The Hunger Games milik Suzanne Collins.
Dan sekali maaf, tiap chapter pendek pendek banget -_-v
Mind to read and review? :)
Tunggu. Apa aku salah dengar? Clove? Menangis?
Tak ada kesempatan lagi. Aku segera menghampirinya.
"Hei..kau baik baik saja?" pertanyaan bodoh, Cato. Kau tahu Ia tidak baik baik saja.
Sepertinya aku melakukan kesalahan. Dengan tampang gusar, buru buru dihapusnya air matanya. Tatapan sendunya sekarang berubah menjadi tatapan marah.
"Kau siapa? Untuk apa kau kemari? Hari ini hari libur, tahu. Kau mengganggu latihanku!" katanya berusaha mengalihkan perhatian sembari membereskan pisau-pisaunya.
"Jangan mengalihkan perhatian nona. Kenapa kau menangis tadi? Apa ada yang bisa aku bantu?" ujarku bersikukuh sambil berjongkok di hadapannya. Mati-matian menahan agar tak salah tingkah, kugigit bibir bawahku. Menunggu jawabannya.
"Kau tak seharusnya peduli. Aku benci orang yang berpura pura peduli, padahal sesungguhnya Ia hanya ingin tahu. Kau pasti sama saja dengan orang orang itu," katanya tetap menghindari pandangan mataku.
"Orang orang itu? Orang orang siapa?"
"Mereka semua. Mereka yang berpura-pura ingin menjadi temanku padahal dibelakangku mereka hanya menanggapku sebagai gadis yang dilahirkan untuk menjadi pembunuh," sahutnya dingin.
Aku terdiam. Inikah sebab Ia menangis tadi?
"Puas kau, laki laki ingin tahu? Sudah selesai kan? Bukannya kau hanya ingin tahu? Karena urusanmu sudah selesai ada baiknya kau segera pergi dari sini. Oh ya, lupakan saja kejadian barusan. Rasanya tak ada gunanya bagimu untuk terus kau ingat ingat," katanya sambil berdiri, bersiap siap pergi dari arena ini.
Tertegun. Entah jawaban apa yang harus kuberikan pada si nona-keras-kepala ini. Bagaimana mungkin aku melupakan tangisannya –yang mungkin hanya aku saja yang melihatnya?
"Kau salah, nona. Aku memang peduli. Dan aku..hanya ingin kau tahu, kalau aku berbeda dengan mereka," Bodoh! Lancang sekali kau mengatakan itu, Cato! Makiku pada diri sendiri.
"Hah, berbeda, aku tidak percaya, mana buktinya? Pasti setelah ini kau akan menyebarkan cerita cerita dibelakangku, bahwa si gadis pembunuh ternyata gadis cengeng," katanya dengan pandangan meremehkan.
"Kalau sampai 2 hari kedepan kau tak mendengar berita apa apa tentang itu, berarti kau percaya kalau aku benar benar memperdulikanmu?" ujarku tenang. Berusaha mengikuti permainan gadis ini. Gadis yang menarik.
"Baiklah. Kutunggu kau dua hari lagi disini. Kalau kau benar benar menepati janjimu, bergembiralah, kau bisa menjadi teman pertama yang kau percayai. Seumur aku hidup," katanya sambil berjalan pulang tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.
Persyaratan yang sangat mudah. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang tidak banyak bicara.
XX
Dua hari terasa begitu lama.
Setiap bertemu di arena latihan atau di sekolah, Clove selalu menatapku tajam, dengan pandangan kau-menepati-janji-kan.
Sedikit menyusahkan adalah aku harus menahan diri ketika mendengar teman-temanku membicarakan Clove di belakang, seperti "Kau tahu, si gadis pembunuh itu benar benar tak punya perasaan! Aku melihatnya melempar pisau tanpa perasaan ke sebuah kelinci yang dia jadikan target latihan!" atau sekedar berbisik-bisik "gadis pembunuh datang" ketika berpapasan di lorong sekolah.
Aku tahu Clove sekuat tenaga menahan tangis. Hanya saja Ia terlatih begitu keras sehingga menyembunyikan ekspresi atau sekedar memasang wajah stoic bukan jadi hal yang sulit untuknya.
XX
Dua hari yang melelahkan itu akhirnya berlalu.
Aku berjalan menuju arena latihan dan aku sudah menemukannya duduk menungguku di atas kotak penyimpanan pisaunya sambil memainkan pisaunya.
"Bagaimana? Aku tidak bohong kan?" kataku sedikit bergidik ngeri ketika Ia memutarkan pisaunya dengan tangannya –seolah olah itu pensil- seperti yang orang lain biasa lakukan.
"Ehm, kurasa kau cukup menepati janjimu. Selamat, teman pertamaku," ujarnya sambil tersenyum, hal yang sangat jarang Ia lakukan.
Manis. Sekali. Senyum yang menghiasi wajahnya melengkapi penampilannya hari itu. Rambut hitam legamnya dibiarkan terurai lurus karena Ia sepertinya memang tidak berniat berlatih hari ini.
"Kau pasti sudah tahu namaku. Siapa namamu, senior?" ujarnya membuyarkan lamunanku.
"A-aku Cato. Senang menjadi..temanmu," ujarku gagu, tertangkap basah memperhatikannya.
"Hahaha, tak perlu sungkan. Aku rasa kau bisa jadi partner latihan yang bagus," katanya sambil pertawa. Tawa pertama yang kulihat.
Ketegangan di antara kami mencair dengan sendirinya. Lepas dari ucapan Clove yang cenderung ketus, sebenarnya Ia adalah gadis yang menyenangkan. Ia sebenarnya gadis yang banyak bicara, baru kusadari kalau Ia pendiam karena Ia tak punya teman untuk diajaknya bicara.
Aku bersyukur sekali, aku adalah satu satunya temannya, satu satunya orang yang diajaknya bicara.
Satu langkah lebih dekat denganmu, Clove.
