.

.

.

.

Sun, With Life

-2-

.

.

.

.

Menari. Menjejak. Melekuk—

CRASH!

[Tahukah kau bahwa pisau itu punya kebudayaan tari tersendiri, hm?]

.

.

Di dekat sebuah gereja terbengkalai, ada sebuah gedung besar dengan gerbang berwarna merah dan sedikit berkarat. Halamannya luas, kosong, hanya dihuni ilalang tinggi yang selalu menari tiap ditiup angin. Pintunya selalu tertutup, terkunci, digembok. Tidak ada seorangpun disana.

Saat usiaku empat tahun, aku masih melihat bangunan itu sebagai gedung kosong—mungkin gedung yang dibangun tapi tak kunjung didatangi sang pemilik. Atau gedung lama yang sudah tak lagi digunakan atau dalam kata lain, akan dihancurkan.

Liburan musim panas pertamaku sebagai siswa Taman Kanak-kanak, aku menggandeng tangan ibuku, kembali melewati gedung kosong itu lagi.

Aku sudah bisa membaca, dan ada tulisan besar meliuk di atas gerbang, berhias sulur-sulur bunga liar yang entah sejak kapan mulai tumbuh disana.

Ibu menarik tanganku, memaksaku menjauh dari gedung itu.

Aku memejamkan mata; nama 'Great Bird'menari-nari dalam benakku.

.

.

Aku masuk sekolah dasar. Kakakku mengantarku sampai pintu depan kelas. Aku merengut. Di dalam ruangan besar yang gelap tanpa penerang itu ada suara tiga puluh anak-anak sebayaku yang sibuk bercakap satu sama lain.

"Masuk, dan nikmati harimu, Sasuke."

Sejak aku bisa membaca, Kakak sudah berhenti memanggilku 'Sasu-chan'.

"Tidak mau." Aku menolak, mencengkeram tali tas sekolahku yang baru. Warnanya biru, dan cukup mahal. Ibu yang membelikan. "Mereka hanya bocah-bocah tolol." Mereka tidak berada di level yang cukup untuk berteman denganku.

Kakak tertawa. "Kau tidak—belum—kenal mereka."

"Mereka berisik. Artinya, mereka tolol."

Kakak—Itachi—mendorongku masuk dan menutup pintu di belakang. Sekitar tiga puluh pasang mata kekanak-kanakan menatapku dalam kegelapan.

.

.

Bocah tolol pertama yang mengulurkan tangan dan ingin berkenalan denganku berambut pirang. Matanya biru. Kulitnya kecokelatan.

Wajahnya bahkan lebih kekanak-kanakan daripada yang lain.

Aku mencibir.

(—tapi tetap menjabat tangannya).

"Naruto," ia menyeringai lebar. Kulihat tiga garis menghiasi masing-masing pipinya. Apa dia keturunan kucing? Rubah? Konyol. "Uzumaki Naruto."

Mataku sedikit kosong.

(—tapi tetap menanggapi perkenalannya).

"Namaku Uchiha Sasuke," ucapku, bangga dengan identitas diriku.

.

.

Wali kelasku seorang wanita pirang yang menghabiskan tepat empat puluh menit untuk menceritakan tentang dirinya sendiri. Namanya Yamanaka Ino. Dia cantik—aku tidak memuji. Itu murni pendapat teman-teman sekelasku. Matanya biru pucat. Dan ia bilang ia punya banyak kekasih.

Usiaku enam tahun, dan aku sudah tahu tentang konsep poligami.

Tapi aku tidak tahu kalau poligami juga dipakai dalam hubungan romansa yang belum mencapai tahap pernikahan.

Di sampingku, ada bangku kosong.

Ino-sensei menatap bangku itu, kemudian mengecek daftar murid baru di tangannya. Matanya kembali mengerling ke arah bangku. "Dia tidak datang..."—ia bergumam, mencoret satu nama di daftar hadir.

Aku suka sendiri, tapi bangku kosong itu membuatku menjadi pusat perhatian.

.

.

'Sasuke sayang,

Ibu pergi sebentar. Nenekmu sakit.
Makanan sudah disiapkan di kulkas. Ibu akan meminta Itachi cepat pulang agar bisa memanaskannya untukmu.

Ibu'

Rumah kosong. Tapi tidak dikunci.

Mungkin ibuku perlu sedikit mengenal pengkhianatan, agar bisa lebih mengetahui tentang kecurigaan dan kehati-hatian.

Kupanaskan makanan sendiri. Aku tidak butuh Itachi.

Lagipula kakakku itu tidak akan pulang hanya untuk hal sepele macam microwave yang berbahaya bagi anak di bawah umur.

.

.

Ibu tidak pulang. Ia menelepon. Katanya kondisi Nenek makin memburuk dan tidak ada orang lain yang punya waktu untuk menjaganya di rumah sakit. Ayah pasti akan pulang malam. Aku tidak peduli.

Itachi pulang tepat saat film Twilight diputar di televisi.

Matanya menatap layar dan aku silih berganti, agak sedikit terpana. "Sasuke!" ia memekik panik—seperti perempuan—dan mematikan televisinya.

Aku melotot padanya.

"Kenapa kau matikan TV-nya?"

"Itu bukan film yang boleh ditonton anak kecil."

Aku terdiam.

"...?"

"Nyalakan. Aku tidak ingin nonton Twilight. Yang ingin kutonton itu Breaking Dawn."

Itachi menatapku horror.

Aku menyeringai.

.

.

Naik kelas. Naik kelas. Naik kelas.

Raporku membosankan. Tidak ada tinta merah, bahkan tidak ada angka lain selain 98.

Apa aku sebegitu jeniusnya?

.

.

'Jawaban no. 4.'

Tulisan tangannya berantakan. Ada noda tinta dimana-mana. Ia merobek kertasnya dengan kasar; itu bisa kumaklumi. Tapi apa yang tertulis di dalamnya...

Kutolehkan kepala ke belakang. Naruto menatapku, kedua tangannya terkatup.

Memohon.

Aku terkekeh sadis, melempar kertas itu ke tong sampah yang berada dua meter di depanku. Pengawas ujian tidak melihatnya.

.

.

Kelas empat. Ada darmawisata. Ke museum.

Sepanjang perjalanan, aku menguap. Di depanku ada dua orang anak perempuan, rambut mereka berwarna cerah. Mata mereka juga. Aku tidak ingat nama. Sepertinya tidak pernah bicara dengan mereka. Tapi jelas mereka tahu namaku.

Berkali-kali mereka menyebutnya sambil terkikik menatapku.

Di sampingku, kursi kosong—lagi.

Aku menendang Naruto saat si pirang ingin duduk di sampingku.

.

.

Pulang darmawisata. Rumah lagi-lagi kosong. Pintunya tidak terkunci.

Aku melepas sepatu, kemudian membeku. Ada sepasang sepatu bot hitam di pintu depan, di samping sandal kain Ibu. Bukan kosong—hanya sepi.

Ada tamu.

Tapi kenapa begitu sunyi?

.

.

Terdengar suara siulan dari ruang keluarga. Bukan suara Ayah. Apalagi Itachi. Ibu tidak suka bersiul, ia selalu berkata bersiul membuatnya kedengaran seperti wanita genit.

Kusingkap sedikit tirai yang membatasi ruang keluarga dengan lorong ruang tamu.

"!"

Tidak ada Ibu, Ayah, atau Itachi.

Yang ada hanya mayat mereka.

Darah. Darah. Darah.

Dan sesosok pria berjaket hitam dengan pisau berlumuran warna cerah.

"Hai..." ia berbalik menghadapku, menyeringai.

(—tidak berani melihat wajahnya).

"Neraka sangat tidak sabar untuk menyambut anggota Uchiha menjadi empat dari sekian banyak penghuninya~"

Pisaunya terhunus. Aku memejamkan mata.

Seperti film, semuanya gelap.

.

.

.

A/N: Akhirnya update juga, meski belum rampung dan hasilnya di luar bayangan.

Tuhan, chapter yang ini hancur amat!

Mulanya saya mau bikin [[Little Light]] sebagai satu chapter saja, tapi kalau dibikin dengan gaya begini, jadinya bakal panjang banget dan nggak nyaman dibaca. Jadi kupotong di akhir masa kanak-kanak Sasuke yang meski nggak bisa dibilang bahagia, tapi tetap normal seperti anak-anak lain.

[[Little Light]] belum selesai. Ini baru part I-nya. Masih ada kisah kelanjutannya.

Buat permanentt, yah... kesannya saya memang kurang bertanggungjawab, ya? Ah, bukan "kurang" lagi. Ini mah "sangat" tidak bertanggungjawab!

Soal lanjutan [[Bright Spring]], akan saya pikirkan nanti.

Thanks buat semua yang sudah review~!

Tunggu [[Little Lightpart II]] beberapa tahun lagi, ya! #dilempari batu.