Tittle :
Tomorrow, Will You Be Mine?
Author : Blaue Fee / Me / 274GHJung
Part : 7/?
Pairing : Yoosu, slight!Yunjae, slight!Minkyu, slight!Sichul
Rate : K
Genre : Romance, Brothership, Friendship, Failed Angst, Hurt Cumfort
Warning : Yaoi, Boys Love, BoyXBoy, Typos.
Disclaimer : Semua yang ada disini murni milik diri mereka sendiri dan Tuhan. Cjes Ent & SM Ent memiliki mereka.
Summary :
Aku berharap, saat besok aku membuka mata, kau adalah milikku
Dan aku adalah milikmu.
Apa itu terlalu berlebihan ?
~! #$%^&*()+_)(*&^
Yoochun masih sama. Pada rutinitasnya. Pada kesibukannya. Pada kebiasaannya. Pada sahabat-sahabatnya... Atau, Ia serasa kehilangan dua sahabatnya sekaligus. Yoochun menghela nafas. Ini sama sekali bukan maunya. Pada perubahan deras dan kuat yang sedikitnya mengubah struktur bagian sisi hidupnya. Ia bukan orang yang gampang melupa pada canda tawa dan sakit yang dilalui bersama orang lain. Yoochun amat sangat tahu itu. Hanya saja... Kali ini, Ia seolah-olah membiarkan saja. Walau tanpa sadar atau tidak, Ia seperti mencari-cari sosok 'mereka'.
Ia tahu, kesalahannya sangatlah besar. Sepanjang hidupnya, mungkin kali inilah Ia sangat merasa bersalah. Dan bahkan lebih buruknya, Ia menyakiti banyak hati orang. Tapi Yoochun tak tahu apa yang akan di buatnya. Ia terlalu bingung, bingung akan memulai untuk 'bertemu' dan 'berbincang-bincang' dengan 'mereka'. Ia tak tahu apa yang akan Ia lakukan setelah 'berbicara' karena menurutnya mungkin satu tindakan saja darinya dapat membuat dia—ah Junsu—terluka. Yoochun kembali memegang kuat kedua bilah tangannya saat mengingat nama itu. Jika tadi rasa bersalahnya hanya setingkat dengan Danau O'Higgins maka, dengan mengingat nama Junsu, Yoochun merasa ini lebih dalam dari pada itu. Mungkin Lake Baikal dapat menandinginya. Berlebihan? Biarlah! Karena ini masa terbodoh sepanjang hidupnya.
Yoochun masih di depan halaman gedung auditorium. Duduk di dalam sebuah bissi kampus. Memandangi ke arah yang sama. Arah pohon Oak tua yang entah kenapa bisa ada di kampusnya. Melihat dua pasang manusia yang sibuk dengan dunia mereka. Sesekali Yoochun ikut tersenyum saat dua orang tadi tersenyum. Atau menahan tawa yang serasa kapan waktu dapat meledak melihat ketika salah satu dari dua orang 'bidikan'nya mengerjai yang lain. Sungguh, Yoochun ingin kesana. Menghampiri mereka—Changmin dan Kyuhyun. Tapi, lagi-lagi niatan hanya sebuah niatan. Yoochun tak akan pernah kesana.
Jangan tanya bagaimana hubungan Yoochun dengan kedua Hoobae yang sudah di anggap adiknya sendiri itu. Ia cukup bingung untuk menjelaskan. Tak ada teriakan atau pukulan yang terjadi seperti yang Heechul lakukan beberapa minggu lalu padanya. Hanya saja, itulah mengapa Yoochun menjadi tak bersemangat. Jangankan teriakan, suara nyaring Changmin saja tak Ia dapatkan beberapa waktu ini. Tidak, tidak. Jangan beranggapan aneh. Changmin dan Kyuhyun masih senantiasa 'menyapa' Yoochun. Bertemu di koridor dengan sapaan 'Hei hyung..' Lalu tersenyum sangat tipis. Diam. Berlalu. Selalu seperti itu. Tak ada yang istimewa. Changmin dan Kyuhyun bahkan tak pernah secara terang-terangan mengungkapkan kemarahan mereka pada Yoochun.
Yoochun bersalah. Amat merasa bersalah. Setidaknya Ia mendapat 'sedikit' cacian. Tapi tak Ia temukan pada Changmin maupun Kyuhyun. Yoochun juga merasa sendirian. Jika seringkali Saturday Nite nya dihiasi dengan nonton film bertiga. Ber-PSP ria. Atau hanya sekedar menemani Yoochun tengah malam ke sungai Han. Kini Ia hanya berdiri sendiran di balkon kamar. Sesekali pergi berkencan. Yang di akuinya, waktu berkencannya jauuuuhh lebih sedikit dari biasanya. Dalam seminggu, jari dari satu tangannya saja tak cukup untuk memenuhi berapa kali Ia bertemu wanita.
Ya, Yoochun masih memperhatikan Changmin yang sekarang merangkul bahu tegap Kyuhyun dan sesekali mengurai jemarinya di rambut ikal softbrown Kyuhyun. Dan tak lama, mata coklat teramat kelam itu memandangi Yoochun. Kyuhyun tersenyum dan menggerakkan bibir sintalnya yang basah seolah merangkai kata 'Hai, Yoochun hyung..' . Yoochun hanya mengangguk dan berbalas senyum. Sederhana bukan? Tapi cukup membuat Yoochun sakit. Ia mengambil tas selempang yang terdapat di sisi kiri meja. Meletakkan beberapa lembar Won untuk membayar Caffelatte nya. Dan dengan secepat yang Ia bisa pergi dari sana.
Sedangkan Changmin hanya terus mengusap rambut Kyuhyun. Memperhatikan tingkah Kyuhyun yang melihat satu orang yang menjauh dari tempat mereka. Yoochun.
"Jangan dilihat terus. Nanti kau malah berniat memakannya lagi.." Kekeh Changmin membuat Kyuhyun memutus pandangan dari sosok Yoochun yang telah menghilang pada Changmin yang berjarak ekstrim dengannya.
"Urrghh.. Kalau kau tak sering menghalangiku, pasti wajahnya yang tampan itu sudah lama hancur.." Keluh Kyuhyun dan memasang wajah sekesal mungkin.
"Keke~ Jangan begitu. Kau hanya melihat kesalahannya saja, tidak melihat kebaikannya selama ini" Ucap Changmin lagi.
"Tapi dia keterlaluan. Penjahat hati seperti itu!"
"Hey, siapa yang menumpang pulang pada Yoochun hyung jika aku tak bisa mengantar pulang? Dan siapa yang masih menyimpan seragam bola yang bertanda tangan Banzema pemberian Yoochun hyung?" Ucap Changmin dengan tatapan menyelidik pada Kyuhyun.
"Y-yah.. Jangan bawa-bawa itu.." Ucap Kyuhyun malu dan mengalihkan matanya memandang kesembarang arah. Wajah teman-teman kampusnya lebih menarik dari pada Changmin yang tertawa menang, mungkin.
"Makanya, jangan hanya mengingat hal buruk, baby.." Changmin mengapit hidung bangir itu dengan jari-jarinya yang panjang. "Lagi pula, diacuhkan adalah kelemahan terberat Yoochun hyung, haha.." Changmin mengakhirinya dengan tawa sumbang yang mampu menarik perhatian sedikitnya penghuni kampus.
"Ish, sok menasehatiku ternyata kau sama saja. Dasar setan tengik.."
"Kau rajanya, sayang.."
Sementara itu—
Yoochun masih sibuk dengan 'jalan cepat'nya. Pergi sejauh mungkin dari Changmin dan Kyuhyun. Bahkan tanpa sadar Ia malah masuk kembali ke area kampus. Bukan menuju area parking, dimana mobilnya berada. Dan, dalam ketergesaan langkah kakinya berjalan, kecepatannya berkurang, berkurang dan semakin berkurang. Hingga kini Ia berdiam diri dengan wajah yang, entahlah... sulit di artikan.
"Junsu..." Bagai asap rokok yang cepat menghilang, ucapan Yoochun hanya berdengung di telinganya saja. Bergumam pelan antara senang dan bingung. Haruskah Ia menemui 'dia'? Junsu yang sekarang sedang duduk di depan sebuah kursi sendirian. Ah, dia melihat sekitarnya. Fakultas Seni. Apa menunggu Jaejoong?
"Su-ie, Su-ie, Su-ie..." Cengkraman tangan Yoochun menguat. Bagaimana ini? Dia masih berpikir untuk bertemu atau tidak dengan Junsu. Kakinya tak bergerak sedikitpun, maju ataupun mundur. Putuskanlah Yoochun-sshi, kau memperlambat waktu.
Tep!
Dan kau memang telat Tuan Park. Jaejoong datang menghampiri Junsu dan membawa pria innoncent itu pergi. Bukan, bukan karena Jaejoong menyadari kehadiran Yoochun. Jaejoong bahkan tak tahu sama sekali. Dia hanya tergesa-gesa. Ingat, 2 hari lagi pernikahan Siwon dan Heechul. Jaejoong bahkan lupa dengan paket bunga tangan untuk dibawa Heechul nantinya di hari pernikahan. Salahkan semua tugas kampus yang melilitnya dan juga Yunho yang sewaktu-waktu sangat bersedia mengganggunya itu. Jika Heechul tahu bahwa paket bunga tangannya bahkan belum di pesan, bisa-bisa semua koleksi boneka gajah milik Jaejoong akan melayang kepada anak-anak panti asuhan. Dari pada dibuang, disumbangkan lebih bagus sepertinya.
Jaejoong masih senantiasa berjalan beriringan bersama Junsu. Dan seketika Yoochun tersadar. Dengan sedikit tergesa, Ia mengikuti dua saudara sepupu tersebut. Jaejoong menaiki mobil Junsu dan mengendarainya. Yoochun kebingungan, ini Fakultas Seni bukan Fakultas Ekonomi. Sedangkan mobilnya ada di area parking Fakultas Ekonomi, fakultasnya. Dan beruntunglah pada otaknya yang cepat dalam menangkap situasi. Yoochun berlari, bergegas menuju gerbang kampus dengan memotong jalan melewati taman-taman kecil kampus. Menyetop taksi dan masuk kedalamnya. Menunggu 2 detik dalam taksi sebelum akhirnya melihat mobil Junsu yang di kendarai Jaejoong keluar dari gerbang.
"Ahjussi, ikuti mobil merah itu!" Yoochun memberi perintah dengan sekali tarikan nafas. Mulutnya sibuk menghirup udara karena berlari tadi. Taxi tersebut melaju dengan kecepatan sedang mengikuti mobil yang di naiki Jaejoong dan Junsu. Setelah hampir 20 menit, mobil Junsu berhenti di sebuah toko minimalis bertuliskan 'Wedding Outlet Sugar'. Otomatis membuat taksi yang di tumpangi Yoochun juga berhenti. Yoochun membayar ongkos taksi dan berjalan perlahan mengikuti duo Kim tersebut.
Jaejoong langsung menuju lantai 2 menuju pemilik toko tersebut guna memesan paket bunga tangan milik Heechul. Sedangkan Junsu, matanya bergerak liar menjelajahi berbagai barang di toko itu. Ada 5 pasang baju pengantin yang di pasang di dalam toko. 2 di depan etalase toko dan 3 lagi berada dalam sudut ruangan yang di beri lampu hiasan di sekitarnya. Pemilik toko ini memang sengaja hanya memasang sebanyak itu. Karena, biasanya para pelanggannya akan memesan dari desaigner dahulu baru memintanya membuatkan pakaian pengantin.
Matanya masih bergerak liar saat menangkap dua orang karyawan yang sedang asyik merangkai bunga. Mawar putih. Lingkaran kawat kecil tiara di selipi baby white rose. Tiara untuk pengantin. Pengantin wanita. Junsu memperhatikan lama bahkan tanpa sadar melangkahkan kakinya kearah dua karyawan tersebut.
"Cantik.." Ucap Junsu tanpa sadar dan berhasil membuat kedua karyawan yeoja itu terkaget dengan kehadiran tiba-tiba Junsu.
"Haha... Mianhae nunna ^^" Junsu tersenyum innoncent saat dua karyawan itu melihatnya dengan pandangan—kau-mengagetkan-kami-wahai-anak-muda(?).
"Aku hanya ingin melihat apa yang kalian lakukan.." Ucap Junsu setelah dua karyawan tadi tidak mempersalahkan lagi kedatangannya. Salah satu karyawan tersebut melirik bangku kosong di sampingnya. Secara tak langsung menyuruh Junsu duduk di sampingnya.
"Bagaimana cara melakukannya?" Iseng Junsu bertanya dan memegang kawat tiara yang belum di hiasi bunga.
"Kau cukup melilitkan bunga yang sudah diberi tali tipis ini di kerangka tiaranya, tuan.." Ucap salah satu dari mereka tersenyum manis. Junsu adalah pelanggan, Ia harus membuat pelanggan merasa senyaman mungkin ada di toko ini.
"Ah, begitukah? Aku boleh mencoba?" Ucap Junsu antusias. Kedua karyawan tersebut hanya tertawa geli melihat betapa kekanakkannya sikap Junsu. Keduanya mengangguk bersamaan dan menyerahkan beberapa baby white rose kehadapan Junsu. Junsu memulainya dengan pelan dan sesekali memperhatikan nunna-nunna tersebut merangkai tiara milik mereka.
Junsu amat serius, sama seperti kedua nunna karyawan tersebut. Tidak menyadari sedari tadi Yoochun memperhatikan mereka—ah tidak, memperhatikan Junsu lebih tepatnya. Yoochun tersenyum. Junsu selalu antusias terhadap sesuatu yang baru di temuinya. Sudah berapa lama Yoochun tak bertemu dengan pemuda semok(?) itu? Sudah berapa waktu Yoochun tak melihat senyum polos dan jujur itu? Sudah berapa jarak Yoochun tak mendengar suara jernih dan merdu itu? Sudah berapa lama Yoochun...tak memegang tangan itu. Yoochun rindu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya saat memikirkan bahkan Ia sudah lama tidak menyentuh kulit pemuda itu. Walau selama ini sentuhannya tidak lebih dari berpegangan tangan atau mengusap kepala Junsu.
"Junsu-a, aku merindukanmu. Ini nyata.." Ucap Yoochun pelan. Lamunan Yoochun terhenti saat menyadari suara Jaejoong yang datang dari arah tangga, mengobrol dengan pemilik toko. Buru-buru Yoochun keluar dan kembali mencoba menyetop salah satu taksi. Setelah mendapatkan taksinya Yoochun kembali ke kampusnya guna menjemput mobilnya yang Ia tinggalkan.
~! #%^&*)_+_)(*&^%
Di kediaman keluarga KIM semua orang nampak hilir mudik kesana kemari, sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa maid dan pekerja dari WO sibuk menata ruangan milik keluarga ini yang bisa dibilang tidaklah kecil. Mengatur tempat perhelatan yang akan terjadi dua hari lagi. Hari pernikahan anak sulung keluarga Kim, Kim Heechul dengan anak sulung keluarga Choi, Choi Siwon. Sedangkan pemberkatan dan pengucapan janji suci nantinya akan di adakan di taman belakang. Taman yang belum dihias dengan matang. Mengingat itu adalah outdoor. Maka tak perlu cepat-cepat diselesaikan. Takut nanti ada hujan dan penghalang lainnya yang dapat merusak tatanan Wedding Garden milik masing-masing putra sulung tersebut. Nah, untuk pesta malamnya baru akan di adakan di dalam ruangan yang sekarang sedang di tata.
Jaejoong dan Junsu baru datang setelah memesan paket bunga tangan milik Heechul dan di tawari pemandangan Heechul yang mencak-mencak(?) tak jelas di salah satu meja tamu yang belum selesai di hias. Sepertinya maid yang menghias meja itu tadi segera kabur saat melihat Heechul marah-marah dengan orang seberang melalui ponselnya. Maid tersebut mengantisipasi ketulian dini di telinganya. Biarlah, menghias mejanya bisa nanti.
"YA! China Oleng, aku mau coklatnya. Coklat putih, cepat kau antar kemari!" Perintah Heechul keras. Tak ada bantahan.
"Tapi Chullie-ah, aku harus mengadakan rapat sebentar lagi. Nanti ne, sesudah pulang kantor kubelikan~" Bujuk seseorang diseberang telpon. Tan Hangeng, sahabat Siwon yang juga merupakan sahabat baik Heechul.
"Tidak mau! Kau sudah janji kemarin padaku~" Kali ini Heechul memasang wajah memelas dengan suara yang dibuat sepelan mungkin. Akting tersiksa-_-
"Ne~ Aku tahu. Tapi ini benar-benar.. Oh! Rapatnya! Mianhae Chull-ah, aku harus pergi. Nanti kubawakan. Bye~!"
Tut tut tut! –sambungan terputus
"Ya! Tan Hangeeenggg! Beraninya kau~~!" Murka Heechul dan dengan segenap kekuatannya menggebrak meja di depannya. Sukses membuat beberapa maid dan pekerja tersentak kaget. Sedangkan Jaejoong yang memperhatikan sedari tadi hanya menggeleng maklum. Akhir-akhir ini pemilik moodswing yang super kritis ini memang lebih mengalami perubahan mood yang lumayan drastis. Entahlah, mungkin ini syndrom yang Ia dapatkan menjelang hari pernikahannya.
"Hyuuunggg, berisik tahu!" Ucap Jaejoong dan memeluk tubuh Heechul dari belakang. Bahu Heechul naik turun karena marah.
"Ish, apaan sih Joongie?!" ucap Heechul mencoba menepis pelukan Jaejoong. Tapi Jaejoong mempererat pelukannya.
"Tidak baik marah-marah hyung. Nanti kau cepat tua.."
"Tch, aku kesal dengan si china itu!"
"Kau tahukan Hangeng hyung itu orang sibuk hyung. Lagi pula kenapa minta coklat? Harusnya kau tak usah memakan itu..." Ucap Jaejoong.
"Ah, wae?" Taya Heechul penasaran.
"Coklat dapat membuatmu gemuk hyung. Nanti jas pernikahanmu tidak muat. Pernikahannya 2 hari lagi. Apa kau mau saat pernikahan malah sibuk mencari pakaian?" Ucap Jaejoong menakuti.
"Haa~~ Kau benar Joongie! Sebaiknya aku juga tidak makan es krim nanti.." Ucap Heechul lupa dengan amarahnya.
"Dan jangan makan cemilan malam-malam hyung.." Timpal Junsu dan duduk di sebarang kursi yang diduduki berdua oleh Heechul dan Jaejoong.
"Ah, baiklah~~" Ucap Heechul tersenyum. Aish, cepat sekali berubah suasana hatinya. "Jae-ah, kau sudah memesan buket bunga tangan milik hyung kan?" Tanya Heechul. Dia selalu lupa menanyakan hal ini pada Jaejoong. Untung sekarang Ia ingat. Jaejoong mengangguk kikuk dan tersenyum samar menutupi ketakutannya.
"Sudah hyung. Kau tenang saja.." Ucap Jaejoong melirik Junsu yang sibuk membekap mulutnya agar tawa yang Ia tahan tak keluar.
"Kau yang terbaik Joongie~~" Ucap Heechul mencubit kedua pipi Jaejoong.
"Ah, kalian disini rupanya.." Tiba-tiba Nyonya Kim, umma Heechul dan Jaejoong datang menghampiri mereka.
"Umma~ Appa~!" Junsu berlari menuju orang tuanya yang berdiri dibelakang umma JaeChul. Memeluk kedua orang tuanya yang hampir sebulan ini meninggalkan Korea karena bisnis.
"Umma dan appa tega meninggalkanku. Lama sekali.." Ucap Junsu manja dan memeluk lengan sang umma.
"Jangan manja Su. Di jepang bahkan kau hidup tanpa kami" Ucap sang appa bijak. Junsu hanya cemberut dan mendelik mendengar ucapan appanya dan malah semakin erat memeluk sang umma.
"Ah, Su-ah. Nanti di pernikahan Heechul dan Siwon kau datang bersama Yoochun kan? Tadi umma sudah menghubungi nyonya Park. Kau bisa menemani Yoochun kan?" Tanya umma Junsu dengan wajah berbinar-binar.
Grrr! Gzzz!
Seketika amarah Heechul yang tadi reda kini kembali setelah mendengar nama Yoochun. Jaejoong juga tak berbeda. Tangannya memegang erat alas meja. Membuat kain putih tersebut kusut karena kekuatan remasan tangan Jaejoong yang dibilang tidak biasa. Jaejoong menahan lengan Heechul yang hendak berdiri. Tahu bahwa Heechul akan meledak. Jaejoong hanya menggeleng samar pada Heechul yang menandakan—jangan-dulu-hyung. Memang benar. Belum ada yang memberi tahu masalah Yoochun dan Junsu kepada pihak orang tua Junsu. Bahkan kedua orang tua Jejoong dan Heechulpun tak tahu menahu. Hanya mereka—Junsu, Jaejoong, Heechul, Kyuhyun, Changmin, Yunho dan Siwon yang tahu. Dan mereka belum berani mengatakan yang sebenarnya. Atau ini karena Junsu juga. Ia sudah menganggap masalah ini selesai. Jadi, Ia tak ingin mengungkit-ungkit lebih jauh.
"Terserah umma.." Jawab Junsu melempar pandangan meminta maaf pada Jaejoong dan Heechul. Sedangkan dua orang yang di pandangi hanya menghembuskan nafas kesal.
~! #$%^&*()_+
Yoochun tersedak. Pergi bersama Junsu di hari pernikahan Siwon dan Heechul. Apa orangtuanya sedang bercanda? Bagaimana mungkin Ia bisa pergi bersama dengan Junsu dengan situasi buruk seperti ini?
"Kau kenapa, Yoochun? Kau tak senang pergi bersama Junsu? Appa pikir hubungan kalian lumayan dekat selama ini?" Tanya appa Yoochun mengintimidasi. Dia hapal pasti wajah dan reaksi yang ditunjukkan Yoochun tadi. Rasa tak percaya dan cemas. Tentu saja, appa Yoochun sangat menngenal anaknya ini.
"Aniyo appa. Hanya saja, apa tak apa-apa? Ku pikir Junsu akan ikut menjadi tuan rumah. Jadi, mana mungkin Junsu datang kemudian bersamaku?" Memang benar apa yang di katakan Yoochun. Junsu harusnya tetap berada di kediaman KIM bukan. Tapi, terasa aneh sekali Ia datang kemudian bersama Yoochun seperti tamu undangan lainnya. Dan juga, Yoochun lumayan terkejut jika harus pergi bersama Junsu. Apa yang dilakukannya nanti bersama Junsu. Dan terlebih lagi, apa tanggapan para hyung Junsu saat tahu Junsu akan pergi bersamanya. Ia masih sangat ingat dengan ancaman Heechul.
"Haha... Kau benar. Tapi sepertinya umma Junsu ingin mendekatkan kalian. Lagipula Junsu juga sudah setuju. Sudahlah. Turuti saja.." Ucap Umma Yoochun akhirnya menjawab dan pergi menuju kamarnya disusul oleh sang appa. Sedangkan Yoohwan yang sedari tadi hanya menyaksikan di luar ruang makan memilih memasuki dapur dan duduk disamping Yoochun.
"Hyung.." Yoohwan menepuk bahu Yoochun sekilas. Sukses membuat lamunan kecil Yoochun terhenti.
"Waeyo, Hwannie?" Tanya Yoochun pada adik satu-satunya ini.
"Kau yang kenapa? Kenapa masam begitu? Ada masalah dengan Junsu hyung?" Tanya Yoohwan menebak-nebak pikiran pria dandy kakaknya ini. "Aku juga sedikit curiga dengan hyung sih.." Lanjutnya sedikit memajukan bibirnya memberi kesan ogah-ogahan.
"Curiga apa?" Tanya Yoochun penasaran. Dirinya tak ambil pusing dengan sikap ogah-ogahan Yoohwan. Yoochun sudah terbiasa dengan sikap Yoohwan yang terkesan santai dan nyeleneh seperti ini.
"Kau, Junsu hyung, dan duo setan itu..." Ucap Yoohwan pura-pura memasang wajah berpikir yang sangat mudah dimengerti jika itu hanya sebuah akting. Tangannya sibuk mengangkat 2 buah jemarinya saat mengatakan 'duo setan'. Yoohwan asyik memperhatikan raut perubahan pada wajah kakaknya. Dia sedikit tersenyum menang, merasa pemikirannya tidak salah.
"Masalah apa—"
"Duo setan. Tidak berkunjung. Tidak keluar malam minggu. Tidak ada teriakan kalah saat bermain game. Dan yang terpenting, tidak ada Junsu hyung kemari. Waaah.. kalau sampai abeoji dan ummonim tahu bagaimana ya?" Ucap Yoohwan jahil menaikkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya menarik simpul mirip sebuah smirk. Sepertinya uri Yoohwannie sedikit berubah. Dia seperti tak takut lagi dengan kemarahan Yoochun nantinya.
"Kau—apa?!" Ucap Yoochun kaget. Dirinya sibuk memutar kepala takut-takut ada yang mendengar. Syukurlah, keadaan rumahnya sepi. Entah kemana para pelayan dirumahnya berada sekarang.
"Haha.. tebakanku benar. Jadi hyung, ada apa? Aku tidak pernah melihatmu sekalipun bertengkar hebat dengan Changmin dan Kyuhyun hyung. Kalau dengan Junsu hyung sih aku tak tahu, kan aku baru mengenalnya" Tanya Yoohwan pada Yoochun yang kini kembali meminum air mineralnya. Setelahya Ia meletakkan kembali gelas tersebut ke atas meja tepat di sampingnya.
"Aku membuat kesalahan. Pada mereka semua. Junsu. Pada Changmin dan Kyuhyun. Pada banyak orang.." Ucap Yoochun tak beraturan. Kosa kata nya yang berantakan membuktikan bahwa kesalahannya lumayan berat. Yoohwan tersenyum senang. Ini saatnya.
"Ceritakan hyung dan aku akan membantumu.." Ucap Yoohwan tersenyum lebar. Yoohwan merasa sangat amat senang. Dia berpikir Ia akan berguna untuk kakaknya kali ini. Sekali saja, Ia ingin membantu Yoochun. Tidak terus-terusan bergantung pada Yoochun. Dia juga ingin di anggap dewasa. Walaupun belum lulus SMA Yoohwan juga ingin di anggap dewasa oleh Yoochun. Sedangkan Yoochun hanya mengernyit bingung memperhatikan tingkah adiknya. Kenapa adiknya malah tersenyum saat dia mengatakan mendapat masalah? Dan apa-apaan ekspresinya yang langsung cerah saat mengatakan akan memberi bantuan? Yoochun mengerjap dua kali. Dan pemandangannya masih sama. Yoohwan yang TERSENYUM LEBAR. Ck, Yoochun kesal juga melihatnya.
"Berhenti bersikap bodoh Park Yoohwan. Kau membuatku merinding!" Ucap Yoochun sadis berhasil membuat wajah Yoohwan menjadi masam. Dia memberi deathglare pada Yoochun yang bahkan gagal. Bagaimana mungkin anak bungsu keluarga Park ini tahu tentang deathglare. Melihatnya saja tak pernah -_-
Yoochun menceritakan dari awal. Semua. Tanpa ada sedikitpun tertinggal. Membuat pias wajah Yoohwan—sang pendengar—terkadang berubah-ubah. Tertawa, lucu dan juga sedikit amarah. Mendengar sendiri dari mulut Yoochun bagaimana hubungannya dengan Junsu dan teman-temannya membuat Yoohwan seperti mendengar sebuah kisah sendiri. Mungkin bukan kisah yang berjalan mulus yang seperti dialaminya dengan kekasihnya. Ataupun kisah sederhana yang mana Yoohwan masih belum mengerti hal-hal berat dalam hidup ini. Dia masih terlalu muda, manja dan berkelebihan. Tidak mengerti arti kata susah, berat dan terluka. Tidak sama sekali. Menjadi dewasa ternyata sulit—pikir Yoohwan. Dan Ia mulai bimbang dengan bantuan yang dikatakan sebelumnya untuk Yoochun.
"Begitu.." Yoochun mengakhiri dengan tarikan nafas. Mencoba mencari makna dalam wajah sang adik yang tampak diam. Yoochun menerka-nerka apa saja yang dipikirkan Yoohwan terhadapa ceritanya—kisahnya.
"O-oh, begitu.." Ucap Yoohwan menyadari tatapan kakaknya yang seperti ingin mendapat lebih dari hanya sekedar kata 'begitu'.
"Sudah kuduga.." Ucap Yoochun akhirnya. Dia menghela nafas dan menggosok wajahnya dengan tangan kanan. "Kau terlalu kecil untuk bisa mengerti situasi begini. Umurmu bahkan belum 17 tahun..." Ucap Yoochun menambahkan. Dia tersenyum manis pada Yoohwan. Seakan mengerti bahwa adiknya belum terlalu dewasa dengan masalah seperti ini.
"A-aku akan membantu!" Ucap Yoohwan tegas. Walaupun masih ada keraguan dalam ucapannya.
~! #%^&*()_+
Camomile, 5th floor, Room 509. Junsu bergumam, menghapal nama ruangan tersebut sambil terus berlari menyisiri koridor. Tangannya menggenggam erat smartphone hitamnya dengan kuat. Matanya menjelajah liar tiap melihat nomor ruangan yang ada di sekitar kiri dan kanannya. Jika nomor tersebut tak ada tersemat atau bukan di depan pintu koridor maka Junsu aka terus berlari mencarinya.
Dapat!
Junsu terhenti sejenak. Berdiri dengan tegang dan memegang dada kirinya. Mencoba meredakan nafasnya yang tersengal-sengal karena berlari. Mencoba mengatur nafasnya berkali-kali. Walau tak bisa di pungkiri, keinginannya untuk segera masuk kedalam amat terasa besar. Junsu menyentuh gagang pintu kayu tersebut dengan perlahan. Tanpa suara. Dengan pelan mendorongnya ke depan, membuat suara yang jauh dari kata 'berisik'. Pintu terbuka, melebar, melebar dan melebar. Hingga terbuka sempurna. Hanya melihat Yoohwan yang berdiri menghadapnya. Disamping ranjang seseorang yang terbaring dengan kepala di perban.
"Oh, Su hyung. Kau datang~" Ucap Yoohwan tersenyum. Memberi gesture tangan pada Junsu untuk mendekat. Junsu mendekat dengan gerakan patah-patah yang bisa dilihat tak nyaman. Seseorang di ranjang sedari tadi memperhatikannya seksama. Dengan senyuman yang—yah, masih membuat Junsu menggila.
"Apa yang terjadi?" Tanya Junsu yang akhirnya bersuara.
"Ah—"
"Kau Kim Junsu tunanganku? Benar?" Belum sempat Yoohwan menjawab, Yoochun—orang yang terbaring di ranjang—bertanya dengan mimik bodoh yang yah... entahlah.
"N-ne? A-aah, benar.." Jawab Junsu ragu dan melirik pada Yoohwan yang tersenyum kaku. Yoochun tersenyum. Memberi arahan pada Junsu untuk mendekat.
"Aku merindukanmu.." Junsu terkaget dengan gerakan tiba-tiba Yoochun. Tangan besar yang melingkupi tubuhnya terasa hangat. Junsu terbuai. Pelukan Yoochun. Dia belum pernah merasakannya. 'Aku benar-benar merindukanmu..' Sambung Yoochun dalam hati.
"Kau kenapa, hyung?" Tanya Junsu akhirnya. Wajahnya terlihat heran dan bingung dengan ini semua.
"Terjatuh dari tangga rumah. Kepalanya terbentur. Ingatan yang hilang sebagian. Tak permanen. Aku mencoba menghubungi Changmin atau Kyuhyun hyung. Tapi tak ada satupun yang mengangkat. Makanya menghubungimu. Dan, aku juga sudah cerita bahwa kau tunangan hyungku.." Jawab Yoohwan menggantikan Yoochun untuk menjawab.
Junsu terkaget dan menatap pada Yoochun. Yoochun hanya tersenyum manis menanggapi wajah Junsu yang berubah kaget dan khawatir.
"Apa aku salah hyung?" Tanya Yoohwan.
"Ah, ani. Kau benar. Mana appa dan umma kalian?"
"Keluar kota. Besok kembali.." Ucap Yoohwan tersenyum senang. "Aku keluar. Kalian mengobrol saja.." Ucap Yoohwan kemudian beranjak pergi menyisakan tatapan aneh dari Junsu untuknya.
"Hey, apa kau mencintaiku?" Tanya Yoohcun tiba-tiba.
"Ke-kenapa bertanya seperti itu?" Ucap Junsu gugup.
"Karena kau mau menjadi tunanganku. Dan aku juga pasti mencintaimu. Buktinya, aku mau menjadi tunanganmu.." Ucap Yoochun tersenyum lebar dan kembali memeluk Junsu.
"Benarkah..?" Tanya Junsu lirih. Dirinya membenamkan wajahnya pada dada Yoochun.
'Benar..'
TBC
.
..
...
kayaknya gag jadi tamat di chapter ini. next chap terakhir ya!
terima kasih udah perhatian ama ff abal saia ini. untuk reader, silent readers... gomawo ^^
sampai jumpa di next chap
pyonggg~
