Hyuhuuu…..
Selamat siang minna!
Uhuhuhu, fic terlantar saia nampaknya menjadi semakin terlantar nih *plakkk*
Tapi, yah sudahlah, sekarang saia sedang mencoba untuk mengumpulkan nyawa dan melanjutkan fic ini*jitaked*
Errr, saia hampir dibunuh oleh teman saia nih karena fic ini yang suangat luammmaa gak diupdate. Tuh orangnya, *nengok-negok kearah Hie*
Ah, dan ini adalah hadiah ulang tahun untukmu, Hie-chan. XO Gomen-nee, telat posting.
Dan,,yeah.
Here is the second chap of My School, My Disasater.
Enjoy!
Oh yeah, but DON'T LIKE DON'T READ!
BLEACH FANFICTION
Rated ; T
Ichigo Kurosaki-Rukia Kuchiki
Indonesian
Friendship, Romance
AU, AT, OOC, ABAL, GAJE, TYPOS
Disclaimer ; Until the end, BLEACH always Kubo Tite's *music background : until The End by a7f*
MY SCHOOL, MY DISASTER!
Chappie 2
"Jadi Ichimaru-san…kenapa kau juga ikut pindah? Kudenghar hanya dua orang bodoh itu yang diskorsing?!" tanya yang-terhormat-Nona Kuchiki Rukia saat mereka –Rukia dan Gin- menyusuri koridor Las Noches Institute yang panjang, menuju ke suatu tempat -entah dimana-
Cowok berambut salju itu menelengkan kepala, menatap Rukia lebih jelas lewat mata super sipitnya.
"Jadi begini Kuchiki-san, kami bertiga adalah sahabat tak terpisahkan "
Whatt? Kalimat yang meluncur dari bibir cowok salju barusan justru membuat Rukia merinding.
" sehingga, ketika 2 bagian dari tubuh kami terpisah, kami tidak bisa jauh dari satu sama lain."
Err, me-menurut pemikiran Rukia yang masih normal, semua itu tidak masuk akal. Bukankan mereka cowok-cowok normal?
"O-oh..benar-benar kompak.." tanggapan Rukia dengan nada yang seolah mengatakan apa-kau-bodoh?
Ichimaru Gin, cowok yang dijulugi The sexist pig-fox di sekolah awalnya itu melayangkan pandangan ke arah cewek mungil disampingnya. Sebenarnya, sejak tadi pagi ia masih penasaran, kenapa gadis semanis dia menjadi Ketua Komite Ketertiban? Bukankah, cewek semungil itu lebih cocok sebagai maskot cheerleader? Bukankah, Kuchiki-san akan tampak manis dengan baju berwarna-warni, memegang pom-pom, melompat-lompat indah dengan rok mini yang pasti akan menampakkan kaki indahnya itu-lagipula, lihat saja, dengan seragam sekolah pun ia tampak menggemaska-SNAPP! Gin segera mengalihkan pandangannya saat merasa tatapan kejam Rukia melayang.
Senyum setan-lagi. Dan membuat aura menggelap disekeliling mereka.
"Ada apa Ichimaru-kuun?" dengan nada selembut malaikat, Rukia menanyai cowok salju itu.
"A-ah... bu-bukan masalah besar Ku-Kuchiki-san. Ha-hanya sesuatu yang, yang, yang tidak- ahh tidak senono-maksudku tidak penting" Jawaban tidak meyakinkan itu membuat Ichimaru Gin yang biasanya selalu stay cool dengan keadaan apapun kini berkeringat dingin.
"Ya sudahlah kalau begitu.." jawab Rukia. Diakhiri dengan catatan dalam benaknya-1. Ichimaru Gin, brengsek!
Lagipula siapa yang tidak tahu apa yang dipikirkan seorang remaja macam cowok salju itu, dengan mata sipit yang dipaksakan membuka, kedua bibir yang juga sedikit terbuka dan pipi yang merona sehat mewarnai salju yang menjadi ciri khasnya itu-menatap berseri pada tubuh mungil Rukia, dengan fokus tatapan dari pinggang kebawah. Oh well. Pervert.
Mereka sampai didepan sebuah ruangan yang dari pintu serta cat-cat yang mengelupas nampak bahwa itu memang bukan ruangan yang sering dikunjungi.
Rukia mengeluarkan kunci mungil dari saku kamejanya.
Blushhh.. debu mengepul begitu pintu itu terbuka. Terbatuk sejenak gadis Kuchiki itu melangkah masuk. Ruangan itu adalah ruangan arsip. Dengan ratusan rak maupun loker-loker penuh dengan kertas tua yang tidak rapi, dan jangan lupa, debu menjadi dekorasi dari ruangan tersebut. Ohhh, begitu juga sarang-sarang laba-laba yang menggantung disetiap sudutnya.
"Ehm, sebenarnya tadi aku berencana meminta bantuanmu mencari beberapa file yeng kemarin diminta kepala sekolah, terkait dengan masalah kedisiplinan siswa. Tapi tampaknya itu tidak bisa ku lakukan Ichimaru-san, jadi bisakah kau melakukannnya untukku Ichimaru-sa~n?" A-apakah mungkin kau akan menolak permintaan-salah, perintah dari seorang yang aura hitam pekatnya sudah merambat dibalik sumsum tulangmu? Sekaligus yang memiliki tatapan secantik malaikat pencabut nyawa-itu tidak cantik, kuberi tahu, tapi mematikan.
"Te-tentu saja Kuchiki-san, dengan senang hati.." jawaban itu bukan dipaksakan, tapi terpaksa terlontar. Dengan senyum lebarnya, cowok salju itu menatap polos pada Rukia.
Rukia mengeluarkan gulungan kertas seperti struk belanja yang tergulung dengan diameter tidak kurang dari 10 cm dengan tulisan selembut salju didalamnya.
"Kami butuh arsip-arsip sebanyak ini, jadi segeralah memulai untuk mencarinya." Katanya riang pada Ichimaru.
"Ba .."
"Oh, aku lupa Ichimaru, jadi jangan pedulikan nomor dan kode-kode arsip yang ada di rak karena tidak ada satupun dari file yang ada disini diletakan sesuai data" senyuman cantik itu dilemparkan Rukia sesaat sebeum ia menghilang dibalik pintu ruang arsip tersebut.
" iik..." PRANGGGGGGG
Semua rumah kaca yang sudah di bangun Ichimaru diotaknya kini hanya tinggal kepingan tak terbentuk. Menyisakan kerangka besi imajiner yang bengkok penuh luka. Oh welll, itu berlebihan. Andai saja kemarin ia tidak menuruti kata hatinya...
FLASHBACK OF GIN
"Hmmmm..." cowok berambut salju itu mengangguk mendengarkan keluhan teman-teman pelanginya. Ia menautkan kesepuluh jemarinya, menggunakan itu untuk menopang dagunya. Tidak lupa tatapan seolah mengerti terpancar dari mata sipitnya.
"Jangan 'hmmmm'i kami bodoh! Pikirkan jalan keluarnya. Aku tidak mau terdampar di neraka menjijikkan itu.." gerutuan dari teman biru lautnya itu membuatnya meringis.
"Apa yang bisa kulakukan Grimm? Aku tidak bisa menghipnotis Mum-mu tersayang dan membuatnya berubah pikiran bukan?" matter of factly. Jawaban yang menyakitkan hati.
"Setidaknya buatlah sekolah brengsek itu menolak kami, Gin" permintaan pasrah dari teman jingganya itu justru membuatnya semakin meringis.
"Guys, bukankah menyenangkan bisa pindah kesekolah baru? Itu membuatku excited. Lagipula kalian bisa memulai semuanya tan-"
"Apa-apan itu? Kita nggak butuh sekolah neraka Gin. Dunia kita disini, baka!" Ichigo memotong ocehan teman saljunya itu. Ia menarik-narik rambut orangenya seolah ia tak butuh lagi helaian yang menghiasi kepalanya itu. Bukan karena bodoh mereka menerima skors dan detensi dari orang tua tersayang mereka, tapi itu cuma karena hal sepele, mereka bosan dengan rutinitas sekolah mereka.
"Harusnya kau segera bertindak saat tahu kami terkena skors, bukan malah memberi tahu sensei kejam itu alamat rumah kami yang sebenarnya. Apa kau tahu, aku ingin membunuhmu Gin.!" Ancaman Grimmjow memang sebaiknya ditanggapi secara serius, mengingat ia yang terkenal sebagi berandalan sekolah bersama teman orenge yang kini duduk melesak diatas sofa nyaman Home Theatre keluarga Jeagerjacques.
"Ah-ah.. itu kejam Grim-boo. Aku masih belum menemukan bidadari un—"
"CAN you just shut up?!" teriakan emosional Grimmjow menggema, menyaingi suara sfx dari film yang mereka saksikan. Helaan napas terdengar dari kedua sahabat pelangi itu-ups, bukan pelangi. Tapi, teman warna warni.
Dengan mengetuk dagunya pelan menggunakan jari telunjuk lentiknya, Gin berpikir keras. Ia berpikir, bagaimana caranya menyelesaikan masalah tersebut. Baginya siih, itu bukan masalah, bukankah dengan pindah sekolah kau bisa memulai semuanya? Menjadi orang baru tanpa ada yang menyadari bahwa kau hanyalah anak kuper disekolah lamamu? Atau bahwa kau hanya berandalan dengan blacklist terbanyak sebelum tahun ajaran baru itu?
"Er, Grimm... kupikir aku harus ikut kalian." Gin, bicara dengan menggaruk kepala saljunya pelan.
"Ha?" tanggapan polos dari Ichigo. Dengan mata membulat yang menampakkan iris cokelat madunya.
"Jangan bilang kau melakukannya hanya ingin." Grimmjow mengepalkan telapak tangannya, menimbulkan bunyi 'krekk' pelan. Seolah ia tengah bersiap menghajar orang-err, karena biasanya ia melakukan itu sebelum menghancurkan musuh-musuhnya.
"Kalau kau hanya main-main Gin, nyawamu bukan hal yang mahal bukan buat kami?" Jlebb. Pertanyaan menusuk itu juga dilemparkan oleh Ichigo ditengah kenyamanan mereka.
"Yeah, well, jadi kalau misalnya aku juga pindah, kurasa kalian tidak perlu mengkhawatirkan dengan tugas-tugas akademik. Aku akan jadi tutor kalian, mengingat yaaah...nilai kalian—"
PLAKK. Grimmjow melemparkan kemasan dvd yang barusaja dibelinya, dan itu tepat mengenai
"—ouph. Shit. Apa-apaan kau Grimm?" Gin menyumpah temannya itu.
"Kau pikir otak macam apa yang kami miliki bodohhhh?!" jadi, begini. Grimmjow itu temperamental. Dan, ia juga err—sedikit kejam, kadang-kadang sih.
"Hei, aku hanya menawarkan kebaikan. Karena, kau tahu, akulah penyelamat kalian!"
"Penyelamat kalian? Your ass..." Gerutuan itu juga sama, Grimmjow.
"Apa rencanamu, Gin?" Ichigo. Bertanya mencoba sabar.
Gin nyengir, membuatnya semakin meyakinkan untuk disebut sebagai the fox.
Ia mengambil boardmarker, menuju ke whiteboard mini yang tergantung didinding—yang dipasang Retsu-san untuk mengingatkan putra tersayangnya tentang makan malam dan yeah, belajar.
Tanpa dosa Gin menghapus pesan yang tertulis disana—"Grimm-boo, Mum pulang telat malam ini sayang. Buatlah makan malam sendiri, jangan lupa, cuci tangan sebelum makan. Oke? Dan, buku pelajaran untuk besok sudah Mum siapkan dimejamu. Belajar. Do ur'humwork n be a gud boy. Luv u hun, XOXO"—be-begitulah. Dan itu membuat Ichigo menatap ngeri. Bu-bukankah memang mengerikan memiliki Okaa-sama yang masih selalu memperlakukanmu seperti anak TK? Atau itu terkesan mesra untuk hubungan anak dan ibu?
Dengan cekatan cowok berwajah rubah itu membuat peta konsep. Dengan tambahan warna warni cantik yang menarik untuk anak usia balita dan jangan lupakan gambar emoticon senyum disetiap kotak peta konsep tersebut.
"Apa kalian mengerti?" mata sipit yang mencoba diapaksa untuk membuka nampak berbinar-binar laksana bintang menjelang fajar.
Ichigo menatap takjub dengan rencana brilian temannya, kedua bibirnya membuka sepersekian sentimeter menampakkan bahwa ia benar-benar terpana.
"A—aku tahu. Benar sekali Gin... kau, jenius!" komentar positif. Gin nyengir. Deretan gigi putihnya membuat ia semakin nampak ceria.
"Grimmjow?" Gin menoleh, menatap pada teman biru lautnya yang masih menatap whiteboard didepannya.
Gin dan Ichigo saling bertukar pandang, berharap teman satunya itu menyetujui renca, bukan—masterpiece salah satu dari mereka.
"Jangan-jangan ia tak mengerti apa maksud peta konsep itu?" pertanyaan inilah yang menjadi kekhawatiran kedua sahabatnya. Bukannya apa sih, hanya saja otak Grimmjow kadang cuma terisi oleh strategi menghajar lawannya.
Ichigo menatap resah sambil memainkan kesepuluh jarinya. Sesekali menggigiti kuku. Lagipula, teman birunya itu membutuhkan waktu terlalu lama hanya untuk memahami peta konsep sederhana yang ada didepannya.
" . . . ?" ouch, teriakan menyakitkan yang dipenggal-penggal untuk setiap katanya. Ngiiiiinggggg... telinga Ichigo tuli sesaat dan terdengar retaknya gelas piala yang ada dimeja depan mereka.
"Ma-maksudku be-begini Grimm, ki-kita—"
"Apa yang kau lakukan dengan pesan dari mum, bakayaro?" "Ia bisa—membu...arrgghh, nooo!" Grimm, berlari menghampiri papan putih itu, kesetanan mengahapus semua coretan dari sahabat saljunya.
Ohh, benar, Retsu-san akan marah jika—
"Gomen ne Grimm. Kita mau buru-buru pulang. Ahehehe.." Dua orang yang telah menyadari akibat yang akan terjadi, ngacir. Tanpa basa-basi. Tidak peduli dengan nasib Grimmjow yang meratapi papan putihnya.
—pesan istimewa yang ia tulis untuk putra tercintanya itu terhapus dari papan saat ia pulang.
END OF FLASHBACK
Gin menarik napas berat setelah ia tersengal-engal menyusuri deretan lemari arsip berdebu ruangan itu. Oh, well, Kuchiki-san yang manis.
~*bleach*~
Rukia melangkahkan kakinya mantap sepanjang koridor saat ia meneyempatkan diri menoleh pada sebuah kelas XII.
Ia menatap satu dari sekian banyak siswa yang duduk disana. Tersenyum singkat dan segera melanjutkan langkahnya, sebab, ada banyak hal yang tidak boleh diketahui orang lain.
"Kuchiki-saaan..." terdengar panggilan yang membuatnya berhenti. Seorang gadis dengan rambut yang di ikat dua di bawah telinga berlari menghampirinya. Momo Hinamori, Ketua Biro Departemen Kesehatan Akademik.
"Ya?" tanya Rukia smabil menaikkan sebelah alisnya ingin tahu. Tersenggal, Momo mencoba berbicara.
"Hhh, hhh... A-ada siswa hhh baru, hhh, korban.. Kenpachi-sensei dan Tat-tatsuki-chan. Hhh, hh."
Rukia menarik napas kecil, tertawa.
"Yeah arigato infonya Hinamori-san. Aku sudah menduganya, oke, kembalilah mengurusnya. Aku ada keperluan lain.. " Rukia pamit dengan tawa kecil yang manis seolah info tadi adalah tentang –"Rukia, ada cowok cakep menaruh bunga di lokermu"—
Yang tentu saja mambuat Momo ternganga ditinggalkan begitu saja oleh Ketua Komite Kedisiplinan yang ia hormati.
Semakin lengkaplah kebahagian gadis manis Kuchiki itu hari ini. Ia bersenandung sambil membuka pintu ruang kekuasaanya. Mememukan seorang cowok orange tengah menjungkirkan sebuah kardus kosong—owww, shit. Itu bukan kardus kosong, tapi penuh dengan potongan kertas warna-warni. Tersebar merata keseluruh ruangan resmi yang menakutkan itu, menyulapnya menjadi laiknya lantai pesta.
Rukia merasa urat-urat dijidatnya bermunculan dengan cepat.
"ICHIGO KUROSAKIIIIIIIIII..." Teriaknya ganas. Membuat Ichigo terloncat dan jatuh bersama sisa potongan kertas warna-warni yang berhamburan bagai confetti. Yeah, bencana baru untukmu Ichigo.
Tbc
Uwaaa, makin payah ternyata fic saya yang ini. Bi-bingung, senpai.
Haruskah di del aja? Hiksu.
Hee, Arigato Gozaimasuuu buat senpai-senpai yang berkenan baca.
dhiya chan
mayla Tania
ojou-chan
aRaRaNcHa
Niji
Aizawa Li Syaoran Vessalius
Yoshizo Kurochi
Rininlightblue
Hepta Py
bl3achtou4ro
Sora Hinase
master of bankai
Chappy Ruru
Kyukei Hieru
winna yoshioka
Megami-Chan
mamoru okta-chan lemonberry
Nee, begitulah. Jadi, berkenan untuk mereview? 0.o?
