Yak! Setelah lama ga update,
Thor nungguin kalian buat review lo!
This is for you Oppa!
.
.
.
Chapter 1
P.S. I Love You
.
.
.
"Chullie-ah. Kau mau berjanjikan untuk umma. Chullie…" panggilnya lagi.
"Ani…. Aniya…. Aku tidak mau," jawabnya sambil terisak. Yeoja yang tengah berbaring tersebut menyentuh jemari kecil tersebut kemudian mendekapnya. Salah satu tangannya membelai rambut panjangnya perlahan.
"Jagalah, Kibum untuk umma, ne?" Ucapnya sambil mengecup tangan Chullie.
"Ani… umma saja yang menjaganya…. Aku tidak mau…." Isak Heechul sambil terus menangis.
"Chullie, umma sangat sayang padamu. Jadilah unnie yang baik untuknya," kata sang umma sambil tersenyum.
"Ani, aku tidak mau. Aku mau umma," kata Heechul sambil menatap lurus pada ummanya.
Tok! Tok! Tok!
"Nyonya Kim, waktunya operasi!" kata seorang perawat.
"Ya, baik suster" jawab Nyonya Kim ibu dari Kim Heechul. "Umma menyayangimu," kata sang umma.
"Aku tidak mau menjaganya. Sekarang saja dia suka merebut Wonnie-ku. Aku tidak mau," kata Heechul.
"Jinja?" tanya sang umma. Heechul hanya mengangguk. "Jika kau lebih menyayangi Wonnie-mu. Mintalah pada Kibum baik-baik," kata sang umma.
"Aniya, nanti dia nangis umma," jawab Heechul.
"Baiklah, kalau begitu umma akan menggantikannya dengan yang baru," jawab sang umma.
"Ne, baiklah. Aku akan memberikannya pada Kibum," ucap Heechul sambil tersenyum.
"Nah begitu dong. Anak umma jangan nangis lagi," kata sang Umma.
"Yeobo, kita berangkat sebentar lagi," kata seorang namja yang datang dari luar.
"Ne," jawabnya. Beberapa orang suster membantunya untuk pindah dari ranjangnya. Dia manatap suaminya. "Yeobo, tolong kau jaga kedua anak kita. Berikanlah mereka kasih sayang yang melimpah," katanya. Sang suami terkejut dengan perkataan istrinya tersebut.
"Apa yang kau katakan. Segeralah sembuh, dan kita akan bahagia bersama," katanya sambil tersenyum.
"NE, aku akan kuat demi kalian semua," jawab sang istri.
"Umma," panggil Heechul. Yeoja itu hanya tersenyum. Heechul memeluk ayahnya dan entah mengapa dia tidak bisa menghentikan airmatanya.
.
.
.
"Ummma…." Gumamnya. Perlahan seorang yeoja cantik membuka kedua kelopak matanya yang basah oleh air mata. Dia terdiam dan bangkit perlahan. Menutup kedua wajahnya yang basah dengan tangannya yang kecil.
"Unnie!" panggil seseorang dari luar kamarnya. Yeoja tersebut segera menghapus air matanya.
"Ye, masuklah!" panggilnya. Pintu kamar pun terbuka. Nampak seorang yeoja cilik yang sama-sama memakai gaun tidur berwarna hijau beridir di balik pintu tersebut. Tangannya yang mungil memeluk sebuah boneka Teddy.
"Unnie… Bummie takut…." Isaknya.
"Kemarilah!" ajaknya. Kibum pun masuk dan naik ke atas tempat tidur unnienya tersebut. Keduanya berbaring. Kibum menatap unnienya yang tertidur dengan posisi membelakanginya.
"Unnie… Unnie… Unnie!" panggil Kibum. Yeoja tersebut berbalik.
"Wae?" katanya sedikit malas.
"Aku tidak bisa tidur. Unnie mendongeng ya?" pinta Kibum sambil menatap Unnienya.
"Unnie lelah," jawabnya singkat sambil kembali membelakangi Kibum.
"Unnie," kata Kibum sambil cemberut. "Yak, Kim Heechul! Berceritalah untukku!" kata Kibum marah. Heechul berbalik dan menatap Kibum. Dia mengambil boneka Teddy tersebut.
"Kau sudah mengambilnya! Kenapa kau tidak peluk Wonnie saja!" ucap Heechul sebal. Kibum yang melihat Unnienya marah, menggigit bibir bawahnya.
"Hikh, hikh, un… unnie marah…. Umma!" panggil Kibum. Mendengar Kibum memanggil nama 'Umma' Heechul terdiam. Tanpa terasa air matanya keluar.
"Kibummie, miane…. Jangan menangis," pinta Heechul. Kibum yang menangis menatap wajah Heechul.
"Umma…. Aku mau umma…." Isaknya lagi.
"Aish!" gumam Heechul kesal sambil mengacak-acak rambutnya, ummanya tidak mungkin kembali lagi. Dia sudah meninggalkan mereka. Kibum terkejut melihat unnienya. Dia menghentikan tangisnya seketika.
"Unnie?" tanya Kibum. Heechul diam saja, dia terlalu kesal untuk menjawab perkataaan Kibum. Kibum melihat wajah unnienya yang memerah dan air mata yang menggantung dipelupuk matanya. Kibum kebingungan. "Unnie, ini untukmu!" kata Kibum. Heechul menatap Kibum yang sudah berhenti menangis dan menyodorkan bonekanya.
"Aku benci Wonnie!" kata Heechul sambil meraih boneka tersebut dan memeluknya erat.
"Unnie, mianne," kata Kibum sedikit takut.
"Ne," jawab Heechul. Dia manatap Kibum kembali, menatap bonekanya. "Untukmu saja! Un sudah dewasa ga perlu boneka jelek ini!" kata Heechul sambil kembali berbaring.
"Wonnie, ga jelek kok!" kata Kibum polos.
"Wae? Kau kan sangat menyukainya," kata Heechul, "Sudahlah, unnie mau bercerita sekarang," kata Heechul sambil menatap dongsaengnya.
"Jinja?" kata Kibum tidak percaya. Heechul hanya menganggukkan kepalanya. "Ceritakan soal Cinderella dan Simba ya?" pinta Kibum.
"Ne, akan unnie ceritakan," kata Heechul. Keduanya saling mendekat dan mulailah Heechul bercerita. "Pada zaman dahulu….." dengan seksama KIbum mendengarkan ceritanya. "Akhirnya Simba berhasil mengalahkan penyihir jahat tersebut. Dia dan Cinderella pun hidup bahagia selama-lamanya," kata Heechul mengakhiri ceritanya. Dia menatap dongsaengnya yang tengah tertidur pulas.
"Mianne, Bummie. Unnie sudah memarahimu. Umma, aku akan menjaganya baik-baik. Umma tidak usah khawatir," gumam Heechul. Dia menatap Wonnie-nya yang kini sudah menjagi milik Kibum. "Wae? Kau tak suka? Aku sudah dewasa, jagalah adikku baik-baik ne," kata Heechul sambil membetulkan posisi tidur Kibum.
Tanpa sepengetahuannya seorang namja paruh baya terdiam di tengah kegelapan malam. Dia berdiri tidak bergerak, meneteskan air matanya.
"Mianne, Heechullie, Kibummie. Appa akan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan kalian. Yeobo, jagalah kami semua yang ada disini. Kami mencintaimu," gumamnya sambil menitikkan air matanya.
.
.
.
Keeseokan harinya,
"Chullie! Bummie! Bangun, sudah pagi!" teriaknya sembari memasuki kamar Heechul yang memang tidak terkunci.
"Ne…." jawab Heechul malas. Dia masih ngantuk. Dia meregangkan seluruh badannya.
"Ne, appa," jawab Kibum yang masih setengah bermimpi. Dia berjalan menjauh, menuju kamar tidurnya dan kembali tertidur disana.
"Aigo, kedua putri Appa yang cantik kenapa mendadak menjadi sleeping beauty. Kajja bangun. Kalian harus sekolah!" katanya sambil memaksa kedua putrinya keluar dari tempat tidur mereka.
Usai membersihkan diri kedua bersaudara tersebut tengah duduk diruang makan. Sang appa sedang memasak telur dan roti isi selai kacanng dan strawberi kesukaan keduanya.
"Sarapan pagi siap!" kata sang appa penuh semangat.
"Mari makan!" sapa ketiganya.
"Aish! Appa bisa telat. Baiklah, Chullie tolong kau antar Bummie ke Sanggar Hima yang ada di depan taman bermain Blok A. appa berangkat dulu untuk buka kedai kita," kata sang appa sembari mengecup Kibum dan berhenti di depan Heechul. Dia membelai kepalanya lembut dan tersenyum, kemudian meninggalkan keduanya.
Heechul terdiam kenapa appanya hanya mengusap kepalanya, sedangkan Kibum selalu dia kecup.
"Aish! Aku bukan lagi anak kecil!" kata Heechul sambil menyantap sarapannya.
"Unnie, aku kenyang!" kata Kibum. Heechul menatap wajah dongsaengnya yang belepotan dengan selai. Heechul tertawa, dia tidak kuasa menahan rasa geli melihatnya. "Yah! Unnie!" kata Kibum sambil cemberut.
"Hehehe, kau lucu sekali. Sini biar Unnie bersihkan," kata Heechul sambil mengambil sapu tangannya. "Nah ini baru adik Unnie yang cantik!" puji Heechul.
"Unnie, ayo! Nanti aku telat ke sanggarnya," kata Kibum sambil menarik-narik tangan Heechul.
"Ne, baiklah!" jawab Heechul dia menyimpan piring dan gelas yang dia cuci di rak. Dia melihat sebuah mug warna putih milik ummanya.
"Unnie!" pinta Kibum.
"Ne! Kajja! Kita berangkat!" kata Heechul sambil tersenyum.
.
.
.
Di sanggar Hima
"Nah, anak-anak coba kalian angkat huruf 'A'. Lebih tinggi!" pinta seosangnim. Anak-anak yang memegang huruf 'A' menagkatnya.
"Hei, kau juga pegang huruf 'A'!" kata seorang namja cilik yang berpakaian rapih. Kibum menatap namja cilik yang duduk disampingnya. Dia memakai kemeja plus dasi kupu-kupu.
"Pintar!" kata Bu guru yang ada di depan. "Nah, anak-anak, sekarang dengarkan seosangnim ne?," ucapnya sambil tersenyum.
"Ne!" jawab anak-anak serempak.
"Hari sabtu besok aka nada perlombaan olah raga menyambut hari ulang tahun sanggar kita. Jadi, bilang ke appa dan umma kalian untuk datang ke sekolah, arra?" kata seosangnim.
"Ne!" jawab mereka lagi kompak. Namun, Kibum yang mendengarnya terdiam. Air matanya tiba-tiba keluar.
"Hikh! Hikh! Umma!" teriak Kibum. Semua anak melihat kearahnya.
"Kibummie, waeyo?" tanya bu guru.
"Hikh…. Hikh…. Bummie…. Bummie ga punya umma…. Appa juga sibuk…. Bummi sendiri….." jawab Kibum sambil terus menangis.
"Oh, tidak apa kan ada seosangnim di sini," kata seosangnim mencoba untuk menenangkannya.
"Unnie…." Isak Kibum. Mendengar Kibum menyebut kata tersebut, seosangnim segera menghampirinya dan membelai rambut Kibum lembut.
"Bummie, bisa meminta unnie untuk datang!" kata seosangnim mengusulkan.
"tapi… tapi unniekan sekolah," kata Kibum mengingatkan. Seosangnim pun terdiam. Dia mencoba untuk tersenyum.
"Baiklah, nanti akan ibu telpon appamu," katanya mencoba menghibur, Kibum.
.
.
.
Pukul 3 sore.
"Selamat sore!" sapa sebuah suara. Kibum yang duduk di sisi seosangnim segera menghampiri pemilik suara itu.
"Unnie!" panggil Kibum riang. Heechul membungkukkan badannya, memberi hormat pada seosangnim.
"Heechul, ada yang ingin ibu bicarakan denganmu," kata seosangnim. Heechul terkejut. Jangan-jangan Kibum sudah berbuat ulah disekolah.
"Ne, tentu saja. Kibum main dulu sana," kata Heechul gugup. Kibum dengan senang hati meninggalkan unnienya bersama dengan seosangnim.
"Heechul, ibu tahu bahwa kalian baru saja kehilangan. Bukannya, ibu bermaksud kurang sopan tapi bisakah kau menemani Kibum besok. Kebetulan kami akan mengadakan pesta perayaan ulang tahun sanggar. Kamu tidak keberatan bukan untuk menemani Kibum," kata seosangnim. Heechul terdiam, dia teringat akan janjinya bersama dengan teman-temannya untuk bermain karaoke.
"Ibu tahu, kau pun memilik banyak hal yang ingin kau lakukan, tapi ibu mohon temanilah Kibum. Dia sampai menangis karena tidak tahu siapa yang akan menemaninya," lanjut seosangnim. Mendengar p perkataan seosangnim, Heechul terdiam.
"Heechul?" panggil seosangnim. Heechul mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Ne, besok aku akan menemaninya. Lagi pula sekolahku libur dua hari!" jawab Heechul sambil memegang ujung tas miliknya erat-erat.
"Baguslah, ibu jadi lega mendengarnya," kata seosangnim.
"Baiklah, kami permisi seosangnim!" kata Heechul, "Kibum-ah! Ayo pulang!" ajak Heechul. Kibum yang tengah asyik bermain boneka berdiri lalu menghampirinya.
Keduanya berpamitan dan berjalan beriringan. Kibum tampak bahagia karena soesangnim mengatakan bahwa Heechul akan menemaninya.
"Unnie! Wonnie! Suka Wonnie! Unnie suka Wonnie! Woonie suka Bummie!" senandungnya. Heechul terdiam. Melihat dongsaengnya.
"Unnie, besok kita akan membuat bekal apa?" tanya Kibum. "Bagaimana klo unnie membuat telur dadar gulung kesukaanku. Teman-teman pasti iri!" kata Kibum senang.
"Wae? Semuanya selalu tentangmu…." Gumam Heechul. Kibum menatap wajah Heechul yang menatap senja. Dia tidak mengerti apa yang Heechul katakan.
"Ya, un. Buatkan telur dadar gulung," kata Kibum manja. Namun apa yang Heechul lakukan. Dia mendorong tubuh Kibum hingga terjatuh. Kibum menatapnya. Dia tampak begitu syok dan mulai menangis.
"Umma! Unnie jahat! Umma!" isaknya.
"Sebaiknya, kau menghilang saja. Seharusnya umma yang hidup!" bentak Heechul. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya yang bergetar. Dia menatap wajah Kibum yang terkejut dengan ucapannya. "Ukh!" dia berlari meninggalkan Kibum sendirian di pinggir jalan.
"Unnie! Unnie! Unnie!" isak Kibum. Heechul tidak perduli yang dia lakukan hanyalah menjauhkan dirinya dari Kibum.
.
.
.
Heechul terduduk di sebuah ayunan yang ada di taman kota. Dia melihat beberapa orang yang melintas di daerah sekita taman tersebut. Dia merasa iri, saat ada beberapa anak yang tengah bermain dengan ummanya.
"Umma…. Mengapa kau meninggalkanku. Umma…" isaknya.
"Unnie!" teriak sebuah suara. Heechul menatap sumber suara tersebut. Tampak Kibum bersama dengan sang appa.
"Untuk apa kalian kemari! Appa sudah tidak menyayangiku lagi! Pergi! Dan Kau! Kibum kau hanya menyusahkan aku saja!" katanya kasar. Kibum kecil memeluk Heechul.
"Mianne, unnie! Kibum tidak akan nakal lagi di sekolah! Kibum tidak akan menangis lagi disekolah!" kata Kibum. Heechul pura-pura tidak mendengar perkataan dongsaengnya tersebut.
"Heechul, apa maksud perkataanmu?" tanya sang appa.
"Wae? Appa lebih sayang dengan Kibum dari pada aku. Pagi tadi saja appa mencium Kibum sedangkan aku! Aku sudah appa lupakan!" kata Heechul. Mendengar perkataan Heechul sang appa terkejut.
"Heechul, mianne! Appa hanya tidak sanggup menatap wajahmu! Kau mengingatkan appa pada ummamu!" kata sang appa menjelaskan.
"Wae? Dan appa membenciku karena aku mirip dengan umma?!" kata Heechul sinis.
"Aniya, appa tidak mungkin membenci kalian berdua. Appa tidak mungkin membencimu, appa mencintaimu, mencintai Kibum. Appa menyayangi kalian!" kata sang appa. "Heechul pulanglah sekarang!" kata sang appa. Setelah mendengar perkataan appanya Heechul sedikit terenyuh.
"Appa…." Isak Heechul. Dia berlari ke dalam pelukan appanya. Kibum pun ikut menangis.
"Mianne, appa…. Mianne unnie…." Isak Kibum.
"Mianne, appa…. Mianne Bummie…. Unnie jahat sekali padamu…." Isak Heechul.
"Ani… unnie adalah unnie terbaikku," kata Kibum sambil memeluk Kibum.
"Kalian berdua, jangan pernah meragukan perasaan appa! Appa begitu menyayangi kalian berdua," kata sang appa sambil memeluk kedua putrinya tersebut.
"Appa…." Isak keduanya sambil memeluk erat tubuh sang appa.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Hohoho, awal-awal. Besok mulai masuk Sichul and Sibum ya? Jangan lupa buat yang suka atau tidak suka leave your comment! Banyak-banyak review deh biar 'thornya semangat
Terima kasih buat yang sudah dukung si 'author abal ini. Trims and Thanks a lot
.
.
.
P.S. Pryssicatice
"Oppa! Apa maksudnya itu! Kau selalu menyuruhku 'menjauh' saat aku buat Siwon selingkuh!"
Jaewonna, Sumerchu
"Akan 'thor usahain, buat melanjutkan ff-ku yang lain. Tenang aja! Tunggu Ilham ma Feelnya dulu
thor agak-agak kurang dikit"
N.s aka I.v
"Sayangnya, keduanya super sibuk. Sulit buangeeeeeeeeet buat dihubungi! Sampe-sampe pulsa thor abis buat ngoling, sms, apapun itu istilahnya. Hehehe… "
Wonmilikbum
"Mianne, belum kupikirkan. Mungkin hanya dipinjamkan aja kali. #Plak emang Wonpa barang apa? Pake dipinjem segala"
