PS: Request dari dance in storm, semoga memuaskan! ^^

Warning: OOC, OC(s), long chapter, AU, Indonesian twins, a bit of Mary Sue/Gary Stu, human name used, maybe plot hole, and other warnings.


xXx_The Untold Story_xXx

Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya

The Untold Story © thisangtjoo

DON'T LIKE DON'T READ

xXx_The Untold Story_xXx


Seorang pemuda berambut cokelat kehitaman menatap lapangan dengan was-was. Ia sampai berdiri tatkala bola bergulir jauh dari bangku penonton. Pusat perhatiannya hanya satu, seorang gadis berambut hitam panjang yang berlari kesana-kemari menggiring bola.

Ayolah kakak, batin pemuda itu dengan kedua tangan terkepal erat di sisi tubuhnya.

Bola bergulir mendekati gawang. Jantung pemuda itu berdetak semakin keras.

Seorang gadis menggenggam kepalan tangannya dengan lembut, mengalihkan perhatiannya. Gadis yang memegang tangannya tersenyum lembut.

"Tenanglah Razak, dia pasti bisa memasukkan bolanya."

Seakan mengamini perkataan gadis tersebut, gadis yang sedari tadi diperhatikan oleh pemuda bernama Razak itu menendang bolanya ke arah gawang dan berhasil. Sedetik kemudian peluit berbunyi panjang tiga kali, menandakan pertandingan selesai. Seketika tepuk tangan dan sorak sorai bergema ke penjuru stadion.

Razak tak dapat menahan dirinya untuk turun ke lapangan, menarik gadis yang tadi bersamanya. Mereka berdua berlari menuju gadis yang tadi berhasil menghasilkan skor dan memeluknya erat-erat.

"Aduh, aduh, hei!" Gadis yang dipeluk tentu saja tidak siap. Ia jatuh ke tanah diikuti dua orang yang memeluknya dan tertawa-tawa bahagia.

"Kau berhasil!" Suara Razak teredam oleh pelukannya sendiri.

"Kirana bau," komentar gadis yang ikut memeluk Kirana sambil tersenyum geli.

"Ini bau kemenangan, Miranda," Kirana menyahuti sambil meleletkan lidahnya. Kedua gadis berwajah identik itu─Miranda dan Kirana─tertawa berbarengan.

"Ayah dan ibu pasti sangat senang. Aku harap Bik Sum masak iga bakar lada hitam nanti malam," kata Razak sambil mengelus perutnya.

Mereka bertiga tertawa senang sampai sebuah suara menghentikan mereka, "Nona Kusnapaharani?"

Kirana mendongak dan langsung berdiri membersihkan seragamnya dari kotoran diikuti dengan Razak dan Miranda. "Ya?" Sahut Kirana sopan.

Seorang pria dengan rambut sedikit beruban menyalami Kirana, "Saya dari Gloria International School, ingin menawarkan beasiswa selama tiga tahun kepada─" perkataannya langsung dipotong.

"G...Gloria?!" Mata Kirana, Razak, dan Miranda melebar. Pria itu mengangguk sambil tersenyum.

"Bagaimana?" Tanya pria itu memastikan.

Karena Kirana tidak kunjung menjawab, Razak mengambil alih, "Tentu saja kakak saya mau."

"Aa. Bagus, ini kartu nama saya, silakan menghubungi nomor ini untuk informasi lebih lanjut mengenai beasiswanya. Permisi," setelah menyerahkan kartu nama, pria itu langsung berlalu dari hadapan tiga bersaudara tersebut.

Selang satu menit kemudian, terdengar teriakan super nyaring yang menggegerkan seisi stadion.

"AKU DITERIMA DI G'LO!"


Gloria International School atau biasa disebut G'Lo adalah sekolah menengah atas yang paling maju dan berkualitas di Jakarta. Gedungnya yang bergaya baroque tampak berkelas bagaikan hotel bintang lima. Fasilitasnya sangat lengkap, guru-gurunya pun sangat berpengalaman di bidangnya─kebanyakan lulusan dari luar negeri. Melihat dari fasilitas yang ditawarkan G'Lo tentu saja biayanya sangat mahal. Oleh karena itu siswa-siswinya sebagian besar─atau hampir keseluruhan─merupakan anak orang kaya, ekspat, dan pejabat penting. Sisanya, tentu saja siswa-siswi beruntung yang menerima beasiswa.

Seperti Kirana yang tengah ternganga di depan patung raksasa berbentuk kuda terbang patriotik G'Lo yang menjadi logo di blazer seragamnya. Di sekeliling patung itu ada musical fountain yang berwarna-warni.

Beberapa siswa indo memandanginya dengan aneh dan Kirana segera mengatupkan mulutnya dan menjaga sikap. Matanya melirik ke seragamnya sendiri, kemeja lengan pendek biru langit yang ditutupi blazer biru dongker dengan dasi senada dan rok cokelat elegan limabelas senti diatas lutut. Menyadari ujung lengan blazer-nya sedikit terlipat, ia cepat-cepat merapikannya.

Sudah cukup terkejutnya, saatnya untuk pergi ke ruang administrasi, Kirana memberitahu dirinya sendiri. Ia pun mulai melangkah masuk ke lobby G'Lo yang─ia tidak bosan mengatakannya─sekelas lobby hotel mewah.

Tapi baru saja tiga langkah, ia dikejutkan oleh suara peluit yang ditiup seorang gadis tinggi semampai. Gadis berambut cokelat madu itu─diikuti dengan dua gadis di kanan-kirinya─menghalangi jalannya.

Kirana melihat ketiga gadis itu sama-sama mengenakan pin bertuliskan fashion police. Matanya kemudian meneliti penampilan ketiga gadis itu. Cukup─tidak, sangat─mencolok sekali. Penuh dengan aksesoris mahal.

"Bag?" Gadis berkulit cokelat yang berdiri di sebelah kanan gadis peluit sambil menunjuk tas selempang Kirana.

"Gucci," Kirana tidak yakin tasnya itu Gucci asli atau replika karena ia membelinya di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta dengan harga yang cukup murah. Jadi kemungkinan besar tas itu palsu atau barang kawe. Namun ketiga gadis itu terlihat tidak menyadarinya. Pffftt...

"Shoes?" Tanya gadis peluit tadi.

Kirana pernah melihat kejadian seperti ini di serial televisi kesukaannya, jadi sedikit-banyak ia tahu cara menghadapinya. Ia menjawab mantap, "Mary Jane."

"Hmm... No accessories?" Gadis peluit itu mencondongkan tubuhnya ke arah Kirana. "Okay, where did you buy your MJ?"

"MJ?" Kirana mengerjap-ngerjapkan matanya, namun beberapa detik kemudian ia mengerti. "Singapore, last month," jawabnya. Itu benar, sepatu itu oleh-oleh dari pamannya saat berada di Singapura bulan lalu.

Sepertinya gadis itu cukup terkesan karena detik selanjutnya mereka bertiga menyingkir dan membiarkan Kirana lewat. Untung saja mereka tidak menanyakan tasnya. Mana mungkin Kirana menjawab 'Beli di Manggis Dua'?

"Huh, menyebalkan sekali kalau setiap hari ditanya-tanya seperti itu," gerutu Kirana pelan. Ia mendekati peta kaca yang diterangi LED dan menelusuri letak ruang administrasi─tak lupa juga dengan toilet dan kantin, dua tempat yang menurutnya penting.

"Merepotkan sekali," Kirana mengeluarkan ponsel android-nya dan memotret peta itu. Jadi ia tidak akan tersesat lagi.

Mungkin.

Setelah mengurusi kepindahannya, akhirnya Kirana dapat langsung menuju kelas pertamanya, Fisika.

"Anjrit! Pakai sistem luar negeri?" ringis Kirana saat melihat jadwal pelajarannya.

Ia sudah bisa merasakan, hidupnya tidak akan sama lagi sejak ia menapakkan kaki di halaman G'Lo tadi pagi.


"Aku pulaang..." Ucap Kirana lesu saat ia tiba di rumahnya.

"Bagaimana G'Lo? Bagaimana?" tanya Miranda yang sedari tadi menunggu di ruang tamu.

"Kereeen..." jawab Kirana dengan suara ditarik-tarik.

Miranda mengerutkan keningnya. Ada yang salah dengan kembaran-lima-menitnya ini.

"G'Lo memang keren. TAPI, begitu masuk kau akan dihadang oleh tiga fashion police, lalu setiap dekat dengan murid lain kau akan mencium aroma parfum mahal! Belum lagi kau akan ditanya-tanya tentang pekerjaan orang tuamu, lalu jumlah mobil yang kau punya, lalu negara mana saja yang pernah kau kunjungi, blablabla..." racau Kirana kesal sambil mengacak rambutnya yang sudah kusut.

"Lalu apa masalahnya? Pekerjaan ayah ibu kan lumayan 'keren'. Mobil, kita punya satu...dua...tiga... banyak! Masalah negara, kita kan pernah ke Malaysia dan Singapura? Kalau kurang, katakan saja semua negara yang pernah ayah kunjungi!" Miranda tertawa melihat kekesalan Kirana.

"Mobil banyak? Kita hanya punya satu, Miranda. Pekerjaan orang tua 'keren' apanya..." Kirana berdecak.

"Manfaatkan saja jumlah mobil yang ada di sorum─showroom─perusahaan ayah! Belum lagi yang sedang diproduksi! Hihihi..." Miranda terkikik sebentar sebelum berdeham, "Aku ingin ke taman bunga. Kau mau ikut?"

"Aku ingin tidur siang saja." Tolak Kirana. Miranda menaikkan bahunya dan keluar rumah. Tujuannya tentu saja taman bunga yang sekarang bunga-bunganya sedang bermekaran.

"Laas nait~ guud nait~"

Miranda mendendangkan lagu favoritnya─Last Night Good Night-nya Hatsune Miku yang juga merupakan lagu kesukaan author─saat ia tiba di taman bunga. Ia segera menghampiri ayunan dan duduk di atasnya sambil memejamkan mata, menikmati kesunyian yang melingkupi dirinya.

Saking asyiknya bernyanyi─walau pelafalan banyak yang salah, ia tidak menyadari kehadiran seseorang yang lain di ayunan sebelahnya. Seseorang itupun tidak keberatan kehadirannya tidak disadari Miranda.

Beberapa saat kemudian setelah bernyanyi, barulah gadis itu menyadari sosok asing di sebelahnya.

"Hai, selamat siang."

Miranda diam memandangi pemuda berambut pirang dan beralis tebal yang baru saja menyapanya dalam bahasa yang tidak diketahuinya.

Pemuda itu mengerutkan alis tebalnya dan melambaikan tangannya di depan muka Miranda, "Haloo? Kau mendengarku?"

Alis Miranda naik satu. Tadi ia mendengar 'helloo' terucap dari bibir pemuda itu sebelum menanyakan sesuatu yang kira-kira bunyinya 'du yu hir mi'. Mungkin artinya 'halo'.

"Oh, halo." Balas Miranda sambil tersenyum.

Pemuda tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya, "Namaku Arthur Kirkland, salam kenal. Aku pindahan dari Inggris."

Miranda menatap tangan Arthur yang terulur padanya. Dan lagi-lagi Arthur mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.

Arthur mengerutkan keningnya dan menarik kembali tangannya. Ia sudah menggunakan bahasa Inggris yang paling mudah dimengerti untuk gadis ini. Tapi sepertinya gadis ini tidak mengerti sama sekali apa yang diucapkannya.

"Kau siapa?" tanya Miranda. Arthur memiringkan kepalanya, tidak mengerti.

Miranda menunjuk Arthur, "Kau..." lalu ia menaikkan bagian bawah telapak tangannya hingga sejajar dan bertanya, "siapa?"

Sialnya, Arthur salah menginterpretasikan isyarat Miranda. Ia menoleh ke belakang, mencari sesuatu yang mungkin membuat gadis itu menunjuknya. Ia mendengar gadis itu menepuk keningnya keras.

"Susah ngomong sama bule!" Arthur mendengar gadis itu menggerutu kemudian beranjak pergi. Ia menahan lengan gadis itu dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengulurkan ponselnya ke arah Miranda.

"He?" Miranda melihat Arthur menggoyangkan jempol dan kelingkingnya di dekat telinga. Oh, mungkin maksudnya minta nomor ponsel?

Aku tidak punya ponsel. Bagaimana ini? Eh, pakai nomor ponselnya Kirana bisa kali ya?

Maka Miranda mengetikkan nomor ponsel Kirana di ponsel Arthur.

"Kirana, Kirana." Ucap Miranda sambil menunjuk nomor ponsel Kirana di layar ponsel Arthur. Arthur mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Ia menyimpan nomor itu dengan nama 'Key Rana'.

"Thank you..."

Gadis itu tersenyum manis, entah mengerti maksudnya atau tidak.


Berbekal pengalaman berhadapan dengan fashion police di hari pertamanya, Kirana mulai mengenakan aksesori mahal─meminjam koleksi ibunya─dan menghafalkan tetek-bengek yang berhubungan dengan origin aksesorinya tersebut.

Ia juga mengetahui bahwa siswa-siswi G'Lo terpecah-pecah dalam geng yang memiliki kasta. Ibaratnya seperti piramida. Ada geng yang menempati dasar piramida dan ada juga geng yang menempati puncak. Merepotkan─mengutip quote yang sering diucapkan oleh salah satu karakter ninja di animanga Jepang kesukaannya. Ia sendiri tidak berusaha untuk menjadi anggota geng dan mencari teman. Ia hanya memfokuskan dirinya ke olahraga dan berprinsip selama ia berbuat baik kepada sesama, maka teman akan datang dengan sendirinya.

Namun ternyata prinsipnya itu sama sekali tidak mudah dilaksanakan, karena dalam rentang waktu tiga hari kemudian ia sudah jadi sasaran empuk bullying. Dijadikan sasaran setiap permainan truth or dare─serius, pernah ada seorang siswa berdarah Italia yang tiba-tiba saja main nyosor ke bibirnya─beruntung ia berkelit cepat sehingga bibir pemuda itu mendarat di rambutnya─roknya pernah digunting jadi sangat pendek sehingga Kirana menjadi pusat perhatian para siswa, nyaris diraep oleh kakak kelas berkebangsaan Perancis─nyaris, karena dia memanfaatkan kakinya yang jago menendang─dan semacamnya.

Dan pagi ini─setelah sukses menghindari siraman air got, lemparan telur dan tepung─Kirana duduk di kelas Kimia dengan selamat. Dari selentingan yang ia dengar, ada seorang guru magang baru berasal dari Inggris yang akan mengajar Kimia hari ini. Tampan. Masih muda, berumur duapuluhdua tahun. Dan lajang. Serta gentleman.

Ngomong-ngomong tentang Inggris, Kirana jadi teringat pada pesan singkat berbahasa Inggris yang masuk ke ponselnya akhir-akhir ini, dari orang tidak dikenal yang mengaku-ngaku bernama Arthur Kirkland. Orang itu memanggilnya 'Key Rana'─yang membuat Kirana kesal setengah mati, kenapa namanya diubah-ubah menjadi aneh begitu. Ia juga bingung darimana Arthur Kirkland mendapat nomor ponselnya─ia mencurigai beberapa siswa-siswi G'Lo yang jahil itu pelakunya. Menyimpulkan si Arthur Kirkland ini adalah orang iseng, Kirana memutuskan untuk mengabaikan pesan-pesannya.

Lamunan Kirana buyar saat ia merasakan kehadiran seorang pria muda berambut pirang berpakaian rapi membawa tas ke kelasnya. Ia menatap alis tebal pria itu dengan takjub. Ada ya, alis setebal itu?

Pria itu menuliskan namanya dan Kirana merasa tubuhnya seperti disiram air dingin live dari Russia. Bukannya ia pernah disiram betulan sih.

Namanya Arthur Kirkland. Biar diperjelas, ARTHUR KIRKLAND.

Berarti yang mengiriminya pesan singkat sok kenal itu guru? Guru? GURU?!

Mata hijau Arthur terarah padanya dan reaksi pria itu juga kurang lebih sama dengan Kirana.

Ia kenal aku? Batin Kirana bingung─dan merasa tidak sopan karena menggunakan 'ia' sebagai kata ganti untuk guru itu.

Jengah berlama-lama beradu pandang, Kirana menunduk dan memutuskan untuk mengeluarkan buku dan alat tulisnya.

Arthur berjalan berkeliling sembari memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris dengan logat british yang kental. Ia berhenti di samping Kirana dan menumpukan tangan kirinya di meja Kirana sembari melanjutkan perkenalannya.

Kirana menunduk menatap jari telunjuk Arthur yang bergerak mengetuk-ngetuk bangkunya. Aroma mint dan citrus tercium dari tubuh guru muda yang tampan itu.

Dan Kirana merasakan pundaknya disentuh. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Arthur tersenyum tipis padanya. Kirana menunduk lagi. Pasti sebentar lagi aku digosipkan dekat dengan Sir Arthur.


"Key." Panggil Arthur saat Kirana melintas di depan minimarket G'Lo sepulang sekolah. Kirana yang tidak menyadari kalau Arthur memanggilnya terus berjalan menuju lobby.

Arthur mengejar Kirana dan menarik pergelangan tangannya. Kirana menjerit namun Arthur cepat-cepat meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.

"Sir Arthur?" tanya Kirana kaget.

Arthur melepas genggamannya dan berjalan di sebelah Kirana yang memandanginya seolah baru melihat hantu.

"Mengapa kau tidak membalas pesan-pesanku?" tanya Arthur.

"Aku..." Kirana terdiam, "a-aku tidak mengenal Sir Arthur sebelum ini."

"Tidak. Kau mengenalku." Kata Arthur sambil mengerutkan alis tebalnya.

Mereka melangkah keluar dari gerbang G'Lo. Kirana mempercepat langkahnya diikuti Arthur.

"Diluar sekolah, tolong panggil aku Arthur saja." Ucap Arthur. Kirana mengangguk tanpa suara.

"Kita bertemu di taman bunga tempo hari, ingat?" tanya Arthur kemudian.

Kirana menggeleng pelan. "Aku tidak pernah ke taman bunga sama sekali."

Arthur menelengkan kepalanya, "Lalu yang kutemui di taman bunga itu siapa?"

Mendadak Kirana membelalakkan matanya, ia menepuk lengan Arthur keras, "Itu pasti saudara kembarku!"

"Apa? Saudara kembar? Kau punya saudara kembar?" ulang Arthur tidak percaya.

"Mm. Dan dia memang sering pergi ke taman bunga." Kirana mengangguk.

"Apa dia bersekolah di G'Lo juga?"

"Tidak. Dia homeschool."

"Kenapa?"

"Dia memiliki kelainan fungsi otak yang membatasi kemampuan belajarnya. Jadi ia tidak bisa belajar di sekolah biasa." Jelas Kirana dengan nada sendu.

Arthur tidak bersuara. Ia memandangi Kirana dengan prihatin. Kirana menyunggingkan senyum miris.

"Well, aku pulang dulu, Sir─"

"Arthur."

"Ah, ya, Arthur." Kirana merasa tidak nyaman mengatakannya. "Sampai jumpa." Kirana melangkah masuk ke rumah putih bertingkat dua sederhana yang bergaya rumah pedesaan Inggris dengan taman bunga warna-warni. Arthur tersenyum dan melambaikan tangannya.

Melewati taman bunga, lagi-lagi Arthur mendengar nyanyian seorang gadis, nyanyian yang sama seperti yang ia dengar tempo hari. Nyanyian yang pelafalannya salah, namun herannya sangat menarik.

"Pelafalannya salah, Miranda. Seharusnya begini─" Arthur mendengar suara laki-laki yang memotong nyanyian gadis itu.

Arthur mempercepat langkahnya menuju taman bunga. Kemudian ia melihat saudara kembar Kirana duduk membelakanginya diatas ayunan berdua dengan seorang laki-laki muda berkacamata dan berambut hitam.

Siapa dia?

Arthur hanya dapat melihat punggung mereka berdua dari kejauhan. Niat awalnya untuk menghampiri Miranda dan mengajaknya mengobrol ia urungkan. Sepertinya Miranda sedang belajar. Dilihat dari wajahnya yang serius.

PLAK!

"Hey!"

Arthur terlonjak kaget. Ia berbalik, siap mengeluarkan umpatannya pada orang yang menepuk bahunya. Tapi semua umpatannya tertelan kembali saat melihat Kirana yang menatapnya heran. Gadis itu telah mengganti seragam sekolahnya dengan kaus tanpa lengan abu-abu dan celana pendek selutut kurang berbahan spandex warna putih bergaris abu-abu di pinggir. Rambut panjangnya dibuntut kuda tinggi. Ia mengenakan sepatu olahraga warna putih polos, handband putih melingkar di pergelangan tangan kirinya dan tas selempang kecil di bahu kirinya.

Arthur ternganga, begitu cepat sudah ganti baju? Apa dia tidak makan siang dulu?

"Sir─I mean, Arthur, what are you doing here?" tanya Kirana.

"Aku hanya lewat saja." Jawab Arthur. "Kau mau kemana?"

"Latihan sepak bola." Kirana tersenyum, "Mau ikut?"

"Sepak bola? Boleh juga." Arthur balas tersenyum.

Siang itu, Arthur bermain sepak bola bersama Kirana dan teman-temannya hingga menjelang malam.


Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berganti. Hubungan Arthur dan Kirana semakin akrab. Di sekolah status mereka adalah guru-murid, namun di luar sekolah status mereka adalah sahabat. Arthur sering berkunjung ke rumah Kirana─sekaligus untuk mendekati Miranda, ia tertarik pada gadis itu─dan begitu pula sebaliknya sehingga orang tua Kirana sudah menganggap Arthur yang tinggal sendiri di apartemen sebagai keluarga. Arthur sering bermain sepak bola bersama Kirana dan teman-temannya di lapangan yang berada di kawasan perumahan tempat tinggal Kirana.

Kirana menjadi bintang sepak bola di G'Lo karena berkat gol-gol terbaiknya, tim sepak bola G'Lo selalu meraih kemenangan─kalah pun mereka kalah tipis dan itu sangat dimaklumi. Kirana menjadi populer dan memiliki banyak teman serta banyak geng-geng murid populer yang memintanya untuk jadi anggota. Tidak ada lagi yang berani menjahili dan mem-bully Kirana seperti di awal pertama jadi siswa baru setahun yang lalu. Kirana menjadi siswi populer pertama yang tidak memiliki geng di G'Lo. Satu hal yang membuatnya disukai oleh banyak orang.

Seperti saat ini, saat ia pergi ke kafeteria G'Lo yang disesaki murid, ada satu meja kosong yang ia tahu sengaja disiapkan untuknya.

Kirana menarik napas panjang. Entah kenapa akhir-akhir ini napasnya terasa berat. Mungkin karena kesibukan kelas akhir membuatnya kurang istirahat.

"Hai, Kirana."

"Hello, Kirana!"

"Bonjour~"

Kirana menyunggingkan senyumnya dan membalas sapaan demi sapaan yang ditujukan padanya. Ia memesan makanannya dan menduduki tempat yang tersedia. Segera saja tiga murid yang 'bekerja' sebagai fashion police─yang pernah menyudutkannya di hari pertama─bergabung dengannya.

Kirana menarik napas dalam-dalam dan mengerenyit. Ia mencobanya berkali-kali. Kenapa berat sekali?

"Kirana, your face look pale." Kata gadis berambut cokelat madu yang memakai kalung dengan peluit di lehernya─Kirana mengenalinya sebagai Irish, gadis asal Irlandia.

"Benarkah?" tanya Kirana. Ia menepuk-nepuk dadanya agar beban yang seakan mengimpitnya hilang. Namun tidak berhasil. Napasnya justru lebih berat dari sebelumnya.

"Hey, Kirana, are you okay?!" Samantha, gadis asal Amerika yang berambut cokelat itu menatap Kirana khawatir.

"hhh... hhh─I'm okayhh..." Kirana mengangguk, tarikan napasnya mulai berbunyi. "Aku─hhh...k-ke toilet duluhh..." Kirana berdiri dan rasa pusing yang hebat langsung mendera kepalanya. Titik-titik hitam memenuhi pandangannya dan membuat semua menjadi mengabur.

"Oh my god! Kirana!" hanya itu yang Kirana dengar sebelum kegelapan menyambutnya.


Arthur memasukkan dokumen-dokumen yang berada di meja ke dalam tas kerja hitam yang ditentengnya. Ia bersiap mengajar di kelas kimia. Ia membuka pintu ruang guru dan keluar. Suara berisik murid-murid yang bergerombol di dekat kantin menarik perhatiannya. Arthur memutuskan untuk menghampiri kerumunan itu.

"What's wrong?" tanya Arthur. Para murid langsung memberinya jalan sehingga ia tiba di tengah kerumunan.

"Sir, Kirana jatuh pingsan."

Mata Arthur melebar melihat Kirana terbaring tak sadarkan diri di lantai dengan tiga orang gadis yang berusaha memberinya pertolongan pertama.

"Biar aku yang menanganinya." Kata Arthur pada ketiga gadis itu. "Tolong bukakan pintu klinik." Kedua tangannya yang besar mengangkat tubuh Kirana secara bridal style dengan gaya khas seorang gentleman. Diluar dugaan, tubuh Kirana terasa sangat ringkih dalam gendongannya. Ia membawa Kirana ke G'Linic diikuti tiga gadis di belakangnya.

"Kenapa dia bisa sampai pingsan?" tanya Arthur setelah membaringkan Kirana di salah satu ranjang G'Linic dan membiarkan dokter G'Linic memeriksanya.

"Kami tidak tahu. Saat kami makan siang dengannya Kirana sudah terlihat kurang sehat. Wajahnya pucat dan napasnya terputus-putus." Jawab Samantha.

"Ya sudah kalau begitu. Kalian pergilah ke kelas masing-masing. Aku akan mengurusnya disini. Katakan pada Mr. Wicaksono untuk menggantikanku." Ketiga gadis itu mengangguk dan berlalu pergi.

Arthur menghela napas panjang dan mendudukkan dirinya di sofa G'Linic. Mata hijaunya mengawasi dokter yang tengah menangani Kirana. Beberapa menit kemudian dokter itu keluar dari bilik dan Arthur langsung berdiri menghadangnya untuk minta penjelasan.

"Dia baik-baik saja dan sudah siuman sekarang. Mungkin dia hanya kelelahan." Ujar dokter dan Arthur mengangguk puas. Ia menyibak tirai bilik dengan pelan dan mendapati Kirana tengah memandanginya tanpa ekspresi.

"Kenapa kau bisa sampai pingsan?" tanya Arthur setelah mendudukkan dirinya di tepi ranjang.

Kirana menyunggingkan senyum lemah, "Aku baik-baik saja, kok. Nih, aku sudah siuman sekarang."

Arthur mengerutkan alisnya, "Itu bukan jawaban, Key."

Sesaat kemudian Kirana dibuat terkejut dengan Arthur yang tiba-tiba menggenggam tangan kanannya dan menempelkannya ke pipinya yang hangat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah samping, memandangi lantai G'Linic yang berwarna putih bersih.

"Aku takut terjadi apa-apa pada sahabatku." Kata Arthur pelan. Karena kaulah sahabat pertamaku.

Arthur memandangi tangan kuning langsat Kirana yang ditempelkan ke pipinya. Ia mengerenyit saat menyadari kehadiran bercak-bercak kebiruan yang tidak wajar menghiasi tangan gadis itu.

"Key," Kirana menoleh, "Bercak apa ini?" mata hitamnya menatap tangan kanannya dan Arthur bergantian. Beberapa saat kemudian ia menggeleng pelan.

"Tidak tahu?" tanya Arthur dengan sorot mata cemas. Kirana menggeleng lagi.

"Sudah berapa lama kau menyadari bercak-bercak biru ini ada?" tanya Arthur lagi. Kirana mengangkat kelima jarinya.

"Lima hari?" tanya Arthur memastikan. Kirana mengangguk sekali.

"Orang tuamu harus diberi tahu." Ucap Arthur. Kirana membelalak kaget.

"Jangan..." pinta Kirana lirih. Kalau orang tuanya tahu, bisa-bisa ia dimasukkan homeschool juga seperti Miranda dan harus menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Ia tidak mau.

Arthur menatapnya tajam. "Kenapa?"

"Aku tidak mau jadi seperti Miranda..."

Ada perubahan dalam raut wajah Arthur saat Kirana menyebut nama saudara kembarnya itu. Ada binar di manik emerald pemuda tampan itu.

Kirana bangun, mengubah posisinya menjadi duduk. Ia mencengkeram lengan jas hitam yang dikenakan Arthur dan menunduk menyandarkan keningnya ke lengan Arthur sambil memohon-mohon agar Arthur tidak melaporkannya ke orang tuanya.

Arthur tertegun. Tapi kemudian ia menyandarkan kepalanya ke kepala Kirana dan mengelus punggung Kirana dengan lembut. Dalam hatinya ia menyadari Kirana menjadi jauh lebih kurus dibanding saat pertama kali bertemu di kelas Kimia. Ia mulai merasakan ketakutan akan kehilangan─firasat buruk. Ia tidak tahu kenapa, tapi perasaan takut itu sangat kuat di hatinya.

"Aku tidak akan melaporkannya." Arthur diam sejenak, "Tapi pastikan kau banyak istirahat dan makan."


Sejak Kirana pingsan untuk yang pertama kalinya di kantin, Kirana mulai sering sakit-sakitan. Terutama karena intensitas latihannya semakin bertambah karena memasuki musim pertandingan antar SMA yang bergengsi di Jakarta. Sejauh ini ia berhasil mencegah Arthur untuk melaporkan kondisinya kepada orang tuanya yang sekarang tengah berada di luar negeri─ayahnya berada di Jepang dan ibunya berada di New York mengurus perusahaan majalahnya yang baru didirikannya.

Dan hari ini Kirana ambruk lagi gara-gara terlalu keras berlatih. Arthur yang selalu menungguinya di pinggir lapangan─untuk berjaga-jaga kalau Kirana pingsan lagi─sigap bertindak.

"Sir, kau harus mengajar hari ini..." kata Kirana lelah setelah ia siuman dan lagi-lagi mendapati Arthur duduk di tepi ranjangnya, seperti sebelumnya.

"Benarkah kau sama sekali tidak tahu kau sedang sakit apa?" tanya Arthur dengan tatapan tajam, tak mempedulikan pertanyaan Kirana.

Kirana mengalihkan pandangannya, "A-aku tidak tahu."

"Key, serius." Arthur menyentuh kedua pipi Kirana dan menolehkannya dengan lembut.

"Sir," Kirana melepaskan kedua tangan Arthur yang merangkum pipinya, "Ini sekolah, Sir. Kumohon jangan lakukan interaksi fisik seperti ini. Kabar burung tentang kita sudah banyak beredar di kalangan siswa."

Arthur segera menjauhkan seluruh anggota tubuhnya dari kontak fisik dengan Kirana, "Kau tidak menjawab pertanyaanku."

"Kumohon jangan mendekatiku di sekolah, Sir. Aku tidak mau orang-orang mengira kita ada affair atau apa." Kirana menyibak selimut yang membungkusnya dan pergi dari tempat itu tanpa memedulikan Arthur yang terus memanggil namanya.

"Kirana Kusnapaharani, memiliki suatu hubungan yang lebih dari sekedar murid ke guru dengan Sir Arthur Kirkland. Interesting."

Kirana berhenti dan menoleh dengan kaget. Di hadapannya, seorang pemuda berambut auburn dengan ahoge di sisi kanan kepalanya dan bermata amber berjalan santai ke arahnya. Kirana mengenalinya sebagai Lovino Vargas─saudara kembar dari pemuda yang pernah nyaris mencuri first kiss-nya di saat ia masih sering di-bully.

"Apa maksudmu?" Kirana mengerenyitkan alisnya, merasa terganggu dengan perkataan Lovino. Pemuda berahoge itu terus mendekatinya tanpa menjawab pertanyaannya sehingga Kirana terpojok.

"Rambut hitam yang halus ini," Lovino meraih sejumput rambut Kirana dan menciumnya, "Sering dibelai oleh Sir Arthur." Ia membelai rambut Kirana. Membuat Kirana keheranan.

"Punggung yang mungil ini," satu tangan Lovino bergerak ke belakang punggung Kirana dan menjelajahinya. "Ah." Kirana menggeliat tidak nyaman. Kedua tangannya berusaha menyingkirkan tangan Lovino─yang segera dicengkeram erat dengan satu tangan. "Pasti sering disentuh dan ditepuk-tepuk oleh Sir."

Tiba-tiba Lovino menginjak kedua kaki Kirana dan membebankan berat tubuhnya pada kedua kaki Kirana yang malang sampai tidak bisa bergerak.

"Aw! Lovino, kau mau apa, sih? Get off from me!" Kirana mengerang. Ia mencoba melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman tangan besar Lovino yang kuat.

Lovino menunduk memandangi kedua tangan Kirana yang membiru, "Tangan mungil yang biru ini, pasti tak pernah absen berada dalam genggaman Sir Arthur." Ia mendongak melihat Kirana yang mengerenyit kesakitan.

"Lovino! I said─" ucapan Kirana terputus saat dagunya dicengkeram dan didongakkan secara paksa oleh Lovino.

"Bibir seksi ini," Lovino melanjutkan, "Pasti pernah dikecup oleh beliau." Kemudian ia mencondongkan wajahnya. Kirana membelalak horor dan memberontak hebat.

"Lovino! Kau ini apa-apaan sih! LOVINO VARGAS!" jerit Kirana saat jarak antar wajah mereka terpaut beberapa senti. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tapi tangan Lovino mencegahnya.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat saat sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Ia terus-terusan menggumamkan tidak dalam hatinya.

Ia sudah memutuskan untuk membunuh Lovino setelah ini ketika terdengar suara deheman yang maskulin di dekatnya. Ia membuka matanya dan melihat ada dua jari tangan─telunjuk dan jari tengah─yang mencegah bibirnya bertemu dengan bibir Lovino. Ia menoleh dan langsung mengalihkan pandangannya saat bertatapan dengan emerald yang berkilat-kilat marah.

"Sir." Lovino melepaskan cengkeramannya dan menjauh dari Kirana yang langsung merosot lemah.

Arthur menatap Lovino tajam, "Lovino Vargas, detensi sepulang sekolah!"


Sepulang dari mengajar, Arthur merasa seperti kejatuhan durian runtuh saat mendapati Miranda duduk sendirian di taman bunga. Dengan kamus percakapan bahasa Indonesia-Inggris yang selalu siap sedia di tas kerjanya, ia segera menghampiri gadis itu dan duduk di ayunan sebelahnya.

Miranda menoleh saat merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya. Ia menyunggingkan senyum lembutnya.

"Hai, Mey."

"Hai, Ahtur." Arthur meringis mendengar namanya masih saja salah diucapkan oleh Miranda. Tapi tak apalah, setidaknya gadis itu tahu namanya. "Kirana bilang kau mengajar di G'Lo."

"Mm. Aku mengajar kelas Kimia." Jawab Arthur sambil menyunggingkan senyum gentleman-nya.

"Oh, keren." Mata hitam Miranda yang identik dengan milik Kirana melebar karena kekaguman. "Oh iya, akhir-akhir ini Kirana sering pingsan di rumah. Aku juga mendapati ia sering kesulitan bernapas. Ketika ditanya dia hanya mengatakan kalau dia kelelahan, tapi aku yakin penyebabnya lebih dari sekedar kelelahan. Apa kau tahu sesuatu tentang itu?" tanyanya kemudian, yang membuat punggung Arthur menegak seketika.

"Tidak." Arthur terkejut mendapati suaranya agak bergetar, "A-aku tidak tahu."

"Begitu ya?" Miranda menatap rerumputan dengan murung, "Soalnya aku mempunyai firasat buruk kalau dia..."

"Dia apa?" tanya Arthur cepat, langsung merasa was-was. Bukan apa-apa, firasat saudara kembar biasanya akurat.

"...ah, tidak. Bukan apa-apa, kok. Aku memang sering melantur kemana-mana." Miranda tersenyum lebar.

Arthur sudah terlanjur merasa cemas. Pasalnya, ia merasakan firasat buruk tentang Kirana saat gadis itu pertama kali pingsan dan kini Miranda merasakan firasat yang sama. Apakah firasatnya akan terbukti?

"Kak Miranda! Kak Miranda!" seketika perhatian keduanya teralih pada seorang anak laki-laki berusia limabelas tahun yang berlari mendekatinya dengan wajah cemas luar biasa.

"Ada apa, Razak?" tanya Miranda.

"Kak Kirana, kak..." Razak mengatur napasnya yang tersengal-sengal, "Kak Kirana pingsan lagi."

Tidak butuh waktu lama, ketiga pasang kaki itu segera berlari menuju rumah Kirana. Untuk menemukan Kirana yang tergeletak pingsan di dapur dengan botol-botol bumbu yang berceceran di dekatnya dan Bik Sum yang terus memanggil-manggil nama Kirana dengan cemas.

Arthur tidak mempunyai pilihan lagi selain membawanya ke rumah sakit.


Kirana membuka matanya dan cahaya putih yang menyilaukan merasuk dalam pandangannya. Ia mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang terasa lengket dan berat.

"Sudah sadar?" tanya Arthur. Kirana menoleh ke arahnya dan membuka mulutnya yang kering namun tidak ada suara yang bisa keluar dari sana, hanya erangan pelan yang tidak jelas.

"Sssh... Jangan bicara dulu. Kau sudah pingsan disini selama lima hari."

Lima hari? Kirana mengerenyitkan keningnya. Ia menggerakkan tangan kirinya namun segera menyadari adanya jarum infus yang tertanam di punggung tangannya. Pantas saja ia merasa tangan kirinya membengkak.

CKLEK

Pintu terbuka dan masuklah seorang dokter separuh baya berwajah ramah dengan dua perawat di belakangnya. Pria itu tersenyum pada Kirana.

"Bagaimana perasaanmu? Sudah baikan?" tanya dokter itu berbasa-basi. Kirana mengangguk lemah.

"Aku...sakit apa?" tanya Kirana yang lebih mirip sebuah bisikan.

"Kau hanya terlalu lelah, Kirana sayang." Dokter itu menyunggingkan senyum malaikatnya lagi, "Kau kehilangan banyak sekali cairan tubuh. Makanya kau berada disini." Tangan besar yang hangat itu mengelus puncak kepala Kirana dengan lembut.

Arthur melirik dokter yang mengenakan name tag Wisnu Kuncoro itu. Kata-kata yang baru saja diucapkan dokter Wisnu─begitu ia memanggilnya─berbeda sekali dengan apa yang telah dikatakannya tempo hari, saat Arthur menanyakan kondisi Kirana padanya di ruangan terpisah.

"Baiklah, mari kita ganti botol infusmu." Dokter berdarah Bali itu memberi isyarat pada dua perawat di belakangnya untuk mengambilkan botol infus yang baru. Kirana hanya memandangi dokter Wisnu yang sibuk mengganti botol infusnya yang hampir habis dengan yang baru.

Lalu pandangannya beralih pada Arthur yang duduk di dekat ranjangnya dan bertanya dengan suara yang lebih lancar, "Miranda dan Razak kemana?"

"Mereka sedang makan malam di kafeteria." Jawab Arthur.

"Kau sendiri sudah makan?" tanya Kirana.

"Mm." Gumam Arthur.

"Ah! Tanggal berapa sekarang?" tanya Kirana.

"10 Maret." Jawab Arthur kalem.

Mata Kirana membelalak lebar, "Seminggu lagi kan ada pertandingan!"

"Pertandingan apa?" tanya dokter Wisnu ingin tahu. Rupanya pria itu telah selesai mengganti botol infus Kirana.

"Umm, pertandingan sepak bola antar SMA, dok." Jawab Kirana malu-malu.

"Wah, kamu suka olahraga, ya?" tanya dokter Wisnu. "Tapi sebaiknya kamu jangan terlalu memaksakan diri, sayang."

"Tapi ini pertandingan yang sangat penting bagiku dan bagi sekolahku, dokter! Aku harus latihan!" Kirana bersikeras.

"Aku takut kondisi tubuhmu akan drop bahkan sebelum pertandingan dimulai."

Arthur bergantian memandangi dokter Wisnu dan Kirana yang sibuk berdebat. Kirana dengan mata yang memancarkan semangat yang menyala-nyala dan dokter Wisnu dengan sorot mata yang dipenuhi kesedihan.

"Doc, biarkan saya yang menanganinya. Pertandingan itu sangat penting baginya karena itulah mimpinya. Saya akan pastikan dia menjaga kondisi tubuhnya. Please." Arthur akhirnya angkat suara.

Perdebatan itu terhenti seketika. Kirana dan dokter Wisnu menatap Arthur dengan sorot yang berbeda. Dokter Wisnu menatapnya dengan penuh keraguan sedangkan Kirana menatapnya penuh terima kasih.


Kirana duduk memainkan kedua tangannya yang sudah terbebas dari jarum infus. Rambut panjangnya yang dibuntut kuda miring bergerak dihembus angin semilir. Training olahraga berupa celana pendek selutut kurang dan kaus lengan pendek berwarna putih-biru muda membalut tubuh kurusnya. Ia menatap rekan-rekan setimnya yang sibuk berlari-lari mengejar bola dengan pandangan sedih.

"Iri, ya?" tiba-tiba ia dikagetkan dengan kehadiran Lovino di sebelahnya. Ia segera beringsut menjauh, membuat Lovino terkekeh pelan.

"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah sekarang jam pelajaran?" tanya Kirana heran.

"Kau tak menyadari aku memakai seragam yang persis seperti yang kau kenakan?" Lovino balik bertanya dengan mata dibelalakkan. "Aku anggota tim sepak bola putra, Nona."

Kirana tersentak dan wajahnya merona saat ia baru menyadari Lovino juga memakai training olahraga, "Maaf."

Lovino melemparkan sebotol minuman isotonik ke arahnya─yang segera ditangkap dengan refleks yang bagus oleh Kirana, "Untukmu. Minumlah."

"Thanks." Kata Kirana pelan.

"Mm." Setelah hening sejenak, Lovino bertanya, "Apa hubunganmu dengan Sir Arthur? Aku tahu hubungan kalian tidak sesederhana hubungan murid-guru."

Kirana sempat terkejut namun ia dengan tangkas balik bertanya, "Kenapa kau ingin tahu tentang hal itu? Kenapa kau peduli?"

Pertanyaan yang mampu membuat wajah Lovino memerah untuk sepersekian detik dan membuatnya tidak bisa berkata-kata. Namun ia beruntung karena Kirana tidak menanti jawaban darinya karena detik berikutnya ia sudah menjawab, "Sir Arthur itu sahabat dekatku. Well, kalau kau bertanya bagaimana prosesnya, ceritanya akan sangat panjang. Intinya, Sir Arthur bertemu dengan saudara kembarku dan salah mengenalinya sebagai diriku. Lalu kami berteman. Itu saja." Kirana tersenyum ke arah Lovino yang hanya diam menatapnya.

Coach Mike─pelatih tim sepak bola putri─memanggilnya dan Kirana segera berdiri. Ia baru saja akan berjalan ketika mendadak Lovino meraih pergelangan tangan kirinya dan membisikkan sesuatu.

"Stay alive, please."

Kirana menoleh heran kepada Lovino. Namun Lovino hanya menatapnya datar dan mengulangi ucapannya.

"Stay alive, Kirana." Kirana mengerutkan alisnya tidak mengerti.

Memangnya aku akan mati, ya?


Tidak terasa seminggu telah berlalu. Dengan segala perjuangannya dan bantuan dari Arthur, akhirnya Kirana berhasil mempertahankan kondisi tubuhnya─walaupun ia masih sering mengalami sesak napas, setidaknya ia tidak sampai pingsan. Sampai sekarang ia masih belum tahu yang sesungguhnya tentang kondisi tubuhnya. Semua orang seakan menyembunyikan sesuatu darinya.

Kirana menatap pantulan dirinya di cermin toilet stadion. Seorang gadis cantik bertubuh kurus dengan rambut dibuntut kuda tinggi dengan pita biru muda-putih dan berseragam sepak bola G'Lo yang didominasi warna biru muda balik menatapnya.

Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan matanya, berdoa agar ia dapat bertahan hari ini. Setidaknya sampai pertandingan ini selesai. Ia benar-benar tidak mau kondisinya drop di tengah-tengah pertandingan dan menyusahkan rekan-rekannya.

"Kirana, sudah siap? Ayo berkumpul disana, pertandingan akan dimulai sepuluh menit lagi." Coach Mike memanggil Kirana dari luar toilet.

Kirana membuka matanya dan segera berlari menuju tempat yang disebut coach Mike.

Ia siap bertanding sekarang.


Arthur, Razak, Miranda, dan dokter Wisnu─berdalih khawatir terhadap kesehatan Kirana, menyembunyikan fakta kalau ia juga menyukai sepak bola─duduk di deretan VIP stadion, menatap penuh kecemasan pada Kirana yang berlari kesana-kemari dengan lincah. Kuncir rambutnya bergerak kesana-kemari seiring dengan pergerakan kedua kaki panjangnya.

"Dasar Kirana itu, keras kepala sekali." Dokter Wisnu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tapi aku akui, dia memang hebat." Katanya saat Kirana berhasil menelurkan satu gol ke gawang lawan.

Arthur menyunggingkan senyumnya, "Memang. Tapi kalau dia tidak keras kepala, bukan Kirana Kusnapaharani namanya."

Razak dan Miranda terlalu sibuk mengomentari jalannya pertandingan sehingga tidak mendengarkan pembicaraan kedua orang dewasa tersebut. Waktu sudah hampir habis dan skor antar tim seimbang.

"DAMN IT!" maki Razak saat seorang pemain Nusantara High School─NHS─menjegal kaki pemain G'Lo hingga terjatuh. Namun tak ada reaksi yang berarti dari sang wasit, yang menandakan hal itu bukan pelanggaran.

"Hei! Itu pelanggaran!" seru Arthur.

Dokter Wisnu mengepalkan kedua tangannya dan ikut meneriaki sang wasit, tak mau kalah dari Arthur. Tiba-tiba peluit dibunyikan panjang-panjang tiga kali, menandakan waktu habis.

"PENALTI! PENALTI! PENALTI!" keempat orang itu ikut berteriak bersama pendukung G'Lo lainnya.

Akhirnya penalti dilaksanakan juga. Kirana mengambil tempat di belakang bola dan mengambil ancang-ancang untuk menendang.

Goalkeeper tim lawan yang bertubuh besar menyunggingkan seringai mengejek pada Kirana yang dibalas seringaian pula olehnya. Kirana menendang bola dengan mantap ke arah gawang.

Oh! Ternyata bola tidak benar-benar mengarah ke arah gawang. Bola itu melesat ke tiang gawang dan memantul kembali ke arah Kirana. Kirana melompat dan berputar di udara, menendang bola itu langsung ke gawang. Goalkeeper yang telah ditipu sudah terlanjur melompat saat tendangan pertama sehingga ia tak dapat bangkit untuk menahan bola kedua yang melesat kencang. Maka gol pun tak terelakkan.

Sontak seluruh pendukung tim G'Lo bersorak-sorai merayakan kemenangan G'Lo. Kirana langsung dikerubuti dan dipeluk oleh rekan-rekannya. Beberapa anak yang duduk di dekat tempat istirahat tim menghambur ke lapangan dan ikut merayakan euforia kemenangan bersama. Seluruh anggota tim sepak bola putra juga ikut berbaur.

"Oh, Tuhan..." Miranda mengusap air mata harunya yang menetes dengan bahagia. Razak memeluknya erat dari samping.

"Benar-benar tendangan yang hebat!" puji dokter Wisnu tulus.

Arthur tidak berkomentar apa-apa. Ia melongokkan kepalanya, mencari-cari sosok Kirana yang tertelan kerumunan. Kirana tidak lagi terlihat dimanapun.

"Gawat." Arthur segera mendesak kerumunan penonton yang membubarkan diri dan berlari sekencang-kencangnya ke arah lapangan, meninggalkan dokter Wisnu dan dua saudara Kirana yang masih hanyut dalam kegembiraan.

"KIRANA!" teriak Arthur sekuat tenaga sambil berlari di tengah-tengah kerumunan lapangan. Ia menoleh ke segala arah dengan panik dan napas yang tersengal-sengal. Tidak ada. Ia tidak menemukan Kirana.

Dan disana, di sudut yang sedikit terlupakan, ada seorang pemuda berambut cokelat yang tengah berjongkok di dekat seorang gadis yang tergeletak di tanah. Arthur segera menghampirinya.

"Lovi...no?"

Lovino menoleh, menampakkan wajahnya yang dipenuhi kekhawatiran, "Sir! Kirana, Sir! Ia tidak bergerak, Sir!" serunya putus asa.

Arthur merasa hatinya terbelah menjadi dua melihat Kirana. Gadis itu begitu pucat, nyaris tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Keringat membasahi tubuhnya hingga ke seragamnya, kuncir rambutnya acak-acakan dan kotor bercampur tanah. Tapi semua itu tidak lebih penting dari denyut nadinya yang hampir tidak terasa.

"Lovino, cepat panggilkan tim medis kesini!" kata Arthur kemudian menggendong Kirana. Lovino mengangguk dan segera berlari memanggil tim medis.

"Arthur!" terdengar suara dokter Wisnu yang berhasil menyusulnya ke lapangan diikuti dengan Miranda dan Razak di belakangnya.

"Doc! Kirana drop!" seru Arthur.

Wajah dokter Wisnu memucat sedangkan Miranda dan Razak diam dengan wajah shocked.

"Sir Arthur! Tim medis datang!" Lovino kembali ke tempat Arthur dengan beberapa orang memegang tandu mengikutinya.

"Cepat bawa ke rumah sakit! Aku akan menanganinya saat itu juga!"


Arthur, Lovino, Miranda, dan Razak duduk di deretan kursi di depan ruang ICU. Wajah keempatnya menunjukkan kecemasan dan kesedihan yang mendalam.

Sepuluh menit kemudian, dokter Wisnu keluar dengan wajah berkeringat. Tanpa disuruh, keempatnya segera menghampirinya dalam diam, merasa tak perlu menanyakannya karena dokter tersebut sudah tahu maksudnya.

Dokter Wisnu menggeleng sedih, "Jantungnya sudah benar-benar lemah, tidak kuat lagi untuk bekerja. Ia harus mendapatkan jantung baru. Hanya itu satu-satunya jalan."

Kedua kaki Miranda tidak mampu menopang tubuhnya sehingga ia merosot jatuh, yang segera ditahan Razak. Arthur terdiam mematung menatap dokter Wisnu seolah pria itu baru saja berubah menjadi perempuan. Lovino meninju dinding terdekatnya dengan kedua kepalan tangannya dan menggeram frustasi.

"Aku menyesal sekali dengan apa yang terjadi hari ini." Tutur dokter Wisnu pilu, "Dia gadis yang hebat."


Hari ini tanggal 20 Maret. Yang berarti sudah tiga hari berlalu semenjak Kirana masuk rumah sakit setelah memenangkan pertandingan melawan NHS.

Lovino berdiri mematung di depan kaca ruang ICU memandangi tubuh Kirana yang dipasangi beragam alat-alat rumit penunjang hidup. Di tangan kirinya tergenggam setangkai bunga mawar merah yang masih segar.

Entah berapa lama ia berdiri disana dengan tangan kanan menyentuh permukaan kaca yang memisahkan dirinya dengan ruangan Kirana. Yang pastinya sangat lama karena beberapa detik kemudian kedua kakinya tidak mampu lagi menopang tubuhnya.

Lovino jatuh terduduk. Pandangannya tertuju lurus ke tembok di hadapannya. Ia terus diam disana tanpa niatan untuk bangkit, yang kemudian menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang.

"You want to see her, boy?"

Lovino menoleh cepat pada perawat yang membungkukkan diri di dekatnya. Tanpa bicara, ia segera berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya lalu menatap perawat itu dengan mata berbinar.

Perawat itu membuka pintu dan menyuruh Lovino masuk ke bilik kecil yang dibatasi dengan tirai mika untuk mengenakan pakaian khusus dan menjalani sterilisasi─bunga mawarnya juga─sebelum diperbolehkan untuk masuk ke ruang ICU.

Lovino memandangi Kirana yang kini berada di dekatnya dengan penuh kerinduan. Bunga mawarnya ia letakkan di meja kecil di sebelah ranjang.

Perawat yang berjaga di dekat pintu dibuat tersentuh hatinya melihat cara Lovino menatap Kirana yang benar-benar lembut dan penuh makna tersirat di dalamnya.

Lovino merendahkan tubuhnya dan mengecup pipi Kirana dengan lembut. Bibirnya bergerak membisikkan sebuah pengakuan lirih.

"Ti amo..."


"Lima menit lagi."

Arthur mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja dengan bosan. Mata hijaunya bergerak mengawasi murid-murid yang sedang mengerjakan kuis. Sunyi. Hanya ada suara gemeresik kertas dan decitan bangku yang sesekali terdengar saat ada yang menggerakkan kakinya.

Pikirannya berkelana pada Kirana yang tengah terbaring sendirian di rumah sakit. Tentu saja, Miranda pasti sedang homeschool atau menjalani terapidan Razak pasti ada di sekolahnya. Arthur tidak habis pikir kepada kedua orang tuanya yang tidak pernah sekalipun berkunjung menengok putrinya sendiri.

Bel berbunyi nyaring dan serentak murid-murid berdiri berjalan ke arahnya untuk mengumpulkan soal beserta kertas jawaban. Arthur mengumpulkan semuanya dan memasukkan ke dalam tas kerja lalu berjalan pergi setelah mengucapkan salam terakhir.

Di luar kelas ia dicegat Irish, Samantha, dan Carla─gadis berdarah Portugal. "Sir, kami tidak pernah melihat Kirana lagi setelah pertandingan. Apa Sir mengetahui dimana Kirana?" tanya Irish.

Arthur menyunggingkan senyum miris. Rupanya G'Lo belum mendengar kabar kalau Kirana sedang koma di rumah sakit, menunggu tersedianya jantung donor.

"Kirana sedang koma di rumah sakit, sekarang." ketiga gadis itu terbelalak kaget mendengar kalimat yang diucapkan Arthur dengan tenang.

"Koma? T-tapi kenapa?" tanya Samantha yang agaknya masih belum bisa menerima.

"Belakangan ini baru diketahui Kirana memiliki─rahasiakan hal ini darinya─kelainan jantung bawaan. Jantungnya sudah tidak kuat. Kirana baru bisa sehat kembali setelah mendapat jantung baru. Yang sayangnya belum tersedia saat ini."

"Ouch." Carla menatap Arthur dengan wajah sedih bercampur sesal.

Arthur menyunggingkan senyum getir dan berlalu dari hadapan tiga gadis itu. Ia berjalan menuju Mercedez silver-nya yang terparkir anggun di parkiran dan menjalankannya. Sejak Kirana masuk rumah sakit, Arthur lebih sering pulang-pergi memakai mobilnya daripada jalan kaki seperti biasanya.

Duapuluh menit kemudian Arthur memberhentikan mobilnya di tempat tujuannya, rumah sakit. Ia rutin mengunjungi Kirana setiap hari sepulang mengajar.

Arthur langsung berjalan menuju ruang ICU. Namun disana ia tidak menemukan Kirana. Segera saja kepanikan menjalari tubuhnya.

Ia melihat seorang perawat baru saja keluar dari pintu ruang ICU. Segera ia hampiri perawat itu dan menanyakan keberadaan Kirana.

Arthur mendesah lega saat mengetahui Kirana dipindahkan ke kamar rawat karena keadaannya stabil. Kini ia tengah mengikuti langkah perawat itu menuju kamar rawat Kirana.

"Thanks," kata Arthur setelah diantarkan ke kamar rawat Kirana. Perawat itu mengangguk singkat dan berlalu dari tempat itu.

Arthur membuka pintu dengan sangat pelan agar tidak mengganggu. Setelah menutup pintu dan berbalik, Arthur diam terpaku di tempatnya. Ada Lovino. Tengah tertidur pulas dengan kepala berbantalkan tepi ranjang Kirana.

Arthur mendekat dan tak dapat menahan senyuman saat mendapati tangan Lovino bertautan dengan tangan Kirana. Tak ingin mengganggu momen mereka, Arthur memilih untuk mengamati setangkai bunga mawar merah yang tergeletak manis di meja. Lalu pendengaran Arthur yang cukup tajam menangkap suara gemeresik pelan.

"Art...?"

Arthur berbalik cepat dan matanya membelalak melihat Kirana membuka matanya dan memanggil namanya.

"Kirana! Kau sudah sadar." Arthur menghampiri Kirana dengan wajah luar biasa lega.

Kirana menyunggingkan senyum tipis, yang agak susah karena bibirnya kering. Lalu ia beralih menatap Lovino yang tertidur, tangannya menyelubungi tangan Kirana dalam kehangatan. Punggungnya yang tegap bergerak naik-turun seirama dengan tarikan napasnya.

Kirana menggerakkan tangannya, balas menggenggam tangan Lovino. Rupanya sentuhan kecil itu mampu membangunkan Lovino. Pemuda itu mengerang pelan dan membuka mata. Wajah Kirana yang menyunggingkan senyum lemah menyambutnya.

"Kau membuka matamu." Ucap Lovino lirih. "Kau membuka matamu." Ulangnya lagi tak percaya.

"Lovi─" ucapan Kirana terputus saat Lovino mendadak memeluknya. Butuh beberapa detik bagi Kirana untuk menyadari apa yang terjadi.

"Kirana, aku...aku..." Lovino menarik napas dalam-dalam, menyusun kata, "Jangan pergi seperti itu lagi, please." Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Kirana dan menahan emosinya yang menggelegak.

"Karena a-aku...aku...aku mencintaimu. Ti amo, Kirana." Bisiknya.

Kirana tertegun dengan mulut terbuka. Arthur mengerjap penuh keterkejutan. Sementara Lovino memejamkan matanya rapat-rapat.

"Don't go far from my side, please!" Lovino terus memuntahkan isi hatinya tanpa memedulikan Kirana dan Arthur yang speechless. Baru kali ini mereka melihat Lovino out of character seperti ini.

"Lovino..." kedua lengan Kirana bergerak melingkari tubuh Lovino dan ia memejamkan matanya. Hatinya terasa hangat setelah menyadari Lovino mencintainya dengan tulus.

BRAK!

Pintu dibuka dengan kasar, menampakkan Miranda, Razak, dan dua orang dewasa yang Arthur tebak sebagai orang tua Kirana. Lovino dan Kirana cepat-cepat melepaskan diri dengan wajah merah padam.

"Ohh Kirana sayang..." seorang wanita dewasa yang berumur sekitar 43 tahun menghampiri ranjang Kirana dengan wajah sedih.

"Mama." Kirana bergerak memeluk ibunya dengan penuh rindu. Ayah Kirana ikut memeluk Kirana.

"Kami dapat pesan dari Razak kalau kamu masuk rumah sakit. Maafkan Papa Mama baru bisa menemanimu sekarang." Sesal kedua orang tua Kirana.

"Nggak apa-apa. Yang penting Papa Mama sudah disini, memelukku seperti ini." Balas Kirana.

Miranda berdiri di sebelah Arthur dan tersenyum manis, "Halo."

Rona tipis mewarnai wajah Arthur. Ia berdeham pelan, "Ehm, hai Miranda."

Razak menyeringai usil melihat Arthur yang terlihat salah tingkah. Ia mendekati pasangan itu dan berkata, "Kak Miranda, did you know that Arthur loves you so much?"

Miranda mengerutkan keningnya tidak mengerti sementara Arthur membelalak kaget dan wajahnya langsung merah padam. Ia mengalihkan pandangannya dan berdeham salah tingkah.

"Kau bilang apa, Razak?" tanya Miranda.

"Arthur jatuh cinta pada─uph!" Arthur segera membekap mulut Razak dan menyunggingkan senyum lebar yang terlihat konyol.

"Arthur jatuh cinta pada siapa?"

Razak menunjuk Miranda dengan jari telunjuknya sebelum sempat Arthur cegah. Arthur menepuk keningnya frustasi dan melepaskan bekapannya.

"Oh." Hanya itu respon Miranda. Rona merah yang manis ikut mewarnai pipinya. Razak terkikik geli melihat Arthur dan Miranda yang saling diam memandang dengan wajah merona. Sepertinya bakal ada pasangan baru, nih.

"Aku juga suka Arthur, kok." Bisik Miranda pelan sambil tersenyum. Razak bersorak dalam hati. Gotcha!

Arthur menyunggingkan senyum gentleman-nya yang menawan. Sepertinya ia harus berterima kasih kepada Razak

Nanti.


Arthur dan Lovino keluar dari mobilnya masing-masing. Arthur dengan Mercedez silver-nya dan Lovino dengan Lamborghini kuningnya. Kemudian mereka bersama-sama melangkah masuk ke lobby rumah sakit. Menjenguk Kirana, seperti biasa.

Arthur merasa sangat berbunga-bunga hari ini. Miranda membalas perasaannya dan kini ia tengah menjalin hubungan spesial dengan saudara Kirana itu. Lovino juga tak jauh berbeda. Ia kemari untuk melihat gadis yang entah sejak kapan mencuri hatinya.

Kedua pemuda tampan itu melangkah mantap di lorong, menarik perhatian seisi rumah sakit karena penampilan dan wajah mereka yang istimewa.

Pintu kamar rawat Kirana sudah dibuka, namun mereka tidak menemukan Kirana di dalamnya. Kamar rawat itu kosong melompong seolah tidak ada yang pernah menempati sebelumnya.

"Dimana dia?" tanya Lovino yang mulai panik. Arthur menggeleng tidak tahu. "Kita coba tanya ke resepsionis." Arthur menarik lengan Lovino menuju meja resepsionis yang tidak jauh dari tempat mereka.

"Good morning, what can I do for you, Mister?" tanya resepsionis─otomatis menggunakan bahasa Inggris.

"We want to know where Kirana Kusnapaharani is. We couldn't find her in her room before." Jawab Arthur.

"Wait a second, mister." Perawat itu membuka-buka daftar pasien dan mencari nama Kirana. "I'm sorry mister. But she was moved to England yesterday."

"Apa? Pindah ke Inggris?!" ulang Lovino tak percaya. Arthur segera berterima kasih kepada resepsionis dan berlalu dari tempat itu, menuju parkiran. Lovino mengejarnya, "Apa yang akan kita lakukan sekarang, Sir?"

"Kita coba ke rumahnya." Jawab Arthur pendek.

Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di depan rumah Kirana. Arthur memencet bel dan Bik Sum menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.

"Kirana ada dimana, Bik?" tanya Arthur dengan bahasa yang kaku.

"Oh, Non Kirana ada di Inggris, Den Arthur." Jawab Bik Sum.

"Kapan berangkat?" tanya Arthur.

"Kemarin siang, Den. Pak Nusa dan Bu Pertiwi langsung bawa Non Kirana ke Inggris pas tiba disini. Den Razak dan Non Miranda juga ikut."

"Begitu ya. Terima kasih, Bik." Sahut Arthur pelan, tak bersemangat.

"Sama-sama, Den." Bik Sum mengangguk dan kembali ke dalam.

"ARGH!" Arthur meninju pagar batu rumah Kirana keras sampai kepalan tangannya mengeluarkan darah. Sahabat dan kekasihnya telah pergi jauh ke Inggris tanpa memberitahunya sama sekali.

Lovino meraba dadanya. Ada yang hilang.


"Ini dimana, Kak?" Kirana menatap sekitarnya dalam kondisi terbaring lemah di ranjang. Banyak orang asing dan berkulit putih berlalu-lalang. Kirana menebak dirinya pasti berada di somewhere outside Indonesia.

"Kita ada di Inggris." Jawab Miranda lembut.

Kirana menggumam pelan dan memejamkan matanya. Namun beberapa detik kemudian matanya terbuka lebar. "Apa? Inggris? Arthur dan Lovino sudah diberi tahu?" tanya Kirana cemas.

"Sepertinya belum." Wajah Miranda menjadi murung, "Padahal aku baru saja jadian dengannya dan kami harus terpisah seperti ini."

"Ya! Kak Miranda dengan Kak Arthur baru-baru ini pacaran, lho." Razak menyahut sebelum Kirana sempat bersuara, membuat Miranda tersipu malu. Lalu ia melanjutkan, "Kapan giliranmu, Kak Kirana? Kak Lovino sudah menyatakan perasaannya padamu."

"Yah... Aku masih belum yakin pada perasaanku sendiri. Kami baru saja akrab sebagai teman." Jawab Kirana jujur.

"Wow, sepertinya Kak Lovino perlu ekstra kerja keras, nih."

"Hush!"

Tepat pada saat itu seorang dokter berwajah Asia berumur duapuluhdua tahun berjalan mendekati Kirana yang asyik bercengkerama dengan Razak dan Miranda.

"Selamat pagi, aku dokter Daniel. Apa ini Miss Kirana, pasien baruku?" sapa dokter tampan itu ramah. Mengingatkan Kirana pada dokter Wisnu hanya saja dokter ini jauh lebih tampan dan keren serta lebih muda.

Kirana menyunggingkan senyum lemah, "Tolong sembuhkan aku, dokter..."

Dokter itu mengelus rambut Kirana yang dihiasi pita putih, "Tentu saja, miss. I'll try my best to cure you."


Lovino meneguk minuman isotoniknya sampai tinggal setengah. Matanya menatap deretan bangku penonton di lapangan. Ingatannya melayang pada saat Kirana yang tempo hari duduk di deretan kedua dengan rambut yang diikat miring dan wajah yang sedih. Kemudian ia menghampiri gadis itu dan memberikan sebotol minuman isotonik dingin dan berbincang-bincang ringan. Dan kini, absennya Kirana dalam latihan gabungan ini menimbulkan semacam kekosongan di hati Lovino.

"Lovino, awas!"

Bola melesat ke arahnya dan Lovino tak sempat mengelak. Alhasil bola itu menghantam wajah Lovino telak, membuat pemuda berdarah Italia itu terjatuh dan menumpahkan minuman isotoniknya.

"Ouch!" Lovino meringis dan mulai menyiapkan makian yang akan ia lontarkan pada si pelaku. Ia meraih tangan-entah-milik-siapa yang terulur ke arahnya dan berdiri.

"Oh, maafkan aku. Aku tidak sengaja." Seorang gadis cantik berambut cokelat panjang dan bermata hijau cerah menatapnya sedih. Lovino yang akan melontarkan caciannya terpaksa menelannya kembali begitu menyadari si pelaku adalah seorang wanita.

"Oh─um, yeah, it's okay, Eliza." Sahut Lovino sambil mengambil botol minumannya dan membuangnya ke tempat sampah terdekat.

Elizaveta Hedervary menyunggingkan senyum minta maaf dan mengambil bolanya lalu lanjut bermain lagi bersama tim sepak bola wanita.

"Hey, kau masih memikirkan Kirana?" tanya Gilbert Beilcshmidt.

"Siapa yang memikirkan dia?!" bantah Lovino garang dengan wajah dihiasi semburat pink.

"Ahaha, kau memang memikirkan dia. Kau menyukai gadis itu, kan? Hm?"

"T-tentu saja tidak, bastardo! Kau ini bicara apa, sih?!" Lovino memalingkan wajahnya dengan kesal. Sesaat kemudian wajahnya langsung berubah sendu.

Ya, aku menyukainya...


"Nggg..." Kirana terbangun dan mengucek matanya dengan tangannya yang tidak dipasangi jarum infus. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah satu dini hari.

Kirana mengulurkan tangannya ke gelas berisi air minum yang terletak di meja. Butuh usaha yang cukup keras untuk dapat meraih gelas itu tanpa menimbulkan derit yang akan membangunkan keluarganya.

Kirana tersenyum saat gelas itu berada dalam genggamannya. Ia berhasil.

Deg!

"Ack!" Kirana menjatuhkan gelas kaca yang sedang ia genggam dan mengaduh pelan sambil memegangi dadanya yang mendadak terasa sakit.

Semua yang berjaga di kamar rawat Kirana terbangun mendengar suara gelas yang pecah. Razak yang pertama kali menyadari apa yang terjadi pada Kirana.

"Kak Kirana, bertahanlah! Aku mohon!" jerit Razak sambil memegangi tangan Kirana yang dipenuhi memar-memar biru.

"Razak... aku...a-aku...hhh...tak kuuaat..." napas Kirana menjadi satu-satu dan berat. Tubuhnya mengejang sekali dan langsung melemas seiring dengan tertutupnya mata Kirana.

Tepat pada saat itu pintu terbuka keras oleh dokter Daniel dan beberapa perawat yang mengikuti di belakangnya.

"Maafkan saya, tapi saya mohon semuanya keluar dulu." Ucap dokter Daniel sambil memasang stetoskopnya.

Razak, Miranda, dan kedua orang tua mereka tak memiliki pilihan lagi selain menuruti perkataan dokter Daniel.


"Apa? Kirana dalam keadaan vegetatif, lagi?" tanya Pertiwi tak percaya setelah mendengar penjelasan dokter Daniel.

Dokter Daniel mengangguk, "Dia benar-benar sangat membutuhkan jantung donor. Namun sayangnya persediaan jantung donor terakhir rumah sakit ini telah diberikan kepada pasien jantung koroner sebulan yang lalu."

"Apa tidak ada jalan lainnya selain operasi? Kemoterapi misalnya?" tanya Nusantara.

"Kemoterapi itu untuk penderita kanker, mister. Sebenarnya ada jalan lain, yaitu pemasangan katup jantung buatan. Tapi hal itu sangat berisiko karena berdasarkan riwayat kesehatannya, Kirana memiliki alergi terhadap bahan silikon."

"Jadi..."

"Ya. Operasi penggantian jantung satu-satunya jalan." Lanjut dokter Daniel.

"Benar-benar tidak ada jalan lain?"

"Tidak ada."

Nusantara mengusap wajahnya dengan kedua tangan, nampak frustasi. Pertiwi menatap dokter Daniel nanar. Dokter Daniel balas menatap mereka berdua dengan tatapan prihatin.

Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Miranda menyenderkan tubuhnya ke dinding putih salju rumah sakit. Ia sekilas mendengar perbincangan mereka bertiga dan dapat menarik kesimpulan berdasarkan perkataan kedua orang tuanya.

Tidak ada jalan lain selain operasi penggantian jantung untuk menyembuhkan Kirana.

Miranda menatap langit-langit dengan pandangan menerawang. Ada sesuatu yang dipikirkannya.


"Apa? Kakak mau mendonorkan jantung?!" Razak luar biasa kaget saat mendengar keinginan Miranda untuk mendonorkan jantungnya untuk Kirana.

"Sssst! Nanti kedengaran!" Miranda menempelkan telunjuknya di depan bibir, "Jadi, Razak, bisa bantu aku, kan? Kau pintar bicara."

"Tapi, kak..."

Miranda memandang aktivitas seisi rumah sakit dengan sedih, "Kirana gadis yang hebat dan berbakat, sayang sekali kalau dia harus mati. Sedangkan aku, hidupku tidak begitu berarti karena aku harus menghabiskan hampir seluruh hidupku menjalani terapi, homeschool, dan tetek bengek lainnya. Aku tahu otakku bermasalah dan aku tidak bisa berkembang secepat kalian berdua. Aku sadar aku hanya menjadi beban bagi semuanya. Jadi, aku ingin membuat diriku berharga dengan memberi kesempatan pada Kirana untuk hidup lebih lama lagi." Bulir-bulir air mata jatuh menuruni pipinya yang mulus.

Razak menghapus air mata Miranda dengan lembut kemudian memeluknya hangat. Ia merasa dilema. Di satu sisi ia ingin Kirana selamat dan menjadi sehat seperti sedia kala, namun di sisi lain ia tidak ingin kehilangan Miranda. Ia sangat menyayangi mereka berdua.

"Tolong, bantu aku...Razak..." pinta Miranda pilu.

Razak menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya rapat-rapat sampai air mata menitik di sudut mata sipitnya. Ia benar-benar dilema besar.

"Razak..." Miranda menatap Razak dengan wajah memelas.

Razak tahu, ia tidak punya pilihan lagi setelah melihat wajah memelas Miranda.


"Benar-benar suatu kejaiban!" Kata dokter Daniel dengan wajah lega.

Wajah Nusantara dan Pertiwi menjadi cerah. "Apakah jantungnya cocok? Apa kami boleh melihatnya?"

"Silakan, silakan." Dokter Daniel menyingkir untuk memberi jalan.

Razak bersama kedua orangtuanya mendekati Kirana yang sudah dipindahkan dari ruang operasi ke kamar rawatnya semula.

Mata Kirana masih terpejam. Namun kardiograf yang menunjukkan detak jantung Kirana menampilkan garis zig-zag yang stabil. Deru napasnya juga teratur.

Razak menyentuh rambut Kirana dan menyunggingkan senyum senang bercampur sedih. Senang karena Kirana akhirnya selamat dan sedih karena harus kehilangan Miranda.

"Razak, mana Miranda? Dia tidak kelihatan." Tanya Nusantara.

Razak menyerahkan sepucuk surat sebagai jawaban. Nusantara dan Pertiwi membaca surat itu dengan penasaran.

Beberapa saat kemudian terdengar teriakan Nusantara dan tangisan Pertiwi yang kemudian menghambur menuju ruang tempat tubuh Miranda dibaringkan.

Tanpa nyawa.


Seluruh siswa G'Lo berbaris rapi di sepanjang jalan setapak yang menghubungkan pintu gerbang dengan lobby, menghasilkan garis warna merah tartan dan hitam. Mereka mengadakan penyambutan tidak resmi untuk kembalinya Kirana atas inisiatif para murid populer.

Beberapa menit kemudian, sebuah BMW hitam berhenti di depan gerbang dan dari pintu belakang keluar seorang gadis berambut hitam sepunggung yang menyandang tas ransel putih polos di bahu kanannya. Ia nampak bingung melihat para siswa yang berjejer menatapnya. Ia melangkahkan kakinya dengan kikuk dan berniat untuk ikut berbaris ketika Irene yang berdiri di paling ujung memeluknya erat-erat disusul dengan teman-temannya yang lain. Kirana lalu dikerubuti oleh mereka dan dielu-elukan seolah ia seorang pahlawan yang baru pulang ke kampung halamannya.

"Kirana! Kau kembali!" seru Samantha di tengah-tengah riuhnya kerumunan.

Murid-murid itu menyalami Kirana bergantian lalu membubarkan diri. Meninggalkan Kirana yang masih belum ngeh tentang apa yang sedang terjadi.

Irene, Samantha, dan murid populer lainnya yang masih tersisa segera menyingkir sambil tertawa mengikik begitu Lovino memasuki pintu gerbang.

"Wait─ah!" kata-kata Kirana terpotong saat ia merasa tubuhnya ditarik dan sepasang lengan melingkarinya.

"Kirana, kau kembali." Bisik Lovino. Kirana mengangguk pelan dalam pelukan Lovino.

Lovino mengecup puncak kepala Kirana dan mengeratkan pelukannya. Demi tomat-tomat terbaik Italia, ia sangat lega gadis itu sudah kembali dan berada dalam rangkulannya saat ini.

"Kau tidak tahu betapa rindunya aku padamu." Lovino melepaskan rangkulannya dan memegang kedua pundak Kirana.

"Maaf aku tidak sempat memberitahumu, Lovino." Kirana menyunggingkan senyum sesal.

Lovino mencondongkan wajahnya dan mengecup kedua pipi bulat Kirana, membuat kedua mata si pemilik melebar.

"A...apa yang kau lakukan?" tanya Kirana sambil menyentuh pipinya yang menghangat.

Lovino menyunggingkan senyum lebar, "Menciummu."

Kirana baru saja akan membuka mulutnya ketika Arthur mendadak datang menghampiri mereka berdua dan memeluk Kirana.

"Hei, hei! Apakah wajar seorang guru memeluk muridnya sendiri?" tanya Lovino tidak terima melihat 'kemesraan' Arthur dan Kirana.

Kirana tertawa dan melepaskan diri. Ia menggandeng lengan Lovino dan lengan Arthur dengan lengan lainnya.

"Ayo kita ke kelas!" ujar Kirana semangat.

"Tapi, Kirana, aku tidak sekelas denganmu sekarang."


"Jadi, kau sudah sehat kembali." Kata Arthur sepulang sekolah.

Kirana menyunggingkan senyum lemah, "Ya, terimakasih bantuannya selama ini..."

Arthur merasa ada sesuatu dalam senyuman Kirana. "Hei, ada apa?"

Kirana terbelalak menatapnya selama beberapa saat. Ia menunduk dan nampak bimbang. Arthur menunggu dengan sabar.

"Miranda..."

"Kenapa dengannya?" tanya Arthur was-was.

Kirana menggigit bibirnya, namun akhirnya ia bercerita.

"..."

"..."

"...begitu ya? Jadi Miranda sudah pergi?"

"Maafkan aku... maafkan aku... maaf─"

Arthur memeluknya hangat dan mengangguk, "Hn, tak apa. Bukan salahmu, Key." Ucapnya lembut.

Kirana menumpahkan air matanya dan berulang kali mengucap maaf meskipun Arthur tidak menyalahkannya.

"Tak apa, tak apa. Ssshh..." Arthur menepuk-nepuk punggung Kirana pelan. Ekspresinya tetap datar, namun dalam hati ia juga menangis, sama seperti Kirana.

Ia hanya bisa berdoa, agar Miranda dapat beristirahat dengan tenang disana.

xX_FIN_Xx


Huaaaaah! Akhirnya selesai juga! Word count-nya 9042 words loh! My longest chapter so far~ #regangintangan

Hwell~ dance in storm-san, sudah puaskah dengan UKNES disini? :3

Anyway, untuk reviewer boleh me-request jalan cerita di Doppelgänger untuk dibikin side story-nya disini (Dengan catatan: NO JAPAN and ASIAN COUNTRIES, sudah dibikin sampe dua chapter -_-)

See you in the next chapter! (^0^)/

Review?