Naruto© Masashi kishimoto
Wind©Takamura Uru
hehe ini fict pertama ku di fanfiction gomenasai ya kalau aneh hahaha saya gak pintar membuat fict XDa
mungkin disini pemerannya bakal OOC berat ya jd saya peringatkan bagi yang tidak suka harap mengeklik tombol back :P
oh ya minta review nya yaaaaa~ XD boleh flame asalkan jgn membuat hati saya sakit T.T #jduakk
okeh chapter terakhir ini silahkan baca yaa~
genre : Romance/Hurt/comfort
rated : T
warning : OOC, AU, Typo (s), gaje, alur berantakan, dan seabrek peringatan lainnya #plakk
pair : SasuSaku
Tiba saatnya musim panas berakhir, sudah waktunya musim gugur tiba. Lusa sudah musim gugur, itu artinya aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Haruka-kun. Aku sudah yakin dengan apa yang kurasakan sekarang ini. aku berharap Sasuke-kun dan diriku bisa selamanya bersama setelah ini..
Dua hari berlalu dengan cepat, hari ini aku akan mengatakannya di bukit belakang sekolah. Aku sangat gugup karena hari ini adalah hari yang menurutku akan menjadi sangat spesial. Waktu sudah menunjukkan pulang sekolah, aku berjalan menuju bukit belakang sekolah. Aku berdiri disana menunggu Sasuke.
Namun ada satu yang membuat persaanku tidak enak, angin hari ini terasa dingin seakan menjauh dari ku. Apakah ada sesuatu yang akan terjadi. Pikiranku masih melayang sampai ada suatu suara yang kukenal memanggilku dari arah belakang. Ya dia adalah Sasuke-kun. Dia berjalan mendekat kearahku, lalu berdiri tepat disampingku.
"Sakura-chan.." ucapnya sambil menatapku dengan senyuman manisnya.
"..." aku terdiam masih mencoba untuk bisa mengatakannya. Aku terlalu gugup sampai2 mulutku terasa terkunci.
"apa jawabanmu Sakura?"
"ahh..mm.." aku memalingkan wajahku, aku terlalu gugup untuk menatap wajahnya. "Sasuke-kun aku...menerimamu.." lanjutku dengan muka yang memerah.
"Sakura-chan terima kasih.." jawabnya sambil memelukku dengan hangat. Tak terasa air butiran bening mulai keluar dari mata ini. Aku tidak tahu apakah ini tangis bahagia, tapi yang pasti sekarang ini aku telah menerimanya di hatiku. Aku berharap akan selamanya seperti ini..
"Sasuke-kun apakah kau mau berjanji..?" tanyaku sambil melepas pelukannya.
"berjanji apa ?"
"berjanji untuk selamanya ada di sisiku dan jangan pernah pergi dariku.."
"aku berjanji Sakura.." jawabnya agak lirih, namun tetap dengan senyumannya. Aku merasa agak tenang tapi juga ada rasa tak enak yang mengganjal hatiku sekarang ini.
"benarkah itu ?" tanyaku lagi dengan suara agak pelan.
"..." dia tak menjawab, aku bingung dan semakin gelisah. Tapi tiba-tiba sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Membuat pipiku bersemu merah. "Sakura kau jangan pernah meragukan cintaku lagi.." ucapnya setelah itu.
Suasana di bukit belakang sekolah itu kembali menjadi hangat, perasaanku yang semula tidak karuan perlahan menjadi nyaman saat bersamanya tak mengindahkan sedingin apapun cuaca saat ini. Sejenak aku berpikir apakah aku egois jika ingin selalu disampingnya selamanya...
-skip-
Hari ini adalah hari dimana aku sudah resmi menjadi kekasihnya setelah kemarin aku menerimanya di bukit belakang sekolah. hh... aku sangat senang karena dipikiranku sekarang aku bisa setiap hari bersamanya dan menghabiskan waktu berdua. Di hari ini juga Haruka-kun mengajakku kerumahnya supaya bisa berkenalan dengan kedua orang tuanya. Hmm aku agak cangung yah bagaimana tidak, aku kan mau bertemu dengan orangtua kekasihku. Aku harus bersikap sopan..
"Sasuke-kun !" teriakku pada seorang lelaki yang tak lain adalah kekasihku.
"oh, Sakura-chan, ayo kita ke rumahku hehe.." jawab lelaki itu dari kejauhan dengan melambai-lambaikan tangannya disertai senyuman manisnya.
"iya " ujarku sambil berlari kearahnya. Lalu kami berajalan beriringan menuju rumahnya. Disepanjang jalan aku merasa sangat gugup, karena baru kali ini aku jalan berdua dengan laki2. Ternyata saat bersama orang yang dicintai lebih berdebar2 dibanding saat melihat tokoh idola yang disukai..
-skip—
"tadaima.." ujar Sasuke-kun saat memasuki rumahnya. Tak kusangka ternyata di adalah anak orang kaya..
"selamat datang tuan muda..." kata seorang maid yang cukup cantik dan terlihat masih muda.
"mm iya ah dimana kaa-san dan tou-san?"
"tuan besar dan nyonya besar sedang berada di meja makan menunggu kedatangan anda tuan.."
"baiklah silahkan kau lanjutkan pekerjaan mu.."
"baik tuan, permisi.."
Aku hanya bisa terdiam sambil melihat sana-sini. Aku bagaikan berada dalam sebuah istana. Rumah Sasuke-kun sangat mewah tidak sebanding dengan rumahku yang sederhana. Aku merasa apakah aku pantas menjadi kekasih seorang tuan muda. Tapi walau apapun yang terjadi aku akan tetap menyukainya. Lalu lamunanku tersadar saat Sasuke-kun menarik tanganku, aku sempat kaget. Namun dia kembali tersenyum dan berkata padaku.
"hmm hehe anggap rumah sendiri ya tuan putri.." ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"ahh.." dalam sekejap kata-kata itu sukses mebuat pipiku merah merona. Aku senang karena diperlakukan seperti seorang tuan putri oleh kekasihku sendiri.
-skip—
"ayah..ibu.. perkenalkan ini Sakura-chan.." kata Sasuke memperkenalkan ku didepan orangtuanya.
"oh jadi ini Sakura..hmm cantik.." ucap kaa-san nya sambil tersenyum manis persis seperti Sasuke-kun. Aku hanya bisa tersipu malu sambil memberi hormat kepada kedua orang tuanya.
"salam kenal saya Haruno Sakura.." kataku sambil membungkuk memberi hormat.
"baiklah Sakura lebih baik sekarang kita makan malam dulu" ujar tou-san nya.
Makan malam yang kulakukan malam ini cukup menyenangkan, karena kehangatan yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Aku merasa seperti dirumah sendiri. Aku senang karena bisa diterima dengan baik dikeluarga Sasuke-ku. Tapi kulihat dibalik kehangatan itu tersembunyi kesedihan, terlihat dari tatapan ibunya yang terlihat sedih saat melihatku dan Sasuke-kun sedang bercanda. Aku tak tahu arti tatapan sedih itu. Tapi aku yakin pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan, entah apa itu lebih baik aku tidak mengetahuinya.
"Sakura-chan.."ucap kaa-san nya kepadaku.
"ahh i-iya ada apa? " jawabku kaget karena waktu itu aku sedang bercanda dengan Sasuke.
"hmm Sasuke beruntung bisa mendapatkanmu, kau baik..manis.."sebelum melanjutkan perkataan nya terlihat kaa-san nya menarik nafas panjang."..semoga kalian dapat selalu bersama..."lanjut kaa-san nya dengan tatapan sedih dan senyumannya.
Mendengar itu aku hanya bisa tersipu malu. Aku merasa senang karena aku bisa diterima dikeluarga Sasuke-kun dengan baik. Semoga saja kehangatan ini akan terus kurasakan bersama keluarga Sasuke...
-skip—
Hari ini adalah hari ke tujuh musim gugur itu artinya sudah seminggu aku menjadi kekasihnya. Sekarang aku sedang berada di bukit belakang sekolah bersama Sasuke-kun, katanya dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Aku berharap sesuatu itu menggembirakan untukku..
"mm Sasuke-kun kau mau bicara apa?" kataku sambil memandang Sasuke yang masih terdiam sambil berdiri di sampingku.
"..." sepertinya ada sesuatu yang sedang dia pikirkan sampai beberapa menit dia masih terdiam melihat lurus kedepan.
"mm Sasuke?" tanyaku lagi sambil mengayun-ayunkan telapak tanganku di depan wajahnya. Lalu dia seperti tersadar dan menatapku tapi kali ini tatapannya sungguh tanpa ekspresi. Aku bingung apa maksudnya terlebih saat dia mulai berbicara padaku..
"Sakura maaf..." ucapnya masih dengan tatapan tanpa ekspresi.
"maaf untuk apa Sasuke-kun..?" tanya ku dengan agak was-was. Aku takut ini adalah sesuatu yang buruk.
"maaf jika suatu hari aku tak bisa bersamamu lagi.." kini ekspresinya mulai kembali tapi dengan tatapan sedih.
"a-apa? Maksudmu apa Sasuke-kun..?" aku mulai menangis aku takut dia benar2 pergi dan meninggalkanku.
"..."dia tidak menjawab nya hanya sebuah pelukan hangat yang dia beri. Dan itu semakin mambuatku ingin menangis. Alhasil aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Haruka.
"Sa-ku-ra..ma-af.." ucapnya terbata-bata. Lalu aku merasakan bahwa pelukannya mulai melemah. Aku khawatir lalu kulepas pelukan itu. Namun apa yang kulihat..dia tersenyum lalu darah segar mengalir dari hidungnya. Dia mimisan..tak lama Sasuke-kun pingsan. Aku panik dan kutelepon ambulan. Aku tak habis pikir jadi maksud perkataannya tadi adalah...
Kenapa ini harus terjadi..
Tak bisakah ku merasakan cinta ini lebih lama..
Kami-sama...kenapa kau tak pernah adil untukku...
-skip—
"kapan kau akan bangun Sasuke-kun ini sudah 3 hari.." gumamku sambil menatap tubuh yang terbaring di hadapanku. Sudah tiga hari ini Sasuke koma, aku selalu menemuinya setelah pulang sekolah. Sama dengan hari ini, aku menemuinya tapi kali ini aku membawa seikat bunga edelwiss. Aku tidak tahu kenapa aku memilih bunga ini tapi menurutku ini dapat menggambarkan agar aku dan dia tetap bersama, yah semoga... sampai kurasakan ada tanda-tanda Sasuke ada perkembangan, jemarinya mulai bergerak. Dan itu sangat membuatku bahagia.
"Sasuke...kau sudah sadar?" tanyaku lembut sambil menggenggam tangannya.
Lalu kemudian dia membuka matanya perlahan dan mencoba untuk tersenyum padaku.
"ma-maaf...Sa-ku-ra" ucapnya agak terbata-bata dan suara yang lemah.
"tak apa Sasuke, aku harap kau segera sembuh..." aku mencoba untuktersenyum dan tidak menangis dihadapannya.
"tapi Sakura...aku..." jeda dalam kalimatnya itu membuat perasaanku saat ini mulai tak menentu. Aku tidak berharap dia akan melanjutkan perkataannya kali ini.
"aku...sudah tidak punya waktu lama lagi Sakura..aku terkena leukimia stadium akhir...yang ku inginkan sekarang adalah operasi di Amerika..itu agar aku dapat kembali seperti semula dan berada di sisimu walau kemungkinan berhasilnya hanya 2%.." lanjutnya sambil mengelus pipiku dengan tangannya yang lemah dan tatapan sendunya. Aku tak bisa berkata-kata lagi hanya air mata yang berbicara kali ini aku sudah kehilangan akal ku. Bila aku egois ingin aku menolak dia pergi untuk dioperasi ke Amerika karena aku takut operasi itu gagal, tapi bila tidak di coba percuma...
-skip-
Hari ini adalah hari operasi Sasuke di Amerika. Aku berdiri di atas bukit belakang sekolah sambil menatap langit yang biru. Tak terasa kristal bening itu mulai tumpah walau sudah dibendung. Ku merasa hawa hari ini begitu dingin, kali ini angin tidak menjadi temanku justru dia menjadi musuhku. Karena dia begitu menusukku dengan hawa dinginnya. Pohon pun cukup ikut menangis bersama diriku dengan digugurkannya dedaunan tepat diatasku. Lalu dering telpon seolah memecah keheningan yang kurasakan.
KRINGGG~
"halo Sakura !"
"ah iya..ini siapa?"
"kaa-san nya Sasuke.."
Deg..
Jangan bilang...
"ah a-ada apa..?"
"Sasuke dia..." terdengar tangis di sana dan kuyakini itu adalah suara dari ibunya Sasuke.
Aku tak sanggup kalau...
"dia... dia tidak selamat Sakura..operasinya tidak berhasil.." saat ku mendengar perkataan ini rasanya hatiku bagai hancur berkeping-keping. Langsung kujatuhkan hp ku bersamaan dengan diriku yang seolah tak sanggup menahan beban tubuhku sendiri. Kini apa yang harus kulakukan. Harapanku hancur di sini, ditempat harapanku terbentuk. Desiran angin begitu mengejekku. Menari-nari diatas kesedihanku. Humm apa mereka puas telah mempermainkanku...
dimensi kita kini berbeda..
menyisakan ruang hampa diantara jarak dimensi tempat kita berada...
benarkah mencintaimu itu hanya ilusi sesaat?
kalau sudah begini aku tidak tahu harus mengatakan apalagi..
Rasa sakit ini sangat menyiksa...
-skip—
Butiran salju pertama di awal musim dingin...
Mengingatkan ku pada kenangan yang pahit..
Menusukku dari hati sama seperti dinginnya salju yang menusuk kulitku..
Entah di waktu kapan kita bisa bertemu lagi..
Tak bisakah kau pergi dengan ku...
Kenapa hanya dirimu yang pergi meninggalkan duka bagi diriku..
Butiran salju semakin banyak menghujamku..
Hari ini sudah akhir musim dingin. Tapi aku tetap merasakan dingin nya salju di awal musim. Tak kupedulikan betapa dinginnya cuaca di musim dingin, hampir setiap hari aku berada di bukit ini. Menatap kosong dan mencoba mengingat semua kenangan indah bersamanya. Entah sampai kapan ku akan terus begini.
Jam ditangan sudah menunjukkan pukul 5 sore saat nya aku pulang kerumah. Aku tidak ingin membuat Kaa-san dan Naruto khawatir karena aku belum pulang. Ku berjalan menuju stasiun dan melewati trotoar jalan, entah pikiranku sedang melayang kemana selalu saja aku menabrak orang. Sekarang aku sedang bersiap untuk menyebrang jalan, lampu masih menujukkan warna merah itu artinya aku tidak boleh menyebrang dahulu. Tiba2 angin bertiup dan membuat mataku kelilipan. Aku mendengar bahwa suara lampu pergantian warna rambu sudah berbunyi. Aku yang masih dengan mengucek-ngucek mataku, mencoba untuk menyebrang. Kukira semua juga sedang menyebrang. kudengar sayup-sayup teriakan orang2 yang mencoba berkata awas. Tapi..awas dari apa?
BRAKKK !
Butiran salju pertama di awal musim salju...
Mengingatkan ku pada kenangan yang pahit..
Menusukku dari hati sama seperti dinginnya salju yang menusuk kulitku..
Entah di waktu kapan kita bisa bertemu lagi..
Tak bisakah kau pergi dengan ku...
Kenapa hanya dirimu yang pergi meninggalkan duka bagi diriku..
Butiran salju semakin banyak menghujamku..
Rasa sakit ini sangat menyiksa...
Bisakah kita bertemu sekarang..
Aku sudah tak peduli akan dunia ini lagi..
Yang kubutuhkan adalah dirimu..
Kini kubiarkan tubuh ini berdiri terpaku ditengah salju..
Dingin merambat...
Kucoba berjalan melewati waktu..
Mencoba lupakan semua yang telah terjadi..
Namun apa daya...
Saat ku tengah melangkah..
Kurasakan diriku terlelap..
Hanya ada kegelapan yang menyelimutiku...
Aku tak mengerti..mungkinkah...
Secercah cahaya menampakkan nya di hadapanku..
Menembus segala kegalapan yang sungguh kelam ini..
Sesosok yang kukenal muncul dari cahaya itu..
Mengajakku untuk pergi bersama dirinya..
Kuterima ajakkan itu..
Sekarang diriku telah bahagia bersama dirimu dialam keabadian...
Selamanya dirimu dan diriku tak akan pernah dipisahkan kembali...
Kaa-san, tou-san, Naruto...maafkan aku tak bisa bersama kalian lagi...
waaahhhhhh gomen sangat kalau endingnya gaje yaa~ mohon maklum hahaha berhubung ini chapter terakhir saya akan mengatakan sampai jumpa di cerita saya selanjutnya XDDd
.
.
.
.
Review please X3
.
.
.
