Ye Update….

Gomen lama updatenya minna-san.

Ichi: Mohon di maklumi tugas yang banyak terus melanda author.

Kusa: Semoga terhibur dengan fic ini.

Shuu: Selamat membaca.


Bleach

Disclaimer: Tite Kubo.

Rate: T (sewaktu-waktu bisa berubah jadi M).

Genre: Family, Friends, Romantis, Hurt/comport.

Warnig: Gaje, Typoo(s), humor (mungkin), OOC, Lemon (Maybe di chap akhir), Yaoi.

Pair: Shuuhei x Ichigo, Kensei x Kaien.

A/N: Kaien: aniki.

Ichigo: Nii-san.

Tanda '': bicara dalam hati

Summary: Ichigo seorang siswa prodigy di sekolahnya. Hari-harinya di habiskan dengan belajar dan belajar. Ia selalu sendirian dan tidak punya teman, namun tiba-tiba datang seorang murid baru. Apakah murid baru ini bisa membantu Ichigo untuk keluar dari tekanan-tekanan yang di alaminya?


Chapter 2

Ichigo menghela napas sejenak, tidak di sangka ia bertemu kembali dengan pemuda itu. Ia tidak menyadari bel sudah berbunyi dan semua murid sudah datang.

"Ohayo anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Shuuhei silahkan masuk"Kata Isane sensei mempersilhkan murid pindahan itu masuk.

"Ohayou minna-san, yoroshiku watashiwa Shuuhei Muguruma, saya pindahan dari luar negeri. Mohon bantuannya." Kata Shuuhei memerperkenalkan dirinya di depan semuanya.

'Datang juga.' Ucap Kusaka dalam hati dan lalu tersenyum penuh arti.

"Nah, Shuuhei-kun tempat dudukmu di sebelah kurosaki-kun." Kata Isane memberitaukan tempat duduk yang kosong. "Kurosaki kun..."

"Iya sensei." Ichigo mengangkat tangannya dan melihat pemuda itu lagi yang ternyata sekelas dengannya.

'Jadi benar dia, Ichi-chan yang dulu tapi apa dia udah ingat?' Gumam Shuuhei seraya melihat ke arah Ichigo dengan tersenyum. Mereka yang melihat menjadi bingung dengan hal ini.

"Silahkan, kau bisa pinjam buku dengan Kurosaki-Kun." Ucap Isane sensei pun mulai mengajar fisika.

"Hei kita bertemu lagi ya, tentunya tanpa bertabrakan lagi. Aku Shuuhei Muguruma, salam kenal. Aku boleh pinjam bukunya?" Kata Shuuhei duduk di sebelah ichigo dan berbicara pelan.

"Iya... Aku Ichigo... Ichigo kurosaki. Silahkan." Kata Ichigo seraya melihatnya yang masih tersenyum kepadanya.

"Arigatou Ichi kun." Shuuhei membuka buku itu n d pakai bersama 'Dia sudah banyak berubah rupanya, susah juga nih.' Gumam Shuuhei dalam hati.

"Douita Shuuhei-san, bisa lanjutkan nanti? Sensei sedang menjelaskan." Ichigo pun mengakhiri pembicaraan mereka dan konsentrasi kembali ke pelajaran.

"Baiklah." Kata Shuuhei pun setuju dengan pendapat Ichigo. 'Tapi tambah manis aja Ichi-chan. Kalau begini bagaimana caranya ya? Sepertinya susah, tapi semangat Shuuhei!' Shuuhei pun juga mendengarkan penjelasan dari Isane sensei. Selama pelajaran ketika Ichigo mengerjakan latihan yang di berikan, tangannya bergetar. Tapi Shuuhei tahu Ichigo sedang menahan sesuatu. Setelah mendengar dari Kaien dan Kensei, ternyata benar ketika ia melihat senderi. Jam pelajaran pertama pun selesai Shuuhei melihat Ichigo yang sedang mempersiapkan buku untuk pelajaran ke dua, ia melihat sebuah peraban terdapat di tangan kirinya.

Saat ingin bertanya guru yang mengajar selanjutnya pun masuk, ia mengurungkan bertanya saat ini dan pasti Ichigo menolak di ajak bicara saat ini. Tetapi Shuuhei tidak pantang menyerah begitu saja, ia akan bertanya kepada Ichigo pada saat jam Istirahat nanti. Rasa penasarannya yang begitu besar membuat ia melirik sesekali ke arah Ichigo yang sedang mencatat penjelesan sang guru. Shuuhei pun menghela napas pelan dan ia pun memilih konsen ke pelajaran. Jam istirahat pun datang dengan begitu cepat, Ichigo yang ingin ke perpustakaan tapi di tahan oleh Shuuhei.

"Ne, Ichi-kun." Panggil Shuuhei pelan dan menatap Ichigo dengan penuh arti.

"Iya, ada apa Shuuhei-san?" Jawab Ichigo tentunya dengan kebingung. Dan baru kali ini ada yang mau mengajaknya bicara selain Kusaka, Rukia, dan Renji.

"Aku kan murid baru di sini, bisa ajak aku kenalkan sekolah ini. Kalau aku sendiri yang ada aku ke sasar lagi." Ucap Shuuhei dengan candaan agar Ichigo tertawa walau hasilnya tetap gagal.

"Bagaimana ya? Aku mau pergi ke perpustakaan. Apa tidak bisa dengan yang lain saja?" Ichigo menjawab dengan ragu dan secara halus agar tidak menyinggung Shuuhei.

"Ayolah, sebentar saja ya. Aku belum kenal yang lain Dan hanya Ichi-kun yang aku kenal." Kata Shuuhei lagi dan sedikit memohon pada Ichigo.

"Ichi-kun temanilah Shuuhei-kun ya? Kau maukan?" Ucap Kusaka yang datang ke tempat duduk mereka bersama dengan Rukia dan Renji.

"Tapi… Tidak bisa Kusa-nii saja?" Kata Ichigo mencoba menolak lagi tapi sepertinya ia harus menjawab iya untuk saat ini. "B.. Baiklah aku mau."

"Arigatou, Ichi-kun." Ucap Shuuhei senang akhirnya Ichigo menerima ajakannya untuk berkeliling sekolah.

" Shuuhei-kun, perkenalkan Ini Rukia Kuchiki dan Renji Abarai" Kata Kusaka memperkenalkan Renji dan Rukia kepada Shuuhei.

"Salam kenal, senang bertemu kalian. Ne Ichi-kun ayo, nanti keburu masuk" Ucap Shuuhei mengajak Ichigo pergi sekarang, Ichigo hanya menggangguk saja menerima ajakkannya.

"Good luck ya." Bisik Kusaka pelan di telinga Shuuhei dan membuatnya tersenyum kecil.

"Ichi-kun kenapa diam saja? Kau sedang sakit?" Tanya Shuuhei saat sedang berhenti di depan ruang laboratorium IPA.

"Tidak, aku tidak sakit kok. Rasanya aneh saja sekarang. Kenapa Shuuhei-san bicara begitu?" Ichigo menjawab dengan gugup dan tidak tahu harus apa sekarang ini.

"Aneh kenapa? Mukamu sedikit pucat. Apa kau belum makan sejak pagi? Kalau begitu kenapa kau gugup Ichi-kun dan kau cukup memanggilku Shuu-kun saja, kita sebaya kan? Jadi tidak usah formal." Tanya Shuuhei menangkap ada yang aneh dengan Ichigo sejak tadi. Shuuhei pun melihat ke sekelilingnya. 'Oh! Ini toh yang membuat Ichi-kun gelisah, apa karena ia jarang komunikasi ya? Baiklah Shuuhei kau harus bisa.' Kata Shuuhei dalam hati.

"Aku sudah makan kok. Hanya saya aku tidak nyaman bicara di sini, bisa kita pindah tempat?" Ucap Ichigo dengan pelan dan merasa mereka melihatnya dengan tatapan aneh.

"Baiklah kalau begitu. Biasanya Ichi-kun dimana saat istirahat begini?" Tanya Shuuhei pun setuju dengan ide Ichigo. 'Ternyata benar, kau sudah banyak berubah Ichi-kun. Apa yang membuatmu jadi begini selama aku tidak di sini?' Tanya Shuuhei dalam hati kepada dirinya sendiri.

"Di atap sekolah. Tapi kalau Shuuhei-san keberatan bisa cari tempat lain kok." Jawab Ichigo yang melihat ke Shuuhei dengan tatapan lembut.

"Tidak kok. Ayo kita ke sana…" Ucap Shuuhei menatap Ichigo balik dan lalu mengajaknya pergi ke atap.

"S-Shuu-kun…" Ucap Ichigo lalu menyusul Shuuhei yang berjalan mendahuluinya dan berusaha mensejajarkannya. "Tapi…" Jawab Ichigo masih dengan perasaan ragu-ragu dan melwati semua murid-murid yang bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Ichigo tidak biasanya bersama orang lain? Dan di tambah Shuuhei adalah anak baru.

"Sudahlah." Jawab Shuuhei tetap melanjutkan pergi ke atas atap. Sesampainya di sana Shuuhei melihat Ichigo dengan senyumannya. "Kenapa Ichi-kun?"

"Tidak kok. Soalnya baru kali ini ada yang…" Ucap Ichigo dan Shuuhei memotong perkataannya karena bingung menjelaskannya.

"Maksudmu seperti ini?" Kata Shuuhei mendekatkan wajahnya hingga berjarak hanya beberapa centi meter saja.

"S-Shuu-kun…" Ucap Ichigo dengan sedikit gugup dan entah kenapa ia merasa kenal dengan Shuuhei.

"Sudahlah jangan di pikirkan Ichi-kun… Maaf ya, ternyata benar di sini tenang." Ucap Shuuhei seraya berjalan untuk melihat pemandangan kota yang terlihat dengan jelas.

"I-iya… Aku suka di sini karena tenang dan sunyi. Jadi bisa konsentrasi untuk belajar." Ucap Ichigo pelan dan melihat Shuuhei yang masih menatap ke arah kota.

"Begitu. Aku mengerti Ichi-kun. Pantas saja kau bisa mempertahankan prestasimu, tapi aku mau tanya satu hal, boleh?" Tanya Shuuhei kepada Ichigo yang tidak begitu jauh dengannya dan menatapnya kembali.

"Iya, mau tanya apa?" Kata Ichigo menatapnya dengan bingung. Pertanyaan apa yang akan di sampaikannya?

"Tadi aku tidak sengaja melihatmu saat membereskan buku, kau terluka Ichi-kun?" Tanya Shuuhei menatapnya dengan tenang walau dalam hatinya ada rasa cemas.

"Itu… Hanya luka kecil saja kok, Aniki sudah mengobatiku." Ichigo menjawabnya pelan tapi bisa di dengar oleh Shuuhei.

"Benarkah? Tapi kenapa tadi Ichi-kun menahan sakit?" Tanya Shuuhei dengan tepat dan membuat Ichigo semakin kaget.

"Masih sedikit sakit saja Shuu-kun, kenapa bertanya begitu? Padahal kita baru saja kenalkan?" Jawab Ichigo yang semakin bingung, apa yang di maksudkan oleh Shuuhei?

"Kenapa ya? nanti kau juga tahu Ichi-kun." Ucap Shuuhei berjalan mendekat ke Ichigo lalu tersenyum lembut kepadanya.

"Ichi-kun kalau ada masalah cerita saja. Walau kita baru kenal dan bertemu, aku akan menjadi teman Ichi-kun. Karena aku ingin melindungi dan menjaga Ichi-kun." Shuuhei melanjutkan ucapannya dan menatap mata amber Ichigo.

"S-Shuu-kun? Arigatou." Kata Ichigo merasa nyaman saat Shuuhei berkata seperti itu.

"Sama-sama, Ichi-kun." Ucap Shuuhei masih menatap Ichigo karena tidak bertemu selama bertahun-tahun. Shuuhei secara tidak sengaja melihat memar di pundaknya. "Ichi-kun, pundakmu kenapa?" Tanya Shuuhei saat melihatnya di pundak Ichigo.

"Itu... Aku mohon jangan ceritakan kepada Kaien-sensei. Aku tidak mau merepotkannya." Jawab Ichigo dengan lirih dan tidak sanggup menatap ke Shuuhei.

"Baiklah, aku tidak ceritakan." Ucap Shuuhei lalu mengelus kepalanya pelan. "Jangan cemas, aku tidak akan menceritakannya kepada siapa pun." Ucapnya lagi lalu mengangkat dagu Ichigo sehingga mereka saling bertatapan.

"Arigatou." Ucap Ichigo dengan tersenyum lembut, Shuuhei pun tidak bisa menahan lagi lalu ia mengacak-ngacak rambutnya pelan. Ichigo menjadi malu-malu dan kembali menunduk. Tidak heran jika Ichigo bersikap begini karena ia jarang di perlakukan begini oleh orang lain.

"Sama-sama Ichi-kun, ayo masuk ke kelas." Ucap Shuuhei seraya mengajak Ichigo kembali ke kelas. Ichigo pun mengangguk dan berjalan bersama Shuuhei ke kelas.

Sesampainya di kelas mereka kaget melihat Ichigo masuk Bersama Shuuhei, tetapi Ichigo hanya diam saja menanggapi hal itu. Tidak lama guru yang mengajar bahasa Inggirs yaitu Soifon sensei masuk ke kelas dan mulai mengajar. Saat pelajaran berlangsung Ichigo merasakan kepalanya begitu berat dengan tiba-tiba, tetapi ia masih menahanya juga.

Shuuhei melihat ke arah Ichigo yang sedang memegang kepalanya yang sakit. Entah kenapa Shuuhei khawatir dengan keadaan Ichigo yang sekarang, mukanya begitu pucat menahan sakit yang ia rasakan saat ini. Shuuhei berbisik pelan kepada Ichigo berusaha membujuknya agar ke UKS saja, tetapi Ichigo menolaknya. Shuuhei menghela napas pelan, ternyata sifatnya yang satu ini tidak bisa hilang juga. Shuuhei mengeluarkan obat yang selalu ia bawa jika di perlukan, dan memberinya kepada Ichigo satu table. Ichigo segera meminum obat itu untuk mengurangi sakit di kepalanya. Ia pun kembali mengerjakan latihan yang di berikan Soifon sensei dengan serius, Shuuhei yang pintar dalam bahasa Inggris juga mengajari Ichigo karena ia tidak bisa berkonsentrasi penuh.

Bel berbunyi semua murid mengumpulkan tugas yang di berikan tadi. Shuuhei mengumpulkan tugasnya dan tugas Ichigo. Tidak jauh Kusaka melihat Ichigo yang sedang menahan sesuatu, ia cemas dnegan sepupunya ini. Ichigo meletakkan kepalanya di antara kedua tangannya di atas meja. Kusaka mendekati Ichigo dan mengelus kepalanya pelan, Ichigo melihat Kusaka yang berada di depannya.

"Ichi-kun, mukamu pucat begitu ke UKS saja ya?" Ucap Kusaka sambil membujuk Ichigo agar mau pergi ke UKS.

"Tidak usah Kusa-nii, aku masih kuat kok." Gumam Ichigo pelan tapi Shuuhei dan Kusaka masih bisa mendengarnya.

"Hah! Dasar kau itu, baiklah tapi jangan di paksakan." Ucap Kusaka sedikit berbisik dan menghela napas pelan.

"Iya Kusa-nii, tidak usah cemas aku baik-baik saja." Gumamnya pelan dan tersenyum tipis menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.

"Baiklah, Shinji-sensei sudah datang." Ucap Kusaka ketika melihat Shinji sensei sudah masuk ke dalam kelas. Kusaka pun kembali ketempat duduknya.

"Ichi-kun kau yakin tidak apa-apa?" Tanya Shuuhei saat melihat Ichigo yang mengeluarkan buku pelajarannya.

"Iya, Shuu-kun. Lebih baik sekarang fokus ke pelajaran dan tidak usah cemas kepadaku." Jawab Ichigo dengan suara kecil agar tidak menggangu yang lain.

"Baiklah, jika itu maumu. Tapi istirahat kau ikut aku ya?" Kata Shuuhei lalu tersenyum kecil saat melihanya kembali.

"Iya Shuu-kun." Ucap Ichigo dan menggaguk pelan lalu mendengarkan dengan seksama penjelasan dari senseinya. Sesekali Shuuhei melihat Ichigo yang sedang menulis, ia khawatir dengan Ichigo yang kondisinya menurun saat ini. Dari dulu ia tahu sifat Ichigo yang satu ini, selalu memaksakan dirinya jika sedang dalam keadaan begini.

Shuuhei menghela napas pelan ada yang sifat Ichigo benar-benar berubah, dan masih ada yang melekat dalam dirinya. Ichigo tidak mau merepotkan orang lain dan mencemaskan dirinya. Sifat itulah yang masih ada sampai sekarang. Shuuhei tertawa kecil saat mengingat kejadian saat mereka bersama ketika waktu kecil.

Ichigo yang tidak pandai berbohong kepadanya karena Shuuhei sudah tahu semuanya, sehingga waktu di jahili oleh teman-temannya Shuuhei yang selalu melindungi Ichigo. Entah sejak kapan Shuuhei mempunyai rasa sayang kepada Ichigo melebihi seorang sahbata dan kakak. Ya bertindak sebagai kakak bagi Ichigo itulah yang di rasakannya waktu dulu, memang usia mereka terpaut satu tahun. Dan Ichigo selalu memanggil Shuuhei dengan sebutan Shuu-nii, tapi semenjak itu Ichigo melupakan hal itu. Ia pun tidak menyadari jam istirahat sudah datang dan Ichigo sudah pergi entah kemana? Yang ia sendiri tidak tahu.

"Shuuhei-kun, ayo makan siang bersama kami." Ucap seorang wanita berkacamata dan berambut pendek.

"Maaf tapi aku ada urusan, jadi aku duluan ya." Ucap Shuuhei dengan halus lalu segera pergi mencari Ichigo dan membawa bekalnya. Ia pun mencari Ichigo ke atas atap sekolah dan benar Ichigo sudah ada di sana dengan buku dan makanan yang ia bawa. "Ternyata di sini Ichi-kun, aku mencari-carimu lo." Kata Shuuhei dan berjalan mendekati Ichigo.

"Shuu-kun? Aku memang di sini sejak tadi. kenapa mencariku? Shuu-kun tidak bersama teman-teman." Ucap Ichigo melihat Shuuhei sudah duduk di sebelahnya dan membuka bekalnya.

"Tidak ah! Aku tidak suka bersama perempuan yang sifatnya kaya gitu, lebih enakan di sini saja. Dan bersama Ichi-kun sekalian aku mau belajar juga. Tadi sih aku di ajak tapi aku menolaknya." Ucap Shuuhei sambil tertawa kecil lalu menatap Ichigo.

"Shuu-kun apa tidak apa-apa menolaknya seperti itu? Arigatou Shuu-kun." Ucap Ichigo setelah selesai makan.

"Tidak apa-apa kok. Aku kan sudah bilang aku akan teman Ichi-kun jadi tidak akan aku biarkan Ichi-kun sendirian." Ucap Shuuhei masih menatap Ichigo yang hanya diam saja.

"A-arigatou Shuu-kun." Gumam Ichigo dengan tersenyum yang jarang ia perlihatkan kepada orang lain termasuk ke keluarganya.

"Douita. Eh? Ichi-kun kenapa? Aku salah ya?" Ucap Shuuhei dengan sedikit panik melihat Ichigo menghapus air matanya.

"Tidak, Shuu-kun tidak salah kok. Aku hanya senang bisa seperti ini, dari dulu tidak ada yang mau berteman denganku. Renji dan Rukia juga menjaga jarak denganku." Kata Ichigo dengan nada yang bisa di dengar oleh Shuuhei yaitu nada gembira.

"Begitu ya. Jangan cemas aku akan selalu bersama Ichi-kun apapun yang terjadi." Ucap Shuuhei lalu menghapus air mata Ichigo yang maish mengalir di wajahnya.

"A-Arigatou Shuu-kun. Ukh…" Kata Ichigo dengan sedikit kesakitan yang menyerang kepalanya lagi.

"Douita. Ichi-kun sakit lagi kah?" Ucap Shuuhei dengan cemas dan berpindah di depan Ichigo.

"Iya hanya sedikit Shuu-kun. Bisa bangunkan aku nanti ketika masuk?" Gumam Ichigo pelan dan tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi.

"Baiklah Ichi-kun aku akan membangunkanmu. Tidurlah, kau pasti kelelahan." Ucap Shuuhei pelan dan memanggku Ichigo yang sudah tidur pulas. 'Cepat sekali tidurnya, Ichi-kun pantas saja rupanya ini toh. Kau sedikit demam Ichi-kun, selalu saja memaksakan diri.' Ucap Shuuhei dalam hati dan mengeluarkan sapu tangan dari kantong celanya. Lalu membasahi dengan air yang ada dan mengompreskan ke Ichigo.

Shuuhei pun menjaga Ichigo sambil memakan bekalnya yang belum sama sekali ia makan. Setelah selesai ia penasaran dengan buku yang di bawa Ichigo, Shuuhei pun membaca buku tersebut. Ternyata buku yang di bawa Ichigo adalah buku pelajaran dari tempat kursusnya dan pelajaran tadi, untuk di ulang lagi saat belajar oleh Ichigo. Ia pun membaca buku itu kembali dengan detail. Shuuhei melihat Ichigo masih tidur pulas, ia tidak tega untuk membangunkanya padahal sebentar lagi masuk.

"Ngg…" Gumam Ichigo terbangun saat Shuuhei mengelus kepalanya sambil membaca buku. Shuuhei menyadari Ichigo sudah bangun tidur, ia pun tersnyum lembut.

"Sudah, bangun Ichi-kun. Bagaimana perasaanmu?" Ucap Shuuhei melihat Ichigo yang sudah bangun tanpa harus ia bangunkan.

"Sudah lebih baik Shuukun, arigatou" Ucap Ichigo lalu menyentuh keningnya terdapat sapu tangan, Shuuhei membantu Ichigo untuk duduk kembali. Bel pun berbunyi nyaring ke sepenjuru sekolah. "Ini punya Shuu-kun? Maaf merepotakan ya?" Gumam Ichigo pelan dan mengambil sapu tangan itu.

"Iya itu punya ku Ichi-kun, tenang saja. Tidak merepotkan kok, kau sedikit demam makanya aku mengompresmu. Masih agak panas tapi sudah turun di bandingkan tadi, lebih baik ke UKS saja Ichi-kun." Ucap Shuuhei seraya mengecak kening Ichigo dengan tangan dan membujuknya dengan cara halus.

"Iya Shuu-kun. Tidak usah aku tidak mau melewatkan pelajaran." Gumam Ichigo sambil memebereskan bukunya dan tempat makan.

"Baiklah aku tidak akan memaksa Ichi-kun, ayo ke kelas. Kita sepertinya telat masuk." Kata Shuuhei bangun dari duduknya dan merenggakan badanya yang terasa kaku.

"Iya Shuu-kun." Ucap Ichigo pun bangun juga akan tetapi ia limbung dan hampir saja jatuh jika Shuuhei tidak menolongnya.

"Kau tidak apa-apa Ichi-kun?" Tanya Shuuhei yang masih menahan tubuh Ichigo.

"Aku tidak apa-apa Shuu-kun, arigatou sudah menolongku." Jawab Ichigo dengan pelan dan melepaskan dari pegangan Shuuhei. "Ayo, nanti kita tidak di ijinkan masuk." Ucap Ichigo mengajak Shuuhei masuk ke kelas.

"Ichi-kun douita, ayo…" Ucap Shuuhei pun menyusul Ichigo yang sudah mendahuluinya. Mereka pun bergegas ke kelas agar tidak mendapat hukuman dari sang guru. "Permisi sensei, maaf kita terlambat" Kata Shuuhei meminta izin pada Kensei Sensei yang sudah masuk ke kelas.

"Baiklah, kalian boleh masuk dan jangan di ulangi lagi ya. Cepat ke tempat duduk kalian, pelajaran sudah mau di mulai." Jawab Kensei-sensei mengijikan Shuuhei dan ichigo masuk ke dalam kelas. "Ichigo-kun kau sedang sakit?" Tanya Kensei sensei saat menyadari wajah Ichigo yang pucat.

"Tidak kok Sensei, saya tidak sedang sakit." Jawab Ichigo saat sudah sempai tempat duduknya.

"baiklah, kita mulai pelajarannya" Ucap Kensei sensei dan mulai pelajaran terakhir hari itu. 'Hah! Kai-koi, adikmu itu benar-benar tidak mau merepotkan orang lain ya? sudah jelas-jelas ketahuan ia sedang sakit. Nanti aku beritahu dia saja.' Gumam Kensei sensei dalam hatinya dan ia mulai menjelaskan apa yang akan di pelajari.

Ichigo menghela napas pelan dan memperhatikan apa yang sedang di ajarkan sekarang. Ia tahu pasti Kensei sensei akan memberitahu kan Kaien kakaknya setelah pulang sekolah nanti. Ia pun tidak ambil pusing tentang hal ini, Shuuhei menggeleng kepalanya pelan melihat Ichigo yang begini. Ia melirik kearah Ichigo yang serius mencatat penjelasan yang penting dari Kensei sensei. Shuuhei semakin bingung dengan ini semua, kenapa Ichigo sepertinya takut dengan sesuatu? Apa ia di tekan oleh seseorang? Ia pun menghela napas pelan, nanti ia tanyakan saja pada kakaknya Kensei, sama seperti Ichigo kakanya Shuuhei menjadi guru di sekolah itu.

Selama dalam pelajaran ia berfikir apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Ichigo menjalani ini semua. Aha! Sepertinya dia tahu apa yang harus ia lakukan untuk membantu Ichigo, tinggal dia bicarakan kepada Kensei dan Kaien saja. Setuju atau tidak dengan ide dia? Tidak terasa jam pulang pun datang.

"Ichi-kun, ayo pulang. Kau mau ke ruang guru?" Tanya Shuuhei ketika ia mau pulang bersama kakaknya tetapi ia harus pergi ke ruang guru dulu.

"Iya Shuu-kun, aku mau keruang guru." Jawab Ichigo dan ternyata tujuan mereka sama.

"Kalau begitu kita bareng saja ke sananya." Kata Shuuhei seraya mengajak Ichigo bareng ke sananya. Ichigo pun mengaguk pelan dan berjalan bersama ke ruang guru yang letaknya tidak begitu jauh dari kelas Ichigo. "Permisi." Kata Shuuhei ketika masuk ke dalam ruang guru.

"Ah! Panjang umur kalian, baru saja di omongin. Ayo Ichigo-kun, Shuuhei-kun, silahkan masuk." Ucap salah satu guru yang sedang berbicara dengan Kensei dan Kaien.

"Iya Sensei." Ucap Shuuhei dan Ichigo secara bersamaan. Mereka pun masuk dan menuju meja tempat Kensei dan Kaien.

"Ichigo." Panggil Kaien saat Ichigo baru saja datang bertemu dengannya. "Dasar baka." Ia menjitak adiknya itu pelan.

"Sakit aniki." Gumam Ichigo meringis kesakitan ketika mendapat jitakan sayang, para guru yang lain sudah tidak heran melihat keakraban Kaien dan Ichigo.

"Hah! Dasar kau itu. Hari ini tidak usah ke sana dan ikut aniki ke rumah sakit." Ucap Kaien dengan tegas dan tidak bisa di bantah lagi.

"Tapi aniki aku harus ke sana." Ucap Ichigo menolak ajakan sang kakak dan meninggalkan tempat kursusnya tanpa alasan yang jelas. Shuuhei hanya terbengong-bengong saja melihat mereka begini.

"Sudahlah, kau sedang sakit. Aku sudah tahu dari Kensei-sensei dan Kusaka. Tadi ia ke sini karena mencemaskan dirimu." Kata Kaien lalu menatap adiknya dengan lekat, begini kalau keduanya sama-sama egois.

"Ano, Kaien-sensei kalau itu kita bicarakan di luar saja. Tidak enak dengan guru-guru yang lain" Kata Shuuhei mencairkan suasana yang sempat menengang.

"Yang dikatakan Shuuhei benar, ayo kita bicarakan sekalian pulang saja." Ucap Kensei menyetujui pendapat adiknya ini.

"Baiklah ayo." Gumam Kaien pelan lalu mengambil tasnya dan berpamitan dengan para guru yang ada di sana. Mereka pun pergi ke tempat parkiran di sekolah itu.

"Aniki, aku mohon tolong izinkan aku pergi. Aku tidak mau aniki nanti kena." U cap Ichigo dengan lirih dan memohon pada kakaknya.

"Ichigo, dengarkan aniki ya. Kau sedang sakit dan aniki tidak mau sakitmu semakin parah." Ucap Kaien seraya menyentuh kedua mukanya dengan lembut.

"Tapi aniki kalau tidak begitu pasti…" Ucap Ichigo dengan lirih dan memeluk kakaknya dengan lembut.

"Ichigo, tidak bisakah sekali saja kau turuti permintaan aniki? Aniki menyayangimu Ichi." Tanya Kaien membalas pelukannya dan mengelus punggungnya lembut.

"Aniki arigatou. Tapi aku harus tetap ke sana." Jawab Ichigo dengan pelan dan menyamankan diri dalam pelukan sang kakak.

"Baiklah, tapi nanti Aniki akan menjemputmu. Kalau kau tidak kuat berikabar agar Aniki datang. Douita, kau memang keras kepala ya." Ucap Kaien berbisik pelan di telinga Ichigo. Ia tidak habis pikir kalau tousan mereka tahu Ichigo juga akan kena lagi, tapi jika tidak beitu Ichgo akan bertambah sakit. Ia bingung apa yang harus di lakukannya?

"Kaien-sensei maaf aku boleh bertanya? Maaf sebelumnya jika akun ikut campur dalam hal ini." tanya Shuuhei yang sudah paham dari pembicaraan mereka tadi.

"Mau bicara apa Shuuhei-kun? Ini sudah bukan jam belajar jadi panggil saja Kaien-nii, itu juga kalau kau tidak keberatan. " Jawab Kaien dengan candaan dan melihat kearah Shuuhei.

"Ah! Baiklah Kaien-nii. Begini sebenarnya apa yang terjadi Ke Ichigo? Aku tahu hal ini karena menangkap dari pembicaraan kalian tadi dan luka di tangan Ichi-kun." Tanya Shuuhei dengan penasaran dan melihat Ichigo begitu ketakutan.

"Tidak apa-apa Shuuhei-kun, kau teman yang baik. Itu sebenarnya… Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, tapi suatu saat nanti." Ucap Kaien menjawab pertanyaan Shuuhei dengan sopan.

"Begitu aku mengerti kok. Kalau boleh aku ingin menjaga Ichi-kun, aku akan pergi bersama Ichi-kun k tempat yang di maksudkan tadi." Kata Shuuhei dengan gugup mengenai ide yang ia sudah pikirkan baik-baik sejak tadi.

"Apa tidak merepotkanmu? Jadwal Ichigo padat setiap harinya jadi waktu istirhatmu akan bekurang. Aku sendiri sih tidak keberatan karena ada yang bisa menjaga Ichigo saat aku tidak bersamanya. Tapi itu terserah dengan Kensei-kun dan Shuuhei-kun saja." Kata Kaien menjelaskan kegiatan Ichigo dan menjawab pertanyaannya. Kaien masih mengelus punggung adiknya dan member kehangatan yang di butuhkan Ichigo.

"Nii-san, kau setuju kan?" Tanya Shuuhei kepada Kensei yang berada di sebelahnya.

"Nii-san setuju kok. Asal kau bisa bertanggung jawab dengan keputusanmu ini dan nii-san tidak mau mendengar kau mengeluh. Kecuali kau tidak bisa menyelesaikannya sendiri, ceritakan yang harus kau katakan dan jangan ada berusaha menyembunyikan apa pun tentang Kau dan ichi-kun. Mengerti? Dan jika kau sanggup lakukan jika itu yang terbaik." Ucap Kensei dengan detail dan jelas. Ia mengejarkan kepada adiknya menjadi orang yang betanggung jawab.

"Baik Nii-san aku sanggup. Arigatou." Kata Shuuhei dengan semangat dan tegas. Sangat persis dengan sang kakak.

"Baiklah, aku setuju Shuuhei-kun jika Kensei-kun sudah berbicara seperti itu. Oh! Ya kenapa kau melakukan sampai seperti itu? Kau jatuh cinta pada pandangan pertama pada adikku?" Kata Kaien menggodanya dengan pertnyaan yang membuatnya bertmbah gugup saat ini.

"Aniki jangan tanyakan yang bukan-bukan?" Kata Ichigo yan rpotes kepada Kaien karena pertanyaannya.

"Loh! Aniki kira kau tidur, karena kau diam saja dari tadi. Dasar kau ini." Kata Kaien melihat Ichigo dan mengacak-ngacak rambutnya pelan. Ichigo hanya sedikit cemberut saja karena di perlakukan begini.

"Ah! Itu aku juga tidak tahu Kaien-nii, aku rasa mulai ada perasaan itu. Tapi aku memang ingin membantu dan menjaga Ichi-kun." Jawab Shuuhei ketika mereka sudah diam dan mendengarkan perkataannya.

"Begitu ya. Tenang saja aku percayakan Ichi-kun padamu, lagi pula aku merstuinya kalau memang begitu. Tolong dan mohon bantuannya Shuuhei-kun, aku harap kau tidak kapok dan kerepotan karena sifatnya yang keras kepala ini." Kata Kaien yang mengerti jawaban Shuuhei kepadanya, ia pun senang Ichigo memnpunyai teman yang baik. "Sebaiknya kita berangkat sekarang. Aku akan mendaftarkan kau di sana dan sekelas dengan Ichigo. Ini jadwal Ichigo jadi kau bisa ingatkan dia makan nanti dan aku akan menjemput setelah kalian keluar nanti." Ucap Kaien lalu memberi sebuah kertas yang berisikan jadwal Ichigo sehari-hari.

"Iya Kaien-nii, aku akan menyimpannya dan menjaga Ichigo dengan benar." Ucap Shuuhei dan menerimanya lalu membaca sebentar. Dan benar jadwal Ichigo bisa di bilang setiap hari sangat padat. Tapi ia sudah menyanggupi semuanya dan ia harus menjalankan ini.

"Shuu-kun arigtaou, maaf aku merepotkanmu." Kata Ichigo melepaskan pelukan dari Kaien lalu menatap Shuuhei.

"Tidak apa-apa Ichi-kun ini murni keinginanku sendiri, bukan karena hanya rasa kasihan dan keterpaksaan dari diriku sendiri. Jadi jangan cemas untuk hal itu." Ucap Shuuhei menjelaskan kepda Ichigo agar ia tidak merasa bersalah.

"Begitu, Iya Shuu-kun sekali lagi honto ni arigatou." Ucap Ichigo dengan lega karena sudah mendengar penjelasaan dari Shuuhei. Setelah itu Kaien pun mengantar Ichigo dan Shuuhei ketempat Kursus Ichigo, sedangkan Kensei pergi kesuatu tempat yang tujuannya berbeda.

TBC

Ichi: Tambah kejam lo nyiksa aku thor.

Aoi: Ho, itu belum seberapa, nanti makin banyak. XD

Ichi: Dasar. *swt*

Renji: Aku keluarnya Cuma dikit.*pundung*

Aoi: Nanti juga keluar lagi kok.

Kai: Waktunya balas review. Yang pertama dari Hitsugaya Shiroren: masa gak kebayang Ichi pake kacamata? Tambah manis lo~

Kusa: Ya, begitulah Byakuya-sensei kalau memberi hukuman. Makanya aku kapok…. Siapa ya orangnya? Nanti akan muncul di chapter berikutnya.

Aoi: Berikutnya: Shuukai KaiHisa: Sashiburi mo, Terima kasih atas sarannya senpai. Ye… pasti senpai… iya ini udah update.

Shuu: Dan terakhir dari Hikary Cresenti Ravenia: Baik, chap ke 1 akan di edit ulang. Yup, sudah update.

Kensei: terima kasih yang sudah membaca.

All: Berniat untuk RNR PLEASE. Sampai ketemu di chap selanjutnya.