Mianne, awal liburan yang sibuk (Beralasan)
.
.
.
Malam harinya, Heechul tengah mengerjakan PR miliknya. Dia masih gamang dan bimbang apakah dia akan datang atau tidak. Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuklah!" jawab Heechul. Tampak sang appa berdiri di balik pintu tersebut.
"Boleh appa masuk?" tanya Kang in sedikit ragu.
"Masuklah, appa," kata Heechul sambil menundukkan kepalanya. Dia masih teringat kelakuannya yang sudah menyusahkan sang appa.
"Ada yang perlu appa sampaikan padamu," kata Kang in. heechul diam menunggu apa yang akan dikatakan oleh appanya, "Mian…. Miannata Heechul. Appa sudah tidak memperhatikanmu. Appa terlalu sibuk dengan kegiatan appa di toko. Appa juga memaksamu untuk terus menjaga Kibum, padahal kau memiliki hakmu sendiri. Kau masih harus menikmati harimu juga. Soal Kibum tidak perlu kau khawatirkan. Appa akan menghadiri acara tersebut," kata Kang in. Mendengar pekataan Kang In membuat Heechul terdiam.
"Appa, benarkah itu?" tanya Heechul tidak percaya.
"Ne, kau bisa pergi berkaraoke bersama dengan temanmu usai sekolah besok," kata Kang in. mendengar kepastian tersebut Heechul tersenyum.
"Benar appa?" tanya Heeechul lagi.
"Ne, nikmati waktumu dengan yang lain," kata Kang in.
"Gumawo, appa," kata Heechul sambil tersenyum dan memeluk appanya.
"Beristirahatlah," kata Kang in sambil membelai rambut Heechul. Teuki mianne, aku sudah membedakan kedua putri kita. Aku akam memberikan kebahagian yang melimpah untuk keduanya. Tueki berikan aku kekuatan untuk bertahan. Teuki sarangheyo, my anjel.
"Baiklah, aku akan menelpon teman-temanku yang lain," kata Heechul gembira. Dia bergegas keluar kamar dan menelpon teman-temannya.
.
.
.
Keesokan harinya,
Diruang makan Heechul bersenangdung riang. begitu pula Kibum yang tengah menikmati sarapannya. Sedangkan Kang in tengah menyiapkan sarapan untuk kedua putrinya tercinta.
"Unnie, apa unnie akan datang?" tanya Kibum.
"Ani, appa akan menemanimu," jawab Heechul. Mendengarnya Kibum cemberut.
"Aku mau unnie yang datang," pintanya.
"Tidak bisa, Kibummie. Unnie sibuk jadi appa yang akan menemanimu," kata Kang in pada Kibum. Mendengarnya Kibum hanya mempoutkan bibirnya kesal.
"Nanti unnie kepangkan rambutmu," kata Heechul menghibur Kibum.
"Arra," jawab Kibum sedikit kesal.
"Nah, seperti itu dong. Anak-anak appa yang cantik," kata Kang in.
Usai sarapan Kibum segera bergegas ke kamarnya. Dia kembali keluar sambil membawa sisir dan ikat rambut kesayangannya.
"Unnie, ini," kata Kibum. Heechul yang baru saja menghabiskan susunya menatap tidak percaya.
"Ne, kemarilah," kata Heechul. Dia menyisir rambut Kibum dan mengepangnya. "Wah! Lihatlah, dongsaengku yang cantik!" kata Heechul.
"Ne, appa. Appa jangan lupa appa harus datang siang ini," kata Kibum mengingatkan.
"Ne, appa akan menghadiri acara tersebut," jawab Kang in sambil tersenyum.
"Kibummie, kajja kita berangkat," ajak Heechul yang sudah menggendong ranselnya.
"Ne, unnie," jawab Kibum.
"Appa kami berangkat!" kata Heechul berpamitan.
"Hati-hati dijalan! Kalian berdua jangan nakal ne," kata Kang in melepas keduanya di depan pintu rumahnya.
"Akh, saatnya untuk beres-beres rumah dulu," kata Kang in.
.
.
.
Sekolah Hima
Heechul yang menuntun Kibum menatap hiruk pikuk di sekolah dongsaengnya tersebut.
"Umma, nanti aku akan bermain dengan baik," kata seorang anak pada ummanya.
"Ne, anak yang baik, Donghae!" katanya. Yang dipanggil hanya tersenyum.
"Selamat pagi, Sohee-shi," kata sang ibu. Heechul yang mengantar pun membungkukkan badannya.
"Annyeong, soesangnim," kata Heechul.
"Annyeong, Heechul," sapanya. Dia menatap Kibum dan mengulurkan tangannya, "Kajja, Kibummie! Kita masuk," ajaknya.
"Unnie, appa akan kemari bukan?" tanya Kibum ragu.
"Ne, tentu saja!" kata Heechul meyakinkannya.
"Baguslah," kata Kibum. "Soesangnim, appa akan kemari," kata Kibum.
"Jinja? Wah, Kibum pasti senang bukan?" tanya Sohee.
"Ne, aku senang sekali," kata Kibum.
"Unnie berangkat ke sekolah, ya!" kata Heechul.
"Ne, unnie!" jawab Kibum penuh semangat, Heechul meninggalkan Kibum yang melambaikan tangannya. "Seosangnim, tadi pagi unnie mengepangkan rambutku lo," kata Kibum. Mendengranya Shohee hanya tersenyum. Dia tahu bahwa Heechul adalah anak yang baik hati.
.
.
.
Disekolah Heechul.
"Selamat pagi!" sapa Heechul.
"Pagi Heechul!" sapa teman-temannya yang lain. "Kau gembira sekali. Ada hal yang baik terjadi ya?" tanya salah seorang temannya.
"Ne, appa akan ke sekolah Kibum jadi aku bisa bermain dengan kalian, Jessy," jawab Heechul pada temannya yang bernama Jessica.
"Baguslah, karena Amber pasti kesal jika kau tidak datang," kata Jessica.
"Yah, mianne. Aku sudah jarang bergabung dengan kalian," kata Heechul lirih.
"Tak apa, aku memahaminya kok," kata seorang temannya yang lain.
"Yoona, memangnya apa yang kau pahami?" tanya Heechul.
"Yah bahwa Heechullie kita sudah kembali," kata Yoona senang.
Mereka semua tertawa.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka, masuklah seorang yeoja yang berambut pendek.
"Annyeong, Amber!" sapa ketiganya.
"Heechul! Gawat, appamu…." Kata Amber. Heechul pun bergegas ke luar menuju rumah Amber yang merupakan Klinik di daerah tersebut.
"Appa!" panggil Heechul saat dia masuk ke dalam ruangan yang serba putih itu.
"Akh!" jerit Kang in.
"Kang in-shi ku kira sebaiknya kau tidak banyak bergearak dulu," kata Dokter.
"Appa, apa yang terjadi?" tanya Heechul. Kang in menatap putrinya yang sudah ada di sana.
Dia mencoba tersenyum, namun senyumnya hilang saat Heechul memeluknya erat.
"Ku… Ku… kira…. Ap…pa… ter… luka," isak Heechul. Kang in tersenyum menatapnya. Dia mengelus pucuk kepalanya.
"Appa, baik-baik saja," kata Kang in sambil mengecup kening Heechul. "appa hanya kurang hati-hati dan terpeleset di tangga," kata Kang in menjelaskan.
"Waeyo? Kenapa appa bisa jatuh?" tanya Heechul.
"Appa membawa selimut Kibum dan milikmu untuk appa cuci," kata Kang in menjelaskan.
"Hanrusnya, kita tunggu besok saja," kata Heechul.
"Mianne, tapi appa sudah nelpon laundry dan sekarang appa ada disini," kata Kang in.
"Yah, appa!" kata Heechul sedikit sewot.
"Heechullie, mianne jika appa bukanlah appa yang baik," ucap Kang in sedih.
"Lalu bagaimana dengan Kibum?" tanya Heechul.
"Appa akan tetap kesana. Apa baik-baik saja lihat…. Akh!" pekik Kang in saat dia mencoba melangkahkan kakinya. Heechul hanya bisa menarik nafas berat.
"Baiklah, aku akan menemaninya, kali ini saja," kata Heechul sambil menggerutu.
"Tapi,,," kata Kang in. heechul mengisyaratkannya untuk diam dan mendorong appanya untuk beristirahat.
"Aku mengerti. Ini masalah yang serius, appa. Aku hanya akan menemaninya, kali ini saja, arra, kata Heechul sewot.
"Gumawo, Heechullie. Kau memang anak yang baik," kata Kang in.
"Ne, sekarang appa harus istirahat dulu. Nanti aku akan menjemput appa disini," kata Heechul.
"Ne, appa akan menunggumu," kata Kang in.
"Baiklah, aku berangkat sekarang appa," kata Heechul.
"Hwating!" kata sang appa menyemangati. Heechul tersenyum dan menutup pintu ruangan tersebut. Wajahnya kembali mengeruh saat dia sudah jauh dari klinik tersebut.
"Kim Heechul, dia itu dongsaengmu," gumamnya sambil melangkahkan kakinya kembali ke sekolah untuk meminta izin dan meninta maaf pada teman-temannya.
.
.
.
Tepat pukul 10 siang Heechul keluar dari rumahnya dengan sebuah tas besar yang berisi bekal dan juga perlengkapan lainnya. Seperti handuk dan pakaian ganti miliknya dan Kibum.
"Aish! Bisa-bisa aku terlambat!" kata Heechul. "Oh, hampir lupa, coklat!" kata Heechul sambil mendekati sebuah mini market.
"Annyeong," sapa si pelayan.
"Annyeong, unnie!" jawab Heechul dia segera menghampiri rak yang berisi snack dan mengambil beberapa batang coklat.
"Terima kasih," kata Heechul sambil keluar dari toko.
"Hihk… hikh.. hikh…." Terdengar sebuah suara isakan kecil dari samping toko tersebut. Heechul berbalik dan menemukan seorang namja kecil yang tengah menangis.
"Apa kau tersesat?" tanya Heechul pada anak tersebut. Namun tidak mendapatkan jawaban, "Kau mau coklat?" tanya Heechul sambil mengulurkan sebatang coklat padanya.
"Umma,hikh,, me,,, melarangku hikh bicara hikh,,, dengan orang asing hikh," mendengarnya Heechul hanya tersenyum.
"Tapi sekarang kau berbicara denganku," kata Heechul. "Namamu siapa? Apa kau tersesat?" tanya Heechul.
"Ne,," jawab anak tersebut.
"Dimana ummamu?" tanya Heechul. Anak itu hanya menggelengkan kepalanya. Dia menarik nafas dalam. "Sebaiknya kau ikut denganku saja," ajak Heechul. Anak itu diam saja tidak bergerak. Heechul tersenyum dan mengulurkan tangannya, "Aku bukan orang jahat, lho,"
"Aku hikh… hikh… hikh…." Ucapnya tidak begitu jelas. Heechul menatap namja cilik tersebut. Kenapa dia malah menangis kencang. Dia memperhatikannya dari ujung kepala hingga kaki. Melihat penampilannya yang rapih tentunya dia anak dari keluarga berada. Dia membelalakkan matanya saat melihat kaos kaki anak tersebut itu basah.
"Kamu…. Ngompol?" tanya Heechul ragu. Namja cilik tersebut diam sejenak dan isakkannya kian kerap terdengar. "Yah, kau itu namja jangan menangis," kata Heechul sambil membuka jaket olah raganya. "Pakailah," kata Heechul sambil tersenyum.
Namja tersebut menatapnya, Heechul balas menatap wajahnya yang sedari tadi dia tutupi oleh kedua tangan mungilnya. Heechul tersenyum dan berjongkok mensejajarkan badannya.
"Pakailah, ini akan menutupi ompolmu," kata Heechul. Namja tersebut terisak. "Aniya, jangan menangis lagi. Noona akan mengantarkanmu pada ummamu," kata Heechul sambil memakaikan jaketnya tersebut. Dia melihat sebuah emblem nama.
"Choi Siwon, Play Group Hima," gumamnya. Dia menatap namja cilik tersebut. Pantas saja dia merasa mengenalinya. Rupanya dia satu sekolah dengan Kibum.
"Siwonnie, ikutlah denganku. Kita ke sekolah Hima sama-sama ne?" kata Heechul sambil tersenyum.
"Noona, tapi…" Siwon sedikit ragu.
"Waeyo? Aku akan mengantarmu," kata Heechul. "Dan ini untukmu…. Karena kau tidak menangis lagi," kata Heechul sembari memberikan sebatang coklat. Siwon terdiam sejenak.
"Ne, noona," jawab Siwon. Mendengar persetujuan Siwon Heechul mengulurkan tangannya. Siwon meraihnya dan mengikuti langkah Heechul.
.
.
.
Di play group Hima.
"Unnie!" pekik Kibum yang tengah menanti kedatangan sang appa. Siwon menatapnya, "Appa mana?" tanya Kibum.
"Appa tidak bisa datang jadi unnie yang akan menemanimu," kata Heechul.
"Ne, itu bagus. Aku senang unnie datang," kata Kibum sambil menatap Siwon yang ada di dekat Heechul.
"Apa kau mengenalnya Bummie?" tanya Heechul.
"Hmmm. Hai, Prince!" kata Kibum dengan nada mengejeknya. Siwon diam saja, dia menatapnya dengan dingin.
"Hai, cengeng!" balas Siwon. Mendengar keduanya, Heechul hanya tersenyum.
"Siwonnie! Kamu dari mana saja, umma mencarimu!" pekik seseorang. Siwon menatapnya dan memeluk yeoja paruh baya tersebut.
"Umma, aku tersesat, hikh hikh hikh" dia kembali terisak, sambil memeluk ummanya. Kibum menatapnya keheranan. Sedangkah Heechul hanya tersenyum dan juga merasa lega Siwon bertemu dengan ummanya.
"Kau tidak apa-apakan. Umma mengkhawatirkanmu, Siwonnie," kata sang umma sambil terus memeluknya. Siwon hanya menganggukkan kepalanya.
"Gumawo, sudah membawa Siwon kembali. Siapa namamu?" tanyanya pada Heechul.
"Kim Heechul imnida," kata Heechul memperkenalkan dirinya. Nyonya Choi memeluk Heechul sambil mengucapkan banyak-banyak terima kasih padanya karena telah menemukan Siwonnya. Kibum diam, dia menatap perlakuan Nyonya Choi yang baik hati tersebut.
"Unnie, kajja kita ke kelas," ajak Kibum setelah Nyonya Choi melepaskan pelukannya.
"Ne," jawab Heechul. "Saya permisi dulu, Nyonya Choi," kata Heechul sambil membungkukkan badannya.
"Ne," jawab Nyonya Choi. "Kajja, Siwonnie. Kita pulang dulu semua orang tengah rebut mencarimu," ajak Nyonya Choi.
"Ne, umma," jawab Siwon sambil menggandeng tangan ummanya.
Siwon menatap Heechul yang berdiri didepannya. Heechul mendekat dan mengusap kepalanya.
"Jangan sampai tersesat lagi ya Siwonnie," ucaap Heechul sambil tersenyum. Entah kenapa perkataan itu membuat wajah Siwon bersemu merah.
"Ne, noona," jawabnya singkat sambil menundukkan kepalanya.
"Good boy," kata Heechul. Kibum menatapnya cemburu. Unnie itu miliknya.
"Unnie! Ayo kita ke kelas!" rengek Kibum.
"Ne, ne kita ke sana," jawab Heechul sambil melambaikan tangannya. Siwon terdiam sejenak, melihat kedua orang tersebut menjauh.
"Siwonnie, kajja. Kita pulang!" ajak sang umma.
"Ne," jawab Siwon. Dia terdiam sejenak, "Umma, aku belum mengucapkan terima kasih pada noona," kata Siwon. Sang umma menatapnya dan tersenyum.
"Aigo, baiklah umma tunggu kau disini," kata sang umma. Mendengar perkataan sang umma, Siwon segera berlari menyusul Heechul. Di koridor sekolah,
"Noona! Noona! Noona!" panggil Siwon. Heechul dan Kibum berbalik. Siwon menghentikan langkahnya, dia berusaha untuk mengatur nafasnya,
"Waeyo, Siwonnie?" tanya Heechul sembari membungkukkan badannya. Siwon memegangi dadanya yang terasa sesak akibat dia berlari.
Dia mengatur nafasnya dan menatap Heechul yang ada di depannya.
"Noo….na….. Gu…. gumawoyo," kata Siwon sambil mengecup singkat bibir Heechul. Dia tersenyum dan menunjukkan lesung pipinya. Kemudian berlari menjauh, meninggalkan Heechul yang kebingungan. Heechul yang terkejut terdiam di koridor. Mengapa pikirannya tidak bekerja dengan baik.
"Apa itu tadi?" gumamnya.
"Unnie!" panggil Kibum
.
.
.
TBC
Hehehe,,,,, review yang banyak ya biar semangat buat updatenya. ^_^
Di chapter 1 dan 2 ini mereka masih kanak-kanak.
Usia Heechul sekitar 8-9 tahunan, sedangkan Sibum mereke 4 atau 5 tahunan. Siwon oppa aja masih ngompol kok! Next chapter juga masih masa kanak-kanak mereka.
