A/N: Halo semua... Dengan ini saia terbitkan chapter kedua dari cerita ini! Terima kasih buat minna-san yang sudah mendukung saia *bows
ReiyKa: sayangnya, pertanyaannya tidak bisa saia jawab sekarang... kalau penasaran, silahkan dibaca sampai ending, ya! terima kasih udah ngasih saia semangat :D
neko-chan cat eyedgirl meong: saia mulai fic baru, habis sayang kalau ide ini nggak cepet-cepet diketik, nanti keburu ilang! Soal Sakura yang matanya merah itu...rahasia! Khukhukhu! Di chap 1 summary nggak ada karena saia publishnya dadakan, jadi summary bingung... Dan...tenang saja, fanfic yang itu nggak bakalan ditelantarkan kok. Terima kasih sebesar-besarnya~
And now, enjoy!
xXx_xXx
Blackish Cherry Blossom
Chapter 2
By: Shu AliCieL
Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP
xXx_xXx
"Without you realizing, it starts to reach you again."
.
Berlokasi di sebuah kota kecil bernama Sylvannia, dimana suasana musim gugur mendominasi tiap sudut kota. Sore ini, di bawah jejeran pohon maple yang mulai berguguran daunnya, seorang remaja berambut coklat membawa sebuah kardus di kedua tangannya.
"Syaoran. Hei, tunggu!" anak itu ternyata bernama Syaoran, toh. Buktinya, ia menoleh ketika namanya dipanggil.
"Oh, hai Primera" di belakangnya, seorang gadis berlari menghampirinya. Rambut hijaunya bergerak-gerak akibat berlari. Ia menghentikan langkahnya ketika jaraknya sudah dekat dengan Syaoran.
"Kau tadi bersama Ryuuoh, kan? Di mana dia?" gadis itu bicara sambil berusaha mengatur nafasnya yang tersengal.
"Dia di laboratorium. Kita ke sana bersama saja, aku juga harus mengantarkan kardus ini."
"Oh? Apa isinya?" Sambil bercakap-cakap, mereka kembali berjalan.
"Beberapa alat laboratorium. Ini disumbangkan dari laboratorium pusat. Aku dan Ryuuoh membantu Fay-san membawanya."
Masih ingat dengan nama-nama yang tadi disebutkan? Syaoran, Ryuuoh dan juga Primera. Kalau tidak ingat, biar kukatakan lagi. Mereka adalah tiga orang anak dari yayasan House of Lily.
Dan bagaimana bisa mereka bertemu kembali? Entah takdir apa yang bekerja di sini. mereka sama-sama diadopsi oleh orang-orang di kota ini. Mereka sudah sekelas sejak di sekolah menengah. Ketiga orang itu kini telah beranjak remaja. Mereka masuk di sekolah yang sama, Sylvannia High School.
Untuk sekarang, cukuplah penjelasan ini saja dulu. Syaoran dan Primera telah memasuki ruang laboratorium, bertemu dengan Ryuuoh yang ditemani pria jangkung berambut pirang.
"Ini sudah yang terakhir, Fay-san. Dan Ryuuoh, Primera mencarimu..."
"Ryuuoh! Dasar kau! Kau lupa ya kalau hari ini akan diadakan rapat bagi klub basket!"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Syaoran terpaksa berhenti bicara. Lagipula, suaranya tidak akan kedengaran lantaran tertelan oleh teriakan Primera.
"Hei, kau tidak lihat aku sedang mengerjakan pekerjaan mulia di sini? Dan untuk apa juga kau mengurusi tentang rapat itu?" sangkal Ryuuoh.
"Mungkin alasannya karena dia adalah manajer klub basket?" Fay lah yang menjawabnya. Sebenarnya ia sekedar mengingatkan Ryuuoh saja.
"Oh, sejak kapan manajer kita diganti?"
"TIDAK PERNAH DIGANTI, BODOH!" kali ini Primera berteriak lebih keras. Mungkin lebih parah dari suara bom yang meledak? Ah, sekarang pun dia sedang meledak.
Tentunya Ryuuoh tidak lupa siapa manajer klub basket. Ia hanya bercanda saja. Dan ini bukan pertama kalinya ia mengganggu kekasihnya itu. Kekasih? Ryuuoh dengan siapa? Tentu saja primera.
Kita skip saja lagi, Ryuuoh akhirnya dibawa—ralat, diseret oleh Primera ke rapat klub basket. Meninggalkan Syaoran bersama guru fisikanya, Fay di laboratorium.
"Duuh... kedua orang itu memang tak bisa diam kalau sudah bertemu..." komentar Fay yang langsung dijawab anggukan dari Syaoran.
"Dari kecil memang sudah seperti itu. Sama sekali tak ada perubahan."
"Ngomong-ngomong, terima kasih sudah membantuku hari ini. Apa tak apa bagi orangtuamu jika kau pulang selarut ini?"
"Tidak apa-apa. Mereka tidak pernah keberatan jika aku membantu orang," jawab Syaoran yang kelihatan sangat akrab dengan Fay. Padahal Fay adalah gurunya sendiri. Tapi tak masalah, kan? Fay sendiri masih kelihatan seperti remaja di umurnya yang sudah dua puluh-an.
"Alat-alat ini...apa mau kubantu menyusunnya juga?" tawar Syaoran dengan baik hatinya. Dia memang contoh anak teladan.
"Tidak usah. Sudah selarut ini. Aku akan membereskannya besok saja," Fay lalu beranjak keluar diikuti oleh Syaoran.
"Kalau begitu, pulang bersama?"
"Boleh saja. Tapi sepertinya aku mampir ke gereja dulu."
"Ayah Fay-san masih di sana?"
"Dia akan ada di sana sampai malam."
Ayah Fay memang seorang pastor, tetapi anaknya ini tidak mau meneruskan jejak ayahnya. Ia lebih memilih menjadi seorang guru. Meskipun begitu, ia banyak mendapatkan ilmu dari ayahnya itu.
Setelah keluar dari gedung sekolah, Syaoran melihat seseorang yang dikenalnya berjalan di halaman sekolah tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Fay-san, itu... Kurogane-san, kan?" Fay mengikuti arah jari telunjuk Syaoran dan...oh, dia juga kenal dengan pria serba hitam itu.
"Kuro-tan!" dan yang diteriaki dari jauh juga balas berteriak.
"Namaku Kurogane!"
Seperti yang ia katakan tadi, namanya Kurogane. Guru olahraga yang tinggal di apartemen yang sama dengan Fay. Mereka terlihat sangat akrab bukan? Fay sangat suka mengganggunya—memanggilnya dengan nama-nama yang lucu—dan Kurogane akan selalu berteriak, seperti sekarang ini.
Singkat cerita (ketahuan banget author sering nge-skip ceritanya) mereka pun pulang bertiga. Di tengah perjalanan, Syaoran dan Kurogane memutuskan untuk ikut Fay ke gereja. Hanya untuk bersilaturahmi dengan ayah Fay.
Setibanya di gereja itu, mereka menemui ayah Fay. Mereka pun berbincang sedikit. Selain mereka berempat, ada seorang lagi di sana, sedang membersihkan tempat itu. Syaoran menyadari kehadiran orang tersebut. Tetapi sebelum melihat wajah gadis itu, ia telah pergi ke ruangan lain.
"Um... Pak Pendeta, siapa anak gadis yang tadi?" tanya Syaoran.
"Dia seorang priest yang baru. Seseorang dari gereja ini menemukannya lima hari lalu. Dia berasal dari kota sebelah. Katanya, orangtuanya meninggal dalam kebakaran, lalu dia menjadi terlantar karena tak punya keluarga lagi," jelas pendeta itu.
"Terlantar...seperti tidak punya rumah dan keluarga lagi, jadi ia pergi entah ke mana dan lalu tiba di kota ini?" tanya Syaoran lagi, mencoba menyimpulkan.
"Kira-kira seperti itu. Tapi dia sangat beruntung kami menemukannya. Oh, ya. Kami juga berencana memasukkannya ke Sylvania High School beberapa hari lagi."
"Benarkah? Kalau begitu nanti aku akan banyak membantunya," ucap Syaoran dengan semangat.
"Sebagai guru, kami juga pasti akan melakukan hal yang sama," sambung Fay.
"Jika benar seperti itu, aku akan benar-benar berterima kasih," pendeta yang tersenyum itu makin terlihat berwibawa.
"Ah, sudah selarut ini. Sebaiknya kami pulang dulu," Fay lalu beranjak dari sana dan diikuti Syaoran dan Kurogane.
"Ya, silahkan. Hati-hati..." mereka pun berpamitan dan keluar dari gereja.
Sudah hampir pukul tujuh malam. Syaoran yang sudah berpisah dengan Fay dan Kurogane, mulai mempercepat langkahnya. Mengingat percakapan di gereja tadi, ia jadi memikirkan gadis yang tadi.
Gadis itu kehilangan orangtuanya dalam peristiwa kebakaran. Kalau mengingat kebakaran, ia jadi ingat tentang berita di sebuah koran yang dibacanya dua tahun lalu. Berita tentang kebakaran besar yang memusnahkan House of Lily.
Penyebab kebakaran tidak diketahui. Begitu besarnya kebakaran itu hingga tak ada yang selamat...dan tak ada satupun mayat ditemukan. Bangunan-bangunannya juga habis tak bersisa.
Itulah akhir dari yayasan bernama House of Lily. Yayasan itu tak dibangun kembali karena tidak adanya dana.
Syaoran sangat bersedih ketika mendengar berita itu. Tempat itu menyimpan sangat banyak kenangan baginya. Di tempat itulah dia mendapatkan kenangan masa kecil yang indah. Di sana ia dirawat, mendapat banyak teman, pengetahuan dan juga kasih sayang.
Ryuuoh dan Primera juga. Primera bahkan sampai menangis tanpa henti ketika mengetahui kedua temannya—Misaki dan Yumi—juga ikut menjadi korban dalam peristiwa itu. Bagaimanapun juga, kehilangan teman baik rasanya akan sangat menyakitkan.
Angin yang berhembus malam itu makin terasa menusuk. Syaoran mengencangkan mantel yang dipakainya dan berlari kecil agar ia lebih cepat sampai di rumahnya.
XXX
Ryuuoh berjalan ke sekolah dengan uring-uringan. Alasannya? Ia bangun terlalu pagi. Dan meskipun mencoba untuk kembali tidur, rasa kantuknya sudah terlanjur hilang. Jadi dia pikir lebih baik pergi ke sekolah lebih awal. Sepertinya ia akan tiba di kelas sebelum yang lain.
Dan...benar saja. Kelas kosong. Belum ada siapapun di sana ketika ia tiba.
"Aah...anak di kelas ini pemalas semua! Masa' belum ada yang datang!" teriakannya menggema di kelas yang kosong.
Oh, lihat siapa yang bicara. Biasanya juga dia yang paling terlambat masuk kelas.
Ryuuoh duduk di bangkunya dan menaikkan kedua kakinya di meja di depannya. Dia lalu bersiul-siul sendiri karena tak ada hal lain yang bisa ia kerjakan. Setelah itu ia berpindah tempat dan duduk di kusen jendela. Lalu ia berjalan bolak-balik di depan kelas. Tak lama, ia berteriak...
"Aaarg! Bosan! Aku tidak mau lagi berangkat pagi ke sekolah!"
Baru saja mau berteriak lagi, dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Mugkin salah satu dari anak di kelasnya. Ia pun berdiri diam dan menunggu-nunggu siapa yang akan muncul dari balik pintu.
"Eh?" Ryuuoh bingung. Gadis yang berdiri di depan pintu itu bukan salah satu dari anak di kelasnya.
Gadis itu memakai seragam sekolahnya. Rambutnya berwarna hijau dan mata emerald. Hei, Ryuuoh sepertinya pernah melihat gadis ini. Bukan di sekolah ini, tapi di suatu tempat.
Tetapi ada hal yang lain ini. Ada sesuatu dengannya. Sesuatu yang Ryuuoh tidak tahu apa itu. Entah bagaimana mengatakannya. Gadis ini...memiliki aura yang tidak biasa. Aura gelap. Ryuuoh kira mungkin itu hanya perasaannya saja.
"Um...apa benar ini kelas 10A?" tanya gadis itu pada Ryuuoh.
"I..iya benar."
"Ah, syukurlah aku tidak terlambat," gadis itu mengelus dadanya, lega. Ia lalu mulai memasuki kelas.
"Maaf, tapi...apa aku mengenalmu?" tanya Ryuuoh dengan agak canggung ketika gadis itu melintas di depannya. Gadis itu pun menghentikan langkahnya.
"Aku...baru saja pindah ke sekolah ini," jelasnya.
"Bukan, bukan itu maksudku. Wajahmu sepertinya...familiar. Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya," ucap Syaoran sambil memutar otaknya. Wajah gadis ini benar-benar tidak asing.
Gadis itu juga jadi bingung sendiri memperhatikan Ryuuoh. Ia memiringkan kepalanya dan menatap Ryuuoh lekat-lekat.
"Oh, aku ingat! Kau..."
XXX
Sepertinya kelasnya ramai sekali. Begitu pendapat Syaoran ketika ia sudah berjalan di samping kelasnya. Lalu ada dua orang anak lelaki yang baru saja keluar dari kelas itu. Syaoran pun menanyai mereka.
"Hei, sepertinya di dalam ramai. Ada apa?"
"Ada anak baru, namanya Sakura. Dan dia langsung dapat semua perhatian anak-anak di kelas," jelas temannya itu.
"Oh, seperti apa orangnya?" tanya Syaoran lagi. harusnya ada alasan mengapa anak itu jadi pusat perhatian.
"Gadis yang sangaaat manis!"
"Semua anak kelas langsung berusaha mendekatinya," Syaoran merasa sudah cukup dengan penjelasan itu. ia memutuskan untuk melihat sendiri.
"Begitukah? Terima kasih, ya."
Syaoran pun langsung bergegas ke kelas. Baru beberapa langkah melewati pintu, ia melihat Ryuuoh menghampirinya.
"Hei, Syaoran! Kau tidak mau melihat anak baru itu?" ucap Ryuuoh sambil menunjuk ke kerumunan siswa yang mengelilingi bangku paling belakang.
"Aku sudah dengar. Katanya dia manis?" Ryuuoh meletakkan tas sekolahnya di atas mejanya.
"Sangaaat manis!" kata Ryuuoh. Syaoran seperti mengalami deja vu.
"Kalau begitu dia akan membuat Primera sangat cemburu," goda Syaoran.
"Jangan bandingkan dengan Primera!"
"Haha... Baiklah, baiklah. Terus, gadis itu pindahan dari mana?" Syaoran pun terpaksa mengalihkan topik karena Ryuuoh mengelak.
"Midren, kota sebelah. Sekarang ia tinggal di gereja St. Raphael."
"Oh, berarti dia anak yang diceritakan pastor lima hari lalu."
"Siapa?"
"Waktu itu, aku ke gereja bersama Fay-san dan Kurogane-san. Lalu ayah Fay-san bercerita pada kami. Orangtua anak itu meninggal ketika terjadi kebakaran di rumah mereka. Karena tak punya keluarga lagi, pihak gereja mengasuhnya," jelas Syaoran sambil mengingat kejadian lima hari lalu.
"Kau tahu banyak, ya..."
"Tetapi aku belum lihat wajahnya."
"Kalau begitu, ayo kita bergabung dengan yang lain!"
Ryuuoh langsung menarik lengan Syaoran dan membawanya ke bangku paling belakang. Tadinya ia begitu semangat, tetapi lalu dia menjadi bingung akan reaksi Syaoran ketika melihat gadis itu.
Syaoran tak bergerak sama sekali. Kedua bibirnya terpisah beberapa senti dan wajahnya pucat. Sangat pucat. Dan sepertinya Syaoran juga sedikit gemetar dan berkeringat dingin.
"Syaoran? Hei. Kau kenapa?" ia tetap tak bergeming ketika Ryuuoh melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya. Berkedip saja tidak!
Kenapa reaksi Syaoran sampai sebegitunya? Ya...karena gadis itu membawa kembali kenangan buruk. Bagaimana ia bisa lupa akan wajah dari gadis yang telah memberinya mimpi buruk enam tahun lalu?
"Syaoran. Hei, belnya sudah berbunyi! Ayo kita kembali duduk!" Syaoran baru kembali ke dunia nyata ketika Ryuuoh menegurnya kembali.
"A...ah...iya..." ucap Syaoran terbata. Ia membuat Ryuuoh makin bingung.
"Kenapa kau ini? Tiba-tiba seperti orang hilang kesadaran begitu?"
Dilihatnya kerumunan orang sudah bubar. Pandangannya bertemu dengan emerald gadis itu. gadis itu pun tersenyum padanya, namun Syaoran tak membalasnya.
"Aku...aku tak apa-apa..."
"Huh! Kau ini aneh sekali. Sudahlah, ayo kembali duduk!" Ryuuoh pun mendahului Syaoran menuju bangkunya.
Syaoran masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Bagaimana gadis itu bisa ada di sini?
Siapa sebenarnya dia?
Apa benar dia gadis yang di mansion tua dulu?
Kira-kira pertanyaan macam itulah yang bersliweran di kepalanya. Tetapi lalu ia sadar bahwa ada hal yang berbeda.
Model dan warna rambut yang sama, begitu juga dengan wajah itu. Lalu dia mengingat lagi ketika tadi mata mereka bertemu. Emerald yang dilihatnya itu... Gadis hantu yang dulu itu matanya berwarna seperti darah. Merah menyala.
Jadi...itu memang dia atau bukan?
XXX
"Syaoran! Hei, Syaoran!"
"Eh...ya, kenapa?"
"Ya ampun! Dari pagi kau melamun terus! Bahkan saat makan siang begini."
Benar yang dikatakan Ryuuoh itu. Sejak melihat anak baru tadi, Syaoran jadi melamun terus.
"Dari pagi? Memangya ada apa sih?" Primera pun ikut masuk dalam percakapan.
"Entah. Dia begini sejak melihat anak baru di kelas."
"Anak baru? Yang mana Apa dia di sini?" Primera celingukan, menelusuri area kantin dengan matanya. Ia memang tidak tahu karena beda kelas dengan Syaoran dan Ryuuoh.
"Itu...di meja dekat pintu masuk, yang sedang makan apel," Ryuuoh pun menunjuk objek yang dimaksud. Ryuuoh menambahkan tentang apelnya karena di sana ada banyak anak perempuan lain.
"Wah, gadis yang sangat manis! Hei, jangan-jangan Syaoran menyukainya?"
"Apa? Mungkin saja, ya. Hei, Syaoran. Apa itu benar?" begitu menyadari Syaoran melamun lagi, Ryuuoh hendak memukul kepalanya. Untung saja Primera berusaha menghentikan.
"Hei, kami ini sedang membicarakanmu, tahu! Malah tidak mendengarkan!" akhirnya Ryuuoh berteriak saja.
Lalu Syaoran menoleh dan hanya bilang 'Ah, maaf...' dengan tak berdosanya. Membuat Ryuuoh benar-benar kehabisan akal.
"Ngomong-ngomong...gadis itu sepertinya tidak asing..." kata Primera, mengalihkan pembicaraan.
"Oh, iya, Syaoran! Aku lupa bilang padamu tadi pagi," Ryuuoh bicara sambil memukulkan kepalan tangan kanan di atas telapak tangan kirinya.
"Bilang apa?"
"Gadis itu dulu juga pernah diadopsi di House of Lily. Tetapi dia tidak mengingatku. Saat itu kita memang tidak akrab."
"Oh! Pantas saja aku merasa pernah melihatnya. Kalau tidak salah, nama anak itu seperti nama bunga... Um...apa ya?" ucap primera sambil membuat pose berpikir. Itu lho... Satu tangan di dagu, dan satunya lagi menopang tangan lainnya.
"Sakura," ucap Ryuuoh akhirnya, sebelum pacarnya itu menjadi botak karena terlalu banyak berpikir.
"Ya, itu!"
"Tapi...kenapa aku tak pernah melihatnya sebelumnya...di House of Lily?" ya, kau tidak melihatnya di sana, tetapi di ruang bawah tanah mansion berhantu.
"Karena dia baru datang setelah kau diadopsi," jelas Ryuuoh.
"Ya. Baru beberapa jam setelah kau meninggalkan House of Lily, Mrs. Miranda datang membawa anak itu. Dia bilang, dia menemukan anak itu di area pemakaman di dekat hutan," Primera menambahkan.
Pemakaman? Syaoran jadi ingat sesuatu. Di hari kepergiannya, dia juga melihat sosok gadis itu di pemakaman di dekat hutan. Ini membuatnya makin merinding lagi.
"Apa yang dilakukannya di pemakaman?" akhirnya hanya kalimat itu yang meluncur dari mulut Syaoran.
"Entahlah. Mrs. Miranda bilang, anak itu tidak punya ingatan sama sekali, kecuali namanya," kata Primera.
Syaoran memperhatikan Sakura dari jauh. Dia terlihat akrab dengan Gadis berambut hitam di sampingnya, dan juga anak lain yang satu meja dengannya. Ia benar-benar penasaran dengan identitas gadis itu.
Tadinya iya yakin kalau Sakura adalah gadis hantu yang dilihatnya di mansion tua. Tetapi mengingat warna mata mereka yang berbeda, ia jadi ragu. Dan lagi...Sakura memiliki senyum yang sangat indah, bukan senyuman seperti iblis yang bisa membuatnya merinding.
"Hei Syaoran, besok temani aku ke gereja. Sudah beberapa hari ini aku tidak ke sana," ucapan Ryuuoh membuat Syaoran teralih padanya. Ryuuoh memang sering ke gereja karena ayah Fay sering mengajarinya berbagai macam hal.
"Maaf, aku harus menemui Fay-san nanti sore, persiapan untuk olimpiade sains bulan depan. Ajak Primera saja."
Alasan itu memang tidak dibuat-buat. Syaoran memang termasuk anak yang cerdas dan aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah. Itu sebabnya dia dikenal banyak guru. Bahkan, Fay dan Kurogane bisa jadi akrab dengannya selayaknya sahabat.
Sebagai sahabat Syaoran, Ryuuoh juga tak kalah populernya. Kepribadiannya sangat menyenangkan dan karena itu, banyak orang yang mau menjadi temannya. Meskipun dalam urusan pelajaran otaknya tidak secanggih Syaoran, ia ahli di bidang olahraga.
Dan Primera. Ia cantik dan populer. Ia mengikuti kegiatan modeling dan pemandu sorak di sekolah. Meskipun kadang cerewet, sebenarnya ia gadis yang sangat perhatian dengan orang-orang di sekitarnya.
Singkatnya, ketiga orang ini sangatlah populer di sekolahnya.
Dan anak-anak populer itu sudah harus kembali ke kelas mereka, karena bel sekolah telah berbunyi.
XXX
"A...aaargh!" teriakan Syaoran menggema di kamarnya. Salah siapakah itu? Mimpi buruk yang barusan dialaminya.
"Ah, ini...kamarku... Mimpi, ya..." dia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal, dan melap keringat di pelipisnya dengan lengan bajunya. Dilirik jam di mejanya, pukul tiga pagi.
Dia bermimpi tentang mansion tua... Dan tebak siapa yang membuatnya berteriak seperti itu. Siapa lagi kalau bukan gadis dengan tubuh transparan dan berpredikat 'hantu', yang pastinya kalian tahu siapa. Untungnya teriakannya barusan tidak membangunkan siapapun.
Akhirnya Syaoran memutuskan untuk kembali tidur. Tetapi tidak bisa. Sepertinya insomnia. Dimiringkan tubuhnya ke kiri, lalu ke kanan, lalu kekiri lagi, ke kanan lagi dan begitu seterusnya. Namun tetap saja rasa kantuknya tak bisa kembali.
Syaoran pun bangkit dan berjalan keluar kamar untuk mengambil segelas air. Setelah itu ia kembali lagi ke kamarnya, tetapi bukan untuk tidur melainkan...duduk di meja belajarnya dan membuka buku.
Kuakui, Syaoran. Kau memang anak rajin. Kalau aku, aku lebih memilih untuk menelusuri internet, membaca komik atau memutar mp3 player ketika insomnia melanda.
Alhasil, Syaoran tetap terjaga hingga pagi menjelang. Karena ia sudah bangun lebih dulu daripada ibunya, ia dengan baik hatinya memasak sarapan untuk ayah dan ibunya. Mereka harusnya berterima kasih kepada Tuhan karena sudah diberikan anak serajin Syaoran, meskipun ia bukan anak kandung mereka.
Syaoran akhirnya pergi ke sekolah. Jam segini biasanya tidak akan ada siapapun di kelas. Tetapi sekarang ada seseorang di sana. Sayangnya, itu bukanlah orang yang ingin ditemuinya saat ini.
Anak baru ini termasuk rajin juga. Baru jam segini, Sakura sudah duduk di bangkunya di belakang kelas. Karena kursinya berada di sudut dekat jendela, ia bisa leluasa memandangi pemandangan di luar jendela. Tetapi lalu ia menoleh setelah mengetahui Syaoran masuk ke ruangan itu.
"Ah, selamat pagi..." sapa Sakura ramah. Senyuman di bibirnya mempengaruhi Syaoran untuk ikut tersenyum.
"Pagi," jawab Syaoran singkat.
Sekarang suasana hening kembali. Sakura kembali menatap ke luar jendela, sedangkan Syaoran tidak tahu bagaimana harus menghadapi Sakura. tetapi akhirnya Sakura membuka suaranya.
"Um...namamu...Syaoran, kan?" tanya Sakura canggung. Ia terlihat mendekati Syaoran sambil membawa sebuah buku.
"Ya...ada apa?"
"Kemarin kulihat sepertinya kau ahli dalam matematika. Kau...bisa membantuku tidak? Ada yang tidak kumengerti," aku mengerti perasaanmu, Sakura. Pelajaran setan itu memang sulit untuk dipecahkan, bahkan untuk sekedar dimengerti.
Syaoran pun mengajari Sakura. Dan karena konsentrasinya tertuju pada matematika, ia sama sekali lupa akan 'mimpi buruk' dan 'gadis hantu' atau sebagainya.
"Jadi, kau sudah mengerti?"
"Ya, semuanya jadi jelas sekarang. Terima kasih, Syaoran," ucap Sakura.
"Tidak masalah. Kalau kau kesulitan lagi, kau bisa tanyakan padaku," Sakura pun menjawab dengan anggukan. Syaoran sepertinya sudah mulai membuka dirinya pada Sakura. Ia bisa melihatnya sebagai teman sekelasnya, bukan lagi gadis yang menakutkan dan sebagainya.
"Oh ya, Sakura. Kau tinggal di gereja, kan?"
"Ya."
"Apa kau tahu bahwa salah satu anak dari pastor mengajar sebagai guru di sekolah ini?" kalian tahu, kan siapa yang dibicarakan di sini? Jadi tak perlu dijelaskan lagi.
"Ya, aku sudah tahu. Guru fisika yang punya mata biru itu, kan? Kemarin Tomoyo menceritakanya padaku. Pastor sendiri juga sudah bercerita," jelas Sakura yang juga sudah mulai akrab dengan Syaoran.
"Benar. Dan tentang Tomoyo, kau sepertinya akrab dengannya."
"Iya. Tomoyo gadis yang sangat baik."
"Ya, dia memang ramah. Suaranya ketika menyanyi juga bagus," puji Syaoran, meskipun yang dipuji sedang tidak ada.
"Sakura tidak punya saudara?" yang ditanya menggeleng.
"Kalau begitu sama sepertiku..."
"Bukankah kita memang sama?" perkataan Sakura membuat Syaoran bingung.
"Syaoran juga...dulu diadopsi di House of Lily, kan?" oh, tentang itu. Tapi dari mana anak ini tahu?
"Ya, memang benar. Kau tahu dari mana?"
"Dari temanmu, Ryuuoh. Kemarin kami sempat bicara banyak," ya, kemarin, sebelum Syaoran datang ke sekolah, tentunya.
"Lalu tentang...kebakaran itu... Ah, kau pasti sudah tidak ada di sana sebelum peristiwa itu, ya?"
Reaksi Sakura sangatlah aneh. Ia malah tercenung dengan dahi berkerut. Sepertinya ia sedang berpikir atau mengingat-ingat sesuatu dan terdiam cukup lama.
"Ya...begitulah..." satu lagi yang aneh. Untuk apa dia menghindari pandangannya dari Syaoran? Tidak mau menggubris hal itu, Syaoran pun mengajukan pertanyaan lain. Ia pikir mungkin Sakura begitu karena trauma akan kebakaran dan tidak mau membicarakannya. Kedua orangtuanya meninggal dalam peristiwa kebakaran, ingat?
"Kemarin...Ryuuoh juga bercerita tentangmu. Katanya kau...tidak punya ingatan?" Sakura mengangguk lemah dan tersenyum...memaksa.
"Tidak tahu siapa orangtua aslimu?" Sakura menggeleng lagi.
"Lagi-lagi kau sama denganku..." Sakura lalu mendongak lagi dan menatap Syaoran lekat-lekat.
"Aku juga...tidak tahu siapa orangtuaku," Syaoran menopang kepalanya dengan satu tangannya.
"Mulai dari bayi, aku sudah diasuh di sana. Awalnya aku benci...benci pada orangtuaku yang meninggalkanku begitu saja. Tetapi aku...semakin dewasa, aku jadi semakin mengerti. Mungkin mereka menelantarkanku bukan karena tidak sayang padaku.
Pastilah hal yang lebih rumit dari itu. Dan fakta bahwa mereka meninggalkanku di depan pintu House of Lily, bukannya di jalanan, sudah membuktikannya..." Syaoran terdiam agak lama setelah ia selesai bicara.
Syaoran kaget ketika tiba-tiba saja Sakura menempelkan tanga kanannya ke pipi Syaoran. Rasa prihatin terlihat jelas dari raut wajahnya. Sakura sepertinya dapat mengerti itu
"Syaoran...pasti sangat sedih. Tidak melihat orangtuanya sedari kecil..."
Wajah Syaoran sedikit merona. Ia lalu melepaskan tangan Sakura yang masih menempel di pipinya.
"Sakura...tidak membenci orangtuamu, kan?"
"Tidak... Tentu saja tidak! Aku tidak akan pernah menyalahkan mereka atas hal-hal yang terjadi padaku. Lebih baik berpikir positif...seperti Syaoran..."
Kali ini mereka berdua sudah bisa tersenyum seperti biasa. Syaoran tidak sadar bahwa ia baru saja menceritakan hal-hal pribadi pada orang yang baru saja dikenalnya. Mungkin itu karena seperti yang dikatakan Sakura sebelumnya. Mereka berdua sama. Bernasib sama.
Setidaknya pagi itu ia menemukan satu lagi teman yang bernasib sama dengannya.
~TBC~
A/N: Nee, Chap 2 selesai. Karena males ngebacot, saia minta review aja deh~
See you in the next chap!
