TITLE: BEYOND THE SNOW AND ICE
AUTHOR: AUSTINE SOPHIE
DISCLAIMER: BLEACH AND ALL OF ITS CHARACTERS ARE THE PROPERTY OF TITE KUBO
WARNING: OOC (MAYBE), TYPO(S), PLOT ANEH DAN MEMBINGUNGKAN, DSB
Summary: Kuchiki Rukia tidak pernah mengetahui bahwa ternyata ia 'berbeda' dari manusia lainnya. Semuanya berawal disaat musim dingin yang menjadi musim favoritnya, dimana ia menemukan seorang pemuda tengah terkapar diantara salju. Entah misteri apa yang dimiliki oleh pemuda itu, secara bertahap, Rukia mulai mengetahui suatu rahasia yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri...
.
.
.
~HAPPY READING!~
CHAPTER 1: Hollows Attack
"Hah...hah...hah..." Suara derap langkah kaki seorang pemuda membahana ke seluruh pelosok hutan. Rambutnya berwarna putih keperakan dengan mata iris emerald-nya yang terlihat tenang namun tetap menyiratkan kekhawatiran. Bulir-bulir keringat mengalir dari atas wajahnya yang tampan.
Tiba-tiba, suara erangan dan raungan dari makhluk-makhluk yang mengejarnya kembali terdengar. Mendengar suara itu, si pemuda pun dengan cepat melangkahkan kakinya. Namun, luka besar yang menganga di balik kimononya mencegah pemuda itu untuk dapat berlari dengan cepat.
Dia tidak habis pikir, mengapa shinigami berpangkat kapten seperti dirinya dapat dilukai oleh hollow kelas rendahan. Mungkin jika wakil kaptennya ada bersamanya, ia akan menjadi bahan tertawaan habis-habisan.
Misinya kali ini seharusnya tergolong mudah bagi dirinya yang tergolong kelas kapten. Tugasnya hanya satu, yaitu untuk menyelidiki suatu hutan yang berada di kawasan suatu kota yang terpencil.
Menurut keterangan yang disampaikan kepadanya, hutan itu memiliki suatu aura yang aneh. Ditambah lagi, banyak hollow yang juga berkeliaran disana. Ia hanya ditugaskan untuk memeriksa keadaan di hutan itu dan melaporkannya kembali ke Seireitei. Simpel, kan? Namun, ternyata tidak semudah itu.
Ia salah perhitungan.
Tidak disangka ketika ia mulai memasuki kawasan hutan itu, tiba-tiba saja kekuatan shinigami-nya hilang sebagian. Seakan-akan, kekuatannya tersegel oleh kekuatan lain yang kasat mata.
Yang paling buruknya, ia tidak dapat merasakan reiatsu yang ada di sekitarnya. Panik, ia mulai melonggarkan pengawasannya. Tidak disangka ia malah diserang secara dadakan oleh sekelompok hollow di wilayah itu. Karena tidak dapat merasakan keberadaan hollow dibelakangnya, berhasilah sang hollow brengsek itu menebas tubuhnya.
Dan kini, ia tengah berlari menghindari sekelompok makhluk pemangsa yang haus akan roh itu. Ia tidak tahu sampai mana ia akan kuat berlari, mengingat lukanya sepertinya semakin dalam.
Langkah kakinya terhenti ketika ia sampai di tepi tebing. Kalau dengan bankai, mungkin ia bisa saja menggunakan sayap Hyourinmaru untuk dipakai terbang. Tapi melihat kondisi kekuatannya yang menghilang secara gaib, sepertinya mustahil baginya untuk meneriakkan kata Ban-Kai!
Pilihan yang tersisa hanyalah bertarung menghadapi komplotan hollow yang sedang menunggu di belakangnya. Sontak, ia segera memposisikan zanpakuto-nya untuk bertarung.
Dua, tiga hollow berhasil ditaklukan. Namun, seperti sebuah pepatah yang berbunyi 'Mati satu tumbuh seribu,' hollow-hollow yang bermunculan pun semakin menjadi-jadi. Dikalahkan satu, muncul lagi yang lain, membuat kapten jenius itu kewalahan dan dirinya pun semakin terdesak menuju tepi tebing.
'Sial!' Rutuknya dalam hati.
Tiba-tiba saja, kakinya tergelincir. Ia terkejut, tubuhnya pun meluncur menuju tebing. Refleks tangannya tidak cepat, membuat dirinya terjun dengan bebas dari tebing itu sebelum dapat menggapai sesuatu.
Sebelum kesadarannya menghilang, hanya satu hal yang menyangkut di benaknya. Jangan mencoba sekali-sekali merendahkan misi yang diberikan oleh kapten divisi pertama itu.
Dear brother,
Hai, Kak. Bagaimana kabar Kakak di sana? Apakah sehat-sehat saja? Kalau Rukia disini baik-baik saja.
Sudah genap sepuluh tahun Kakak pergi untuk bertugas di kota lain, meninggalkanku sendiri di rumah kecil kita. Kapan kakak akan berencana kembali pulang?
Hari-hari disini sama seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda. Pagi hari mengumpulkan makanan dan kayu bakar di hutan. Siang hari pergi ke kota untuk menukarkan barang. Hahhh...
Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada Kakak, kenapa Kakak tidak pernah membalas suratku? Apakah Kakak sangat sibuk? Kak, kalau pun benar begitu, aku hanya ingin mengetahui keadaan kakak. Tolong, satu saja...Biarlah Kakak mau membalas surat ini. Hanya surat ini saja. Rukia tidak akan menuntut lebih.
Terima kasih.
Your little sister,
Rukia
Kuchiki Rukia menghela napas sambil melipat surat yang telah ditulisnya dengan rapi kedalam sebuah amplop putih. Sudah berpuluh-puluh kali ia telah mengirimkan surat pada kakaknya, tidak satupun balasan yang ia terima.
Apakah kakaknya benar-benar sangat sibuk sampai-sampai tidak bisa menyempatkan waktu untuk mengirim surat untuknya? Itu tidak mungkin, kan? Sudah sepuluh tahun berlalu, satupun tidak ada yang ia terima. Hal ini benar-benar aneh.
Meskipun begitu, Rukia tidak pernah berhenti berharap. Ia terus meluangkan waktu untuk mengirim surat untuk kakak tercintanya itu.
Terbesit dipikiran Rukia untuk menemui kakaknya. Namun, ia takut jika kehadirannya hanya akan mengganggu kerja kakaknya. Selain itu, ia tidak mengenal betul tempat kakaknya bekerja. Bagaimana kalau ia tersesat disana?
Dukk! Perang batinnya pun berakhir ketika mendengar suara benda yang bertubrukan. Ternyata, suara itu berasal dari pintu jendela yang terbuka karena tiupan angin yang keras.
Rukia pun segera turun dari kursi mejanya dan bergegas untuk menutup jendela kembali. Kerjanya terhenti ketika kedua kelopak matanya menangkap butir-butir putih yang samar-samar jatuh di depan jendelanya. 'Salju!' Batin Rukia bersorak. Ya, butiran itu adalah salju yang menandakan waktu telah memasuki musim dingin, musim favoritnya.
Rukia sendiri tidak tahu mengapa ia menyukai musim dingin. Yang ia tahu, kebanyakan orang membenci musim dingin. Mereka tidak menyukai hawa dingin di musim itu, beda halnya dengan Rukia. Rukia merasa ada suatu ikatan antara dirinya dengan musim dingin. Apalagi dengan butiran-butiran kecil di luar jendela itu.
Salju itu kalau boleh diibaratkan olehnya, sama seperti seorang sahabat kala di musim dingin. Ia merasa, sejak kecil salju itu sudah seperti belahan lain dari dirinya sendiri. Karena itulah, musim dingin menjadi musim favoritnya. Salju, kan, hanya turun di musim dingin dan bukan di musim semi, apalagi di musim panas.
Segera ia mengambil jaket tebal yang berwarna ungu dari lemarinya. Tidak lupa, ia juga memasukkan suratnya ke dalam saku jaket miliknya. Untuk mengirim surat, Rukia harus pergi ke kota untuk dikirim lewat pos disana. Kenapa di kota? Mudah, karena di sekitar rumahnya tidak tersedia jasa kantor pos.
Rumah Rukia terletak di pinggir kota, tepatnya di dalam sebuah hutan kecil. Walaupun disebut hutan, namun hutan tempat Rukia tinggal tidak berbahaya. Justru, kakaknya dan Rukia lebih memilih tinggal disitu karena mereka tidak suka dengan keramaian di kota. Benar-benar kakak beradik yang kompak, ya.
Jarak dari rumahnya ke kota tidak terlalu jauh kalau boleh dikatakan. Kira-kira jika ditempuh dengan berjalan kaki, hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai tujuan.
Tapi sepertinya untuk kali ini, tujuannya keluar rumah tidak murni demi mengirim surat ke kakaknya. Pasalnya, dalam benaknya kali ini ia berencana untuk pulang cepat agar bisa bermain salju sepuasnya. Ternyata walaupun Rukia adalah orang yang mandiri, ia punya sisi kekanak-kanakkan juga.
Tidak lama ia berjalan, hujan salju yang turun mulai menebal, membuat permukaan tanah dilapisi salju yang semakin padat. Rukia yang mengetahui ini, hanya terlihat acuh tak acuh. Baginya, salju begini itu masih kecil. Dia masih tenang-tenang saja.
Rukia menarik pergelangan jaketnya, menampakkan jam tangan favoritnya yang berbentuk Chappy di pergelangan tangan kanannya. Jam lima lewat empat puluh menit. Dua puluh menit lagi sebelum kantor pos akan tutup.
Sontak, ia berdengus kesal. Takut jika kantor pos itu keburu tutup sebelum ia dapat mengirim surat, dengan segera ia mempercepat langkah kakinya.
Namun langkah kakinya terhenti ketika kedua mata violetnya menangkap sesosok manusia yang tengah tertimbun diantara salju disamping tebing. Kedua matanya membelalak. Dengan cepat ia segera menghampiri sosok itu.
Tubuhnya bersimpuh di samping sosok yang ternyata seorang laki-laki. Rukia pun mulai mengamat-ngamati.
Tubuh pemuda itu setengah tertimbun diantara gundukan salju. Disekitar badannya, berceceran beberapa kepingan es yang lumayan berukuran besar. Ia mengenakan sebuah kimono Jepang yang berwarna hitam dengan sebuah haori putih sebagai jaketnya. Tangan kanannya memegang erat sebuah pedang.
Rukia menaikkan satu alis sambil bertanya dalam hati, 'Orang ini dari zaman mana, ya, pakaiannya masih begini? Selain itu, suhu udara belum memungkinkan air dapat berubah menjadi es. Lalu, kenapa di sekitar orang ini banyak sekali bongkahan es yang berserakan?' Tapi dengan cepat ia tidak mengubris hal itu. Rukia mulai melirik pemuda itu lagi.
Kulit pemuda itu sendiri pucat pasi dan berwarna biru, bukti bahwa ia telah berbaring disana dalam jangka waktu yang cukup lama. Warna rambutnya putih, mengingatkan Rukia akan salju yang disukainya.
Rukia hanya bisa menahan semu di wajahnya ketika melihat paras laki-laki itu. Tidak dapat dipungkiri, lelaki ini memiliki wajah yang dapat dibilang bisa membuat wanita manapun 'klepek-klepek.' Lihat saja. Dalam keadaan bagaikan mayat seperti ini saja ia masih terlihat tampan, bagaimana kalau ia membuka mata?
Dan kali ini, yang membuat Rukia terkejut kembali bukan karena tubuhnya yang tertimbun diantara salju tanpa sadarkan diri bagaikan mayat saja. Tapi, karena warna merah di sekeliling tubuh pemuda itu yang menodai salju dibawahnya.
Darah. Laki-laki ini mengeluarkan darah.
Rukia yang sadar akan itu pun segera menjadi panik. Dengan cepat ia menggerakkan tangannya ke arah hidung pemuda itu. Masih ada udara yang keluar. Berarti, ia masih hidup!
Ia harus segera menolong pemuda itu! Tapi bagaimana? Membopongnya ke rumah sakit di kota? Tidak, itu sangat memakan waktu dan mustahil. Belum sampai di tengah jalan, tubuhnya yang kecil akan jadi gulungan tikar karena beban pemuda itu. Jelas, pilihan pertama sangat mustahil.
Pilihan kedua? Memanggil seseorang untuk menolong laki-laki itu. Rukia pun berpikir sejenak, 'Sepertinya orang ini akan keburu mati tertimbun dibawah salju sebelum sempat ditolong.' Baik, berarti pilihan kedua juga tidak bisa.
'Satu-satunya jalan, membawa orang ini ke rumahku dan mengobati lukanya,' Rukia mulai mengangguk setuju. Toh, jarak ke rumahnya dari sini tidak begitu jauh juga. Ia belum berjalan jauh dari rumahnya. Jadi, walaupun tubuh Rukia kecil sekalipun, ia tetap bisa membopong laki-laki itu ke rumahnya.
Satu permasalahannya, kalau ia menolong lelaki yang tak dikenalnya ini, bagaimana dengan nasib surat yang ia ingin kirim?
Rukia pun mulai menimbang-nimbang, antara pergi saja dan meninggalkan lelaki itu, atau menolongnya dan melupakan surat kakanya?
Tinggal atau tolong?
Kalau ia tetap bersikeras untuk mengirim surat, apakah ia akan tega untuk meninggalkan seseorang yang membutuhkan pertolongannya? Jika ia memilih option ini, bersiap-siaplah untuk dihantui rasa bersalah seumur hidup karena lebih mementingkan kepentingannya sendiri.
Kalau ia memilih sebaliknya, apakah ia rela untuk tidak mengirim surat untuk kakaknya demi menolong orang yang tak ia kenal? Siapa tahu orang ini adalah penjahat, lihat saja ia membawa senjata tajam. Panjang pula! Apakah ia rela? Selain itu, mungkin saja giliran surat yang ini akan dibaca oleh kakaknya. Siapa tahu, kan?
Bagi Rukia, kakaknya itu sangat berarti untuknya. Ia sangat berhutang budi pada kakaknya. Mungkin jika ia tak diadopsi oleh kakaknya, ia akan menjadi tikus melarat yang tidak punya tempat berteduh. Sekalipun aura yang dipancarkan kakaknya itu dingin dan tak bersahabat, tetap saja ia harus tahu diri.
Namun, Rukia mulai berpikir. Kakaknya tentu tidak akan marah, kan, kalau ia menolong orang lain? Hanya sekali saja ia lalai dari rutinitasnya mengirim surat. Toh, walaupun ia kirim surat itu, kemungkinan untuk dibaca hanya satu banding seribu. Ditambah lagi, setiap manusia wajib menolong sesamanya. Kalau dia tidak salah ingat, itulah yang dikatakan oleh guru agamanya.
Segera ia mengangkat tubuh pemuda itu. Ia mulai mengatur tubuh laki-laki itu untuk bersandar di punggungnya. Kedua tangan ia letakkan diatas pundak. Ia mulai berdiri sambil mengatur keseimbangan tubuhnya dan pemuda itu. Lalu dengan langkah gontai, ia berjalan ke arah yang berlawanan dari sebelumnya.
Saat pertama kali kedua mata iris emerald itu terbuka, yang diihatnya adalah sebuah ruangan bercat abu-abu yang ditata rapi dengan elegan.
Ia tahu ini bukan kamar miliknya karena warna cat kamarnya saja sudah berbeda. Dilihatnya keadaan dirinya. Ia tidak mengenakan baju atasan dan hanya menggunakan celana panjangnya saja. Sebagai ganti atasan, ada sebuah perban yang membalut punggungnya sampai ke perut.
Dari informasi yang dapat ditangkap oleh matanya, ia mulai menyimpulkan. Pertama, 'seseorang' menemukan dirinya yang sedang dalam keadaan tak sadarkan diri sewaktu menjalankan tugas yang diembannya.
Kedua, 'seseorang' itu menolongnya dan membantu menyembuhkan lukanya. Ketiga, kamar ini mungkin saja milik 'seseorang' itu. Dilihat dari kamarnya, sepertinya 'seseorang' itu adalah seorang pria.
Rantaian pikiran orang itu tengah terpotong ketika pintu ruangan dibuka. Diarahkannya pandangan matanya sekilas kearah 'seseorang' itu yang ternyata adalah seorang gadis. Sepertinya, deduksinya yang terakhir salah.
Melihat gadis itu mulai memasuki ruangan, ia segera memejamkan matanya kembali seolah-olah dirinya masih dalam keadaan tak sadar. Ia tahu dirinya masih berada di kawasan hutan aneh itu. Mungkin saja, gadis yang menolongnya ini ada kaitannya dengan hutan itu. Ia harus tetap waspada!
Rukia datang untuk mengecek keadaan pemuda yang telah diselamatkannya. Melihat pemuda itu masih 'tertidur' dengan pulas, Rukia pun melangkahkan kakinya dengan hati-hati agar tak membangunkan orang itu.
Segera ia mengambil kursi di samping tempat tidur. Dengan keranjang berisi buah-buahan yang baru dipetiknya, ia mulai mengupas kulit buah-buahan itu dengan pisau untuk disajikan nantinya.
Belum sempat ia mengiris kulit buah itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah tangan yang memegang erat tangannya dan menyeretnya ke tempat tidur. Keranjang yang berisi buah-buahan itu jatuh terbebam ke lantai. Pisau yang tengah dipegangnya, kini beralih ke tangan seseorang.
Otak Rukia tidak bisa menangkap dengan cepat apa yang terjadi. Detik pertama ia sedang berusaha untuk mengupas kulit buah. Detik berikutnya ia berada di atas ranjang dengan tubuh pemuda yang tadinya berada di ranjang itu, sekarang berada diatasnya dan menindih tubuh kecilnya.
Matanya membulat, namun ia mencoba untuk bersikap tenang. Laki-laki ini sedang terluka. Kalau ia berbuat macam-macam, ia pasti bisa mengatasinya.
"Siapa kau?" bisik pemuda itu dengan suara parau. Tetesan-tetesan keringat pemuda itu jatuh diatas wajah Rukia.
Pisau yang dipegang erat oleh tangan laki-laki itu diarahkannya secara perlahan menuju leher Rukia. Rukia hanya diam dan tak bergerak di bawah tubuh pemuda itu. Pandangannya kosong seolah-olah menantang pemuda yang sedang menindihnya.
"Kuulangi sekali lagi...SIAPA KAU? KENAPA...Argghh..." Kalimatnya terpotong karena luka di tubuhnya kembali terbuka. Tampak perban yang melilit lukanya mulai berwarna merah.
Pisau yang dipegangnya jatuh ke atas ranjang. Rukia yang melihat hal itu, segera mencari kesempatan untuk bangkit dari tempat tidur dan mencoba untuk menolong pemuda itu.
Namun saat tangannya mencoba untuk menyentuh tubuhnya, tangannya ditepis dengan kasar oleh pemuda itu. 'Sabar...sabar Rukia. Orang ini hanya bingung karena ia sedang berada di tempat yang tak dikenalnya.' Kata Rukia dalam hati untuk mencoba menenangkan dirinya.
Ia bergerak untuk mendekati pemuda itu kembali. Mencoba untuk menenangkan pemuda yang tengah meringkih kesakitan. Namun sekali lagi, ia kembali di tepis dengan kasar. Bahkan, ia sampai jatuh terdorong ke lantai. Tubuhnya melakukan kontak dengan lantai yang keras, membuat sedikit rasa sakit menjalar ke tubuhnya.
Rukia mencoba untuk bangkit berdiri. Ia pun berhasil. Namun ketika dilihatnya liontin yang dikenakannya jatuh terbebam ke lantai, ekspresi muka Rukia pun mulai berubah.
Ia diam sejenak sambil melihat liontin dengan mutiara violet itu. Pikirannya melayang, mencari ingatan tentang kalung liontin itu. Ia lalu ingat, itu adalah satu-satunya pemberian kakaknya untuknya sebelum pergi ke kota. Kakaknya menyuruhnya untuk selalu mengenakannya, tidak boleh dilepas, dan menjaga barang itu seperti nyawanya sendiri.
Ia memandang kembali liontin yang terletak di lantai itu. Mutiara violet yang berada di tengah-tengah liontin itu retak, mungkin disebabkan oleh benturan keras ketika ia jatuh tadi.
Sontak saja, kata-kata 'sabar' dan 'tenang' pun sirna dari otaknya.
"HEI KAU!" Bentak Rukia kasar. Pemuda yang dibentaknya pun terkejut dan mulai menatap dirinya. Violet menatap sinis Iris.
Rukia mengancungkan jari telunjuknya kearah pemuda itu, "APA KAU TIDAK PERNAH BELAJAR SOPAN SANTUN? BEGINI CARAMU MEMBALAS BUDI ORANG YANG TELAH MENYELAMATKANMU? DASAR TAK TAU DIRI!"
"KAU PIKIR GAMPANG MENGANGKUTMU SAMPAI SINI? BUTUH PERJUANGAN DAN PENGORBANAN, KAU TAHU ITU? SEHARUSNYA AKU PERGI KE KOTA MENGIRIM SURAT PADA KAKAKKU, NAMUN AKU MELIHATMU BERBARING DISANA. KAU HAMPIR SEKARAT!"
Rukia berhenti berteriak, ia mengatur nafasnya pelan-pelan. Tiba-tiba perasaan bersalah menghantam dirinya. Ia sadar kalau dirinya sudah berada diluar kendali, memang tidak seharusnya ia marah-marah kepada orang yang sedang sakit hanya karena masalah sepele. Ia pun mulai membuka mulutnya untuk meminta maaf.
"Maaf." Suara dingin menyambut telinga Rukia. Pemuda yang tengah terduduk di ranjang itu meminta maaf kepadanya. 'Dia meminta maaf sebelum aku?' kata Rukia dalam hati.
Suasana di dalam ruangan pun menjadi hening. Tidak ada satupun kata yang dilontarkan oleh kedua pihak untuk memecahkan suasana yang sepi itu.
Selang beberapa menit, Rukia yang kembali sadar dari status syoknya pun kembali normal. Ia memandang sosok pemuda yang tidak jauh berada di depannya. Pemuda itu menundukkan wajahnya, membuat Rukia tidak dapat melihat ekspresi yang sedang dipasangnya.
Tiba-tiba, Rukia mulai tertawa. Ya, tertawa. Si pemuda yang bingung mengapa ada suara tawa di ruangan itu pun menatap heran kearah sumber tawa itu. Ia menaikkan satu alis miliknya dan menatap lurus kearah Rukia.
"Kenapa...kau tertawa?"
Rukia yang mendengar hal itu pun menghentikan tawanya. Kemudian ia menjawab dengan santainya, "Karena aku memang ingin tertawa."
Jawaban Rukia ternyata membuat pemuda itu kembali mengernyit heran. Detik sebelumnya gadis itu memarah-marahi dirinya, detik berikutnya ia malah tertawa seakan-akan tidak terjadi sesuatu.
"Kau orang aneh," ujar pemuda itu dengan singkat.
Rukia hanya bisa tersenyum miris sambil mengucapkan, "Terima kasih." Kemudian ia melanjutkan, "Oh, iya! Namaku Kuchiki Rukia. Kau?"
"Hitsugaya Toshiro."
"Ohhh...Toshiro, apakah lukamu sudah tidak sakit lagi?" Tanya Rukia.
"Jangan panggil aku Toshiro. Panggil Hitsugaya saja," jelas Hitsugaya.
'Sombong sekali,' ucap Rukia dengan kesal dalam hati. Belum sempat ia membalas, keduanya dikejutkan oleh suara raungan dan gempa yang mendadak muncul di rumah itu. Suara raungan itu makin lama makin keras, walaupun gempa yang terjadi sebelumnya sudah menghilang.
Rukia terkejut sampai tak dapat berkata-kata. 'S-Suara apa itu? Dan kenapa bisa ada gempa disini?'
Sementara itu, mata Toshiro membelalak, akhirnya tiba-tiba saja ia dapat merasakan reiatsu kembali. Dirasakannya sebuah pusaran energi perlahan-lahan meresap ke dalam tubuhnya. Ia mendapatkan kekuatan shinigami-nya kembali!
Namun, satu hal yang masih mengganjal pikirannya. Mengapa sebelumnya kekuatannya menghilang secara tiba-tiba? Dan kenapa sekarang mendadak muncul kembali? Jelas ada yang aneh di tempat ini.
Suara dan erangan itu pun semakin menjadi-jadi. Bergema dan membahana di seluruh pelosok ruangan yang ditempati oleh Rukia dan Toshiro. Dan Toshiro tahu benar sumber dari suara raungan dan erangan itu.
"Hollow..." bisik Toshiro.
-END OF CHAPTER ONE-
Wow! 7 reviews untuk prolog saya yang singkat, THANK YOU SO MUCH! I LOVE YOU FULLLLL #plakk
Terima kasih untuk para readers yang sudah mereview fic ini sebelumnya, saya bahagia sekali! Yosh, buat yang sudah meng-add fav dan alert fic ini, yakni: Kujo Kasuza Phantomhive dan Miyoko Kimimori, saya ucapkan terima kasih juga! Berikut ini balasan dari saya untuk yang me-review:
Ray Kousen7: Wow! Terima kasih mau me-review fic saya! Hahaha….iya, akhirnya saya buat juga fic yang pairingnya HitsuRuki. Saya akhir-akhir ini baca fic HitsuRuki terus, jadinya malah ketagihan dan pengen buat fic-nya. Semoga chapter ini gak mengecewakan Ray-san, ya^^
ha-chan: Prolognya bagus? Thanks banget, ya ha-chan! Ini sudah update, kok. Happy reading, ya^^
Mille chan: Hahaha…ini sudah update critanya. Prolognya bikin penasaran? Iya, dong, harus gitu! Kalau gak gitu nanti gak bisa bikin penasaran, dong #plakk. Lanjutan fic yang di GA untuk sementara saya diamkan dulu, gak ada ide lagi soalnya XD. Sorry, ya…. Eh? Apa? Saya author kejam? Teganya bilang saya begitu, wakakaka. Btw, thx buat reviewnya, ya, Mille chan ;) Hohoho~~
Fabri KuroShirou01: Thanks atas pujiannya! Saya gak nyangka prolog saya dibilang bagus, jadi malu, hahaha… Fabri-san tergila-gila sama HitsuRuki, ya? Sama dong, saya juga XDD Yosh, ini udah update. Semoga gak mengecewakan, ya^^
anna chan: Wah, prolog saya dibilang keren. Tengkyuu so much XDD Semoga chapter yang ini keren juga menurut anna chan. Happy reading, ya~
Aphrodite: Prolognya seru? Thanks banget, ya^^ Wah, ada lagi nih yang suka sama hitsuruki. Semoga chapter yang ini dibilang seru juga buat Aphrodite-san, hahaha…
Kujp Kasuza Phantomhive: Wow, thanks banget buat pujiannya! Hahaha…. gaya bahasanya dibilang cantik jadi malu nih saya #plakkk. Saya author hebat? Wah, enggak juga kok Kujo-san. Saya masih pemula banget dan perlu banyak komentar buat fic saya. Tapi, saya happy banget waktu dapet pujian ini, Thanks ya Kujo-san! XP
And… thanks buat para readers yang tak me-review juga. Saya tetap berterima kasih para kalian!
Jadi, bagaimana chapter kali ini? Apakah saya membuat Rukia dan Toshiro terlalu OOC? Atau ada bagian yang aneh dan membingungkan? Apakah ada saran, komentar, kritikan, pendapat, dsb? Kalau begitu, silahkan review dan tulis komentarnya! Tapi tetap tolong digaris bawahi kata-kata ini, No Flaming please!
Oke, cukup segitu saja. Terima kasih untuk yang telah membaca, kalau bisa tolong tinggalkan review, ya. Thanks^^ Akhir kata dari saya, mari kita ramaikan fic pairing HitsuRuki!
SEE YOU AGAIN IN THE NEXT CHAPTER!
Austine Sophie
Beyond The Snow and Ice
