The Hunger Games milik Suzanne Collins.
Maaf updatenya lamaaaaaa bangeeeet u_u
Terimakasih semua reviewer, kalian inspirasi utama! xD
Kalau misalnya ada yang nyelempang sedikit...sori, ini sudah malam, agak nge-hang (/_\)
Mind to read and review? :)
Sorot mata itu kembali.
Gadis kecilku yang ingin menangis saat lemparan pisaunya mengenai kelinci sudah kembali.
Ingin aku menghambur memeluknya, mengingat ini ruang latihan, aku mengurungkan niatku. Aku hanya tersenyum dan memberinya tatapan aku-kan-sudah-janji. Dan kulihat sedikit sorot mata kelegaan di wajahnya.
Aku sudah janji. Benar...aku akan membawa Clove pulang.
Walau berarti kemenangan Clove harus dibayar dengan nyawaku sendiri.
XX
Dan akhirnya tibalah saat penilaian yang menentukan hasil latihan selama kami ada di ruang latihan.
Aku dipanggil lebih dulu. Clove hanya menatapku dengan senyuman sekilas yang sangat-sangat tipis. Tapi aku tahu dia tersenyum padaku.
Aku melangkah menuju ruang penilaian yang tertutup.
Beberapa orang dengan dandanan aneh –satu yang paling kuingat adalah seorang pria dengan ukiran jenggot yang aneh, entah siapa namanya, mereka menyambutku...berlebihan. Aku harapan mereka, katanya. Distrik dua dan satu selalu mengirimkan wakil terbaiknya, katanya. Dan omong-omong kosong seperti biasa, karena tahu jika aku menang pasti, setidaknya mereka akan menikmati sedikit dari hasil kemenanganku.
Sembari mengasah pedangku, aku mendengar salah seorang juri berkomentar,
"Hai, anak manis, taktik apa yang akan kau gunakan kali ini? Kau terlihat pendiam...tapi juga terlihat cukup menjanjikan. Apa kau akan bekerja sama dengan si gadis partnermu , lalu disaat tinggal kalian berdua...kau akan membunu—"
Trang. Celotehan wanita berambut aneh itu berhenti, ketika aku memulai "pertunjukan" pertamaku. Teknik gabungan antara keahlian pedangku dengan teknik melempar pisau yang diajarkan Clove padaku.
"Tentu tidak, nyonya. Ini memang Hunger Games, tapi saya tidak akan mengkhianati teman sedistrik saya sendiri..."
Trang. Trang. Trang. Trang. Empat pedang tertancap rapi di samping kiri-kanan dinding tempat penjurian. Masing-masing tepat di sisi kanan-kiri lambang Capitol.
"...apapun yang terjadi,"
Suasana sunyi.
Aku hanya melemparkan seutas senyum tipis pada para juri, membungkuk, lalu meninggalkan ruangan itu dengan langkah tegas.
XX
Setelah melewati malam interview yang membosankan bersama Caesar Flickerman –tidak ada yang penting kecuali Clove yang tampil anggun dengan gaun peachnya dan gadis dari distrik dua belas yang menggunakan gaun "terbakar".
Clove duduk di sebelahku dengan balutan gaun tidur hijau mint –yang seperti biasa membuatnya terlihat cantik, karena dia selalu cantik dengan APAPUN. Memandang layar televisi dengan tatapan cemas.
"Bagaimana? Berhasil membuat para juri berdecak kagum?" kataku mencairkan suasana. Clove tertegun sejenak, seperti mengingat-ingat kembali apa saja yang baru saja dia lakukan.
"Ekhm, entahlah. Aku hanya...kau tahu, mengulang semua latihan yang kulakukan bersamamu –baik di pelatihan maupun di distrik dua. Oh, emosiku sedikit terpancing sih, habis mereka menyebutku 'terlihat lemah dan tidak bisa apa-apa' jadi aku langsung saja melemparkan 5 pisau bersamaan dengan mata tertutup ke belakangku –alhasil mereka menancap di pintu dan meninggalkan bekas yang cukup dalam, hahahahaha," ujarnya bersemangat, panjang lebar.
"Ah, seperti biasa. Clove-ku selalu memberi kejutan," ujarku lalu refleks mengacak-acak rambutnya, yang tanpa di duga aku melihat semburat merah di pipinya –walaupun sangat, sangat tipis.
Perhatian kami langsung tertuju pada layar televisi yang menampilkan foto peserta mulai dari distrik satu beserta nilai yang mereka peroleh.
Para peserta dari distrik 1 mendapat nilai 9. Jika Marvel...aku cukup paham, tetapi, bagaimana mungkin si pirang yang terlihat tak bisa apa-apa itu mendapat nilai 9? Entahlah. Aku harus lebih berfokus pada diriku sendiri.
Distrik dua disebut. Clove reflek menggenggam tanganku erat. Fotoku muncul dan...aku mendapat nilai 10! Aku reflek merangkul Clove dalam dekapanku. Dan tiba-tiba Clove menjerit kegirangan, melihat nilai 10 yang juga berhasil dia dapatkan.
"Kita berhasil! Dengan begini kita pasti akan mendapat banyak sponsor, Cato!" serunya tanpa melepaskan diri dari rangkulanku.
"Kita bisa pulang Clove," sahutku pelan.
Sadar bahwa sekeras apapun kami berusaha...
...hanya satu diantara kami yang bisa kembali ke rumah.
Keterkejutanku bertambah melihat pasangan dari distrik dua belas mendapat nilai yang...well, cukup tinggi untuk ukuran distrik dua belas. Si anak laki-laki mendapat nilai 8 dan si anak perempuan berkepang...11?! Sungguh, anak perempuan itu membuatku sangat, sangat penasaran. Sekaligus sangat waspada.
Clove masih terdiam dalam rangkulanku.
Ketika aku melepaskan rangkulanku, ingin tidur dan melepas semua beban pikiran, Clove tiba-tiba merajuk,
"Untuk malam ini...terakhir, Cato. Temani aku. Tetaplah begini,"
Aku tertegun.
Lalu membenamkan wajahku di puncak kepalanya.
Harum ini, mungkin, tidak akan bisa kuhirup lagi.
XX
Dan akhirnya.
Hari ini tiba.
Arena. Bersama Clove. Aku tidak menyangka hal ini akan datang sebegini cepat.
Tiba-tiba semua terbayang di otakku. Bagaimana pertama kali bertemu Clove. Ayah yang memarahiku. Ibu yang menangisiku.
Ibu. Clove. Yang membuatku kembali tersadar akan tujuan utamaku : aku harus melindungi Clove apapun taruhannya, kalaupun aku gagal...aku harus kembali hidup-hidup. Demi Ibu.
Clove berjalan mendekatiku. 15 menit sebelum kami masuk ke dalam kapsul yang akan mengantar kami ke arena.
Ia mendongak. Menatap lurus-lurus ke mataku. Memandangiku dalam diam.
"Cato, kita akan kembali kan? Setelah ini, kita akan kembali jadi dua orang anak biasa yang akhirnya hidup normal kan?" aku mengangguk. Walaupun aku sendiri tidak yakin, Clove.
"Cato, kita akan hidup kan?" aku mengangguk. Aku bisa melihat air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Cato...ka-kau..." suaranya tercekat. Aku menahan napas. Aku tidak bisa melihat Clove yang seperti ini.
"...akan selalu di sisiku kan? Kau akan melindungiku, selalu ada di sampingku, apapun yang terjadi kan?" tangisnya akhirnya pecah.
Aku tidak tahan lagi.
Kurengkuh kepalanya dalam dekapanku. Membiarkannya menangis.
Lalu, dengan segenap keyakinanku, sambil memejamkan mata, aku membisikkan kata di telinganya,
"Aku. Akan selalu di sisimu. Apapun yang terjadi. Cato dan Clove akan pulang," ujarku.
Lalu kuseka air matanya mengggunakan kedua ibu jariku. Kukecup keningnya. Lama. Menyesap harumnya kuat-kuat. Menghirup wangi rumah, mungkin, untuk yang terakhir kalinya.
Dan akhirnya.
Selamat datang, realita.
