Ah akhirnya chapter 4 terpublish juga! _( w _)_
Seperti biasa, Kuroko no Basuke milik Fujimaki-sensei dan saya hanya memiliki fanfic ini
Kemungkinan banyak EYD yang salah.. Dan tanggal2 yang membuat saya harus mengganti tanggal2 di chapter sebelumnya "orz
Happy reading!
~~After married~~
~~21 November 2022~~
~The first symptom~
Angin dingin menandakan musim dingin sebentar lagi akan tiba sudah terasa, sudah banyak orang memakai jaket tebal dan sweater untuk menghangatkan tubuh. Daun-daun yang masih berguguran di suatu tempat, yaitu di taman yang terdapat sebuah air mancur dimana ada rumor bila melempar uang koin dan mengucapkan sebuah doa maka akan terkabul. Namun itu masih rumor dan belum terbukti kebenarannya.
"Mama!" Terdengar suara anak perempuan berumur 9 tahun berlari menuju seorang lelaki berambut hitam yang memakai jaket coklat dan bersyal warna hijau. Ya, seorang laki-laki dipanggil 'mama'.
"Ada apa Seiri-chan? Menemukan sesuatu yang menarik?" Takao sambil tersenyum mengelus2 rambut coklatnya dengan sayang dan agak membungkuk kearah perempuan itu.
Seiri, adalah anak perempuan yang sifat serta kelakuannya benar-benar mirip dengan Takao. Selalu usil dimana-mana, punya rasa keingintahuan yang tinggi dan membuat kewalahan Midorima bila dia mengajak Seiri jalan-jalan. Namun Takao justru menyukai sifat yang seperti itu karena mengingatkan dia yang enerjik waktu SMA.
Sekarang Seiri duduk di bangku sekolah dasar, dia di sekolah mudah bergaul dan banyak disukai oleh murid-murid bahkan guru. Tapi nilainya normal-normal saja. Tidak bagus dan tidak jelek, tapi dia selalu puas dengan nilainya.
"Iya! Seiri waktu jalan-jalan dekat air mancur menemukan ini!" Dia memperlihatkan koin 5 sen, Takao hanya tertawa kecil dan mengusap-usap lagi kepalanya.
"Mungkin ini adalah lucky itemmu Seiri-chan, simpan dan jaga baik2"
"Iya mama!"
Dengan senang hati Seiri menyimpan uang koin tersebut masuk ke dalam sakunya. Takao kemudian menggandeng tangan anak perempuannya dan mengecup lembut keningnya lembut.
"Ayo, kembali ke papa Shintarou~"
Seiri mengangguk senang dan menggandeng erat tangannya. Takao mulai melangkahkan kakinya menuju ke suami berambut hijau yang sedang menunggu duduk di kursi panjang dekat dari arah mereka.
"Shin-chan~!" Dengan tangannya yang satu Takao melambai-lambai kearahnya.
Midorima hanya bisa menghela nafas, dia sedang bersama Airi. Anak kedua mereka yang terlihat pemalu namun di sisi lain ternyata dia sedikit nakal. Sehingga berkali-kali Midorima harus bersikap keras, tapi pada akhirnya Airi mengeluarkan airmata buaya dan mengadu kepada Takao. Sehingga Takao selalu mengingatkan Midorima, dengan diikuti tertawaan kecil dari Airi.
Airi dan Seiri adalah anak kembar. Namun yang keluar dari rahim Takao adalah Seiri dahulu kemudian baru Airi.
Memang kedengaran aneh bahwa seorang pria melahirkan, namun memang ada pria yang bisa melahirkan. Takao salah satunya.
Berarti, sudah 16 tahun mereka bersama—Ah tidak hampir 17 tahun. Tidak terasa waktu begitu cepat semenjak mereka tinggal bersama dengan 2 anak kembar itu. Melewati waktu bersama-sama tanpa ada halangan apapun, bahkan mempunyai sebuah rumah sendiri yang cukup ditinggali oleh 4 orang. Takao dan Midorima mulai mempunyai anak waktu berusia sekitar 28 tahun.
Seiri dan Airi merasa tidak terganggu bahwa fakta orang tua mereka adalah seorang pria. Tidak ada yang berkelamin wanita. Namun mereka tidak mengurus hal tersebut, yang mereka inginkan adalah kedamaian dan kebahagiaan dalam keluarga. Itu saja.
"Lama sekali nanodayo, kemana saja kalian?"
Midorima yang biasa bekerja setiap hari kali ini meminta libur untuk.. Ya tau sendiri tanggal 21 November adalah hari spesial bagi dirinya serta Takao.
"Hanya jalan-jalan di air mancur sana Shin-chan~" Takao menyeringai kearahnya.
"Lagipula sebentar lagi ah tidak.. Sekarang sudah mulai memasuki musim dingin bukan, Shin-chan?"
"Itu benar." Ternyata Midorima sudah menyiapkan 4 kaleng oshiruko panas yang ternyata baru dia beli di minimarket terdekat.
Takao duduk sebelahan dengannya dan Seiri dengan manja duduk diatas pangkuan lelaki itu, lalu menatap kearah Midorima.
"Papa! Mau oshiruko!" Ternyata Seiri bisa dibilang sangat menyukai oshiruko gara-gara di kulkas rumah mereka penuh dengan minuman tersebut.
Lelaki itu mengambil sekaleng dan membukakan dahulu sebelum memberikan kepada Seiri.
"Pelan-pelan meminumnya Seiri, masih panas." Dia melempar senyum tipis kearah anaknya itu dan Seiri mengangguk-ngangguk lalu meminum oshiruko mengikuti nasihat Midorima.
"Hehe~" Takao entah kenapa tertawa kecil melihat Midorima yang seperti itu. Jarang-jarang saja lelaki itu bersikap lembut seperti itu apalagi terhadap anak-anak.
"Apakah ada yang lucu, Kazunari?" Tanyanya sambil menatap dengan tampang poker face.
"Ah tidak kok Shin-chan~ Lagipula aku sering melihat senyummu yang seperti itu~"
"Hmp" Midorima dengan santai meminum oshirukonya dan tiba-tiba merasa ada yang berat di bahunya, ternyata Takao yang sedang bersandar kearahnya.
"...Merasa sesak lagi di dada?"
"Tidak Shin-chan, aku merasa senang saja hari ini."
Akhir-akhir ini Takao terkadang merasa sakit di bagian dadanya. Ini sudah terlihat semenjak di usia Takao yang ke 30 tahun. Tidak tentu waktu, tapi Midorima mengira hanya kelelahan biasa jadi dia hanya memberikan obat penenang. Berhubung lewat pemeriksaan, tidak ada penyumbatan darah di jantungnya.
"Kalau ada apa-apa bilang Kazunari. Aku tidak mau kau menutupinya."
"Iya Midorima-sensei~" Lelaki itu tertawa kecil sambil kedua tangannya memeluk tubuh Seiri yang masih meminum oshiruko.
Takao merasa hangat berada di dekat Midorima yang memakai jaket abu-abu dengan syal coklat panjang.
"Aku ngantuk.." Airi berkata demikian sambil mengucek-ucek kedua matanya dan menguap.
Midorima yang mendengar hal itu langsung dengan pelan mengusap-usap kepalanya.
"Baru 2 jam kau sudah minta pulang? Hmp, daya tahan tubuhmu lemah." Ujar Midorima dengan nada dingin.
"Huwa?!" Airi kaget tiba-tiba diusap dan berusaha mendorong tangannya.
"Shin-chan jahat! Mama! Shin-chan jahat!"
Lelaki berjaket coklat itu hanya bisa tertawa kecil dan menenangkan suaminya.
"Sudahlah Shin-chan, jangan kasar seperti itu."
"Kazunari, jangan terlalu memanjakan Airi."
Takao menghela nafas dan berdiri, lalu menunjuk kearah air mancur tersebut.
"Shin-chan, mau mencoba dulu kesana sebelum pulang?"
"Air mancur? Dimana tiap melempar koin disana maka permohonan akan dikabulkan?"
Takao mengangguk-angguk sambil menyeringai. Mulai lagi, sifat Takao yang ingin mencoba sesuatu yang baru.
"Terserah nanodayo."
Dengan semangat Takao menggandeng Airi dan menuju kearah sana diikuti oleh Midorima bersama Seiri di belakang. Memang cukup banyak orang yang sedang mengucapkan permohonan di air mancur tersebut setelah melempar koin.
Sesampai disana, Takao merogoh-rogoh kantong namun sialnya ternyata dia tidak punya.
"Ah aku tidak bawa..." Takao merasa kecewa. Padahal dia ingin mencobanya sekali dalam seumur hidup.
Midorima hanya bisa facepalm dan menyodorkan beberapa uang receh, "Ini untukmu, Bakao"
Takao menggembungkan kedua pipinya karena ngambek dipanggil 'Bakao', "Hatiku sakit mendengar itu Shin-chan!"
Setelah lelaki itu menerima uang receh dari Midorima, dia melempar beberapa ke air mancur itu dan mulai mengucapkan permohonan.
"Aku ingin Shin-chan bersikap lembut terhadap Airi"
"...Kazunari apa maksud—?"
Belum saja Midorima menyelesaikan perkataannya, ternyata Takao masih melanjutkannya.
"Semoga keluargaku bahagia selalu."
Dia tersenyum sambil mengatakan itu dan menggandeng tangan suaminya dan senderan. Takao ingin tidak ada terjadi perpecahan atau perceraian dalam keluarga mereka. Memang akhir-akhir ini banyak keluarga yang mengalami perceraian karena kurang harmonis dan ketidakcocokan. Maka dari itu Takao tidak mau menjadi salah satunya, dia sangat mencintai Midorima beserta kedua anak perempuannya yang terlihat manis. Midorima menggandenganya balik dan mengecup keningnya. Kecupan sederhana itu cukup membuat wajah Takao merona merah.
"Bakao, permohonan apa itu barusan? Kita akan selalu bahagia."
"Hahaha, sepertinya kau benar Shintarou-san~"
~~~At home~~~
Jam menunjukkan pukul 8 malam, Takao memperlihatkan senyumnya yang amat terlihat senang karena Midorima diam-diam telah mempersiapkan kejutan pesta ulang tahun Takao yang diadakan di lapangan basket SMA mereka dulu. Tidak hanya itu saja, disana ada pula teman-teman seperjuangan... Miyaji dan kawan-kawan. Mereka ikut berkumpul disitu. Bisa dibayangkan bagaimana hati Takao sungguh gembira dan iseng mereka mencoba latihan tanding. Itu merupakan pengalaman yang amat berarti bagi mantan Point Guard Shuutoku.
Miyaji yang ternyata masih single iri melihat Takao dan Midorima sehingga Kimura harus menenangkan lelaki berambut blonde itu yang tengah sedang meremas-remas nanas. Airi yang pemalu itu bersembunyi di belakang Takao saat dia sedang memperkenalkan anak-anaknya. Namun setelah kenal, Airi yang usil melempar bola basket kearah Miyaji dan berakhir dengan kejar-kejaran yang membuat kepala Midorima pusing karena harus melerai mereka berdua.
Tidak terasa pesta sudah selesai karena sudah malam, tidak lupa mereka melakukan foto bersama dan mereka pulang dengan hati senang.
"Hari ini benar-benar menyenangkan! Arigatou Shin-chan!" Ujar Takao sambil memperlihatkan senyumnya kearah Midorima.
"Aku tidak menyangka Shin-chan bakal membuat pesta seperti itu, bahkan memanggil mereka!"
"Hm, tidak perlu berterimakasih."
Midorima melepas jaket beserta syalnya dan meletakkan di tempat semula. Dia merasa sangat lelah dan butuh istirahat, tapi dia harus memantau sang istri karena dia sering tidur larut hanya karena membuat lagu.
Membuat lagu adalah salah satu hobi kesukaan Takao, ya walau hanya dinyanyikan untuk diri sendiri tapi dia selalu puas akan hasilnya. Tapi berhubung sudah berkeluarga dia sering menyanyi untuk Seiri dan Airi.
Tapi akhir-akhir ini, Midorima sering melihat Takao menulis-nulis sesuatu dan tiap kali dia mendekat lelaki itu cepat-cepat menyimpan kertas itu dan memperingatkannya tidak boleh mengecek benda-benda pribadi miliknya. Midorima hanya bisa mengalah.
"Ah ya Shin-chan~" Takao menarik lengan Midorima dan menuju ke halaman rumah mereka. Midorima hanya kedip-kedip bingung, sekarang apalagi yang akan dilakukan olehnya?
Takao menunjuk ke atas, ternyata dia menunjuk kearah bintang yang bertebaran tidak teratur di langit hitam yang amat luas.
"Disana ada rasi bintang scorpio dan cancer. Keduanya saling berjejeran"
Midorima harus memperhatikan baik-baik berhubung minusnya banyak.
"Ah ya kau benar Kazunari.. Lalu?"
"Dasar Shin-chan, sampai sekarang tidak peka." Ujar Takao.
"Itu berarti, kita akan selalu bersama selamanya! Aku pernah membaca di internet!"
Wajah Midorima langsung panas dan melihat kearah lain sambil membenarkan kacamatanya.
"I-Itu hal bodoh, tapi semoga saja."
"Bhu! Tsunderenya kumat!"
"Diam nanodayo!"
Airi dan Seiri melihat mereka berdua bermesraan dari kejauhan, dan mereka masuk ke kamar untuk tidur. Mereka tidak mau mengganggu mereka.
"Omong-omong Shin-chan, aku ingin bilang sesuatu.."
"Apa itu?"
Takao mendekat kearah lelaki itu, dia tidak ingin Seiri dan Airi mendengarnya. Sepertinya sesuatu yang penting.
"Sebenar—?!"
Terasa tubuhnya amat berat, tidak bisa digerakkan sama sekali. Nafasnya terasa amat sesak dari yang biasa dia alami... Lelaki itu terjatuh kearah Midorima dan mencengkram erat dadanya. Dia tidak bisa berpikir apa-apa, pemandangan yang ada dihadapannya terlihat buram semua, tidak terlihat apa-apa selain warna hitam dan putih. Takao berusaha membuka mulutnya untuk memanggil nama suaminya, namun tidak bisa. Lelaki itu seakan-akan sedang tidak berada di dalam tubuhnya, dia bahkan tidak bisa menggerakkan kedua kakinya.
"O—Oi!"
Midorima terkaget dengan keadaan Takao yang parah seperti itu. Tidak ada waktu untuk mengecek, lelaki itu menelepon ambulans agar Takao mendapatkan tindakan medis yang cepat. Midorima segera melakukan pertolongan pertama selagi menunggu ambulans datang, untungnya saja tidak butuh waktu lama ambulans sudah datang dan Midorima membawa Takao ke rumah sakit sambil menggemgam erat tangannya berharap istrinya tidak apa-apa.
