Title: It's Because The Past

Disclaimer: Sampai kapanpun NARUTO tetep punya Kishimoto-sensei. Tapi IT'S BECAUSE THE PAST punya Fyn!

Pairing: SasuSaku & others pairing

Rated: T

Genre: Romance & Friendship

WARNING!: OC, OOC, AU, abal, typo(s),dan masih banyak kekurangan dalam cerita ini!

DON'T LIKE, DON'T READ!

-It's Because The Past-

~2nd Chapter~

.

Di depan gerbang sebuah sekolah, seorang gadis bersurai pink tengah berdiri dengan seorang pemuda yang ada di hadapannya.

"U, uchiha-san... Terima kasih sudah mengantarku!" ucap Sakura sambil membungkukkan badannya.

"Hn..." hanya gumaman ambigu yang keluar dari bibir si bungsu Uchiha itu. Sakura hanya tersenyum menanggapi jawaban dari Sasuke. Ia masih menunggu lanjutan dari kata-kata Sasuke karena gumaman tadi terdengar menggantung di telinga Sakura. Dan benar saja, tidak sampai semenit Sasuke mengucapkan sesuatu yang lebih terdengar seperti perintah.

"Tunggulah!" katanya singkat, padat dan tidak jelas. Tapi Sakura mengerti apa maksud ucapan Sasuke itu.

"Ya..! Kutunggu...!" sahut Sakura dengan senyum mengembang di wajahnya. Tanpa berkata apa-apa lagi Sasuke melangkah menjauh dari tempat itu menuju sekolahnya. Setelah dirasanya Sasuke sudah menghilang dari pandangan, Sakura melangkah memasuki area sekolahnya.

Sakura dan Sasuke memang bersekolah di tempat yang berbeda. Karena phobianya Sakura bersekolah di Konoha Girls Academy, sekolah khusus putri. Sementara itu Sasuke bersekolah di Konoha Elite High School. Sekolah elit yang ada di Konoha, yang semua siswanya adalah anak dari konglomerat yang ada di Konoha. Hanya sedikit orang awam yang bisa bersekolah di situ. Itu pun dengan bantuan beasiswa.

Sudah 3 bulan Sakura menjadi siswi di KGHS. Ia duduk di kelas X. Sementara itu Sasuke berada setahun diatasnya, tepatnya kelas XI. Sebenarnya mereka sepantar, tapi karena suatu kejadian Sakura berhenti sekolah selama setengah tahun. Dan baru bersekolah di tahun ajaran baru berikutnya. Mau tidak mau ia harus mengulang kelas dari awal.

***FYN***

Saat ini Sakura rudah berada di depan kelasnya. Pintu kelas tertutup rapat. Itu artinya sudah ada guru di di dalam. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya.

'Tok. Tok. Tok.'

Sakura mengetuk pintu kelas. Setelah mendengar jawaban 'masuk' dari dalam, ia membuka pintu kelas. Hal yang pertama ia lihat adalah senseinya, Anko yang tengah menatapnya tajam. Reflek Sakura langsung menundukkan kepalanya.

"Maaf, sensei... Aku telat!" ucap Sakura.
"Hm..." gumam anko sambil menganggukkan kepalanya. Sakura masih diam menunggu Anko melanjutkan ucapannya.
"Baiklah, kali ini kumaafkan, tapi... lain kali jangan harap! Kau boleh duduk!" suruh Anko.
"Terima kasih Sensei!" ucap Sakura sambil membungkukkan badannya.

Sakura menuju tempatnya untuk duduk. Ia menghela nafas lega karena tidak mendapatkan hukuman dari Anko-sensei yang terkenal sebagai guru killer di sekolahnya.

"Tumben kau telat, biasanya jadi siswi pertama yang sampai di sekolah" ujar seorang gadis yang duduk disamping Sakura dengan setengah berbisik. Terlihat senyum tersungging di bibirnya. Gadis itu berambut blonde panjang yang dikuncir kuda. Matanya berwarna aquamarine dan wajahnya cantik.

"Ino... Jangan meledekku!" sahut Sakura dengan sedikit kesal. Gadis yang dipanggil Ino itu hanya terkikik kecil.
"Kau berhutang cerita padaku, Sakura!"

Suasana kelas tampak tenang. Karena yang mengendalikan kelas sekarang adalah guru ter-killer di KGA, Anko-sensei. Jadi, semuanya aman terkendali. Namun, untuk hari ini Anko-sensei tidak akan memberikan pengajaran seperti biasanya. Yang akan ia berikan hari ini adalah sebuah berita yang akan membuat semua siswi terkejut. Tidak terkecuali Sakura. Berita apakah itu?. Mari kita simak baik-baik berita yang akan Anko-sensei sampaikan.

"Hari ini aku akan menyampaikan berita bahagia pada kalian!" ucap Anko-sensei. Kelas semakin hening. Tentunya mereka bertanya-tanya mengenai berita apa yang akan Anko-sensei sampaikan. Tapi semua pertanyaan itu tersimpan rapi di benak masing-masing siswi.

"perlu kalian ketahui, Ny. Tsunade dan Tn. Jiraiya sudah melangsungkan pernikahan mereka kemarin lusa.". Ucapan Anko-sensei terhenti.
"Dan seperti yang kalian ketahui, Ny. Tsunade adalah pemilik KGA dan Tn. Jiraiya adalah pemilik KEHS. Karena itu Ny. Tsunade memutuskan untuk menjadikan KGA sebagai bagian dari KEHS. Dan mulai lusa nanti kalian akan menjadi siswi Konoha Elite High School!" sambungnya lagi.

"A, APPPAAA?" suara Sakura terdengar menggelegar di tengah heningnya suasana kelas. Membuat tatapan siswi yang ada dikelas tertuju pada Sakura yang tengah berdiri di tempatnya. Anko-sensei menatapnya tajam.

"Apa ucapanku kurang jelas, HARUNO?" ujar Anko-sensei dengan penuh penekanan pada kata 'haruno'.

Mendengar itu, Sakura hanya tersenyum garing sambil membungkuk sedikit sebagai permintaan maafnya.

"Ti, tidak sensei! Maaf." ucapnya lalu kembali duduk.

"Alasan Ny. Tsunade menjadikan KGA sebagai bagian dari KEHS adalah karena beliau ingin mengelola sekolah bersama suaminya, Tn. Jiraiya. Selain itu menurut beliau sekolah khusus putri sangat sedikit peminatnya, sehingga beliau menjadikan kalian sebagai siswa KEHS. Dan kalian pastinya tidak mungkin bisa menolak keputusan Ny. Tsunade. Hm... Lagipula menurutku kalian pasti senang mendengar berita ini, ya kan?" jelas Anko-sensei panjang lebar. Ucapannya hanya ditanggapi dengan senyum manis oleh siswi di kelas itu, kecuali Sakura. Ekspresi terkejut terpampang jelas di wajahnya. Perkataan Anko-sensei membuatnya shock berat. Ia berharap perkataan Anko-sensei hanyalah lelucon yang tidak ada keseriusan didalamnya. Namun, yang ia tau Anko-sensei tidak pernah membuat lelucon ataupun candaan sebelumnya. Karena dia adalah guru killer yang tidak memiliki sisi humoris sama sekali. Jadi, intinya semua ucapan senseinya tadi benar adanya.

"Yak, itu saja yang ingin kusampaikan. Untuk hari ini kalian bebas tidak ada pengajaran karena semua guru akan mengadakan rapat mengenai hal tadi. Nikmatilah waktu bebas yang kalian miliki!. Oh ya, untuk besok sekolah akan diliburkan dan lusa kalian mulai belajar di sekolah baru kalian, Konoha Elite High School. Mengerti?" kata Anko-sensei yang di jawab dengan serempak oleh semua siswi di kelas itu. Setelah itu, dia keluar dari kelas disusul dengan jerit kebahagiaan dari semua kelas.

"YYYEEEEEIIII...!"

*** FYN ***

-SAKURA'S POV-

A,apa? Menjadi siswa KEHS? Ti,tidak! Aku tidak mau...! Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi! Tapi... Kenapa semuanya terasa nyata?. Sadarlah Sakura!. Ini nyata. Oh... Ini buruk.
Yang benar saja, masa' aku harus satu sekolah dengan para lelaki?. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak!. Lagipula KEHS itu kan... Ah, sudahlah lupakan!

"Hei, kenapa wajahmu kusut seperti itu?" suara Ino membuyarkan lamunanku.

"Ng? Apa iya?" sahutku malah bertanya balik.

"Hh... Kau ini! Tentu saja iya! Ah, lupakan! Itu tidak penting. Sekarang, Ceritakan padaku kenapa kau datang terlambat? Tidak mungkin 'kan pangeranmu itu terlambat menjemputmu?" katanya dengan semangat. Dia ini memang aneh. Kenapa juga dia bertanya seperti itu. Sungguh, aku benar-benar malas meladeni Ino. Dan... Apa katanya tadi? Pangeran? Apa maksudnya?. Aku memutar bola mataku bosan. Tiba-tiba seorang siswi mendekatiku.

"Haruno-san, Shizune-sensei menyuruhmu untuk ke ruangannya!" katanya dengan ramah. Apa? Ada apa shizune-sensei memanggilku?

"Baiklah aku akan kesana! Terima kasih sudah memberitahuku." kataku sambil tersenyum. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah Ino.

"Ino, maaf aku tidak bisa cerita sekarang. Lain kali saja ya...!" ucapku pada Ino. Kulihat raut kekecewaan dari wajah Ino. Tapi kemudian ia tersenyum.

"Ya sudah, sana cepat pergi! Tapi berjanjilah untuk menceritakannya padaku nanti!" ujarnya sambil mendorongku menjauh.

"ya!" ucapku sambil berlari menuju ruang guru.

-NORMAL POV-

Sesampainya di ruang guru, ia langsung menuju ruangan Shizune-sensei. Kedatangannya disambut dengan senyuman oleh Shizune. Shizune adalah dokter yang ada di KGA. Dia juga tau mengenai phobia Sakura, karena dialah dokter yang menangani penyakit yang dimiliki Sakura itu. Jadi, dia sangat tau perkembangan dari psikologis Sakura. Hanya Sasori, Sasuke, dan Shizune saja yang mengetahui kelemahan Sakura. Yang lainnya tidak ada yang tau mengenai hal itu. Bahkan sahabat dekatnya pun tidak ada yang tau.

"Duduklah!" ujar Shizune. Sakura pun duduk dihadapan senseinya itu.

"Ada perlu apa sensei memanggilku?" tanya Sakura sopan.

"Baiklah, langsung saja. Kau sudah tau kan mengenai berita gembira itu?" tanya Shizune yang dijawab dengan anggukan oleh Sakura.

"Hm... Menurutmu bagaimana?" tanya Shizune lagi. Sakura diam. Ia menundukkan kepalanya dan meremas ujung roknya kencang. Tangannya sedikit bergetar.

"Ng... Aku... Aku..." Sakura bingung mau menjawab apa. Hanya ada satu hal yang ada dipikirannya.
"I,itu... Menakutkan!" ucap Sakura dengan suara pelan. Mendengar jawaban Sakura, Shizune tersenyum. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Sudah kuduga kau akan mengatakan kata itu" ujar Shizune dengan santai. Sakura mengangkat kepalanya dan menatap sensei-nya dengan bingung.

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi, menurutku hal ini baik untuk membuatmu sembuh dari phobia-mu itu." ujarnya lagi.

"Ma,maksud sensei... Aku harus menerima ini semua? TIDAK! Aku tidak mau! Lebih baik aku pindah dari sekolah dan mencari..."

"Kalau begitu kau tidak akan pernah bisa sembuh!" ucap Shizune memotong perkataan Sakura. Nada bicaranya sedikit keras dengan penekanan di setiap katanya membuat Sakura terdiam. Melihat Sakura yang kembali menundukkan kepalanya, tatapan Shizune pun melembut.

"Sakura, kau tidak bisa terus-terusan seperti ini! Kau harus terima kenyataan! Jangan terpuruk pada masa lalu!. Lupakan itu dan terus melangkah maju. Karena ini takdirmu! Mau tidak mau kau harus menjalaninya. Apa kau tidak memikirkan perasaan kakakmu? Kau tidak mau 'kan terus-terusan merepotkan orang-orang terdekatmu?." Tanya Shizune setelah berbicara panjang lebar. Sakura hanya mengangguk.

"Kalau begitu, kau harus menerima ini! Jangan lari dari kenyataan! Karena, pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia berpasang-parangan. Begitu pula dengan makhluk yang lainnya. Sejauh apapun kau lari, dimanapun kau bersembunyi, kau akan tetap dikelilingi oleh kaum Adam. Percuma saja kau pindah dari sekolah ini. Karena kenyataannya akan tetap sama. Yang ada malah kau akan membuat kakakmu susah. Kau pikir gampang mencari sekolah khusus putri?. Setahuku di Konoha city sudah tidak ada lagi sekolah khusus putri. Mungkin ada, tapi di luar kota. Kalau kau pindah ke luar kota, itu hanya akan membuat kakakmu kerepotan!" ujar Shizune panjang lebar. Sakura terdiam meresapi setiap kata yang diucapkan senseinya itu.

"Bagaimana?". Tanya Shizune.

"Tapi sensei... Ng... Aku tidak bi..."

"BISA! kau pasti bisa!". Ucap Shizune memotong kata-kata Sakura. Sakura langsung menatap Shizune karena terkejut.

"Karena, aku tau kau bukan gadis lemah! Kau memiliki kekuatan yang kau kubur dalam-dalam, jauh di dalam dirimu. Aku tau itu! Harusnya kau gunakan kekuatan itu untuk melawan rasa takutmu, bukan malah menguburnya!". Ujar Shizune yakin sambil menepuk bahu Sakura pelan.

"Satu lagi. Jangan pernah menganggap kaum Adam itu menakutkan! Karena tidak semua laki-laki seperti itu. Kau mengerti?" tanya Shizune yang dijawab dengan anggukan oleh Sakura.

"Bagus! Yah... Kurasa cukup! Kau boleh kembali ke kelasmu! Camkan baik-baik perkataanku tadi!" pesannya setelah menasihati Sakura

Setelah mengucapkan 'terima kasih' pada Shizune, Sakura pun kembali ke kelasnya.

*** FYN ***

Kelas terlihat sepi, karena para siswi sudah berhamburan ke luar kelas bahkan ke luar sekolah setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi beberapa menit yang lalu. Hanya segelintir siswi yang masih ada di sekolah. Seperti Sakura dan Ino yang masih berada di kelas mereka. Dan... Sepertinya Ino tengah berusaha membangunkan Sakura yang tertidur sejak kembali dari ruang guru tadi.

"Sakura... Bangun! Sudah waktunya pulang!" ucap Ino sambil menggoyang-goyangkan lengan Sakura.

"Ngh... I,ino, ada apa?" tanya Sakura yang masih setengah sadar sambil meregangkan badannya yang terasa kaku.

"Sudah waktunya pulang!" jawab Ino berkacak pinggang.

"Sekarang jam berapa?" tanya Sakura lagi.

"15.30" jawab Ino singkat.

"Lama juga aku tidur. Hh..." ucap Sakura diakhiri dengan helaan nafas panjang. Ia beranjak dari tempat duduknya, dan melangkah ke luar kelas diiringi Ino.

"Kau bilang akan menceritakannya padaku, tapi kau malah tidur! Bagaimana sih?" omel Ino.

"Salahmu sendiri menghilang saat aku kembali ke kelas. Lagipula aku lelah, makanya aku tertidur." ucap Sakura dengan malas.

"Ya sudah, aku duluan ya! Sai pasti sudah menungguku! Sampai jumpa di sekolah baru!" kata Ino sambil berlari mendahului Sakura.

"Daah..." ucap Sakura sembari mengangkat tangannya . Sepeninggal Ino, Sakura mempercepat langkahnya. Ia ingin segera sampai di rumah untuk menenangkan pikirannya atas apa yang di alaminya hari ini.

Di gerbang sekolah, Sasuke sudah menunggu Sakura untuk mengantarnya pulang. Mereka sudah biasa pulang pergi bersama. Alasannya sudah pasti karena phobia Sakura. Ia tidak bisa bepergian sendiri tanpa Sasuke. Karena itu setiap hari Sasukelah yang mengantar jemput Sakura.

Melihat Sasuke yang sudah berdiri di depan gerbang sekolah, Sakura berlari ke arah Sasuke.

"Uchiha-san, maaf lama menunggu!" ucap Sakura sambil membungkukkan badannya sebagai permintaan maafnya yang dijawab dengan 'hn' seperti biasanya. Mereka pun pulang bersama.

#SKIP TIME

"Arigatou, Uchiha-san." ucap Sakura sesampainya di depan rumahnya. Tanpa membalas ucapan Sakura, Sasuke meninggalkan Sakura menuju rumahnya.

"Tadaima...!" ucap Sakura memasuki rumahnya.

"Okaeri!" sahut kakaknya, Sasori dari dalam kamarnya. Ia langsung mendekati Sakura yang terduduk di sofa ruang tamu kemudian duduk di sampingnya.

"Hh..." Sakura menghela nafas panjang. Tubuhnya masih sedikit gemetar karena di perjalanan pulangnya tadi melihat banyak lelaki.

"Terlihat lelah seperti biasanya!" ucap Sasori dengan senyum di bibirnya.

"Nii-san..." Sakura memukul bahu Sasori pelan. Senyum mengejek tersungging di bibir Sasori. Melihat itu Sakura langsung cemberut, tapi sama sekali tidak beranjak dari duduknya.

"Sakura... Ada sesuatu yang ingin kubicarakan!" ucap Sasori serius. Nada bicara Sasori yang berubah membuat Sakura menatap Sasori.

"Apa? Kelihatannya penting!" ujar Sakura.
"Err... Bagaimana ya? Hal ini memang penting kok! Tapi..." Sasori menggantung kata-katanya sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Ayolah Nii-san... Katakan saja! Jangan buat aku penasaran!" ujar Sakura sedikit memaksa.

"Baiklah... Langsung saja. Jadi begini, aku ditugaskan ke Suna city selama 2 bulan..." ucap Sasori ragu-ragu.

"Apa? Selama 2 bulan? Yang benar saja? Kapan Nii-san berangkat ke Suna?" tanya Sakura bertubi-tubi. Raut terkejut terlihat jelas di wajahnya.

"Yah... Besok aku berangkat ke Suna!" Sasori tersenyum garing.

"Besok? Lalu... Bagaimana denganku? Nii-san tidak mungkin meninggalkanku sendiri,kan?" tanya Sakura lagi.

"Tenanglah Sakura! Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri, karena itu..."
"Nii-san akan membawaku juga kan?" Sakura memotong ucapan Sasori dengan antusias. Sasori menggelengkan kepalanya.

"Tidak Sakura, aku tidak akan membawamu. Kau harus sekolah. Jadi... Sudah kuputuskan, selama aku di Suna, kau akan tinggal dengan keluarga Uchiha!"

'Krikk'

'Krikk'

'Krikk'

.

.
"A,APPPPAAAA?"

~To Be Continued~

A/N

Yak akhirnya chapter 2 update juga! Thanks yang udah mau baca ceritaku ini. Dan trim'ms banyak buat "Shana Kozumi" & "Aiko Haru" yang udah baca & nge-review! Arigatou... m(_ _)m

Yah... fyn tau kq masih banyak kekurangan dalam cerita ini. Karena itu...

R

E

V

I

E

W

PLEASE...!