Hello minna!

Kembali mengingatkan, saya tidak terlalu berbakat. masih banyak kesalahan But i wish you enjoy this chapter! The last chapter... :)

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Shikamaru Nara/Ino Yamanaka

Warning : Too much failure inside, watch out dear! :D


Misty-Eyed

A songfic inspiration "Breathe by Taylor Swift"

.

.

.

Jadi sebenarnya?

Dimanakah Yamanaka Ino—

Apakah dia sakit keras? Apakah dia menghilang? Apakah? Mati—?

Ah, terlalu banyak peluang. Peluang menyakitkan. Peluang-peluang yang muncul diotak cerdas Shikamaru ketika Kiba bilang kalau Ino sudah pergi. Sebelum akhirnya Shikamaru mendengarkan penjelasan Kiba. Penjelasan disore hari itu—yang membuatnya sehancur sekarang. Ingatan tentang sore itu masih segar diotak cerdas Shikamaru. Setiap kata yang dilontarkan Kiba berputar-putar meracuni neuron-syaraf otaknya. Misty-Eyed…

"Gadis bodoh…" Gumamannya sangat pelan. Tersengal-sengal.

Kamarnya yang dipenuhi asap rokok itu terlihat sangat menjijikan. Bau rokok, alkohol dan amis darah. Sampah, pecahan beling, dan puntung-puntung rokok yang menghitam tergeletak bertaburan begitu saja. Baru satu hari. Satu hari. Bagaimana caranya dia bisa meneruskan hidup seperti ini?—Bagaimana caranya dia tetap hidup jika dia terus-menerus meracuni tubuhnya?

Pria malang itu akan berkata—'Salahkan saja, gadis bodoh itu'

Lagi-lagi Shikamaru teringat ucapan Kiba. Tentang kebodohan gadis itu. Tentang gadis bodoh bermarga Yamanaka itu. Gadis terbodoh didunia—yang menyebalkan, merepotkan dan keras kepala. Tapi kau menyukainya kan?—haha, pria yang sama bodohnya itu pasti akan menjawab mendokusai jika diberi pertanyaan tipikal macam itu. Gadis itu berhasil melukainya dalam. Sangat dalam…

Sore itu, saat Kiba memberikannya surat lusuh dari Ino. Sore itu, ketika dia tahu kemana Ino pergi. Sore itu ,dimana dia kecewa. Pada gadis itu apalagi pada dirinya sendiri…

.o0O0o.


I see your face in my mind as I drive away,
Cause none of us thought it was gonna end that way.
People are people,
And sometimes we change our minds.
But it's killing me to see you go after all this time.


.o0O0o.

"Kau cukup katakan padaku, dimana Yamanaka Ino ?"

"Dia sudah pergi—

Shikamaru terbelalak. Mata tajamnya membulat. Ucapan samar Kiba membuatnya sulit untuk bernafas. Apa ini?—Pria berbau anjing itu memang terkadang suka mengada-ada. Tapi kali ini wajah pria bertato taring merah itu terlihat serius. Apalagi—Inuzuka Kiba ini jelas-jelas pernah menyatakkan perasaannya pada Ino. Jadi, tak mungkin rasanya Kiba bermain-main dengan ucapannya—mengenai Ino. Kiba menatap tanah sesaat, kemudian menatap Shikamaru bagaikan menantangnya.

"Ulangi perkataanmu !" Tegas Shikamaru tanpa mengalihkan pandangan tajamnya pada Kiba.

"Aku bilang Ino Yamanaka sudah pergi. Ke suatu tempat—Ah sudahlah. Ini ambil, aku tidak mengerti kenapa Ino begitu peduli pada pria munafik dan egois sepertimu."

Shikamaru dapat mencium kecemburuan pada setiap ucapan Kiba. Tapi, dia tidak peduli. Karena Ino itu adalah miliknya. Miliknya?—tentu saja, perhatian gadis itu jelas sekali dimata Shikamaru. Otak encernya dengan mudah membaca perasaan Ino untuknya. Tidak peduli atas nama sahabat atau omong-kosong apapun itu. Jelas sekali, dimata Shikamaru kalau Ino terlalu naif untuk terlalu baik padanya. Dan jelas sekali—gadis itu menyukainya. Percaya diri sekali?—mungkin saja itu benar.

Tangan Shikamaru dengan cepat mengambil kertas lusuh itu dari tangan Kiba. Membukanya perlahan. Tulisan tangan indah itu—milik Ino, isinya:

"Aku pergi ya ! hehe tetaplah tersenyum bagi siapapun yang membaca surat ini. Ah! aku benar-benar akan merindukan kalian semua. Apalagi Shikamaru bodoh! Aku akan merindukan kata 'mendokusai' darimu. Ah, aku harap kau juga merindukanku. (kalau kau tidak melakukannya aku akan terus datang ke mimpi burukmu lho). Oh ya! Aku pergi ke-suatu-tempat yang akan membuatku semakin kuat. Aku lelah disini terus. Membosankan! Ah ya, orang-orang menyebut tempat itu Misty-Eyed. Aku akan kesana dan menemukannya—

"BODOH!" Tiba-tiba saja Shikamaru berteriak. Misty-Eyed, tempat itu—

Hey, aku serius! Hehe, aku akan menjadi sangat-sangat kuat nantinya. Dan aku pasti akan jadi wanita paling bahagia didunia. Kuharap, tidak akan ada lagi perang, ataupun pertumpahan darah, perkelahian dan semacamnya disana. Karena aku sudah lelah menghadapi kehilangan. Aku harap suatu saat nanti kita akan bertemu. Tapi aku rasa bukan disini—"

Shikamaru terdiam. Sedikit ketakutan untuk melanjutkan membaca. Misty-Eyed? Ah, ibaratnya seperti Aokigahara fana. Tempat bodoh yang mustahil dan angker. Ah…Matanya mengadah kelangit kelam Konoha. Menahan air-matanya. Jujur—tidak ada yang menyedihkan dari surat itu. Bahkan terlihat seperti surat lelucon orang yang main-main. Tapi bukankah Ino memang seperti itu—Shikamaru berani bertaruh, gadis itu menulis surat ini dengan linangan air mata. Gadis palsu itu. Bahkan bakat palsunya pun dituangkan pada surat sejenis perpisahan ini. Bodohnya adalah keinginan gadis itu untuk menemukan Misty-Eyed. Konyol!—Konyol? Kalau konyol kenapa air matamu tak berhenti menetes?—Entahlah.

Kiba tiba-tiba menepuk pundaknya pelan. Memberinya kekuatan. Shikamaru hanya terdiam, melanjutkan untaian kalimat bodoh dari nona Yamanaka itu…

ya, bukan disini, bukan diKonoha, atau disana-disitu-sebelah-kanan-sebelah-kiri! Haha..pokoknya bukan disini. Aku sudah sangat lelah, lelah, lelah, (Sudah kelipatan triple loh). Haha, payah ya? Aku memang payah kok, tapi tetap terlihat hebat dan cantik kan?... Pokoknya, siapapun disana yang membaca ini, tetaplah tersenyum. Jangan pernah mencariku ya! Karena aku juga sedang mencari Misty-Eyed itu. Mendapatkan apa yang kuinginkan dan berharap akan kebahagiaan kalian. Oya untuk Shikamaru—aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku tahu aku ini menyebalkan. Kupastikan kau akan bangga padaku nanti. Dan aku ingin pria sok jenius sepertimu untuk bangkit! Semangat!. Tidak ada gunanya menggali masa lalu jika itu hanya akan melukaimu. Ah, sudah ya, sampai jumpa! Semoga nanti suatu saat, kita akan bertemu. Menemukan Yamanaka Ino yang kuat !"

Air mata. Mata Shikamaru terus memproduksi cairan bening itu tanpa henti. Hal yang pantang ia keluarkan ditempat umum. Bahkan ia menahan mati-matian airmatanya, saat tahu ayahnya—dan ayah gadis itu meninggalkannya ditengah perang. Tapi kali ini—air mata itu keluar dengan sendirinya. Hatinya mati-matian menahan diri. Tapi matanya tidak sanggup lagi.

Misty-Eyed…

"Misty-Eyed itu tidak ada, Shikamaru," Tiba-tiba Kiba bersuara. Serak dan menyesal. Mata tajam Shikamaru tetap terfokus pada surat lusuh itu. Otak jenius Shikamaru berderak cepat, neuron-neuronnya melaju secepat kilat. Bekerja keras untuk mengerti apa maksud dari ucapan Inuzuka didepannya itu. Kemudian, menghela nafas. Lagi, dan semakin dalam. Terlalu bodoh jika ia harus terpancing emosi lagi.

"Aku tahu…" Ucapnya datar dan pelan. Serak dan hancur. Dia tahu?

Dia tahu kalau Misty-Eyed itu hanya bualan para leluhur. Dan dia tahu sekali, dimana Ino sekarang.

.o0O0o.


Music starts playin' like the end of a sad movie,
It's the kinda ending you don't really wanna see.
Cause it's tragedy and it'll only bring you down,
Now I don't know what to be without you around.


.o0O0o.

Ino terdiam. Mata birunya mengadah menatap langit. Cerah dan berwarna persis seperti iris matanya. Perlahan dia rebahkan tubuhnya. Tidak peduli akan menyakiti bunga-bunga kosmos disekelilingnya. Lagi, ditatapnya lagi langit cerah itu. Indah sekali—inikah yang membuat Shikamaru betah menatap langit berjam-jam. Langit biru ditambah gumpalan kapas berbagai bentuk yang berjalan perlahan mengikuti arah angin, sungguh indah dan sederhana.

"Indah sekali, ya?"

Ino bermonolog. Berharap bunga-bunga kosmos disekelilingnya mendengarnya dan menjawabnya. Tapi, bukankah mustahil?—iya, mustahil. Ini bukan Negara dongeng, atau Negara kahyangan. Ini bukanlah dunia dimana semua harapannya akan terkabulkan. Ini adalah dunia dimana kenyataan dan realitas-lah yang akan menjadi pemenang. Dimana yang terkuatlah yang menang. Sayangnya, gadis bernama Yamanaka Ino harus hidup didunia itu. Didunia itu bunga tidak akan bersuara…

"Iya, sangat indah. Seperti matamu,"

Ino tersentak. Apa itu? suara apa itu? Mungkinkah bunga kosmos itu menjawabnya?—Tidak! Tidak mungkin. Tergesa, Ino terbangun, air matanya meleleh lembut. Meremas hatinya, harapannya. 'Seperti matamu'—apa itu? apa ini? Kenapa ada yang menjawabnya?—Kenapa…?

Kenapa?—

Pertanyaan retoris! Karena Ino Yamanaka sudah mendapatkan harapannya. Harapan yang selama ini ia impikan. Harapannya dihadapannya. Selamat…

.o0O0o.


And we know it's never simple,
Never easy.
Never a clean break, noone here to save me.
You're the only thing I know like the back of my hand,
And I can't,
Breathe,
Without you,
But I have to,
Breathe,
Without you,
But I have to.


.o0O0o.

Shikamaru terlihat seperti mayat-hidup.

Putus asa. Menyedihkan. Matanya sayu.

Misty-Eyed? Kanashime? Tempat fantasi yang misterius itu. Yang katanya dapat mengabulkan segala permintaan orang yang berhasil menemukan lokasinya. Dengan satu syarat—ya ada syaratnya. Shikamaru mengepalkan tangannya, menghela nafas menahan emosinya. Membawa tangannya untuk menutupi air mata yang tak bisa berhenti mengalir.

Syaratnya…?—Kematian sang peminta permohonan.

Hahahaa! Konyol? Sejak kapan pria pintar itu mulai terhasut dongeng omong-kosong leluhur. Sejak kapan? Ah mungkin sejak hatinya sudah mengendalikan kejeniusan otaknya. Hati yang sudah dikendalikan oleh penyesalan yang menyesakkan. Ironis! Penyesalan? Penyesalan selalu datang terlambat. Dialah alasan kebodohan Ino—dialah salah satu alasan terbesar kepergian gadis itu.

Seandainya—

Keegoisan Shikamaru akan tingkah kekanakan Ino itu diabaikan. Seandainya, saat itu dia tidak mementingkan perasaan dukanya sendiri, tapi perasaan gadis itu juga. Seandainya, waktu bisa kembali berputar. Ah, jangan konyol… ini bukanlah dunia dongeng! Tapi bukankah Misty-Eyed itu juga dongeng.

"Ino…" gumam Shikamaru pelan. Kunai itu, kunai milik Ino. Tergeletak diam disisinya. Dia sudah siap! Dia sudah siap melepas semuanya. Melepas kebodohan dan penyesalannya. Mungkin memang inilah takdirnya, takdirnya untuk mengecewakan Naruto. Takdirnya kepada Konoha. Takdirnya untuk menjadi pemalas yang tak berguna. Takdirnya untuk mati seperti ini…

Dan darah segar itu terus menerus mengalir perlahan. Perlahan tapi pasti.

.o0O0o.


Never wanted this, never wanna see you hurt.
Every little bump in the road I tried to swerve.
But people are people,
And sometimes it doesn't work out,
Nothing we say is gonna save us from the fall out.


.o0O0o.

"Iya, sangat indah. Seperti matamu."

Ino terdiam. Bingungnya menghilang saat menemukan sang pemilik suara. Pupil matanya membesar, kelenjar airmata dikelopak matanya terasa ingin meledak. Air matanya keluar, satu—dua. Jawaban itu bukanlah dari bunga-bunga Kosmos yang ia harapkan, menjawab pujiannya tentang langit. Bukan dari bunga. Tapi dari harapannya—harapannya yang paling indah. Harapannya didepannya!

"Ka-u?"

Suara Ino tercekat. Tapi dengan cepat, tangan kekar itu mendekap tubuh mungilnya. Erat, sangat erat. Menenggelamkan kepalanya dileher Ino, menghirup aroma kosmos yang menyegarkan dan hangat. Ino terpaku. Pria dihadapannya, bagaimana mungkin?—bagaimana mungkin dia bisa menemukannya?

"Aku tidak bisa bernafas tanpamu." Pernyataan pria itu membuat Ino semakin terkejut. Benarkah? bukankah pria yang memeluknya itu sangat membencinya.

"Kau mengambil semua oksigen dariku. Kau mengambil semua ruang dariku. Kau mengambilku, Ino."

Ino gugup. Pria itu melonggarkan dekapannya, menatap wajah gadis cantik dihadapannya dalam. Mereguk kecantikannya dan keindahan mata birunya. Aroma bunga kosmos tak kalah menyelimutinya. Tangannya terangkat. Mengelus lembut pipi Ino. Air mata itu pun jatuh lagi. Dia menangis! Pria itu menangis! Dan Ino tidak percaya.

"Jangan pergi lagi! Aku akan kehilangan nafasku tanpamu," Ucapan itu terdengar seperti perintah untuk Ino. Tapi Ino tidak peduli, Ino merindukan pria ini. Sangat. Didekap erat pria dihadapannya. Menenggelamkan kepalanya dalam, menangis sejadinya.

"Shikamaru…" Ino akhirnya bersuara. Menatap lembut pria dihadapannya. Namun, Shikamaru menghentikan ucapan Ino. Dia mencium gadis itu lembut. Melupakan semuanya, semua luka dan kebodohan dan kesedihan. Karena ini adalah surga untuknya. Ino Yamanaka adalah oksigennya, Ino Yamanaka adalah ruang untuknya bergerak, Ino Yamanaka adalah hidupnya. Dan penyesalan itu…mulai terhapus perlahan darinya. Karena didepannya sekarang ada Ino…

"Aku mencintaimu." Ino kembali terkejut. Mendengar seorang Shikamaru Nara menyatakan perasaannya dengan begitu mudahnya. Mustahil! Ino tenggelam lagi dalam pelukan pria itu. Shikamaru menciumnya lagi. Memeluk tubuhnya erat. Cinta ya? Apa ini—Apa ini mimpi?

Mimpi?—Bukan. Ini bukanlah mimpi! tapi kau sudah menemukan dunia dongeng itu. Dunia dimana semua kebahagiaan berada. Dunia dimana kau sangat menginginkannya. Dimana disini kau bisa menjadi sangat kuat. Dimana kau bisa menjadi yang kau inginkan. Mungkin saja mereka sudah sampai di Misty-Eyed.

"Aku juga mencintaimu, Shikamaru."

I cant breathe, without you—

.

.

.

FIN

celotehan zero:

gomenasai, sedikit memaksa untuk endingnya tapi sepertinya zero akan menambahkan satu chapter untuk owari kedepannya. soalnya zero yakin pasti pada bingung. plotnya ancur kayanya itu :( (semoga tidak terlalu hancur ya?!)...dimohon yang sudah baca untuk meluangkan waktunya untuk menulis tanggapan/kritik/bata/rant dan sebagainya dikotak review ya! biar zero makin pede nulisnya. :D :D (eleheleh)

untuk keluargaku CSIF yang kece, dan untuk fans shikaino yang semoga makin bertebaran! ayo kita berdoa semoga pairing ini jadi canon. hehe (abaikan) dan satu lagi jangan lupa difollow ditwitter ya: SHIKAINO_FC biar pecinta shikaino bisa ngumpul gitu (hehe)

yasudah, yasudah! terima kasih banyak buat yang udah mau baca dan mau review (hehe)

zero~