BEYOND THE SNOW AND ICE

AUTHOR: AUSTINE SOPHIE

DISCLAIMER: BLEACH AND ALL OF ITS CHARACTERS ARE THE PROPERTY OF TITE KUBO

WARNING: OOC (MAYBE), TYPO(S), PLOT ANEH DAN MEMBINGUNGKAN, DSB.

SUMMARY: Kuchiki Rukia tidak pernah mengetahui bahwa ternyata ia 'berbeda' dari manusia lainnya. Semuanya berawal disaat musim dingin yang menjadi musim favoritnya, di mana ia menemukan seorang pemuda tengah terkapar di antara salju. Entah misteri apa yang dimiliki oleh pemuda itu, secara bertahap, Rukia mulai mengetahui suatu rahasia yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri...


Flashback chapter 1:

'Sombong sekali,' ucap Rukia dengan kesal dalam hati. Belum sempat ia membalas, keduanya dikejutkan oleh suara raungan dan gempa yang mendadak muncul di rumah itu. Suara raungan itu makin lama makin keras, walaupun gempa yang terjadi sebelumnya sudah menghilang.

Rukia terkejut sampai tak dapat berkata-kata. 'S-Suara apa itu? Dan kenapa ada gempa disini?'

Sementara itu, mata Toshiro membelalak, akhirnya tiba-tiba saja ia dapat merasakan reiatsu kembali. Dirasakannya sebuah pusaran energi perlahan-lahan meresap ke dalam tubuhnya. Ia mendapatkan kekuatan shinigami-nya kembali!

Namun, satu hal yang masih mengganjal pikirannya. Mengapa sebelumnya kekuatannya menghilang secara tiba-tiba? Dan kenapa sekarang mendadak muncul kembali? Jelas ada yang aneh di tempat ini.

Suara dan erangan itu pun semakin menjadi-jadi. Bergema dan membahana di seluruh pelosok ruangan yang ditempati oleh Rukia dan Toshiro. Dan Toshiro tahu benar sumber dari suara raungan dan erangan itu.

"Hollow..." bisik Toshiro.

-End of flashback-

.

.

.

.

.

~HAPPY READING~


Chapter 2: Shinigami

"Ho...llow?" ujar Rukia dengan nada bingung. Kedua mata violetnya menatap lurus ke arah seorang pemuda yang sedang duduk di atas tepian ranjang, berharap dapat mencari penjelasan akan semua yang dialaminya hari ini. Namun yang ditatap hanya menundukkan kepalanya sambil bertopang dagu, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.

Dari nada bicara gadis itu, Toshiro yakin betul kalau gadis itu memang tidak tahu apa itu hollow yang telah disebutnya. Atau mungkin pernah bertemu, namun tidak tahu namanya? Hal ini malah semakin menambah kebingungannya saja.

Tidak mempedulikan sorotan tajam sang gadis karena diacuhkan, Toshiro tetap melarutkan dirinya dalam pikiran dalam-dalam. Hutan yang penuh hollow. Kekuatannya yang tiba-tiba menghilang dan kembali. Lalu, gadis yang tinggal di hutan penuh hollow itu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?

Suara raungan dari hollow pun kembali membuyarkan pikirannya. Saking asyiknya ia berpikir, ia ternyata hampir saja melupakan hollow yang sudah meraung itu sejak tadi. Saat ini, sebaiknya tuntaskan saja dulu hollow-hollow brengsek yang sudah melukai dirinya. Baru ia mencari jawaban akan semua pertanyaannya.

Dengan cepat ia menggerakkan kedua matanya untuk mencari zanpakutou-nya yang ternyata sedang bersandar di sudut kiri ruangan. Dengan cekatan, ia pun segera meraih zanpakutou-nya dan berusaha untuk mendeteksi keberadaan hollow itu.

'Dimana? Dimana hollow itu akan muncul?' Toshiro tahu dirinya pasti akan menjadi mangsa lagi, mengingat tekanan rohnya yang sangat besar di ruangan ini. Jadi tidak dapat dipungkiri lagi, dialah yang akan menjadi sasaran empuk oleh para hollow.

Dan tebakannya memang benar karena setelah sedetik kemudian, sebuah tangan bak tangan seorang monster muncul dari bawah lantai tempatnya berdiri untuk meraihnya. Namun belum sempat tangan itu memegang kedua kaki pemuda tersebut, ia sudah ditebas dengan cepat oleh mata pedang sang pemuda.

Toshiro pun dengan cepat ber-shunpo ke arah Rukia yang sedang terpaku karena syok menatap tangan yang tergeletak tak bergerak di lantai itu. Setengah membelakangi untuk melindungi Rukia, ia berbisik kepada gadis itu untuk selalu berada di belakangnya.

Setelah mendapat jawaban berupa anggukkan dari si gadis, Toshiro pun lalu memasang kuda-kuda, bersiap bertarung dengan hollow yang kini telah muncul di hadapannya. Dengan tidak menghiraukan jeritan sakit dari punggungnya yang telah terluka sebelumnya, Toshiro semakin mempererat genggaman pada pegangan pedangnya.

Hollow kelas rendahan yang telah mengeroyok dirinya sebelum ini tidak bisa diampuni! Bukan kenapa, tapi para hollow (yang sebenarnya bagi seorang kapten itu bukan masalah besar) tersebut sudah melukai harga diri dan martabatnya sebagai seorang kapten. Tidak lucu, kan, jika ada berita yang menyebar seperti: 'Sang kapten termuda Soul Society sekaligus pengendali zanpakutou es terkuat, Hitsugaya Toshiro-taichou, terkapar tak berdaya oleh sebab serangan keroyokan dari para hollow kelas teri.'

Benar saudara-saudara, kapten jenius kita ini memang ada 'sedikit' masalah isu dengan image luar dirinya. Topik yang paling tidak ingin disinggungnya adalah soal tinggi badan dan martabat dirinya. Tidak sudi jika ia dibuat menjadi bahan lawakan seperti badut yang berada di tengah sirkus, apalagi oleh wakil kaptennya. Jika bukan karena gadis berambut hitam sebahu yang telah menemukannya lebih dahulu daripada pihak Soul Society, mungkin kini ia akan jadi bahan tertawaan. Karena itu, ia harus membalas budi baik sang gadis yang telah menyelamatkan imejnya, eh, maksudnya, nyawanya.

Toshiro pun menatap dingin hollow laba-laba yang sudah berada di hadapannya. Sebuah seringaian tiba-tiba mulai terulas di bibirnya. Penyebabnya? Di dalam pikiran Toshiro saat ini sudah terpampang adegan si hollow laba-laba yang tengah termanipulasi, tercincang, dan dibabat oleh dirinya.

Saudara-sudara, satu pelajaran bagi kita saat ini. Tolong diingat, melukai harga diri seorang kapten, khususnya: Hitsugaya Toshirou, adalah kesalahan yang sangat-sangat fatal.


Sebuah monster dengan kepala manusia dan berbadan laba-laba menyambut mata kembar violet Rukia. Dengan satu lengan atau kaki (?) yang telah terpotong oleh pemuda berambut putih yang berada di depannya, si monster laba-laba bernama hollow itu pun mulai berjalan (baca: merayap) dengan sisa tujuh lengan mendekati mereka.

Rukia tidak habis pikir apa yang membuatnya tengah berada di dalam situasi seperti ini. Pertemuannya dengan seorang pemuda aneh dan dilanjutkan dengan seekor monster raksasa membuatnya nyaris berpikir bahwa ia berada di dalam alam mimpi.

Namun Rukia tahu, ini semua adalah kenyataan, realita. Suara monster yang mengaung, hentakan kaki monster itu, dan punggung si pemuda pemilik mata iris hijau itu terlalu real jika dibilang ilusi semata.

Pikirannya buyar ketika mendengar bisikan seseorang untuk selalu berada di belakang pemilik suara itu. Dilayangkan pandangan kedua mata violetnya menuju punggung si pemilik suara yang ternyata adalah si pemuda yang telah ditolongnya. Hitsugaya Toshiro, nama si pemuda berambut putih itu. Ia mengangguk ringan, sebagai jawabannya untuk sang pemuda.

Sedetik kemudian, Toshiro menghilang dengan cepat dan ketika mata violet Rukia berhasil menangkap sosoknya kembali, suara jeritan kesakitan dari hollow pun membahana ke seluruh ruangan. Sedangkan si pemuda yang bertanggung jawab atas tindakan barusan, hanya berdiri tak jauh beberapa meter darinya sambil mengamati tubuh si hollow yang telah ambruk ke bawah dan perlahan-lahan lenyap.

Namun ternyata hollow itu tidak sendirian, sebuah hollow lain dengan tiba-tiba muncul dari lantai tepat di bawah Toshiro. Si pemilik nama pun tampak menyadari hal tersebut dan langsung bergerak untuk menebas kepala si hollow.

Tetapi tak disangka, hollow tersebut sangat lincah dan berhasil mengelak dengan sigap dan mulai mengincar sang kapten muda lagi. Toshiro mulai melangkah menghindar sambil meluputkan serangan demi serangan yang dilancarkan si hollow kepada dirinya. Sekali-sekali, mata emerald hijaunya melirik ke arah gadis yang tengah mematung di sudut kiri ruangan, melihat situasi gadis itu dari sudut matanya.

Rukia tidak bergerak, bergeming pun tidak. Tampaknya ia sedang larut dalam pertikaian si pemuda berpedang dengan si hollow. Sampai-sampai ia tidak menyadari, bahwa ada sekelebat bayangan hollow yang berada di belakangnya.

Toshiro yang melihat hal itu hendak berteriak memperingatkan kepada Rukia. Namun, terlambat. Sosok hollow bak ular berkepala manusia itu pun muncul dengan sepenuhnya di belakang Rukia, siap menerkam gadis itu kapan saja.

Rukia yang mulai menyadari keberadaan sesuatu di belakangnya, mulai bergerak untuk menoleh ke belakang. Belum sempat ia melihat, sebuah hadiah berupa sodokan dari ekor sang hollow menghempaskan dirinya sampai ke dinding. Tubuhnya pun mengalami kontak dengan dinding kamarnya.

Pandangan Rukia mulai menjadi samar-samar. Bagian punggung dan kepalanya sakit, bahkan ia dapat merasakan bagian kanan kepalanya meneteskan darah.

Dipaksanya kedua matanya untuk melihat apa yang terjadi di depannya. Tampak Toshiro sedang dikerumuni oleh dua ekor monster, yang salah satunya adalah si tubuh ular yang melempar dirinya.

Namun ada sesuatu yang ganjil. Bukannya si pemuda merasa terdesak karena diserang keroyokan, tapi malah ia menyeringai sambil memasang wajah angkuh.

Tiba-tiba, sesuatu menangkap matanya. Pedang yang digenggam Hitsugaya tiba-tiba dikelilingi oleh aliran air. Menyeruak ke segala sisi pedang, membeku menjadi es yang berwujud naga. Rantai panjang dengan ukiran bulan sabit di ujung muncul di bagian puncak pegangan pedang. Hawa dingin mulai menyeruak ke segala sisi sudut ruangan.

Dengan sekali tebas, dua ekor hollow itu pun membeku. Si pemuda melancarkan serangan penghabisan, membuat kedua hollow yang terperangkap dalam bongkahan es menjadi terpotong-potong bagaikan kepingan kaca yang hancur.

Setidaknya itulah yang dilihat Rukia terakhir kalinya, sebelum pandangannya berubah menjadi gelap.


...

Apakah kau bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan? Dimana sebuah mimpi terlalu nyata untuk dibilang khayalan biasa, dan terlalu abstrak untuk dibilang realita. Bisakah kau membedakan itu? Jika di hadapanmu terlihat sebuah dunia yang hanya ada di dalam mimpi, tetapi kau merasa itu realistis?

Rukia membuka matanya, memandangi keadaan di sekitarnya. Sebuah padang salju putih yang luas, di kelilingi rimbunan pepohonan yang lebat. Hujan salju turun tiada henti, melapisi seluruh permukaan bumi yang ada.

Dimana dia?

Sebuah dunia salju yang putih, yang hanya terdapat di dalam mimpi. Apakah ia sedang bermimpi? Atau ini halusinasi yang dibuat otaknya akibat tabrakan kepala dengan dinding rumahnya? Tapi jika ini halusinasi, kenapa semuanya terasa nyata?

Seakan-akan, ia pernah berada di sini sebelumnya. Berdiri di atas lapisan salju ini dan memandangi indahnya salju yang sama. Walaupun begitu, ia tidak tahu pasti, apakah ia pernah berada di sini sebelumnya. Semuanya terasa sangat familiar. Salju ini, rimbunan pepohonan ini, dan perempuan yang ada di hadapannya.

Tunggu dulu. Perempuan?

Sontak, ia mengarahkan iris violetnya ke depan, melihat sosok perempuan yang memandangi dirinya. Tatapan wanita itu mengandung suatu arti yang mendalam. Sulit dijelaskan, tetapi sangat mengena di hati.

Siapa perempuan ini?

Tapi, apakah itu pertanyaan yang tepat? Karena ia merasa, jauh di dalam ingatannya ia mengenal perempuan yang berada di hadapannya. Tapi bagaimana bisa? Sekali bertemu dengan perempuan ini saja tidak, jadi bagaimana ia merasa mengenal wanita itu?

Dilirikkannya lagi kedua matanya kedepan. Wanita itu mengenakan kimono putih panjang yang indah. Rambut putihnya yang panjang terurai ke belakang. Terlukis di wajahnya, sebuah tatapan sendu yang diarahkan kepada dirinya.

Ada apa dengan perempuan ini? Kenapa melihatnya dengan tatapan seperti itu?

Akhirnya, dengan mengerahkan keberanian untuk membuka mulutnya, ia pun berkata, "Maaf... Anda siapa, ya?"

Yang ditanya hanya menatap balik dengan sorot kaku. Sedetik... tiga detik... satu menit... Rukia menunggu dengan sabar. Beruntunglah perempuan itu adalah orang asing. Coba kalau ia kenalan dekat Rukia, mungkin tendangan keras di tulang kering pasti sudah diluncurkannya.

Si wanita salju pun mulai membuka kedua bibirnya, mengeluarkan kata-kata yang bagaikan bisikkan, "... Salj- ... kau...-maku?"

Desahan angin meredam suara si perempuan, hingga kata-kata yang didengar terpotong dan menjadi tidak jelas. Rukia benar-benar tidak paham. Apa yang ingin orang ini sampaikan? Dia tidak mendengar dengan jelas apa yang ingin diucapkan oleh orang itu.

"Aku tidak dapat mendengarmu dengan jelas! Bisakah kau berbicara lebih keras?" ujar Rukia dengan setengah berteriak.

Si perempuan itu hening sejenak lalu mengulangi kata-katanya lagi. Tapi sia-sia saja karena kata-katanya tetap diredam oleh erangan si angin.

"...Sang Salju... kau... –lupa... namaku?"

Walaupun sekarang agak lebih jelas. Tapi tetap saja protagonis kita tidak dapat menangkap apa maksud si perempuan itu kepadanya. Tapi, tunggu dulu! Perempuan itu mengatakan sesuatu, seperti... Sang salju? Namanya? Hah? Apa maksudnya?

"Aku tidak mengerti! Tolong beritahu aku, apa sebenarnya yang ingin kau katakan!"

Rukia menangkap raut wajah si wanita salju semakin sendu, seakan-akan kecewa karena Rukia masih tak dapat mendengarnya. Memutuskan mungkin ia bisa mendengar lebih jelas kalau berada tepat di depan perempuan itu, akhirnya ia melangkahkan kakinya ke depan.

Namun sesuatu terjadi. Pemandangan di depannya mulai kabur, serasa akan menghilang. Perlahan-lahan latar padang salju itu mulai menghilang, bahkan pepohonan yang mengelilinginya, termasuk sosok perempuan itu. Rukia terkejut, ia menghentikan langkahnya dan memandang sekelilingnya dengan bingung.

Namun sebelum sosok wanita itu mulai menghilang dan pandangannya menjadi gelap, ia membisikkan suatu kata-kata terakhir. Sebuah kata-kata yang mengandung misteri dan pertanyaan baginya.

"Namaku adalah..."


Membuka separuh mata untuk kedua kalinya, Rukia mendapati sebuah cahaya lampu di langit-langit ruangan yang menyilaukan penglihatannya.

Apakah yang barusan itu mimpi atau halusinasi?

Perlahan, ia mulai membuka kedua matanya sepenuhnya, hanya mendapatkan sebuah tangan seseorang yang bertopang di atas dahinya. Sebuah sinar biru terpancar dari tangan berkulit tan itu, begitu lembut dan sangat menyejukkan.

Tunggu, tangan? Sinar?

Ia terkejut. Menggerakkan sudut-sudut matanya, Ia mulai menjelajahi sosok si pemilik tangan. Dan... VOILA! Si pemilik tangan tidak lain dan tidak bukan adalah si pemuda yang diselamatkannya. Hitsugaya duduk bersila tepat di sebelah kiri tubuhnya yang sedang berbaring di atas lantai.

Dilayangkan pandangannya ke arah si pemuda yang bernama Hitsugaya itu, tampak si pemuda sedang sangat serius memfokuskan sinar yang keluar dari telapak tangannya. Ia bisa merasakan luka di bagian kanan dahinya tertutup dan tak meneteskan darah lagi. Tubuhnya tak lagi terasa sakit seperti sebelumnya, kembali seperti kondisi sehat sedia kala. Apa sinar itu yang menyembuhkan dirinya?

Siapa sebenarnya pemuda ini? Hanya dengan sinar dari tangan bisa menyembuhkan luka seseorang? Apa dia itu penyihir seperti di buku-buku anak-anak, ya? Tapi kalau penyihir, kan, pakai tongkat, gak ada yang pakai pedang?

Tidak dapat membendung rasa penasarannya, Rukia pun berani buka mulut, "Kau... Sebenarnya siapa?"

Sorot mata si pemuda berambut perak beralih dari dahi Rukia ke dua manik violetnya. Ia pun menarik tangan kanannya dari atas dahi Rukia. Membangkitkan tubuhnya dalam kondisi berdiri, membuat Rukia pun juga membangkitkan tubuhnya dari atas lantai, duduk menghadap Hitsugaya.

Hitsugaya pun tiba-tiba menatap Rukia dengan tatapan dingin, sorot mata yang sekilas membuat Rukia bergeridik ngeri. Air mukanya berubah menjadi serius, sangat menakutkan bagi Rukia.

"Kau mau tahu aku ini siapa?" Tanya Hitsugaya tanpa mengalihkan sorotan tajamnya ke arah Rukia.

Perasaannya saja atau tidak. Kenapa suhu ruangannya tiba-tiba menjadi dingin serasa di kutub utara? Jujur, saat ini bulu kuduk Rukia hampir berdiri melihat sorotan tajam yang dilontarkan oleh si pemuda yang seakan mengintimidasinya.

"Kurasa pertanyaanmu perlu dikoreksi, Kuchiki. 'Apa' bukan 'siapa.' Kau seharusnya bertanya: Aku ini apa?"

Rukia membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia merasakan dirinya seolah-olah adalah seekor hamster kecil yang sedang berada di hadapan anaconda yang berukuran besar nan panjang, yang siap menelan dirinya hidup-hidup dan bulat-bulat.

"Terserah kau percaya atau tidak. Namun, aku agak ragu jika kau tidak percaya akan penjelasanku setelah kejadian-kejadian yang kau lihat sebelumnya. Aku adalah..." Menarik katana-nya ke arah pundaknya, ia pun melanjutkan perkataannya, "...Shinigami."


"...Shinigami."

Kata-kata Hitsugaya mengiang di kepalanya terus menerus. Memang sulit dipercaya, tapi apa boleh buat. Semua yang menimpa dirinya hari ini adalah buktinya. Tapi, shinigami? Makhluk mitos pencabut nyawa di malam hari itu? Dia... shinigami? Berarti... dia bisa mencabut nyawanya, dong?

Hitsugaya menangkap wajah si gadis yang memucat seusai pernyataan indetitasnya. Menurunkan pedangnya dari atas bahu, ia pun menghela napas. Di dalam pikirannya, sebenarnya ia sudah menduga apa yang dipikirkan oleh si gadis Kuchiki. Karena itu, ia menimpal balik, "Tenang, shinigami dalam buku-buku manusiamu itu tidak benar, kami bukan orang yang kurang kerjaan yang kerjanya mencabut nyawa kalian."

Rukia pun menghela napas lega, namun raut wajahnya masih terlihat was-was. Ia pun menjawab balik si pemuda es, "Kalau kau bukan mencabut nyawa, jadi apa tugasmu yang sebenarnya?"

"Tugas kami hanya tiga," Hitsugaya mengancungkan ketiga jarinya di depan wajahnya, "Satu, menuntun roh-roh manusia yang telah mati agar tidak tersesat dan berkeliaran di dunia adalah tugas kami yang paling utama. Jadi, daripada disebut pencabut nyawa, kami ini lebih pantas disebut pengiring nyawa."

"Kedua, shinigami bertugas untuk membunuh para hollow yang berkeliaran di dunia manusia. Hollow itu adalah sebutan bagi monster yang seperti kau lihat tadi. Pada kenyataannya, mereka sebenarnya bukan monster, tapi roh manusia juga sama seperti roh-roh orang mati yang telah kusebutkan tadi. Tapi..."

Hitsugaya menggerakkan kedua matanya seperti mencari sesuatu. Ia mencari sarung katana-nya, dan baju shihakusho, beserta haori putihnya yang ternyata tergeletak di pojok kiri ruangan. Sambil bergerak ke arah sana, ia pun melanjutkan penjelasannya pada Rukia.

"Tapi, di sekian banyaknya roh manusia yang ada, sebagian di antara mereka ada yang berbeda. Roh mereka dipenuhi rasa kebencian yang mendalam. Saking bencinya, membuat mereka berubah menjadi monster, yaitu: hollow. Mereka memangsa roh-roh lain yang berkeliaran di bumi, atau bisa juga shinigami. Sebenarnya banyak faktor lain selain kebencian, tapi rasanya tak perlu kujelaskan karena ini hanya penjelasan singkat."

Rukia mengangguk dan ber-'o'-ria. Hitsugaya mengangkat shihakusho-nya yang tergeletak di lantai, kemudian mengenakannya untuk menutup tubuhnya yang terbalutkan perban, "Terakhir, shinigami ditugaskan berpatroli di dalam dunia manusia jika terjadi suatu fenomena aneh yang menyangkut keseimbangan roh di dunia, seperti misi yang sedang kulakukan saat ini."

Ia pun mengenakan haori yang berlambangkan tanda 'juu' (sepuluh dalam kanji) di belakang punggungnya. Mengangkat sarung pedang, Hitsugaya menyelempangkan tali pengikatnya ke atas punggungnya. Kemudian ia berbalik menghadap Rukia, tampak keseriusan di wajahnya yang sedari tadi membuat ruangan tegang dan dingin berkurang. "Sampai disini kau sudah paham?"

Rukia mengangguk perlahan. Ia pun mulai berani mengangkat suaranya meskipun suaranya agak bergetar, "K-kau tadi melawan hollow dengan pedang yang mengeluarkan es, kemudian menyembuhkan lukaku dengan sinar, apakah itu adalah salah satu kekuatan seorang shinigami?"

Melipat kedua tangannya di depan dada, Hitsugaya dengan tegas menjawab, "Ya, kau benar. Pedang... Bukan, zanpakutou adalah senjata shinigami, berbeda dengan sabit seperti yang ada di dalam mitos manusia. Tiap zanpakutou memiliki tipe kekuatan, misalnya: kekuatan es untuk kasus zanpakutou-ku."

"Sinar yang kau bilang tadi hanyalah sebatas kidou penyembuh yang biasa digunakan shinigami. Kidou itu bermacam-macam, contohnya: kidou penyembuh seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Anggap saja kidou itu hanyalah dapat digunakan bagi mereka yang tergolong shinigami."

Hitsugaya pun mengakhiri penjelasannya. Suasana menjadi hening, sangat hening, sesepi di tanah kuburan. Bahkan, suara salju yang jatuh di atas bingkai jendela dapat terdengar oleh Rukia.

Tidak tahan dengan keheningan, Rukia pun bertanya lagi, "Jadi... uhmm... tugasmu di sini sebenarnya untuk apa?"

Tidak ada balasan dari yang ditanya. Rukia pun mulai sedikit kuatir, apakah ia bertanya hal yang salah, ya? Mungkin misi shinigami itu tak boleh dibicarakan sembarangan...

Berniat meminta maaf karena menyinggung topik rahasia seorang shinigami yang sedang melakukan sebuah misi, tapi permintaan maafnya hanya dipotong oleh tuturan kata si pemuda rambut perak.

"Hutan ini, yakni tempat kita berada sekarang adalah misinya."

Dibalas dengan tatapan terkejut dari Rukia, Hitsugaya tetap melanjutkan kata-katanya, "Tempat yang kau diami selama ini bukan sembarang hutan biasa. Daerah hutan ini dipenuhi dengan jumlah hollow yang sangat banyak. Mereka bergerombol, berkoloni dalam jumlah yang tak terhitung, di dalam hutan yang kita jejaki sekarang ini. Kidou penghalang sudah kuaktifkan di sekitar rumahmu. Jadi, kurasa tidak mungkin ada hollow yang berani menjejakkan kakinya di dalam rumah ini."

"Dan misiku, hanyalah mencari sumber dari segala keanehan di hutan ini. Sejak aku jejakkan kakiku di tanah ini, aku sudah merasakan ada yang tidak beres dengan hutan ini. Dan disaat itulah, sebagian kekuatan shinigamiku hilang lenyap. Dikeroyok dan dikalahkan oleh hollow kelas teri itu benar-benar bukan pengalaman yang menyenangkan." Dan image issue problem Hitsugaya kembali lagi…..

Rukia melihat si pemuda kian berjalan menuju dirinya sambil menutur lagi, "Dan disaat aku bangun, aku sudah berada di rumahmu. Para hollow itu muncul lagi, dan dengan tiba-tiba saja aku mendapatkan kekuatan shinigamiku kembali. Sungguh pengalaman yang bukan biasa bagiku yang sudah menjadi shinigami sejak lama."

Kini Hitsugaya sudah berada di hadapan Rukia, "Sebelumnya ada yang ingin kutanyakan, kau sudah mendiami hutan ini sejak lama, kan? Apakah kau pernah keluar dari rumahmu?"

"Tentu saja pernah," balas Rukia lagi, "Kalau tidak, kenapa aku bisa menemukanmu di luar sana yang sedang pingsan kalau aku tak pernah ke luar rumah? Lagipula, aku juga sering mengantarkan surat ke kota. Aku tidak pernah bertemu dengan para hollow itu sebelum bertemu denganmu! Kalau benar yang kau katakan kalau hollow itu berkeliaran di dalam hutan ini, kenapa tidak pernah aku temui satupun diantara mereka? Kenapa saat bertemu dengan kau aku baru melihat mereka?"

"..."

Toshiro tidak menjawab. Kini ia yang menjadi pihak yang bungkam. Namun ia tidak diam terlalu lama karena ia membuka mulut dan memulai mengalihkan sedikit topik pembicaraan.

"Tekanan roh manusia dengan shinigami berbeda meskipun memiliki persamaan. Reiatsu manusia itu lebih lemah daripada kami, dan juga lebih tipis daripada punya kami. Ditambah lagi, manusia biasa seharusnya tidak bisa melihat kami. Karena itu, kau tidak pernah mendengar berita tentang shinigami yang masuk siaran televisi, kan?"

"..."

"Tapi, kau. Aku baru memperhatikannya. Reiatsu-mu bukan seperti kebanyakan manusia biasa. Tekanan rohmu melewati manusia biasa, tapi tidak dapat dikategorikan sebagai reiatsu shinigami. Apakah kau merasa kakimu melemas ketika aku menatapmu sebelumnya? Apa kau merasakan udara dingin yang seakan-akan dapat membekukanmu hidup-hidup sewaktu aku memberikan penjelasan tentang shinigami selama ini?"

"Tidak," jawab Rukia singkat, "Aku tidak merasa kakiku melemas. Tapi, benar nyatanya kalau aku memang merasakan ada udara dingin di ruangan ini saat itu." Rukia tidak rela kalau mengatakan ia 'sedikit' takut dengan tatapan dingin sang pemuda es pada dirinya. Meskipun rahasia itu harus ia bawa sampai ke penghujung hayat hidup, bahkan liang kuburnya.

"Begitu, ya... Padahal, saat itu aku melepaskan tekanan roh yang sangat besar. Jika dirasakan oleh manusia biasa, mereka akan menjadi lemas seketika, bahkan pingsan. Bahkan, anak buahku yang merupakan shinigami biasa dapat lemas kalau merasakan tekanan rohku tadi. Tapi, kenapa kau tidak?"

Si pemilik mata cerulean menyorotkan pandangannya dengan lekat. Tatapan yang serius dan sangat tegas, jika dapat dituangkan dengan kata-kata. Dan tatapan itu diberikannya pada tidak lain dan tidak bukan adalah si sumber dari segala misteri yang ada, si gadis Kuchiki.

"Memiliki tekanan roh yang melebihi manusia biasa, tinggal dalam hutan yang penuh dengan hollow ini selama berpuluh-puluh tahun tanpa sekalipun bertemu dengan hollow itu, dan kenyataan kau bisa melihatku sekarang ini juga..."

"... siapa kau sebenarnya, Kuchiki Rukia?"

.

.

.

.

.

-End of Chapter 2: Shinigami-


Wah, lama juga, ya, saya udah gak update… Setengah tahun? Wow... #plakk

Saya minta maaf atas keterlambatannya, maklum dipahami ya readers ._.

Jujur, saya udah lama buat chapter ini, tapi karena tidak adanya sinyal internet yang kuat untuk membantu publish chapter ini, akhirnya harus di-pending sampai hari ini. Once again: sorry, guys^^

Terima kasih yang sudah men-support saya supaya bisa update hari ini dan dukungan-dukungannya untuk update cepat^^ Untunglah saya tidak ditimpuk massa, hahahaha….

Dan…. Terima kasih untuk para readers yang sudah mereview fic ini sebelumnya, saya sangatttt bahagia sekali! Yosh, buat yang sudah meng-add fav dan alert fic ini, plus alert dan follow story saya, saya sampaikan trims sebesar-besarnya. Berikut ini balasan saya dari yang mereview:

Kujo Kasuza Phantomhive: Pingpong, betul sekali! Rukia bukan shinigami disini, hehehe…. Saya suka banget sama pair hitsuruki sampai-sampai saya gambar di buku sketsa saya kemarin padahal saya lagi males gambar-gambar^^ Mau buat grup? AYO! Saya setuju! Di sini Rukia tak berhasil dilindungi Hitsu, memang Hitsu keterlaluan.. *dibankai Hitsugaya* Ini udah update, review lagi, ya^^

Fabri KuroShirou01: Hmm.. Secara teknis, hitsu dan ruki tidak beda zaman karena saya deskripsikan dari pov rukia yang melihat baju seragam shinigami hitsu, rukia menyimpulkan kalau hitsu mungkin beda zaman sama dia, padahal kagak^^ Rukia manusia biasa atau bukan, ya? Hohoho…. saya rasa ada hint di chapter ini yang bisa membantu pertanyaan Fabri-san. Ok, ini udah update, silakan tinggalkan review lagi ya Fabri-san^^

Ray Kousen7: Wah, saya sebagai author juga bingung. Sepertinya ini campuran canon dan AU, hehehe^^ Wah, imajinasi Ray mmang ada sedikit menyinggung alur di fic ini. Saya gak nyangka ketebak juga walaupun hanya sedikit…. Ray-san memang hebat! XD Jujur, menggambarkan OC hitsu dan ruki memang agak susah bagi saya, soalnya ini fic pertama saya bikin chara mereka hahaha…. Thx untuk reviewnya ya Ray-san^^ saya tunggu 320 districtsnya lagi

Mille Chan: Story saya di fandom GA saya pending. Habisnya saya gak ada ide lagi hehehe…. Beli aja dvd-nya Mille Chan, kalau ada yang gak ngerti baru nanya Austine. Btw, habis liat anime bleach, mille suka chara siapa? Hitsu ama Ruki bukan? XD Hitsuruki, kan? kan? kan? KAN? #maksa. Review lagi ya mille-chan. Saya tunggu jawabannya di kotak review^^

Guest: Fic ini dibilang keren? O.M.G saya terharu #plakk. Saya seneng banget dibilang fic ini keren. Ok, ini udah update, maaf menunggu lama. Btw, Guest-san, pen namenya apa? Saya takut kesaruh dengan anonim reviewrs lain kalau ada yang mereview. Tolong cantumkan nama pen namenya, ya^^ Thx for the review...

Ellenlen: Happy ending gak ya? Hehehe…. Oke, Len-chan! Panggil Hie-chan atau apa juga boleh hehehe… sy gak senpai len-chan gak usah formal gitu, saya juga baru pemula di sini hehehe… Saya juga dulu ichiruki fan! Tapi sekarang beralih hati ke hitsuruki karena kesamaan nasib #ngawurrr… Pasti bisa kok Len-chan! Kamu cuma butuh pensil, pena, dan imajinasi yang unik buat bikin fanfict. First trying emang mungkin gak sesuai harapan, tapi kan pasti ada masukan dari para senpai. Kamu pasti bisa jadi tambah jago nanti^^ Saya tunggu ya fic kamu! Kalau bisa hitsuruki, hehehehe

Namikaze nada: Wah maaf nunggu lama sampai bulan natal #bows. Salam kenal juga Namikaze-san! Saya harap Namikaze-san suka sama chapter yang satu ini lagi, hehehe^^ Thx review-nya

Bleach 4ever: Ini udah update^^ Maaf nunggu lama…. Bagaimana chapter ini? Masih keren kah? : Thx for the review...

yuki-chan: Sudah dilanjutkan fic-nya XD Maaf nunggu lama #bows. Semoga chap ini memuaskan yuki-chan ya^^ Thx reviewnya….

Mr. xxx: Maaf nunggu lama ya… saya udah ngeusahain update cepet^^ Baru sekarang bisanya. Apakah chap ini tambah bikin penasaran? Saya bikin cliffhanger biar bikin tambah penasaran loh

Aery Ruki: Salam kenal^^ Dipanggil Aery atau Ruki ya enaknya? Hahaha…. Keren? Makasih bangettt! Gak dong, kalau fic ini terbengkalai saya bisa ditimpuk readers sampai cuma tinggal nama dong. Thx atas reviewnya, ya^^

Ada yang punya saran, kritikan, komentar, pendapat, atau perasaan ngeganjel di hati liat fic ini?

Silahkan masukan komentar Anda dalam kotak review ini!

Tapi ingat, NO FLAMING!

Sampai di sini dulu, thx readers and reviewers!

AUSTINE SOPHIE

BEYOND THE SNOW AND ICE