Akhirnya chapter 2 sudah keluar _(~w~_)_
Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi dan fanfic ini milik saya...
Kritik dan saran sangat membantu :D Dan ini saya buat karena ide dadakan... Maaf kalau banyak EYD yang tidak sesuai..
Ah maaf, ada perubahan hanya pada tanggal #plak
~~~~ 2 tahun lalu~~~~
~~19 November 2023~~
Seperti biasa di rumah sakit pada pagi hari, Midorima Shintarou mendapat tugas untuk mengecek keadaan pasien. Dia memasuki beberapa ruang pasien dengan tenang lalu melakukan pengecekan dengan lancar tanpa ada halangan apapun. Dia kadang mengajak bicara sang pasien untuk berbagi pengalaman. Namun hanya ada 1 ruangan dimana dia harus adu mulut dengan sang pasien…
"Hahahaha! Astaga Shin-chan! Kau beneran memakai bando pita berwarna pink- Ahahaha!" Lelaki itu tertawa saat Midorima memasuki ruangannya, memang Oha Asa berkata bahwa lucky item untuk Cancer hari ini adalah bando pita berwarna pink, Midorima tidak terlalu peduli dengan tertawaannya yang dia dengar setiap hari tiap kali dia membawa lucky item. Namun, mendengar namanya dipanggil seperti itu saja sudah membuat Midorima facepalm.
"Kazunari, sampai kapan kau akan memanggilku dengan nama konyol seperti itu?"
"Kalau kupanggil 'Shintarou' rasanya tidak enak~ Jadi kupanggil Shin-chan! Lagipula lidahku sudah terbiasa" Jawabnya santai sambil tertawa kearahnya.
Bisa diketahui bahwa Takao Kazunari yang merupakan istri dari Midorima Shintarou sedang tertidur diatas kasur pasien dengan infus yg ada di tangannya. Sudah 1 tahun lamanya semenjak kejadian menimpa Takao dan sampai sekarang keadaannya entah kenapa kadang membaik dan memburuk. Tidak tentu.
"Jadi Kazunari, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanyanya sambil membawa buku patient chart.
"Tidak bagus tidak jelek, akhir-akhir ini aku sering sesak nafas" Jawabnya sambil menutup kedua matanya.
"Aku tidak tau sampai kapan penyakit yang tidak diketahui ini akan terus menggerogoti tubuhku, Shin-chan" Lanjutnya sambil memegang dada sendiri. Setiap hari Takao merasa tidak enak di bagian dadanya, kadang sakit sekali seperti ditusuk jarum dan kadang seperti dipukul keras oleh sesuatu.
"Tapi aku percaya kalau 'Midorima-sensei' bisa menyembuhkanku" Lanjutnya sambil tersenyum. Dia menaruh kepercayaan yang lebih untuk suami tercintanya.
"..." Midorima hanya bisa diam, tangannya sedang menulis bagaimana keadaan Takao sekarang. Memang rasanya berat untuk menerima kenyataan seperti ini. Takao yang entah kenapa terkena suatu penyakit yang tidak pernah diketahui di dunia kedokteran. Bisa dibilang ini adalah penyakit terbaru yang menyerang 3 dari 100 juta kelahiran di dunia bahkan sampai sekarang obat untuk menyembuhkannya belum ditemukan. Tapi, kenapa harus Takao yang kena? Apakah dunia sudah begitu kejam?
"Shin-chan?" Dia memanggil namanya sekali lagi. Kedua mata abu-abunya menatap lelaki itu masih terdiam.
"Hoi Shin-chan! Sudah berapa kali aku harus memanggilmu! Shin-chan! Shin-chan!"
Midorima tersadar dari lamunannya dan memukul kepala Takao dengan buku pasiennya.
"Tidak perlu memanggilku berkali-kali, Bakao. Aku mendengarkanmu"
"Aw!" Sukses terkena pukulannya, dia mengusap-usapnya dan terlihat ngambek.
"Begitu cara Shin-chan memperlakukan pasiennya?! Aku sebagai istrimu merasa kecewa!"
"Terserah nanodayo, itu karena kau sangat menyebalkan" Midorima lalu berdiri dan mengelus-elus rambut hitamnya.
"Kalau ada apa-apa jangan disembunyikan, Kazunari. Aku akan memeriksa pasien lain, jangan lupa me—"
"Iya Shin-chan~ Aku sudah mendengarkan nasihat itu berkali-kali. Tidak perlu diulang terus! Aku selalu melakukannya!"
Tapi pernah waktu itu Takao tidak menghabiskan makanan rumah sakit dengan alasan dia tidak menyukainya. Itu membuat Midorima harus sabar untuk menyuapinya karena itu bagus untuk kesehatan tubuh. Namun diam-diam Takao memuntahkannya waktu ke kamar mandi.
"Hah.. Baiklah" Lelaki berambut hijau itu menghela nafas dan keluar dari kamarnya.
Midorima berjalan untuk menuju ke kamar pasien lain, dia membuka buku pasien milik Takao untuk meneliti lebih lanjut. Penyakit jantung bukan, penyakit paru-paru juga bukan... Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana caranya untuk menyembuhkannya, namun belum ada petunjuk yang pasti.
Sekarang Takao kembali sendirian dan bersandar, dia sendiri berharap penyakit yang dideritanya sembuh sehingga dia tidak mengingkari janji yang dia buat dengan Midorima waktu itu.
"Maafkan aku, Shin-chan... Kalau semisal aku meninggal"
"Haha, tapi tidak mungkin bukan? Aku percaya penyakit ini pasti akan kau sembuhkan"
Takao hanya bisa tertawa kecil menerima kenyataan pahit seperti ini, dia menatap kearah jendela dimana sinar matahari menembus kamarnya untuk menenangkan pikirannya.
-Flashback
~~The first date~~
Terdengar suara langkah sepatu cepat dan dentuman bola basket yang biasa terdapat di lapangan street ball. Terlihat dua orang sedang bertanding disitu dibawah terik matahari siang yang terasa membakar kulit. Keringat bercucuran membasahi baju keduanya yang terlihat saling berebut bola dan ingin mencetak skor.
"Kau memang bisa melewatiku, Takao?" Lelaki berambut hijau untuk memasang kuda-kuda defense. Walau dia berada di bidang mencetak skor, namun keahlian dalam bertahannya tidak diragukan.
"Kalau bisa, Shin-chan yang gantian menggenjot sepeda untukku!" Takao berlari kearahnya dan melempar bola melewati kedua kakinya kemudian melewatinya untuk mendapati bola tersebut, itu berada di luar dugaan Midorima.
"Sial!" Dia berusaha untuk mengejar bola namun sudah diambil oleh lelaki bertubuh pendek itu.
Takao berlari cepat untuk mencapai ring basket, ternyata keduanya belum mencetak skor sama sekali.
"Hanya segitu saja kemampuanmu, Shin-chan?!" Lalu dia melakukan lay-up, tapi dari belakang Midorima menepis bola tersebut karena didukung oleh tinggi badannya.
"Apa?!" Padahal ini termasuk kesempatannya untuk mencetak duluan, tapi gak disangka Midorima bisa menghalanginya.
"Masih 100 tahun lagi kau akan mengalahkanku"
Midorima memperoleh bola, dan dia menaikkan kedua tangannya untuk melakukan 3-point shoot. Melihat hal itu Takao dengan cepat berusaha menghalanginya namun sudah terlanjur Midorima menembakkan bola itu.
"Tidak akan kubiarkan!" Takao lalu melompat untuk menepis bola tersebut, namun ternyata tidak sampai dan dengan sukses bola itu masuk kedalam ring.
Lelaki bertubuh pendek itu lemas langsung dan karena kelelahan dia terjatuh lalu tiduran mengadah kearah langit. Nafasnya terengah-engah dan Midorima duduk sebelahan dengannya.
"Takao, sebagai janjinya kau akan membelikanku 5 kaleng oshiruko untukku" Katanya sambil membenarkan kacamatanya yang melorot.
"Baik Shin-chan, tapi biarkan aku beristirahat dahulu"
"...Takao"
"Hm?"
"Apa maksudmu tiba-tiba mengajakku kesini?"
"...Pfftt-!" Takao berusaha menahan tawanya, dia tentu tidak mau ditapuk oleh Midorima.
"Ada apa tiba2 tertawa, Bakao?" Midorima menatap tajam partner basketnya itu.
Pada akhirnya Takao tertawa keras dan diikuti dengan pukulan Midorima di kepalanya.
"Sakit Shin-chan! Kau mau nanti aku gegar otak?!"
"Salahmu sendiri tiba-tiba tertawa, sekarang jawab pertanyaanku"
Dia hanya bisa menghela nafas dan tersenyum kearahnya.
"Mungkin Shin-chan akan tertawa mendengar hal ini, tapi kita sekarang sedang berkencan" Jawabnya sambil mengganti posisinya menjadi duduk
"Jangan bilang Shin-chan lupa akan janji kita waktu SMA?"
Mendengar hal itu saja wajah Midorima langsung merona merah dan dia membuang muka untuk menutupinya. Kencan katanya? ...Sebentar... Midorima lalu ingat akan janji itu dan langsung facepalm. Tapi, kencan dengan latihan tanding seperti barusan?
"Oh? Shin-chan demam akan kata-kataku barusan? Lucunya kawaii tsundere Shin-chan~" Takao sengaja menggodanya
"Di-Diam Bakao!"
Takao dengan santai menyentuh pergelangan tangannya yang lebih besar darinya.
"Aku merasa bersyukur bisa bertemu denganmu Shin-chan. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa sehebat seperti sekarang ini."
"...Takao"
"Memang waktu itu aku amat ingin membalaskan dendam gara-gara kekalahan itu, tapi malah aku menjadi satu tim denganku" Lanjutnya
"Berarti ini yang disebut 'Unmei nanodayo', Shin-chan?"
Midorima hanya bisa diam mendengarkan kata-kata Takao. Dia masih betul-betul ingat akan pertemuan pertama mereka waktu SMA. Sekarang mereka berdua berusia 21 tahun dan tinggal 1 apartemen bersama. Aslinya mereka sudah saling mencintai, namun Midorima ingin fokus dengan belajar dan janji akan berkencan dengan Takao waktu mereka lulus SMA.
"Shin-chan..."
"Hm? Apa Taka-?!"
Kata-kata Midorima terhenti ketika Takao menarik lengan lelaki itu dan gak disangka lelaki berambut hitam itu mencium bibirnya lembut. Hanya ciuman sederhana seperti itu seluruh wajah Midorima memerah. Karena secara tiba-tiba seperti ini, dia cepat-cepat melepas ciuman dan memegang bibir sendiri.
"Bakao! Apa itu barusan?! Ini tempat umum! Kalau ada yang melihat bagaimana?!" Midorima terlihat panik, tapi gak taunya jantungnya berdetak cepat.
"Shin-chan mau aku mencium dimana?" Tanyanya dengan wajah dibuat polos.
"...Tch.. Pokoknya jangan di tempat umum!"
Takao menyeringai puas dan dia memeluk lengan lelaki itu lalu senderan.
"Dasar tsundere Shin-chan. Tapi aku tetap mencintaimu"
"Dibilang aku tidak tsundere! ...Hmp.. Aku heran kenapa kau bisa mencintai orang sepertiku"
"Aku juga tidak tau kenapa, tapi hatiku berkata demikian."
Lelaki itu tersenyum kearahnya, Midorima yang melihat senyum itu kemudian melirik kearah lain karena tidak mau wajahnya memerah kembali.
"Shin-chan.. Aku ingin kita selalu bersama"
Gak tau kenapa, Takao memang ingin tidak mau kehilangan partnernya. Tapi, apa Midorima mau?
"Ah tidak— Lupakan hal itu Shin-ch—Eh..?"
Saat kedua mata abu-abu Takao menatap kearahnya, kedua pipi Midorima terlihat merona merah seperti kepiting rebus. Apakah ini berarti...?
"Shin-chan?"
"...Kau akan janji dengan perkataanmu barusan, Takao?"
"Tentu saja! Buat apa aku berbohong?"
Lelaki bertubuh tinggi itu kemudian berdiri, dan mengulurkan tangannya kearah Takao sambil melihat kearah lain.
"Ka-kalau begitu..." Midorima terlihat menelan ludah, terdengar kata-katanya bergetar bahwa dia terlihat gugup.
"Ma-maukah kau- Menikah de—denganku?"
"...Eh? Sebentar.. Shin-chan..."
Wajah Takao ikutan memerah seperti Midorima. Ini semua terasa seperti mimpi. Midorima mengajaknya menikah?!
"Kalau tidak mau ya sudah!"
"Aku belum berkata apa-apa Shin-chan!"
"Aku tentu—"
Dia menerima uluran tangan Midorima dan tersenyum.
"Mau menikah denganmu 'Shintarou'!"
Terimakasih telah membaca! Chapter selanjutnya akan saya buat secepatnya! 3
