Tittle :
Tomorrow, Will You Be Mine?
Author : Blaue Fee / Me
Part : 6/?
Pairing : Yoosu, slight!Yunjae, slight!Minkyu, slight!Sichul
Rate : K
Genre : Romance, Brothership, Friendship, Failed Angst, Hurt Cumfort
Warning : Yaoi, Boys Love, BoyXBoy, Typos.
Disclaimer : Semua yang ada disini murni milik diri mereka sendiri dan Tuhan. Cjes Ent & SM Ent memiliki mereka.
Summary :
Aku berharap, saat besok aku membuka mata, kau adalah milikku
Dan aku adalah milikmu.
Apa itu terlalu berlebihan ?
NP : I Dont Like Love & No Gain by XIA Junsu
~! #$%^&*()_+
Junsu masih berada di kediaman Heechul dan Jaejoong. Bunonim nya masih ada di luar negeri dan Junsu tak mau menambah beban pikiran orang tuanya untuk memberitahukan berita tentang sakitnya. Sudah 2 hari sejak hari itu, hari 'berbelanja'nya dengan Yoochun. Dan Junsu menyadari perubahan sikap Changmin dan Kyuhyun padanya. Mereka lebih sering menemani Junsu dari pada pergi bermain atau apalah. Dan sudah 2 hari juga pasangan Minkyu menginap, membuat Yunho harus rela tidur sendirian di apartemen mereka—apartemen Yunho dan Changmin. Walaupun Yunho sudah membujuk Changmin untuk tidur di rumah saja, tapi sepertinya Changmin cukup keras kepala. Selain karena menjaga Junsu, Changmin tidak ingin melewatkan waktu berduaan dengan KyuhyunNYA yang bertambah karena Kyuhyun juga menginap. Dan jangan lupakan soal masakan Jaejoong yang dapat di nikmatinya setiap waktu. Hehe. Tapi, sepertinya Yunho yang tersiksa. Percayalah, walaupun dia bukan brother complex, berada sendirian di apartemen yang luas itu membosankan. Dan Yunho terkadang butuh bantuan Changmin untuk mengoreksi atau menganalisa hasil kerja karyawannya.
Dan seperti hari sebelumnya, Junsu sedang berada di kamar Jaejoong. Junsu yang sakit membuat sifat over protective Jaejoong melebihi dosis. Junsu hanya boleh tidur di kamarnya. Keluarpun selalu di halang-halangi Jaejoong. Junsu hanya boleh keluar jika waktunya makan. Bahkan Junsu harus menahan kesal saat Ia tak bisa menonton pertandingan sepak bola beberapa waktu lalu. Urghh, Junsu ingin sekali mengikat Jaejoong dan mengurungnya dalam gudang sekolah Junsu waktu di Jepang. Biar jaejoong tak bisa terus-menerus melarangnya melakukan ini-itu. Dia hanya demam. DEMAM. Dan sepertinya juga sudah sembuh -.-
"Hwaaaaaa... Yunho hyungggg.. Tolong aku~~~ "
Tap. Tap. Tap. Brakk!
Bukan hanya Yunho, namun Changmin, Kyuhyun, dan Siwon pun bergegas ke sumber suara. Ke ruangan pribadi milik Jaejoong dimana ada seorang pria manis berteriak kesetanan yang membuat mereka khawatir.
"Ada apa Su-ie? Mana yang sakit? Apa kita ke dokter, ayo Yun kita ke rumah sakit " Ucap Siwon panik dan menggrepe-grepe seluruh badan Junsu memastikan bagian mana yang sakit.
"Aku akan menyiapkan mobil" Ucap Changmin tak kalah panik, tapi dia hanya mondar-mandir antara pergi ke luar atau melihat Junsu.
"Yak! Changmin pabbo! Cepat siapkan mobilnyaaa.." Teriak Yunho dan Kyuhyun bersamaan.
"STOPPP! Kalian ini apa-apaan sih? Berisik tahu!"
Doengg!
Sebenarnya tadi YunMinKyuWon sempat berpikir apakah Heechul sudah pulang dari rumah temannya atau belum? Kalian mengerti kan? Mereka menganggap yang berteriak tadi itu Heechul. Tapi kalau di dengar-dengar lebih seksama itu adalah suara Junsu. Demi apa, Junsu tidak pernah berteriak seperti itu.
"Jangan hanya pongo begitu pabbo!" Junsu berteriak lagi karena tak ada yang menghiraukannya sama sekali.
"Ya Su-ie, siapa yang mengajarkanmu berkata kasar seperti itu, huh?" Ucap Yunho jengkel.
"Bagaimana aku tak bicara kasar. Kalian mengurungku selama dua hari ini. Aku hanya ingin menghirup udara, hyung. Aku juga sudah sembuh. Kenapa kalian mengurungku?" Omel Junsu.
"Kami tak mengurungmu, itu kan ulah Jaejoong hyung" Bela Kyuhyun.
"Tapi kalian tak melakukan apa-apa untuk membantuku keluar dari sini"
"Yah, memangnya ada yang berani pada Jaejoong?" Tanya Siwon pelan.
Dan sepertinya Yunho ingin melempar Siwon dengan godam. Lihat saja, setelah ucapannya, Junsu langsung menatap Yunho tajam.
"Apa?" Ucap Yunho gugup.
"Aishh, makanya aku memanggilmu. Kau kan pacarnya, bantu aku bicara dengan Jaejoong hyung. Setidaknya Jae hyung akan lebih mendengarkanmu.."
"Ka-kalau itu sih.." Yunho mengusap tengkuknya dengan gerakan patah-patah. "Kau tahukan, betapa mengerikannya Joongi jika marah. Ja-jadi.. ehem.. ya kau turuti sajalah Junsu.." Tambah Yunho keki.
"Dasarr.. kau itu hyung. Kau seperti suami yang takut istri. Itu yang namanya lelaki gentle -_-" Ucap Junsu mengejek.
"Ppfhttt ... " Dan yang lain hanya tertawa mendengar ucapan Junsu pada Yunho. Minus Siwon tentunya yang mengalami hal sama dengan Yunho. Takut pada uke mereka -.-
"YAA! Diam kalian setaannn ..."
"YAA! Siapa yang berteriak, huh?!"
Glekk!
Mati kau Jung Yunho.
Dan dengan anggunnya Jaejoong berjalan perlahan memasuki ruangan kamarnya dengan senyum manis—setan—yang tak mampu membuat penghuni disana menghirup oksigen dengan tenang.
"Aku tanya.. siapa yang berani berteriak tadi. Tidak tahu aku sedang memasak?" Desis Jaejoong dengan amat sangat pelan. Dan tentunya itu di artikan dengan—amat-sangat-berbahaya-wahai-manusia—
Dan Yunho ingin segera mengubur diri di kebun belakang keluarga KIM. Pasalnya, semua orang menunjuk tepat kearahnya. Yunho perlahan mengarahkan wajahnya pada Jaejoong sambil memasang senyum mautnya, mana tahu Jaejoong berubah pikiran dan malah berbalik mencium, meraba, atau bahkan ingin lebih Yunho pun mau. Atau membuat Jaejoong mendesahpun dia siap. Benar-benar mes—
"Arrggghhh...!" Dan bukannya mewujudkan fantasi liarnya, telinga Yunho sukses ditarik dengan kuatnya oleh Jaejoong. Membuat Yunho terpaksa berdiri di hadapan Jaejoong.
"Aw-aww.. Appo..appo.. Boo lepas.. sakitt..."
"Apa? Lepas? Kau pikir ini hutan Yun? Kenapa berteriak-teriak seenaknya. Suaramu itu tidak ada bagus-bagusnya tahu!" Omel Jaejoong pada Yunho tak mengurangi intensitas tarikannya di telinga Yunho.
"I-iyaa. Maaf-maafkan, Boo. Aku tidak sengaja" Yunho memelas pada Jaejoong dengan menatapnya dengan pandangan—ini-sakit-sekali-kau-tega-padaku-Boo—pada Jaejoong. Mau tak mau Jaejoong luluh juga -,-
"Ya sudah. Tapi Yunnie jangan teriak-teriak lagi. Joongi sedang memasak. Nanti masakan Joongi tidak ja.. eh? Omo! Masakan Joongieee..." Dan dengan tidak lucunya Jaejoong berlari ke dapur, memastikan masakannya tidak hangus.
"Apa? Kalau mau tertawa, tertawa saja!" Yunho menatap WonSuMinKyu dengan deathglare yang mampu membuat para dongsaeng dan sabahatnya itu bungkam. "Dan kau!" Tunjuk Yunho pada Junsu. "Kau lihatkan, Joongie itu mengerikan. Aku tak mau membantumu.." Ucap Yunho di iringi dengusan kesal di akhir kata.
"JOONGIIIEE HYUUUNGG, YUNHO HYUNG BILANG KAU MENGERIKAAANNN!" Ucap duo setan berteriak.
"JUNG YUNHOOOO..."
Glekk!
Mati kau Jung Senior.
~! #%^&*()_+
"Hyuungg~~ Biarkan aku keluar, ne?"
"Ani!"
"Hyuungg-ahh~~ Kau tega padaku? Lihatlah, kulitku seperti vampire begini. Ayolah hyungg~~"
Junsu masih saja merengek pada Jaejoong agar dia dibolehkan keluar kamar. Setidaknya ke ruang tamu. Dia benar-benar butuh udara. Ini sudah hari ke-4 dia dikurung di kamar Jaejoong.
"Ani. Kau pasti mau kaburkan?" Ucap Jaejoong penuh selidik.
"Kabur? Kabur kemana?" Ucap Junsu heran. Wajahnya seperti orang bodoh di hadapan Jaejoong.
Tuk!
"Jangan pasang tampang ingin di grepe itu" Gemas Jaejoong.
"Sakit hyungg.. kenapa kau suka sekali memukulku sih?" Tanya Junsu cemberut.
"Karena hanya kau yang tidak membalas perbuatanku :p "
"Tega.. T.T" Junsu hanya mengomel dalam hati. Sudah baik dia tidak pernah membalas Jaejoong, tapi dia malah jadi bahan penyiksaan—bukan hal negative—hyungnya. Menyedihkan hidupmu, Junsu.
"Wohoooo~~ Pangeran tampan dataaangg~~" Changmin, Sang Pangeran Tampan—ehem!terpaksa—datang dengan membawa berbagai macam snack dan camilan di tangannya. Wajahnya sumringah dan senyuman tak luput di wajahnya.
"Ada apa? Kau menang undian yang hadiahnya kulkas ya?"
Gzzz
"Bisa elit sedikit tidak becandanya?" Ucap Changmin sewot. Tapi wajahnya langsung berubah cerah lagi saat melihat Junsu.
"Hyungg, malam ini ayo kita begadang. Kita nonton pertandingan bola sampai puas. Bagaimana? :D" Changmin masih tak berhenti untuk tersenyum.
"Huwaaa... mau-mau. Mauuu!" Ucap Junsu kelewat semangat. Kalau soal bola, semangatnya bahkan masih ada, walau ada ledakan elpiji di depannya-_-
"Tidak boleh!"
"Yahhh..." MinSu kompak mendesah mendengar larangan Jaejoong.
"Waeyo? Cuma nonton bola hyung"
"Benar, Cuma nonton bola.."
"Tidak. Pasti kau mau kabur kan?"
"Aishh.. hyung ini ngomong ama sih? Dari kemarin bilangnya aku mau kabur. Memangnya aku akan kabur kemana?" Tanya Junsu heran.
"SU-sudahlah hyung. Ijinkan saja. Toh Cuma dirumah ini nontonnya. Tidak kemana-mana" Ucap Changmin cemas. Cemas kalau-kalau Jaejoong keceplosan—
"Tapi kan kita sudah sepakat bahwa Junsu tak boleh keluar menemui si Jidat itu!"
Oopps!
Telat JUNG Junior!
"A-ahaha.. kau ini bicara apa hyung? Kau kan Cuma khawatir dengan keadaan Su-ie hyung" Ucap Changmin gelagapan.
"Loh, bukannya kita sepakat ya supaya Su-ie tidak dekat-dekat lagi dengan Si Jidat. Makanya kita tidak membiarkan Su-ie keluar" Ucap Jaejoong dengan polosnya sambil menatap wajah Changmin yang sudah memucat dengan tatapan ingin di raup.
'Orang ini bodoh atau apa sih? Polosnya melebihi dosis' Batin Changmin miris.
"Tidak dekat dengan Si Jidat? Sepakat?" Junsu bergumam pelan dan menatap Changmin dan Jaejoong bergantian.
"Tidak boleh bertemu Si Jidat? Si Jidat itu.. mmm... mmm.. Yoochun hyung kalau tidak salah. Berarti, tidak boleh bertemu Yoochun hyung, kan? Sepakat? Berarti Joongi hyung dan Minnie tidak boleh membiarkanku bertemu dengan Yoochun hyung? Huwaaaa... benar kan? :D" Ucap Junsu panjang lebar. Dan di akhiri dengan senyum sejuta watt yang menyaingi Zhoumi karena berhasil menebak hal yang menurutnya misteri(?) itu.
"Apa semua keluarga KIM itu bodoh-bodoh ya?" Tanya Changmin pada diri sendiri. Namun, masih di dengar Jaejoong. Dan Jaejoong langsung mendelik pada Changmin.
"Salahmu hyung.." Ucap Changmin cuek.
"MWOO? Kalian sengaja bersekongkol mengurungku agar tak menemui Yoochun hyung?" Ucap Junsu. Lama amat sadarnya (='.'=)
"Baru sadar hyung. Kemana aje(?)?" Ucap Changmin kesal.
"Pokoknya jawab saja!" Ucap Junsu ikut kesal. "Hyunggg..." Lanjutnya menatap Jaejoong dengan pandangan mengintimidasi.
"Apa? Kau tak boleh bertemu Si Jidat? Puas?!" Ucap Jaejoong yang sudah pulih dari rasa terkejutnya karena berhasil membuka aib sendiri.
"Mwo? Kenapa jadi kau yang marah? Harusnya aku kan yang marah. Ingatkan aku siapa yang mengurungku" Ucap Junsu sekarang bertambah kesal.
"Oke, kita luruskan saja. Dengar Su-ie hyung, kami terang-terangan mengatakan padamu agar tak menemui Yoochun hyung lagi. Aku, Kyuhyun dan Jaejoong hyung sudah sepakat" Ucap Changmin menengahi adu deathglare dua kakak-adik ini.
"Kenapa kau jadi membela Jae hyung, Minnie?" Tanya Junsu tak habis pikir.
"Karena kami tahu yang terbaik untukmu!" Sela Jaejoong.
"Hyung, yang terbaik menurutmu belum tentu terbaik untukku.." Ucap Junsu lemah. Berusaha tidak marah menghadapi Jaejoong.
"Kau mau bilang Si Jidat itu baik untukmu? Apa dia pernah menganggapmu? Apa dia pernah menganggap perjodohan kalian. Katakan padaku, apa dia bilang MENCINTAIMU? DIA HANYA BISA MENYAKITIMU! BRENGSEKK..."
BRAKK!
Jaejoong menggebrak meja belajarnya saking kesalnya pada tindakan Yoochun pada Junsu selama ini. Membuat Changmin maupun Junsu bungkam seketika. Mereka tahu, Jaejoong yang marah sama buruknya melihat Heechul yang sedang marah.
"Jangan sekali-kali mendekatinya jika kau masih menganggap aku keluargamu.."
Brakk!
Dan untuk kedua kalinya Jaejoong menimbulkan suara mengerikan. Suara pintu di banting membuat nyawa Junsu dan Changmin melayang sementara guna menyelami kata terakhir Jaejoong sebelum pergi. Dengan amukan, tentunya.
"Minnie, bagaimana ini?" Ucap Junsu dan langsung terduduk di atas ranjang Queen Size milik Jaejoong.
Changmin menghampiri Junsu dan duduk tepat di sebelah Junsu berada. Kepalanya menerawang ke atas langit-langit. Changmin sedikit tersenyum. Membuat Junsu heran.
"Kenapa?"
"Kau tahu hyung. Hari saat kau sakit, Kyuhyun sangat cemas dan buru-buru ke apartemenku. Dia datang dengan wajah yang sangat buruk. Khehe.."
Junsu tetap mendengar ucapan Changmin tanpa ada niatan untuk menyela. Changmin mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar ke arah Junsu dan tersenyum ke kanakkan. Menyandarkan kepalanya pada bahu Junsu.
"Hari itu, Kyuhyun terlihat ingin menangis. Aku tak tahu apa yang salah. Tapi, setelah menceritakan apa yang terjadi padamu dan Yoochun hyung, aku jadi mengerti. Kyuhyun, dia menyayangi mu kan, hyung?" Tanya Changmin, menatap langsung nyalang mata Junsu yang tak fokus.
"Tentu saja..." Ucap Junsu lama.
"Dan aku sangat mencintai Kyuhyun. Aku tak mau dia menangis. Jadi, ketika dia meminta untuk menjauhkanmu dari Yoochun hyung, aku tak bisa menolak. Aku tak salahkan, hyung? Aku tak ingin orang yang kusayangi bersedih. Benarkan?" Tanya Changmin lagi.
"Kau benar..."
"Jadi, aku tak salah jika menjauhkanmu dari Yoochun hyung. Jangan marah padaku karena aku egois. Atau jangan marah pada Kyuhyun dan Jaejoong hyung. Mereka menyayangimu. Bagaimana mungkin mereka berdiam diri, sedangkan kau menderita. Apa kau memaafkan kami?" Changmin bertanya lagi. Tapi, kali ini tatapan matanya melembut. Bahkan, walaupun wajahnya terlihat kacau, Changmin memaksakan diri untuk tersenyum.
"Mianhae..." Junsu terisak keras. Kenapa dia begitu bodoh? Ada Jaejoong, Kyuhyun dan Changmin yang mengkhawatirkannya. Ada Jaejoong, Kyuhyun dan Changmin yang ingin melindunginya. Kenapa dia seperti batu, tidak menghiraukan orang terdekatnya.
"Mianhae...mian..mian..maafkan aku.." Changmin memeluk Junsu erat. Sangat erat, membuat Junsu seperti kehilangan oksigen.
"Ada apa ini?" Desisan amarah yang seperti di pendam membuat pelukan mereka merenggang. Disana. Disana, Heechul berdiri dengan tampang murka.
"H-hyung.. sejak kapan disana?" Changmin gelagapan setengah mati. Ampun, jangan sampai Heechul tahu.
"Sejak Jaejoong membanting meja belajarnya. Jika kau bertanya apa saja yang sudah ku dengar, maka jawabannya adalah, SEMUANYAA!"
"H-hyung.. itu.. tidak seperti yang kau kira.." Ucap Junsu melihat wajah Heechul yang mau meledak.
"Jung Changmin. Ceritakan.."
~! #$%^&*()_+
"Permisi. Apa kau tahu dimana aku bisa menemui Park Yoochun?"
"Ah, Yoochun-sshi? Tadi aku melihatnya di sekitar gedung auditorium, noona"
"Ya! Aissh, kau tak lihat aku ini namja!"
"Ah, mi-mianhae noo-ah Hyungg.." Orang itu hanya lari ketakutan setelah melihat wajah sangar wani-ah pria di depannya.
"Dasar menyebalkan.." Ucap si pria cantik mendecih pelan.
Tap. Tap. Tap.
"Ya! Park Yoochun!"
Yoochun menoleh saat merasa namanya di panggil dengan keras. Matanya menatap pada pemuda cantik yang tergesa menuju kearahnya.
"Hyung.. apa yang kau lakukan disini?" Tanya Yoochun yang juga berjalan menghampiri si namja cantik. Belum sempurna Yoochun berhenti, tiba-tiba—
Buaghh!
"Ku harap kau tak menampakkan wajahmu lagi di hadapanku dan keluargaku. Terutama Junsu. Ingat itu Park!"
"Apa maksudmu Heechul hyung?"
"Kau tahu maksudku. Pertunanganmu dibatalkan. Selamat! Jadi, jangan perlihatkan lagi jidat lapanganmu di hadapan keluargaku. Mengerti?!"
"Hyung.. hyunggg.." Yoochun hanya bisa meringis memegangi sudut bibirnya yang pecah dengan terus memperhatikan siluet tubuh Heechul yang menjauh darinya. Bibirnya terasa sangat perih. Yoochun tak menyangka, walaupun terlihat seperti wanita, pukulan Heechul sangatlah kuat. Dan untuk kedua kali dalam hidupnya, Heechul memukul seseorang. Jika dulu karena membela Jaejoong saat di kerjai temannya. Sekarang karena membela adik sepupunya, Junsu. Yang sudah seperti adik kandungnya. Heechul tak menyesal telah memukul orang. Semua terbayar dengan amarahnya yang di luapkan pada orang yang tepat.
TBC
.
.
.
maap saia gag bisa bales review kalian..
saia selalu baca reviewnya, tapi selalu gag bisa lama-lama disini.
yang kemarin nanya Fb, saia jarang disana. kalian bisa berkunjung di twitter saia 274GHJung ^^
annyeong !
