Title: It's Because The Past
Disclaimer: Sampai kapanpun NARUTO tetep punya Kishimoto-sensei. Tapi IT'S BECAUSE THE PAST punya Fyn!
Pairing: SasuSaku & others pairing
Rated: T
Genre: Romance & Friendship
WARNING!: OC, OOC, AU, abal, typo(s),dan masih banyak kekurangan dalam cerita ini!
DON'T LIKE, DON'T READ!
-It's Because The Past-
~3th Chapter~
"Silahkan masuk!" ucap seorang pelayan keluarga Uchiha mempersilahkan Sasori dan Sakura masuk ke dalam rumah yang tidak bisa dibilang sederhana itu. Ya, saat ini mereka tengah berada di kediaman Uchiha yang super duper megah nan mewah. Jangan tanya kenapa mereka berada disitu. Yah... Semua ini karena Sasori yang ingin menitipkan Sakura pada keluarga Uchiha. Alasannya?. 1. Sasori ditugaskan ke Suna selama 2 bulan, 2. Ia tidak ingin membiarkan Sakura sendiri, 3. Menurutnya keluarga Uchiha adalah tempat yang tepat yang bisa menjaga adiknya itu, lagipula di dalamnya ada Sasuke yang bisa menjaga Sakura, 4. Masih banyak alasan yang masuk akal lainnya.
Bagaimana dengan Sakura?. Tentu saja ia sangat tidak setuju dengan keputusan sepihak kakaknya itu. Tapi setelah mepertimbangkan baik buruknya, untung ruginya, bagus tidaknya, akhirnya Sakura menerima dengan setengah hati keputusan kakaknya itu.
Dan... Sekarang, lihatlah! Sakura Haruno tengah terduduk lemas di ruangan yang bisa disebut ruang tamu bersama Sasori di sampingnya. Kepalanya ia tundukkan dalam-dalam. Mulutnya tidak henti-hentinya menggumamkan kata "tolong.." dengan lirih. Sementara di dalam hatinya, ia sudah menjerit ingin pulang ke rumahnya, meraung ingin ikut kakaknya dan menangis meratapi nasibnya. 'Kami-sama tolong aku!-hiks'.
"tenanglah... Kau tidak perlu takut! Keluarga Uchiha keluarga yang baik, kok! Kau pasti akan senang tinggal disini." ucap Sasori mengelus bahu adiknya lembut.
Tidak lama kemudian, muncullah seorang pria dan wanita paruh baya yang diketahui bernama Fugaku Uchiha dan Mikoto Uchiha.
"Maaf menunggu lama." ucap Fugaku pada Sasori dan Sakura tentunya. Sasori beranjak dari duduknya lalu memberi salam pada Fugaku dan Mikoto. Sementara itu, Sakura membeku di tempat. Tubuhnya gemetar setelah mendengar suara Fugaku yang notabene seorang pria.
"Silahkan duduk!" Mikoto mempersilahkan Sasori duduk kembali. Pandangannya beralih pada gadis bersurai merah jambu yang duduk disamping Sasori.
"Jadi... Dia Sakura?" tanya Mikoto sambil menunjuk Sakura.
"Ya, dia Sakura, adikku." jawab Sasori merangkul Sakura. Rangkulan Sasori membuat Sakura lebih tenang. Ia mencoba menatap Mikoto dan memberikan senyum manis padanya. Tapi yang dia tunjukkan adalah senyum kaku.
"KYAAAAA... MANISNYAAAA!" jerit Mikoto tiba-tiba memeluk Sakura dan duduk di sampingnya. Tentu saja Sakura kaget dengan perlakuan Mikoto itu.
"Sakura, dia dan dia " Sasori mengenalkan kepala keluarga Uchiha beserta istrinya pada Sakura. Mendengarnya, Sakura hanya bisa tersenyum kaku, canggung, dan takut. Ingin rasanya memberi salam pada mereka, tapi rasa takutnya terlalu besar sehingga ia speechless di tempat. Sementara itu, Mikoto tetap memeluknya dengan gemas. Fugaku yang melihat sikap istrinya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mafhum.
"senang bertemu denganmu, Sakura!" ucap Fugaku.
"Selamat datang di keluarga Uchiha!" sambung Mikoto dengan riangnya.
Sakura mengeratkan genggamannya di tangan sang kakak, membuat Sasori menatapnya bingung. Tapi, Sasori tau kalau Sakura ketakutan. Terlihat jelas dari wajahnya yang pucat, tangannya dingin dan gemetar.
"baiklah, kalau begitu aku permisi dulu! Aku akan langsung berangkat ke Suna. Aku titip Sakura. Mohon bantuannya!. Maaf karena merepotkan anda. Dan terimakasih...!". Pamit Sasori pada pasangan Uchiha itu.
"Ah, jangan sungkan! Justru aku sangat senang karena akhirnya di rumah ini ada anak perempuan". Ucap Mikoto dengan antusias sembari merangkul Sakura.
"tidak perlu khawatir! Kami akan menjaganya" Fugaku melanjutkan.
"sekali lagi, terimakasih!" ujar Sasori yang kini sudah berada di ambang pintu diikuti Fugaku, Mikoto dan Sakura dalam rangkulannya.
Sasori menatap Sakura dan mencondongkan kepalanya agar sejajar dengan Sakura. Ia tersenyum.
"ne, Imouto-chan... Nii-san pergi dulu! Jangan macam-macam selama aku tidak ada!, jangan nakal! Jangan takut...! Tenang saja, 'kan ada Sasuke" Sasori menepuk pucuk kepala Sakura lembut. Sakura agak kesal mendengar ucapan kakaknya yang terdengar seperti menggodanya itu.
Namun, kekesalannya hilang seiring dengan langkah Sasori yang mulai menjauhi kediaman Uchiha. Ada rasa tidak rela dengan kepergian kakaknya itu. Ia berlari ke arah Sasori.
"NII-SAN!" teriaknya nyaring. Sasori menoleh. Ia terkejut dengan Sakura yang tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya. Bisa Sasori rasakan tubuh Sakura yang gemetar.
"Hei... Hei..."
"Nii-san... Kau harus kembali secepatnya! Jaga dirimu baik-baik! Jangan lupa meneleponku kalau sudah sampai disana! Ah, Tidak! Kau harus meneleponku setiap hari! Dan... Lalu... Lalu... Setelah kau kembali jangan pernah meninggalkanku lagi!" ucap Sakura panjang lebar. Ia mengeratkan pelukannya, lalu berucap lirih.
"aku benci ditinggal!". Ucapan Sakura membuat Sasori terkejut, ia balas memeluk Sakura erat.
"Baiklah Imotou-chan, aku janji ini yang terakhir! Kau juga harus menjaga dirimu baik-baik!. Jangan lupa untuk ke dokter Shizune rutin!. Ku harap kau bisa sembuh. Jangan bertingkah yang aneh-aneh selama aku tidak ada! Dan anggaplah keluarga Uchiha seperti keluargamu sendiri!, mereka orang yang baik kok. Terakhir, aku pasti akan selalu meneleponmu!" ujar Sasori tak kalah panjang lebar dari ucapan Sakura. Senyum lembut terpatri di wajah baby face-nya.
Dari jauh Mikoto dan Fugaku memandang mereka berdua sambil tersenyum.
"Mereka saudara yang manis!" ucap Mikoto sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Fugaku.
"Hn..." balas Fugaku merangkul bahu istrinya.
"Tak kusangka gadis semanis itu memiliki masa lalu yang kelam". Mikoto memandang Sakura dari jauh dengan tatapan sedih. "Batinnya pasti tersiksa". sambungnya lagi.
"Apa dia takut padaku?" tanya Fugaku.
"Hmm... Sepertinya begitu, dan mungkin padaku juga. Dilihaat dari raut wajahnya, dia ketakutan sekali". Jawab Mikoto dengan tatapan sendu, disusul dengan anggukan dari Fugaku.
"Bagaimana kalau kita bantu sembuhkan phobianya?" tanya Mikoto menatap suaminya dengan penuh harap. Fugaku terlihat berpikir sejenak lalu tersenyum penuh arti ada Mikoto. Melihat snyum Fugaku, Mikoto ikut tersenyum senang. Lalu ia memanggil Sakura yang telah melepas kepergian kakaknya.
"Sakura-chan~!" Mikoto melambaikan tangannya menyuruh Sakura mendekat.
Sakura membalikkan badannya dan mau tidak mau ia melangkah mendekati Mikoto dan Fugaku. Dengan takut-takut tentunya. Kemudian Mikoto memanggil salah satu Maid yang berjajar di dekat pintu masuk. Maidberambut panjang yang dipanggil 'Kin' itu menghampiri Mikoto.
"Ya, Mikoto-sama" ucapnya sambil membungkukkan badannya sopan.
"Kin, ini Sakura" ucap Mikoto sambil merangkul Sakura (lagi). Kin tersenyum ramah. Begitu pun sebaliknya.
"Mulai sekarang hingga dua bulan ke depan, Sakura-chan akan tinggal disini, dan mulai sekarang dan seterusnya kau yang bertugas menyiapkan segala hal yang dia butuhkan dari bangun tdur sampai tidur lagi. Kau mengerti?!" ini titah dari Fugaku.
"Saya mengerti, Fugaku-sama" Kin membungkukkan badannya.
Ucapan Fugaku barusan membuat Sakura terkejut. Ia memandangi Fugaku dan Mikoto bergantian dengan tatapan bingung. Dan entah mendapat keberanian dari mana Sakura mulai bersuara.
"A, ano... Ji-san, Ba-san... Ng... A, apa ini tidak terlalu berlebihan? A, aku... Bisa mengurus diriku sendiri. Ja, jadi..."
"Tou-san!" Fugaku memotong ucapan Sakura. "Panggil aku Tou-san!" ucap Fugaku lagi.
"Dan panggil aku Kaa-san!" sambung Mikoto. Mereka tersenyum lembut pada Sakura. Ucapan mereka sukses membuat Sakura terkejut.
"Tou-san, Kaa-san…." Gumam Sakura pelan. Ia menatap Mikoto dan Fugaku bergantian.
"Nee… Saku-chan, mulai sekarang anggaplah kami seperti orang tuamu sendiri, mengerti?" ucap Mikoto sembari mendekatkan wajahnya kea rah Sakura agar sejajar dengannnya. Sakura mengangguk pelan. Rasa takut yang ia rasakan berganti dengan perasaan hangat dan senang setelah mendengar ucapan Mikoto dan Fugaku.
"Kin, antar Sakura ke kamarnya!" titah Fugaku pada Kin. Setelah mengucapkan terima kasih, Sakura mengikuti Kin menuju kamar barunya.
¤fynlichthimefynlichthimefynl ichthimefynlichthimefynlicht himefyn¤
"Ano… Apa Kin-san tidak salah ruangan?" Tanya Sakura ketika sampai di kamar barunya yang tidak bisa dibilang sederhana. Ia menatap ragu pemandangan yang tersaji dihadapannya. Ruang kamar yang luasnya tiga kali luas kamarnya atau mungkin lebih? Entahlah. Yang jelas kamr ini luas sekali dengan nuansa pink yang teramat girly. Kasur ukuran king size dengan beberapa teddy bear besar dengan ukiran berwarna putih-pink, denganmeja rias beserta make up yang lengkap tersedia di atasnya. Tidak lupa dengan meja belajar di samping tempat tidurnya. Dan tentunya tersedia kamar mandi juga.
"Tentu saja tidak, nona. Ini adalah kamar anda. Mikoto-sama yang menyiapkan kamar ini beserta isinya. Beliau terlihat senang ketika tau akan ada anak perempuan yang tinggal di rumah ini". Jelas kin. Sakura terkejut mendengarnya.
"Ta, tapi ini terlalu berlebihan... A, aku kan hanya menumpang di sini".
"Anda tidak perlu sungkan! Beliau bilang Sakura-sama adalah tamu yg spesial. Jadi, anggaplah seperti rumah sendiri".
"Arigatou. Tapi... Tolong panggil aku Sakura saja, jangan terlalu formal!".
"Baiklah Sakura, sekarang apa yang kau butuhkan?".
"Untuk saat ini aku ingin istirahat sebentar, menenangkan diri. Rasanya aku lelah". Ucap Sakura mulai duduk di tepi ranjang.
"Apa mau kubuatkan teh herbal? Itu bisa membuatmu lebih rileks". Tanya Kin.
"Tidak perlu, aku hanya butuh tidur, mungkin?. Hampir semalaman aku tidak tidur membayangkan hari ini, hah...". Sakura menghela nafas panjang. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Salahkan Sasori yang membuat keputusan seenaknya.
Semua kejadian kemarin membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Bagaimana tidak?. Pagi-pagi ia sudah ketakutan karena sendirian di stasiun, di sekolah mendapat kabar buruk, sampai dirumah, ia semakin terkejut dengan keputusan Sasori. Sebenarnya, ia tidak ingin jauh-jauh dari kakaknya. Tapi, apa boleh buat. Sakura tidak bisa seenaknya melarang Sasori. Lagipula apa yang Sasori lakukan itu untuk dirinya. Jadi, Sakura tidak boleh egois.
¤fynlichthimefynlichthimefynl ichthimefynlichthimefynlicht himefyn¤
DEG
Sakura terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu dan tubuh yang sedikit bergetar. Ia usap peluh di wajahnya.
"Lagi-lagi mimpi itu" keluhnya.
"Pasti mimpi buruk". Mikoto menatap Sakura khawatir. Sakura terkejut. Dia baru sadar kalau ada Mikoto di kamarnya.
"Ba-san... Eh, ma, maksudku Kaa-san?" gumamnya gugup. Sakura bangun dari posisi tidurnya.
"Tidak apa, mungkin kau belum terbiasa". Mikoto tersenyum lembut. Dia memberikan Sakura air putih.
"Arigatou..." ucap Sakura tersenyum lemah yang di balas dengan senyum lembut oleh Mikoto. Membuat Sakura merasa tenang.
'Begini ya rasanya punya ibu?' pikirnya. Wajar kalau Sakura berpikir begitu. Dia belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Karena, ibunya meninggal setelah melahirkannya. Selama ini, hanya ayah dan kakaknya yang merawat dirinya. Itupun hanya sebentar. Setelah ayahnya wafat, kakaknyalah yang selalu menjaga dan memperhatikannya. Ada perasaan sedih yang menyelimuti Sakura ketika ingat perjuangan Sasori dalam merawatnya. Dia bersyukur, masih memiliki kakak yang sangat menyayanginya. Tanpa adanya ayah dan ibu pun tak membuatnya terpuruk. Saat ini dia hidup demi kakaknya. Sebisa mungkin dia tidak ingin membuat Sasori khawatir padanya. Yah, walaupun dia sadar bahwa dirinya sangat merepotkan. Apalagi dengan adanya kelemahan aneh yang dimilikinya. Memikirkannya saja membuat Sakura kesal.
'Kenapa aku begitu lemah?' tanyanya dalam hati.
"Saku-chan". Ucapan Mikoto membuyarkan lamunannya.
"Eh, ya?" ucapnya kaget.
"Kau melamun?" tanya Mikoto.
"Maaf..." Sakura berucap lirih.
"Ah, tidak apa! Bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Mikoto lagi. Sakura mengangguk sebagai jawaban.
"Kaa-san?"
"Ya?"
"Ano... Bolehkah aku memelukmu" tanya Sakura.
Tanpa menjawab, Mikoto merentangkan tangannya dan Sakura langsung menghambur ke dalam pelukannya. Mikoto mengeluk punggungnya lembut. Rasanya Sakura ingin menangis di pelukan Mikoto. Tetapi dia bukanlah gadis yang mudah menangis.
Mikoto membiarkan Sakura memeluknya erat. Memberikannya rasa nyaman dan aman. Perlahan, Sakura memejamkan matanya.
'Begini ya rasanya punya ibu?'
'Begini ya rasanya punya anak gadis?' Batin Mikoto dan Sakura bersamaan.
¤fynlichthimefynlichthimefynl ichthimefynlichthimefynlicht himefyn¤
"Ngh..." lenguh Sakura yang baru saja membuka matanya. Dia tertidur cukup lama. Yang membuatnya heran, dia tidak bermimpi buruk lagi. Biasanya kalau dia tidur sendiri, mimpi itu pasti datang. Tapi kali ini berbeda. Tidurnya nyenyak. Tubuhnya juga terasa lebih baik. Apa mungkin karena Mikoto yang telah menemaninya hingga terlelap? Atau...
"Sakura" panggilan Kin membuyarkan lamunannya.
"ng? Kin-san...". Rupanya Sakura masih setengah sadar.
"Aku suduh menyiapkan air hangat untukmu mandi, baju juga sudah kusiapkan. Karena itu, cepatlah mandi! Fugaku-sama memintamu untuk ikut makan malam bersama". Kata Kin menjelaskan.
"Hm, aku mengerti". Sahut Sakura sembari berjalan ke kamar mandi.
¤fynlichthimefynlichthimefynl ichthimefynlichthimefynlicht himefyn¤
Kin sudah ada di depan pintu ketika Sakura keluar kamar. Dia membungkuk sopan membuat Sakura sedikit tidak nyaman.
"Sudah ku bilang jangan terlalu formal". Kin hanya tersenyum menanggapi ucapan Sakura.
"Fugaku-sama dan yang lainnya sudah menunggumu di ruang makan".
"Yang lainnya?" Sakura membeo.
"Apa ada banyak orang di sana?". Pertanyaan Sakura di jawab dengan anggukan oleh Kin.
"Mm... Apa disana ada Uchiha-san?" tanyanya ragu, berharap seseorang yang bisa menenangkannya ada di sana.
"Tentu saja ada. Rumah ini kan milik keluarga Uchiha". Jawab Kin.
Bukan. Bukan itu maksud Sakura. Yang dia maksud adalah Uchiha Sasuke, bukan Uchiha yang lain.
"ayo! Kau sudah ditunggu oleh yang lainnya. Mereka tidak akan memulai makan apabila kau tidak muncul juga!".
Ucapan Kin membuat Sakura terkejut.
'Jadi, mereka belum mulai makan?' batinnya.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!". Sakura melangkah terburu-buru diikuti Kin di belakangnya. Namun, baru beberapa langgkah tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Ano... Aku tidak tahu dimana ruang makannya". Ucap Sakura dengan senyum kaku. Kin menahan tawa lalu ia berjalan di depan Sakura.
"Ayo, ikuti aku!" suruh Kin. Sakura menurut. Dia berjalan dibelakang Kin. Langkah mereka menggema di mansion megah nan mewah itu.
¤fynlichthimefynlichthimefynl ichthimefynlichthimefynlicht himefyn¤
"Sebenarnya, siapa yang kita tunggu?" tanya Itachi dengan nada yang dibuat kesal. Pasalnya, ia sudah sangat lapar namun dipaksa menunggu seseorang yang menurutnya tidak penting. Hampir satu jam dia menunggu, tidak. Tapi mereka semua juga tengah menunggu.
Satu yang Itachi pahami bahwa orang yang ditunggu itu pastilah orang yang tidak disiplin sama sekali!. Memangnya siapa dia? Membuat seorang Uchiha menunggu.
Itachi yang terus menggerutu tidak jelas membuat Sasuke yang duduk di sampingnya merasa terganggu.
"Diamlah baka Aniki!". Sasuke mendengus kesal.
"Huh, tak ada yang mengerti perasaanku!" keluh Itachi lagi. Sasuke menatapnya bosan. Lalu, dia kembali berkutat dengan buku yang dipegangnya.
"Sabarlah Itachi! Sebentar lagi dia akan muncul. Dia spesial loh!" ujar Mikoto diakhiri dengan senyuman manis di bibirnya. Itachi membenturkan kepalanya ke atas meja.
"Naah... Itu dia!" ucapan Mikoto yang tiba-tiba membuat Fugaku, Itachi dan Sasuke mengikuti arah pandang Mikoto.
Disana, tidak jauh dari meja makan telah berdiri seseorang yang amat mereka kenal. Membuat Itachi mengernyit heran.
"Jadi, dari tadi yang kita tunggu adalah Kin?" pekik Itachi kaget.
"Ah, bukan! Bukan saya, tapi..." Kin bergeser dari tempatnya berdiri, dan terlihat ada seorang gadis yang sudah berdiri di belakang Kin. Terlihat jelas kalau gadis itu ketakutan. Semua mata tertuju padanya, pada Sakura. Fugaku dan Mikoto tersenyum. Uchiha bersaudara melihat Sakura dengan wajah terkejut. Apalagi Sasuke yang jelas teramat sangat mengenal Sakura.
"Ng, kalau begitu, saya permisi...". Kin meninggalkan ruang makan setelah melepaskan genggaman Sakura yang kelewat erat.
Setelah Kin meningalkannya, Sakura merasa lemas. Tidak ada lagi yang menjadi sandarannya. Rasanya dia ingin pingsan di tempat. Tapi, dia tidak semudah itu bisa pingsan hanya karena hal sepele. Lucu sekali kalau menganggap phobianya hal sepele sementara efek phobianya luar biasa. Membuat batinnya tersiksa. Bergerak pun sulit.
'Kami-sama, tolong aku!' batinnya menangis.
Itachi menatap Sakura intens dari ujung kaki sampai kepala. Satu yang terlintas di benaknya.
"Siapa dia?" tanyanya entah pada siapa.
DEG
'Suara pria?' batin Sakura takut.
Mikoto bermaksud menghampiri Sakura. Namun, sudah didahului Sasuke. Itachi terus memperhatikan Sakura. Sedikit bingung dengan sikap adiknya. Otak Uchiha-nya bisa langsung membuat kesimpulan yang membuatnya tersenyum simpul. Meski dia belum tahu siapa nama gadis itu, tapi dia tahu apa arti gadis itu bagi Sasuke.
Sakura ingin bisa bersikap wajar di hadapan keluarga Uchiha. Namun, phobianya tidak bisa dikendalikan. Bayang-bayang masa lalu muncul di benaknya. Semuanya terlihat nyata. Dia memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya makin gemetar dan lemas. Pada akhirnya dia pingsan. Ternyata mudah saja baginya untuk pingsan, kan?
Sasuke menahan tubuh Sakura sebelum menyentuh lantai.
"Bodoh!. Kenapa kaa-san menyuruhnya kesini?" ucap Sasuke ketus. Mikoto tak menghiraukan ucapan Sasuke. Dia terlihat cemas melihat Sakura yang tiba-tiba pingsan.
Sementara itu Fugaku tengah menikmati makan malamnya. Itachi? Jangan tanya, dia cengo setelah melihat Sasuke mengggendong Sakura ala brydal style.
"Tou-san, sebenarnya... Siapa gadis itu?" tanya Itachi setelah kembali normal.
"Dia Sakura, adik Sasori. Tadi siang Sasori menitipkannya pada keluarga kita. Karena dia akan bertugas di Suna selama dua bulan". Jawab Fugaku setelah menghabiskan makanannya.
"Apa? Adik Sasori? Kenapa aku tidak pernah tau kalau Sasori punya adik?" tanyanya pada diri sendiri.
Fugaku dengan tenang menikmati pudingya tak mempedulikan Itachi yang tengah bingung sendiri.
¤fynlichthimefynlichthimefynl ichthimefynlichthimefynlicht himefyn¤
Terdengar keributan di luar kamar Sakura.
"Cepat dokter!"
"Iya, iya, tolong jangan tarik-tarik begini!"
"Sudah tidak ada waktu lagi! Cepat!"
BRAK
Pintu dibuka dengan kasar. Terlihat Kin tengah menarik tangan Shizune.
"Mikoto-sama, saya telah membawa dokter Shizune" ucap Kin dengan sedikit terengah-engah.
Mikoto menyambut Shizune dengan sopan. Kemudian, tanpa banyak bicara Shizune memeriksa keadaan Sakura.
"Dia baik-baik saja. Hal ini sudah sering terjadi semenjak dia memiliki Androphobia. Fisiknya baik-baik saja. Hanya psikisnya yang kurang baik. Kalau terus begini, bisa mempengaruhi kesehatan fisiknya" jelas Shizune sembari membereskan peralatannya.
"Jadi, apa yang bisa kulakukan agar Saku-chan sembuh?" Tanya Mikoto dengan raut cemas.
"Mmmm... Itu tergantung pada Sakura. Tapi setidaknya sebisa mungkin buatlah dia nyaman berada di dekat laki-laki. Untuk di rumah ini saja dulu. Buat Sakura tidak takut pada lelaki yang ada dirumah ini. Kalau itu berhasil, mungkin dia bisa sembuh". Mikoto mengangguk mendengar penjelasan Shizune.
"Ano... Maaf kalau saya lancang. Sebenarnya kenapa nona Sakura bisa memiliki Androphobia?" tanya Kin tiba-tiba. Membuat yang ada dalam kamar itu menoleh padanya.
Hening sejenak.
"Benar juga, kenapa Sakura bisa sampai memiliki Androphobia? Yang aku tau masa lalunya buruk. Itu kata Sasori. Tapi, sebenarnya kejadian apa yang membuat Saku-chan mengalami trauma?" tanya Mikoto memecah keheningan.
Shizune menghela nafas.
"Ceritanya panjang, tapi intinya dulu Sakura pernah disiksa, hampir dibunuh dan kesuciannya hampir direnggut oleh pria psikopat!"
"A, apa?" Mikoto dan Kin berucap bersamaan. Terkejutlah mereka mendengarnya. Sasuke yang mendengar ucapan Shizune sempat memicingkan mata tidak suka ke arah Shizune. Sementara itu, Mikoto dan Kin memandangi Sakura dengan raut wajah khawatir, sedih dan prihatin.
¤fynlichthimefynlichthimefynl ichthimefynlichthimefynlicht himefyn¤
"Uuh... Jangan...!". Sakura terjaga setelah berteriak histeris. Mikoto menatapnya khawatir. Kin panik. Shizune mencoba menenangkan Sakura.
"Jangan! Jangan sentuh aku! Hentikan! Sakit... ukh..". Sakura merintih sambil memegangi kepalanya.
"Sakura tenanglah! Ini aku, Shizune". Ucap Shizune mencoba menenangkan Sakura lagi. Tapi Sakura tetap meronta tak terkendali.
"Kumohon... Hentikan...!" rintihnya lagi. Shizune kewalahan menghadapi Sakura yang tidak kunjung tenang.
"Saku-chan... tenanglah... tidak ada yang akan menyakitimu. Kau aman disini". Kali ini Mikoto mendekap Sakura, namun tak berefek apapun. Justru Sakura semakin meronta.
Sasuke yang sedari tadi diam mulai bersuara.
"Jangan. Sentuh. Dia!" ucapnya penuh penekanan. Mendengar itu, Mikoto dan Kin melepaskan pegangannya dari lengan Sakura. Shizune memberi isyarat pada Mikoto dan Kin untuk menjauh dari Sakura yang kini tengah memeluk lututnya sambil nergumam tidah jelas. Tubuhnya gemetar. Peluh membasahi wajahnya.
Hening kembali menyelimuti. Hanya terdengar suara detik jam dan hembusan nafas Sakura yang tidak teratur. Mereka membiarkan Sakura untuk tenang dengan sendirinya.
"Sakura..." Ucap Sasuke dengan datar menatap lurus ke arah Sakura yang balas menapnya juga. Bukan wajah ketakutan yang terlihat dari Sakura. Bukan juga raut terkejut. Dan tidak ada gumaman tidak jelas yang keluar dari bibirnya.
"Uchiha-san..." Katanya dengan raut wajah lega. Tubuhnya yang semula gemetar sudah kembali normal. Sasuke duduk di samping Sakura. Membirkan Sakura menyenderkan kepala dibahunya. Sasuke memberikan air putih padanya. Setelah meminum habis air putihnya, Sakura bersuara.
"Hah... Lagi-lagi aku memimpikan kejadian itu. Menyebalkan! Untung hanya mimpi. Tapi, sungguh... Tadi itu terasa nyata sekali. Lenganku dicengkram oleh beberapa orang dan aku memberontak, lalu... lalu... kau muncul! Aku merasa lega..." ucapnya panjang lebar dengan antusias namun sedikit ketakutan.
Semua yang ada di kamar itu –minus Sasuke- sweatdrop setelah mendengar cerita Sakura.
'Betapa mudahnya dia membuat Sakura tenang' pikir mereka bersamaan.
"Lho? Kenapa aku bisa ada disini? Dan kenapa Shizune-sensei juga ada disini?" tanya Sakura bingung.
"Ne, Saku-chan... Kau tidak ingat? Tadi kau pingsan. Karena itu dokter Shizune dipanggil kemari untuk memeriksa keadaanmu." Jawab Mikoto. Sakura mengangguk paham. Lalu memandangi orang uang ada di kamarnya.
"Uchiha-san, lagi-lagi aku merepotkanmu. Bahkan aku juga merepotkan keluargamu. Aku ini benar-benar merepotkan! Minna-san, gomennasai..." Ucapnya diselingi tawa hambar.
"Kau bicara apa sih?"Sakura menepuk kepala Sakura.
"Kau sama sekali tidak membuat repot kok". Mikoto tersenyum tulus.
"Kalau tidak ingin membuat repot orang sekitarmu, cepatlah sembuh! Lawan phobiamu itu!" Shizune yang bersiap untuk pulan itu berucap dengan senyum tulus tersungging di bibirnya. Ucapannya membuat Sakura tertegun.
" Ah, Mikoto-san aku pamit dulu. Kurasa Sakura akan baik-baik saja selama ada Sasuke didekatnya"
" Terima kasih sudah datang. Tadi itu aku benar-benar khawati padanya"
"Ini memang sudah tugasku. Aku permisi dulu. Sakura... Ganbatte ne!" Ucap Shizune diakhiri dengan kedipan mata ke arah Sakura. Sakura mengangguk yakin.
'Ya! Aku harus melawannya!'
"Harus!"
Tekad Sakura sudah bulat. Demi orang-orang disekitarnya dia akan melawan phobianya itu!.
-TO BE CONTINUED-
