The Hunger Games milik Suzanne Collins.

Adegan yang sama Clove cuma sedikit, chapter depan deh dibanyakin :D

Mind to read and review? :) Karena reviewlah sumber inspirasi utamaku u_u


Hari mengerikan itu datang juga. Orang orang dari capitol datang dengan pesawat ringan tepat diatas kepala kami. Para penjaga perdamaian sibuk membersihkan balai tempat pemilihan diadakan. Seorang laki-laki berambut hijau daun dengan kumis senada tampak sibuk mengurusi persiapan sana sini.

Aku tidak boleh takut. Karena ini pilihanku.

Aku menghela napas panjang sambil merapikan kemeja abu-abu ku. Menggulung lengannya sampai ke siku. Merapikan rambut pirang yang jatuh di wajahku.

Aku memantapkan diri melangkap ke balai pemilihan. Tampak tempat itu sudah ramai dengan anak anak 12-18 tahun. Berbagai ekspresi menghiasi wajah mereka –anak kecil yang masih ketakutan hingga mereka yang penuh percaya diri bahwa akan menang menghadapi kematian mereka-.

Hingga mataku terhenti di satu sosok. Clove. Dengan rambut hitam yang biasanya terkuncir kini tergerai. Dalam balutan dress merah maroon, kulit putih pucatnya itu tampak menonjol.

Orang boleh tidak menghiraukannya. Tapi aku sama sekali tidak bisa melepaskan pandangan darinya, tanpa sadar aku menahan napas.

"Sampai kapan mau melamun disitu nak, kemarikan jarimu, aku butuh darahmu," suara penjaga perdamaian membuyarkan lamunanku. Ugh, sial.

Setelah menyelesaikan segala urusan dengan penjaga perdamaian, mereka menggiringku di barisan kedua dari depan –bisa kulihat Clove berdiri acuh tak acuh dibarisan tengah-. Laki-laki berambut hijau daun itu memulai pidato membosankan yang dibacakannya setiap tahun, lengkap dengan aksen aneh Capitolnya yang menganggap bahwa semua ini adalah hiburan yang menyenangkan.

Mimpi buruk itu dimulai.

XX

"Jadi aku mulai saja, seperti biasa, anak perempuan lebih dulu! Kita lihat siapa gadis berani yang akan mewakili distrik ini tahun ini, hmmm," katanya sambil mengacak acak bola kaca berisi nama nama –dimana Clove adalah salah satunya. Aku menahan napas.

"Dan...siapa ini? Hmm...kita panggil ke depan, Clove!"

Hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Aku panik. Firasat Clove benar.

Dan yang lebih menyedihkan, firasat Clove benar untuk kedua kalinya. Tak ada seorang pun yang mau menggantikannya, bahkan tak ada satupun tatapan kasihan, yang ada hanyalah senyum mengejek yang terkulum. Sial.

Ia maju dengan tatapan tak peduli. Aku tahu kau cuma pura-pura kuat kan Clove?

"Lalu seperti biasa, kita lanjutkan dengan anak laki-laki yang pemberani! Dan kita dapat satu nama! Kita panggil kedepan.." semoga itu Cato. Sebutlah nama Cato. Cato. Cato.

"...Garrett! Silahkan maju ke depan!" laki-laki itu menunjuk seorang anak laki-laki berambut merah yang tampak percaya diri.

Ini tidak boleh. Aku sudah janji pada Clove dan diriku sendiri bahwa peserta Hunger Games ke 74 dari distrik 2 adalah Cato dan Clove.

Jangan takut, Cato. Sugestiku pada diri sendiri.

Aku menarik napas.

Tepat 2 langkah sebelum Garrett naik ke atas panggung, aku berteriak.

"AKU MENGAJUKAN DIRI! NAMAKU CATO!"

XX

"Anak bodoh! Bukankah ayah sudah bilang, jangan mengajukan diri kecuali itu adalah tahun terakhirmu di pemilihan? Kesannya kau melawan takdirmu sendiri!" bentak ayah sambil memukul pundakku. Membuat gaduh ruang tunggu.

"Ini hidupku ayah, aku akan menjalaninya dengan caraku sendiri. Aku..sudah capek, hidup dalam perintah ayah,"

"Terserah! Ayah..tak akan mengharapkan kau pulang. Terserah. Kau mau menjalani hidupmu sendiri kan? Ayah juga akan menjalani hidup ayah sendiri. Ayah tak akan repot repot membantumu memberi sponsor," bentaknya sambil meninggalkanku, membuang sisa waktu 1 menit dari 3 menit yang diberikan.

Aku hanya bisa menghela napas.

Lalu seorang perempuan berusia 40 an masuk dan menghambur memelukku. Ibuku. Ia membasahi pundak ku dengan air mata. Satu-satunya yang kusesali dari keputusanku mengajukan diri hanya satu : melihat Ibuku menangis. Maafkan aku bu, tapi..laki laki harus memilih jalan hidupnya sendiri kan?

"Cato...aku tahu, ini keputusanmu dan ibu tidak akan melarangmu. Kau tahu, sebagai Ibu pasti ada sisi yang tak rela melepaskanmu, tapi, Ibu akan berusaha sebisa ibu, membantu mencarikan sponsor untukmu di arena nanti. Oh ya..aku harap kau menyimpan ini ya, sebagai lambang dari distrikmu," katanya sambil memberikan sesuatu ditanganku. Sebuah kalung berbandul cakar harimau.

"Itu..milik ayahmu. Sekeras apapun kalian sekarang, kalian tetap laki-laki yang paling berharga di hidup ibu," lalu penjaga perdamaian menariknya keluar, tanda bahwa 3 menitnya telah habis.

"Tetaplah hidup Cato! Kalaupun..pada akhirnya kau tidak kembali, Ibu yakin, alasan dibalik semua itu akan membuat Ibu sangat bangga padamu,"

Lalu pintu ditutup dan aku tahu, tidak akan ada lagi yang mengunjungiku setelah ini.

XX

"Clove," aku menepuk pundaknya, memandang distrik 2 dari jendela kereta kami yang perlahan-lahan bergerak, meninggalkan apapun yang kami miliki di belakang.

Ia tidak menyahut, tapi aku tahu, Ia diam karena jika membuka mulut sedikit saja pasti yang keluar adalah tangisan. Seorang petugas balai pemilihan memberi tahuku, bahwa tidak ada seorang pun yang datang mengunjungi Clove diruang tunggu.

"Kau tahu, aku sebisa mungkin menjaga janjiku untuk selalu melindungimu, apapun yang terjadi," kataku sambil memakaikan kalung yang diberikan ibu tadi kelehernya. Lalu berjalan meninggalkannya yang masih bingung kenapa aku memakaikan kalung tadi ke lehernya.

Hidupku yang sebenarnya, baru dimulai sekarang.