Tittle :
Tomorrow, Will You Be Mine?
Author : BlaueFee
Part : 8/8 *END*
Pairing : Yoosu, slight!Yunjae, slight!Changkyu, slight!Sichul
Rate : T
Genre : Romance, Brothership, Friendship, Failed Angst, Hurt Cumfort
Warning : Yaoi, Boys Love, BoyXBoy, Typos.
Disclaimer : Semua yang ada disini murni milik diri mereka sendiri dan Tuhan. Cjes Ent & SM Ent memiliki mereka.
Summary :
Aku berharap, saat besok aku membuka mata, kau adalah milikku
Dan aku adalah milikmu.
Apa itu terlalu berlebihan ?
. . .
"Selamat pagi.." Ucapan Yoochun berdengung ditelinga Junsu. Memejamkan matanya lagi, seolah yang terjadi tadi hanya sebuah bunga mimpi. Junsu mendekap balik tangan yang memeluknya dari belakang. Dan suasana hening yang nyaman melingkupi mereka. Sejurus kemudian mata Junsu melotot dan nafasnya terdengar kasar. Perlahan matanya mengarah kebawah. Pada sebuah tangan yang memeluk pinggangnya hangat. Pada lengan yang berada dibawah kepalanya. Junsu terdiam sejenak, lalu dengan kecepatan kilat ataukah cahaya Ia turun dari ranjang dan berbalik menatap orang yang telah memeluknya sedari tadi. Atau sedari tadi malam?
"Kenapa kaget begitu Su-ie?" Tanya Yoochun tertawa melihat kelakuan Junsu yang sedang terlihat panik. Junsu melengokkan kepalanya kekiri dan ke kanan. Mencoba untuk mengenali dimana keberadaannya kini. Dan sesaat kemudian Ia teringat tentang yang terjadi kemarin sore. Yoochun. Ingatan. Dan berakhir dengan Junsu yang menemani Yoochun semalaman di rumah sakit. Ah, wajah Junsu memanas jika mengingat semalam Ia tidur seranjang bersama Yooochun. Yah, walau hanya ranjang rumah sakit yang lumayan—tidak muat bagi mereka berdua. Karena itukah, Yoochun dan Junsu tidur berdempetan? Ah, atau di perhalus dengan—Yoochun yang tidur sambil memeluki tubuh Junsu.
Junsu mendekat pada Yoochun kembali saat dengan gerakan memerintah, Yoochun menyuruh Junsu untuk mendekat padanya. Junsu duduk di tepi ranjang rumah sakit dan Yoochun yang duduk bersandar di kepala ranjangnya.
"Hari ini aku akan keluar dari rumah sakit. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Tanya Yoochun pada Junsu yang memandangi wajah paginya. Ah, Junsu pertama kali ini melihat bagaimana rupa Yoochun jika terbangun dari tidurnya. Tetap memikat.
"Tapi hyung masih sakit. Sebaiknya istirahat saja.." Ucap Junsu seakan cemas dengan keadaan Yoochun. Ah, dia juga ingat bahwa sekarang harus menemani Jaejoong dan Heechul ke salon. Ck, besok sudah pernikahan Siwon dan Heechul ternyata.
"Tadi pagi aku sudah bertanya pada dokter yang datang memeriksa. Aku baik-baik saja. Dan terlihat semakin baik jika kita hari ini pergi berdua. Nee?" Yoochun memeluk Junsu dari belakang dan menyentuh pipi kanan Junsu dengan tangan kanannya. Menghadapkan wajah Junsu kesamping kiri, tepat di depan wajah Yoochun. Yoochun menumpu dagu runcingnya pada bahu Junsu. Memasang wajah memelas yang sangat aneh. Ini pertama kalinya Ia memohon pada orang lain. Ck, susah ternyata jika kau tak terbiasa memohon.
"Umm.." Junsu mengangguk samar tanpa sadar karena terpengaruh oleh bidikan mata hangat Yoochun yang menatapnya intens. Yoochun tersenyum dan mengecup pipi kiri Junsu sekilas. Oh, dan lihatlah. Sepertinya Yoochun bisa melihat senja hari di kedua pipi Junsu yang sekarang terlihat sedikit tirus.
"Baiklah. Ayo bersiap! Aku akan mandi dulu" Ucap Yoochun semangat dan turun dari ranjangnya.
"Hyung, kepalamu tak apa?" Tanya Junsu sambil menunjuk kearah kepala Yoochun yang diperban. Walaupun ukuran perbannya kali ini tidak seluas kemarin yang mengitari seluruh kepalanya. Kali ini perban tersebut hanya menutup pada bagian luka Yoochun.
"Ah ini.." Yoochun menyentuh pelan perban yang ada dibagian sisi kepalanya. "Sepertinya aku tak akan membasahi kepala dan rambutku. Hehe.." Yoochun hanya nyengir pelan dan beranjak kembali menuju pintu kamar mandi yang tersedia di kamar rawat VIP tersebut. Junsu menghela nafas. Alasan apa yang akan digunakannya untuk menghindari janjiannya bersama Heechul dan Jaejoong nanti? Ah, tangannya menyentuh baju kaos coklatnya. Yoochun sedang mandi, sedangkan Ia tak tahu akan mengganti bajunya dengan apa.
. . .
"Ba-baju siapa?" Junsu memegang ujung baju kausnya dengan risih. Permasalahannya dengan baju ganti tadi sudah terselesai. Dan sebagai gantinya, Ia sudah memakai baju yang dibawakan oleh Yoochun. Junsu bukan mempermasalahkan ukuran bajunya. Bukan, karena ukuran baju mereka hampir sama. Hanya saja…
"Lucu kan? 'Sorry girls, I Love HIM' keke~~ terlihat manis.." Yoochun terkekeh dan membaca deretan kata yang tercetak di bagian depan kaus yang digunakan Junsu.
"Kenapa harus ini? Tak ada baju yang lain?" Yoochun menggeleng sebagai jawaban. Sedangkan Junsu melemas seketika. Oke, dia tahu bahwa dirinya itu gay. Dan tidak menyukai gadis-gadis. Tapi, apa perlu Ia memberi tahukan hal tersebut pada seluruh dunia. Hell, malunya~~
"Sudahlah, kau manis sekali Junsu" Yoochun mencubit pipi Junsu dan menghalau tangan Junsu untuk menarik-narik kausnya tersebut. " Kajja, kita pergi…" Junsu hanya pasrah oleh tarikan Yoochun padanya. Sudahlah, mau bagaimana lagi. Mau pakai baju apalagi Dia jika bukan yang sekarang dipakainya ini.
"Yang pertama, kau mau pergi kemana Su-ie?" Tanya Yoochun saat mereka sudah di dalam mobil. Junsu duduk di depan stir, sedangkan Yoochun duduk di kursi penumpang depan.
"Terserah hyung saja.."
"Uh, tidak asyik. Kau yang menentukan.." Ucap Yoochun memoyongkan bibir bawahnya kehadapan Junsu. Junsu hanya tersenyum kecil masih fokus menyetir.
"Karena aku tidak tahu tempat yang bagus untuk jalan-jalan.."
"Apa? Kau pembohong Kim Junsu. Pasti kau sudah sering jalan-jalan bersama kekasihmu.."
"Aku belum pernah pacaran. Kau yang pertama.." Junsu kembali tersenyum dan menatap Yoochun sekilas. Hanya sekilas, takut konsentrasinya buyar menyetir. "Lagipula, selama kita jalan hyung hanya mengajakku ke mall, toko dan restauran. Dan aku…"
'…tidak pernah kau perhatikan. Kau sibuk menebar pesona kepada para gadis' Sambung Junsu dalam hati.
"Dan apa?" Kening Yoochun menyerngit melihat ekspresi wajah Junsu yang mengeras.
"Dan aku, tidak terlalu suka tempat seperti itu. Heheh.." Yoochun hanya mengangguk. Keningnya sedikit mengerut akan tempat tujuan mereka. Sial, Yoochun hanya membuat rencana kencan. Tapi tak tahu tempat tujuan kencannya. Lagipula, dia buta dengan tempat kencan pasangan kekasih yang sebenarnya itu seperti apa. Biasanya dia hanya kencan di restaurant, mall dan club. Hah~ apa dia mesti bertanya pada Yoohwan. Memalukan sekali~~
"Hyung, bagaimana kalau kita ke Jies Glass? Heechul hyung bilang tempatnya sangat bagus. Aku penasaran dengan taman bawah lautnya. Aku belum pernah kesana. Otte?" Junsu membuat ekpresi secerah mungkin. Yah, sedikitnya sanggup membuat Yoochun tertolong dengan tempat tujuan kencan mereka. Setidaknya dia tidak akan mendapat malu jika sampai harus bertanya pada Yoohwan. Ck, kali ini aku selamat batin Yoochun.
"Baiklah… terserah kau saja "
. . .
"Su-sudah kubilang untuk mengganti baju lain saja kan.." Ucap Junsu memerah. Sedangkan Yoochun hanya tersenyum geli melihat wajah malu Junsu.
"Haha.. sudah kubilang juga kan kau terlihat manis memakainya.."
"Tapi semua orang melihat kearah kita. Dan, bisa kau lepas genggaman tanganmu hyung? Aku merasa risih ditatap seperti ini.." Yoochun tak mau mengalah. Tangan kirinya masih menggenggam erat tangan kanan Junsu. Malah merapatkan tubuhnya di tubuh Junsu.
Oke, sekarang mereka sedang dalam antrian untuk memasuki taman bawah laut. Tujuan awal kencan mereka kali ini. Sebenarnya Yoochun ingin tujuan mereka yang ini di letakkan di akhir. Tapi, memang dasarnya Junsu itu keras kepala seperti Jaejoong ataupun Heechul. Jadi, dia akan memasang wajah masam sepanjang waktu jika keinginannya tak di penuhi. Dan yang membuat Junsu risih sedari tadi adalah tatapan aneh pengunjung padanya dan cekikikan-cekikikan yang sanggup membuat Junsu merinding saat pengunjung lain melihat kearahnya dan Yoochun yang terlihat intim. Oke, tidak intim sepertinya jika hanya bergandengan tangan dan tubuh Yoochun yang merapat padanya. Tapi tetap saja, Junsu tidak pernah melakukan skinship sedekat ini sesbelumnya kecuali dengan keluarganya sendiri.
"Hey, sudah giliran kita. Cepat masuk.." Yoochun mendorong bahu Junsu pelan untuk berjalan. Memasuki sebuah kapal selam bersama pengunjung lainnya. Menunggu sekitar 5 menit, kapal tersebut bergerak. Junsu melepas genggaman tangan Yoochun sepihak dan mulai pergi ke bagian sudut kapal selam yang dilapisi kaca tebal. Junsu dapat melihat berbagai tumbuhan dan hewan laut dari sudut tersebut. Tidak kalah indah dengan laut aslinya. Ya, taman laut buatan. Semua yang ada disini memang buatan. Tapi tentu dengan tumbuhan dan hewan asli. Tidak mungkin itu ikan karet dan terumbu mainan-_-
"Ah, kenapa tidak ada pohon kelapanya.." Ucap Junsu setengah ngelantur. Telunjuknya mengetuk-ngetuk pintu kaca. Seperti ingin mengusir ikan-ikan yang bermain di sekitaran kaca.
"Kelapa?" Ucap Yoochun cengo. Kenapa harus ada kelapa di dalam laut? Mungkin di pasir di atas permukaan laut Junsu baru boleh(?) menanyakan kelapa. Tapi, di dalam laut?
"Hehe…" Junsu hanya mengusap tengkuknya samar. Ternyata Yoochun mendengar ucapannya. Yoochun hanya tersenyum tipis melihat Junsu yang kembali melihat kearah kaca. Memperhatikan beberapa ikan yang sibuk berlari kesana-kemari. Yoochun berdiri tepat di belakang Junsu dan meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Junsu yang memegang kaca. Membuat Junsu sedikit terkaget. Hanya hening. Hingga beberapa saat kemudian kepala Yoochun menumpu di atas kepala Junsu. Menutup matanya dan menghirup bau shampoo Junsu. Ah, begitu tenang. Kencan seperti ini lebih asyik dari pada berbelaja, makan di restaurant mahal atau sekedar menghabiskan malam di pub. Yoochun pertama kali merasakan kencan yang seperti ini.
"Aku baru pertama kali merasakan kencan yang seperti ini.." Junsu mengernyit. Sepertinya ada yang aneh. Tapi apa ya?
"Aku juga. Tapi, aku sering mengganggu acara kencan Jae hyung, Heechul hyung ataupun Kyunnie dan Changmin. Hehe.." Junsu terkekeh. Tapi kemudian Ia terdiam. "Ani. Aku tidak mengganggu mereka. Kan mereka yang sering mengajakku. Hem, benar seperti itu.." Junsu mengangguk-ngangguk mantap. Seperti baru saja memecahkan kasus yang sangat sulit-_- Yoochun hanya terkekeh geli. Lihat, siapa yang bicara sendiri dan menyangkal kembali kata-katanya?
"Ah, kajja.." Yoochun menggenggam tangan Junsu kembali saat kapal yang mereka naiki berhenti dan sebagian pengunjung lainnya bergegas keluar. Baiklah, kemana selanjutnya~?
"Kita lihat cerry blossom?" Ucap Yoochun.
"Hee? Sekarang belum musim semi hyung. Mana ada cerry blossom yang mekar.." Ucap Junsu skeptis.
"Tuh, katanya ada.." Bibir Yoochun monyong kearah sebuah papan reklame besar di samping peta taman. Disana terlihat jelas tentang taman cerry blossom. Yoochun hanya membaca saja.
"O-ohh.." Junsu hanya tersenyum kaku setelah melihat papan tersebut. Yoochun melihat papan tersebut dengan seksama. Mencoba membaca peta dimana taman cerry blossom itu terletak. Setelah cukup yakin Yoochun kembali menarik tangan Junsu untuk mengikutinya. Sepanjang perjalanan di penuhi oleh percakapan sepihak oleh Yoochun. Yoochun berubah menjadi cerewet dan mencerikan tentang dirinya. Tentang hal umum mengenainya dan sedikit hal pribadi mengenai hidupnya. Sebenarnya Junsu tak meminta Yoochun untuk bercerita, tapi Yoochun mengelak bahwa Ia hanya ingin berbagi dengan Junsu. Yah, sesekali Junsu menanggapi jika ada ucapan Yoochun yang membuatnya menarik. Selebihnya hanya kebiasaan-kebiasaan Yoochun yang ditanggapi malas oleh Junsu. Kebiasaan Yoochun SUDAH BISA TERTEBAK oleh Junsu. Beberapa waktu dekat dengan pria dandy ini membuat Junsu sudah akrab dengan kebiasaan Yoochun.
"Indaaahh~~~" Junsu memekik tertahan tanpa tahu telah mencengkeram tangan kiri Yoochun begitu kuat. Yoochun meringis namun tidak menghentikan kegiatan Junsu yang bisa melukai tangannya. Dia hanya sibuk mendengarkan tawa renyah Junsu ketika melihat warna putih dan merah muda mendominasi penglihatan mereka. Ya, cerry blossoom yang bermekaran. Padahal belum musim semi. Tapi, kenapa bunga yang identik dengan sakura ini sudah bermekaran.
"Haaah~~ Kenapa dilapisi kaca sih? Aku kan ingin menyentuhnya.." Junsu mengetuk lapisan kaca yang menutupi bunga-bunga tersebut. Membuat sedikit kecewa karena Ia ingin sekali menyentuh bunga-bunga yang jatuh berguguran di tanah.
"Mungkin memang sengaja. Karena bunganya mekar di waktu yang tidak seharusnya.." Tanggap Yoochun ketika melihat bagian paling atas kaca tersebut ada seperti kaca persegi delapan yang banyak dengan bagian besi yang menutupi bagian paling tinggi bunga tersebut. Sepertinya pelindung. Junsu mengangguk dan kembali berjalan menyusuri taman. Berjalan diantara dua sisi kiri dan kanannya di tumbuhi cerry blossom yang bermekaran dalam kaca. Ah, sangat indah. Tapi tetap saja, Ia tak bisa menghirup wangi dari bunga tersebut. Ck, kaca menyebalkan~
"Setelah ini kita makan siang, ne? Sudah jam segini.." Yoochun berlari mengejar Junsu dan menyamai langkahnya. Melihat jam di pergelangan tangannya. Junsu hanya mengangguk patuh dan menikmati perjalanan mereka.
. . .
Entah ini layanan untuk pemuda manis seperti Junsu, atau layanan spesial tempat ini. Tapi ini terasa gila dan menyenangkan. Junsu dan Yoochun hanya duduk di salah satu bangku taman namun, beberapa orang segera tiba dengan membawa berbagai makanan dan melayani mereka. Dan sebuah meja kayu segi empat mini sudah berada dihadapan mereka, dengan makanan yang tersaji. Junsu hanya terdiam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Yoochun memanggilnya. Dengan cekikikan ringan dan sentuhan lembut pada jemari Junsu yang berada di atas meja. Oh, ini bodoh. Bahkan beberapa orang berhenti beraktivitas guna melihat apa yang di lakukan Junsu dan Yoochun.
"Mari makan.." Yoochun memegang garpu dan sendoknya. Sedangkan Junsu masih menatap hidangan di depannya tersebut.
"Wae?" Yoochun menghentikan suapannya dan mengambil serbet di sisi kanannya. Membawa serbet tersebut di depan mulutnya dan membersihkan bibirnya dari sisa-sisa makanan. Sangat elegant. Khas bangsawan. Oh tidak. Konglomerat.
"Katanya kau lapar. Makanya aku menyuruh orang-orangku mengantarkan kita makanan.."
"Tapi kurasa kau tahu hyung, di samping pintu masuk ada berbagai café untuk kita datangi.."
"Well, aku lapar sekarang.." Yoochun hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. Sedang Junsu hanya menghela nafas dan memulai apa yang dilakukan Yoochun.
"Setelah ini aku ingin ke pantai, lalu kita akan bermain layangan di bukit. Ah, aku juga ingin melihat permainan lampu dan kembang api di pinggiran Sungai Han. Mungkin hari ini kau akan pulang telat. Ah, bagaimana kalau besok pagi kita bersepeda. Di dekat kampusku ada taman yang bagus. Lalu…"
"Oke stop! Kita bisa melakukannya nanti. Hyung, besok Heechul hyung menikah dengan tunangannya. Jadi aku tak bisa bermain sepeda denganmu besok pagi.."
"Heechul hyung siapa?"
"Kakak sepupuku hyung. Kalian pernah bertemu. Ah, kau tak ingat ya?" Ucap Junsu mengangguk-angguk. Sedangkan Yoochun juga ikut mengangguk.
'Tidak ingat bagaimana. Pukulannya sangat dahsyat!' Yoochun memegang sekilas pipinya.
Well, jika kali ini kau salah langkah sedikit saja, mungkin bukan hanya tangan Heechul yang mendarat di pipimu. Heechul bisa saja menggantung tubuhmu di puncak patung Liberty, Sulung Park. Yoochun bergidik.
. . .
Next Day
Pada akhirnya, hari pernikahan Siwon dan Heechul datang juga. Heechul mondar mandir di ruangannya. Sesekali menggigit kuku-kukunya atau menggerutu tidak jelas. Sedangkan Changmin dan Kyuhyun yang melihat kegelisahan Heechul hanya tertawa cekikikan.
"Aish hyung, berhenti bertingkah seperti itu.." Ucap Jaejoong malas pada kakak kandungnya itu. Sedangkan Heechul sama sekali tak mengindahkan perkataan adik satu-satunya tersebut.
"Su, kenapa kau ada disini? Kau tak pergi bersama si jidat itu?" Heechul mengalihkan pembicaraan saat melihat Junsu yang asyik bicara bersama Changmin dan Kyuhyun.
"Hmm, tidak. Sesuatu terjadi. Makanya Yoochun hyung tidak bisa datang.." Jawab Junsu dan tersenyum pada Heechul.
"Ish, untung dia tak datang. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak melemparinya dengan kursi.." Kata Heechul ketus. Sedangkan Kyuhyun cekikikan mendengarnya. Junsu hanya menghelas nafas. Apa Heechul akan tetap memukul kepala Yoochun jika tahu keadaan Yoochun sekarang. Oh tidak, berhenti bersikap polos Junsu. Yoochun itu…
"Chulli-ah, kau sudah siap?" Appa Heechul datang mengulurkan tangannya pada anak sulungnya tersebut. Heechul hanya memandang gugup tangan besar appanya. Heechul mengedarkan matanya pada para dongsaengnya. Seolah meminta sebuah kekuatan. Jaejoong mendekat dan mendorong tubuh Heechul kehadapan appanya tersebut.
"Semoga berhasil hyung.." Jaejoong berbisik pelan sebelum memeluk Heechul dari belakang. Memeluk erat kakak kandungnya tersebut. Untuk beberapa saat Junsu, Changmin, Kyuhyun bahkan appa Kim membiarkan kedua kakak beradik itu dalam posisi tersebut.
"Joongie… lepas, kemeja hyung bisa kusut.." Heechul melepas pelukan Jaejoong dari tubuhnya. Ucapannya terdengar dingin tapi matanya sudah mengembun. Jaejoong mengerti dan tersenyum untuk kakaknya tersebut.
"Akhirnya aku sendirian akan berkuasa di rumah. Yeayyy!" Jaejoong memekik senang membuat Heechul menjitak kepala adiknya tersebut. Namun tak urung Ia tersenyum lembut menatap adik kandung yang juga mewarisi kecantikan umma mereka.
"Aku akan sering-sering pulang kerumah untuk mengawasimu.." Heechul melangkah pergi bersama sang Appa. Membuat Jaesuchangkyu bergegas menuju ke tempat pemberkatan Heechul dan Siwon segera.
"Aku tak yakin Heechul hyung akan sering-sering datang kerumahmu hyung.." Ucap Kyuhyun dalam perjalan menuju tempat Siwon dan Heechul sebentar lagi mengucap janji suci.
"Wae?" Tanya Jaejoong penasaran.
"Memangnya kau pikir apa yang akan dilakukan kuda pervert ketika hanya tinggal dirumah mewah berdua saja dengan istri cantiknya?" Timpal Changmin menaik-turunkan alisnya.
"Tahanan kamar…" Ucap Jaejoong lirih. Dalam hati Jaejoong berdoa untuk keselamatan kakaknya tersebut. Tanpa menimang dan memikir kepada kekasihnya sendiri. Hello, Siwon itu sahabatnya Yunho. Kau pikir penyakit pervert itu tidak menular. Bahkan kekasihmu sendiri yang menularkannya pada 'pendeta' itu Kim Jaejoong.
Jaejoong, Junsu, Kyuhyun dan Changmin tiba di tempat tujuan. Jaejoong mendekati ummanya dan duduk di barisan depan. Diikuti Junsu yang segera mendekati bumonimnya. Sedangkan Changkyu mengekor di belakang mereka. Yunho terlihat sedang berbincang di depan altar bersama Siwon di temani Kangin. Huft, sepertinya Siwon juga sangat gugup dengan pernikahannya.
"Siwon, kau ceritakan malam pertama mu nanti ya.." Yunho menyeringai menatap Siwon yang terlihat malu.
"Ck, aku tak yakin nanti malam adalah malam pertama mereka.." Ucap Kangin menimpali. Sedangkan Siwon memberikan deathglare andalannya pada KangIn. Tapi tak mempan.
"Memang tidak. Tapi malam pertama sebagai suami-'sitri'. Haha…" Yunho nyengir melihat Siwon yang menatapnya dengan sangar. Aish, wahai kawan-kawanku yang terhormat, Siwon sedang gugup sekarang. Jangan tanyakan tentang malam pertama.
"Ah, sepertinya acara akan segera dimulai.." KangIn menarik tangan Yunho agar duduk di bangku yang tersedia. Sedangkan Yunho hanya memberi semangat pada Siwon dengan mengepalkan tangannya keatas. Ck, kekanakkan.
Siwon bergetar. Tubuhnya seolah kaku. Ia hanya menghadap ke depan. Dimana ada seorang pendeta tua dihadapannya. Tak lama suasana yang tadi senyap menjadi sedikit ribut. Siwon membalikkan badan. Hatinya berdesir kecil. Di ujung jalan sana, belahan jiwanya sedang berjalan dengan anggunnya bersama sang Appa. Untuk beberapa waktu, Siwon hanya mampu terpaku melihat bagaimana cantiknya calon istrinya tersebut. Bukannya sebelum ini Heechul tidak cantik. Bukan. Tidak. Oh tentu saja tidak. Heechul selalu terlihat cantik. Indah malah. Tapi, hari ini Heechul sejuta kali terlihat lebih indah, mempesona.
"…Choi, kau tidak mau menikahi anakku?" Lamunan Siwon terhenti saat Ia tersadar Heechul dan calon mertuanya kini telah sampai dihadapannya. Appa Heechul menatap Siwon tajam yang ketahuan melamun. Sedangkan Siwon hanya meringis kecil meresponnya dan dengan segera menyambut uluran tangan Heechul yang diberikan Appa Kim. Appa Kim segera bergabung bersama Istri, anak dan keluarganya yang lain.
"Hihihi~ Dasar pabbo~" Heechul tertawa cekikikan melihat tingkah Siwon tadi.
"Jangan tertawa baby. Jika tidak kau akan merasakannya nanti…" Siwon menyeringai menatap Heechul. Sedangkan pria cantik tersebut terlihat acuh dan sedikit menjulurkan lidahnya pada Siwon. Membuat pendeta di depan mereka menggeleng pasrah. Ah, masa muda memang menyenangkan~~
Pernikahan Siwon dan Heechul berjalan dengan lancar dan err sedikit AGAK pervert. Bayangkan, Siwon mencium Heechul di depan para tamu undangan sekitar 6 menit. Hey, ayolah 6 menit cuma sebentar. Yeah, jika ini hanya tentang mereka berdua maka mereka bebas melakukannya berapapun waktunya. Tapi, ini live! Disaksikan berpuluh pasangan mata yang tidak hentinya melototkan matanya. Belum lagi acara pernikahan tersebut di siarkan langsung di berbagai siaran TV nasional. Lagipula ciuman ini hanya simbol. Choi Siwon sudah tidak sabar ternyata!
"Junsu…" Ketiganya menoleh saat mendengar suara khas tersebut. Berbagai macam ekspresi tercetak jelas di wajah Junsu, Jaejoong dan Kyuhyun. Kyuhyun yang memandang innoncent, Jaejoong yang memandang geram dan Junsu yang memandang tak yakin.
"Eh hyung, kenapa bisa ada disini?" Tanya Junsu akhirnya. Yoochun tersenyum dan mendekat pada ketiga pemuda tersebut.
"Tentu saja karena di undang. Kau lupa ya?" Junsu mengangguk setuju. Namun, seperti ada yang terlewat.
"Eh, bukannya hyung tidak ingat. Hyung kan—"
"Ha-ha-ha.. Itu kita bicarakan nanti ne?" Yoochun tersenyum kaku saat melihat wajah Jaejoong yang melototinya. Junsu dengan patuhnya kembali mengangguk walau banyak pikiran yang mengganggunya.
"Kyu, kau bisa ikut dengan Changmin sebentar? Tadi dia mencarimu.." Yoochun menarik ujung rambut Kyuhyun yang lebih tinggi darinya sambil sedikit tersenyum.
"Aish apaan sih, hyung. Dimana Changmin?" Kyuhyun membawa jemari panjangnya menyisir rambut ikal tersebut dengan gaya berlebihan. Padahal tak ada yang berubah dari tatanan rambut tersebut.
"Habis aku rindu melakukannya.. Cepatlah sana. Bersama Yunho hyung.." Yoochun memberi gesture mengusir layaknya bos besar, membuat setidaknya Kyuhyun mendengus sebal. Sepeninggal Kyuhyun, Yoochun menghela nafas kasar. Ada hal yang lebih berat yang akan segera Ia lakukan setelah tadi 'sedikit' berbincang bersama Changmin. Memberi 'penjelasan'—jika tidak ingin dikatakan membicarakan berbagai hal konyol yang tak masuk akal—permintaan maaf. Yah, setidaknya Yoochun dan Changmin tidak terlihat kaku lagi. Soal Kyuhyun nanti saja, toh jika Changmin suadah memaafkannya hanya tinggal sekali sentil saja juga Kyuhyun akan ikut memaafkannya. Nah, sekarang adalah tinggal Jaejoong dan Heechul. Oke, Yoochun perlu banyak kekuatan untuk berbicara dengan Heechul. Makanya Ia lebih memilih untuk berbicara dahulu dengan Jaejoong.
"Jae hyung.."
"Aku bukan hyungmu!" Yoochun menghela nafas. Belum apa-apa dia sudah kena semprot. Sabar Yoochun. Demi wajahmu yang tampan, bukankah kau itu seorang yang cukup penyabar.
"Jaejoong-sshi, ada beberapa hal yang ingin ku katakan. Su, kesini.." Yoochun mengulurkan tangannya kearah Junsu. Dengan agak ragu-ragu dan sedikit melirik kea rah Jaejoong, Junsu menyambut uluran tangan Yoochun. Setelah Yoochun berhasil menempatkan tubuh Junsu disampingnya, mata Yoochun yang tegas menyorot langsung ke wajah cantik Jaejoong.
"Aku tidak akan membatalkan pertunanganku dengan Junsu!" Yoochun mencoba tersenyum walau sedikit takut. Jaejoong melotot dan Junsu hanya terbengong pendengar perkataan Yoochun.
"Hyung, sebenarnya kau kenapa? Hari ini aneh sekali.." Junsu mencoba bertanya setelah beberapa pertanyaan dalam otaknya sedari tadi bertumpuk karena tingkah Yoochun.
"Nanti kita bicarakan, ne? Ada hal yang lebih penting yang ingin ku katakan pada hyungmu ini.." Yoochun kembali memandangi Jaejoong yang memandang mereka dengan tatapan tak mengertinya.
"Maaf jika selama ini aku menyakiti hati Junsu. Bukan Cuma Junsu tapi Jaejoong-sshi dan Heechul-sshi juga. Bahkan Changmin dan Kyuhyun yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri tersakiti tanpa kusadari.." Yoochun menjeda sedikit.
"..Tapi, aku benar-benar mencintai Junsu. Walau seperti terlambat menyadarinya. Aku benar-benar menginginkan kehadiran Junsu disampingku. Bukan hanya untuk sekarang, tapi hingga nanti aku tua. Hingga kami membesarkan anak-anak kami bersama. Hingga rambut kami memutih. Bahkan hingga aku menutup mata, aku hanya menginginkan Junsu berada disampingku" Yoochun memandang wajah Junsu yang sedikit memerah, menyentuh lembut pipi tersebut. Menghadiahkan dengusan kasar dari Jaejoong.
"Lalu? Hanya begitu? Kau pikir dengan ucapanmu itu aku dan Chullie hyung akan dengan mudah memaafkanmu?" Dengus Jaejoong melipat tangannya di depan dada.
"Aku tahu. Aku hanya ingin mengatakan apa yang ingin kukatakan. Walaupun Jaejoong-sshi dan Heechul-sshi membenciku, aku tak akan membatalkan pertunangan dengan Junsu" Yoochun tersenyum senang dengan perkataannya sendiri. Namun, senyum itu tak berlangsung lama.
"Yah. Kau bisa berkata seperti itu. Tapi, apa kau yakin pertunangan tidak dibatalkan jika kedua orang tua kalian tahu. Terlebih orang tua Junsu. Junsu itu anak tunggal, dan sangat dimanja orang tuanya. Kau menjamin hal itu, Park?" Jaejoong tersenyum meremehkan melihat wajah Yoochun yang sedikit pucat.
"Dan Junsu. Apakah kau dengan mudahnya memafkan orang ini. Dia hanya pria brengsek tak tahu diri. Menjauh darinya sebelum kau terluka lebih jauh!" Jaejoong menarik tangan Junsu dan menempatkan tubuh Junsu dibelakang tubuhnya.
"Tu-tunggu dulu. Jae hyung!"
"Aku bukan hyungmu!" Jaejoong masih terus melangkah menyeret kakinya dan terus menarik Junsu untuk mengikutinya. Sedangkan Yoochun masih tergesa dibelakang mereka mengikuti. Oh damn, dia tak berpikir sejauh itu.
"Boo, lepaskan Junsu-ie…"
. . .
Keluarga Yoochun dan keluarga Junsu sedang bicara dengan seriusnya. Sehingga ketiga pemuda yang merupakan keturunan Park dan Kim tersebut terpaksa berkumpul di tempat lain. Tak ingin mengganggu, Yoohwan lebih memilih pergi ke kamarnya dari pada menjadi orang ketiga pasangan Yoosu.
Sedangkan Junsu dan Yoochun masih terdiam sedari tadi. Sedikit canggung untuk memulai pembicaraan setelah beberapa hal yang mereka lalui. Apalagi sedari tadi Junsu lebih memilih menikmati pemandangan malam taman mawar milik umma Yoochun. Yah, menghirup wangi mawar sedikit membuatnya tenang, walaupun sedikit terasa aneh. Junsu kurang menyukai bunga berbau menyengat tersebut.
"Hmm.. Su, kau ingin pertunangan nanti diadakan dimana?" Yoochun mencoba membuka pembicaraan setelah lama terdiam.
"Hemm, biarkan umma dan appa saja yang mengatur.." Ucap Junsu menjawab pertanyaan Yoochun. Yoochun hanya mengangguk dan memikirkan pertanyaan lagi dalam otaknya.
"Ah, apa kau akan mengundang teman-temanmu? Aku akan mengundang banyak temanku agar tahu kalau aku mempunyai tunangan manis sepertimu. Hehe.." Junsu sedikit terperangah mendengar ucapan dan melihat angel smile milik Yoochun. Junsu hanya mengangguk setuju.
"Ne. karena aku baru 2 tahun di Korea jadi teman yang diundang hanya sedikit. Lalu aku akan mengundang teman baikku waktu di Jepang. Hyung ingat Hyukkie yang kuceritakan tempo lalu kan? Ah, aku kangen sekali dengan monyet satu itu~" Junsu menerawang dan mengatup kedua tangannya di depan dada. Mencoba melintasi sedikit demi sedikit kenangan bersama dengan Lee Hyukjae, temannya sedari masih kecil. Saat Hyukjae lebih memilih banyak bermain saat Sekolah Dasar, Junsu akan lebih memilih mengikuti banyak lest. Saat marahnya Hyukjae sewaktu Junsu melakukan akselerasi. Padahal harusnya waktu itu mereka pertengahan kelas satu SMP. Tapi Junsu sudah berlari ke kelas satu SMA. Dan juga kejengkelan Junsu yang acara berdua dengan sahabatnya tersebut selalu di ganggu oleh manusia ikan kekasih Hyukjae. Juga bagaimana Hyukjae lebih memilih berlatih menari bersama Donghae dari pada lest vocal bersama Junsu. Percayalah, Hyukjae hanya bisa membawakan rap-_- Dan jangan lupakan tentang tangisan histeris Hyukjae sewaktu mengantar Junsu di bandara Narita Jepang saat ingin kembali ke Korea. Hyukjae bahkan tak mau melepaskan pelukannya pada tubuh Junsu waktu itu.
Oh oke, cukup mengenang persahabatannya. Kita lihat pria dandy disebelah Junsu yang masih saja memandang kearah Junsu yang terus melamun. Dalam kelembutan, Yoochun membawa tangan kanan Junsu kedalam kepalan kedua bilah tangannya. Membuat Junsu tersentak kecil dan menatap Yoochun bingung.
"Waegurae hyung?"
"Anni. Hanya tidak enak saja saat kau mengabaikanku.."
"Ah, mianhae. Aku hanya teringat dengan Hyukki.." Junsu memberi tampang menyesal yang sangat imut dihadapan Yoochun. Ah, sepertinya Yoochun sudah tak sabar lagi.
Srett
"Eh?" Yoochun menyeret Junsu agar lebih dekat dengannya. Sekilas memandangi wajah Junsu yang dialiri warna merah. Darah berkumpul tepat di kedua belah pipi yang kini sudah kembali gembul tersebut.
"Gomawo sudah memaafkanku. Aku tak bisa berjanji apa-apa padamu. Tapi aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia.."
"…hyung.."
Dengan pasti Yoochun membawa jemarinya menarik dagu Junsu. Mengarahkan wajahnya pada wajah tanpa cela milik Junsu. Junsu tak tahu akan apa yang terjadi, tapi matanya mulai menutup seiring dengan dekatnya wajah Yoochun pada wajahnya. Bibir itu menempel. Hanya saling menempel dengan lama. Yoochun hanya mencoba merekam rasa manis yang diberikan bibir Junsu terhadap bibirnya. Ciuman pertama mereka. Walaupun ini bukan ciuman pertama Yoochun—dipastikan ini adalah ciuman pertama Junsu—Ia merasa dadanya bergemuruh dengan kencang saat bibirnya menyentuh bibir lembut tersebut. Yoochun sedikit menggerakkan bibirnya dan terakhir melumat bibir bawah Junsu dengan sedikit kuat. Lalu melepaskan tautan bibir mereka tersebut.
Junsu masih menutup mata dengan wajah yang sudah memerah sempurna. Tak dipungkiri, tercetak jua warna merah di wajah Yoochun walaupun tak kentara. Ah, Yoochun ingin mencobanya lagi.
"Sa-saranghae.." Ucap Yoochun saking gugupnya melihat wajah Junsu yang masih memerah begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan hidung mereka bisa sewaktu-waktu bersentuhan.
"Aku juga… Nado sa-saranghae.." Junsu menggigit bibirnya kuat menahan malu. Ini pernyataan cinta mereka untuk pertama kalinya. Padahal mereka sudah memulai untuk pacaran sekitar 2 minggu lalu. Saat pernikahan Siwon dan Heechul.
"Haha.. lucu sekali~" Yoochun memeluk tubuh Junsu dan sedikit menggoyangkan tubuh mereka. Yoochun menghirup wangi tubuh Junsu. Menghirupnya dalam dan tersenyum setelahnya.
'Gomawoo~~'
END
.
.
.
.
Another Story
Hari sudah pukul 4 sore. Yoochun bergegas ingin pulang dan merasakan empuknya kasur miliknya jika saja Yoohwan tidak memintanya membelikan sesuatu dulu. Alhasil, Ia harus singgah dulu ke minimarket yang buka 24 jam dekat kampusnya.
Yoouchun bergegas menuju mobilnya saat sang adik terus saja mennghubunginya. Meminta pesanannya segera datang. Ck, tak tahukah kau Yoohwannie, hyungmu ini sangat kelelahan. Yoochun sibuk menenangkan adiknya diseberang telpon dan menunduk memeriksa belanjaannya tanpa melihat arah jalan hingga—
Brukk!
-menabrak sesuatu—seseorang—yang berjalan hendak berbelok kearahnya.
"Ah, mianhae. Aku terburu-buru" Ucap Yoochun tanpa melihat si penabrak—atau yang ditabrak. Dirinya sibuk memunguti belanjaannya yang tercecer di lantai parkiran minimarket.
"Ah, gwenchana" Ucap seseorang itu. Dirinya turut membantu Yoochun membereskan belanjaannya. Setelah semua dirasa sudah terkumpul, orang tadi—lelaki—langsung memberikannya pada Yoochun. Yoochun menerima sebagian belanjaannya tersebut dari tangan pria tadi.
"Gomawo^^" Ucap Yoochun sambil memberikan senyuman hangatnya yang dapat meluluhkan hati setiap yeoja di dunia ini.
"N-ne" Jawab si pria terbata pada Yoochun.
"Aku pergi dulu. Annyeong" Yoochun bergegas pergi ke mobilnya saat teringat dengan adiknya. Pasti setiba dirumah, telinganya dicecari oleh suara protes adiknya itu. Sekali lagi, Yoochun menghembuskan nafas sebal terhadap adiknya hari ini.
Sedangkan setelah kepergian Yoochun, pria tadi memegang dadanya yang terasa sesak dan juga berdetak dengan kencang. Memberi kenyamanan dan sedikit rasa bergemuruh sakit. Pria tersebut masih memandangi Yoochun sampai memasuki mobilnya dan meninggalkan tempat parkir. Menghilang diantara puluhan mobil lainnya yang memenuhi jalanan. Pria tadi tersenyum saat mengingat ucapan ummanya 'Jika berjodoh kalian akan bertemu lagi..'
Pukul 16.09 KTS , 14 Maret. Junsu jatuh cinta. Cinta pertamanya…
END ( Again )
.
.
.
.
Annyeong~
Huwah, sichul nikah *tebar confetti* #dicekek Hangege.
Itu Yoochun udah mintak maap ama Changmin sebelum bertemu Jaesukyu. Dan juga waktu jae narik Junsu, kan yunho manggil tuh. Yoochun juga udah jelasin ke Yunho tentang kesalahannya. Jadi inti besarnya. Yunho bantuin Yoochun biar Jaejoong maapin Yoochun. Dan juga bantu ngomong ama Heechul yang mungkin juga dibantu Changmin dan Kyuhyun. Kalo diceritain semua bakal panjang.
Nah, Yoochun emang pura-pura amnesia supaya bisa deket sama Junsu. Menebus waktu yang selama ini dia sia-siakan bersama Junsu. Dan waktu pernikahan Sichul, Yoochun ngelamar langsung Junsu di depan orang tua Junsu setelah sebelumnya jelasin semua sandiwaranya pada Junsu secara pribadi.
Nah, yang diatas itu, keluarga Yoochun dan Junsu lagi bicarain soal peresmian pertunangan mereka.
Map cerita flat.
Maaf untuk update yang super telat.
Map buat adegan romantic, lovey dovey atau apalah itu yang sangat kurang. Saia gag bisa bikin seperti ituan, atau gag biasa baca yang begituan. Saia Cuma tahan kalo baca seperti lovey dovey atau romantic moment itu jika di fick YUNJAE ataupun HAEHYUK. Map lagi *bow
Nah, yang another story itu ada di chap pertama. Mungkin udah pada lupa. Itu cerita milik Junsu. Jadi junsu udah jatuh cinta waktu pertama kali lihat Yoochun. Tapi Yoochun gag ingat Junsu. :D
Annyeong ^^
Terimakasih buat semua reviewers, readers, silent readers yang gag nongol. Terima kasih ^^ sampai ketemu lagi
