The Hunger Games milik Suzanne Collins.
Special thanks to skyesphantom
Maaf ya udah lama update, pendek lagi -_-v
Mind to read and review? :)
"Kau semakin menikmati latihanmu, huh?" tiba tiba ayah datang ketika melihat aku merapikan koleksi pedangku di ruang penyimpanan peralatan latihan. 2 bulan berlalu sejak 'persahabatanku' dengan Clove dan hasilnya, latihan tidak lagi kuanggap sebagai paksaan, melainkan kegiatan wajib yang menyenangkan karena aku tak lagi berlatih sendirian.
"Euhm, yah, lumayan," sebagai catatan, hubungan kami tidak pernah baik. Sebatas percakapan formalitas ayah dan anak, seperti kebanyakan hubungan antara anak dari orangtua yang menganggap Hunger Games adalah suatu kebanggaan.
"Aku harap, kau siap kapan saja. Bisa saja tahun ini namamu yang dipanggil. Dan...tahun depan adalah kesempatan terakhirmu. Kau tahu kewajibanmu jika tahun ini bukan giliranmu," katanya sambil pergi meninggalkanku yang memasang tampang acuh-tak acuh.
Sebagai anak satu-satunya, hanya aku yang meneruskan ambisi ayah untuk menjadi pemenang Hunger Games. Jika namaku tidak dipanggil tahun ini, maka tahun depan, adalah kesempatan terakhirku untuk mengikuti Hunger Games, karena tahun ini adalah ulang tahunku yang ke 17. Dan itu artinya, mau tak mau tahun depan aku harus menjadi peserta apapun caranya, entah mengajkan diri sebagai volunteer ataupun karena 'keberuntungan' bahwa namaku yang diambil.
Tiba tiba aku terbayang Clove. Entah apa yang ada di pikiranku, apapun yang terjadi, jika sampai Ia menjadi peserta tahun ini, aku harus ada disampingnya. Aku harus melindunginya.
XX
"Kau terlambat datang hari ini, dasar lelet," sembur Clove ketika aku datang ke tempat latihan dan langit nyaris sudah tidak biru lagi. Yang ada hanyalah langit oranye dengan cahaya kuning menembus celah celah pohon dan Clove yang sudah merapikan pisau-pisaunya.
"Hn, maaf, ada sedikit urusan dengan ayahku," sahutku sambil mengambil asal satu pisau dari kotak Clove dan melemparkannya asal ke sasaran yang ada.
"Hei! Aduuuh aku kan jadi harus menatanya lagi," katanya jengkel sambil bersungut-sungut berjalan malas mengambil pisau yang kulemparkan tadi. Wajahnya lucu sekali, pipi putih yang merona terkena pantulan cahaya senja.
"Hei Cato, kau tahu, aku ada perasaan kalau..tahun ini aku akan maju di Hunger Games, dan sebagaimana kau tahu jika aku terpilih, tidak akan ada yang mau menggantikanku karena kau tahu semua orang membenciku. Bukan berarti aku takut sih, tapi.."
"Aku tahu rasanya Clove. Bagaimanapun juga, orang normal mana yang mau mati? Kau tak usah menyembunyikan kalau sebenarnya kau sama seperti aku. Kita, hanya orang biasa yang takut mati kan?"
Ia terdiam. Mungkin sedikit kaget karena aku yang sudah dianggap orang orang bisa membunuh orang dengan mudah –sama sepertinya bisa mengatakan hal hal se-'manusiawi' itu.
Karena cuma aku yang tahu sisi anak perempuan rapuhmu, Clove.
"Hari pemilihan tinggal sebulan lagi, mungkin sebaiknya gunakan sebulan terakhirmu latihan denganku, mungkin saja kan sebentar lagi kau tidak punya teman latihan lagi, huahahaha," katanya dengan tawa yang dibuat-buat. Kau pikir dengan bicara sambil membelakangiku, aku tidak tahu ekspresi apa yang kau sembunyikan? Dan bodohnya, aku hanya bisa diam saja. Diam lagi. Lagi.
Pengecut. Katanya mau melindunginya? Menenangkannya disaat seperti ini saja tidak bisa.
Dan kami melewati perubahan langit menjadi benar benar hitam kelam dalam diam. Clove yang masih memasang wajah tak berekspresi, dan aku yang masih sibuk memikirkan cara agar..agar arena latihan ini, selamanya akan terisi aku dan Clove, bukan hanya salah satu dari kami.
XX
Tidak terasa, hari pemilihan tinggal 3 hari lagi. Dan semakin mendekati hari pemilihan Clove semakin pendiam, bahkan di depanku. Mata yang berbinar binar ketika mendapati lemparan pisaunya tepat sasaran itu semakin..redup. Celotehannya hilang. Bahkan ketika aku datang terlambat tidak ada lagi suara yang memarahiku.
Ia kembali jadi sosok yang kukenal sebelum tragedi aku melihatnya menangis.
Tak tahan, akhirnya sore ini aku datang satu jam lebih awal dari jadwal latihan kami biasanya. Ia sedikit kaget melihatku duduk menguasai tempatnya biasa meletakkan barang-barangnya. Kalau begini, biasanya dia akan langsung marah marah dan mengusirku –lengkap dengan ancaman lemparan pisau yang biasanya hanya berjarak 5cm dari atas kepalaku. Tapi, Ia hanya memutar bola matanya dan mencari tempat lain, tak jauh dari tempatku duduk sekarang.
"Kau jadi aneh Clove. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" ucapku tak tahan lagi sambil menahan kotak pisaunya agar tidak bisa Ia buka.
"Minggir Cato, aku mau latihan. Aku tidak apa-apa kok, pasti kau saja yang merasa lain," katanya sambil menghindari tatapanku.
"Jangan menghindar. Aku kenal kau." Kataku tidak bergeming.
Ia terdiam.
"Aku cuma..tidak ingin mati di arena dengan perasaan yang masih tertinggal disini. Aku ingin mati tanpa meninggalkan apapun. Aku tidak ingin mati dengan membuat orang merasa kehilangan atas kematianku. Aku hanya..berusaha memutuskan ikatanku dengan semuanya disini," tiba tiba ia berkata panjang lebar. Baru saja aku membuka mulut dan dia langsung melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, melupakan semua ikatan denganmu adalah yang paling sulit Cato. Kau tahu, saat kau pertama kalinya memiliki orang yang dekat denganmu dan dalam waktu singkat kau sadar, bahwa ternyata dia adalah yang pertama..dan terakhir," dan tiba tiba setetes air mata jatuh menuruni pipinya.
Dan lalu ia terduduk sambil terisak. Dan ini pertama kalinya ia benar benar menangis tanpa menutupinya dariku.
Keputusanku sudah bulat.
"Apapun yang terjadi, kau tidak akan sendirian Clove," Ia langsung mendongakkan kepalanya dengan pandangan bagaimana-mungkin-?
"Aku akan menemanimu di arena. Apapun yang terjadi. Peserta Hunger Games ke 74 dari distrik 2 adalah Cato dan Clove,"
