Sad Love Song
Chapter 6: Duet
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, OC, chapter terpanjang di fic ini
.
.
Summary: Sakura gadis miskin bersuara emas bertemu Pemuda Tampan kaya raya yang manja dan kesepian, sebuah lagu membawa mereka ke dalam perasaan yang asing bernama 'cinta'. Banyak rintangan yang harus mereka jalani, namun kenyataan tak semanis perasaan, dan takdir tak semulus keinginan.
.
.
.
-~oOo~-
Ting nong ting nong
Terdengar suara seseorang yang terdengar dari alat yang semenjak tadi Sakura pencet-pencet beberapa kali. "Disini kediaman keluarga Uchiha, ada perlu apa nona?"
"Aku Haruno Sakura, hari ini aku ada janji dengan tuanmu." Sakura menjawab dengan nada ketus yang sangat kentara.
"Maaf, tuan yang mana yang anda maksud nona?"
"U-CHI-HA SA-SU-KE, ada?"
"Oh Tuan muda Sasuke, dia sedang keluar, maaf ada janji apa ya antara nona dan Tuan muda Sasuke?" Suara yang ternyata milik Tazuna sang kepala pelayan terdengar menyelidik, maklum ia bertanggung jawab menjaga keamanan mansion Uchiha, jadi setiap orang yang akan masuk ke mansion itu perlu diperiksa dengan ketat.
'Banyak tanya sekali sih orang ini, menyebalkan, sama saja dengan tuannya, cih!' Sakura bergumam dalam hati.
"Aku diminta menjadi partner duet Tuan muda untuk bernyanyi dalam acara ulang tahun sekolahnya nanti, kemarin Tuan muda memintaku untuk datang kesini, mungkin kami akan mulai latihannya hari ini, kemarin ia tak memberitahuku tentang detilnya, 'tepatnya si pantat ayam itu yang telah memaksaku,' "Jadi apakah aku boleh masuk untuk menunggu Tuan muda atau aku harus pulang lagi?" Sakura memaksakan senyum yang terlihat aneh karena menahan amarah.
"Oh begitu, maaf sebelumnya Nona Haruno, bersediakah anda menunggu di luar sampai Tuan muda Sasuke datang? Maaf sebelumnya, ini adalah prosedur keamanan mansion ini, karena Tuan muda beum memberi tahu perihal kedatangan nona, jadi kami tidak boleh sembarangan menerima tamu, mohon anda mengerti nona Haruno."
"A-apa? Menunggu? Disini? Berdiri?" Sakura gelagapan mendengar pernyataan dari kepala pelayan Mansion Uchiha, Tazuna.
"Apa perlu saya ulangi nona?"
Perempatan siku muncul di kepala Sakura. "Tidak usah! Terima kasih! Aku akan menunggu disini," 'menunggu si brengsek pantat ayam itu, aku akan mencukur rambutnya yang aneh itu sampai botak tak bersisa lalu akanku waxing sampai licin dan rambutnya tak dapat tumbuh lagi selama-lamanya.' Sakura terkikik geli membayangkan kepala botak Sasuke.
Sakura berdiri di depan pintu gerbang Mansion Uchiha yang terlihat megah sambil menggerutu tidak jelas, memikirkan rencananya nanti ketika si bungsu Uchiha itu datang di hadapannya.
Sementara itu di dalam kediaman Uchiha
"Apa ini tidak keterlaluan Tuan muda?" Tazuna terdengar khawatir.
"Biarkan saja, kita tunggu berapa lama si baka itu mampu bertahan." Seringai licik terulas di wajah tampan sang pemuda bermarga Uchiha itu, ia masih santai membolak-balik sebuah majalah otomotif miliknya.
3 jam kemudian...
Sakura memukul-mukul pelan lututnya yang agak pegal, daritadi ia hanya berdiri dan berjongkok, tidak jarang ia mondar-mandir seperti orang bodoh, semua itu ia lakukan secara terpaksa, ia tak mau lebih repot daripada ini, kalau ia memutuskan untuk pulang, Sakura tak ingin diancam oleh pemuda gila yang beberapa kali ia temui itu.
Tanpa Sakura sadari, Sasuke memperhatikannya lewat CCTV yang terpasang di sebelah kanan gerbang Mansion Uchiha. Beberapa kali Sasuke tertawa kecil melihat tingkah aneh Sakura.
Pandangan Sakura sudah mulai mengabur."Ya Tuhan...berapa lama lagi aku harus menunggu?"
Tiba-tiba tubuh Sakura terhuyung ke depan, Sakura tak dapat mengendalikan bobot tubuhnya. Sebelum Sakura ambruk ke tanah, sepasang lengan kokoh terlebih dahulu menangkap tubuh mungil Sakura.
Ditengah keterkejutannya, Sakura berkata...
"Lepaskan pantat ayam, aku tak butuh bantuanmu!" Sakura bangkit dari rengkuhan Sasuke.
Sasuke hanya mengedikkan bahu kemudian berjalan acuh melewati Sakura yang sedang sibuk memijat-mijat kepalanya yang masih agak pusing.
"Kenapa kau lama sekali bodoh! Kau sengaja mengerjaiku kan?" Sakura berbicara lantang sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sasuke menjawab acuh. "Hanya bermain-main sedikit."
"Bermain-main katamu hah! Kau ki-" Ucapan Sakura terpotong.
"Sudahlah jangan banyak bicara, masuk! Kita akan mulai latihan hari ini." Perintah Sasuke.
"Dasar idiotttttttt!"
Meski masih kesal, Sakura menuruti perintah Sasuke. Sakura tidak menyadari satu hal, ia melupakan janjinya tentang apa yang akan dilakukannya terhadap si bungsu Uchiha saat bertemu dengannya. Untung bagi Sasuke karena Sakura lupa akan hal yang akan membuatnya malu seumur hidup bila itu terjadi.
.
.
.
- Sad Love Song-
.
.
.
Sakura menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk yang terletak di sebuah ruangan, ruangan yang terlihat seperti studio musik karena ada beberapa peralatan musik seperti gitar, keyboard, drum dan lain-lain dan juga terdapat ruang rekaman dan sound system yang terlihat lengkap dan canggih tentunya.
"Cepat dimulai latihannya, aku lelah, ingin cepat pulang!" Sakura berkata sambil melingkarkan tangannya ke depan dada.
Sasuke sedikit menggoda gadis di hadapannya. "Oh oh oh, rupanya kau tidak sabar berduet denganku ya nona Haruno?"
Sakura bangkit dari duduknya, kemudian menyandarkan wajahnya ke atas dada bidang Sasuke, memutar-mutar jari telunjuknya yang lentik membentuk pola abstrak disana, bermaksud membalas menggodanya. "Ya, kau benar sekali Sasu-chan~,aku sudah tidak sabar ingin segera berduet denganmu."
DEG
Sasuke menegang seketika, tak disangka Sakura berani melakukan hal seperti ini, membalas menggodanya, yang ternyata sedikit berefek kepada dirinya, tapi jangan sebut Sasuke keturunan Uchiha kalau tak mampu mengatasi hal sepele seperti ini. Terlihat jelas diwajahnya yang masih terlihar datar meski tadi sempat menegang dan jantungnya sempat berdegup rumayan cepat.
Sasuke meraih bahu Sakura kemudian menundukkan wajah tampannya ke depan wajah Sakura yang terlihat agak kaget. "Kalau begitu-" Sasuke mendekatkan wajahnya ke depan wajah Sakura, sedikit memiringkan kepalanya, mempersempit jarak diantara keduanya.
Sedikit lagi benda kenyal nan tipis itu menyentuh bibir ranum Sakura,
Tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetok pintu terlebih dahulu. "Tuan mu-da, oh maaf saya mengganggu, saya membawakan kudapan untuk Tuan muda Sasuke dan nona Haruno, saya tidak mengetuk pintu karena tadi kedua tangan saya memegang nampan yang rumayan berat, sekali lagi maafkan saya Tuan muda,nona Haruno." Seseorang yang ternyata Tazuna berbicara sambil beberapa kali berojigi, sebenarnya ia hanya ingin menghilangkan kegugupan karena tadi melihat adegan yang tidak biasa di depannya.
"Hn, keluarlah." Sasuke mengibas-ngibaskan telapak tangannya, menyuruh sang kepala pelayan segera meninggalkan ruangan itu.
Sakura yang sejak tadi terdiam kaku, reflek menjauhkan dirinya dari Sasuke. "Apa-apaan kau tadi hah? Dasar mesum!"
Sasuke tak menggubris omelan Sakura yang dialamatkan padanya. "Ayo mulai latihan, kau tidak ingin berlama-lama disini bukan?"
Sasuke berjalan menuju sebuah partitur, kemudian ia mengambil selembar kertas dan menyerahkannya pada Sakura. "Ini lagu yang harus kita nyanyikan."
Sakura menyamber kertas itu kasar, masih kesal akan kejadian tadi. "Timeless?, mengapa harus lagu ini sih?"
"Kenapa? Kau tidak bisa bahasa inggris?"
"Bu-bukan begitu, hanya saja..." Sakura menundukkan kepalanya.
"Sudah jangan banyak bicara, diam dan nyanyikan lagu itu dengan baik, kau ingin cepat-cepat pulang kan?" Sasuke berbicara sambil menyiapkan microphone dan headset yang akan digunakannya dan digunakan Sakura untuk latihan.
"Ta-tapi..."
Sasuke tak mempedulikan kata-kata penolakan Sakura. Ia melangkah ke bagian sound system dan menekan beberapa tombol, mensetting musik pengiring atau backsound yang akan mengiringi suara mereka ketika bernyanyi, setelah selesai Sasuke mengambil sebuah remote yang dapat digunakannya untuk mengulang musik backsound secara otomatis bila diperlukan.
"Aku bagian pertamanya, baca baik-baik liriknya, jangan sampai salah." Sambil berbicara, Sasuke memasang headset di kedua telinganya.
"Hn, aku tahu, lagipula aku sudah hafal lirik lagu ini, kau tak usah khawatir." Sakura juga ikut memasangkan headsetnya di kedua telinganya.
.
.
.
- Sad Love Song-
.
.
.
"Aaaarghhhh! Kalau begini aku takkan bisa menang!" Sasuke berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambut ravennya. "Kau ini bisa tidak sih serius sedikit saja, lagu ini butuh penghayatan Haruno!"
"Kenapa kau yang menyalahkanku, aku sudah berusaha menghayatinya." Sakura berbicara seolah ia tak melakukan kesalahan apa-apa, padahal kenyataan justru sebaliknya.
Sasuke menyerah menghadapi sifat keras kepala si gadis musim semi. Akhirnya Sasuke berbicara baik-baik dengan Sakura menjelaskan apa saja hal yang harus dilakukan agar duet ini berjalan lancar.
"Begini ya Haruno, aku hanya akan menjelaskannya sekali, kau ingat baik-baik."
Sakura mengangguk malas. "Hn, baiklah."
"Lagu ini membutuhkan chemistry antara partner, kita harus menciptakan sebuah perasaan antara satu sama lain agar lagu ini terdengar harmonis dan saling melengkapi, kita juga harus memiliki perasaan layaknya 'sepasang kekasih' seperti makna lagu ini, agar perasaan dari lagu ini tersampaikan pada para penonton yang mendengarnya, mengerti?" Sasuke mengakhiri penjelasannya yang cukup panjang bagi ukuran seorang Uchiha.
"Hn, aku akan mencobanya." Jawab Sakura masih agak terdengar setengah malas.
Sasuke dan Sakura berlatih keras hari itu, namun latihan yang mereka jalani sepanjang hari tak terlalu mebuahkan hasil, mereka belum mendapatkan chemistry untuk menyanyikan lagu itu dengan tepat, alhasil Sakura harus rela terkena omelan Sasuke berkali-kali, karena mereka selalu mengulang-ulang lagu yang sama.
"Besok datang lagi seperti biasa, aku akan mengajakmu ke suatu tempat, jangan sampai terlambat! Ingat apa yang akan kulakukan kepadamu kalau sampai itu terjadi-" Sasuke sedikit mengancam Sakura, ia merencanakan sesuatu yang licik sepertinya.
"Ya ya ya, aku akan datang tepat waktu sesuai dengan permintaanmu TU-AN PAN-TAT A-YAM."
Sasuke membalas perkataan Sakura. "Berhenti mengataiku dengan sebutan menjijikan itu, dasar jidat lebar!"
"Hei-" Sakura tak dapat melanjutkan perkataanya, tiba-tiba saja wajah Sasuke dengan cepat berada di depan wajahnya.
"kalau kau macam-macam...aku akan menciummu HA-RU-NO." Sasuke menyentil dahi lebar Sakura kemudian berjalan melewati sang gadis musim semi yang masih mematung kaget. "Ini sudah malam, aku akan mengantarmu pulang."
"Eeh tak usah diantar, aku bisa pulang sendiri, lagipula aku tak sudi diantar orang mesum sepertimu, weee!" Sakura menjulurkan lidahnya kemudian berjalan mendahului Sasuke.
Tiba-tiba saja Sakura tidak dapat mengendalikan keseimbangannya lagi, tubuhnya terhuyung ke depan, pandangan matanya gelap, ia tak dapat melihat apa-apa, sakit kepala yang dirasakannya tadi siang muncul kembali.
TAP
Sebuah lengan kokoh melingkari pinggang Sakura, mencegah tubuh ringkih sang gadis musim semi jatuh ke atas lantai marmer mansionnya.
Sasuke berbicara dibelakang tubuh Sakura. "Kau ini merepotkan sekali sih, tubuhmu lemah, berbanding terbalik dengan sikapmu yang keras kepala."
Sakura dengan cepat memposisikan dirinya kembali berdiri seperti tidak terjadi apa-apa, ia masih merasakan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya, menepis rasa sakit itu, Sakura mencoba bertahan menahan rasa sakit yang kerap kali muncul ketika merasa lelah. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya.
Satu hal yang Sakura takuti, ia tidak ingin seseorang selain Senpainya, Gaara, mengetahui penyakit yang ia derita selama setahun terakhir ini, penyakit yang sama, sama seperti kaa-san nya, penyakit yang telah merenggut nyawa ibu yang sangat dicintainya, dan...dan-, Sakura jadi sedih jika mengingat kejadian itu, ia tak mau, tak mau larut dalam kesedihan lagi, ia harus menjadi gadis kuat, seperti janjinya.
"Aku tidak butuh bantuanmu bodoh! Cepat antarkan aku pulang, aku tak mau kena omelan keluargaku." Sakura berjalan menjauhi Sasuke yang masih menatapnya dengan tatapan bingung.
'Dasar gadis aneh.'
Sasuke mengejar Sakura, kemudian mengantarkan Sakura dengan mobil ferarri hitam kesayangannya.
"Itu dia gang menuju rumahku." Sakura menunjuk sebuah gang sempit yang menuju ke rumahnya. "Kau antarkan sampai depan gang saja, mobilmu takkan muat masuk ke gang itu."
"Siapa yang mau mengantarmu sampai depan rumah, aku tak sudi kalau mobil mahalku sampai lecet terkena bangunan lapuk yang kau sebut rumah itu." Sasuke berbicara dengan sombongnya.
"Cih, aku juga tak sudi orang sombong sepertimu menginjakkan kaki di rumahku, pergi sana! Terima kasih sudah mengantarkanku pulang TU-AN MU-DA U-CHI-HA!" Sakura menggebrak pintu mobil Sasuke dengan kasar, meninggalkan sang empunya yang masih setia di depan kemudinya.
"Bisa juga kau mengatakan terima kasih. Besok jangan terlambat, ingat itu gadis bodoh!" Sasuke berteriak dari dalam mobilnya.
Sakura hanya melambaikan sebelah tangannya, enggan menjawab perkataan yang dilontarkan sang pemuda bermata onyx di belakangnya.
.
.
Di mansion Uchiha
-Sasuke POV-
Sekarang Sasuke sedang berada di kamarnya, berdiri di atas balkon, menikmati angin malam yang menerpa wajah tampannya, kegiatan yang hampir dilakukannya setiap malam.
Disela-sela kegiatannya menikmati belaian angin, Sasuke teringat akan sesuatu, teringat akan kejadian yang hari ini dua kali membuatnya 'agak' panik.
'Aneh, mengapa gadis bodoh itu cepat sekali lelah ya, apa tubuhnya memang lemah atau-?'
Sasuke buru-buru menepis pikirannya, ia berfikir ini semua pasti hanya kebetulan.
'Ah, mana mungkin, gadis keras kepala seperti si bodoh itu memiliki tubuh lemah, paling ia hanya berpura-pura mencari perhatianku saja, cih! Sama saja dengan gadis-gadis lain.'
Sasuke beranjak dari balkon menuju tempat tidur king size miliknya, merebahkan diri kemudian perlahan menutup mata onyxnya, sebelum benar-benar menghilangkan kesadarannya Sasuke bergumam.
'Tapi aku merasakan hal lain, hal lain yang tak dimiliki gadis lain selain Sakura, ia... seperti...tidak memiliki perasaan...hampa, dingin dan kesepian, sama sepertiku.'
Tak lama kemudian Sasuke pun melayang ke alam mimpi, mimpi yang kelak akan merubah hidupnya, sebentar lagi.
.
.
.
- Sad Love Song-
.
.
.
"Hei, kita akan pergi kemana?" Sakura bertanya sambil menatap pemandangan jalanan melalui kaca mobil milik Sasuke.
Sasuke nampak acuh, ia hanya menjawab singkat. "Hn, kau akan tahu nanti."
Sakura menggerutu dalam hati. 'Menyebalkan, tinggal kasih tahu nama tempatnya, gampang kan? Dasar pantat ayam!'
Sasuke memarkir mobil ferarri hitamnya di depan trotoar sebuah gedung, gedung yang rumayan besar dan megah, gedung berwarna putih yang bertuliskan Konoha International Hospital.
"Sudah sampai." Sasuke melepaskan seatbeltnya, kemudian beranjak keluar dari mobil kesayangannya, meninggalkan Sakura yang masih terpaku di tempat duduk.
Sakura keluar dari mobil, betapa terkejutnya ia saat mengetahui si Uchiha bungsu itu membawanya ke tempat yang sangat ia benci. "Ini kan rumah sakit, jangan bilang kita akan latihan bernyanyi disini? kau pasti bercanda Uchiha."
Sasuke memalingkan wajahnya ke arah Sakura. "50 persen benar"
Sakura masih belum mengerti arah pembicaraan Sasuke. "Apa maksudmu hah?"
"Kita akan latihan disini, bukan latihan bernyanyi, tapi latihan yang akan membuat penampilan kita sempurna, ayo masuk!"
Tanpa ba bi bu lagi, Sakura mengikuti Sasuke yang sudah terlebih dahulu berjalan meninggalkannya, memasuki rumah sakit, Sakura merasa dadanya kembali sesak, teringat kejadian beberapa tahun lalu saat kedua orang tuanya meninggal, ya, tepatnya di rumah sakit inilah kedua orang tuanya meregang nyawa, meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
.
.
-Flashback ON-
.
.
"Kaa-san...kumohon bertahanlah, jangan tinggalkan Sakura, Sakura sayang Kaa-san, hiks..hiks..." Sakura menangis tersedu-sedu saat melihat tim dokter Konoha International Hospital memasangkan alat pemicu detak jantung ibunya, beberapa kali mereka mencoba menekan benda itu di atas dada Kaa-san nya yang sudah tak sadarkan diri, namun nampaknya hasilnya nihil, Kaa-san yang dicintainya tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda ia akan sadar.
Dokter sudah mulai melepaskan alat-alat yang selama ini menopang hidup tubuh dari Haruno Mebuki, wanita yang mengidap kanker otak stadium akhir. Tak ada lagi yang dapat mereka lakukan, karena wanita tersebut sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
"Maaf, kami sudah berusaha semampu kami, namun takdir berkehendak lain, Nyonya Haruno tidak dapat ditolong, kankernya sudah menyebar dan melumpuhkan semua syaraf-syarafnya, sekali lagi kami mohon maaf." Setelah salah satu dokter berbicara kepada ayah Sakura, Haruno Kizashi, merekapun meninggalkan Kizashi yang masih belum percaya dengan kenyataan yang baru saja didengarnya, kenyataan bahwa istri yang paling dicintainya meninggal dunia, meninggalkan dirinya dan keluarganya untuk selamanya.
Tak terasa liquid bening mengucur deras keluar dari sudut mata Haruno Kizashi. "Sasori...Sakura...Kaa-san kalian—sudah meninggal, meninggalkan kita untuk selama-lamanya."
"Tidak! Tou-san bohong, Kaa-san wanita yang kuat, dia sudah bertahan selama ini, bertahan dari penyakit yang mulai menggerogotinya semenjak ia punya anak Sasori-nii, tidak mungkin ia pergi secepat ini kan Tou-san?" berbicara dengan nada terisak dan pipi yang sudah basah dengan air mata, Sakura menyangkal kenyataan yang diucapkan ayahnya, ia tak percaya bahwa Kaa-san nya telah tiada.
"Kau harus menerima kepergian Kaa-san dengan ikhlas, Saku, ia tidak meninggalkan kita, ia masih hidup, disini." Sasori berbicara sambil meletakkan sebelah tangannya di atas dadanya sendiri. "Kalau kau sedih terus, Kaa-san juga akan sedih, ia tak akan tenang di alam sana, kau tak mau itu terjadi kan Saku?" Sasori terlihat sangat tabah, ia tak ingin memperlihatkan kesedihannya di depan ayah dan adik perempuannya, ia berusaha menjadi penyemangat kepada kedua orang yang sangat dicintainya.
Haruno Kizashi terpaku melihat sikap Sasori yang ditunjukkan kepada Sakura, sikap seorang kakak yang sangat tegar menghadapi kenyataan pahit, sikap yang tidak bisa ia tunjukkan kepada kedua anaknya yang sangat ia cintai, ia tak mampu bersikap seperti Sasori karena ia terlalu mencintai Haruno Mebuki, mendiang istrinya.
"Apa benar begitu Nii-chan?" Sakura menyeka air matanya kemudian mendongakkan wajahnya, menatap wajah Sasori yang sedikit mengulas senyum.
"Tentu saja, mana mungkin nii-chan berbohong pada gadis semanis dirimu, humm?" Sasori menoel pelan hidung mancung Sakura.
"Baiklah, aku mengerti, mulai sekarang aku harus selalu mendoakan Kaa-san agar bahagia di alam sana, dan mulai sekarang aku juga berjanji akan menjadi gadis yang tegar dan kuat." Sakura mengulas senyum, senyum keikhlasan yang sama seperti senyum yang diperlihatkan Sasori.
Kizashi tersenyum. "Sampai kapan kalian terus bertatap-tatapan seperti itu, kita harus segera mengurusi pemakaman Kaa-san kalian, ayo Sasori, Sakura."
3 bulan kemudian...
"Hoekk! Hoekk! ya Tuhan kenapa darahnya semakin banyak, tubuhku juga semakin melemas, apa sampai disini saja aku bertahan..." Haruno Kizashi berucap pelan disela tangannya yang sibuk membersihkan darah yang berceceran.
Tanpa Kizashi sadari seorang gadis bersurai bubble gum menghambur ke arahnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Tou-san, tou-san? Kau tidak apa-apa? aku mendengar batuk Tou-san semakin parah akhir-akhir ini, aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang, aku akan menelpon Sasori-nii nanti." Sakura lekas memanggil pelayan untuk menelpon rumah sakit, kemudian memanggil ambulan untuk membawa Tou-san nya.
Kizashi mencoba menyenderkan punggungnya ke atas tempat tidur. "Tidak perlu Sakura, tou-san baik-baik saja, kau tak perlu membawa tou-san ke rumah sakit, uhuk! Uhuk!"
"Baik-baik apanya? Darah Tou-san tercecer dimana-mana, aku—aku tidak ingin Tou-san kenapa-kenapa, aku tidak ingin Tou-san juga pergi meninggalkanku seperti Kaa-san, Hiks... hiks..." runtuh sudah pertahanan Sakura, cairan bening yang selama ini ditahannya agar tak kembali keluar, kali ini merembes begitu saja dari mata emeraldnya.
Konoha International Hospital
"Saku... kau harus janji pada Tou-san untuk jadi anak baik, jaga dan sayangi nii-san mu, Sasori, meskipun terlihat tegar, ia sangat rapuh di dalam, dan satu hal lagi-," Kizashi menggantungkan kata-katanya. "Sebenarnya penyakit ini bukan penyakit biasa, penyakit ini muncul semenjak kepergian Kaa-san mu, Tou-san terlalu sedih karena tidak bisa menerima kepergian Kaa-san mu, akibatnya kondisi fisik dan psikis Tou-san memburuk yang menyebabkan penyakit ini menggerogoti tubuh Tou-san dengan sangat cepat."
"Aku memang anak tak berguna, membiarkan Tou-san menderita sendirian, hiks...hiks..." Sakura kembali menumpahkan air matanya.
Kizashi mengelus pelan surai merah muda milik Sakura. "Bukankah kau sudah berjanji tak akan menangis lagi Saku-chan?"
"Ta-tapi-"
"Saku—uhukk! Uhukk! Waktu Tou-san tak banyak lagi sayang, satu pesan terakhir Tou-san... jangan pernah mencintai seseorang terlalu dalam, karena...kau akan menyakiti dirimu sendiri dan mungkin juga orang yang kau cintai, sama seperti Tou-san yang terlalu mencintai Kaa-san mu, bukannya Tou-san mengajarkanmu bersikap jahat untuk tidak mencintai seseorang, tetapi carilah seseorang yang memiliki hati lapang, hati yang siap menerima segala konsekuensi dari hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi, kau mengerti Sakura?"
Sebelum Sakura menjawab pertanyaan Kizashi, tak lama setelah Kizashi mengucapkan kalimat terakhirnya, ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, meninggalkan Sakura dan Sasori, menuju ke alam damai, menyusul istri tercintanya Haruno Mebuki.
Seorang pemuda membuka pintu ruang VIP rumah sakit. "Saku-"
Sang pemuda yang diketahui bernama Sasori terpaku melihat Sakura terduduk di samping tempat tidur ayahnya yang kini telah diselimuti kain putih menutupi seluruh tubuhnya, terbujur kaku tak bernyawa.
.
.
-Flashback OFF-
.
.
'Jangan pernah mencintai seseorang terlalu dalam...karena...kau akan menyakiti dirimu sendiri dan mungkin juga orang yang kau cintai.'
Sakura masih bergelut dengan pikirannya sendiri, mengacuhkan seseorang yang sedang berada di depannya.
"Hoi! Gadis bodoh, kenapa kau diam saja." Sasuke melambai-lambaikan sebelah tangannya di depan wajah Sakura.
Sakura berteriak frustasi. "Diam kau pan-,ah sudahlah, ayo jalan!"
Sasuke mengedikkan sebelah bahunya. "Hn"
.
"Kau tunggu disini, aku beli minuman dulu, jangan pergi kemana-mana sebelum aku kembali." Sasuke memperingati Sakura kemudian beranjak pergi.
"Hn, sana pergi." Sakura membatin. 'Dasar bodoh, aku tak mungkin kena jebakanmu dua kali, cih! Tak sudi aku menunggu.' "Aku akan jalan-jalan sebentar, biar saja si pantat ayam sialan itu kewalahan mencariku, hi hi hi..." Sakura tertawa licik kemudian melenggang pergi menyusuri rumah sakit besar itu.
Ternyata Sasuke tak membeli minuman yang seperti dikatakannya tadi, ia hanya berpura-pura, ia sebenarnya tahu bahwa Sakura bukan gadis yang suka diperintah apalagi ia pernah mengerjai gadis itu berkali-kali, Sasuke melakukan ini agar Sakura menemukan sendiri hal yang ingin ditunjukkannya, hal yang mungkin memunculkan sifat Sakura yang sebenarnya, sifat selain keras kepalanya. Diam-diam Sasuke mengikuti Sakura dari belakang, membuntutinya seperti seorang penguntit.
Ketika Sakura tengah berjalan menuju area taman rumah sakit, langkahnya tiba-tiba terhenti, Sakura menabrak seorang gadis kecil yang sedang berlari kencang, anak tersebut jatuh tersungkur sambil mengusap-usap kepalanya, terdengar suara rintihan kecil dari bibir mungilnya.
"Go-gomen..." Pekik Sakura dan gadis kecil itu bersamaan.
"Uhmm, daijoubu?" Sakura berjongkok, menyamakan tingginya dengan gadis kecil yang baru saja ditabraknya barusan.
"Emm, daijoubu, nee-san, gomen ne tadi aku berlari hingga tak melihat kalau ada orang di depan, he he he..." Gadis kecil tersebut mengulaskan senyum lima jarinya sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
'Nampaknya gadis kecil ini salah satu dari pasien rumah sakit, dapat dilihat dari seragam pasien yang dikenakannya, lagipula wajahnya terlihat pucat, padahal wajahnya sangat manis.' Sakura membatin menelisik penampilan dari gadis kecil yang berdiri di hadapannya.
"Tak apa, ngomong-ngomong siapa namamu gadis manis?" Sakura berbicara sambil mengelus-elus rambut coklat panjang si gadis kecil.
"Mayu, Mayu Aizawa, nee-san?" Si gadis kecil yang ternyata bernama Mayu mengulurkan sebelah tangannya ke arah Sakura tak lupa menyungginggkan senyum yang terlihat sumbringah.
"Sakura, Haruno Sakura, Mayu-chan~" Sakura mencubit gemas pipi gembil Mayu.
Mayu mengelus-elus pipinya kemudian mengerucutkan bibir mungilnya. "Aww, sakit Nee-chan~"
Sakura tersenyum kemudian melontarkan pertanyaan kepada Mayu. "Habis kau manis sih, oya, ngomong-ngomong kenapa kau berlari tadi?"
Mayu menjawab. "Aku dikejar oleh temanku, Asuka."
Tiba-tiba seorang anak kecil seumuran Mayu berlari menuju tempat Sakura dan Mayu berada. "Hei Mayu! Hosh! Hosh! Ter-ternyata ka-kau ada disini, sejak tadi aku mencarimu, kau jangan pergi sendirian tanpa aku, nanti kalau kau pingsan lagi bagaimana?"
Sakura menyela perkataan bocah yang kini menatap intens Mayu. "Kau pasti yang bernama Asuka kan?"
"Kok Nee-san bisa tahu namaku?"
"Mayu yang memberi tahu padaku, nah sekarang kalian sudah bertemu, berhubung kalian anak yang manis-manis, hari ini aku berbaik hati mentraktirkan ice cream untuk kalian, bagaimana?"
"Eeh, tak apa-apa Nee-san, kita kan baru berkenalan, masa langsung di traktir, ka-kami..." Asuka agak gugup berbicara di hadapan Sakura.
"Jangan khawatir, aku bukan orang jahat, Aku juga punya tiga orang adik seumuran kalian, kalau melihat kalian, aku jadi ingat dengan adik-adikku di rumah. Jadi bagaimana? Tawaranku diterima tidak?"
Mayu menyenggol lengan Asuka kemudian berbisik di sebelah telinga Asuka. "Sudah, terima saja, mumpung gratis."
"Hmm, baiklah Nee-san." Asuka dan Mayu menjawab bersamaan.
Sakura menggandeng tangan Mayu dan Asuka bergegas membeli ice-cream yang dijanjikannya. Sakura masih tak menyadari bahwa sejak tadi Sasuke mengamatinya dengan seksama.
'Tak kusangka, si bodoh itu bisa bersikap manis juga.' Seringai licik terpatri di wajah tampannya.
.
.
.
- Sad Love Song-
.
.
.
Sekarang Sakura, Mayu dan Asuka berada di area taman belakang Konoha International Hospital, mereka sudah membeli ice cream yang tersedia di cafetaria rumah sakit.
"Berhubung aku sudah mentraktir kalian ice cream, ceritakan padaku tentang diri kalian, bagaimana?"
Asuka memijit-mijit dagunya. "Hemm, baiklah Nee-san, aku yang akan bercerita terlebih dahulu, tak apa Mayu?"
Mayu masih sibuk menjilati ice cream stroberi miliknya, dia hanya bergumam. "Hn"
"Begini Nee-san, aku ini sahabatnya Mayu-chan, sudah lama kami bertetangga, mungkin sebelum kami lahir, ayah dan ibuku dokter di rumah sakit ini, mereka yang bertanggung jawab atas Mayu, Mayu...ia..." tenggorokan Asuka tercekat, ia tak dapat melanjutkan kata-katanya.
Mayu melanjutkan perkataan Asuka. "Leukimia, aku mengidap penyakit menyebalkan itu, aku akan mati...tak lama lagi."
Sakura membulatkan mata emeraldnya, ia tak menyangka gadis sekecil Mayu harus mengidap penyakit yang sangat berat, penyakit yang dengan cepat menggerogoti pertahanan imun dari si penderita, hal itulah yang diketahui Sakura. Sakura menunduk lemas, mencoba memahami perasaan Mayu dan Asuka.
Sakura mencoba menyemangati dua anak kecil dihadapannya. "Kau tidak boleh menyerah Mayu-chan, kudengar penyakit itu bisa disembuhkan jika dilakukan pencakokkan sum-sum tulang belakang, masih ada harapan bukan?"
Asuka juga ikut menyemangati Mayu. "Iya Sakura-nee benar, ayah dan ibuku akan berusaha mendapatkan donor untukmu, Mayu-chan bersabarlah."
"Sudah dua tahun Asuka-kun, tak ada tanda-tanda mereka menemukan donor yang cocok untukku, bahkan ayah dan ibuku saja tidak cocok, sudahlah aku mau menikmati sisa waktuku yang sedikit ini, ayo Asuka-kun kita main lagi, oya Sakura-nee, senang bisa berkenalan denganmu, arigatou atas traktirannya."
Mayu beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Asuka dan Sakura yang menatapnya sedih.
"Tunggu aku Mayu chan! Hontou ni arigatou Sakura-nee." Asuka berojigi kemudian berlari menyusul Mayu yang sudah beberapa langkah berada di depannya.
Sebelum Asuka berhasil menyusul Mayu, terdengar sebuah teriakan yang berasal dari bocah laki-laki yang baru saja pergi meninggalkan Sakura.
"Astaga, Mayu!"
Di ruang ICU
"Mayu...Mayu...bertahanlah, hiks—hiks." Terdengar suara isakan yang muncul dari bibir mungil Asuka.
"Kau harus kuat Asuka-kun, Mayu akan bertahan, percayalah." Sakura menyemangati Asuka, perlahan tangannya mengelus punggung kecil bocah di sampingnya.
Asuka menundukkan wajahnya. "Mayu...Mayu...dia sangat penting bagiku, aku sangat menyayanginya, aku tak ingin dia pergi, aku tak bisa kehilangannya,hiks...hiks..."
Sakura tak tega melihat keadaan Mayu dan Asuka, secara tak sadar ia menitikkan air mata, air mata yang seharusnya tak boleh ia tunjukkan lagi, namun kali ini perasaannya tak dapat di tahan lagi, kejadian masa lalu itu terulang lagi.
Ditengah keprihatinan mendalam yang tengah dialami Sakura, tiba-tiba seorang pemuda tampan berambut raven menghampirinya, duduk disebelahnya. Reflek tangan pemuda itu terulur merengkuh tubuh mungil Sakura yang sedikit terlihat bergoncang karena terisak.
"Haruno, ayo pulang."
Sasuke mengajak Sakura pulang kerumahnya. Di tengah perjalanannya menuju mobil ferrari hitamnya yang terparkir di tepi jalan, Sasuke membatin. 'Tak ku kusangka rencanaku membawa Sakura ke rumah sakit berjalan melebihi yang ku harapkan, sungguh di luar dugaan, kuharap dengan ini Sakura bisa belajar.'
Mansion Uchiha
"Dimana Sasuke, Tazuna?"
"Tuan muda sedang pergi ke rumah sakit, Mikoto-sama." Tazuna menjawab patuh pada nyonya Uchiha yang baru saja datang satu jam yang lalu.
"Rumah sakit? Untuk apa ia kesana?" Suara nyonya Uchiha terdengar sedikit menyelidik perihal kepergian putra bungsunya.
"Katanya ia ingin latihan untuk mempersiapkan penampilannya di acara sekolah nanti bersama nona Haruno." Tazuna berbicara lancar menjelaskan alasan tuan mudanya pergi ke rumah sakit.
Mikoto merasa janggal dengan jawaban yang diberikan Tazuna, tidak biasanya Sasuke pergi bersama seseorang, kecuali dengan Naruto, apalagi sekarang ia pergi bersama seorang gadis yang tidak ia ketahui asal-usulnya. Ia kembali bertanya. "Oh begitu, tunggu dulu, tadi kau menyebut nona Haruno, siapa dia? Apa ia teman sekolah Sasuke?"
"Nampaknya nona Haruno bukan teman sekolah Tuan muda Sasuke, penampilannya bisa dibilang sangat sederhana, berbeda dari teman-teman sekolahnya."
"Hmm, begitu...yasudah kau kembali bekerja." Perintah Mikoto.
"Baik, Mikoto-sama." Tazuna berojigi kemudian pergi meninggalkan Nyonya nya.
"Ada kecoak kecil lagi rupanya, Kakashi, mulai sekarang kau bertugas mengawasi gerak-gerik Sasuke dan gadis itu, tugasmu akan digantikan oleh Yamato nanti." Mikoto berbicara seolah ia sudah sering menghadapi masalah seperti ini, ya, bukan sekali dua kali putra bungsunya di dekati gadis murahan yang hanya mengincar harta mereka bukan.
Seorang pria tegap berambut putih keperakan menjawab. "Baik, Mikoto-sama."
.
"Besok datang seperti biasa!" Sasuke berteriak dari dalam mobil ferarri hitamnya, meneriaki Sakura yang berjalan gontai menuju rumahnya yang terletak di sebuah gang sempit.
Sakura tak menjawab, ia hanya mengangkat tangan kanannya malas tanpa menoleh ke belakang.
"Dasar, selalu saja begitu." Sasuke memutar kemudi, kemudian memacu mobilnya pergi dari depan gang rumah Sakura.
.
"Siap?" Sasuke bertanya kepada Sakura yang terlihat tak menunjukkan ekspresi apapun.
Sakura bersiap memakai headsetnya. "Hn, jangan banyak bicara, ayo mulai."
Saat mereka tengah latihan, tak disangka Sakura menunjukkan ekspresi tak terduga, dapat dilihat ia sangat menghayati lagu yang dibawakannya bersama Sasuke, Sasuke juga terpengaruh oleh penghayatan Sakura, baik Sasuke dan Sakura sama-sama mengeluarkan segenap perasaan dan kemampuan mereka menyanyikan lagu ini, meresapi makna dari setiap kata dan bait lagu, tanpa mereka sadari, sesuatu tumbuh dalam hati mereka masing-masing, sesuatu yang ditakuti Sakura, sesuatu yang kelak membawanya dalam kesedihan.
.
"Aku lelah, sudah satu bulan lebih kita latihan menyanyikan lagu yang sama, berulang-ulang, mengajakku ke tempat-tempat aneh, capek sekali rasanya, sebenarnya kapan sih acara itu diadakan? Aku akan mati jika terus bersamamu lebih lama lagi." Sakura menghempaskan tubuhnya ke atas sofa coklat studio musik mansion Uchiha.
Sakura tak mau lebih lama bersama Sasuke, ia tak mau perasaannya berkembang lebih dari ini, Sakura sadar, bersama-sama dengan pemuda Uchiha itu selama sebulan lebih membuat benih-benih dalam hatinya mulai tumbuh menjadi perasaan cinta, perasaan yang tak boleh muncul dalam hati Sakura. Perlakuan yang kerap Sasuke lakukan padanya, walau terkadang kekanak-kanakan dan terkadang membuat jantungnya berdebar kencang, tak elak membuat dirinya perlahan-lahan menyukai pemuda Uchiha itu, meskipun Sakura tak pernah mengakui perasaanya.
"Acara itu diadakan lusa, hari ini hari terakhir kita latihan." Sasuke berbicara sambil berjalan menuju ke sebuah lemari minimalis yang terletak di sebelah sofa coklat yang di duduki Sakura.
Sasuke mengambil sebuah kotak yang cukup besar berisi gaun selutut berwarna pink pastel sedada tanpa lengan, beberapa hiasan seperti bros, kalung, anting dan hiasan rambut sederhana namun elegan,sepasang sepatu yang nampak transparan, seperti sepatu kaca Cinderella, unik, namun tetap tak meninggalkan kesan elegan di dalamnya.
Sasuke melemparkan kotak tersebut ke atas paha Sakura. "Untukmu, pakailah saat tampil di acara itu."
Sakura sedikit terkejut ketika melihat isinya, ia bertanya-tanya, kapan Sasuke membeli semua itu? Apakah ia memilihkan semuanya sendiri? Gaunnya terlihat pas di tubuhnya yang ramping, ukuran sepatunya juga pas, Sakura semakin curiga kalau Sasuke benar-benar memilihkan semua ini sendiri, secara sudah satu bulan lebih Sakura selalu bersama-sama dengan Sasuke.
Dahi Sakura mengkerut, alisnya juga saling bertautan.
"Apa lihat-lihat, Kenapa? tak suka?" Sasuke berbicara innocent.
Sakura menjawab pertanyaan Sasuke. "Ya, aku tidak menyukainya, puas kau hah?"
"Hei, kau tak pernah menghargai usaha orang lain ya, dasar bodoh, kalau tak suka buang saja, aku tak peduli kau mau pakai baju apa nanti." Sasuke berbicara sambil membelakangi Sakura, menyembunyikan ekspresi kesal yang tampak di wajah tampannya.
"Hahaha, kau ini lucu sekali, baru kugoda sedikit saja langsung marah, aku hanya bercanda Sasu-chan~, lagi pula sayangkan gaun seindah ini harus dibuang, baiklah, aku akan mengenakannya saat acara nanti, dan setelah acara itu berakhir, lelucon ini juga ikut berakhir, aku akan kembali ke kehidupan normalku, ahh senangnya~"
Sasuke menatap sayu Sakura, ia tak rela mendengar perkataan yang baru saja dilontarkan Sakura barusan, 'Berakhir ya... akan segera berakhir, kenapa dadaku terasa sesak memikirkan hal itu, aku tidak mungkin kan jatuh cinta pada gadis bodoh seperti dia.' Sasuke bimbang antara pikiran dan perasaanya, pikiran dan perasaanya berjalan berlawanan arah. Apakah ini yang disebut cinta, perasaan asing yang baru saja Sasuke rasakan selama 17 tahun hidupnya.
Tanpa Sasuke sadari, Sakura juga memikirkan hal yang sama seperti yang dipikirkan Sasuke, bersama-sama dengan Sasuke lebih dari satu bulan, membawanya pada pengalaman baru, pengalamannya bersama seorang laki-laki yang tak pernah terjadi sebelumnya, karena ia memutuskan untuk tidak jatuh cinta dengan siapapun yang mengharuskannya menghindari setiap laki-laki yang tertarik dengan dirinya. Ia menerima ajakan Sasuke, karena ia berfikir Sasuke tak tertarik padanya semenjak mereka bertemu. Namun takdir berkata lain, hal yang tak diinginkannya justru menjadi kenyataan, jatuh cinta pada seorang pemuda tampan kaya raya seperti Sasuke merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
.
.
.
- Sad Love Song-
.
.
.
Hari acara ulang tahun Konoha Art High School
"Hoi teme! Disini!" Seorang pemuda pirang jabrik melambai-lambaikan tangan ke arah Sasuke.
Sasuke menggandeng Sakura menuju tempat Naruto dan Hinata. Sebelumnya Sasuke memberi tahu nama kedua temannya tersebut kepada Sakura.
Sesampainya di tempat Naruto dan Hinata, Sakura berinisiatif memperkenalkan diri.
Sakura menyunggingkan senyum dan bersikap ramah memperkenalkan dirinya. "Haruno Sakura desu, yoroshiku! Naruto-san, Hinata-san." Sakura mengulurkan sebelah tangannya.
Naruto membalas uluran tangan Sakura. "Uzumaki Naruto."
Hinata juga melakukan hal yang sama seperti Naruto. "Hyuuga Hinata."
Naruto memandang takjub penampilan Sakura. "Wow, cantik sekali gadis ini, jadi dia orangnya, gadis yang waktu itu kau ceritakan, tak kusangka seleramu bagus juga."
Sasuke juga tak menyangka Sakura akan tampak sangat cantik malam ini, padahal hanya riasan tipis saja yang memoles wajahnya yang memang sudah cantik alami, tapi efeknya jadi sangat luar biasa, membuat gadis tujuh belas tahun itu terlihat bak dewi-dewi yunani. Ia sempat tersipu tadi ketika menjemput Sakura, tak elak jantungnya juga berdegup kencang saat Sakura berpenampilan feminin seperti ini, berbeda sekali dengan Sakura yang selalu berpenampilan tomboy dan sederhana yang menjadi trademark Sakura sehari-hari.
"Hei dobe, jangan memuji gadis bodoh ini berlebihan, lihat gadismu, gaunnya sudah lecek begitu." Sasuke mengedikkan kepalanya ke arah Hinata.
"E-eh tak apa yang kau ka-katakan Sasuke-kun, aku hanya gugup kok." Hinata berusaha meyakinkan Sasuke dan sedikit memberi pengertian pada Naruto yang memasang wajah bersalah.
Sakura mencoba mencairkan suasana. "Sudahlah, acaranya segera dimulai, lebih baik kita bersiap-siap."
Mereka berempat kini duduk di belakang panggung, menunggu giliran untuk tampil, Sasuke meyakinkan Sakura agar tak gugup saat berada di panggung nanti. Sasuke dan Sakura mendapat giliran terakhir tampil.
"Ayo Sakura, giliran kita." Sasuke mengulurkan sebelah tangannya kepada Sakura.
Sakura menggenggam tangan Sasuke, mereka berdua pergi ke atas panggung, banyak orang penting yang hadir dalam acara itu, petinggi sekolah, beberapa aktris, aktor, penyanyi, sutradara dan beberapa alumni dari Konoha Art High School, tak lupa banyak agen pencari bakat, produser musik, wartawan dan paparazzi yang tersebar di beberapa sudut aula besar itu.
Sasuke dan Sakura memperkenalkan diri mereka masing-masing dan menyebutkan judul lagu yang akan mereka bawakan malam itu, keduanya menarik nafas panjang kemudian merekapun mulai bernyanyi.
Sasuke
Baby come close let me tell you this
In a whisper my heart says you know it too
Baby we both share a secret wish
And you're feeling my love reaching out to you
Sasuke & Sakura
Timeless
Don't let it end (no)
Now that you're right here in my arms where you should stay
Hold tight baby
Timeless
Don't let it fade out of sight
Just let the moments sweep us both away
Lifting us to where
We both agree
This is timeless
Love...
Sakura
I see it all baby in your eyes
When you look at me i know i feel it too (yes i do)
Sasuke & Sakura
So let's sail away and be forever baby
Where the crystal ocean melts into the sky
We shouldn't let the moment pass
Making the shiver let's make it last
Why should we lose it don't ever let me go
Timeless
Don't let it end (no)
Now that you're right here in my arms where you should stay
Hold tight baby
Timeless
Don't let it fade out of sight
Just let the moments sweep us both away
Lifting us to where
We both agree
This is timeless
Love...
Sasuke
Baby its timeless
Sakura
Oh baby its timeless
Sasuke & Sakura
Timeless
Don't let it fade out of sight
Just let the moments sweep us both away
Lifting us to where
We both agree
It's just timeless
It's just timeless
Love...
Sasuke dan Sakura saling berpandangan, keduanya tersenyum puas karena dapat menyanyikan lagu dengan sempurna. Penampilan penutup yang disuguhkan Sasuke dan Sakura sangat memukau, tak elak di ruang aula yang besar itu terdengar suara riuh tepuk tangan, lampu blitz dari kamera para paparazzi pun mulai berkilat dimana-mana.
Sakura merasa dirinya agak aneh semenjak tampil di panggung tadi, ia sedikit susah berbicara, mengucapkan sebuah katapun ia merasa kesulitan, alhasil suaranya terdengar sedikit serak. "Sa-sasuke, a-aku permisi pergi ke to-toilet."
"Ada apa Sakura? Kenapa suaramu terdengar seperti Hinata?" Sasuke memegang bahu Sakura, memastikan keadaan Sakura.
"Tak a-apa, a-aku ma-masih gu-gugup." Sakura masih berusaha berbicara pada Sasuke, meski terasa sulit, Sakura berusaha meyakinkan Sasuke bahwa dirinya baik-baik saja.
Sasuke memegang pergelangan Sakura, mendekatkan wajah tampannya ke arah wajah Sakura, sedetik kemudan bibir tipis Sasuke mendarat di dahi Sakura, hanya kecupan singkat yang dapat membuat Mata Sakura melebar seketika akibat perlakuan mendadak Sasuke.
Sasuke mengerti akan penjelasan Sakura. "Baiklah, kau boleh pergi, jangan lama-lama ya, nanti ada sesi wawancara yang akan dilaksanakan setelah ini."
Sakura pergi meninggalkan Sasuke. Di tengah perjalanannya menuju toilet wanita, tiba-tiba seseorang menarik lengannya, kemudian orang itu memaksanya naik ke dalam sebuah mobil hitam yang terparkir di depan sekolah Sasuke, Sakura tak berontak, bukannya ia tak mau mengelak dari pria yang tiba-tiba saja membawanya pergi secara paksa, hanya saja hal itu tak dapat Sakura lakukan karena ia merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya, tangan dan kakinya mati rasa, tak dapat bergerak, seperti tertahan sesuatu. Mau tak mau ia hanya diam dan menuruti kedua pria yang mengamit tangannya secara paksa serta pria berambut putih keperakan yang sebagian wajahnya ditutupi masker itu.
.
"Jadi dia orangnya, kecoak kecil yang mengganggu putraku. Kerja bagus Kakashi, kau boleh pergi."
"Baik Mikoto-sama." Kakashi menunduk hormat kepada seorang wanita yang berada dihadapannya yang ternyata adalah Uchiha Mikoto, Nyonya besar keluarga Uchiha.
Sakura merasakan hal yang tak enak, nampaknya wanita yang tengah duduk di hadapannya ini Ibu dari Sasuke. Nyonya Uchiha. Sakura mengumpulkan segenap kekuatannya, ia tak ingin terlihat lemah di hadapan wanita cantik yang terlihat angkuh itu. Usahanya tak sia-sia, kemampuan berbicaranya kembali normal tangan dan kaki yang semula sulit digerakkan kembali normal seperti sedia kala.
'Tuhan, berikan aku kekuatan, kali ini saja, kumohon.' Sakura berdoa dalam hati.
Mikoto langsung bicara to the point pada Sakura, mencoba melakukan penawaran. "Berapa yang kau minta? sepuluh juta yen cukup? Kukira itu jumlah yang cukup besar untuk seorang gadis miskin sepertimu, bukan begitu nona Haruno?"
Sakura tersenyum remeh. "Sedikit sekali Nyonya, apa hanya itu yang mampu kau berikan kepadaku, kukira keluarga Uchiha keluarga yang kaya raya, ternyata hanya segini."
"Ohh, tak ku sangka kau gadis yang jujur, berbeda sekali dari gadis-gadis yang sebelumnya mencoba mendekati putraku, baiklah kalau itu maumu." Mikoto menyuruh Kakashi memberikan cek kosong kepada Sakura. "Tulis sesukamu."
"Baik kalau begitu keinginan Nyonya." Sakura mengambil pulpen yang tadi disediakan Kakashi.
Bukannya menulis, Sakura justru merobek-robek kertas itu kemudian menebarkannya ke depan wajah Mikoto.
"Dengar nyonya Uchiha yang terhormat, Aku tak tertarik dengan putramu apalagi ingin mengincar kekayaan Uchiha, oke, anggap saja aku menerima tawaranmu ini, aku akan menjauhi putramu, bilang pada anakmu yang tersayang itu, aku telah memanfaatkannya selama ini, ahh satu lagi, aku akan mengembalikan semua uang yang selama ini putramu berikan kepadaku. Malam ini juga aku akan mentransfernya ke rekeningmu. Nah bagaimana Nyonya Uchiha? Sekarang berikan nomor rekeningmu padaku." Sakura berbicara tanpa menunjukkan ekspresi berarti, mencoba bersikap percaya diri menghadapi wanita dihadapannya, padahal di dalam hatinya berkata lain, perasaaanya terasa tercabik-cabik, dirinya merasa direndahkan dan dihina oleh wanita yang kini masih menatapnya tajam.
"Oh begitu rupanya, tak kusangka permasalahan ini berakhir lebih singkat dari perkiraanku, baiklah kalau itu keinginanmu, senang bekerja sama denganmu nona Haruno."
Sakura beranjak dari kediaman Uchiha, sebelum Sakura benar-benar pergi, Kakashi memberikan nomor rekening kepada Sakura.
"Sayonara..., Sasuke..."
.
Sasuke terlihat sedikit khawatir dengan Sakura mengingat sudah 30 menit lebih ia pergi meninggalkannya. "Kemana sih si bodoh itu, lama sekali."
Saat Sasuke ingin mencari Sakura ke toilet, tiba- tiba Sasuke diserbu oleh beberapa paparazzi dan wartawan yang menyerangnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Sasuke mendecih kesal. "Ck! Sial!"
Tak ada kesempatan untuk Sasuke untuk mencari Sakura, ia tak dapat menghubungi Sakura karena gadis itu tak memiliki ponsel, ia baru menyadari kebodohannya, mengapa ia tak membelikan Sakura sebuah ponsel agar dapat menghubunginya sewaktu-waktu dibutuhkan.
'Sakura...dimana kau...'
.
.
.
.
-TBC-
.
.
.
A/N: Holaa minna, ketemu lagi nih di chapter 6, chapter yang panjangnya lebih dari enam ribu kata, kalo di word jadi 30 halaman, chapter terpanjang dan mungkin akan jadi yang paling panjang dalam sejarah fic yang saya tulis (lebay). maaf kalau masih banyak terjadi kesalahan, dan ceritanya gak sesuai dengan harapan para reader.
Reviewnya kubalas lewat PM ya minna...
Sampai jumpa di chapter 7... Jaa...
Akhir kata...
Mind to Read and Review?
