alias Daniel Shin. Dia sangat tampan, bukan?"

Stuart memang benar, Kirana mengakui. Daniel memang sangat tampan dengan potongan rambut gaya british hitam dengan helaian-helaian berwarna biru dan poni yang panjang sampai menutupi alisnya. Dan pemuda itu memiliki sense of fashion yang bagus, mungkin menurun dari ayahnya yang seorang desainer.

Kedua anak manusia itu bertemu pandang. Daniel terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu saat ia melihat Kirana. Tetapi akhirnya ia menyunggingkan senyum super ramah dan Kirana memaksakan seulas senyum yang ia rasa tidak begitu meyakinkan. Mereka berjabat tangan─Stuart yang meraih tangan Kirana dan mempertemukannya dengan tangan Daniel─dan bertukar sapa.

Tiba-tiba Kirana menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mencari sesuatu. Alisnya berkerut. Perasaannya saja atau ia memang sekilas melihat kilatan kamera selain dari kamera Chelsie?

Daniel dan Stuart menatapnya bingung namun Kirana hanya tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.

Sementara itu, di suatu tempat dekat lokasi pemotretan, seseorang yang mengenakan jaket kulit, topi, serta kacamata hitam tengah cekikikan pelan sambil menatap hasil jepretannya.

"Dapat!"


Kirana memandangi foto-foto hasil jepretan Chelsie dengan pandangan puas. Chelsie memang hebat, tak salah ia menyerahkan tugas itu kepada rekannya.

Setelah puas melihat-lihat, ia menyimpan foto-foto itu ke dalam sebuah folder di flashdisk-nya dan menyerahkannya ke bagian layout.

"Selamat si─ah, Kirana..." Tiino Vainamoinen, salah satu karyawan yang bekerja di bagian layout langsung menyunggingkan senyum terbaiknya saat Kirana muncul. Sudah rahasia umum kalau pemuda Finlandia itu menyukai Kirana.

"Selamat siang, ini foto yang akan digunakan untuk edisi selanjutnya." Kirana meletakkan flashdisk di atas meja Tiino, menimbulkan bunyi gemeretak.

"Baik." Tiino meraih benda itu dan mencolokkannya ke slot yang tersedia. Kirana menunggu di sampingnya untuk memastikan file-nya tidak hilang.

Folder terbuka dan menampilkan deretan foto-foto jepretan Chelsie. Kirana mengangguk samar.

"File-nya ada, kan? Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat siang."

"Selamat siang." Balas Tiino dengan agak tidak rela.

"Hei, Tiino. Apa kau tahu kalau Kirana sudah memiliki pacar?" tanya Bella Manon─seorang gadis berdarah Belgia.

Tiino menoleh cepat ke arahnya, "Apa?"

"Apa kau tahu kalau Kirana sudah memiliki pacar?" ulang Bella. "Dilihat dari reaksimu barusan, sepertinya kau belum tahu, ya? Padahal kabar itu sudah menjadi gosip terhangat disini."

"Si...siapa?" tanya Tiino pelan.

"Kiku Honda." Jawab Bella lancar.

"Kiku Honda? Kiku Honda yang model itu?" tanya Tiino kaget. "Bagaimana bisa dia menaklukkan Kirana yang seperti itu?"

Bella meletakkan telunjuknya di dagu, "Yang aku dengar, Kirana pernah memecahkan sesuatu yang membuat Kiku merugi. Dan ia menyuruh Kirana untuk menjadi pacarnya selama tiga bulan sebagai ganti rugi. Sepertinya begitu."

"Curang! Ganti rugi macam apa itu?" rutuk Tiino kesal. "Berarti... Kirana tidak benar-benar berpacaran dengan orang itu, bukan?"

"Nah, nah, nah. Peristiwa itu sudah hampir setahun yang lalu. Yang berarti mereka benar-benar berpacaran sekarang."

"..."

"Sekarang sudah jam makan siang, kan? Kau bisa melihat mereka berdua di kantin."

Aaachoo!

Kiku dan Kirana bersin secara bersamaan. Mereka berpandangan sejenak kemudian tergelak─tepatnya, Kiku yang tergelak sementara Kirana hanya tersenyum tipis.

"Hebat, kita bisa bersin secara bersamaan seperti ini. Berarti kita memang jodoh, ya?" tanya Kiku sambil menggaruk hidungnya yang gatal sedari tadi.

Kirana hanya mendengus pelan. Namun senyumnya tetap tersungging. Tangannya bergerak mengambil nampan namun Kiku mencegahnya.

"Pakai satu nampan saja. Lebih romantis." Kiku mengedipkan sebelah matanya. Wajah Kirana memanas.

Kirana mengambil dua piring dan mengisinya dengan sushi di satu piring dan Curry Rice di piring satunya kemudian menaruhnya di nampan yang dipegang Kiku. Lalu ia mengambil dua gelas jus jeruk dan alat makan─sumpit dan sendok.

Mereka memilih meja di dekat dinding dan mulai menata makanannya.

"Ne, Kirana-chan, kau pernah coba sushi?" tanya Kiku.

Gerakan menyendok Kirana terhenti. Ia menatap Kiku dan menggeleng, "Tidak. I don't eat raw foods."

"Cobalah sekali saja. Ya?" bujuk Kiku sembari mendekatkan sumpitnya ke bibir Kirana.

Kirana melirik daging ikan yang dililit nori itu dengan jijik, "Eww, tidak."

Kiku menatapnya sungguh-sungguh. Kirana akhirnya luluh dan menerima suapan dari Kiku. Ia mengunyahnya sambil mengerenyit tidak yakin. Kiku memandangnya penuh harap dan Kirana mengangguk perlahan.

"Tidak buruk." Kata Kirana dengan mulut penuh. Ia baru saja akan menelannya saat ponselnya berdering menandakan pesan masuk.

From: Daniel

Aku sangat menyukaimu. Wo ai ni.

"Uhuk!" Kirana langsung tersedak dan ia batuk-batuk sambil menepuk-nepuk dadanya. Kiku menyodorkan segelas jus jeruk yang langsung diraihnya dan diteguknya banyak-banyak.

"Ada apa? Ada apa?" tanya Kiku khawatir. Ia hendak meraih ponsel Kirana namun tangan gadis itu mencegahnya. Ia menoleh dan Kirana menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum langkanya.

Kenapa Daniel bisa tahu nomor ponsel Kirana? Usut punya usut, ternyata Stuart-lah yang memberitahukannya. Ia memberitahu Kirana nomor ponsel Daniel dan begitu pula sebaliknya. Kirana dan Daniel hanya bisa menuruti Stuart dan menyimpan nomor ponsel masing-masing.

Ponselnya kembali berbunyi. Rentetan pesan singkat masuk. Semuanya dari Daniel.

From: Daniel

Kau meragukanku?

From: Daniel

Percayalah, aku serius. Kalau perlu aku akan mendatangimu saat ini juga dan melamarmu.

From: Daniel

Aku mencintaimu dari lubuk hati yang terdalam.

From: Daniel

Be my lady?

Kirana memijit pelipisnya. Kiku tidak boleh tahu ini. Atau dia akan menggila.

"Siapa, sih, Kirana-chan? Mengganggu sekali." Gerutu Kiku pelan.

"Ah..." Kirana memutar otak, "Biasalah, Razak pamer bonus." Ia mengalihkan pandangannya ke penjuru ruangan dan mendapati sebagian karyawannya memandanginya, yang buru-buru beralih ke kegiatannya saat bertemu pandang.

"Oh iya," Kiku buka suara. "Nanti aku mau ke rumah sakit untuk menemui pamanku. Kau ikut ya?"

Kirana mengangguk asal, "Pamanmu sakit apa?"

"Eh? Tidak, dia bekerja sebagai dokter jantung disana. Setelah ini bisa, kan?"

"Tentu."


From: Kirana Kusnapaharani

Aku menyukaimu, Daniel.

Daniel menatap layar ponselnya, kosong. Pikirannya langsung tidak fokus pada pekerjaan yang tengah ia hadapi.

Ia memilin helaian-helaian biru elektriknya, kebiasaannya jika sedang merasa bingung dan gelisah.

Ia tahu ayahnya sedang berusaha untuk menjodohkannya dengan gadis asal Indonesia itu, terlihat dari tindak-tanduknya yang terlalu─tunggu, Indonesia?

Seakan baru tersadar, ia menarik gagang lacinya dan mengambil sebuah map kuning supertebal dengan tag alfabet. Ia membuka lembar per lembar dengan cepat, kelewat bersemangat.

Saat ia hampir mencapai halaman yang diinginkannya, seseorang mengetuk pintunya tiga kali. Daniel menutup map dan mengembalikannya ke tempatnya semula dan menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk.

"Hai."

Mata sipit Daniel terbelalak selebar-lebar yang ia bisa.


"Hai." Kiku membuka pintu diikuti Kirana di belakangnya, tampak sedikit kikuk.

Yang disapa hanya terdiam dengan mata terbelalak. Kirana juga sama saja.

Daniel lebih dulu mampu mengatasi keterkejutannya. Ia berdeham dan mempersilakan mereka berdua duduk. Keningnya sedikit berkerut melihat tangan Kiku yang bertautan dengan tangan Kirana.

"Hai paman, bagaimana kabarmu?" tanya Kiku setelah menyamankan diri di kursi hadapan Daniel.

Dokter berusia duapuluhenam tahun itu menyunggingkan senyumnya dan menyahuti, "Baik-baik saja, seperti yang kau lihat. Bagaimana denganmu?"

"Sangat baik." Jawab Kiku ceria. Menyadari pandangan Daniel yang kemudian teralih pada gadis di sebelahnya, Kiku segera memperkenalkan gadisnya. "Paman, perkenalkan ini Kirana Kusnapaharani, pacarku." Ucap Kiku.

Alis Daniel berkedut heran. Pacar Kiku? Bukankah baru saja gadis itu mengiriminya pesan...

Lupakan.

Daniel menyunggingkan senyumnya yang terkesan agak memaksa di mata Kirana.

"Sebenarnya, Kiku, kami sudah saling kenal sebelum ini." Kata Kirana.

Kiku menaikkan satu alisnya, "Oh ya? Kapan?"

"Saat aku mewawancarai Mr. Lee untuk edisi majalah yang akan terbit beberapa hari lagi. Pada saat itu kebetulan eh..."

"Daniel." Ucap Daniel cepat.

"...kebetulan kami bertemu Daniel dan lalu kami berkenalan." Lanjut Kirana.

"Benar." Daniel mengangguk mengiyakan. Tak lupa senyum sejuta watt-nya tersungging di bibir.

"Souka..." hanya itu respon Kiku.

Kirana memandangi Daniel dengan tatapan tak percaya. Sungguh, ia tidak menyangka putra Stuart Lee yang desainer itu bekerja sebagai dokter jantung. Benar-benar tidak dapat diduga.

Hari ini Daniel mengenakan kemeja yang senada dengan helaian-helaian biru rambutnya dengan dasi hitam putih bergaris-garis dibalik jas putih dokternya. Kalau saja Kirana tidak jatuh cinta pada Kiku, ia sudah pasti akan terpesona dengan penampilan Daniel yang gagah.

Kirana segera mengalihkan pandangannya saat Daniel menatapnya. Mungkin menilai penampilannya seperti yang baru saja ia lakukan.

Tiba-tiba Daniel menunduk, meraih map kuning yang tadi sempat ia buka sebelum kedatangan Kiku dan Kirana. Ia membuka sampai lembar tertentu, membacanya sambil menatap wajah Kirana secara bergantian, seakan mencocokkan data yang ada.

Kiku dan Kirana berpandangan lalu saling mengangkat bahu.

"Kirana Kusnapaharani?" tanya Daniel. Kirana menggumamkan tanya. "Kau pernah memiliki saudara kembar?"

Kirana tersentak. Genggaman tangannya pada tangan Kiku semakin mengerat. Kiku segera mengelus punggung tangannya dengan tangannya yang bebas.

"Y-ya..." jawab Kirana tercekat. Mengapa Daniel tiba-tiba menanyakan hal ini?

"Namanya... Miranda Maharani?" Kirana mengangguk lagi.

"Sudah kuduga. Kau mengingatkanku padanya. Aku yang menangani operasi saudara kembarmu itu empat tahun yang lalu di Inggris." Daniel mengetukkan jemarinya di atas map kuningnya. "Maafkan aku, aku tidak berniat untuk membuatmu sedih." Katanya cepat-cepat saat Kirana meneteskan air mata. Ia meraih sesuatu dari saku jasnya.

Dua buah saputangan berbeda warna terjulur bersamaan ke hadapan Kirana. Biru tua dari Daniel dan hitam dari Kiku.

Kiku menatap Daniel dengan tatapan yang sulit diartikan. Daniel akhirnya mundur, menyimpan kembali saputangan biru tuanya dan membiarkan Kiku yang menghapus air mata yang meleleh di pipi Kirana.


"Kirana-chan, kau tunggu disini ya?" kata Kiku saat mereka berada di lobby, hendak pulang.

"Mm." Kirana mengangguk patuh. Matanya terus mengawasi punggung Kiku yang kemudian menghilang di balik dinding.

Lalu ia merasa sikunya dicengkeram lembut. Ia menoleh dan bertemu pandang dengan manik hitam Daniel.

"Mengenai perasaanmu padaku..." Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendadak salah tingkah.

Kirana mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Apa maksudmu, Daniel?"

Daniel mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan singkat yang sempat membuatnya gelisah sedari tadi. Kerutan di kening Kirana bertambah, ia ikut mengeluarkan ponselnya dan balas menunjukkan rentetan pesan masuk dari Daniel yang diterimanya saat makan siang bersama Kiku.

"Apa-apaan ini? Aku tidak merasa mengirimkan pesan itu padamu." Kata Daniel terheran-heran.

"Begitu juga dengan diriku." Sahut Kirana.

Keduanya terdiam cukup lama.

"Sepertinya aku tahu siapa pelakunya." Ujar Daniel tiba-tiba.

"Ming Yi." Nama itu langsung tercetus dalam pikiran Kirana.

"Kau kenal dia juga?" tanya Daniel heran.

"Tentu saja. Dia nyaris membuat Kiku bertengkar dengan Yong Soo gara-gara Ming Yi mengatakan Yong Soo tertarik padaku─padahal dia tertarik pada plester Pororo di pipiku." Jawab Kirana sedikit menggerutu.

"Gadis itu jahil sekali."

"Awas saja kalau aku bertemu dengannya."

xX_FIN_Xx


OMAKE

Aaachooo!

"Kenapa, Ming Yi?"

Ming Yi menggaruk hidungnya yang mendadak gatal, "Ahaha, tidak apa-apa. Aku hanya bersin kok." Ia mengibas-ngibaskan tangannya sambil tertawa gugup.

Sepertinya aku sudah ketahuan...

Sepertinya ia harus kabur ke suatu tempat dulu. Mungkin ke Los Angeles?

xX_TRUELY FIN!_Xx


Lady Raven, maaf banget kalo kurang memuaskan! TT_TT #pundungngorektanah

Abisnya saya suka Nesia Harem siiih~

Typo silakan lapor dan tunjukkan dimana letaknya ^^

Nah, untuk chapter selanjutnya, saya udah ada plot yang siap ditulis, buat dance in storm siap-siap yah! (?)

Review?