The Hunger Games milik Suzanne Collins.

Lama update, sibuk sekolah nih, Oktober depan aku naik kelas 3 ;_; tapi fict ini pasti tetep lanjut koook xD

special thanks to skyesphantom yang setia ngasih review ;)

Mind to read and review? :) Karena reviewlah sumber inspirasi utamaku u_u


Begitu sampai di Capitol, seorang wanita aneh, sepertinya penata gaya kami, langsung menyuruh kami masuk ke ruangan khusus tributes dari distrik 2. Aku dan Clove hanya diam, menuruti semua perintahnya untuk berputar kesana kemari, melakukan gerakan ini itu, yang katanya dia sedang memikirkan kostum yang tepat untuk kami. Huh, Capitol memang tak berotak. Jika pada akhirnya kami –setidaknya, 23 dari tributes- akan berakhir kaku di peti mati yang terkunci saat dikirimkan ke distrik kami masing masing, untuk apa mereka menyulitkan diri dengan mendandani kami (yang menurut mereka) sebagus mungkin?

Menjadi korban kebodohan Capitol, kami keluar dari ruangan dengan kostum campuran ala gladiator dan..burung mungkin? Lempeng-lempeng emas sebagai pengganti bulu menghiasi tubuh dan hiasan kepala kami. Aku merasa sangat bodoh, tetapi wajah Clove sama sekali tidak menunjukkan keberatan –ataupun persetujuan-. Penata gaya kami, wanita aneh berkulit biru muda yang kuketahui namanya Rosalind, memekik histeris, mengatakan bahwa kami adalah karyanya yang sangat-sangat brilian.

Aku menghela napas, sedikit lega, melihat ternyata 11 distrik lain juga berpakaian sama bodohnya dengan kami. Tunggu, bukan 11, hanya 10.

Anak perempuan berwajah tak peduli dan anak laki laki pirang dari distrik 12, tampak..normal, dimana kata 'normal' adalah hal yang sangat jarang di Capitol. Kostum hitam dengan api yang mengagumkan, harus kuakui, penata gaya mereka jenius. Sedikit iri, tapi kuhapuskan pikiran itu, apakah pakaian normal akan membantu distrik mereka untuk menang? Tidak.

Kuraih tangan Clove, mengajaknya untuk naik ke kereta kuda putih yang sudah disediakan. Ia menepis tanganku. Kutatap Ia dengan sorot mata heran.

"Keakraban tak akan mengubah kenyataan bahwa kita ini pembunuh, Cato," katanya ketus. Meninggalkanku dalam kebingungan atas sikapnya yang tiba-tiba berubah.

Parade membosankan ini terasa berlangsung sangat-sangat lama. Apalagi dengan Clove yang entah menganggapku ada atau tidak, membuatku merasa sendiri. Terisolasi dalam 'dimensi hampa' diantara gemuruh gembira keramaian rakyat Capitol. Membuatku tanpa sadar menghabiskan parade dengan melamun yang dianggap rakyat Capitol sebagai ekspresi angkuh.

Sendiri. Terisolasi. Ketidak-akraban. Benar kata Clove beberapa saat yang lalu.

Kami pembunuh.

Mau tidak mau, kami memang pembunuh.

XX

Selesai parade, aku langsung menghempaskan diri ke ranjang empuk yang ada di tengah tengah kamarku –kamar dengan jendela besar sekaligus layar televisi-. Ini menyebalkan. Aku sampai rela bermusuhan dengan ayah demi melindungi Clove, dan sikapnya kembali seperti saat pertama Ia mengenalku? Tidak adil.

Bukan, bukannya aku menuntut balasan Clove, aku memang ingin melindunginya dengan tanganku sendiri. Tapi yang kuharapkan bukan ini. Bukan dua orang yang tidak saling mengenal dari distrik dua yang datang untuk mati.

Hari pertama latihan. Clove semakin aneh, semakin menjauhiku, bahkan bersikap seolah olah seperti musuhku. Melempar pisaunya dengan mata tertutup dan tepat mengenai sasaran. Seperti biasa tetap mengagumkan. Tapi itu sosok Clove..sebelum aku berteman dengannya. Gadis pelempar pisau bersorot mata dingin itu kembali lagi.

Kawanan karier lain begitu mengaguminya –terutama dari distrik 1. Terlihat bagaimana si anak laki laki dari distrik satu, Marvel kalau tak salah bagaimana mereka menyebutnya, berusaha berteman dengannya walaupun hanya dijawab dengan anggukan tanpa sedikitpun menaruh perhatian.

Tentu tidak cuma Clove yang jadi perhatian. Entah kenapa si anak perempuan pirang dari distrik satu, Glimmer, terus-terusan menempel padaku sejak aku mempertunjukkan kemampuan pedangku dengan mengalahkan pelatihku kemarin. Sedikit risih dengan aroma bunga menyerbak khas gaya hidup hedon distrik 1 yang menguar ke hidungku setiap Glimmer memeluk –menggamit lenganku dengan paksa, menyeretku kesana kemari ke pos pelatihan tak berguna seperti simpul dan kamuflase.

Aku terlalu terbiasa dengan aroma segar padang rumpu dekat tempatku latihan dengan Clove..dulunya. Aroma kebebasan. Aroma rumah.

Aku paling benci pos kamuflase. Untuk apa susah susah bersembunyi kalau kau punya kemampuan membunuh semua orang dan menyelesaikan semua mimpi buruk ini dalam waktu singkat? Aku pikir semua orang berpikiran begitu. Hunger Games ajang pembunuhan bukan? Datang untuk menang. Kau bukan datang untuk melarikan diri dari kenyataan karena ini takdirmu, kau yang terpilih.

Oh, mungkin tidak semua orang. Pasangan dari distrik 12 itu tampak tertawa dan akrab –menikmati setiap waktu yang mereka habiskan dengan saling mengecat di pos kamuflase. Si anak lelaki pirang entah mengeluarkan lelucon apa sambil menunjukkan tangannya yang tersamar di batang pohon hingga si gadis berkepang itu tertawa sambil sesekali meninju pelan lengan si anak laki laki itu.

Keakraban. Hal yang jarang kulihat di Hunger Games.

Juga hal yang kurindukan bersama Clove.

Hari hari latihan kami. Sasaran pisau latihan Clove. Boneka sasaran pedangku. Padang rumput tempat kami beristirahat selesai latihan. Kunciran rambutnya yang bergoyang terkena angin. Senyumnya yang hanya padaku setiap selesai menakhlukan tantangan yang kuberikan.

Gadis itu kini sedang terdiam di sudut ruang latihan, mengamati peserta lain. Tiba tiba matanya bertemu dengan mataku. Tetap dengan wajah stoicnya, tapi aku bisa membaca yang ingin dia sampaikan lewat matanya.

Cato, aku ingin pulang.